Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

TATI IKUTAN WAHABIYIN ROKHMAWAN TAKLIB BUTA PADA PIMPINAN KAUM WAHABI SAUDI

Expand Messages
  • Ahmad Sudirman
    http://www.dataphone.se/~ahmad ahmad@dataphone.se www.ahmad-sudirman.com Stockholm, 9 Oktober 2004 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu alaikum wr wbr. TATI
    Message 1 of 1 , Oct 8, 2004
    • 0 Attachment
      http://www.dataphone.se/~ahmad
      ahmad@...
      www.ahmad-sudirman.com

      Stockholm, 9 Oktober 2004

      Bismillaahirrahmaanirrahiim.
      Assalamu'alaikum wr wbr.


      TATI IKUTAN WAHABIYIN ROKHMAWAN TAKLIB BUTA PADA PIMPINAN KAUM WAHABI SAUDI
      Ahmad Sudirman
      Stockholm - SWEDIA.


      JELAS KELIHATAN ITU WAHABIYAH TATI YANG TAKLID BUTA PADA PIMPINAN KAUM
      WAHABI SAUDI SEPERTI DITUNJUKKAN WAHABIYIN ROKHMAWAN DAN
      SALAFI-SOLO-WAHABI-SAUDI.

      "Selamat pagi kang Ahmad di Swedia, saya akan membicarakan tentang keraguan
      Teguh Harjito yang ditujukan kepada pak Rokhmawan ataupun rekannya yg
      dibandung itu. O yaaa kang ahmad bisa juga menanggapinya. Hmmm sebelumnya
      ijinkan saya untuk memanggil anda seperti judul di atas yaitu Si Ahlul Ahwa
      dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman (he he he he). Seandainya anda keberatan
      tetap saja saya memanggil anda dengan gelar yang dicantumka pak Rokhmawan
      dan rekan-rekan maupun ulama-ulamanya. Begini ya Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid
      'ah Ahmad Sudirman di mana anda telah menampilkan komentar dari sdr Teguh
      Harjito tentang kerancuan. Dimana sebenarnya kerancuan anda telah dijawab
      oleh pak Mitro dengan hadist yg terdapat di buku riyadlus solihin tersebut,
      namun perlu saya perkuat dengan hadist Rosululloh yg artinya, " Tidak
      dibenarkan kamu (para sahabat) pergi ke medan perang semuanya, harus ada
      sebagian yang menuntut ilmu agama (majlis ilmu) dan berdakwah" (mutafakun
      'alaih)." (Tati, narastati@... , Fri, 8 Oct 2004 05:56:22 -0700 (PDT))

      Baiklah saudari Tati di Jakarta, Indonesia.

      Tanpa disadari oleh Tati bahwa dirinya telah ikut taklid buta sebagaimana
      Wahabiyin Rokhmawan pada pimpinan kaum Wahabi Saudi yang membawakan paham
      Wahabi dengan gerakan salafi-nya yang dikembangkan oleh Syeikh Muhammad bin
      Abdul Wahab yang bersekutu dengan Amir Muhammad ibnu Saud yang bersekongkol
      dengan Kerajaan kafir Inggris untuk salah satunya menghancurkan Dinasti
      Islam Turki Usmaniyah guna membangun Kerajaan Saudi yang tidak mengikuti apa
      yang dicontohkan Rasulullah saw dalam membangun Daulah Islam atau Negara
      Islam.

      Kelihatan Tati dengan bekal taklid butanya pada pimpinan kaum Wahabi yang
      wakilnya ada di Negara kafir RI telah berusaha mengkopi apa yang telah
      dikopi oleh saudara Sumitro yang dicaplok bulat-bulat dari majalahnya kaum
      Wahabi di Negara kafir RI, Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal.
      45-50.

      Tati, itu Wahabiyin Rokhmawan yang taklid buta pada pimpinan kaum Wahabi
      Saudi dengan gerakan salafi atau wahabi-nya itu memang setelah berdiskusi
      dan berdebat di mimbar bebas ini, tidak mampu lagi mempertahankan paham
      Wahabinya, sehingga berjanji tidak akan tampil lagi di mimbar bebas ini.

      Itu alasan memakai istilah Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah yang selalu
      dituliskan oleh Wahabiyin Rokhmawan didepan nama Ahmad Sudirman, jelas tidak
      ada dasar daruri dan nadharinya atau tidak ada dasar dalil naqli dan dalil
      aqlinya.

      Tetapi karena Wahabiyin Rokhmawan adalah memang seorang yang taklid buta
      pada pimpiman kaum Wahabi Saudi, maka dia tanpa mempunyai dasar argumentasi
      yang jelas dan benar menurut dasar dalil daruri dan nadharai, ia dengan
      membabi buta terus saja memakai istilah gombal Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah
      didepan nama Ahmad Sudirman.

      Celakanya justru istilah gombal Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah yang selau
      dituliskan oleh Wahabiyin Rokhmawan dipakai juga oleh Tati yang hanya
      pandainya taklid buta pada apa yang dituliskan oleh para pimpinan kaum
      Wahabi Saudi dan para pengikutnya di Negara kafir RI seperti Wahabiyin
      Rokhmawan dari Solo dan Wahabiyin Mazda dari Surabaya.

      Ahmad Sudirman memahami kalau Tati yang taklid buta pada pimpinan Kaum
      Wahabi Saudi ini hanya ikut-ikutan Wahabiyin Rokhmawan yang memakai istilah
      gombal alias kosong Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah didepan nama Ahmad
      Sudirman.

      Coba saja perhatikan, dimana dan apa yang dijadikan dasar dan dalil daruri
      dan dalil nadhari oleh Wahabiyin Rokhmawan bahwa Ahmad Sudirman dikatakan
      dalam berdiskusi dan berdebat di mimbar bebas ini hanya mempergunakan hawa
      nafsu saja dan melakukan bid'ah. Coba tunjukkan satu saja. Apa yang
      dijadikan dasar argumentasi menurut hawa nafsu oleh Ahmad Sudirman dalam
      berdebat di mimbar bebas ini ?. Dan apa itu bid'ah yang dibuat oleh Ahmad
      Sudirman di mimbar bebas ini ?

      Tidak ada dasar dan argumentasi yang benar menurut dalil daruri dan dalil
      nadhari atau dalil naqli dan dalil aqli yang ditampilkan oleh Wahabiyin
      Rokhmawan yang menyatakan bahwa Ahmad Sudirman dalam berdebat di mimbar
      bebas ini hanya mengikuti hawa nafsu dan membuat bid'ah.

      Yang jelas dan nyata itu Wahabiyin Rokhmawan justru yang tersungkur karena
      tidak sanggup lagi mempertahankan paham wahabi dengan gerakan dakhwah wahabi
      atau salafi-nya di Negara kafir RI.

      Jadi, kalau Tati mahu ikut-ikutan Wahabiyin Rokhmawan untuk mempergunakan
      istilah gombal Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah didepan nama Ahmad Sudirman, itu
      menandakan bagaimana bodoh dan budeknya Tati dalam hal memahami, mendalami,
      menganalisa sesuatu masalah yang perlu didasarkan pada dalil daruri dan
      dalil nadhari. Atau seperti burung beo saja.

      Nah tentu saja, karena Tati yang taklid buta pada pimpinan kaum Wahabi Saudi
      ikutan Wahabiyin Rokhmawan, maka disinipun Tati telah menceburkan dirinya
      kedalam kacah kaum Wahabi, dan mendapat nama baru Wahabiyah Tati.

      Lihat dan perhatikan apa yang diungkapkan oleh Wahabiyah Tati ketika mencoba
      memberikan tanggapan atas apa yang ditulis oleh saudara Teguh Harjito yang
      menanggapi tulisan saudara Abu Hamzah Al Atsary dari Bandung yang dikopi
      oleh Wahabiyin Rokhmawan. Dimana Wahabiyah Tati tidak mengerti dan tidak
      memahami apa yang menjadi dasar tanggapan saudara Teguh Harjito itu.

      Wahabiyah Tati yang taklid buta, itu ketika saudara Teguh Harjito memberikan
      tanggapan atas tulisan saudara Abu Hamzah Al Atsari dari Bandung yang
      berjudul : "Nasehat untuk Salafiyyin". Itu dasarnya adalah karena saudara
      Abu Hamzah Al Atsary telah menyatakan: "Perkara yang tidak diragukan lagi
      bahwa berjihad dengan hujjah dan burhan dalam berdakwah, mengikhlaskan
      ibadah hanya untuk Alloh, membantah kesyirikan dan kesesatan dengan segala
      bentuknya, menghancurkan syubhat-syubhat dan melenyapkan fitnah syahwat,
      adalah amalan yang paling utama. Menyampaikan sunnah Rasulullah Shallallahu
      'alaihi wassallam ke tengah-tengah ummat adalah lebih afdhol dari pada
      melemparkan panah ke leher-leher musuh, yang demikian itu hal ini dapat
      dilakukan semua orang, sedang menyampaikan Sunnah tidak ada yang
      melakukannya kecuali warosatul anbiya." (Abu Hamzah Al Atsary, 18 Februari
      2004)

      Dari apa yang diluncurkan oleh saudara Abu Hamzah Al Atsari itu menyinggung
      paham wahabi alias salafi yang didalamnya mengandung pembantahan atas
      kesyirikan dan kesesatan, penghancuran syubhat-syubhat, dan pelenyapan
      fitnah syahwat, adalah menurut saudara Abu Hamzah Al Atsari merupakan amalan
      yang paling utama.

      Nah itu paham wahabi alias paham salafi yang dikembangkan oleh Syeikh
      Muhammad bin Abdul Wahab yang dianggap paling utama oleh saudara Abu Hamzah
      Al Atsari dari Bandung.

      Inilah yang tentang oleh saudara Teguh Harjito.

      Dimana saudara Teguh Harjito menyatakan bahwa pengamalan paham wahabi alias
      salafi itu bukan amalan yang paling utama. Melainkan yang paling utama
      adalah jihad fi sabilillah. Sebagaimana yang di Firmankan Allah SWT:
      "tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang
      tidak mempunyai uzur dengan orang2 yang berjihad di jalan Allah dengan harta
      dan jiwanya, Allah melebihkan orang2 yang berjihad dengan harta dan jiwanya
      atas orang2 yang duduk satu derajat. Kepada masing2 mereka Allah menjanjikan
      pahala yang baik (syurga) dan Allah melebihkan orang2 yang berjihad atas
      orang yang duduk dengan pahala yang besar, yaitu beberapa derajat
      daripada-Nya serta ampunan dan rahmat. dan adalah Allah maha pengampun lagi
      maha penyayang." [QS. An-Nisaa':95-96] . "...jika kamu tidak berangkat
      berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan
      ditukarnya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi
      kemudlaratan kepada-Nya sedikitpun. Allah maha kuasa atas segala sesuatu."
      [QS. At-Taubah:39] . "...maka berperanglah pada jalan Allah. tidaklah kamu
      dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. kobarkanlah semangat para
      mu'min untuk berperang. muddah-mudahan Allah menolak serangan orang2 kafir
      itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan-Nya." [QS.
      An-Nisaa':84] . "Mereka rela berada bersama orang2 yang tidak pergi
      berperang (wanita, anak2, orang sakit dan prang tua), dan hati mereka telah
      dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan berjihad.
      tetapi Rasul dan orang2 yang beriman bersama dia, berjihad dengan harta dan
      diri mereka. dan mereka itulah orang2 yang memperoleh kebaikan, dan mereka
      itulah orang2 yang beruntung." [QS. At-Taubah:87-88] " (Teguh Harjito, 30
      September 2004).

      Begitu juga menurut hadits Rasulullah saw: "ya Rasulullah, siapakah manusia
      yang paling tinggi derajatnya?" Rasulullah Muhammad saw menjawab, "seorang
      beriman yang berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya." [Shahih
      Al-Bukhari 4/45] . "berdiri satu jam dalam medan pertempuran di jalan Allah
      lebih baik daripada berdiri menunaikan shalat selama enam puluh tahun."
      [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Adii dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah
      (4/6165); Shahih Jami' As-Saghir no.4305] . "berjuang di jalan Allah selama
      pagi atau sore hari lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." [Shahih
      Al-Bukhari 4/50] . "ada ratusan ketinggian derajat di Syurga yang disediakan
      Allah kepada mereka yang bertempur di jalan-Nya. jarak antara satu derajat
      dengan derajat lainnya membentang jauh seperti jarak antara langit dan
      bumi." [Shahih Al-Bukhari 4/48] . "ibadah yang paling tinggi nilainya dalah
      jihad." [hadits shahih dari Muadz bin Jabal, Shahih At-Tirmidzi] .
      "barangsiapa yang tidak berangkat berjihad, atau tidak menolong
      mempersiapkan perlengkapan bagi para mujahid, atau tidak menyantuni dengan
      baik keluarga para mujahid ketika mereka tengah berjihad, maka Allah pasti
      akan menimpakan kepadanya bencana besar pada hari pengadilan kelak." [hadits
      hasan, hadits marfu' dari Abu Umamah. Abu Daud 3/22; Ibnu Majah 2/923] "
      (Teguh Harjito, 30 September 2004).

      Jadi Wahabiyah Tati, itulah yang menjadi dasar pemikiran saudara Teguh
      Harjito ketika memberikan tanggapannya atas tulisan saudara Abu Hamzah Al
      Atsari yang berjudul "Nasehat untuk Salafiyyin"yang dikutip oleh saudara
      Wahabiyin Rokhmawan pada tanggal 27 September 2004.

      Nah kalau Wahabiyah Tati tidak mengerti dan tidak memahami dasar pemikiran
      dan masalah yang sangat mendasar dalam tulisan yang ditulis oleh saudara Abu
      Hamzah Al Atsari, tidak perlu Wahabiyah Tati ikut nimbrung segala macam
      dengan pemikiran yang tidak nyambung.

      Seterusnya itu menyinggung apa yang dikopi oleh saudara Sumitro tentang
      masalah syahid dimana Sumitro mengkopi: "Apa Hukum Perkataan Fulan Syahid ?
      Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang,
      dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan
      oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas
      kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak
      Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman.
      90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Karena persaksian
      terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang
      menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat
      Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk
      mengetahuinya." (Sumitro, Thu, 30 Sep 2004 10:02:40 +0700)

      Wahabiyah Tati, tentang mati syahid ini banyak dibahas dalam hadits lainnya
      juga. Misalnya dari Jabir bin 'Atik, Rasulullah saw. bersabda: "Mati syahid
      ada tujuh, selain mati terbunuh dalam perang fi sabilillah, yaitu: (1) mati
      karena penyakit tha'un , (2) mati karena tenggelam ,(3) mati karena penyakit
      lambung ,(4) mati karena sakit perut, (5) mati karena terbakar, (6) mati
      karena tertimpa reruntuhan, dan (7) perempuan yang mati karena
      hamil/melahirkan." (HR.Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, dan Malik)

      Mati dimedan perang karena membela agama Allah, itu adalah mati syahid.
      Rasulullah bersabda: "tha'un itu satu kematian syahid bagi setiap mukmin".
      (Hendakalh ia sabar dan redha menanggungnya). (Riwayat Muslim). Mati
      tengelam dan tertimbus oleh bangunan. Mati terbakar. (Riwayat Tabrani).
      Sabda Rasulullah saw: "Mati akibat sakit perut maka ia mati syahid.
      Rasulullah bersabda: "barang siapa mati kerana sakit perut maka ia mati
      syahid". (Riwayat Muslim). Mati dalam nifas.(Riwayat At Tabrani).
      Rasulullullah bersabda: "orang yang mati karena menanggung penyakit kurus
      kering ia mati syahid. (Riwayat Tabrani). Mati akibat luka perang di jalan
      Allah. Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang luka kerana perang di jalan
      Allah itu mati, maka berarti ia syahid, atau kena pijak oleh unta atau
      kudanya atau ia mati ditempat tidurnya (setelah berperang itu) dengan sebab
      apa-apa pun yang dikehendaki oleh Allah, maka sesungguhnya ia adalah mati
      syahid dan akan masuk syurga". (Riwayat Daud). Mati mempertahankan harta.
      (Riwayat Bokhari). Rasulullah bersabda: "Barang siapa terbunuh kerana
      mempertahankan darahnya (dirinya) maka ianya mati syahid. (Riwayat Abu
      Daud).

      Selanjutnya itu menyinggung masalah takfir atau pengkafiran terhadap
      seseorang. Dimana Sumitro mengkopi tentang masalah "Penjelasan Lembaga
      Perkumpulan Ulama Besar Saudi Arabia Tentang Celaan Terhadap Sikap Ghuluw
      -ekstrim- Dalam Mengkafirkan Orang Lain. Dari Markaz Al-Imam Al-Albani
      Yordania. Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Alhalabi
      Al-Atsari." Dari Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal. 45-50.

      Mengenai takfir ini Ahmad Sudirman telah memberikan ulasan dalam tulisan
      sebelum ini. Dimana Ahmad Sudirman pernah menulis:

      "Negara yang dasar dan sumber hukum negaranya tidak mengacu kepada Islam,
      maka negara itu disebut negara kafir. Contohnya seperti Negara kafir RI.
      Kerajaan kafir Swedia. Kerajaan kafir Inggris. Negara Federasi kafir
      Amerika. Nah, walaupun Negara itu negara kafir tetapi tidak berarti
      rakyatnya semuanya kafir dan para pelaksana lembaga negara semuanya kafir.

      Untuk mengetahui apakah kafir para pelaksana lembaga negara itu, maka
      semuanya harus dikembalikan kepada dasar hukum yang diturunkan Allah SWT.
      Karena manusia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonis atau hukuman
      kafir kepada seseorang.

      Adapun dasar hukum yang telah diturunkan Allah SWT yang dijadikan sebagai
      pegangan nash adalah sebagaimana yang telah Ahmad Sudirman jelaskan
      berulangkali adalah QS, At-Taubah, 9: 115 , QS, Al-Isra, 17: 15 , QS,
      Al-Maidah: 44 , QS, An-Nisa, 4: 115 .

      Dimana dengan berpegang kepada dasar hukum dan nash inilah bisa dijadikan
      sebagai dasar pijakan untuk melihat apakah seseorang itu, baik itu pelaksana
      lembaga negara ataupun bukan, masuk dalam apa yang dikatakan kafir.

      Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya bahwa jatuhnya vonis kafir
      terhadap seseorang ini didasarkan kepada aqidah atau kepercayaan seseorang
      terhadap dasar hukum yang diturunkan Allah SWT atau Syariat Islam dalam
      penegakkan, pelaksanaan, dan penerapannya dalam kehidupan individu,
      keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara.

      Kemudian dengan berpijak kepada QS, At-Taubah, 9: 115 , QS, Al-Isra, 17: 15
      , QS, Al-Maidah: 44 , QS, An-Nisa, 4: 115 ditambah dengan pegangan yang
      dikemukakan Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz yang dihubungkan dengan dasar hukum
      yang dipakai dalam satu negara dan bagaimana sikap dari para pelaksana
      lembaga negara tersebut terhadap dasar hukum negara itu dibandingkan dengan
      dasar dan sumber hukum Islam.

      Nah, dengan melalui jalur proses yang terbentuk dari dasar nash dan pegangan
      ulama Islam inilah yang bisa mencapai tujuan untuk melihat dan mengetahui
      apakah seseorang itu bisa dinamakan kafir.

      Jadi untuk mengetahui hasil penelusuran jalur proses yang terbentuk dari
      dasar nash dan pegangan ulama Islam ini, maka sekarang kita akan masuki
      jalur:

      Pertama, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku
      berhukum dengan hukum ini, karena hukum ini lebih utama dari syariat Islam,"
      maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

      Kedua, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku
      berhukum dengan hukum ini, karena hukum ini sama (sederajat) dengan syariat
      Islam, sehingga boleh berhukum dengan hukum ini dan boleh juga berhukum
      dengan syariat Islam," maka dia kafir dengan kekafiran yang besar.

      Ketiga, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku
      berhukum dengan hukum ini namun berhukum dengan syariat Islam lebih utama,
      akan tetapi boleh-boleh saja untuk berhukum dengan selain hukum Allah," maka
      dia kafir dengan kekafiran yang besar.

      Keempat, seseorang mempunyai sikap dan pendapat dengan menyatakan: "Aku
      berhukum dengan hukum ini," namun dia dalam keadaan yakin bahwa berhukum
      dengan selain hukum Allah tidak diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa
      berhukum dengan syariat Islam lebih utama dan tidak boleh berhukum dengan
      selainnya. Tetapi dia seorang yang bermudah-mudahan (dalam masalah ini) atau
      dia kerjakan karena perintah dari atasannya, maka dia kafir dengan kekafiran
      yang kecil, yang tidak mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai
      dosa besar. (Asy-Syaikh Abdul 'Aziz bin Baz , Al-Hukmu
      Bighairima'anzalallahu wa Ushulut Takfir, hal. 71-72, dinukil dari
      At-Tahdzir Minattasarru' Fittakfir, karya Muhammad bin Nashir Al-Uraini hal.
      21-22)

      Nah sekarang, dengan dasar pegangan nash diatas inilah dapat memberikan
      gambaran dan pegangan yang jelas dalam usaha melihat apakah seseorang itu
      dinamakan kafir, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam nash Al-Maidah: 44
      "Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka
      mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS, Al-Maidah: 44)

      Jadi kalau kita berpijak dan mengembalikan semuanya kepada dasar dan sumber
      hukum yang diturunkan Allah SWT, maka tidak akan terperosok kedalam keracuan
      dalam berpikir menyangkut masalah takfir atau pengkafiran terhadap
      seseorang." (Ahmad Sudirman, 15 September 2004)

      Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
      ahmad@... agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu
      untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang
      Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel
      di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

      Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
      memohon petunjuk, amin *.*

      Wassalam.

      Ahmad Sudirman

      http://www.dataphone.se/~ahmad
      www.ahmad-sudirman.com
      ahmad@...
      ----------

      Date: Fri, 8 Oct 2004 05:56:22 -0700 (PDT)
      From: tati - <narastati@...>
      Subject: Re: HADI YANG MENYESATKAN ITU PENCAMPURAN HUKUM ISLAM KEDALAM
      SISTEM THAGHUT PANCASILA
      To: Ahmad Sudirman <ahmad@...>

      Assalaamu 'alaikum Wr.Wb

      Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman Tidak Berani Menampilkan
      Artikel Kiriman Sdr Sumitro

      Selamat pagi kang Ahmad di Swedia, saya akan membicarakan tentang keraguan
      Teguh Harjito yang ditujukan kepada pak Rokhmawan ataupun rekannya yg
      dibandung itu.

      O yaaa kang ahmad bisa juga menanggapinya. Hmmm sebelumnya ijinkan saya
      untuk memanggil anda seperti judul di atas yaitu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid
      'ah Ahmad Sudirman (he he he he).

      Seandainya anda keberatan tetap saja saya memanggil anda dengan gelar yang
      dicantumka pak Rokhmawan dan rekan-rekan maupun ulama-ulamanya.

      Begini ya Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman di mana anda telah
      menampilkan komentar dari sdr Teguh Harjito tentang kerancuan. Dimana
      sebenarnya kerancuan anda telah dijawab oleh pak Mitro dengan hadist yg
      terdapat di buku riyadlus solihin tersebut, namun perlu saya perkuat dengan
      hadist Rosululloh yg artinya, " Tidak dibenarkan kamu (para sahabat) pergi
      ke medan perang semuanya, harus ada sebagian yang menuntut ilmu agama
      (majlis ilmu) dan berdakwah" (mutafakun 'alaih).

      Wahai Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman cs dan Teguh Harjito
      untuk memudahkan anda semua berfikir marilah saya bantu penjelasan dari
      hadist tersebut. Di dunia hanya ada dua situasi yaitu situasi aman ( antara
      muslim dan non-muslim ada dan terikat perjanjian damai ) dan situasi perang
      ( muslimin berperang melawan kafir harby benar-benar karena agama ).

      Nah anggap saja di Indonesia ini sedang terjadi peperangan agama antara
      islam dan non-islam, menurut hadist hasan di atas jelas sekali kita tidak
      diperbolehkan pergi ke medan perang semuanya ( semua kaum laki-laki yg sudah
      baligh dan kuat tanpa udzur berbondong-bondong pergi ke medan perang ) akan
      tetapi di antara kita harus ada sebagia yang tinggal di rumah untuk menuntut
      ilmu agama, berdakwah dan ber amar ma' ruf nahi munkar. Coba seandainya
      semua laki-laki tersebut pergi ke medan perang, bagaimana aktifitas dakwah,
      amar ma' ruf nahi munkar termasuk menghidupkan sunnah rosululloh. Belum lagi
      kalau ternyata banyak diantaranya yg mati syahid atau mengalami kekalahan (
      Anggap saja seperti GAM/TNA yg kalah melawan TNI ) maka dengan kekalahan
      tersebut mengakibatka para alim ulama, hafidz qur 'an, ahli tafsir dll
      banyak yg berguguran dan berakibat tidak ada generasi penerusnya. Bahkan
      islam bisa tidak akan berkembang seandainya benar-benar ilmuwan agama dll
      bayak yg syahid.

      Dan yang jelas itu situasi perang tidak selamanya berlangsung pasti ada
      masa-masa damai. Nah untuk masa damai ( seperti di indonesia ) jelas tidak
      diperbolehkan untuk mengadakan perang (jihad) melainkan semuanya harus
      menuntut ilmu agama dan berdakwah termasuk menyampaikan sunnah Roslulloh.

      Dengan uraian di atas maka dapat disimpulkan jihad dalam arti perang
      terhadap kafir harby jelas dilakukan pada saat-saat tertentu saja kendati
      demikian tidak boleh semuanya pergi ke medan perang, harus ada sebagian yg
      menuntut ilmu agama, dakwah dan amar ma' ruf nahi munkar termasuk
      menyampaikan sunnah Rosul. Sedangkan menuntut ilmu agama, dakwah dll
      termasuk menyampaikan sunah harus dilakukan setiap keadaan baik dalam kodisi
      perang lebih-lebih dalam kondisi damai.

      O yaa Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah Ahmad Sudirman mengapa sampai saat ini
      anda tidak menampilkan artikel pak mitro di bawah ini ? takut ya...saya
      copykan lagi nich

      Wahai Kang Ahmad Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid 'ah atau sdr teguh harjito,
      tanggapi dengan baik yaa... ( tampilkan ke mimbar bebas ini ).

      Wassalaam

      Tati

      narastati@...
      Jakarta, Indonesia
      ----------

      Apa Hukum Perkataan Fulan Syahid ?
      Menentukan syahid bagi seseorang, seperti kamu mengatakan kepada seseorang,
      dengan menta'yin bahwa dia syahid. Ini tidak boleh kecuali yang disaksikan
      oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau umat sepakat atas
      kesyahidannya. Al-Bukhari dalam menerangkan hal ini ia berkata : Bab. Tidak
      Boleh Mengatakan Si Fulan Syahid. Ia berkata dalam Al-Fath Juz 6 halaman.
      90, yaitu tidak memvonis syahid kecuali ada wahyu. Karena persaksian
      terhadap suatu hal yang tidak bisa kecuali dengan ilmu, sedang syarat orang
      menjadi mati syahid adalah karena ia berperang untuk meninggikan kalimat
      Allah yang tinggi. Ini adalah niat batin yang tidak ada jalan untuk
      mengetahuinya.

      Hukum Bersumpah Atas Nama Selain Allah

      Bersumpah atas nama selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti mengatakan
      "Demi hidupmu", "Demi hidupku", "Demi Tuan Pimpinan", atau "Demi Rakyat",
      semua itu diharamkan bahkan termasuk syirik sebab jenis pengagungan seperti
      ini hanya boleh dilakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala semata.
      Barangsiapa yang mengagungkan selain Allah dengan suatu pengagungan yang
      tidak layak diberikan selain kepada Allah, maka dia telah menjadi musyrik.
      Akan tetapi manakala si orang yang bersumpah ini tidak meyakini keagungan
      sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah, maka
      dia tidak melakukan syirik besar tetapi syirik kecil.

      Bersumpah Atas Nama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam

      Al-Imam Ibnu Abdil Barr Rahimahullah meriwayatkan adanya ijma' (konsensus)
      tentang tidak bolehnya bersumpah atas nama selain Allah. Demikian pula,
      telah terdapat hadits-hadits yang shahih berasal dari Nabi Shallallahu
      'alaihi wa sallam yang melarang hal itu dan mengkatagorikannya sebagai
      kesyirikan sebagaimana terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari Nabi
      Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda. "Artinya :
      Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla melarang kalian bersumpah atas nama nenek
      moyang kalian ; barangsiapa ingin bersumpah, maka hendaknya bersumpahlah
      atas nama Allah atau lebih baik diam"


      BERMULA DARI PENGKAFIRAN, AKHIRNYA PELEDAKAN

      BAYAN HAI'AH KIBAR AL-ULAMA FI DZAMMI AL-GHULUWWI FI AT-TAKFIR [Penjelasan
      Lembaga Perkumpulan Ulama Besar Saudi Arabia Tentang Celaan Terhadap Sikap
      Ghuluw -ekstrim- Dalam Mengkafirkan Orang Lain]
      Markaz Al-Imam Al-Albani Yordania
      Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Alhalabi Al-Atsari
      Bagian Kedua dari Empat Tulisan [2/4]

      PENJELASAN HAI'AH KIBAR AL-ULAMA

      Lembaga Perkumpulan Tokoh-Tokoh Ulama Saudi Arabia [1]
      Sesungguhnya Majelis Hai'ah Kibar Al-Ulama, pada pertemuannya yang ke 49 di
      Thaif, yang dimulai tanggal 2/4/1419H [2] telah mengkaji apa yang kini
      berlangsung di banyak negeri-negeri Islam dan negeri-negeri lain, tentang
      takfir (penetapan hukum kafir terhadap seseorang) dan tafjir (peledakan)
      serta konsekwensi yang diakibatkannya, berupa penumpahan darah dan perusakan
      fasilitas-fasilitas umum.

      Karena berbahayanya persoalan ini, begitu pula akibat yang ditimbulkannya,
      berupa melenyapkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah, perusakan harta
      benda yang mestinya terpelihara, menimbulkan rasa takut bagi banyak orang
      dan menimbulkan keresahan bagi keamanan serta ketentraman orang banyak, maka
      majelis Hai'ah memandang perlu untuk menerbitkan penjelasan ini, guna
      menerangkan hukum sebenarnya dari persoalan tersebut. Sebagai nasihat bagi
      Allah, bagi hamba-hambaNya dan sebagai pelepas tanggung jawab di hadapan
      Allah, serta sebagai upaya menghilangkan kerancuan pemahaman di kalangan
      orang-orang yang kacau pemahamannya.

      Maka dengan taufik Allah kami katakan.

      PERTAMA

      Takfir (menetapkan hukum kafir/mengkafirkan) merupakan hukum syar'i. Tempat
      kembalinya adalah Allah dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seperti
      halnya penetapan hukum halal dan haram, kembalinya kepada Allah dan RasulNya
      Shallallahu 'alaihi wa sallam ; begitupula penetapan hukum kafir.

      Tidak setiap perkataan atau perbuatan yang disebut kufur, berarti kufur
      akbar yang mengeluarkan (pelakunya) dari agama.[3] Karena sumber penetapan
      hukum pengkafiran kembalinya kepada Allah dan RasulNya, maka kita tidak
      boleh mengkafirkan seseorang, kecuali jika Al-Qur'an dan Sunnah telah
      membuktikan kekafirannya dengan bukti yang jelas. Maka (mengkafirkan orang)
      tidak cukup hanya berdasarkan syubhat dan dugaan-dugaan saja, sebab akan
      berakibat pada konsekwensi hukum-hukum yang berbahaya.

      Apabila hukum hudud (pidana) saja dapat terhapus dengan adanya syubhat
      (ketidak jelasan bukti) -padahal konsekwensinya lebih ringan daripada
      takfir-, apalagi masalah pengkafiran orang, tentu lebih dapat terhapuskan
      lagi dengan adanya syubhat (ketidak jelasan bukti).

      Itulah sebabnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan umatnya
      agar jangan sampai menghukumi kafir kepada seseorang yang tidak kafir.
      Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Siapapun orang
      yang mengatakan kepada saudaranya 'Hai Kafir', maka perkataan itu akan
      mengeneai salah satu diantara keduanya. Jika perkataannya benar, (maka
      benar). Tetapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada diri orang
      yang mengatakannya" [Muttafaq 'alaih, dari Ibnu Umar].

      Kadang di dalam Al-Qur'an dan Sunnah terdapat nash yang dapat difahami
      darinya, bahwa perkataan ini, perbuatan itu atau keyakinan itu adalah kufur,
      tetapi orang yang melakukannya tidak kafir, disebabkan adanya penghalang
      yang menghalangi kekafirannya.

      Hukum pengkafiran ini, sama seperti hukum-hukum lainnya. Yaitu tidak akan
      terjadi, kecuali jika sebab-sebab serta syarat-syaratnya ada [4] dan
      penghalang-penghalangnya tidak ada. Umpamanya dalam masalah waris. Sebabnya
      (misalnya) adalah adanya hubungan kerabat. Kadang-kadang seseorang (yang
      mempunyai hubungan kerabat) tidak bisa mewarisi disebabkan oleh adanya
      penghalang, yaitu perbedaan agama. Begitu pula masalah kekafiran. Seorang
      mukmin dipaksa melakukan perbuatan kufur -misalnya-, maka ia tidak kafir
      karenanya.

      Kadang seorang muslim mengucapkan kalimat kufur disebabkan oleh kesalahan
      lidah karena sangat gembiranya, atau sangat marahnya atau karena sebab-sebab
      lainnya. Iapun tidak kafir karenanya. Sebab ia tidak sengaja mengucapkannya.
      Seperti kisah orang yang mengatakan : "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan
      aku adalah TuhanMu".( Dia tidak kafir -red). Dia salah mengucapkan kalimat
      itu karena sangat gembiranya (menemukan ontanya yang hilang ditengah
      kesendiriannya, -red).[5] [Hadits Shahih Riwayat Muslim, dari sahabat Anas
      bin Malik]

      Tergesa-gesa menghukumi kafir terhadap seseorang akan mengakibatkan banyak
      perkara yang berbahaya. Di antaranya menghalalkan darah dan harta Muslim,
      dilarangnya saling mewarisi, pembatalan pernikahan dan lain-lain yang
      merupakan konsekwensi hukum-hukum orang murtad

      Jadi bagaimana mungkin seorang mukmin boleh lancang menetapkan hukum kafir
      hanya berdasarkan syubhat yang sangat sederhana sekalipun ?

      Dan apabila ternyata (tuduhan kafir, -red) ini ditujukan kepada para
      penguasa [6], maka persoalannya jelas lebih parah lagi. Sebab akibatnya akan
      menimbulkan sikap pembangkangan terhadap penguasa, angkat senjata melawan
      mereka, menebarkan isu kekacauan, mengalirkan darah dan membuat kerusakan
      terhadap manusia dan negara.

      Karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang penentangan kepada
      penguasa. Beliau bersabda. "Artinya : ... Kecuali bila kalian lihat
      kekafiran yang nyata (bawaah), yang tentangnya kalian memiliki bukti yang
      jelas dari Allah" [Muttafaq 'alaih, dari Ubadah]

      [a] Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (kecuali jika kalian lihat),
      memberikan pengertian bahwa tidak cukup (pengkafiran, -red) hanya
      berdasarkan dugaan dan isu.

      [b] Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (kekafiran), memberikan
      pengertian bahwa tidak cukup (penentangan terhadap penguasa, -red) hanya
      karena fasiknya penguasa, walau kefasikannya besar seperti zhalim, meminum
      khamr, berjudi dan dominan berbuat perkara haram.

      [c] Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (nyata), memberikan
      pengertian bahwa tidaklah cukup kekafiran yang tidak nyata. Arti (bawaah)
      ialah jelas dan nyata.

      [d] Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (kalian memiliki bukti jelas
      mengenai kekafiran yang nyata dari Allah). Ini memberikan pengertian bahwa
      pengkafiran harus berdasarkan dalil yang sharih (jelas dan terang). Dalil
      itu harus shahih adanya dan sharih (jelas dan terang) pembuktiannya.
      Sehingga tidak cukup bila dalil itu lemah sanadnya atau tidak tegas
      pembuktiannya.

      [e] Kemudian sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam (dari Allah),
      memberikan pengertian bahwa perkataan ulama manapun (dalam pengkafiran,
      -red) tidak bisa dianggap, meski betapapun tinggi ilmu dan sikap amanahnya,
      apabila perkataannya tidak berdasarkan dalil yang sharih (nyata dan terang)
      pembuktiannya dan shahih berasal dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah
      Shallallahu 'alaihi wa sallam.

      Ikatan-ikatan syarat-syarat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
      (dalam hadits) di atas menunjukkan betapa pentingnya permasalahan takfir
      (pengkafiran terhadap seseorang).

      Kesimpulan.

      Tergesa-gesa menghukumi seseorang sebagai kafir mempunyai bahaya yang besar.
      Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla. "Artinya : Katakanlah : Sesungguhnya
      Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau yang
      tersembunyi, dan (mengharamkan) perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa
      alasan yang benar, (juga mengharamkan kalian) mempersekutukan Allah dengan
      sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu, dan (juga
      mengharamkan) kalian mengada-adakan perkataan terhadap Allah apa yang kalian
      tidak ketahui" [Al-A'raf : 32]

      [Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 12/Tahun VII/1424H hal. 45-50]
      _________
      Foote Note.

      [1] Tentang penjelasan lembaga ini, saya (Syaikh Ali Hasan) telah memberikan
      catatan dan penjelasan pada sebuah risalah tersendiri yang saya beri judul
      'Kalimatun Sawa' Fi An-Nushrati Wa Ats-Tsana'i 'Ala Bayan Hai'ah Kibar
      Al-Ulama, Wa Fatwa Al-Lajnah Da'imah Lil Ifta' Fi Naqdhi Ghuluwwi At-Tafkir
      Wa Dzammi Dhalalati Al-Irja'. Risalah ini sedang dicetak, Alhamdulillah. Di
      dalamnya digabungkan pula Fatwa Lajnah Da'imah tentang celaan terhadap
      firqah Murji'ah dan faham Murji'ah.

      [2] Wafatnya guru kami, Syaikh Al-Imam Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah,
      ialah pada tanggal 27/1/1420H

      [3] Sesungguhnya kufur terbagi menjadi dua. Kufur asghar (kecil), tidak
      mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan kufur akbar (besar), mengeluarkan
      pelakunya dari Islam. Kufur akbar ini ada beberapa macam, yaitu :
      menghalalkan (terhadap perkara yang jelas haramnya,-red), penolakan,
      pengingkaran, pendustaan, (menolak untuk percaya), munafik, dan ragu-ragu
      (terhadap kebenaran yang sudah jelas, -red). Dalam hal ini ada beberapa
      sebab yang dapat menjerumuskan ke dalam kufur akbar itu. Yaitu sebab-sebab
      yang berupa perkataan, perbuatan dan keyakinan.

      [4] Pada perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa XIV/118
      terdapat penjelasan tentang syarat-syarat itu. Beliau Rahimahullah,
      berkaitan dengan hukum orang yang berbicara tentang kekafiran, telah
      mengatakan : "Adapun bila orang tersebut : (1) mengetahui atau memahami apa
      yang diucapkannya, maka bila ia (2) dengan senang hati (tidak terpaksa) dan
      (3) sengaja dalam mengucapkan apa yang dikatakannya ; maka inilah yang
      perkataanya terhitung ...." (maksudnya, pengkafiran terhadap orang itu dapat
      dianggap). Saya (Syaikh Ali Hasan) berkata, "Sebagai kebalikannya adalah
      penghalang-penghalangnya".

      [5] Jadi kegembiraan yang luar biasa itulah yang menjadi sebab adanya
      penghalang yang menghalangi hukum kafir terhadapnya, yaitu : ketidak
      sengajaan. Maksudnya, ia tidak bermaksud melakukan kekafiran. Perhatikanlah
      ini hendaknya. Jika tidak, sesungguhnya orang yang sengaja -dan tanpa ada
      unsur paksaan- mengucapkan perkataan sejenis yang dapat menyebakan kekafiran
      -yaitu yang sama sekali berlawanan dengan keimanan dari segala sisi- baik
      secara ucapan maupun secara perbuatan, misalnya ; mencaci Allah atau
      RasulNya atau yang semisalnya, maka orang ini kafir, keluar dari agama.
      Murtad.

      [6] Yaitu para penguasa Muslim -semoga Allah memperbaiki negara dan hamba
      Allah- melalui tangan mereka. Tentang dalil yang dijadikan hujjah oleh
      orang-orang yang menyimpang untuk mengkafirkan para penguasa secara total,
      yaitu firman Allah : "Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang
      diturunkan oelh Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir" [Al-Maidah :
      44]. Maka tidak ada jawaban mencakup yang lebih indah dari pada perkataan
      Imam Ahmad Rahimahullah. (Beliau berkata) : "(Maksud ayat itu ialah), kufur
      yang tidak mengeluarkan dari agama. Seperti halnya iman, sebagaimana lebih
      rendah dari sebagian yang lain (bertingkat-tingkat, -red), demikian pula
      kufur. Sampai akhirnya datang suatu bukti yang tidak diperselisihkan lagi
      didalamnya". (Termuat dalam) Majmu' Fatawa Syaikhul Islam VII/254
      ----------

      _________________________________________________________________
      Hitta rätt på nätet med MSN Sök http://search.msn.se/
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.