Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

AM FATWA & THEO L SAMBUAGA MASIH TETAP MENGEKOR YUDHOYONO DENGAN UU NO.18/2001..

Expand Messages
  • Ahmad Sudirman
    http://www.dataphone.se/~ahmad ahmad@dataphone.se www.ahmad-sudirman.com Stockholm, 1 Februai 2005 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu alaikum wr wbr. AM
    Message 1 of 1 , Feb 1, 2005
    • 0 Attachment
      http://www.dataphone.se/~ahmad
      ahmad@...
      www.ahmad-sudirman.com

      Stockholm, 1 Februai 2005

      Bismillaahirrahmaanirrahiim.
      Assalamu'alaikum wr wbr.


      AM FATWA & THEO L SAMBUAGA MASIH TETAP MENGEKOR YUDHOYONO DENGAN UU
      NO.18/2001-NYA
      Ahmad Sudirman
      Stockholm - SWEDIA.


      WALAUPUN AM FATWA & THEO L SAMBUAGA MENERIAKKAN PERUNDINGAN DAMAI RI-GAM
      TETAPI TANGAN MEREKA TETAP MENGGENGGAM PENTUNGAN GOMBAL UU NO.18/2001

      "Pertemuan di luar negeri hanya akan memperbesar masalah dan
      menginternasionalisasi persoalan, sehingga mengundang pihak lain untuk masuk
      ke dalam persoalan. Apalagi di GAM sendiri banyak faksi. Ini terlihat dari
      masih terjadinya kontak senjata saat perundingan di Finlandia. Sejak semula
      kita memang ragu karena ini adalah masalah dalam negeri. Jadi jangan melalui
      mediasi. Tapi kerangkanya harus jelas dalam konteks NKRI, tidak ada aspirasi
      untuk merdeka. Indonesia kan sudah memberi tawaran amnesti, mestinya GAM
      juga bergeser supaya perundingan bisa terus maju." (Ketua Komisi I DPR RI
      Theo L. Sambuaga, Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin, 31 Januari 2005)

      "Dialog itu bukan tanpa hasil, tapi suatu pertemuan yang perlu
      ditindaklanjuti. Jangan karena pembicaraan alot, lantas dialog tidak
      dilanjutkan. Bagi pihak yang tidak setuju dan tidak mengerti dengan tujuan
      proses dialog damai tersebut, mereka itu bagaikan haus daerah dan kurang
      memahami kemana konsentrasi kita sekarang ini. Yang sangat penting dalam
      waktu dekat ini, perlunya segera gencatan senjata. Operasi militer harus
      diturunkan atau dipersempit, dan sebaliknya zona damai harus diperluas.
      Dalam dialog itu sebaiknya harus mengikutsertakan tokoh sipil, ulama dan
      pemimpin adat di Aceh. Apalagi secara psikologis dan latar belakang sejarah,
      watak masyarakat Aceh sulit untuk ditumpas lalu padam perlawanan untuk
      selamanya. Kita harus ingat Aceh merupakan daerah terakhir yang mengalami
      penjajahan Belanda. Dalam proses dialog tersebut tidak boleh keluar dari
      prinsip dasar NKRI dan Otonomi Khusus bagi Aceh. Konsesi lainnya yaitu
      pemberian amnesti bagi anggota GAM yang menyerahkan diri merupakan sesuatu
      yang wajar, sebagaimana pengalaman sejarah terhadap penyelesaian
      PRRI/Permesta." (Wakil Ketua MPR dan anggota Komisi I DPR AM Fatwa, Senin 31
      Januari 2005).

      Memang kelihatan makin lama itu Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga dari
      Golkar otaknya makin picik dan sempit saja ketika melihat konflik Acheh ini.
      Dipikir itu Sambuaga konflik Acheh bisa ditutupi dengan tikar hitam gombal
      UU No.18/2001 yang dihamparkan di dalam wilayah Negara RI atau Negara
      RI-Jawa-Yogya atau Negara RI jelmaan NKRI melalui Dekrit Presiden 5 Juli
      1959.

      Sudah jelas itu masalah Acheh telah menjadi masalah internasional, tetapi
      oleh pihak Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga masih tetap saja diklaim
      sebagai masalah dalam negeri, masalahnya Mbahnya Susilo Bambang Yudhoyono Cs
      termasuk Mbahnya Theo L Sambuaga.

      Sudahlah itu Theo L Sambuaga melambungkan pemikiran tentang konflik Acheh
      masalah dalam negeri, ditambah pula dengan tetap tangan kanannya memegang
      pentungan gombal UU No.18/2001 yang isinya sangat menyesatkan umat Islam
      khususnya di Acheh dan umumnya di RI, dan penuh penipuan dan akal bulus
      terhadap rakyat Acheh.

      Tentang isi UU No.18/2001, Ahmad Sudirman telah membongkar dan
      mengubrak-abrik isinya di mimbar bebas ini, yang memang berisikan racun
      menyesatkan bagi umat Islam di Acheh dan di RI yang penuh dengan penipuan
      terhadap rakyat Acheh.

      Bagaimana bisa rakyat muslim Acheh percaya terhadap isi UU No.18/2001 yang
      gombal itu. Apalagi kalau itu isi UU No.18/2001 adalah sebagiannya buatan
      orang-orangnya Golkar seperti saudara Theo L Sambuaga. Apa yang kalian Theo
      L Sambuaga ketahui tentang penerapan syariat Islam, kalian hanyalah membuat
      akal bulus dan menipu rakyat muslim Acheh saja, agar tetap berada dalam
      ikatan tali sistem thaghut pancasila yang gombal hasil kutak-katik Soekarno
      dengan dibantu oleh Pantia Sembilannya. Dan bagaimana kalian Theo L Sambuaga
      Cs menipu rakyat Acheh dengan memakai kedok "Penerimaan dalam rangka otonomi
      khusus". Otak kalian memang otak penerus Soekarno yang penipu licik dan yang
      pandai mempergunakan akal bulus untuk mencapai tujuan politik dan
      ekspansinya.

      Begitu juga dengan itu Wakil Ketua MPR dan anggota Komisi I DPR AM Fatwa
      yang bersemangat meneriakkan perundingan RI-GAM, tetapi dalam otak saudara
      AM Fatwa penuh dengan racun-racun Soekarno yang diformulasikan dalam bentuk
      UU No.18/2001.

      Saudara AM Fatwa, saudara tidak perlu meneriakkan perdamaian RI-GAM kalau
      dalam otak saudara masih melekat sistem thaghut pancasila yang dijabarkan
      dalam isi UU No.18/2001. Itu rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan
      nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila tidak akan
      tertipu dengan sodoran otonomi khusus yang dibungkus dengan UU No.18/2001
      yang gombal dan menyesatkan umat islam Acheh itu.

      Kalau kalian mau melakukan gencatan sejata, caranya kesampingkan dahulu itu
      pentungan gombal UU No.18/2001 dan konsepsi gombal KNRI final yang usang
      itu.

      Nah, apabila gencatan senjata disepakati, dan pemulihan, rehabilitasi, dan
      rekonstruksi pasca gempa dan tsunami selesai dan berhasil, yang memerlukan
      waktu lebih dari 5 tahun itu, barulah dibicarakan masalah apakah itu NKRI
      sudah final atau belum, dan apakah itu UU No.18/2001 memang bisa diterima
      oleh seluruh rakyat Acheh atau tidak. Nah, untuk pemecahannya diserahkan
      kepada seluruh rakyat Acheh untuk menentukan sikap melalui cara plebisit
      dengan disaksikan oleh wakil-wakil dari pemerintah internasional dan lembaga
      Perserikatan Bangsa-Bangsa.

      Jadi, kalian saudara AM Fatwa jangan ikut-ikutan itu Susilo Bambang
      Yudhoyono, Widodo Adi Sutjipto dan Hamid Awaluddin, yang dengan penuh
      ketakutan terus menggenggam pentungan gombal UU No.18/2001 dan konsepsi
      usang NKRI final. Sehingga kemanapun mereka pergi itu UU No.18/2001 dan
      konsepsi usang NKRI final melekat didahi mereka, sehingga mata mereka jadi
      kabur dan telinga mereka jadi budek ketika melihat dan mendengar konflik
      Acheh dan akar utama penyebab timbulnya konflik Acheh.

      Coba saudara AM Fatwa asal Sulawesi ini gali sampai kedalam itu konflik
      Acheh ini dengan tujuan untuk mendalami, mempelajari, meneliti tentang
      penyebab utama timbulnya konflik Acheh, bukan hanya menjiplak hasil coretan
      sejarah gombal Acheh made in Soekarno saja, sehingga kalian terperosok
      kedalam kesesatan, kemunafikan dan penipuan terhadap rakyat muslim Acheh.

      Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
      ahmad@... agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu
      untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang
      Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel
      di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

      Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
      memohon petunjuk, amin *.*

      Wassalam.

      Ahmad Sudirman

      http://www.dataphone.se/~ahmad
      www.ahmad-sudirman.com
      ahmad@...
      ----------

      Fatwa: Yang Tidak Setuju Dialog RI-GAM Bagaikan Haus Darah
      Reporter: Shinta Shinaga

      detikcom - Jakarta, Bagi pihak yang tidak setuju dan tidak mengerti dengan
      tujuan proses dialog damai RI-GAM dianggap bagaikan haus daerah. Untuk itu
      dialog RI-GAM harus diteruskan.

      "Dialog itu bukan tanpa hasil, tapi suatu pertemuan yang perlu
      ditindaklanjuti. Jangan karena pembicaraan alot, lantas dialog tidak
      dilanjutkan," kata AM Fatwa.

      Hal itu disampaikan Wakil Ketua MPR yang juga anggota Komisi I DPR ini
      melalui pernyataan tertulis yang disampaikan kepada detikcom, Senin
      (31/1/2005).

      "Bagi pihak yang tidak setuju dan tidak mengerti dengan tujuan proses dialog
      damai tersebut, mereka itu bagaikan haus daerah dan kurang memahami kemana
      konsentrasi kita sekarang ini," tukasnya.

      Menurut pria yang juga menjabat sebagai ketua DPP PAN ini, sudah seharusnya
      semua pihak mengutamakan damai daripada perang. Operasi-operasi militer
      harus bersifat defensif, tidak memperluas aksi militer. Pemerintah harus
      tetap membuka pintu dialog dengan GAM.

      "Yang sangat penting dalam waktu dekat ini, perlunya segera gencatan
      senjata. Operasi militer harus diturunkan atau dipersempit, dan sebaliknya
      zona damai harus diperluas," kata Fatwa.

      Momentum solidaritas dan keprihatinan terhadap bencana alam di Aceh dari
      semua pihak termasuk GAM, lanjut dia, harus dimanfaatkan. Dialog tersebut
      merupakan langkah awal dan suatu kemajuan yang patut dihargai. Sehingga
      pemerintah harus memanfaatkan momentum tersebut dengan menyiapkan agenda
      yang akan dibawa dalam pertemuan berikutnya.

      "Dalam dialog itu sebaiknya harus mengikutsertakan tokoh sipil, ulama dan
      pemimpin adat di Aceh. Apalagi secara psikologis dan latar belakang sejarah,
      watak masyarakat Aceh sulit untuk ditumpas lalu padam perlawanan untuk
      selamanya. Kita harus ingat Aceh merupakan daerah terakhir yang mengalami
      penjajahan Belanda," sebut Fatwa.

      Dia mengingat agar dalam proses dialog tersebut tidak boleh keluar dari
      prinsip dasar NKRI dan Otonomi Khusus bagi Aceh. Konsesi lainnya yaitu
      pemberian amnesti bagi anggota GAM yang menyerahkan diri merupakan sesuatu
      yang wajar, sebagaimana pengalaman sejarah terhadap penyelesaian
      PRRI/Permesta.

      "Mungkin saja bagi pasukan GAM yang meletakkan senjata dengan proses seleksi
      bisa juga direkrut menjadi TNI dengan penempatan dipecah-pecah ke seluruh
      Kodam," ucap Fatwa. (sss)

      http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/02/tgl/01/time/05135/idnews/282609/idkanal/10
      ----------

      DPR Minta Perundingan Lanjutan RI-GAM Digelar di Aceh
      Reporter: Anton Aliabbas

      detikcom - Jakarta, Komisi I DPR RI meminta perundingan lanjutan antara
      pemerintah RI dengan GAM digelar di Aceh. Hal ini untuk menghindari
      internasionalisasi konflik Aceh.

      "Pertemuan di luar negeri hanya akan memperbesar masalah dan
      menginternasionalisasi persoalan, sehingga mengundang pihak lain untuk masuk
      ke dalam persoalan," ujar Ketua Komisi I DPR RI Theo L. Sambuaga di Gedung
      MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Senin, (31/1/2005).

      Komisi I juga meminta agar dalam perundingan lanjutan tersebut melibatkan
      ulama dan tokoh GAM di Aceh. "Apalagi di GAM sendiri banyak faksi. Ini
      terlihat dari masih terjadinya kontak senjata saat perundingan di
      Finlandia," katanya.

      Mengenai tidak ada hasil dalam perundingan di Helsinki, Finlandia, dia
      mengaku sejak awal sudah memprediksikan hal itu.

      "Sejak semula kita memang ragu karena ini adalah masalah dalam negeri. Jadi
      jangan melalui mediasi," katanya.

      Meski demikian, Komisi I tetap mendorong adanya upaya dialog dalam rangka
      penyelesaian masalah Aceh secara damai. "Tapi kerangkanya harus jelas dalam
      konteks NKRI, tidak ada aspirasi untuk merdeka. Indonesia kan sudah memberi
      tawaran amnesti, mestinya GAM juga bergeser supaya perundingan bisa terus
      maju," katanya. (umi)

      http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/01/tgl/31/time/171014/idnews/282381/idkanal/10
      ----------

      _________________________________________________________________
      Lättare att hitta drömresan med MSN Resor http://www.msn.se/resor/
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.