Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fwd: Si Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid’ah Ahmad Sudirman cs, Itu Hasan Tiro dan Antek-anteknya, NII Serta GAM/TNA Melangkahkan Kakinya Berdasarkan Hawa Nafsunya.

Expand Messages
  • husaini daud
    Note: forwarded message attached. BANYAK SEKALI HIKAYAT MUSANG PADA ROHKMA WAN . DEMIKIANLAH SEPAK TERJANG BAL-AM KE LAS TERI DALAM PROSES PENIPUAN KAUM
    Message 1 of 1 , Aug 31, 2004
    • 0 Attachment


      Note: forwarded message attached.
       
      BANYAK SEKALI HIKAYAT MUSANG PADA ROHKMA WAN .    DEMIKIANLAH SEPAK TERJANG BAL-AM KE LAS TERI DALAM PROSES PENIPUAN KAUM DHUAFA DENGAN MEMANFAATKAN HADIST- HADIST PALSU.    UMUMNYA HADIST YANG DIA PAPARKAN BERTENTA NGAN DENGAN AYAT AYAT AL QUR-AN ITU SENDIRI. NAMUN BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN SUDAH BARANG PASTI TAKMUNGKIN  TERTIPU DENGAN HIKA YAT MUSANG TERSEBUT. 
       
      AGAR LEBIH JELAS SIAPAKAH ORANG ORANG MACAM ROHKMAWAN TERSEBUT MARI KITA LIHAT DALAM CUPLIKAN BEBERAPA TAHAPAN HAJI YANG SAYA AM
      BIL DARI TULISAN SAYA SENDIRI:
                                                                                                                                                                                BAL'AM ADALAH ULAMA PALSU DAN PENYAKIT YANG PALING BERBAHAYA BA  GI KAUM DU�FA KHUSUSNYA DAN KEMANUSIAAN UMUMNYA DISELURUH DUNIA.
       
      6. MINA.

      "Guruku telah mengajariku" (Afala ta`qilun? Afala yatazakkarun?). Engkau telah wuquf di Masy'ar satu malam penuh. Sekarang patuhilah aba-aba Matahari! Kendatipun pasukan jihad sekarang berada dalam keadaan standby di pintu gerbang Mina, janganlah engkau buat penyerangan sebelum Matahari menampakkan dirinya di ufuk timur. Namun demikian engkau harus benar-benar dalam keadaan siaga penuh. Kokanglah senjatamu, tapi jangan kau tembak dulu. Dengarlah aba-aba matahari. Matahari apakah itu? Matahari 10 Zulhijjah. Kini engkau benar-benar berada di pintu gerbang Mina, namun disaat engkau hendak menyerang, tiba-tiba dihadang oleh pasukan musuh secara telak. Bendungan raksasa hitam itu membuat pasukan engkau takberdaya.

      Dimedan tempur mana saja di dunia ini, kalah dan menang dipergilirkan. Namun kalau engkau sudah benar-benar siap karena Allah semata-mata, engkau pasti menang. Mana ada bendungan yang tak akan bobol, kalau engkau telah memiliki "kesadaran" Masy'ar. Namun kali ini bendungan yang menghadang engkau benar-benar membuat pasukanmu terhenti total. Bendungan apakah gerangan itu? Bendungan malam yang kelam. Oleh sebab itu tunggulah kekuatan sinar leser yang akan membobolkan bendungan hitam tersebut. "Katakanlah (hai Muhammad), aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam manakala telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang-orang yang dengki, ketika beraksi" (QS.113;1-5). Ayat-ayat tersebut diatas mengingatkan kamu agar berhati-hati di dalam kegelapan, boleh jadi temanmu sendiri terjerat dengan perangkap syaithan. Berwaspadalah kamu dan yakinlah bendungan musuh yang hitam pekat itu akan dibobolkan pasukan matahari.Ya, Matahari-lah yang mampu membobolkan bendungan raksasa hitam itu.

      Sekarang lihatlah bagaimana Matahari 10 Zulhijjah menerobos lembah Mina, bersamaan dengan itu pasukan jihad pun bergerak cepat, secepat sinar matahari menelusuri celah-celah lembah Mina. Serangan pertama telah dimulai, namun apa yang kau saksikan? Aneh sekali. Sebelum engkau mengalahkan musuh, engkau telah merayakan kemenanganmu terlebih dahulu. Siapakah yang mampu memahami realita tersebut? Para rasul, Imam-Imam/Ulama wa rasatul ambia`, Penyeru-Penyeru Kebenaran (Pendakwah Sejati), orang-orang mukmin sejati yaitu orang-orang yang benar Aqidahnya (Orang-orang suci). "Qur-an itu tidak akan disentuh kecuali orang-orang yang suci" (QS.56;79). Ya Allah betapa lugunya sebahagian orang-orang yang membaca tulisanku ini. Mereka tak mampu memahami pe san-pesan-Mu dalam Qur-an, (Afala ta`qilun ? Afala yatazakkarun?), sementara mereka membanggakan diri sebagai kaum Intelektual.

      Pada waktu subuh tanggal 10 Zulhijjah, engkau mendengar alunan suara azan yang dikumandangkan salah seorang yang mewakili pasukan jihadmu, bagaikan menelusuri celah-celah lembah Mina. Sementara pasukan berani mati, secepat kilat mengaturkan saf-safnya. Setelah selesainya shalat subuh, mereka merayakan kemenangannya. "Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. La ilaha illa Allahu wa Allahu akbar. Allahu akbar, wa lil Allahilham" Aidil Adha adalah hari kemenangan. Kemenangan apa? Siapa yang telah engkau kalahkan? Kapan engkau bertempur. Kapan engkau menyerang? "Afala ta`qilun? Afala yatazakkarun?"

      Memangnya engkau belum mengalahkan musuh, engkau juga belum bertempur. Namun apa artinya engkau mengalahkan musuh, apa artinya engkau bertempur kalau engkau tidak memulainya dari Arafah, lalu memasuki laboratorium kesadaran Masy'ar, barulah serangan engkau berarti sekali ketika engkau telah mampu menerobos lembah Mina. Ketika nawaitumu sudah benar (Miqad), lalu engkau bertekat melaksanakan perintah Allah, Tuhanmu telah mencatat kebaikanmu, kemenanganmu.

      Ketika engkau dapat merealisasikan nawaitumu itu dalam aksi, kebaikanmu, kemenanganmu dicatat Allah sekali lagi. "Do you understand?" Karena pasukanmu telah memantapkan niatnya di Miqad, menjabat tangan kanan Allah di rumahNya (Baitullah), berperan sebagai muhajir abadi, tetangga Allah (kuburan Hajar di samping Ka'bah), beraksi sebagai Muslim sejati dari bukit Safa ke bukit Marwa, meraih ilmu pengetahuan yang benar di Arafah (Wuquf di Arafah), memasuki alam kesadaran sebagi pribadi Muslim Sejati (Wuquf di Masy'ar), menggempur musuh di lembah Mina.

      Sebelum engkau menggempur musuh, Allah memerintahkan kamu merayakan hari Kemenangan (hari raya Haji). Kinilah sa'atnya engkau merealisasikan nawaitumu. Siapakah yang akan engkau serang? Apakah engkau sekedar bergurau, melemparkan kerikil tanpa engkau hadirkan niat dan pemahamanmu yang benar? Makhluk model bagaimanakah yang bisa mematikan dengan kerikilmu itu? Bercandakah engkau? Jawabannya, "Tidak".

      Di lembah Mina ada tiga Berhala; 1) Jamaratul `Ula. 2) Jamaratul Wus`a dan yang ke 3) Jamaratul 'Aqaba. Ketiga-tiga bangunan yang berbentuk cicin besar itu, setahun sekali wajahnya dilapisi dengan cat putih. Namun kenapa engkau sebutkan berhala? Guruku telah memberitahukanku bahwa ketiga-tiga bangunan tersebut melambangkan tiga berhala. Berhala pertama sebagai simbolisasi dari Fir'aun, berhala kedua sebagai simbolisasi dari Karun sedangkan berhala yang ketiga sebagai simbolisasi dari Bal'am. Memang tepat sekali kalau kita mau berafala ta`qilun dan berafala yatazakkarun, kecuali Tuhan yang sesungguhnya, Allah, yang lain semuanya menggunakan format Trinitas. Objek yang mereka pertuhankan itu terdiri dari 3 entas. Entas anak, entas bunda dan entas bapa (Kristen). Entas Brahma, entas Wisynu dan entas Syiwa (Hindu). Api Aru mananda, api Mazza dan api...(Majusi).

      Dan sekarang kita lihat lagi dalam realitanya tuhan orang-orang Jahiliah Moderen, yaitu entas Fir'aun, entas Karun dan entas Bal'am (tuhannya orang orang yang bersekongkol dalam System Thaghut Hindunesia). Menurut 'Ali Syari'ati ada 4 tipe manusia yang berbahaya bagi kemanusian, khususnya bagi kaum Dhu'afa, yaitu Fir'aun, Hamman, Karun dan Bal'am. Fir'aun sosok pemimpin/Raja yang dhalim, dalam sepakterjangnya berlagak Tuhan palsu. Hamman arsitek Fir'aun. Karun bendaharawan Fir'aun (Konglomerat-konglomerat atau Kapitalis-kapitalis) sedangkan Bal'am Bloor berlagak sebagai 'Ulama Palsu, sepak terjangnya meninabobok kan rakyat jelata untuk melanggengkan kekuasaan Fir'aun dan untuk itu dia mendapat kan "sedekah".

      Pada kesempatan yang lain Arsitek Ideologi Islam yang mampu meluluh-lantakkan asumsi Barat yang sempat mempesonakan orang-orang Timur ini, juga mengatakan bahwa ada 4 golongan manusia yang rugi di akhirat kelak yang beliau simbolisasikan sebagai; "Anjing, Serigala, Tikus dan Domba". Anjing melambangkan pemimpin yang serakah dan tamak. Serigala melambangkan kakitangan pemimpin yang dhalim, secara bergerombolan menganianya dan membunuh orang-orang yang berani melawan kebijakan pemerintah dhalim ( baca TNI/POLRI). Tikus melambangkan koruptor-koruptor, pencuri berdasi dan berwibawa sekali ditengah-tengah rakyat jelata dan yang terakhir yang membuat kita seperti tak percaya. Domba, bagaimana dia bisa di salah kan? Domba melambangkan kaum Dhu'afa yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah dhalim.

      Masih menurut Ali Syari'ati, bahwa penindas adalah Palu Godam, sedangkan orang-orang yang mau ditindas adalah Lempengan Besi. Pada saat palu godam beraksi yang bersedia menahannya adalah lempengan besi. Andaikata lempengan besi tak bersedia menahannya proses penindasan/penjajahan takan ada existensinya, tak akan pernah terjadi. Makanya penindasan tak pernah terjadi di udara, palu godam akan berputar terus menerus diudara tanpa lempengan besi yang bersedia menahannya.

      Andaikata tak seorangpun dari bangsa Acheh yang memihak kepada sontoloyo-sonto loyo Jawa, sudah dulu Acheh Merdeka. Disitulah di uji mana yang Emas mana yang Tembaga, mana orang-orang yang benar Iman, Ideologinya dan mana orang-orang yang disimbolisasikan dengan domba-domba tadi.

      Wahai pasukan jihad!

      Tembaklah Fir'aun yang mengatakan "Akulah Tuhan" yang mengazab siapa saja yang berani menentangnya. Tembaklah Karun yang mengatakan "Akulah Pemilik Harta", dan menjauhkan kaum dhu'afa dari pembendaharaan Dunia. Tembaklah Bal'am yang mengatakan "Akulah Pemilik Agama", dan meninabobokkan rakyat jelata dengan bisikan "Syurga" dan "Sabar" ketelinga mereka.

      Fir'aun memberi legitimate kepada Karun untuk merampok uang rakyat dengan cara korupsi, manipulasi dan monopoli ekonomi. Sedangkan Bal'am menuhankan Fir'aun, tak akan pernah membantah apa saja kemauan Fir'aun walaupun mendhalimi rakyatnya, bahkan senantiasa siap membela Fir'aun dengan mempelintirkan ayat-ayat Allah mana kala timbul protes dari orang-orang idealis.

      Ketiga simbolisasi itu merupakan trinitas yang saling menguatkan satu sama lainnya. Di lembah Mina engkau hanya menyaksikan 3 berhala, sementara Hamman (arsitek Fir'aun) disatukan dengan Karun (Konglomerat), orang awam bilang begini: "Kong kalingkong tutup mata raba kantong, gara-gara Kong rakyat melarat"

      Fir'aun memerintahkan Hamman untuk membuat sebuah kolam renang, biayanya disuruh ambil pada si Karun. Setelah selesai, wanita dan pria pun asik berenang-renang dengan berpakaian super ketat. Saat orang-orang idealis memperotesnya, Bal'am datang berlagak "Ulama" serta berfatwa: "Allah itu indah dan mencintai keindahan. Yang paling indah di dunia ini adalah perempuan, karena itu biarkanlah mereka itu berenang-renang supaya awet muda".

      Wahai pasukan jihat, kini engkau berhadapan dengan mereka di lembah Mina. Kerah kanlah segenap kekuatanmu untuk meluluh-lantakkan mereka supaya dunia ini benar-benar aman, bukan aman dipasung.

      Justru itu dengarkanlah apa kata Ibrahim, bintang Revolusi yang berhasil meluluh-lantakkan kekuasaan Namrud: "Manakala engkau berhadapan dengan Fir'aun, abaikanlah dia. Manakala berhadapan dengan Karun, biarkan dia, namun begitu engkau berhadapan dengan Bal'am, tembakkan dia. Apakah engkau menembak kakinya? Bukan. Apakah engkau menembak badannya? Juga bukan. Apakah engkau menembak kepalanya? Benar. Tepat sekali tembakan engkau. Tembak lah Bal'am itu di kepalanya atau jantungnya. Untuk memastikan dia benar-bemar roboh, membutuhkan 7 kali tembakan, demikianlah menurut guru-guru yang bijak.

      Aneh sekali memang. Ketika jama'ah Haji melewati pintu gerbang Mina, musuh yang pertama ketemu adalah Fir'aun, lalu disusul oleh Karun, baru kemudian Bal'am yang terakhir sekali.

      Sedangkan serangan pada tanggal 10 Zulhijjah, khusus untuk melumpuhkan kekuatan Bal'am dan membiarkan Fir'aun dan Karun buat sementara. Mengapakah demikian? Allah, Tuhannya kaum dhu'afa menghentakkan pikiran kita untuk ber-afala ta'qilun dan berafala yatazakkarun.

      Sesungguhnya ketiga simbolisasi itu melambangkan tipe orang-orang berbahaya, namun yang paling berbaya adalah "Bal'am". Mengapa demikian? Lazimnya dalam suatu komunitas Islam, ulama memiliki kharisma yang tinggi ditengah-tengah masyarakat awam. Kalau posisi ulama di ambil alih oleh Bal'am dalam suatu negara, dapat dipastikan tak ada orang yang berani melawan setiap fatwa yang dikeluarkan Bal'am.

      Ketika kepala negara/Raja menjalankan roda pemerintahannya dengan sewenang-wenang, mendhalimi kaum dhu'afa, Bal'amlah yang membisikkan kata-kata syurga dan sabar ketelinga rakyat jelata, dengan cara demikianlah Bal`am membuat rakyat jelata terlena, sehingga tak mampu lagi mengkritik kesewenang-wenangan pemerintah (Presiden/Raja) sementara setiap jajaran pegawai pemerintahan, apakah dia seorang Sarjana biasa, Doktor, Propessor tetap saja menuhankan atasan nya, kendatipun mereka mengaku Tuhan itu satu dimulut mereka.

      Andaikata pada suatu hari atasannya mengatakan bahwa sekarang bukan siang tapi malam, bawahannya langsung membenarkan, "Oi ya ya, tadi aku menyaksikan bulan dan bintang.".

      Di Mesjid-Mesjid kebanyakan khatib berani mempelintirkan ayat-ayat Allah, demi menjaga kewibawaan Pemerintah. Masyarakat di arahkan untuk berdoa saja dalam menghadapi setiap bentuk kedhaliman. Hadist palsu seperti: "Doa adalah senjata orang Mukmin" dipopulerkan di tengah-tengah komunitas kaum Muslimin. Kendatipun kedhaliman sudah mencapai klimaknya, tetap saja tidak boleh dilawan sebab kepala pemerintahan/Raja masih melakukan sembahhyang, karena itu kita diarahkan untuk melakukan "Do`a Tolakbala" dengan memperagakan telapak tangan dalam keadaan Telungkup kebawah dan selesailah perkara mencegah kemungkaran demikian arahan Bal'am. Masya Allah.

      Sesungguhnya Bal'am itu merupakan penyakit yang paling berbahaya bagi kemanusiaan. Bahaya penyakit inilah yang di indikasikan dalam Qur'an Surah terakhir (An-Naas ; 1-6). Bahaya dalam surah Al-Falaq akan berakhir setelah mendapat serangan sinar Matahari, namun bahaya dalam surah An-Naas tak akan pernah berakhir.

      Justru itulah pada akhir dari pertunjukan akbar ini (baca Haji), dianjurkan untuk membahas hakikat dari Qur'an surah An-Naas dalam konferensi Internasional paska Haji di Lembah Mina, di alam terbuka. Namun sayang sekali, konferensi seperti itu tak akan pernah terjadi mana kala Pertunjukan Akbar ini masih dikuasai oleh Pemimpin Thaghut.

      Bagaimana mungkin exisnya suatu Konferensi, sementara didalamnya dibahas strategi-strategi yang harus ditempuh oleh setiap jamaah Haji dalam meraih keberhasilannya sebagai Arsitek Revolusi, minimal bergabung dengan saudara-saudara mereka yang sedang ber Revolusi di negara asalnya masing-masing, sementara pengelola pertunjukan Haji sendiri adalah berhala yang engkau serang di Lembah Mina.

      Wahai pasukan jihad!

      Kendatipun engkau telah berhasil merobohkan Bal'am, namun engkau tidak boleh lengah walau sedikitpun. Betapa sering dalam sejarah, suatu revolusi memakan anak-anaknya sendiri, mengalami dekaden kembali hanya setelah satu generasi berlalu. Kuman-kuman yang telah lama terpendam dibawah tanah, akan muncul kembali kepermukaan.

      Kaum reaksioner yang pernah mengaku sebagai sahabatmu sendiri muncul secara serentak untuk bereaksi. Engkau telah melumpuhkannya dalam Perang Badar namun muncul kembali dalam Perang Siffain. Engkau telah memusnahkan nya di mesjid-mesjid Dhirar, namun dia muncul kembali di mesjid Kofah. Engkau telah merasa aman dan lega setelah menguasai Madinah, Mekkah bahkan seluruh jazirah Arabia, Namun pada generasi yang kedua Islam mendapat pukulan yang paling telak di Karbala.

      Musuh yang sepertinya tak pernah lenyap di permukaan bumi ini di indikasikan Allah dalam surah terakhir dari Al-Qur'an al-Karim, dan disimbolisasikan di lembah Mina sebagai Bal'am (jamarah terakhir), justru itulah di khususkan menyerang kekuatan tersebut pada tanggal 10 Zulhijjah, 7 kali tembakan. Pada tanggal 11 Zulhijjah, barulah engkau diperintahkan untuk menggempur secara keseluruhan. Tembaklah Fir'aun 7x, Karun 7x dan lagi-lagi Bal'am 7x. Sudah berapa pelurukah kau habiskan? 7x4 = 28 peluru. Serangan dilanjutkan pada tanggal 12 Zulhijjah. Tembak Fir'aun 7x, Karun 7x, Bal'am 7x. Pada tanggal 13 Zulhijjah gempur lagi, tembak Fir'aun 7x, Karun 7x dan Bal'am pun masih perlu kau tembak 7x lagi. Sudah berapa pelurukah engkau habiskan? 28 + 7 x 6 = 28 + 42 = 70 peluru. Engkau masih memiliki sisanya 7 peluru lagi. Selesai sudah pertempuranmu. Jika engkau sudah berkorban dan ingin kembali ke negeri asalmu, kuburkanlah senjatamu bersama sisa peluru di Mina. Namun jika engkau memilih untuk tinggal di Mina, ulangilah seranganmu pada hari-hari berikutnya dengan sisa peluru yang masih engkau miliki. Sebab, Mina adalah medan pertempuran, jika engkau masih berada di sana engkau senantiasa harus bertempur.

      7.Pengorbanan

      "Guruku telah mengajariku" (Afala ta'qilun? Afala yatazakkarun?). Pada tahap ke 7 atau tahap terakhir dari pertunjukan ini, engkau kembali berperan sebagai Ibrahim, Teladan, Model, Standarisasi, Representant atau Wakil Tuhan di atas permukaan bumi. Sanggupkah engkau mengambil posisinya?

      Ibrahim berhasil menempatkan dirinya sebagai 'Pemberontak' 1) terhadap tatanan Namrud. Ibrahim adalah mata rantai utusan Allah. Dia tidak hanya sebatas memahami dan menyadari namun dia juga beraksi, merealisasikan dalam kehidupannya. Meluluhlantakkan tatanan Namrud. Mengucapkan selamat tinggal kepada orang tuanya, Azar, arsitek Tuhan palsu. Lalu dengan penuh kesadaran (Masy`arulharam) memasuki api Namrud. Untuk apa? Supaya api itu padam, sehingga tak ada lagi kaum dhu`afa yang terbakar. Arsitek Revolusi sama halnya dengan bermain api. Artinya siapapun yang berani melawan Raja dhalim, resikonya sudah barang pasti, dibakar, dianianya dengan sadis dan dibunuh dengan kejam sekali.

      Kini Ibrahim berada di lembah Mina sedang Berhadapan dengan dua alternatif yang sangat menentukan masa depannya, tetap menjadi seorang ayah atau seorang Rasul Allah dengan resiko kehilangan buah hatinya Isma'il. Persoalannya sekarang Ibrahim sangat mencintai Isma'il.

      Bayangkan umur Ibrahim sudah demikian lanjut, rambut sudah memutih di kepalanya yang boleh jadi akibat menunggu saat yang begitu lama untuk memiliki seorang pelanjut risalahnya.

      Bayangkan bagaimana perasaan seorang lelaki yang telah berhasil dalam perjuangan, namun tidak memiliki buah hati tempat ia mencurahkan kasih sayangnya. Saat-saat kerinduan permata hati mencapai klimaknya, Hajarpun muncul mendampinginya. Tak lama kemudian Ismail dilahirkan.

      Betapa leganya hati ini. Ismail tumbuh sehat, cerdas dan tampan, terjawab sudah keluhan ayahnya yang berbilang tahun. Namun sayang seribu kali sayang, ketika Ismail sudah pandai berbicara, tiba-tiba datang seruan di dalam mimpinya, " Ibrahim! Ambillah sebuah pisau yang tajam, lalu goroklah leher anakmu, Isma'il ". Ibrahim terbangun dari tidurnya. Bagaikan petir di siang bolong rasanya bagi Ibrahim. Lalu dia berfikir dan berfikir. Apakah mimpinya itu benar datangnya dari Allah? Mungkinkah Allah menyuruhku memotong leher Isma'il? Perintah itu sepertinya tegas sekali, tetapi perkara memotong leher anakku sendiri. Haruskah perintah ini kulaksanakan? Namun itu hanyalah sebuah mimpi. Ibrahim menunda pelaksanaan tugas beratnya itu.

      Malam ke dua, suara itu datang lagi dan lebih jelas dari malam pertama. " Ibrahim! Ambillah sebuah pisau yang tajam dan goroklah leher anakmu, Isma'il dengan tanganmu sendiri ". Ibrahim terbangun lagi, langsung berfikir dan berfikir. Mungkinkah suara itu datangnya dari Allah? Mungkinkah Allah menyuruhku untuk menyembelih anakku sendiri ? Ibrahim untuk kedua kalinya berkesimpulan bahwa Allah sayang padaku, tak mungkin buah hatiku yang begitu lama kurindukannya, namun setelah kumilikinya tiba-tiba disuruh korban, sepertinya tidak mungkin. Itu hanyalah sebuah mimpi. 2)

      Pada malam yang ke tiga, Ibrahim bermimpi lagi. Kali ini lebih terang dan lebih jelas dan lebih tegas dari mimpi-mimpi malam sebelumnya. "Ibrahim, Akulah Tuhanmu. Ambillah sebuah pisau yang tajam dan goroklah leher anakmu, Isma'il dengan tanganmu sendiri!" Ibrahim terbangun lagi dan langsung saja berfikir dan berfikir. Kenapa Isma'il yang masih muda yang harus mati, kan lebih baik kalau aku sendiri yang harus mati. Hancur luluh perasaannya. Ismail buah hatinya telah ditunggu sampai memutih rambutnya di kepala. Namun dengan tiba-tiba saja Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Ibrahim kini dihadapkan pada dua alternatif. Apakah dia ingin tetap jadi sang ayah dengan mengabaikan perintah Allah, ataupun tetap taat kepada Allah sebagai seorang Rasul dengan resiko kehilangan anaknya sendiri, Ismail. Bayangkan andaikata engkau sebagai Ibrahim, mampukah mentaati Allah?

      Ibrahim adalah Ibrahim. Dia adalah seorang teladan, wakil Allah. Dia telah mengalami pahit getirnya perjuangan menegakkan system Allah. Dia berhasil dalam segala cobaan Allah. Semua bendungan berhasil di bobolkan. Namun kali ini tak terbayangkan sama sekali di dalam sanubarinya.

      Isma'il adalah Isma'il. Engkau menjadi "Simbolisasi" ujian bagi setiap manusia. Siapapun di dunia ini pasti memiliki "Isma'il". Soal jaka ditanyai orang kita (pakai istilah klasik) siapakah Ismailmu? Mana kutau Isma'ilmu. Engkau sendirilah yang tau siapa Isma'ilmu. Yang kutau hanya Isma'ilku sendiri. Apakah Isma'ilmu itu? Isma'ilku apa saja yang membuat langkahku terhalang untuk beresensi. Isma'il bagi Ibrahim adalah anaknya sendiri. Mulus tidaknya jalan Ibrahim menuju Allah sekarang tergantung sangat pada kesiapan nya menggorok leher Ismail. Karena kasih sayangnya yang teramat sangat kepada buah hatinya sekarang, membuat dia menunda untuk melaksanakan perintah Allah pada hari pertama dan kedua. Sekarang hari ke tiga, Ibrahim berdiri tegak di Mina bersama anak nya Isma'il, untuk berdialog yang nampaknya sangat harmonis namun hasilnya sangat mencekam. Membicarakan soal potong-memotong. Tak akan pernah terjadi dialog semacam ini sepanjang umur Dunia.

      Sekarang giliran engkau untuk mengenali siapa Isma'ilmu itu. Tahukah engkau, siapa Isma'ilmu? Ismailmu itu boleh jadi "Pegawai Negeri" dalam system thaghut. Sanggupkah engkau menggorok lehernya? Bagaimana caranya? Tidak pakai pisau. Lihatlah bagaimana Tamlika, Miksamlina, Miksmilina, Maghdalena,....., ....dan seorang tukang kebun, menggorok leher Isma'ilnya. Padahal betapa hebatnya Isma'il mereka, gemerlap, fantastis bagaikan fasilitas Syurgawi. Isma'il mereka adalah Mentri, dalam system thaghut, Diklianus. Mereka sanggup meninggalkan gemerlapnya Istana demi mencari redha Allah. Sesungguhnya mereka keluar dari neraka menuju Syurga, yaitu dari bahtera Thaghut menuju bahtera Allah.

      Taukah kamu siapa Isma'ilmu sekarang? Isma'ilmu sangat berfariasi satu sama lainnya. Boleh jadi Isma'ilmu itu kekasihmu sendiri yang harus kau gorok lehernya dengan cara memutuskan tali cintanya, sebab kekasihmu itu akan membawamu ke neraka. (QS.2; 221) Memang dia tampan, uang pun banyak, direktur BANK, ataupun kekasihmu itu boleh jadi seorang jendral yang kerjanya sehari-hari memimpin angkatan bersenjata untuk menganianya, membunuh rakyat jelata di daerah jajahan Tuannya, seperti yang dilakukan sontoloyo-sontoloyo Jawa di Acheh, kalau jenis seperti ini kekasihmu, goroklah lehernya dengan pisau yang tajam, jika perlu pakai saja Aka 47. Tahukah kamu siapakah Isma'ilmu? Setiap orang pasti memiliki Isma'ilnya. Namun yang harus engkau garis bawahi, Isma'ilmu tak pernah sama dengan Isma'ilnya Ibrahim. Perhatikanlah dengan seksama apa yang kudiskusikan dalam alinia berikut ini.

      Ibrahim yang sedang berdiri tegak di Mina, untuk mengambil suatu keputusan yang sangat menentukan. Andaikata engkau sebagai Ibrahim, bagaimana perasaanmu jika engkau diperintahkan untuk menggorok leher anakmu sendiri. Sanggupkah? Demikianlah perasaan Ibrahim, sementara satu-satunya anak tercinta adalah Isma'il. Ibrahim hancur luluh perasaannya, seolah-olah terasa sampai ke tulang sum-sumnya yang sepertinya takmampu untuk berdiri di depan anaknya. Namun Ibrahim adalah Ibrahim, wakil Tuhan yang mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya. Perintah itupun disam paikan kepada anaknya, Isma'il.

      Lalu terjadilah suatu dialog yang belum pernah terjadi di permukaan planet Bumi ini. Ibrahim memulainya dengan suatu kalimat yang diucapkan nya dengan cepat sekali, sebab dia sendiri tak mampu mendengar kalimat seperti itu; " Ismail, anakku. Bagaimana pendapatmu, kalau Allah memerintahkanku untuk menggorok lehermu?" Ismail menjawab; "Laksanakanlah wahai ayahku jika memang itu perintah Allah, engkau akan menyaksikanku dalam keadaan sabar"

      Oh. Betapa sang ayah dan anak, sama-sama mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya. Ibrahim langsung mengambil pisau yang tajam. Ismail di rebahkan, dicambak rambutnya, didongakkan kepalanya agar nampak urat lehernya. Pisau ditancapkan keleher Ismail. Ismail meronta, mengaduh. Ibrahim bagaikan singa lapar meloncat ke atas. Pisau terlepas dari tangannya, jatuh ke atas batu sampai terbelah dua, namun leher Ismail tak terusik sedikitpun. Ibrahim mengambil kembali pisau tersebut, namun ketika ia mendekati Ismail, terdengarlah suara dari langit, bersamaan dengan munculnya seekor Kibas (kambing besar); "Wahai Ibrahim bek bagaih-bagaih, nyoepat na kibaih tasie le gata" (Hai Ibrahim bersabarlah, inilah Kibas yang patut engkau sembelih). Ibrahim langsung memeluk anaknya, Ismail.

      Ternyata Allah tidak haus darah. Perintah itu semata-mata ujiannya untuk Ibrahim dan anaknya Ismail untuk membuktikan sampai dimana kepatuhan mereka terhadap Allah. Karena Ibrahim dan Ismail mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya, Allah tak akan menyia-nyiakan mereka. Pisaupun tunduk patuh kepada Allah, dan Ibrahimpun tak kehilangan Ismailnya. Ismail diselamatkan Allah dari ketajaman pisau dan Ibrahimpun telah diselamatkan Allah dari api Namrud.

      Pelajaran apakah yang dapat engkau raih di dalam persoalan seperti ini? Jika engkau mampu menempatkan perintah Allah diatas segala-galanya, engkau pasti beruntung. Sayangnya kebanyakan manusia tak mampu berpikir seperti itu. Mereka cenderung melihat secara realita bukan hakikat. Mereka hanya mampu berfikir sebatas Syar'i, namun tak mampu berfikir secara filosofis. Justru itu membuat keadaan mereka seperti yang di nyatakan Allah dalam Kitab Nya (QS. 2 ; 216).

      Pengorbanan yang dilakukan Ibrahim itu terhadap anaknya sendiri, diganti Allah dengan seekor Kibas, dan inilah yang menjadi simbolisasi bagi jamaah Haji secara Syar'i. Secara Filosofis, Isma'illah yang menjadi simbolisasi bagi Muslim Sejati untuk di gorok lehernya, sebagaimana yang telah dilaksanakan Muslim Idealis, Thamlika, Miksamlina, Miksmilina dan sahabat-sahabatnya, yang mampu meninggalkan gemerlapnya Istana demi mencari redha Allah.

      Kisah mereka ini diabadikan Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi (QS. 18 ; 9 - 26). Secara filosofis, jika binatang-binatang di medan pengorbanan itu, dagingnya tidak dimakan oleh orang-orang fakir dan orang-orang miskin, sama halnya engkau mempersembahkan Ismailmu ke hadapan Thaghut bukan ke hadapan Allah.

      Betapa banyaknya daging korban itu setiap tahun, jika tidak dikalengkan pedagang-pedagang untuk di perdagangkan buat mereka sendiri, namun di distribusikan kepda orang-orang miskin seperti di Afrika, kita tak bakal menyaksikan lagi saudara saudara kita yang tubuhnya terdiri dari tulang-tulang yang terbungkus dengan kulit dan dikerumuni lalat-lalat hijau.

      Namun kenapa juga yang kita saksikan kehinaan saudara-saudara kita tetap lestari sampai hari ini? Apakah tujuannya engkau berkumpul di arena ini? Apakah tujuanmu sekedar mencari titel? Engkau kan tau, Islam itu bersaudara bukan lewat darah, tetapi lewat Iman, Aqidah, Idiologi. Benar sekali pernyata Tungku Darwis Jiniep, bahwa bangsa Acheh takperlu naik haji buat sementara, sedangkan dananya dialihkan untuk perjuangan Kemerdekaan Bangsa Acheh. Namun sayangnya masih ada orang Acheh yang belum mampu memahami pernyataan Darwis. Hal ini disebabkan mereka itu belum memahami Islam secara Idiologi. Mereka berpendapat bahwa manakala seseorang sudah menunaikan kewajiban haji berarti sudah diampuni segala dosa (bagaikan kertas putih). Memang benar, itu adalah hadis Rasul. Yang menjadi persoalan disini, mereka belum memahami akan syarat-syaratnya untuk menjadi kertas putih.

      Penutup

      Enkau telah selesai menunaikan Ibadah haji. Kini engkau dibolehkan kembali ke tempat asalmu masing-masing. Namun dianjurkan sangat sebelum itu agar engkau mengikuti suatu Konferensi Akbar di Mina. Koferensi ini tidak pernah sama dengan konferensi apapun di dunia ini yang barangkali pernah engkau ikuti. Konferensi ini diadakan di alam terbuka bukan di hotel-hotel.

      Sebab konferensi kali ini untuk membicarakan nasib kaum Dhuafa. Dalam konferensi tersebut masing-masing mengungkapkan keadaan dimana kaum dhuafa memiliki kemungkinan untuk berhasil lebih dahulu, di focuskan kekuatan dan untuk selanjutnya tergantung pada kekuatan dalam terlebih dahulu. Pada prinsipnya, jika di negerimu belum ada arsitek Revolusi, engkau sendiri yang harus tampil secara sendirian ataupun secara kolektif. Jika kekuatan musuh terlalu kuat, pada tahap awal engkau harus bergerak dibawah tanah. Hal ini relatif sama dengan priode Mekkah. Dalam konferensi itu, sangat penting dibahas secara konprehensif tentang prinsip dan definisi dari Idiologi Islam, Islam sejati, Islam bersaudara,, Islam Fundamentalis, Islam Habil, Islam Kaffah, Pendidikan Islam secara kaffah, Kedaulatan Allah, Wakil Tuhan (Khalifah), Wahyu dan Hikmah, Islam tidak punya batas Tori-torial, Ummah dan Imamah, Komu nitas Islam, Kepemimpinan Rasul, Kaum Dhu`afa, dan lain-lain yang kesemuanya ter patri dalam Esensi Haji. Justru itu sebelum naik haji pahami dulu apa saja yang terlibat didalamnya.

      Penting untuk anda ketahui, bahwa Konferensi semacam ini tak akan pernah terjadi, tak akan pernah exis selama pengelola haji di kendalikan oleh manusia-manusia Qabil. Mereka ini takmampu memahami wilayah Idiologi, namun asik membicarakan tentang kebudayaan, kendatipun kebudayaan itu sudah mengalami dekaden.

      Dunia ini telah dirusak oleh manusia-manusia qabil. Setelah Utusan Allah yang terakhir merobah dunia ini dari WC kepada Mesjid, (dari Jahiliah kepada Islamiah), manusia-manusia Qabil telah merobah kembali menjadi WC (Jahiliah moderen), sepeninggal Rasulullah dan Penerusnya. Dunia yang kau saksikan sekarang ini adalah WC. Tidak ngerikah engkau tinggal di WC?

      Sekarang terserah engkau dalam memandang Dunia. Jika engkau termasuk manusia Habil, pandanganmu terhadap dunia ini sekarang adalah Jahiliah Moderen (WC), maka tugas engkaulah bersama Habil-habil lainnya untuk merobahnya menjadi Islamiah (Mesjid). Namun jika engkau adalah manusia Qabil, selesailah perjuanganmu, tinggal lagi membuat Mesjid seindah-indahnya, meratakan dahi dengan tikar Mushalla bersama-sama Firaun, Karun dan Bal`ambloor, memperbanyak zikir, tahlil dan samadiah, memasyarakatkan Musabaqah, lagu meureudu, Panteraja, Samalanga, menghafal Qur'an agar banyak dapat pahala, sementara Kaum Dhu`afa menjadi bulan-bulanan dari persekongkolan Fir'aun, Karun dan Bal'am. Tak perlu risau dan khawatir orang mukmin punya senjata, Do'a.

      Bagaimana caranya Tuan Bal'am? Telungkupkan saja telapak tangan kalian kebawah sambil membaca Mentra-mentra, sebagai Do'a Tolak Bala. Selesai sudah perkara penganiayaan, pembunuhan dan pembantaian kaum Dhu`afa seperti yang terjadi di Acheh dan di seluruh pelosok dunia lainnya.

      Ingatlah saudaraku! Al-Qur'an sebagai Pedoman Hidup dalam berumah tangga, berma syarakat dan bernegara dipelintirkan oleh manusia-manusia Qabil, menjadi sekedar pe nyejuk hati bagi pembaca dan pendengar, lewat lantunan suara yang merdu, selebihnya digunakan dalam versi seni kaligrafi, sebagai alat sumpah jabatan dalam pengangkatan pemimpin-pemimpin ala Qabil dalam system Thaghut dan juga untuk mengambil berkah pada setiap pembukaan upacara ritual, seremonial-seremonial dan pidato-pidato ritual.

      Ingatlah saudaraku! Al-Qur'an dimulai dengan nama Allah (surah Al-fatihah) dan diakhiri dengan An-Nas (surah An-Nas). Al-Qur'an berakhir, namun bahaya tidak pernah bera khir. Justru itulah Rasulullah diperintahkan Allah untuk berlindung pada Nya dari keja hatan tersebut (bal'am). Surah terakhir itu mutlak untuk dibahas dalam konferensi di Mina, agar Revolusi tidak mengalami kegagalan.

      "Katakanlah (hai Muhammad)! Aku berlindung dengan Tuhan manusia, Raja manusia, Kekasih manusia, dari kejahatan bisikan syaithan yang tersembunyi, yang membisikkan kejahatan kedalam dada manusia, dari Jin dan Manusia. (QS. 114 ; 1 - 6)

      Tahukah engkau apakah "Khannas" itu? Menurut kamus, khannas itu adalah makhluk Misterius, dia senantiasa bergerak di bawah tanah selagi kekuatanmu masih exis. Namun jika Fir'aun yang berkuasa dia senantiasa membisikkan kata-kata Syurga ke telingamu, agar kamu terbuai untuk tidak memprotes kedhaliman penguasa.

      Hati-hatilah, boleh jadi sahabatmu sendiri terperangkap ide Khannas lalu menjadi Khannas. Siapakah yang berperan sebagai Khannas? Khannas itu minal Jinnati wan Nas. Itulah berhala yang engkau gempur khusus pada tanggal 10 Zulhijjah di lembah Mina. Untuk melumpuhkan nya dibutuhkan 7 kali tembakan dan ditambah lagi pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah dalam serangan total, masing-masing 7 kali tembakan. Berapa pelurukah engkau habis kan untuk melumpuhkan "Khannas?" 7 + 7 x 3 = 7 + 21 = 28 peluru. Demikian hebatkah kekuatan Bal'am? Benar sekali.

      Disanalah terfokus kekuatan Fir'aun dan Karun. Jika Bal'am sudah dipahami rakyat, tumbanglah system Thaghut. Justru Bal'amlah yang membuat rakyat jelata terlena dalam hidupnya. Sampai kapan? Sampai munculnya "Nabi Musa dan Harun" . Siapakah mereka itu? Insya Allah engkau sendiri setelah engkau pahami Esensi Haji.

      Billahi fi sabililhaq

      Husaini Daud Sp

      husaini54daud@...
      Sandnes, Norway.
      ----------

      1).Orang-orang yang mengaku diri sebagai Muslim di abad ke 21 ini merasa sangat grogi ketika mendengar kata 'Pemberontak'. Mereka sepertinya takmampu berfikir, sesungguhnya semua Rasul/Utusan Allah adalah pemberontak terhadap tatanan yang Bathil/sistem Thaghut, kecuali Adam satu-satunya yang memberontak terhadap kemewahan dan kesenangan yang tidak produktif, demi Kemanusiaan. Yang sesungguhnya pemberontakan yang dicetuskan Adam, telah duluan di disain oleh Allah Sendiri. Bukankah Allah lebih duluan memberitahukan pada para Malaikat bahwa Dia akan menjadikan seorang wakilNya (baca Khalifah) di bumi? Bukan di Syurga. Ketika Allah menempatkan Adam dan permaisurinya Hawa di Syurga, Allah juga memberitahukan Adam batas toritorial daerah operasinya di wilayah Syurga. 'Wala taqrabu hazihisy Syajarata" Ketika Adam dan Hawa sadar bahwa mereka tidak produktif di alam Syurgawi dan juga tidak punya tanggung jawab apapun kecuali menikmati fasilitas yang serba komplek, gemerlap dan fantastis, mereka bertekat untuk melanggar batas tori-torial yang telah diperkenalkan pada mereka berdua, dengan jalan memakan buah ke`arifan (hazihisy Syajarata) Lalu apa yang terjadi? Terbukalah tabir yang menutupi aurat mereka, lalu keduanya konon menutupi dengan dedaunan dari Syurga. Seketika itu juga mereka diturunkan ke bumi dimana Adam di angkat sebagai wakilNya setelah Allah menerima taubatnya. Di satu sisi memang Adam rugi tidak bisa lagi menikmati fasilitas Syurga. Namun disisi yang lain dia beruntung, disamping bisa Produktif yang untuk itu sesungguhnya dia diangkat sebagai wakilNya juga memiliki ke'arifan dan wawasan untuk hidup di dunia yang bebas berbuat dan berfikir bebas dengan segala resikonya., sementara di Syurga terikat dengan kostitusinya. Dengan memakan buah "Ke'arifan", merupakan suatu indikasi pengorbanan luar biasa Adam demi exisnya Manusia. Artinya andaikata mereka tidak bersedia memakan buah ke'arifan, sampai hari ini tak ada seorang pun manusia yang lain kecuali hanya Malaikat Adam dan Hawa. Secara syar'i memang Adam digoda Syaithan, namun tipu daya Syaithan ini semata - mata disebabkan irihatinya kepada Adam yang dapat menikmati fasilitas Syurga. Secara filosofis Adam tau persis resiko dari makan buah tersebut. Sebagai seorang Rasul/Utusan Allah di bumi, melanggar batas tori-torial Syurga memangnya pengorbanan besar manusia pertama, demi kemanusiaan dan satunya jalan buat Adam untuk menjadi wakil Tuhan di bumi. Dengan kata lain, pengorbanan Adam adalah fisabilinnas yang berarti juga fisabilillah. Sampai disini mencapai klimaknya tekhnik berfikir sesuai dengan firmanNya, "Afala ta'qilun dan Afala yatazakkarun?" Tak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia termasuk Syaithan.

      2).Pada saat seseorang berada dalam keraguan, syaithanpun muncul menawarkan alternatif yang seolah-olah menguntungkan dan dibenarkan Allah. Betapa sering kita mendapatkan tawaran alternatif yang lain, saat kita mulai meragukan sesuatu keputusan yang sudah pernah kita yakini, namun kita masuk perangkap syaithan. Umpamakan saja kita sudah mendapat penjelasan yang tepat dari seseorang yang meyakinkan bahwa kita tidak boleh bekerja dalam sistem Thaghut, kendatipun kita alim betul, tempat kita terakhir kelak pasti neraka, kita berada dalam sebuah bahtera yang nakodanya/pemimpinya mengarahkan kita secara pelan tapi pasti menuju neraka. Namun disaat seorang teman yang lain berkunjung ke rumah kita, muncul keraguan yang dimotivasi oleh enaknya jadi pegawai negeri. Lalu persoalan muncul di benak kita. Ah, baiknya kutanyakan pada temanku yang satu ini, barangkali ada jalan keluarnya, isterikupun sepertinya tak setuju aku berhenti dari pegawai negeri Persoalan yang harus dilihat dari kacamata Idiologi, ditanyakan pada temannya yang berpikiran Pragmatis dan bahkan materialis seperti sontoloyo-sontoloyo Jawa. Hanya saja kawan yang satu ini sering mendapat kesempatan untuk berkhutbah yang tak pernah menyentuh kesalahan pemerintah, malah jadi pembela dengan mempelintirkan ayat-ayat Allah.

      Billahi fi sabililhaq

      Husaini Daud Sp

      husaini54daud@...

      Sandnes, Norwegia



      Do you Yahoo!?
      Win 1 of 4,000 free domain names from Yahoo! Enter now.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.