Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2322Re: [PeaceGeneration] Re: Pendidikan terbaik dunia

Expand Messages
  • jenang gulo
    May 5 1:28 AM
    • 0 Attachment
      Hi...
      ikut berpendapat ya...
      aku dah pernah baca artikel ini tahun lalu di dept.ku
      aku setuju dg artikel tsb
      klo menurutku masalah kesejahteraan ntu penting bgt...
      tp bukan berarti itu jadi yang utama ato alasan untuk mengurangi kualitas
      sekedar contoh berapa sih gaji seorang guru ato dosen?
      cukup ga buat mereka, apalgi buat yang sudah menikah dan punya anak?
      maaf, mungkin Arko skrg ini belum jadi pekerja ato ortu
      makanya belum bisa merasakan seperti apa yang dirasakan guru Arko
      aku dsini bukan menekankan mengenai nilai tp ini realitasnya
      contoh aja dosen2 yang mengabdi di PTN sampa 40an tahun masa kerja paling cuma dpt gaji  5jutaan.
      padahal klo teman2 yang bekerja di PNS Departemen, BUMN apalagi MNC
      ntu gaji sgitu mah cuma itungan 1-2 tahun kerja atau bahkan ada dari teman2 kita yang langsung kerja bs dpt gaji sgitu..
      klo mo ngomong penelitian, belum tentu ada tiap bulan dan butuh waktu dan kerja keras
      klo pun ada kenaikan gaji (pangkat dan jabatan) itu baru 2 atau 3 atau 4 tahun itupun ga nyampe 100rb!
      klo ga percaya coba tanya guru ato dosen anda
      saya sendiri ketika masuk kerja gaji cuma 800an ribu dan itupun baru dibayar bbrp bulan kemudian.(hidup di kota besar apa cukup?)klo kita hidup d jogja mgkn bisa
      jd kadang2 mereka g bs disalahkan untuk mencari pendapatan lain
      bahkan bebarapa guru di Banten (klo g salah) berprofesi sebagai tukang ojek
      cuma yang salah klo mereka meninggalkan apa yang menjadi kewajiban mereka.
      jd klo ada dosen yang ga datang karena ada proyek dll, maka itu wajib dipertanyakan komitmennya
      aku pernah nanya2 ke dosen senior, umumya mereka mengajar karena pengabdian ke almamater ato katanya buat tabungan di surga kelak

      yang aku mau tekankan, adalah negara kita ntu memang menganaktirikan pendidikan, padahal anggaran pddkan kita masuk dalam konstitusi.
      klo kita mau berkaca dengan negara maju, ga ada negara di dunia ini yang maju tanpa pendidkannya maju. termasuk di dalamnya hal kesejahteraan guru (termasuk dosen).
      jadi diharapkan dosen  mengajar, penelitian dan pengabdian masy saja tanpa memikirkan hal2 yang bersifat mendasar seperti finansial dan kesejahteraan

      mengenai rangking  saya juga  jg sependapat ga perlu ada
      buat aja nilai angka ato huruf tanpa ada rangking
      ato kayak kita kuliah, karena pelajar nanti hanya disuruh dapat rangking dengan cara apapun, yg ptg rangking atau cepat lulus tanpa memikirkan aspek afeksi dan sosial. Pram pernah bilang dalam satu novelnya (aku ga tau pastinya) bahwa kalo kita cuma mengejar bungkus, jangan2 kita ini ga ada isinya...

      menurut saya, karena saya d bid hukum, klo ada penegak hukum entah itu (polisi, jaksa, hakim, ato pengacara)  ga bener (contoh mafia peradilan,suap-menyuap, korupsi) maka fak.hukum di PT tsb bertanggung jawab secara tidak lansung
      Bgmn dengan profesi-profesi yang lain seperti dokter, psikolog dll?
      jd dsini peran guru/ dosen bukan hanya untuk mencetak pribadi akademik yang unggul tapi punya integritas.
      mungkin itu aja pendapatku yg sok tahu
      ada yang mau berpendapat?

      Love & peace...



      arko java <arko_java@...> wrote:
      Ada hal yg menarik dan sgt stuju dg tulisan ini,tapi juga ada hal yang kurang tepat mnurutku.

      +hal yang menarik:

      1. Guru yang mengajar adalah guru berkompeten.
      Mnrtku,guru berkompeten t bukan guru yang "pinter", asal pinter doang.tp guru yang berkompten itu guru yang
      TAHU DIMANA DIA BERADA,
      TAHU DIA ITU SBNRNYA SEDANG NGAPAIN,
      DAN TAHU APA YANG HARUS DILAKUKAN terhadap anak didiknya.

      Mgkn ada miss interpretasi dr sebagian (baca: Buanyak) bgt guru di skitarku (terutama slama SMA),yang selalu berkaca bahwa kesejahteraan guru perlu ditingkatkan. And dg dalih itu pula,beliau2nya ketika ngajar justru ga fokus dg pelajarannya, tp malah kebanyakan MENGELUH.buh. . (sering aku mbatin,..kami tak butuh keluhan ibu/bapak.yang kami butuhkan ilmu dari bapak&ibu guru sekalian).

      Jadi malah seperti mereka itu menambahkan beban probadi mereka justru kepada siswa. akibatnya apa?
      ilmu tak didapet, justru siswa diajak maen politik tiap hari..
      (mgkn spy kami peka,tapi kenapa kami harus dapet sesuatu dari orang yang bukan ahlinya? ya mnrtku,klo beliau guru PPKN, ya ngajar gmn sih sbnrnya moral yang baik itu,yang bisa buat pergaulan dg smua orang didunia? bukannya malah ngeluhkan masalah pribadi didepan kelas)..


      2. Ilmu.
      emang betul, kbanyakan ilmu yang diajarkan cm bersumber dari diktat.
      jadi kadang siswa tak tahu,buat apa sih belajar matemath sampai ke bab2 yang membosankan, sdg kelak blum tentu dipakai?
      Perlu skali,sbnrnya bahwa aplikasi ilmu itu dijabarkan diawal pertemuan.
      Penjabaran paling baik adalah dg "Evident Base" (spt yang udah diterapkan di fakultas2 bidang kesehatan: EBM/evident based medicine).

      3. Guru tak harus keras pada murid.
      Sebaliknya,justru gmn caranya spy tanggung jawab,& kepedulian murid bisa terbentuk dg sndirinya.Alhasil, tanpa keras pada murid pun,justru sang murid akan keras pada diri sndiri.("tekad" dari sang murid  pasti bakal terasah dan tumbuh dg sndirinya).

      Metode ini bnr2 kurasain waktu aku kelas 3 SMP.guruku (kebetulan seorang "ibu"), karena wali kelas,beliau tiap hari masuk kelas dan ngingetin ini udah mau ujian,jadi hrs belajar.Dan kata2 yg sering diucap,yg nusuk hatiku tu (tp justru menyadarkan) ,yaitu "Memangnya kamu itu siapa?sok2an kaya,mentang2 orang tuanya punya.padahal uang siapa yang kalian pakai itu?baru pake uang orang  tua aja kok udah sok.apalagi kalo orang tuanya sebenarnya pny banyak beban.tapi anaknya sok2an sok kaya.ga kasian po sama bapak/ibumu dirumah?"



      -Hal yang kurang tepat:
      1. Tak ada rangking.
      Sbnrnya ini membunuh.karena gimana pun,rangking itu perlu (sangat perlu) mnrtku. Gimana mgkn kita bisa tahu kita ini termasuk baik/ga,hasilnya, kl tanpa dibandingkan.

      Jangan2 malah buat kita jd kaya katak dalam tempurung,jk tanpa ada perangkingan.



      2.Kontrol.
      Menurutku kontrol itu perlu dilakukan (terutama diawal2).
      suatu metode kontrol paling bagus yang pernah kutemui justru kucontoh dari cara ndindiknya anak SD gowok.Ky apa?
      Jadi murid diberi buku yang boleh diisi sndiri.(mirip ky dl klo kt bulan ramadhan ngisi buku kegiatan udah solat apa j,t lo).bedanya, klo disini dibawah buku ditulis kejujuran lebih diutamakan.jadi mau boong pun boleh2 aja.cuma,buat apa nulis,kalo g jujur.wong g diperiksa juga kok.

      wah,,ini bisa bnr2 ngontrol (buatku sih) aku wkt itu.mski aku bukan SD gowok,and aku nyontoh metode itu justru wktu aku kelas 3 SMP.

      tp kurasain dampaknya gede bgt,smp SMA.

      Ini smua cm buah pikirku doang sih.ngrangkum sbagian kecil dari pengalamanku slama 20 tahun ini.


      Urun rembug deh.he3x..


      warm regards,


      Arko jatmiko w.
      (www.jawaragaktakut jerawat.com)

      (Student Camp for Peace '03)
      S1 Farmasi UGM.




      2

      s.




      Ikie_Djokdja <ms_fickry@yahoo. co.id> wrote:
      artikel menarik!!

      Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia

      Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat
      pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak
      yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah
      Finlandia.

      Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki , dimana perjanjian
      damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat
      iri semua guru di seluruh dunia.

      Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
      internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
      Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan
      nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga
      Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga
      menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya,
      Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

      Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah
      anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan
      rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

      Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
      memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir
      siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada
      usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada
      usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam
      perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia,
      yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu

      Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas
      gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas
      terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi
      yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah
      menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di
      sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima,
      lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya
      seperti fakultas hukum dan kedokteran!

      Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan
      kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya
      pula. Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
      yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
      guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

      Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas
      apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan
      buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara
      lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang
      sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian
      dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak
      testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap
      seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang
      tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian
      untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga
      lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

      Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK!
      Inimembantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,
      kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau
      mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.Guru tidak harus
      selalu mengontrol mereka.

      Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari
      sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika
      mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar
      apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
      guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala,
      salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai
      dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan
      rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

      Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
      Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia
      sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan
      merupakan yang terbaik menurut OECD.

      Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan
      untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan
      prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan
      tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian
      datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa
      bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka
      berusaha.

      Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut
      mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan
      membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka
      dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya
      diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa
      lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan
      agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

      Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa
      tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di
      Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran,
      toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
      Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak
      beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat
      bertanggungjawab.


       
      Sincerely yours,

      M Solihin Fikri
      The Peace Scholarship Program 2008
      University of Canberra
      ACT - AUSTRALIA

      http://defickry. wordpress. com





      Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers


      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.


      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

    • Show all 5 messages in this topic