Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

DARI MPU DAN SAF PERJUANGAN

Expand Messages
  • warwick aceh
    MPU JUGA MASIH PERLU DIBRAINWASHING DAN DIBERSIHKAN DARI PIHAK-PIHAK YANG MEMIHAK KEPADA ANJING-ANJING PENJAJAH INDONESIA. SEPERTI CONTOH, IMAM SHUJA, ANAK
    Message 1 of 1 , Jul 6 12:34 AM
    • 0 Attachment
      MPU JUGA MASIH PERLU DIBRAINWASHING DAN DIBERSIHKAN
      DARI PIHAK-PIHAK YANG MEMIHAK KEPADA ANJING-ANJING
      PENJAJAH INDONESIA. SEPERTI CONTOH, IMAM SHUJA, ANAK
      TRANSMIGRASI JAWA DI MEULABOH YANG SELALU BERKOAR-KOAR
      AGAR ACEH TERUS BERSATU DAN TERUS BERADA DI BAWAH
      REZIM ANJING PENJAJAH INDONESIA JAWA.

      KEPADA BANGSA ACEH PULA SUPAYA SADAR SEMUA, BAHWA
      HANYA DENGAN BERSATU HATI DALAM SATU WADAH PERJUANGAN
      "GERAKAN ACEH MERDEKA" YANG DIPIMPIN OLEH TGK.
      MOHAMMAD HASAN DI TIRO, INSYAAALLAH MUSUH AKAN MELIHAT
      KITA BERSATU DAN DITAKUTI.


      --- MB GAM Eropa <mbgam_eropa@...> wrote: >
      indonesia-views Archives: [INDONESIA-VIEWS] Z. AFIF
      > - Ulama Aceh[INDONESIA-VIEWS] Z. AFIF - Ulama Aceh
      > From: apakabar@...
      > Subject: Z.Afif: Ulama Aceh
      > Date: Wed, 4 Jul 2001 13:05:26 +0200
      >
      > a.. Z. Afif:
      >
      >
      > AKANKAH INI SETITIK API PENYULUT OBOR?
      >
      >
      >
      > Di tengah mendung tebal penerapan INPRES IV/2001 RI,
      > muncul setitik api
      > yang diharapkan dapat menyalakan obor penerang jalan
      > bagi kehidupan damai
      > dan aman rakyat Aceh. Lama sudah obor itu padam.
      > Dipandamkan oleh angin
      > puting beliung jahiliyah dari Jakarta . Mulai yang
      > bernama operasi Jaring
      > Merah yang lebih dikenal dengan pemberlakuan DOM
      > (Daerah Operasi Militer)
      > yang kebiadabannya sangat primitif, terus ke operasi
      > Rencong, sampai ke
      > pencatutan nama suci operasi "Cinta Meunasah untuk
      > perbuatan durjana.
      >
      >
      > Ulama sasaran pembunuhan
      >
      >
      > Pembunuhan demi pembunuhan para ulama Aceh telah
      > berlangsung. Pernah
      > tersiar di kalangan penduduk sebuah daftar 200 lebih
      > nama ulama yang harus
      > dihabisi, karena mereka berpegang teguh kepada amar
      > makruf nahi mungkar.
      > Tercatat yang telah dilanyapkan secara keji antara
      > lain Tgk Nasruddin
      > Daud, anggota DPR RI yang dibunuh di Medan, Tgk
      > Ilyas, anggota DPRD Aceh
      > Utara, Prof. Tgk. H. Safwan Idris, Rektor Unsyiah di
      > Banda Aceh, Tgk
      > Al-Kamal, anggota Tim Monitoring Masalah Keamanan
      > (TMMK) Damai Melalui
      > Dialog (DM D) Aceh. Anehnya, lembaga negara RI
      > (kecuali Unsyiah) dan
      > partai politik tempat mereka bergabung, tidak begitu
      > bergolak rasa
      > setiakawannya, tidak menunjukkan dinamikanya dan
      > tidak mendidih amarahnya
      > untuk menuntut aparat negara RI menangkap pembunuh
      > dan m engusut kejahatan
      > pembunuhan itu. Pasifnya aparat negara atau yang
      > disebut aparat penegak
      > hukum RI menghadapi kriminalitas politik itu, mau
      > tidak mau telah
      > menimbulkan kecurigaan masyarakat bahwa Kodam
      > I/Bukit Barisan, Polda Sumut
      > dan Polda Aceh serta int elnya merupakan tangan
      > hitam kekerasan dalam
      > pelanggaran HAM berat itu. Hal ini diperkuat dengan
      > fakta di lapangan
      > dalam operasi TNI/Polri ke kampung-kampung,
      > sweeping, pembunuhan,
      > penangkapan, penculikan, penganiayaan, penyiksaan,
      > pemerkosaan, pemerasan,
      > penjarahan harta, pembakaran rumah dan toko serta
      > bangunan lainnya.
      >
      >
      > Rakyat hilang tempat berlindung selama ini. Pemda
      > Aceh, badan legislatif
      > Aceh seperti penonton saja di puncak Seulawah, untuk
      > tidak mengatakan
      > sebagai boneka kuasa Jakarta semata. Hilang rasa
      > sebangsa Acehnya dan
      > pupus rasa sayang dan jiwa abdi mereka pad a rakyat.
      > Sementara itu
      > semangat KKN-nya warisan rezim Orba Suharto semakin
      > terungkap luas. Hanya
      > beberapa anggota DPRD I Aceh yang setia sebagai
      > wakil rakyat menggunakan
      > hak legalitasnya untuk membela rakyat dan menyatakan
      > sikap kritisnya
      > terhadap perbua tan melanggar HAM yang dilakukan
      > TNI/Polri.
      >
      >
      > MPU terbentuk - MUI bubar
      >
      >
      > Baru-baru ini para ulama Aceh telah berkumpul dan
      > telah membentuk Majelis
      > Permusyawaratan Ulama (MPU) dan membubarkan Majelis
      > Ulama Indonesia (MUI)
      > Aceh yang dulu dibentuk oleh rejim bandit TNI
      > Suharto. Selama berkuasa
      > rejim itu, peran ulama sebagai panut an masyarakat
      > di Aceh telah direnggut
      > dengan dibentuknya badan boneka penguasa yang
      > bernama Majelis Ulama
      > Indonesia (MUI). MUI tidak lain daripada seonggok
      > perpanjangan tangan
      > penguasa untuk menggunakan agama sebagai alat
      > pelindung fasisme ABRI (TNI)
      > dan partai penguasa Golkar. MUI juga digunakan untuk
      > pelestarian
      > depolitisasi dan massa mengambang dalam rangka
      > pembodohan rakyat. Politik
      > rejim militer Suharto itu merupakan pengejawantahan
      > kultur feodal Jawa dan
      > untuk menjawanisasikan seluruh wilayah di Nus
      > antara.
      >
      >
      > MPU menyatakan diri independen dan tidak terikat
      > dengan pemerintah
      > Jakarta. Tindakan dan sikap ini telah mendapat
      > sambutan baik dari
      > masyarakat Aceh. Ada yang mengharapkan agar semua
      > pihak tidak
      > memperpolitisir para ulama. Namun, yang harus
      > ditegakkan dal am MPU adalah
      > kejelasan dan ketegasan politik ulama berpihak pada
      > kebenaran sesuai
      > dengan Qur'an dan Hadis. Menjadi pembela rakyat dan
      > menentang kezaliman
      > dari kekuatan manapun datangnya. MPU sepatutnya
      > melangkah memulihkan
      > adat-istiadat Aceh yang telah d irusak oleh kekuatan
      > angkara murka dari
      > Jakarta dan oleh pengkhianat bangsa Aceh sendiri.
      > Adalah menjadi salah
      > satu tanggung jawab ulama juga untuk membangun dan
      > menata kembali
      > pendidikan yang telah dihancurkan oleh kekuatan yang
      > berusaha membodohkan
      > gene rasi Aceh masa kini, sehingga Aceh dapat
      > dikuasai sepenuhnya oleh
      > kekuatan yang menjadikan Aceh sebagai sapi perahan
      > seperti yang berlaku
      > selama ini.
      >
      >
      > Sikap politik para ulama yang telah diperlihatkan
      > dan patut dikembangkan
      > adalah seperti yang terjadi kala bertemu dengan
      > Pangkolakops Brigjen TNI
      > Zamroni di Lhokseumawe dan Sigli baru-baru ini. Pada
      > kesempatan itu ulama
      > di kedua wilayah Aceh tersebut tela h memberikan
      > peringatan dan menuntut
      > kepada aparat militer Jakarta itu, agar melaksanakan
      > pemulihan keamanan di
      > Aceh berdasarkan hukum. Dengan tegaknya hukum
      > pemulihan keamanan di Aceh
      > tidak akan berbias pada jatuhnya korban di pihak
      > rakyat yang tidak ber
      > salah. Juga diingatkan, agar aparat negara RI di
      > bawah komando Brigjen
      > Zamroni dalam bertindak di Aceh dapat mengindahkan
      > nilai-nilai keagamaan
      > (Qur'an dan Hadis), serta menjunjung tinggi
      > adat-istiadat Aceh. Peringatan
      > dan tuntutan ini muncul tentu karena para ulama itu
      > tahu dan menerima
      > laporan dari rakyat tentang tingkah pelanggaran HAM
      > oleh TNI/Polri.
      >
      >
      > Ulama pulihkan jatidiri
      >
      >
      > Pernyataan sikap ulama seperti itu patut menjadi
      > milik bersama MPU dan
      > ditingkatkan ketaraf yang merupakan arus kesadaran
      > umum yang terus
      > berkembang dan meluas, yaitu menuntut agar dicabut
      > Inpres IV/2001 yang
      > merupakan payung pelindung bagi operasi milite r di
      > Aceh sekarang ini dan
      > penarikan ke luar dari Aceh seluruh pasukan
      > TNI/Polri (Brimob)
      > non-organik.
      >
      >
      > Perlu diingatkan dan para ulama sepatutnya
      > menjelaskan kepada umat, bahwa
      > Inpres IV/2001 itu adalah dipaksakan oleh militer
      > pendekritannya. Inpres
      > itu adalah dekrit perang terhadap bangsa Aceh
      > seperti dilakukan Belanda
      > pada tahun 1873. Jauh sebelum Inpres itu
      > didekritkan, TNI AD sudah sejak
      > awal tahun ini melatih pasukan antigerilya untuk
      > memerangi Aceh. Di
      > samping itu pengiriman pasukan ke Aceh terus
      > ditambah, empat batalion
      > untuk mengawal EXXON-Mobil dan tujuh kompi yang
      > disebarkan
      === message truncated ===

      =====
      PUTEH SARONG
      Coventry
      CV4 7AL
      United Kingdom Fax: +44/0 24 765242250
      http://members.nbci.com/tragediaceh/
      http://www.geocities.com/universityofwarwick/index.html
      "BEBASKAN NEGERI DAN RAKYAT ACEH DARI KEBIADABAN DAN KEZALIMAN GEROMBOLAN PENJAJAH BIADAB INDONESIA JAWA."

      ____________________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Get your free @... address at http://mail.yahoo.co.uk
      or your free @... address at http://mail.yahoo.ie
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.