Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

TEGUH : KRITIS TERHADAP PEMAHAMAN HADIST DIHUBUNGKAN DENGAN SITUASI, KONDISI....

Expand Messages
  • Ahmad Sudirman
    http://www.dataphone.se/~ahmad ahmad@dataphone.se ahmad.swaramuslim.net Jakarta, 1 September 2004 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu alaikum wr wbr. KRITIS
    Message 1 of 1 , Sep 1, 2004
    • 0 Attachment
      http://www.dataphone.se/~ahmad
      ahmad@...
      ahmad.swaramuslim.net

      Jakarta, 1 September 2004

      Bismillaahirrahmaanirrahiim.
      Assalamu'alaikum wr wbr.


      KRITIS TERHADAP PEMAHAMAN HADIST DIHUBUNGKAN DENGAN SITUASI, KONDISI &
      KONTEKS HADIST
      Teguh Harjito
      Jakarta - INDONESIA.


      MENYOROT SECARA KRITIS TERHADAP PEMAHAMAN HADIST YANG DIHUBUNGKAN DENGAN
      SITUASI, KONDISI & KONTEKS HADIST

      Menyorot apa yang telah dikemukakan saudara Rokhmawan yang menyangkut "Sikap
      Kita Terhadap Amir (Pemimpin/presiden/penguasa dll) yang Dzalim". Perlu
      disini harus diperhatikan tentang pemahaman hadist/atsar yang dihubungkan
      dengan situasi, kondisi dan konteks hadits/atsar tersebut.

      Dari hadits/atsar shahih dibawah yang telah dinukil oleh saudara Rokhmawan
      dalam tulisannya pada Senin, 30 Agustus 2004, maka sikap kita adalah sami'na
      wa atha'na. Dan benar adanya jika kita mengingkari atau mendebat
      hadits/atsar shahih akan jatuh kedalam kekafiran yang nyata. Oleh karena itu
      kita tidak boleh mengingkari atau mendebatnya.

      Namun kita harus kritis terhadap pemahaman hadits/atsar dari siapa pun,
      tidak terkecuali pemahaman ikhwan salafi. Mereka menukil hadits/atsar
      tersebut dan berpemahaman bahwa situasi, kondisi dan konteks hadits/atsar
      tersebut di atas dapat berlaku di sebuah daulah yang tidak berdasar kepada
      Al-Qur'an dan As-Sunnah. Padahal hadits/atsar shahih tersebut dinyatakan
      oleh Rasulullah saw dan disampaikan oleh para shahabat pada situasi, kondisi
      dan konteks daulah Islamiyah telah tegak berdiri dan syari'ah/hukum Islam
      telah berlaku penuh. Maka alangkah naifnya pemahaman tersebut.

      Apakah kita mau menyamakan situasi dan kondisi daulah Islamiyah yang agung
      yang telah Rasulullah saw tegakkan dan kemudian dipertahankan dan
      dilanjutkan oleh generasi berikutnya dari kaum muslimin dengan situasi dan
      kondisi suatu daulah yang tidak berdasar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah?
      Jawabannya jelas dan tegas bagi kaum mu'minin: TIDAK!

      Tidak ada di dunia ini yang bisa menyamai situasi dan kondisi daulah
      Islamiyah yang agung yang telah Rasulullah saw tegakkan dan kemudian
      dipertahankan dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya dari kaum muslimin.
      Apalagi situasi dan kondisi nagara RI yang carut marut dan tersesat ini
      (karena RI tidak mengikuti hadits Nabi saw: "Aku tinggalkan pada kamu
      sekalian 2 perkara, tidak akan tersesat kamu sekalian selama berpegang teguh
      dengan keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya." Hadits riwayat Malik dari
      Anas bin Malik ra.)

      Dan bila ada manusia yang mengaku dirinya telah menjadi muslim dan mengaku
      bahwa dirinya beriman kepada Allah swt dan Rasulullah saw tapi kemudian
      berani menyamakan situasi dan kondisi daulah mereka yang tidak berdasar
      kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan daulah Islam yang berdasar kepada
      Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka dengan jelas dan tegas dapat kita
      katakan/hukumi orang tersebut sebagai kafir yunkilu 'anil millati (kafir
      yang telah keluar dari agama) karena telah merendahkan/melecehkan ajaran
      Beliau saw. Sebagaimana apa yang saya nukil dari tulisan ikhwan salafi
      berikut ini:

      Pembatal-Pembatal Laa ilaaha illallah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
      rahimahullah menjelaskan bahwa pembatal-pembatal Laa ilaaha illallah ini
      jumlahnya banyak tapi yang pokok ada sepuluh, diantaranya:

      - Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu terhadap kekafiran
      mereka, atau membenarkan madzab (ideologi) mereka.

      [apakah kita berani mengkafirkan ideologi Pancasila sebagai dasar Negara RI?
      Jika tidak, kita termasuk kafir menurut Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab]
      (komentar Teguh)

      Orang yang membenarkan orang-orang musyrik itu dan menganggap baik terhadap
      kekufuran dan kezhaliman mereka, maka ia berarti kafir berdasarkan ijma kaum
      muslimin. Sebab, ia berarti belum/tidak mengenal Islam secara hakiki, yaitu
      berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepadaNya dengan
      ketaatan, berlepas diri dari syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.
      Sedangkan ia justru berwala' (memberikan loyalitas) terhadap ahli syirik,
      mana mungkin dia akan mengkafirkan mereka.

      Allah berfirman (yang artinya): "Sesugguhnya telah ada suri teladan yang
      baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika
      mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari
      kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu
      dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat
      selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." (Al-Mumtahanah: 4)

      Inilah millah Ibrahim, barang siapa membencinya, maka ia berarti telah
      membodohi diri sendiri. Perhatikan pula surat Al-Maidah:51, Ali Imron:28,
      Az-Zukhruf:26-27, at-taubah:5, at-taubah:23, al-Mujadilah:23,
      al-mumtahanah:1, dan masih banyak ayat lain yang menjelaskan mengenai
      permasalahan ini.

      [menurut ikhwan Salafi, apakah para pemimpin RI tidak melakukan kesyirikan?
      Padahal kita pernah melihat di media cetak salah seorang dari mereka
      sembahyang di pura/kuil, ada yang 'ruwatan' di pantai laut selatan (Yogya)
      dan masih banyak lagi contoh kesyirikan yang mereka lakukan. Demikian pula
      dengan Negara RI yang mengakui kebenaran 5 agama + konghucu dalam UUD-nya,
      padahal menurut Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 19, "Innad diina
      'indallahil Islam." Jadi Negara RI telah jelas menentang ayat tersebut, dan
      kita tahu bahwa siapapun yang
      menentang ayat2 Allah swt walau hanya 1 huruf saja maka dia kafir muthlak]
      (komentar Teguh)

      - Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi
      Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, atau meyakini ada hukum yang lebih baik
      daripada hukum beliau; seperti orang yang lebih mengutamakan hukum thaghut
      atas hukum beliau.

      Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (yang artinya): "Sesungguhnya dien (agama)
      disisi Allah adalah Islam." (Ali Imran:19) "Barangsiapa mencari agama selain
      dari dien (agama) Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (dien itu)
      daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali
      Imron:85)

      Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam (yang artinya): "Demi Allah
      yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Musa berada di tengah-tengah
      kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, maka pastilah
      kalian telah tersesat dengan keseatan yang jauh." (HR.
      Ahmad)

      [Jelas sekali keterangan di atas, dan kondisi Negara dan para pemimpin RI
      telah meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi
      Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, atau meyakini ada hukum yang lebih baik
      daripada hukum beliau dan lebih mengutamakan hukum thaghut atas
      hukum beliau dengan cara membuat 'sumber dari segala sumber hukum' di
      Indonesia yaitu Pancasila. Apakah menurut ikhwan salafi Negara dan para
      pemimpin RI tidak kafir?] (komentar Teguh)

      - Membenci sebagian (apalagi seluruhnya) ajaran yang dibawa Rasulullah
      Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, walaupun ia mengamalkannya.

      "Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah
      menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhya
      mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur'an) lalu Allah
      menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (Muhammad:8-9)

      [Dengan membenci dan menolak usulan kaum muslimin yang ingin memasukkan 7
      kata dari Piagam Jakarta yang telah dihapus oleh Soekarno dkk yang intinya
      adalah penegakkan syari'ah Islam di Indonesia, apakah tidak termasuk kedalam
      penjelasan Syeikh: membenci sebagian (apalagi
      seluruhnya) ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,
      walaupun ia mengamalkannya? Bagaimana menurut ikhwan salafi?] (komentar
      Teguh)

      - Meyakini bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai kebebasan keluar dari
      syariat Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sebagaimana keleluasaan Nabi
      Khidir untuk tidak mengikuti syariat Musa alaihi salam.

      Dalilnya adalah: An-Nasa'i dan lainnya meriwayatkan dari Nabi Shallallahu
      'Alaihi wa Sallam bahwa beliau melihat lembaran dari kitab Taurat di tangan
      Umar bin Al-Khattab Radhiallahu 'Anhu, lalu beliau Shallallahu 'Alaihi wa
      Sallam bersabda (yang artinya): "Apakah kamu masih juga bingung wahai putera
      al-Khathab? padahal aku telah membawakan kepadamu ajaran yang putih bersih.
      Seandainya Musa masih hidup, lalu kalian mengikutinya dan meninggalkanku,
      tentulah kamu tersesat."

      Dalam riwayat lain disebutkan: "Seandainya Musa masih hidup, maka tiada
      keleluasaan baginya kecuali harus mengikutiku," lalu Umar pun berkata: "Aku
      telah ridha bila Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien (agama), dan
      Muhammad (Shallallahu 'Alaihi wa Sallam)
      sebagai nabi."

      [Keridhaan Umar ra. dibuktikan dengan tha'at pada seluruh ajaran yang
      Rasulullah saw bawa dan membuang seluruh ajaran selainnya -bahkan ajaran
      Nabi Musa as sekalipun, termasuk dalam bermasyarakat dan bernegara. Dan
      sistem bernegara yang Rasulullah saw ajarkan adalah sistem Islam, mulai dari
      dasar/ideologi(bahasa din-nya: aqidah) sampai hal2 yang furu' (cabang).
      Sudahkah kita seperti yang Umar ra lakukan, terutama kita di Negara RI ini?]
      (komentar Teguh)

      Wahai saudaraku,

      Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk kepada kebenaran; ketahuilah
      bahwa pelaku-pelaku hal-hal yang membatalkan keislaman seseorang di atas,
      tidak ada bedanya antara yang melakukan dengan main-main, sungguh-sungguh,
      ataupun takut (karena harta, jabatan).

      Semuanya sama saja, kecuali bagi orang yang dipaksa. Orang yang dipaksa
      memiliki udzur sebagaimana kisahnya Ammar bin Yassir yang kemudian turun
      ayat An-Nahl:106. (ket: ini pernyataan ikhwan salafi, bukan pernyataan
      Syeikh)

      [Pernyataan yang sangat tegas dari salah seorang ikhwan salafi. Kita
      berharap supaya kita tidak seperti menepuk permukaan air hingga wajah kita
      terpercik air yang kita tepuk] (komentar Teguh)

      Dari nukilan di atas (ditambah sedikit komentar saya/Teguh) dapat kita ambil
      kesimpulan bahwa menyamakan situasi dan kondisi Daulah Islam Rasulullah saw
      dengan daulah yang tidak berdasar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah (atau dapat
      kita katakan sebagai daulah kafir) dapat menjatuhkan kita pada kondisi kafir
      yunkilu 'anil millati. Na'udzubillahi min dzalik.

      Demikian dan semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bishshawab.
      Allahummahdinashshiratal mustaqim. Shiratal ladzina 'an 'amta 'alaihim,
      ghairil maghdhubi 'alaihim wa ladhdhaalim.

      Teguh Harjito

      teguh.harjito@...
      Jakarta, Indonesia
      ---------

      Date: Mon, 30 Aug 2004 23:27:04 -0700 (PDT)
      From: rohma wawan rokh_mawan@...
      Subject: Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Itu Hasan Tiro
      dan Antek-anteknya, NII Serta GAM/TNA Melangkahkan Kakinya Berdasarkan Hawa
      Nafsunya.
      To: ahmad@...
      Cc: ahmad_jibril1423@..., hudoyo@..., sea@...,
      siliwangi27@..., habearifin@..., mr_dharminta@...,
      yuhe1st@..., dityaaceh_2003@..., megawati@...,
      hassan.wirayuda@..., alchaidar@..., perlez@...,
      syifasukma@..., imarrahad@..., viane@...,
      muhammad59iqbal@..., husaini54daud@...

      Bismillaahirrohmaanirrohiim
      Assalaamu'alaikum Wr.Wb

      Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Itu Hasan Tiro dan
      Antek-anteknya, NII Serta GAM/TNA Melangkahkan Kakinya Berdasarkan Hawa
      Nafsunya.

      Itu Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs, Hasan Tiro dan
      Antek-anteknya, Warga NII serta Anggota GAM/TNA dan yang sejenisnya telah
      melangkahkan kakinya menuruti langkah Syaiton terbukti dengan tidak maunya
      mereka semua kembali kepada apa-apa yang di sabdakan, contohkan oleh
      Rosululloh SAW dalam kehidupan beragama. Bukan hanya itu mereka semua
      terang-terangan telah mempermainkan Ayat-ayat Alloh SWT dan Sunnah-sunnah
      Rosululloh SAW dengan alasan yang berdasarkan Hawa Nafsu. Bagaimanakah
      hukumnya orang demikian di atas atau yang mempermainkan hadist Roosululloh
      SAW ? Wajib baginya untuk mengulang syahadat dan berjanji atas nama Alloh
      untuk tidak mengulangi perbuatan, perkataan yg mencerminkan pengejekan
      terhadap Ayat Alloh SWT ataupun Sunnah Rosululloh SAW. Yang dinamakan pokok
      dalam kehidupan beragama adalah pengagungan terhadap Alloh SWT dan
      Rosululloh SAW sedangkan penolakan dengan cara mempermainkan Ayat Alloh atau
      Sunnah Rosululloh SAW berarti menenggelamkan keagungan Alloh dan Rosululloh
      SAW tersebut dan meruntuhkan pokok agama dengan dahsyat ( baca lagi Dalil
      kafirnya orang yg mempermainkan Sunnah Rosululloh SAW ).

      Mohon dengan sangat janganlah anda (sdr Peace org cs serta Si Ahlul Ahwa dan
      Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman cs) membantah, mengritik yang berdasar hawa
      nafsu dan bacalah, fahamilah hadist-hadist berikut ini tentang tata cara
      atau sikap seorang muslim dan mukmin ketika menghadapi pemimpin yg dzalim.
      Bagi yg merasa bukan muslim dan mukmin diperkenankan tidak usah membaca
      karena dengan membacanya akan balik mengomentari berdasarkan hawa nafsu dan
      amarah yg meluap-luap. Simak uraian yg singkat dibawah ini :

      Sikap Kita Terhadap Amir (Pemimpin/presiden/penguasa dll) yang Dzalim

      Rasulullah SAW telah meninggalkan kepada kita Agama Islam yang sempurna.
      Tidak ada suatu perkara yang penting pun yang terlewati dari agama ini.
      Barangsiapa tetap berpegang teguh kepada agama ini setelah sampai hujjah
      kepadanya maka dia adalah termasuk orang yang selamat, Insyaa Allah. Dan
      barangsiapa yang berpaling setelah sampai keterangan dari perkara agama ini
      maka dia akan binasa. Semoga Allah SWT menggolongkan kita kepada orang yang
      tetap mendengar dan taat dari setiap perintah-perintah yang telah
      disampaikan oleh-Nya lewat lisan Rasul-Nya SAW. Aamiin.

      A.Sikap Seorang Muslim Kepada Penguasa Yang Zhalim, Mendengar dan Taat.

      Dari Wail bin Hujr, berkata : Kami bertanya, Wahai Rasulullah ! Bagaimana
      pendapatmu jika kami punya amir (dimana mereka) menahan hak kami dan mereka
      meminta haknya dari kami ? Maka beliau menjawab : "(Hendaknya kalian) dengar
      dan taati mereka, karena hanyalah atas mereka apa yang mereka perbuat, dan
      atas kalian yang kalian perbuat". (HR. Muslim no. 1846 dari hadits Asyats
      bin Qais)

      Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Akan ada
      sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak
      mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian
      orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam
      wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika
      aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat
      kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu". (Hadits
      shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52)

      Dari Adi bin Hathim ra. berkata : Kami bertanya, Ya Rasulullah, kami tidak
      bertanya kepadamu tentang (ketaatan) kepada (amir) yang bertaqwa, akan
      tetapi bagaimana yang berbuat (demikian) dan berbuat (demikian) (Adi bin
      Hathim menyebutkan perbuatan yang jelek) ? Maka Rasulullah SAW bersabda :
      "Bertaqwalah kepada Allah dan (tetaplah) mendengar dan taat (kepada
      mereka)". (HR. Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam
      Ad-Dhilal hal 493 no. 1069)
      Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, Rasulullah SAW bersabda :"Wajib bagi kamu
      mendengar dan taat baik dalam keadaan sulit ataupun mudah, semangat ataupun
      tidak suka, walaupun ia sewenang-wenang terhadapmu". (HR. Muslim)

      B.Mendengar & taat dalam perkara yang maruf, bukan dalam perkara maksiat.
      Dari Ibnu Umar ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda,"Wajib atas seorang
      muslim (untuk) mendengar dan taat (kepada pemimpin) pada apa yang ia sukai
      ataupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (untuk) berbuat maksiat,
      maka tidak ada mendengar dan taat". (HR. Bukhari dan Muslim)

      C.Larangan Menghina (Menjelek-Jelekkan) Penguasa & Perintah Memuliakannya
      Walau Zhalim Sekalipun Dari Muawiyah berkata : Tatkala Abu Dzar keluar ke
      Ribdzah, dia ditemui sekelompok orang dari Irak, kemudian mereka berkata :
      Wahai Abu Dzar, pancangkanlah bendera (perang) untuk kami, niscaya akan
      datang orang-orang yang membelamu. (Maka) Abu Dzar berkata : Pelan-pelan
      (bersabarlah) wahai Ahlul Islam, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW
      bersabda :
      "Akan ada sepeninggalku seorang sulthan (pemimpin), muliakanlah dia, maka
      barangsiapa mencari-cari kehinaannya, berarti dia telah melubangi Islam
      dengan satu celah dan tidak akan diterima taubatnya sampai dia mampu
      mengembalikannya seperti semula". (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi
      Ashim dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal)

      Dari Abi Bakrah ra. berkata : Rasulullah SAW bersabda :"Sulthan adalah
      naungan Allah dimuka bumi, barangsiapa menghinanya, maka Allah akan
      menghinakan dia (orang yang menghina sulthan), dan barangsiapa
      memuliakannya, niscaya Allah akan memuliakan dia". (Hadits shahih riwayat
      Ibnu AbiAshim, Ahmad, At-Thoyalisi, Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dihasankan
      Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal no. 1017 dan 1023, dan dalam As-Shahihah
      2297)

      Dari Ziyad bin Kusaib Al-Adawi beliau berkata :Dulu aku pernah bersama Abi
      Bakrah berada dibawah mimbar Ibnu Amir dan beliau sedang berkhutbah sambil
      mengenakan pakaian tipis. Kemudian Abu Bilal berkata : Lihatlah oleh kalian
      pada pemimpin kita, dia mengenakan baju orang-orang fasiq. Lantas Abi Bakrah
      pun langsung angkat bicara : Diam kamu! Saya mendengar Rasulullah SAW
      bersabda, "Barangsiapa yang menghinakan penguasa Allah di muka bumi niscaya
      Allah menghinakannya". (Tirmidzi dalam sunannya (2225)

      Didalam At-Tarikh AL-Kabir (7/18) oleh AL-Bukhari dari Aun As-Sahmy beliau
      berkata : Janganlah kalian mencela Al-Hajjaj (Al-Hajjaj bin Yusuf
      Ats-Tsaqafi) karena dia adalah pemimpin kalian dan dia bukan pemimpinku.
      Adapun ucapan beliau :dia bukan pemimpinku, karena Abu Umamah tinggal di
      Syam sedangkan Al-Hajjaj pemimpin Iraq.

      Dikitab yang sama (8/104) Imam Bukhari meriwayatkan dari Abi Jamrah
      Ad-DhobiI, beliau berkata : Tatkala sampai kepadaku (khabar) pembakaran
      rumah, lalu aku keluar menuju Makkah dan berkali-kali aku mendatangi Ibnu
      Abbas sampai beliau mengenaliku dan senang kepadaku. Lalu aku mencela
      Al-Hajjaj di depan Ibnu Abbas sampai beliau berkata : Janganlah kamu menjadi
      penolong bagi syaithan.

      Hannad mengeluarkan (riwayat) dalam Az-Zuhd (II/464) :Abdah menceritakan
      kepada kami dari Az-Zibriqan, berkata,Aku pernah berada disisi Abu Wail
      Syaqiq bin Salamah lalu au mulai mencela Al-Hajjaj dan au sebutkan
      kejelekan-kejelekannya. Lantas beliau berkata,Janganlah engkau mencercanya,
      siapa tahu barangkali dia berdoa, Ya Allah, ampunilah aku, kemudian Alla
      mengampuninya.

      Dari Ibnu Abi Dunya mengeluarkan dalam kitab Ash-Shamtu wa Adabu Lisan hal
      145 dan juga Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (5/41-42) dari Zaid bin Qudamah
      beliau berkata : Saya berkata kepada Manshur bin Al-Mutamar: Jika aku puasa
      apakah aku boleh mencela sulthan (penguasa/pemimpin)? Beliau berkata : Tidak
      boleh. Lalu aku terus bertanya apakah aku boleh mencela Ahli Ahwa (para
      pengekor hawa nafsu/Ahlul Bidah) ? Beliau menjawab : YA! (boleh).
      Ibnu Abdil Barr telah mengeluarkan dalam At-Tamhiid (XXI/287) dengan
      sanadnya dari Abu Darda ra. bahwa ia berkata, Sesungguhnya awal terjadinya
      kemunafikan pada diri seseorang adalah cacimakiannya terhadap
      pimpinan/pemerintahnya.

      Ibnu Ab Syaibah rahimahullahu taala berkata dalam Al-Mushannaf XV/75 &
      II/137-138 : Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah
      dari Thawus, berkata, Pernah disebutkan (nama-nama) para pemimpin negara
      dihadapan Ibnu Abbas, lalu seseorang sangat bersemangat mencacimaki
      kehormatan mereka. Lalu dia lakukan demikian sambil meninggi-ninggikan
      (badannya), sampai-sampai dirumah itu aku tida melihat orang yang lebih
      tinggi daripadanya. Kemudian aku mendengar Ibnu Abbas ra. berkata,Janganlah
      engkau jadikan dirimu sebagai fitnah (pemicu kekacauan) bagi orang-orang
      yang zhalim. Maka serta merta orang tersebut merendahkan tubuhnya
      sampai-sampai dirumah tersebut aku tida melihat orang yang lebih rendah /
      merendahkan tubuhnya daripadanya.

      D.Tidak Boleh Memberontak Selama Penguasanya Tidak Kafir atau Masih
      Menegakkan atau mengerjakan Shalat.Dari Ummu Salamah r.a. berkata,
      Rasulullah SAW bersabda "Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian
      mengenalnya dan mengingkari (kejelekannya), maka barangsiapa mengingkarinya
      (berarti) dia telah berlepas diri, dan barangsiapa membencinya (berarti) dia
      telah selamat, akan tetapi barangsiapa yang meridhoinya (akan)
      mengikutinya". Mereka para sahabat bertanya : Apakah tidak kita perangi
      (saja) dengan pedang ? Beliau menjawab : "Jangan, selama mereka masih
      menegakkan shalat ditengah-tengah kalian". (HR. Muslim 6/23)

      Dari Said Al-Khudri beliau berkata : Bersabda Rasulullah SAW :"Akan ada
      nanti para penguasa yang kulit-kulit kalian menjadi lembut terhadap mereka
      dan hati-hati pun menjadi tenang kepada mereka. Kemudian akan ada para
      penguasa yang hati-hati (manusia) akan menjadi benci kepada mereka dan
      kulit-kulit pun akan merinding ketakutan terhadap mereka". Kemudian ada
      seorang lelaki bertanya : Wahai Rasulullah, tidakah kita perangi saja mereka
      ? Beliau bersabda : Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat
      ditengah-tengah kalian. (As-Sunna Ibnu Abi Ashim hal. 498)

      Dari Ubadah bin As-Shamit ra., beliau menceritakan, Kami membaiat Rasulullah
      SAW untuk mendengar dan taat (kepada pemerintah muslimin) dalam keadaan kami
      senang atau benci kepadanya, dalam keadaan kesulitan atau kemudahan, dan
      dalam keadaan kami dirugikan olehnya, dan tida boleh kita memberontak kepada
      pemerintah. Kemudian beliau SAW bersabda : "Kecuali kalau kalian melihat
      kekafiran yang nyata dan kalian mempunyai bukti dari Allah pada perbuatan
      pemerintah tersebut". (HR. Bukhari dan Muslim)

      E.Tercelanya melakukan tanzhim rahasia (Gerakan bawah tanah)
      Dari Ibnu Umar ra. Berkata, Seseorang datang kepada Rasulullah SAW lalu
      bertanya : Wahai Rosulullah, berwasiatlah kepada kami. Maka Rasulullah SAW
      bersabda : "Dengarlah, taatlah, wajib bagi kalian dengan (sikap)
      terang-terangan (terbuka), dan hati-hatilah kalian dari (rencana) rahasia".
      (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
      dalam Ad-Dhilal)

      F.Perintah Bagi Mukmin untuk bersabar menghadapi pemimpin yang zhalim
      Dari Anas berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sepeninggalku nanti kalian
      akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed)
      maka bersabarlah sampai kalian menemuiku". (HR. Bukhari dan Muslim) Dari
      Anas bin Malik berkata : Para pembesar kami dari kalangan sahabat Muhammad
      SAW melarang kami. Mereka berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah
      kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada
      mereka dan janganlah kalian membenci mereka, (akan tetapi) bertaqwalah
      kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkaranya (adalah) dekat".
      (Hadits shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
      dalam Ad-Dhilal, hal 474 no. 1015)

      Dari Abdullah bin Abbas ra. bahwa Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa melihat
      sesuatu yang ia benci ada pada pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar,
      karena barangsiapa melepaskan diri dari Al-Jamaah meskipun sejengkal maka ia
      mati dalam keadaan jahiliyyah". (HR. Bukhari dan Muslim)

      Dalam riwayat Muslim, "Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya
      (pemerintah) maka hendaklah ia bersabar. Karena tida adak seorang manusiapun
      yang keluar dari (kekuasaan) penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam
      keadaan demikian( benci, memberontak dll ), melainkan matinya tak lain dalam
      keadaan mati jahiliyyah".

      G.Buah Dari Mengikuti Sunnah
      Dari Abul Yaman Al-Hauzani dari Abu Darda ra. beliau berkata : Hati-hati
      kalian, jangan kalian melaknat para penguasa. Sebab, sesungguhnya melaknat
      mereka adalah kemelut dan kebencian terhadap mereka adalah kemandulan yang
      tidak mendatangkan buah apa-apa. Ada yang menyatakan,Ya Abu Darda, lantas
      bagaimana kami berbuat jika kami melihat apa yang tidak kami sukai ada pada
      mereka ? Beliau menjawab,Bersabarlah! Sesungguhnya Allah bila melihat
      perkara itu ada pada mereka maka Dia akan mencegahnya dari kalian dengan
      kematiannya.(HR. Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (II/488)

      H.Cara Menasehati Penguasa
      Dari Iyadh bin Ghanim berkata : Bersabda Rasulullah SAW "Barangsiapa
      berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya
      dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya
      (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat
      tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia
      telah menunaikan kewajiban atasnya". (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi
      Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
      Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)

      Dari Ubaidillah bin Al-Khiyar berkata : Aku pernah mendatangi Usamah bin
      Zaid, kemudian saya katakan kepadanya : Tidakkah kau nasehati Utsman bin
      Affan agar menegakkan had (hukuman) atas Al-Walid ? Usamah berkata : Apakah
      kau kira aku tidak mau menasehatinya kecuali dihadapanmu ?! Demi Allah, aku
      telah menasehatinya antara aku dan dia saja. Aku tidak mau membuka pintu
      kejelekan kemudian aku menjadi orang pertama yang membukanya. (Atsar shahih
      riwayat Bukhari dan Muslim)

      Demikian tadi di atas telah kita simak beberapa nasehat Rosululloh SAW
      kepada orang munkmin yg sedang menghadapi pemimpin yg dzalim dll tetapi
      tentunya masih senantiasa mengerjakan dan melaksanakan syariat-syariat islam
      yg lainnya seperti sholat, puasa dll. Namun kalau merasa dirinya tidak
      muslim dan mukmin terserah apa yang akan diperbuat ketika menghadapi
      pemimpin yg dzalim. Itupun kalau mereka ( yg meberontak dan melawan
      pemerintahan ) menginginkan keadaan semakin kacau, bukankah dengan apa yang
      dilakukannya menimbulkan kemaksyiatan yg lebih besar ?. Untuk contohnya
      dengan perlawanan GAM/TNA, NII malah memicu kedzaliman dari pemerintah yaitu
      pembunuhan terhadap sesama muslim. dan yang jelas itu GAM/TNA maupun TNI
      sama-sama tidak berpedoman kepada adab-adab perang dll.

      Perhatian...
      Janganlah membantah Ayat-ayat Allah SWT maupun Sunnah-sunnah Rosululloh SAW
      karena dengan membantahnya berarti secara disadari atau tidak dia telah
      keluar dari agama islam yg syammil ini. Adapun jenis bantahan atau ejekan
      telah saya kemukakan lewat artikel kemaren lusa, Istihza' sharih dan
      istihza' ghoiru syarih ( silakan baca lagi )

      Nah setelah kami merujuk dan memahami hadist-hadist tersebut di atas maka
      sangat jelas sekali sikap kami terhadap pemerintahan yang dzalim dll (
      pemerintahan RI ) yaitu sami'na wa atho'na dalam hal kebaikan tetapi kalau
      dlm kemaksyiatan maka terang kami menolaknya.

      Sebenarnya hawa nafsu kami pun menginginkan untuk segera merobah keadaan
      saat ini menjadi keadaan yg lebih baik tentunya dipandang dari Agama Islam
      yaitu dengan cara memerangi pemerintahan, tetapi karena kami merupakan
      orang-orang yg faham akan Al-qur'an dan Al-hadist yg Shohih sehingga
      membatalkan keinginan kami tersebut dan berlaku sabar itulah yg di
      perintahkan Alloh SWT dan Rosululloh SAW. Ingat adapun hadist tentang
      melihat kemungkaran di cegah dengan tangan jelas ini bukan dengan perang
      fisik apalagi terhadap pemimpin yg dzalim jelas tidak boleh memberontak,
      membenci dll.

      Nah setelah kami memahami hadist-hadist di atas maka saya dapat mengatakan
      bahwasanya NII, GAM/TNA sesuai dengan sabdanya Rosululloh SAW yg berbunyi,
      "Barangsiapa membenci sesuatu dari pemimpinnya (pemerintah) maka hendaklah
      ia bersabar. Karena tidak seorang manusiapun yang keluar dari (kekuasaan)
      penguasa meskipun sejengkal lalu dia mati dalam keadaan demikian( benci,
      memberontak dll ), melainkan matinya tak lain dalam keadaan mati jahiliyyah"
      ( HR.Muslim ).

      Jadi biar lebih tegas lagi, orang yang mati ( NII, Anggota GAM/TNA ) dlm
      memperjuangkan nasibnya terhadap pemerintahan yg dzalim maka matinya dalam
      keadaan mati jahiliyah (Na'udzubillahi min dzalik).
      Wallohu'alam bi showab

      NB : Untuk sdr Peace org termasuk Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid'ah Ahmad
      Sudirman cs ingat sabda-sabda Rosululloh SAW di atas. Jelas sekali selama
      ini anda mengingkari Sabda-sabda Rosululloh SAW terutama tentang hadist yg
      saya kemukakan lewat mimbar bebas ini dan yg bertentangan dg nafsu anda
      semua, seperti dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yg sebagian besar berdasar
      logika dan hawa nafsu tanpa menggunakan rujukan dalil-dalil yg shahih.
      Seandainya anda ( sdr Peace org ) hidup dlm jaman Rosul tetapi dlm keadaan
      iman anda seperti ini maka sudah tentu anda cs termasuk Si Ahlul Ahwa dan
      Ahlul Bid'ah Ahmad Sudirman akan banyak bertanya dan membantah apa yg di
      sabdakan Rosululloh SAW karena tidak sesuai dengan nafsu anda cs.

      Bagi orang yang tidak berilmu ( Al-qur'an dan Al-hadist ) janganlah
      coba-coba membantah komentar saya atau kami karena jelas saya mengomentari
      berdasarkan Al-hadist bahkan Al-qur'an sekaligus dan juga berdasrkan
      pendapat ulama generasi terdahulu (dalil aqli). Kalau masih ada yg tetap
      membantah terhadap keterangan-keterangan dalam Al-qur'an dan Al-hadist dan
      tafsiran ulama terdahulu berarti orang tersebut bukan dari golongan
      Rosululloh SAW.

      Wassalaam

      Rokhmawan Agus Santosa

      rokh_mawan@...
      rokh-mawan@...
      solo, jateng, Indonesia
      ----------

      _________________________________________________________________
      Hitta rätt på nätet med MSN Sök http://search.msn.se/
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.