Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

1324Moga agak clearing dikit.

Expand Messages
  • lebah buayawati
    Aug 4, 2006
    • 0 Attachment

      Dapet dari milis lain.
       
      Smoga agak jelas.Take care all.
       
      Maza

      daily_crcs@yahoogroups.com
      From:  "ferry muhammad" <fermesir@...>  Add to Address Book  Add Mobile Alert 
      Date: Fri, 4 Aug 2006 00:09:41 -0700 (PDT)
      Subject: [daily_crcs] Awan 'aneh' sebelum Gempa
         
      Awan Sebelum Gempa
      Meski terbukti kebenarannya, para peneliti tak memakai
      prediksi gempa lewat awan untuk konsumsi publik.
      Sebuah keganjilan yang kasat mata meliputi langit kota
      Bam, Iran, di penghujung 2003. Awan panjang misterius
      berbentuk tornado itulah pemicunya. Menjulur dari kaki
      langit Bam, membelah angkasa sepanjang beberapa
      kilometer, sang awan putih menebar ketidaklaziman
      sekaligus tanya: ini pertanda apa?
      Pada 26 Desember yang naas itulah tanya itu segera
      terjawab. Dari bawah tanah, kulit Bumi berguncang
      sehebat 6,3 Skala Richter menggoyang kota kuno itu,
      meremukkan 60 persen bangunan bersejarah, dan membunuh
      lebih dari 4.000 orang. Awan putih itu ternyata
      pertanda petaka gempa.
      Di Yogyakarta, 12 Juli lalu, awan misterius seperti di
      Bam muncul dari kaki langit Bantul. Di Ibu Kota
      Jakarta, awal pekan ini, warga ribut melihat awan aneh
      berbentuk tornado yang melintang. Betulkah awan
      tornado pertanda gempa?
      Dr Sarmoko Saroso, peneliti senior Lembaga Penerbangan
      dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengatakan studi
      tentang awan gempa terhitung anyar di kalangan
      seismologis. Fenomena menarik itu baru dibedah
      peneliti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sepanjang
      satu dekade terakhir. Dari hasil riset satu
      dasawarasa, mereka sepakat satu hal: prediksi gempa
      lewat awan untuk sementara belum boleh bebas
      dikonsumsi publik.
      Namun, para ilmuwan itu juga sepakat satu hal. ''Betul
      bahwa gempa bisa diprediksi lewat awan. Ada argumen
      ilmiah untuk itu,'' ungkap Sarmoko, yang sudah 30
      tahun menjadi peneliti LAPAN, Kamis (3/8), kepada
      Republika.
      Ia memberi contoh gempa hebat di Bam, Iran pada 2003
      yang didahului kemunculan awan misterius berbentuk
      tornado ke arah barat 4-5 hari menjelang lindu.
      Termasuk kemunculan awan putih seperti puting beliung
      di langit kota Kobe, Jepang, sebelum gempa besar pada
      Januari 1995. Mengapa awan sekonyong-konyong
      memperlihatkan corak aneh?
      Uap air tanah ke angkasa
      Menurut Sarmoko, awan misterius berbentuk tornado itu
      bukanlah awan metereologis yang tercipta akibat
      dorongan angin atau aktivitas iklim biasa. Awan ini
      juga tidak terbentuk akibat perubahan medan
      elektromagnetik di udara akibat pergeseran kerak bumi,
      seperti yang santer diberitakan media massa.
      Namun, ''Awan misterius itu tercipta akibat pergumulan
      uap air panas yang muncul dari rekahan permukaan Bumi
      dengan udara dingin di angkasa,'' jelas Sarwoko. Uap
      air panas itu melesak dari tanah sebagai dampak
      aktivitas seismik tingkat tinggi di perut Bumi. Uap
      air itu juga bertekanan tinggi.
      Ia menjelaskan pergeseran hebat bebatuan di perut Bumi
      sebelum gempa (stress mechanic), mendorong terciptanya
      rekahan-rekahan di lapisan di atasnya hingga ke
      permukaan. Rekahan ini lantas melahirkan tekanan yang
      mendorong air tanah di kulit Bumi melesak ke atas.
      Gesekan raksasa antarbatuan ini, jelas Sarmoko, juga
      mendorong timbulnya temperatur tinggi di area
      tersebut. Akibatnya, air tanah yang menerobos ke atas
      pun ikut memperoleh terpaan panas, mendidih, dan
      berubah menjadi uap air. Uap air lantas menyelusup
      lewat rekahan di permukaan Bumi, terbang ke angkasa.
      Di angkasa ia bertemu dengan udara dingin (cool air),
      mengalami kondensasi, dan --melalui proses
      fisika-kimia-- menciptakan bentukan awan seperti
      tornado yang akrab disebut awan gempa. ''Karena
      itulah, jika dilihat dari satelit, setiap awan gempa
      yang menjulang di angkasa dipastikan memiliki pangkal
      (kaki) yang bersumber tepat di titik episenter gempa
      di tanah,'' jelas dia.
      Secara umum awan gempa ini berbentuk garis lurus
      vertikal di angkasa, seperti tornado, bulu ayam, atau
      lentera. Menurut Sarmoko, fenomena ini membuka peluang
      prediksi gempa yang sebelumnya disinyalir mustahil
      dilakukan. Paling tidak, 50 awan gempa sempat terbit
      di Amerika Serikat dan pemerintah setempat mensinyalir
      sebagai pertanda lindu. Tiga puluh prediksi di
      antaranya terbukti benar.
      Sayangnya, awan gempa ini tak selalu muncul setiap
      kali bakal terjadi gempa. Pasalnya, kata Sarmoko, uap
      air panas yang terbit dari episenter di kulit Bumi tak
      selalu menemukan cool air di angkasa yang memberi
      peluang terjadinya proses kondensasi.
      Harus diklarifikasi satelit
      Sarmoko tak menafikan kenyataan bahwa kerap kali
      terjadi awan-awan mirip awan gempa (berbentuk tornado
      atau berupa garis lurus) di angkasa. Ini berpotensi
      menciptakan ketidakpastian dan keresahan masyarakat
      seperti yang belakangan terjadi. Soal awan tornado di
      Bantul, Badan Metereologi dan Geofisika (BMG)
      menegaskan bahwa itu awan cirrus yang kerap muncul
      saat musim kemarau.
      Namun, Sarmoko menegaskan awan gempa memiliki sejumlah
      kriteria prinsipil yang harus dipenuhi. Pertama, ia
      harus muncul paling sebentar sehari penuh atau 1x24
      jam. ''Jika cuma satu atau dua jam saja, amat mungkin
      itu bukan awan gempa, meski bentuknya memang mirip,''
      kata dia.
      Meski begitu, tempo penampakan di angkasa bukan
      jaminan bahwa itu benar-benar awan gempa. ''Pembuktian
      final harus melalui satelit,'' papar dia lagi. Cuma
      lewat satelit, kata Sarmoko, dapat diungkap secara
      terang benderang apakah awan berbentuk tornado itu
      memiliki pangkal tepat di titik episenter gempa di
      tanah. Atau ia cuma awan biasa yang mirip tornado.
      Kamis (3/8) kemarin, Sarmoko tengah berada di pusat
      satelit LAPAN di Pekayon, Jakarta Timur. Ia melakukan
      klarifikasi satelit guna memastikan status awan gempa,
      menindaklanjuti informasi dari masyarakat soal
      penampakan awan tornado di Jakarta, Bandung, dan
      Bantul. Jika benar itu awan gempa, kapan gempa bakal
      terjadi?
      Kata Sarmoko, gempa bisa terjadi 4-5 hari setelah
      penampakan awan gempa. ''Bisa juga hingga 130 hari
      kemudian,'' papar dia lagi, menuturkan pengalaman yang
      terjadi di Jepang, AS, dan Cina.
      Sarmoko yakin pemantauan satelit awan gempa merupakan
      terobosan besar untuk mitigasi bencana gempa.
      Sayangnya, Indonesia lumayan ketinggalan di situ. Kata
      dia, satelit LAPAN hanya dapat melakukan pengamatan
      pergerakan awan maksimal tiga kali sehari alias tidak
      bisa kontinyu. Dikhawatirkan, awan yang diduga awan
      gempa tak dapat termonitor maksimal.
      Selain itu, ada kesepakatan di kalangan ilmuwan
      sedunia agar tidak menggunakan awan gempa sebagai
      prediksi gempa untuk konsumsi publik. Hingga saat ini,
      informasi penting itu sebatas digunakan di komunitas
      internal ilmuwan meski sudah dapat dibuktikan
      kebenarannya.
      Fakta Angka
      1 x 24 jam
      Kemunculan awan seperti angin tornado yang menandakan
      akan munculnya gempa bumi.
      Anomali Elektromagnetik di Aceh dan Nias
      Tak keliru jika geliat perut Bumi menggenjot aktivitas
      gelombang elektromagnetik (EM) di udara. Sebagai
      bukti, LAPAN menemukan adanya lonjakan sinyal ultra
      lower frequency (ULF) atau gelombang EM berfrekuensi
      rendah menjelang gempa hebat di Nanggroe Aceh
      Darussalam (NAD) dan Nias.
      Anomali itu terekam oleh magnetometer milik LAPAN di
      Kototabang, Bukit Tinggi, Sumatra Barat, beberapa
      pekan sebelum gempa 8 SR dan 9 SR di pantai barat
      Sumatra. ULF adalah gelombang EM berfrekuensi kecil,
      3-30 Hertz. Lonjakan ULF merupakan indikator soal
      adanya aktivitas perubahan medan elektromagnetik luar
      biasa di udara akibat perubahan medan listrik.
      Perubahan medan listrik, kata Sarmoko, seringkali
      dipicu oleh aktivitas seismik tingkat tinggi di perut
      Bumi akibat gesekan antar lempeng. Magnetometer dapat
      mengukur besaran perubahan ini. Anomali, berupa
      lonjakan, kerap kali menjadi petunjuk bernas soal
      bakal terjadinya gempa.
      Lonjakan gelombang EM ini pula yang diyakini memicu
      kegelisahan hewan-hewan liar, yang membuat mereka
      berhamburan dari gunung dan hutan sesaat menjelang
      gempa hebat. Tingkah aneh para hewan ini sejak lama
      diyakini sebagai pertanda gempa atau gunung meletus.
      Jepang secara serius terjun di riset soal gelombang
      EM. Beberapa gempa besar di Jepang, kata Sarmoko,
      terbukti diiringi anomali gelombang EM. Inilah 'celah'
      yang ditemukan para ahli untuk mampu meramal gempa, di
      tengah angin pesismisme saat ini soal belum
      tersedianya teknologi untuk prediksi.
      Sarmoko termasuk yang menenggelamkan diri pada riset
      ini. Bekerja sama dengan Jepang, tiga institusi;
      LAPAN, LIPI, dan BMG; melakukan joint-research khusus
      soal gelombang EM gempa hingga tahun 2008. Lewat riset
      mendalam, diharapkan anomali gelombang EM benar-benar
      dapat dimanfaatkan untuk keperluan mitigasi, bukan
      sekadar informasi untuk para peneliti.
      Saat ini Indonesia memiliki sejumlah magnetometer
      untuk mengukur anomali gelombang EM, yakni di Bukit
      Tinggi (Sumbar), Medan (Sumut), Pare-Pare (Sulsel),
      Pontianak (Kalbar), dan Kupang (NTT). Sayangnya
      semuanya terpusat di luar Jawa. Satu-satunya
      magnetometer di Jawa, yakni di Mojokerto, Jatim, raib
      dicuri orang.
      (imy )
       


      Peace Generation is da Best
      Vokoke Perkapers will alwyyzz be blessed lah
      Joy oh joy
      Of the life adventure I'll find in the next bend of being
      Since knowledge omnivora have I decided to be  
       
      "Aerodynamically a bee can't fly .
      But since a bee don't know the law of aerodynamics , a bee fly."
      Mary Kay Ash
      Don't know who she is but worthy word she does has.


      Do you Yahoo!?
      Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.
    • Show all 2 messages in this topic