Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: «PPDi» Fwd: RE: [acehkita] Wtw Kompas: Isu Aceh Konflik Etnis

Expand Messages
  • akli amri
    Rupajih ie kayat musang jameun kadeuh lom Muzakkir Abdul Hamid wrote: Note: forwarded message attached. ... ALL-NEW Yahoo! Messenger -
    Message 1 of 2 , Aug 5, 2004
    • 0 Attachment
      Rupajih ie kayat musang jameun kadeuh lom


      Muzakkir Abdul Hamid <lampohawe@...> wrote:


      Note: forwarded message attached.


      ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!

      ----------------------------------------------------------------------
                             TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
      ----------------------------------------------------------------------
      Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

      -untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@...

      **************************************************************
      -Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
      **************************************************************
      FOR THE LATEST NEWS link to us: http://ppdi.cjb.net/
                                http://groups.yahoo.com/group/PPDI/messages





      > ATTACHMENT part 2 message/rfc822
      Date: Thu, 5 Aug 2004 19:05:36 +0100 (BST)
      From: Muzakkir Abdul Hamid
      Subject: RE: [acehkita] Wtw Kompas: Isu Aceh Konflik Etnis
      To: acehkita@yahoogroups.com
      CC: lampohawe@...

      BADAN PARLEMEN URUSAN HAK MANUSIA

      [PARLAMENTARY HUMAN RIGHTS GROUP]

      A T J E H

      �KELAHIRAN KEMERDEKAAN BARU �

       

       

      "Sesungguhnya kita berada disini hari ini untuk menyerahkan diri kita buat menyelesaikan satu kewajiban besar yang masih belum selesai dihadapan kita-peninggalan daripada pahlawan2 yang sudah,berpulang karena mengorbankan jiwa mereka kepada perjuangan suci ini. Kita mengambil teladan dari mereka itu dengan mengambil keputusan tidak akan memberikan mereka telah mati dengan sia-sia, dengan memberikan kesetiaan sepenuh-penuhnya kepada perjuangan yang kepadanya mereka sudah memberikan jiwanya supaya bangsa ini, dibawah Tuhan, akan memperoleh kelahiran kemerdekaan baru..."

       

      Abraham Lincoln Pidato Gettysburg

       

      1 Mei, 1992

       

       

      SATU MEMORANDUM

      KEPADA : BADAN PARLEMEN URUSAN
      HAK MANUSIA

      HOUSE OF LORDS
      ISTANA WESTMINSTER
      LONDON

      DARI PADA : TENGKU HASAN M . d i T I RO
      PRESIDEN
      ANGKATAN ATJEH/SUMATERA
      MERDEKA

      PERIHAL : HAK ATJEH/SUMATERA UNTUK
      TETAP MERDEKA

      TANGGAL : 2 3 APR I L , 1992 .

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      2

      ACHEH/SUMATRA
      NATIONAL LIBERATION FRONT
      P.O.BOX 130, S-145 01 NORSBORG, SWEDEN
      TELEPHONE: 0753-86674
      TELEFAX: 0753-91275

      Surat Pengantar

      Yang Mulia,

      Saya mendapat kehormatan atas kesempatan untuk menyampaikan Memorandum ini kepada Majlis Parliamentary Human Rights Group dari Parlemen Inggeris melalui Yang Mulia.

      Saya merasa bahwa adalah suatu kebetulan yang menyenangkan sekali bagi saya bahwa bukan saja Yang Mulia adalah seorang Ketua Majlis Badan Parlemen Urusan Hak Manusia yang istimewa sekali, tetapi juga sebab Memorandum in! adalah sambungan yang tumbuh dari pada Memorandum saya yang terdahulu kepada Yang Mulia sendiri. Sebenarnya hasil dari pada pertukaran fikiran yang terus-menerus antara kita lah Yang telah melahirkan Memorandum ini.

      Ini adalah satu usaha untuk mengetengahkan perkara Hak Atjeh Untuk Tetap Merdeka dengan cara yang seringkas-ringkasnya, dengan mengenyampingkan perkara2 lain yang kurang penting untuk di bicarakan diwaktu yang lain. Tetapi ada juga bahayanya dengan memilih jalan in!, yaitu Memorandum pendek ini mungkin menimbulkan pertanyaan Yang lebih banyak dari pada yang dapat dijawab disini oleh sebab banyaknya kenyataan2 sejarah dan hukum yang tidak ada tempat untuk dibahas disini.

      Walaupun demikian, Memorandum ini, biarpun pendek karena memang sengaja dibuat demikian, adalah berdasarkan atas penyelidikan yang mendalam dan sempurna atas lebih 500 bahan2 dokumen sejarah dan hukum mengenai Negeri Atjeh, dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Atjeh, Belanda, Inggeris, Perantjis, Arab, Portugis dan Spanyol. Disini termasuk suatt-menyurat diplomatik (diplomatic correspondence), perjanjian antara negara (treaties), dan cartography.

      Sangatlah diharapkan Memorandum ini akan membuka jalan bagi pengakuan oleh Kerajaan Inggeris kepada Negara Atjeh sebagai negara-sambungan dari pada Kerajaan Atjeh dalam sejarah, sebagaimana Kerajaan Inggeris sudah mengakui kembali negara2 Baltics baru2 ini.

      Sejarah hubungan antara Kerajaan Inggeris dengan Kerajaan Atjeh adalah panjang sekall dan masyhur bermanfaat kepada kedua belah pihak yang berdaulat itu.

      Maka adalah satu harapan besar dari saya bahwa tidak ada halangan apapun yang tidak dapat kita atasi yang dapat menghambat. pembaharuan kembali dari pada hubungan persahabatan antara kedua bangsa dan kedua negara kita pada masa kita ini.

      Yang ikhlas,

      Tengku Hasan M. di Tiro

      ---------------------------------------------------------------------------------------------------

      Kepada Yang Mulia The Lord Avebury

      Ketua The Parliamentary Human Rights Group House of Lords

      Palace of Westminster

      London SW1A OAS

       

      3

      HAK ATJEH/SUMATERA UNTUK TETAP SEBAGAI SATU NEGARA MERDEKA DAN BERDAULAT

      23 APRIL, 1992

      PENDAHULUAN

      Pelanggaran Hak2 Asasi Manusia yang sedang terjadi terus-menerus di Atjeh/Sumatera adalah akibat yang langsung dari pada penolakan pengakuan Hak Menentukan Nasib Diri-Sendiri dari bangsa Atjeh oleh regime penjajah Indonesia/jawa. (1:1).

      Oleh Penyelidik PBB tentang Hak Menentukan Nasib Diri-Sendiri telah ditegaskan bahwa

      "Adanya pelaksanaan yang sebenar-benarnya dari pada Hak Menentukan Nasib Diri-Sendiri adalah syarat mutlak untuk adanya Hak2 Asasi Manusia dan Kemerdekaan Yang lain-Lain." (1:2)

      Angkatan Atjeh/Sumatera Merdeka sudah menyatakan Atjeh/Sumatera merdeka dari penjajahan Indonesia/jawa pada 4 Desember, 1976. Dalam usahanya untuk menindas gerakan kemerdekaan yang sah ini maka regime penjajah Indonesia/jawa sudah melakukan pembunuhan2 yang luar biasa kejam dan biadabnya atas bangsa Atieh karena mereka itu berpihak kepada gerakan kemerdekaan bangsa mereka.

      Memorandum ini dimaksudkan untuk memberi penjelasan latar-belakang dari pada sebab2 maka bangsa Atieh menuntut kemerdekaannya dari penjajahan republik boneka Indonesia/jawa.

      Memorandum ini mempunyai enam bagian:

      1. Pentingnya Sejarah yang membuktikan telah adanya Negara Atjeh Merdeka lebih
      dahulu.

      2. Adanya Pernyataan Perang Rasmi dari Kerajaan Belanda kepada Kerajaan
      Atjeh yang

      merdeka dan berdaulat.

      3. Penyerahan kedaulatan yang-tidak-sah kepada Indonesia/jawa dari Belanda.

      4. Pernyataan kembali kemerdekaan Atjeh/Sumatera.

      5. Pelanggaran Hak2 Asasi Manusia secara besar2an oleh regime penjajah
      Indonesia/jawa di Atjeh.

      6 Masyarakat negara2 internasional harus campur-tangan di Atjeh untuk mengusir Indonesia/jawa.

      PENTINGNYA SEJARAH ATJEH YANG MEMBUKTIKAN ADANYA NEGARA ATJEH MERDEKA DARI DAHULU KALA

      Dari segala hal yang wajib dipertimbangkan untuk mengakui Hak Menentukan Nasib Diri-Sendiri kepada sesuatu golongan bangsa yang berada dibawah penjajahan atau penguasaan asing, seperti adanya bangsa yang tersendiri, bahasa, budaja, agama, kepribadian yang terpisah dan berbeda dari golongan2 manusia yang lain, adanya lembaga2 kebangsaannya yang tersendiri, adanya kemauan politik untuk mengendalikan masa-depannya sendiri, tetapi dari semua ini, yang terpenting sekali ialah adanya seiarah bernegara sendiri dari bangsa itu dimasa yang silam:

       

      4

      "Adalah suatu hat yang dewasa ini sudahlah mendapat penerimaan umum bahwa sesuatu bangsa yang kini negerinya berada dalam pendudukan militer negara asing, tetapi dahulunya sudah pernah merdeka sendirinya atau pernah menjadi satu bagian dari negara merdeka yang lain tetapi bukan dari negara yang kini mendudukinya, maka bangsa yang bersejarah demikian berhak untuk mengembalikan Hak Menentukan Nasib Diri-Sendirinya."(2:1)

      Konsep hukum ini langsung membawa kita kepada perjuangan yang benar dari bangsa Atjeh untuk memerdekakan diri mereka dari penjajahan imperialisme biadab Indonesia/jawa. Atjeh, sebagai sebuah negara merdeka yang tertua di Asia Tenggara berhak menyatakan diri merdeka dari penjajah Indonesia/jawa bikinan Belanda, yang diwaktu yang akhir2 ini sudah menduduki Atieh dengan memakai kekuatan militer semata-mata.

      Kitab Larouse Grand Dictionnaire Universelle (Paris, 1886) telah mensifatkan bangsa Atjeh dimasa yang sudah2 sebagai

      "Bangsa yang paling berkuasa di Asia Tenggara pada akhir abad keenam-belas dan sampai pada pertengahan abad ke-tujuh-belas."(2:2)

      Kitab La Grand Encyclopedie (Paris, 1874), menulis:

      "Pada tahun 1582, bangsa Atjeh sudah meluaskan kekuasaan mereka atas Kepulauan Sunda, atas satu bagian dari Semenanjung Tanah Melayu, dan mempunyai hubungan diplomasi dengan segala bangsa dan negara yang berlayar di Lautan Hindia mulai dari Jepun sampai keu tanah2 Arab.

      "Sejarah perjuangan yang Zama sekali dilakukan oleh Atjeh melawan Portugis yang berada di Malaka, mulai permulaan abad ke-16, adalah satu bab Yang tidak kurang kegemilangannya dalam sejarah bangsa Atjeh. Pada tahun 1586, seorang dari Sultan Atjeh menyerang Portugis di Malaka dengan armada yang terdiri dari 500 kapal perang dengan angkatan Laut yang berjumlah 60,000 orang."(2:3)

      Tiga-ratus tahun setelah Belanda menduduki dan menjajah pulau Jawa dan bangsa Jawa, Atjeh masih satu negara yang merdeka dan berdaulat, yang diakui oleh seluruh dunia, dan dengan hubungan diplomatik dan perjanjian dengan berbagai negara dan kerajaan, termasuk dengan Kerajaan Inggeris.

      "Kerajaan Inggeris mempunyai Perjanjian Dagang dan Perjanjian Pertahanan dengan Atjeh mulai tahun L603. Dan pada tahun 18L9, 'mengingat adanya perdamaian yang Zama sekali dan berkekalan, dan persahabatan yang tidak putus2, serta persahabatan dan saling-mengerti antara East India Company dan Raja2 Atjeh...' maka disepakati oleh Sir Stamford Raffles, atas nama Gubernur Jenderal Inggeris di India untuk menanda-tangani

      "Satu Perjanjian Damai, Persahabatan, dan Pertahanan Yang kekal. untuk selama-Iamanya antara kedua negara yang meliputi semua wilayah dan rakyat dari kedua pihak agung Yang berdaulat, dimana kedua pihak tidak akan memberi bantuan kepada musuh2 dari kedua mereka." (3:1)

       

      Pada waktu itu

      "Atjeh telah menjadi satu kekuasaan besar, yang paling berkuasa, paling kaya, dan paling berperadaban di Asia Tenggara." (3:2)

      5

      PERNYATAAN PERANG RASMI DARI KERAJAAN BELANDA ATAS KERAJAAN ATJEH YANG MERDEKA DAN BERDAULAT

       

      Pada tanggal 26 Mart, 1873, sesudah tiga-ratus tahun menjajah pulau dan bangsa Jawa, Kerajaan Belanda mengeluarkan Pernyataan Perang dengan rasmi atas Kerajaan Atjeh dengan demikian Belanda juga mengakui lagi status Atjeh sebagai Negara Merdeka dan Berdaulat.

      Negara2 dunia memberi reaksi dengan menyatakan 'neutrality' (tidak mengambil pihak) dalam perang antara dua negara berdaulat itu. Yang berbuat demikian termasuk Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Austria, Italia, dll. Pernyataan2 'neutrality' ini juga membuktikan lagi kedudukan Atieh sebagai negara yang merdeka dan berdaulat di dunia!

      Belanda terus menyerang Atjeh sesudah mengeluarkan Pernyataan Perang itu. Surat kabar The Times (London) melaporkan hasil dari serangan Belanda atas Atjeh itu dihalaman mukanya, pada tanggal 22 April, 1873, sebagai berikut:

      "Satu peristiwa gang luar-biasa sekali dalam sejarah penjajahan modern sudah diberitakan dari Kepulauan Melayu. Satu kekuatan militer gang besar sekali, gang terdiri dari bangsa Eropa, sudah dikalahkan dalam medan perang oleh satu tentera anak negeri...tentera Negara Atjeh. Bangsa Atjeh sudah mendapat kemenangan gang menentukan dan memutuskan. Musuh mereka bukan saja sudah dikalahkan tetapi dipaksa melarikan diri dari negeri itu."

      Surat kabar Amerika The New York Times melaporkan kejadian itu pada 6 Mei, 1873:

      "Satu pertempuran gang berlumur darah sudah terjadi di Atjeh. Serangan Belanda telah dipukul mundur oleh tentera Atjeh dengan penyembelihan besar-besaran. Jenderal Belanda telah dibunuh mati dan tenteranya lari lintang-pukang. Kekalahan Belanda itu adalah besar sekali sehingga seorang anggota Parlemen Belanda telah menyatakan di den Haag bahwa kekalahan di Atjeh itu bermakna permulaan dari kehancuran kekuasaan Belanda didunia Timur."

      Dalam pada itu, di London, pada tanggal 28 Juli, 1873, di Majlis Tinggi Parlemen Inggeris, House of Lords, seorang bangsawan, Lord Stanley of Alderley, telah membuat satu pernyataan rasmi mengenai keadaan di Atjeh dimana beliau membuat kesimpulan sebagai berikut:

      "Sebenarnya Belanda tidaklah mempungai alasan apa2 untuk bertengkar dengan Atjeh, gang sama sekali tidak pernah mengganggu kepentingan Belanda. Sekarang Belanda sudah menyerang Atjeh dan Atjeh sudah mengalahkan Belanda."

      Menunjukkan kepada perjanjian Anglo-Dutch Treaty of 1871 (Perjanjian Inggeris-Belanda tahun 1871) yang dikatakan oleh setengah orang sudah menghapuskan kewajiban Inggeris untuk membantu Atjeh menurut Perjanjian Pertahanan Atjeh-Inggeris tahun 1819, Lord Stanley bertanya:

      "Mengapakah mereka (Menteri2 Inggeris) tidak membuat pengecualian2 gang wajib dibuat dalam perjanjian itu atas nama Atjeh sebab negara itu berhak mengharapkan kita menghormati kemerdekaannya gang sudah berabad-abad itu, dan sejarahnya gang gilang-gemilang. Sebab Atjeh sudah menjadi satu negara merdeka dan berdaulat ketika Belanda masih satu provinsi Spanyol. "(4: 1)

      Oleh karena Belanda tidak sanggup menerima malu dan hilang-muka

       

      6

      atas kekalahannya ditangan bangsa Atjeh, maka Belanda telah melakukan serangan2 kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam di tahun2 selanjutnya sehingga peperangan' dengan Atjeh itu berlarut-larut hampir seratus tahun lamanya - bergantung pada siapa yang menghitungnya.

      Ahli sejarah Belanda sendiri, Paul van 't Veer, yang mengarang buku terakhir tentang sejarah perang Belanda-Atjeh itu menulis:

      "Bangsa Belanda tidak pernah terlibat dalam satu peperangan gang lebih besar dari pada perang dengan Atjeh. Menurut ukuran waktu lamanya, peperangan Belanda-Atjeh itu boleh dikatakan Perang Delapan Puluh-Tahun. Menurut jumlah korbannya, Lebih dari pada seratus ribu orang mati maka Perang Belanda-Atjeh itu adalah satu kejadian militer gang tidak ada bandingannya dalam sejarah kita Belanda. Perang lawan Atjeh itu bagi Belanda adalah Zebih dari hanya satu pertentangan militer saja: untuk satu abad lamanya, Perang Atjeh itu adalah masalah politik nasional, masalah politik kolonial, dan masalah Politik internasional Belanda gang paling penting." (4:2)

      Sebuah majallah Amerika yang sangat masjhur, Harper's Magazine, telah menerbitkan sebuah artikel dengan nama:'PERANG SERATUS TAHUN MASA INI'('THE ONE HUNDRED YEAR WAR OF TODAY') pada nomornya bulan Agustus, 1905. Yang dimaksudnya adalah Perang Belanda dengan Atjeh. Dalam artikel itu ditulis:

      "Bangsa Atjeh gang oleh Belanda sudah berpuluh tahun dicoba menaklukkannya dengan sia-sia, mendiami bagian Utara dari pulau Sumatera, yaitu bagian gang terbaik dan subur dari pulau itu, pulau gang terbesar diantara Kepulauan Melayu... Bangsa Atjeh adalah satu bangsa gang suka berperang...dan tidak ada bukti gang lebih terang tentang kekuatan dan kebesaran jiwa kebangsaan mereka dari pada kenyataan bahwa negeri mereka masih tetap merdeka, dan orang-perang mereka tidak pernah dapat dikalahkan oleh siapapun.

      "Pada waktu gang sama Belanda mulai menelan pulau Jawa. Usaha penjajahan mereka sedikit demi sedikit diperluas dari Jawa ke Sumatera. Tetapi Belanda tidak pernah berani meluaskan penjajahan mereka ke wilayah 'orang2 berani di Utara' ("The fighting North") dimana bangsa Atjeh masih cukup jantan untuk melawan sipenjajah.

      "Pada tahun 1871, pemerintah Belanda di den Haag mulai bersiapsiap untuk menyerang Atjeh. Pada 8 April, L873, tentera Belanda mengarang Bandar Atjeh tetapi dipukul mundur oleh tentera Negara Atjeh dengan kekalahan gang amat besar. Panglima Besar Belanda, Jenderal Kohler, termasuk diantara gang mati terbunuh...

      "Pada bulan Juni, L874, Belanda melancarkan serangan gang kedua atas Atjeh gang dipimpin oleh jenderal Van Swieten. Sesudah menghadapi banyak pertempuran gang berlumur darah, akhirnya Belanda dapat menduduki istana dan Mesjid Raya. Kemudian, sesudah pertempuran berlangsung satu bulan maka kota Bandar Atjeh menjadi hancur-Iebur. Bangsa Atjeh membiarkan ibu-kota mereka diduduki Belanda tetapi secara rahsia mereka bersiap untuk mengadakan perlawanan gang terusmenerus.

      "Segera sesudah itu, bangsa Atjeh mulai melancarkan perang gerilya mereka gang sangat ditakuti oleh Belanda. Mereka membunuh tentera Belanda dan menghancurkan kaki-tangannya di daerah2 pedalaman... JenderaL2 Belanda gang silih berganti dikirim ke Atjeh semuanya terpaksa pulang ke negeri Belanda kalah dan hina-dina...

      "Patut dicatat bahwa serdadu2 Belanda gang kena ditangkap oleh tentera Atjeh diperlakukan dengan baik dan mereka itu memuji-muji tentera

      7

      Atjeh. Mereka tidak pernah dianiaya atau diperlakukan diluar peri kemanusiaan oleh tentera Atjeh. Biasanya mereka digiring kembali dibawah pengawalan ke asrama2 mereka sendiri.

      "Orang2 Islam bangsa Melayu ini tidak pernah dapat ditaklukkan oleh siapapun oleh karena iman mereka pada agama Islam dan kecintaan mereka pada tanah-airnya dan mereka sudah biasa berpegang melawan bangsa2 Eropa berabad-abad lamanya. Mereka belum pernah menundukkan kepala mereka kepada sipenjajah asing. Mereka lebih suka mati dari pada menyerah kepada sipenjajah manapun juga.

      "Sebegitu lekas seorang Pemimpin Atjeh terbunuh atau tertangkap, ada Yang lain yang segera menggantikannya!"(5:1)

      Peperangan Belanda-Atjeh ini berlarut-larut sampai bulan Mart, 1942, ketika Belanda akhirnya mengambil keputusan untuk keluar dan menarik diri dari negeri Atjeh sebagai hanya satu jalan yang terbuka bagi mereka sebab pengalaman sudah mengajar mereka bahwa bangsa Atjeh tidak mungkin dapat ditaklukkan atau dijajah. Dengan sikap ini Belanda sudah mengaku kalah dan kegagalan dari Pernyataan Perang atas Atjeh yang mereka lakukan 70 tahun yang lalu. Tetapi sampai hari ini Belanda masih belum menanda-tangani satu perjanjian damai dengan Atjeh sebagaimana diharuskan oleh kebiasaan dunia internasional (international convention): bahwa atas tiap2 pernyataan perang antara negara2 merdeka mesti ada perjanjian damai untuk mengakhirinya.

      Sesudah Belanda keluar dari Atjeh maka datang tentera pendudukan Jepun, sebagaimana terjadi atas seluruh Asia Timur selama Perang Dunia ke-II. Jepun berada di Atjeh selama 3,5 tahun. Bangsa Atjeh yang tetap berpegang pada dasar hidup merdeka mereka, melawan penjajahan Jepun, sebagaimana mereka telah melawan penjajahan Belanda. fial semacam ini tidak pernah teriadi di daerah2 lain diseluruh Asia. Dalam sejarah 'Asia Timur Raya' Jepun, hanya bangsa Atjeh-Iah satu2 bangsa yang telah berani melawannya. Seorang ahli sejarah telah menulis:

      "Bangsa Atjeh dapat memandang kedalam biji mata kafir Jepun ini dengan rasa percaya pada diri-sendiri mereka, sama sebagaimana mereka dapat memandang kedalam biji mata Belanda dahulu: dengan tidak gentar." (6:1)

      Ketika tentera Jepun menyerah kepada pihak Sekutu pada akhiri Perang Dunia ke-II, pada bulan Agustus, 1945, dan mereka semua dipindahkan pulang ke Jepun secara damai, Belanda kembali ke Jawa dan mengambil kembali pulau Jawa, tetapi Belanda tidak pernah mencoba untuk kembali ke Atjeh. ATJEH TETAP MERDEKA!

      PENYERAHAN KEDAULATAN YANG TIDAK SAH DARI BELANDA KEPADA INDONESIA/JAWA

      Pada tanggal 27 Desember, 1949, Belanda menanda-tangani satu perjanjian dengan satu negara boneka bikinan mereka itu sendiri, dibawah pimpinan orang2 Jawa dengan diberi nama 'Republik Indonesia'. Perianjian ini dipakai sebagai alat untuk memindahkan kekuasaan dari Belanda kepada 'Indonesia' atas seluruh wilayah2 jajahan Belanda (walaupun diluar pulau Jawa) termasuk Atjeh yang Belanda sendiri tidak dapat menaklukkannya dan dari mana mereka sudah lari sejak 7 tahun. Ini telah dilakukan dengan tiada pemilihan dari penduduk wilayah2 yang bersangkutan. Maka perjanjian antara Belanda-Indonesia/Jawa ini melanggar setiap pasal hukum Dekolonisasi PBB dan melanggar

      8

      semua Resolusi Sidang Umum PBB Yang melawan penjajahan.(6:2)

      Oleh karena itu dan sebenarnya maka di Hindia Belanda belum pernah dilakukan dekolonisasi/pemerdekaan sebagai ditentukan dalam aturan2 dan hukum yang sudah ditetapkan oleh PBB. Hanya nama 'Hindia Belanda' ditukar menjadi 'Indonesia'. Dan 'indonesia' itu hanya nama sebutanarah dipeta bumi saja (geographic expression), bukan nama sesuatu bangsa, atau sesuatu negeri, atau sesuatu pulau. Nama 'indonesia' ini dipakai oleh bangsa Jawa untuk menghilangkan nama bangsa2 lain yang mempunyai hak atas tanah di Kepulauan Melayu; untuk menghilangkan tanda2 (identity) mereka; untuk melenyapkan hak mereka untuk menentukan Nasib Diri-Sendiri; untuk dapat merampas kekayaan alam dan ekonomi mereka; untuk mengelakkan pembubaran sistem birokrasi kolonial di Jakarta; dan akhirnya untuk memungkinkan bangsa Jawa menggantikan bangsa Belanda sebagai penjajah baru atas semua bangsa2 di Kepulauan Melayu itu atas nama 'nasionalisme indonesia' pura2.

      "Jika dibawah kedok dan topeng 'kesatuan nasional' penjajahan dan penguasaan asing dialam kenyataan masih terjadi, apapun istilah legal Yang dipakai untuk mencoba menutup-nutupnya, maka hak bangsa2 yang masih dijajah itu tidak boleh dilengahkan dengan tidak melanggar Hukum Internasional."(7:1)

      Piagam PBB dengan mutlak sekali melarang atau mengharamkan negara manapun juga dari pada merebut wilayah dengan kekuatan senjata. Oleh karena itulah maka Amerika Serikat, Kerajaan Inggeris, dll, telah menolak untuk mengakui sah-nya pendudukan negara2 Baltics ditahun 1940 oleh Uni Sovjet.

      "Dengan alasan2 yang 100% sama, maka pengambilan Atjeh oleh Belanda tidak sah, dan Belanda tidak mempunyai hak atau kekuasaan legal untuk menyerahkan Atjeh kepada Indonesia. Indonesia hanya negara boneka bikinan kolonialisme dan sama sekali bukan didirikan atas persetujuan yang sukarela dari bangsa2 yang bersangkutan."(7:2)

      Sebab itu Atjeh berhak untuk diakui menjadi satu negara merdeka kembali oleh masyarakat negara2 internasional yang sudah mengakui kembali kemerdekaan negara2 Baltics dan negara2 lain yang baru muncul kembali di waktu yang akhir2 ini.

      PERNYATAAN ATJEH MERDEKA KEMBALI


      Pada tanggal 4 Desember, 1976, Atjeh sudah dinyatakan merdeka dan berdaulat kembali sebagai sediakala dalam sejarahnya yang panjang dan gilang gemilang itu, bebas dari penjajahan Indonesia/jawa. Sejak itu Atjeh sudah didirikan kembali sebagai Negara Sambungan (Successor State) dari pada Kerajaan Atjeh dalam sejarah dengan segala Haknya menurut ketentuan Hukum Internasional.(7:3)

      Maka sudah ditanyai orang kita: mengapa Pernyataan Kemerdekaan ini tidak dilakukan lebih dahulu, misalnya antara tahun2 1945 dan 1949? Jawabannya tegas dan terang sekali: sebab tidak ada yang melakukannya. Hal itu tidak terjadi sebab tidak ada kemungkinan sejarah untuk terjadinya. Sebagaimana diketahui, strategi politik dan militer Belanda untuk dapat mengalahkan perlawanan bangsa Atjeh ialah dengan membunuh semua keturunan lelaki dari dinasti Tiro. Sesudah mereka bunuh Tengku Ma'at di Tiro pada tahun 1911, hanya kanak2 dan wanita yang masih tinggal dalam Famili di Tiro.(7:4) Sampai2 seorang ahli sejarah Belanda meratapinya:

       

      9

      "Terlalu banyak darah dari Famili Tengku di Tiro telah ditumpahkan." (7:5)

      Dengan membunuh semua keturunan dari Tengku Tjhik di Tiro, Belanda sudah berhasil memenggal kepala bangsa Atjeh sebelum mereka keluar dari Atjeh pada tahun 1942.(7:6)

      Antara tahun2 1945 sampai tahun 1975 bangsa Atjeh tidak mempunyai pemimpin politik. Sebab itu tidak ada Yang dapat memimpin mereka untuk mencapai kemerdekaan yang menjadi hak mereka. Atjeh sudah diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia/jawa secara illegal dan Indonesia/jawa mengambil Atjeh atas dasar penyerahan kedaulatan illegal dari Belanda kepadanya itu. Dalam masa itu sipenjajah Jawa memakai beberapa orang 'quisling' Atjeh yang diberi gelar 'gubernur Atjeh' untuk memerintah Atjeh menurut perintah dari Jawa. [Dalam kamus, makna 'quisling' diterangkan sebagai berikut: 'Seseorang yang mengkhianati kepentingan nasionalnya sendiri kepada musuh supaya kepadanya diberikan pangkat dan kekuasaan politik." ["Quisling: one who betrays his country to the enemy and is then given political power by the conquerors. After Vidkun Quisling, 1887-1945, Norwegian Nazi Party leader and traitor"-Funk&Wagnalls Standard Dictionary.1] Apapun juga yang telah diperbuat oleh quisling2 Atjeh ini atas nama mereka sendiri sebagai orang2 gajian Jawa, tidak dapat mengurangi hak bangsa Atjeh dalam Hukum Internasional untuk Menentukan Nasib Diri-Sendiri. Sebab quisling2 Atjeh ini bukanlah dipilih oleh bangsa Atjeh. Dan 'quislingism' tidaklah dapat dijadikan dasar legal untuk pemindahan kekuasaan negara dari sipenjajah kepada bangsa yang dijajahnya.

      Pada akhirnya, sebagaimana yang sudah terjadi, dan sudah menjadi sejarah pula, Pernyataan Atjeh Merdeka kembali baru terjadi pada 4 Desember, 1976, pada waktu saya sudah kembali dari Amerika untuk melakukannya. Pernyataan Atjeh Merdeka bermakna bahwa bangsa Atjeh sudah mengambil keputusan untuk menyambung sejarahnya; untuk menyelamatkan masa silamnya; untuk menjamin masa-depannya; untuk tetap memelihara kepribadian dan itentiteitnya; untuk mempertahankan tanah airnya; untuk mengambil kursinya kembali dalam masyarakat bangsa2 merdeka didunia. Dengan segala jalan dan dengan harga apapun juga! (8.1)

      PELANGGARAN HAK2 MANUSIA DI ATJEH OLEH INDONESIA/JAWA PENJAJAH

      Pernyataan kembali Atjeh Merdeka yang mendapat sambutan seluruh bangsa Atjeh telah menyebabkan imperialisme Indonesia/jawa menjadikan bangsa Atjeh seluruhnya sebagai sasaran kekejamannya yang tidak mengenal peri kemanusiaan. Dapat dikatakan bahwa sebab utama dari segala yang terjadi ini adalah karena regime penjajah Indonesia/jawa tidak mau mengakui Hak suci bangsa Atjeh untuk Menentukan Nasib Diri-Sendiri!

      Satu keterangan dari Reuter, bertanggal 25 Juli, 1990, menyatakan bahwa seorang juru-bicara dari satu organisasi Hak2 Manusia setempat berkata:

      "Kami sudah melakukan penyelidikan pemungutan suara di Atjeh dan kami dapati delapan dari sepuluh orang Atjeh menyokong Gerakan Atjeh Merdeka. "(8: 2)

      Karena itulah maka regime penjajah Indonesia/jawa telah memutuskan untuk mengadakan 'hukuman atas orang banyak' (collective punishments)

       

      10

      untuk menghentikan mereka memberi bantuan kepada Gerakan Atjeh Merdeka. Akibatnya adalah pembunuhan besar-besaran atas bangsa Atjeh yang tidak bersalah apa2.

      Sebuah berita Reuter yang lain dari Jakarta, bertanggal 24 November, 1990, mengatakan:

       

      "Beberapa percikan kematian ditahun yang lalu telah menjadi Iaksana hujan lebat dalam bulan Desember tahun ini. Ratusan mayat telah dijumpai di Atjeh dan ratusan orang sudah hilang lenjap tidak diketahui kemana perginya...Beratus-ratus bangsa Atjeh di tangkap dan dimasukkan dalam tahanan."(8:3)

      Dalam pada itu, panglima serdadu Indonesia/jawa di Atjeh, majorjenderal Pramono, telah dipetik dalam surat2 kabar mengatakan:"Saga sudah memberi perintah kepada setiap orang, tentera atau bukan, untuk membunuh siapa saja gang dicurigai sebagai simpatisan dari Gerakan Atjeh Merdeka, dengan tidak perlu penyelidikan apa2."(9:1)

       

      Dalam satu negara penjajahan yang diperintahi oleh kaum militer seperti halnya dengan Indonesia/jawa, dimana perkataan jenderal2 adalah sebagai undang2, maka perintah dar! Pramono ini sama sebagai 'surat izin' untuk membunuh. Sudah diperkirakan bahwa mulai dari bulan Januari, 1990, sampai bulan Januari, 1992, antara 10,000 dan 20,000 bangsa Atjeh yang bukan tentera telah mati dibunuh oleh tentera Indonesia/jawa diluar pengadilan dan diluar hukum. Dan pembunuhan besar-besaran ini sedang terus berlangsung. Penyelidikan Untuk Atjeh (A Commission of Inquiry for Acheh) selekas mungkin untuk menyelidiki apa Yang sudah dan sedang terjadi di Atjeh. Selanjutnya ASIA WATCH berkata:

      "Setelah dunia internasional menghukum pembunuhan di Timor Timur... pembunuhan gang lain2 gang dilakukan oleh tentera Indonesia tidak dihiraukan lagi. Di Atjeh, misalnya, dimana lebih 1000 orang sudah mati dibunuh sejak pertengahan tahun 1989, akibat balas-dendam dari tentera Indonesia atas gerilyawan Atjeh Merdeka; dan banyak orang2 gang hilang tidak diketahui kemana perginya; dan orang2 gang dicurigai pernah membantu pihak geriljawan Atjeh Merdeka juga ditembak mati disitu juga dengan tidak ada pemeriksaan apa2; ramai sekali orang2 gang ditahan secara tidak rasmi; dan sidang2 pengadilan gang melanggar hukum, lebih2 Hukum Internasional masih terus menerus dilakukan.

      "Berlawanan sekali dengan pemecatan beberapa orang perwira tentera Indonesia di Timor Timur karena mereka tidak melarang pembunuhan orang2 gang menunjukkan-perasaan disana, sebelas orang perwira Indonesia/jawa di Atjeh sudah dinaikkan pangkatnya, termasuk 9 orang anggota Kopassus gang terkenal sebagai pembunuh orang banyak dan tukang aniaya bangsa Atjeh gang tidak bersalah.

      "Oleh karena tidak ada masjarakat Atjeh dalam pengasingan dan tidak ada pula pihak luar gang menaruh perhatian atas soal Atjeh, dan tidak ada campur-tangan langsung dari PBB, dan tidak ada kejadian2 gang menarik hati dunia, maka tidak ada tekanan internasional atas regime Indonesia/jawa untuk menjawab atas apa gang sudah terjadi di Atjeh selama dua tahun belakangan ini.

       

       

       

      11

      "Perhatian gang sudah diberikan kepada kejadian di Timur Timur tidak boleh memaafkan tindakan2 jahat dari tentera Indonesia/jawa di wilayah-wilayah lain. Maka haruslah dimulai penyelidikan gang sungguh2 atas kekejaman tentera Indonesia/jawa di Atjeh.

      "ASIA WATCH sudah menerima keterangan2 lengkap mengenai pembunuhan2 diluar hukum atas bangsa Atjeh gang dilakukan oleh tentera pendudukan Indonesia/jawa gang sudah memasuki definisi genocide (pembunuhan bangsa) sebagaimana disebut dalam 'Convention an the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide'(Perjandjian Perkara Pencegahan dan Hukuman atas Kejahatan Pembunuhan Bangsa2):

      "Genocide bermakna satu dari pada perbuatan2 berikut, gang dilakukan dengan maksud meruntuhkan seluruhnya atau seluruhnya, satu2 bangsa, satu2 golongan, satu2 agama, dls." Tindakan2 itu termasuk:(a) Membunuh anggota2 bangsa/golongan itu; (b) Menyebabkan kerusakan tubuh atau pikiran dari pada bangsa/golongan2 itu; (c) Sengaja memaksa mereka hidup dalam keadaan gang menghancurkan ekonomi, adab, dan adat mereka; (d) Memaksa mereka menjarangkan keturunan, dsb. (10:1)

      MASYARAKAT NEGARA2 INTERNASIONAL WAJIB CAMPUR-TANGAN DI ATJEH

      Dewasa ini sudahlah menjadi satu Keputusan baru yang sudah diterima dunia bahwa ada 'Hak Campur Tangan' daripada masyarakat dunia internasional untuk menghentikan keiadian2 yang tak dapat diterima dalam sesuatu negara yang tidak dapat diterima dari sudut pandangan peri kemanusiaan. Resolusi Dewan Keamanan PBB No.688 sudahlah menjadi satu pegangan dan teladan (precedent). Resolusi itu memberi kuasa kepada PBB untuk campur-tangan di Irak untuk melindungi bangsa Kurdi.

      Pelanggaran Hak2 Asasi Manusia di Atjeh adalah akibat Yang langsung dari pada tidak diakuinya Hak bangsa Atjeh untuk Menentukan Nasib Diri-Sendiri oleh regime penjajah Indonesia/jawa.

      Tentera penjajahan Indonesia/jawa berbuat sesuka hati mereka di Atjeh yang melanggar seluruh konsep dari pada 'Perjanjian Internasiorial Mengenai Hak Civil dan Hak Politik'(International Covenant an Civil and Political Rights ICCPR); yang melanggar semua Dasar2 PBB untuk Perlindungan Semua Orang Dalam Segala Rupa Tahanan dan Penjara'(UN Body of Principles for the Protection of All Persons under Any Form of Detention or Imprisonment); dan melanggar 'Dasar Minimum dari PBB Mengenai Perlakuan atas Tawanan'(UN Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoners SMRTP). Hukum2 PBB ini berlaku atas semua negara disegala waktu!

      Menerangkan apa gang sedang dilakukan oleh tentera penjajahan Indonesia/jawa di Atjeh terhadap bangsa Atjeh sekarang ini adalah sama dengan membuktikan dengan kenyataan2 kejahatan pembunuhan bangsa (genocide) yang sedang dilakukan terus-menerus dalam segala bidang.

      Karena itu maka adalah menjadi kewajiban PBB untuk campur-tangan di Atjeh selekas-lekasnya: pertama untuk menghentikan perbuatan tentera Indonesia/jawa melakukan pembunuhan yang terus-menerus atas bangsa Atieh; kedua, untuk mengakui kemerdekaan Atjeh kembali sebagaimana sudah diakui kembali kemerdekaan negara Baltics dan negara2 bekas Yugoslavia dan Uni Sovjet; ketiga, untuk mengawasi pemilihan umum yang sesungguhnya di Atjeh - bukan pemilihan pura2 yang diadakan oleh regime penjajah Indonesia/jawa - untuk memberi kesempatan kepada bangsa Atjeh guna Menentukan Nasib Diri-Sendiri. Melalaikan pelaksanaan ini akan memberikan kesan bahwa PBB dalam tindakan2nya memakai dua macam ukuran yang tidak sama dan tidak adil (double standard).

       

      12

      LAMPIRAN KE I

      PERNYATAAN ACHEH-SUMATERA MERDEKA

      KEPADA BANGSA-BANGSA DUNIA

      KAMI BANGSA ACHEH, SUMATERA, MELAKSANAKAN HAK KAMI UNTUK MENEN TUKAN NASIB DIRI-SENDIRI, DAN MELAKSANAKAN TUGAS KAMI UNTUK MELINDUNGI HAK SUCI KAMI ATAS TANAH PUSAKA PENINGGALAN NENEKMOYANG, DENGAN INI MENYATAKAN DIRI KANU DAN NEGERI KANU BEBAS DAN MERDEKA DARI PENGUASAAN DAN PENJAJAHAN REGIME ASING JAWA DI JAKARTA.

      TANAH AIR KAMI ACHEH, SUMATERA, TELAH MENJADI SATU NEGARA YANG BEBAS, MERDEKA DAN BERDAULAT SELAMA DUNIA TERKEMBANG, BELANDA ADALAH PENJAJAH ASING YANG PERTAMA DATANG MENCOBA MENJAJAH KANU KETIKA IA MENYATAKAN PERANG KEPADA NEGARA ACHEH YANG MERDEKA DAN BERDAULAT, PADA 26 MART, 1873, DAN MELAKUKAN SERANGAN ATAS KAMI PADA HARI ITU JUGA, DENGAN DIBANTU OLEH SERDADU-SERDADU SEWAAN JAWA, APA KESUDAHANNYA SERANGAN BELANDA INI SUDAN TERTULIS PADA HALAMAN MUKA SURAT-SURAT KABAR DI SELURUH DUNIA, SURAT KABAR LONDON "TIMES" MENULIS PADA 22 APRIL, 1873 :

      "SATU KEJADIAN YANG SANGAT MENARIK HATI SUDAH DIBERITAKAN TERJADI DI KEPULAUAN HINDIA TIMUR, SATU KEKUATAN BESAR DARI TENTERA BANGSA EROPAH SUDAH DIKALAHKAN DAN DIPUKUL MUNDUR OLEH TENTERA ANAK NEGERI. TENTERA NEGARA ACHEH, BANGSA ACHEH SUDAH MENDAPAT KEMENANGAN YANG MENEN- TUKAN. MUSUH MEERKA BUKAN SAJA SUDAN KALAH, TETAPI DIPAKSA MELARIKAN DIRI".

      SURAT KABAR AMERIKA, 'THE NEW YORK TIMES" PADA 6 MEI, 1873, MENULIS: "PEPERANGAN YANG BERKUBANG DARAN SUDAN TERJADI DI ACHEH, KERAJAAN YANG MEMERINTAH SUMATRA UTARA, TENTERA BELANDA SUDAN MENYERANG NEGARA ITU DAN KINI KITA SUDAN MENGETAHUI KESUDAHANNYA, SERANGAN BELANDA TELAH DIBALAS DENGAN PENYEMBELIHAN BESAR-BESARAN ATAS BELANDA. JENDERAL BELANDA SUDAN DIBUNUH, DAN TENTERANYA'MELARIKAN DIRI DENGAN KACAU-BALAU. MENURUT KELIHATAN, SUNGGUH-SUNGGUH TENTERA BELANDA SUDAN DIHANCUR LEBURKAN".

      KEJADIAN INI TELAH MENARIK PERHATIAN SELURUH DUNIA KEPADA KERAJAAN ACHEH YANG MERDEKA DAN BERDAULAT LAGI KUAT ITU. PRESIDEN AMERIKA SERIKAT, ULYSSES S.GRANT SENGAJA MENGELUARKAN SATU PERNYATAAN YANG LUAR BIASA MENYATAKAN NEGARANYA MENGAMBIL SIKAP NEUTRAL YANG ADIL, YANG TIDAK MEMIHAK KEPADA BELANDA ATAU ACHEH, DAN IA MEMINTA AGAR NEGARA-NEGARA LAIN BERSIKAP SAMA SEBAB IA TAKUT PERANG INI BISA MELUAS.

      PADA HARI 25 DESEMBER (HARI NATAL), 1873, BELANDA MENYERANG ACHEH LAGI, UNTUK KALI YANG KEDUA, DENGAN TENTERA YANG LEBIH BANYAK LAGI, YANG TERDIRI DARI BELANDA DAN JAWA, DAN DENGAN INI MULAILAH APA YANG DINAMAKAN OLEH MAJALAH AMERIKA "HARPER'S MAGAZINE" SEBAGAI "PERANG SERATUS TAHUN ABAD INI", SATU PERANG PENJAJAHAN YANG PALING BERLUMUR DARAN, DAN PALING LAMA DALAM SEJARAH MANUSIA, DIMANA SETENGAH DARI

      13

       

       

      BANGSA KAMT SUDAH MEMBERIKAN KORBAN JIWA UNTUK MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN KANU. PERANG KEMERDEKAAN INI SUDAH DITERUSKAN SAMPAI PECAH PERANG DUNIA KE-II, DELAPAN DRANG NENEK DARI YANG MENANDA-TANGANI PERNYATAAN INI SUDAH GUGUR SEBAGAI SYUHADA DALAM PERANG MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN KAMI INI. SEMUANYA SEBAGAI WALI NEGARA DAN PANGLIMA TERTINGGI YANG SILIH BERGANTI DARI NEGARA ISLAM ACHEH SUMATERA.

       

      TETAPI SESUDAH PERANG DUNIA KE-II, KETIKA HINDIA BELANDA KATANYA SUDAH DIHAPUSKAN, TANAH AIR KAMI ACHEH, SUMATERA, TIDAKLAH DIKEM-BALIKAN KEPADA KAMI, SEBENARNYA HINDIA BELANDA BELUM PERNAH DIHAPUSKAN: SEBAB SESUATU KERAJAAN TIDAKLAH DIHAPUSKAN KALAU KESATUAN WILAYAHNYA MASIH TETAP DIPELIHARA-SEBAGAI HALNYA DENGAN HINDIA BELANDA, HANYA NAMANYA SAJA YANG DITUKAR, DARI "HINDIA BELANDA" MENJADI "INDONESIA" JAWA, SEKARANG BANGSA BELANDA TELAH DIGANTIKAN OLEH BANGSA JAWA SEBAGAI PENJAJAH. BANGSA JAWA ITU ADALAH SATU BANGSA ASING DAN BANGSA SEBERANG LAUTAN KEPADA KAMI BANGSA ACHEHSUMATERA. KAMI TIDAK MEMPUNYAI HUBUNGAN SEJARAH, POLITIK, BUDAYA, EKONOMI DAN GEOGRAFI (BUMI) DENGAN MEREKA ITU. KALAU HASIL DARI PENAKLUKAN DAN PENJAJAHAN BELANDA TETAP DIPELIHARA BULAT, KEMUDIAN DIHADIAHKAN KEPADA BANGSA JAWA, SEBAGAIMANA YANG TERJADI. MAKA TIDAK BOLEH TIDAK AKAN BERDIRI SATU KERAJAAN PENJAJAHAN JAWA DIATAS TEMPAT PENJAJAHAN BELANDA. TETAPI PENJAJAHAN ITU, BAIK DILAKUKAN OLEH DRANG BELANDA, EROPAH YANG BERKULTT PUTIH, ATAU OLEH DRANG JAWA, ASIA YANG BERKULIT SAWO MATANG, TIDAKLAH DAPAT DITERIMA OLEH BANGSA ACHEH, SUMATERA.

       

      "PENYERAHAN KEDAULATAN" YANG TIDAK SAH, ILLEGAL, YANG TELAH DILA-KUKAN OLEII PENJAJAH LAMA, BELANDA, KEPADA PENJAJAH BARU, JAWA, ADALAH SATU PENIPUAN DAN KEJAHATAN POLITIK YANG PALING MENYOLOK MATA YANG PERNAH DILAKUKAN DALAM ABAD INI: SIPENJAJAH BELANDA KABARNYA KONON SUDAH MENYERAHKAN KEDAULATAN ATAS TANAH AIR KITA ACHEH, SUMATERA, KEPADA SATU "BANGSA BARU' YANG BERNAMA "INDONESIA". TETAPI "INDONESIA" ADALAH SATU KEBOHONGAN, PENIPUAN, DAN PROPAGANDA; TOPENG UNTUK MENUTUP KOLONIALISME BANGSA JAWA. SEJAK MULAI DUNIA' TERKEM-BANG, TIDAK PERNAH ADA DRANG, APALAGI BANGSA, YANG BERNAMA DEMIKIAN, DIBAGIAN DUNIA KTTA INI. TIDAK ADA BANGSA YANG BERNAMA DEMIKIAN DIKEPULAUAN MELAYU IM MENURUT ISTILAH ILMU BANGSA (ETHNOLOGY), ILMU BAHASA (PHILOLOGY), ILMU ASAL BUDAYA (COLTURAL ANTROPOLOGY), ILMU MASYARAKAT (SOCIOLOGY) ATAU FAHAM ILMIAH YANG LAIN, "INDONESIA" HANYA MEREK BARU, DALAM BAHASA JANE PALING ASING, YANG TIDAK ADA HUBUNGAN APA-APA DENGAN BAHASA KITA, SEJARAH KITA, KEBUDAJAAN KITA ATAU KEPENTINGAN KITA. "INDONESIA" HANYA MEREK BARU, NAMA PURA-PURA BARU, YANG DIANGGAP BOLEH OLEH BELANDA UNTUK MENGGANTIKAN NAMA "HINDIA BELANDA" DALAM USAHA MEMPERSATUKAN ADMINISTRASI TANAH-TANAH RAMPASANNYA DI DUNIA MELAYU YANG AMAT T UAS INI, SIPENJAJAH JAWAPUN TAHU DAPAT MEMPERGUNAKAN NAMA INI UNTUK MEMBENARKAN MEREKA MENJAJAH NEGERI DRANG DISEBERANG LAUTAN, JIKA PENJAJAHAN BELANDA ADALAH SALAH, MAKA PENJAJAHAN JAWA YANG MUTLAK DIDASARKAN ATAS PENJAJAHAN BELANDA ITU TIDAKLAH MENJADI BENAR. DASAR YANG PALING POKOK DARI HUKUM INTERNATIONAL MENGATAKAN; "EX INJURIA JUS NON ORITUR"- HAK TIDAK DAPAT BERASAL DARI YANG BUKAN

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      14

       

      HAK, KEBENARAN TIDAK DAPAT BERASAL DARI KESALAHAN, PERBUATAN LEGAL TIDAK DAPAT BERASAL DARI ILLEGAL.

      MESKIPUN DEMIKIAN, BANGSA JAWA TETAP MENCOBA MENYAMBUNG PENJAJAHAN BELANDA ATAS KITA WALAUPUN BELANDA SENDIRI DAN PENJAJAHPENJAJAH BARAT YANG LAIN SUDAN MUNDUR, SEBAB SELURUH DUNIA MENGECAM PENJAJAHAN. DALAM MASA TIGA-PULUH TAHUN BELAKANGAN INI KAMI BANGSA ACHEH, SUMATERA, SUDAN MEMPERSAKSIKAN BETAPA NEGERI DAN TANAH AIR KAMI TELAH DIPERAS HABIS-HABISAN OLEH SIPENJAJAH JAWA; MEREKA SUDAN MENCURI HARTA KEKAYAAN KAMI; MEREKA SUDAN MERUSAKKAN PENCAHARIAN KAMI; MEREKA SUDAN MENGACAU PENDIDIKAN ANAK KAMI; MEREKA SUDAN MENGASINGKAN PEMIMPIN-PEMIMPIN KAMI; MEREKA SUDAN MENGIKAT BANGSA KAMI DENGAN RANTAI KEZALIMAN, KEKEJAMAN, KEMISKINAN, DAN TIDAK PEDULI: MASA HIDUP BANGSA KAMI PUKUL RATA 34 TAHUN DAN MAKIN SEHARI MAKIN 117KURANG-BANDINGKAN INI DENGAN UKURAN DUNIA YANG 70 TAHUN DAN MAKIN SEHARI MAKIN BERTAMBAH, SEDANGKAN ACHEH, SUMATERA, MENGELUARKAN HASIL SETIAP TAHUN BAGI SIPENJAJAH INDONESIA-JAWA LEBIH 15 MILYAR DOLLAR AMERIKA YANG SEMUANYA DIPERGUNAKAN UNTUK KEMAKMURAN PULAU JAWA DAN BANGSA JAWA.

      KAMI, BANGSA ACHEH, SUMATERA, TIDAKLAH MEMPUNYAI PERKARA APA-APA DENGAN BANGSA JAWA KALAU MEERKA TETAP TINGGAL DI NEGERI MEREKA SENDIRI DAN TIDAK DATANG MENJAJAH KANU, DAN BERLAGAK SEBAGAI "TURN" DALAM RUMAH KAMI, MULAI SAAT INI, KAMI MAU MENJADI TUAN DIRUMAH KANU SENDIRI; HANYA DEMIKIAN HIDUP INI ADA ARTINYA, KAMI MAU MEMBUAT HUKUM DAN UNDANG-UNDANG KAMI SENDIRI; YANG SEBAGAI MANA KAMI PANDANG BAIK; MENJADI PENJAMIN KEBEBASAN DAN KEMERDEKAAN KAMI SENDIRI; YANG MANA KAMI LEBIH DARI SANGGUP; MENJADI SEDERAJAT DENGAN SEMUA BANGSA DI DUNIA; SEBAGAIMANA NENEK MOYANG KAMI SELALU DEMIKIAN, DENGAN PENDEK: MENJADI BERDAULAT ATAS PERSADA TANAH AIR KAMPUNG KAMI SENDIRI.

      PERJUANGAN KEMERDEKAAN KAMI PENUH KE'ADILAN, KAMI TIDAK MENGHENDAKI TANAH BANGSA LAIN- BUKAN SEBAGAI BANGSA JAWA DATANG ME- RAMPAS TANAH KAMI, TANAH KAMI TELAH DIKURNIAI ALLAH DENGAN XE-' KAYAAN DAN KEMAKMURAN, KAMI BERNIAT MEMBERI BANTUAN UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA SEDUNIA, KAMI MENGHARAPKAN PENGAKUAN DARI ANGGOTA MASYARAKAT BANGSA-BANGSA YANG BAIK, KAMI MENGULURKAN TANGAN PERSAHABATAN KEPADA SEMUA BANGSA DAN NEGARA DARI KE-EMPAT PENJURU BUMI.

       

      ATAS NAMA BANGSA ACHEH, SUMATERA, YANG BERDAULAT.

       

      TENGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO
      KETUA, ANGKATAN ACHEH, SUMATERA MERDEKA
      DAN WALI NEGARA

       

      ACHEH, SUMATERA, 4 DESEMBER, 1976.

       

       

       

       

       

       

      15

      LAMPIRAN KE � II

      Daftar Kepala Negara Atjeh dari tahun 1500 sampai sekarang

      APPENDIX II

      LIST OF RULERS OF ACHEH FROM 1500 A.D. TO THE PRESENT:

      1. Ali Mughayat Shah (1500-1530)

      2 Salahuddin (1530-1537)
      3. Alauddin Riayat Shah al Kahhar (1537-1571)A
      4. Ali Riayat Shah (1571-1579)
      5. Sultan Muda (1579)
      6. Sultan Sri Alam (1579)
      7. Zainul Abidin (1579)
      8. Alauddin Mansur Shah (1579-1586)
      9. Ali Riayat Shah (1586-188)
      10. Alauddin Riayat Shah (1588-1604)
      11. Ali Riayat Shah (1604-607)
      12. Iskandar Muda 1607-1636
      13. Iskandar Thani (1636-1641)
      14. Tadjul Alam Safiatuddin (1641-1675)
      15. Nurut Alam Nakiyatuddin (1675-1678)
      16. Inayat Shah Zakiyatuddin (1678-1688)
      17. Kamalat Shah (1688-1699)
      18. Badr al-Alam Sjarif Hasjem Djamaluddin (1699-1702)
      19. Perkasa Alam Sjarif Lamtui b. Sjarif Ibrahim (1702-1703)
      20. Djamalul Alam Badrul Munir 1703-1726)
      21. Djawhar Alam Amaluddin Shah (reigned only a few days)
      22. Sjamsul Alam or Wan di Teubeng (reigned only a few days)
      23. Alauddin Ahmad Shah or Maharadja Lela Melayu (1727-1735)
      24. Alauddin Djohan Shah (1735-1760)
      25. Mahmud Shah or Tuanku Radja (1760-1764)
      26. Badruddin (1764-1773)
      27. Sulaiman Shah or Radja Udahna Lela (1773-1781)
      28. Alauddin Muhammad Shah (1781-1795)
      29. Alauddin Djauhar Alam Shah (1795-1824)
      30. Muhammad Shah (1824-1836)
      31. Mansur Shah (1836-1870)
      32. Mahmud Shah (1870-1874)
      33. Muhammad Dawud Shah (1874)
      34. Muhammad Saman di Tiro (1874-1891} (Died in the war with Holland)
      35. Muhammad Amin di Tiro (1891-1896) - ditto-
      36. Ubaidullah di Tiro (1896-1899) - dito -
      37. Sulaiman di Tiro or Tengku Lambada (1899-1904) - ditto -
      38. Muhammad Ali Zainul Abidin di Tiro (1904-1910) - ditto -
      39 Mahyeddin di Tiro (1910) -ditto-
      40. Ma�t di Tiro (1911) - ditto-
      41. Hasan di Tiro (1976 -)

      Sources: Encyclopaedia of Islam and Dairatul Ma'arif

       

       

       

       

       

       

       

       

      16

      LAMPIRAN KE-III

      Upacara pemakaman No. 13 Tahun 1641

       

      FUNERAL OF NO,13 (1641 A.D)

      [UPACARA PEMAKAMAN SULTAN ISKANDAR THANI DI BANDAR ATJEH, PADA TAHUN 1641,DILUKIS OLEH AHLI SENI BELANDA ATAS DASAR GAMBARAN DARI YANG TURUT HADIR, NICOLAUS DE GRAAF.

       

       

       

       

       

      17

      LAMPIRAN KE-IV

      CARA2 YANG DIPAKAI OLEH SERDADU2 PENJAJAH INDONESIA /JAWA MENYIKSA BANGSA ATJEH YANG DITAWAN MEREKA:

      1. Semua orang yang ditahan dipukul dan disepak pada bagian2 tubuh yang paling dirasa kesakitannya seperti muka, dada, perut, kemaluan, dsb, menurut kesukaan hati algojo2 Jawa itu.

      2. Buah pelir dari orang tahanan dihancurkan dengan sepit angkup besi atau tang.

      3. Paha kursi yang diduduki oleh serdadu Jawa diletakkan atas anak kaki orang2 tahanan sampai darah mereka terpencar-pencar.

      4. Tapak tangan dan tapak kaki dari orang2 tahanan dipaku ke dinding papan/kayu sebagai disalib, hanya paling salib yang tidak dipakai. 5. Orang2 tahanan ada yang dimasak dalam air mendidih.

      6. Orang2 tahanan dipaksa mandi berhari-hari dalam kolam berisi berak, tahi dan kencing.

      7. Orang2 tahanan digantung kepala kebawah dan kaki keatas berhari-hari lamanya.

      8. Badan orang2 tahanan dibakar dengan api ujung rokok atau dengan besi yang dikontak dengan aliran listrik.

      9. Orang2 tahanan dipukul dengan batang besi tetapi badan orang yang disiksa itu ditutup dengan sekeping kaju tipis supaya tidak luka kulit mereka walaupun kerusakan didalam badan tetap terjadi sehingga para korban memuntahkan darah sesudah mendapat siksaan itu

      10. Kawat besi yang tajam dimasukkan kedalam zakar/kemaluan orang tahanan dan diputar-putar supaya lebih pedih lagi.

      11. Orang2 tahanan di ikat pada sebatang es yang panjangnya l!2 meter yang memakan beberapa jam untuk menjadi cair. Ketika es menjadi cair, biasanya orang tahanan sudah hilang ingatan.

      12. Ada juga orang2 tahanan yang mata mereka dicungkil oleh algojo2 Indonesia/jawa, seperti Muslim Ali, 26, masih seorang student. Dia ditangkap pada 11 November, 1990, dituduh anggota Atjeh Merdeka. 13. Orang2 tahanan dimasukkan dalam satu kandang dengan anjing2 buas yang sudah sengaja dilaparkan berhari-hari lamanya supaya anjing2

      itu memakan orang2 itu hidup2. Mereka ditinggalkan disana sampai mati.

      14. Orang2 tahanan dimasukkan dalam lobang ular dimana ular2 berbisa dipelihara dan dilaparkan supaya buas untuk menggigit orang2 tahanan dan memakan daging mereka. Orang2 tahanan ditinggalkan dalam kandang ular itu berminggu-minggu lamanya. Mereka yang sudah disiksa begini menjadi gila sebab ular adalah binatang yang paling ditakuti dan dibenci dalam budaya Atjeh.

      Tambahan

      : Oleh karena semakin kejam dan merajalelanya serdadu2 pendudukan Indonesia/jawa di Atjeh, beratus-ribu bangsa Atjeh, laki2, perempuan, dan kanak2 sudah lari ke hutan2 untuk memperlindungi diri mereka dari penyembelihan serdadu2 Indonesia/jawa yang tidak berperi kemanusiaan itu.

       

      18

       

      LAMPIRAN KE-V

       

      Dari surat kabar London �THE GRAPHIC� 22 September, 1883.

      SUPPLEMENT TO THE GRAPHIC, SEPTEMBER 22�� 1883

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      SEBUAH PETA INGGERIS BERTANGGAL 22 SEPTEMBER, 1883, MENUNJUKKAN
      WILAYAII KERAJAAN ATJEH - SEPULUH TAHUN SESUDAH MULAI PERANG DENGAN BELANDA. WILAYAH YANG BERWARNA-HITAM MENUNJUKKAN WILAYAH KERAJAAN ATJEH YANG SUDAH DIDUDUKI BELANDA SAMPAI PADA WAKTU ITU

       

      19

       

      LAMPIRAN KE - VI

      APPENDIX VI

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      SATU PETA INGGERIS YANG LAIN, YANG MENUNJUKKAN WILAYAH KERAJAAN ATJEH DITAHUN 1890 17 TAHUN SESUDAH MULAI PERANG DENGAN BELANDA. WILAYAH YANG DIHITAMKAN MENUNJUKKAN WILAYAH KERAJAAN ATJEH YANG SUDAH JATUH DALAM PENDUDUKAN BELANDA. PETA DITERBITKAN OLEH FULLER-, TON&CO, LONDON, DUBLIN DAN EDINBURGH.

      20

      APPENDIX VII

       

      LAMPIRAN KE-VII

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

       

      DIATAS ADALAH SATU PETA PERANCIS. DARI ABAD KE 17, YANG MENUNJUKKAN WILAYAH KEDAULATAN DARI ROYAUME D'ACHEM (KERAJAAN ATJEH) DI SUMATERA, MALAYA, BORNEO BARAT DAN BANTEN. KETERANGAN DALAM BAIIASA PERANCIS MEMPERKENAL-KAN NEGARA2 BESAR DI ASIA PADA WAKTU ITU: HINDUSTAN, CINA DAN ATJEH. HINDUSTAN, KERAJAAN MOGUL, MENGUASAI ASIA BARAT DAYA; CINA MENGUASAI ASIA TIMUR LAUT; DAN KERAJAAN ATJEH, ADALAH NEGARA TERBESAR DI ASIA KHATTUL-ISTIWA. TENTANG JAWA, DISANA DITULIS JAWA, YANG TERLETAK DISELATAN KEPULAUAN SUNDA, HAMPIR SELURUHNYA MILIK (JAJAHAN) BELANDA YANG DIPERINTAH OLEII GUBERNUR JENDERAL, DARI BATAVIA (,JAKAR'TA)". ("Java, qui est 1a plus meridionale des Iles de la Sonde,apartient presque tont aux Rollandes. Batavia est 1e sejour du Gouverneur General des Indes.")

       

       

      21

      SUMBER / LITERATURE / FOOTNOTES]

       

      (1:1)TAPOL (Tahanan Politik, majallah memajukan hak asasi manusia di Indonesia, Backgrounder (Latar-belakang), London, 27 Juni, 1991.

      (1:2)Hak Untuk Menentukan Nasib Diri-Sendiri, oleh Penyelidik khusus dari Sub-Commission an Prevention of Discrimination and Protection of Minorities, para. 59, 1991. Doc. E/CN.4/Sub.2/405/Rev.l

      (2:1) UNESCO DOCUMENT 23, 1990, Para.42.

      (2:2)"Vers la fin du XVIe siecle et jusqu'� la moiti� du XVIIe, les Achins etaient la nation dominante de l'archipel Indien."(Vol.I,p. (2:3)"En 1582,ils avaint �tandu leur pr�pond�rance sur les iles de la Sonde,sur une partie de la Presque ile de Malacca, ils �taient en relation avec tous les pays que baigne l'oc�an Indien depuis le Japon jusqu'� l'Arabie. La lutte qu'il soutinrent contre le Portugais �tablis � Malacca depuis le commencement du XVIe siecle n'est pas une des pages les moins glorieuse de l'histoire des Atchinois. En 1586, un de leur Sultans attaque les Portugais avec une flotte d'environ 500 voiles mont�e par 60,000 marins."(Vol. IV,p.402)

      (3:1)Surat kepada Editor The Independent (London) dari Lord ' Avebury, Ketua, Badan Parlemen Urusan Hak Manusia (Parliamentary Human Rights Group), 9 Februari, 1992.

      (3:2)Prof. M. C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia (Bloomington, 1981, p. 335).

      (4:1)Hansard, House of Lords, Debates, 28 Juli, 1873, vol.217, pp.1077-1081.

      (4:2)Paul van't Veer,De Atjeh-oorlog (Amsterdam, 1969, p.10.

      (5:1)Tidak ada contoh dari pada heroisme/kepahlawanan yang tidak ada bandingannya ini lebih indah terlukis daripada dimasa pemerintahan Dinasti Tiro, yang mulai pada tahun 1874, ditengah-tengah medan perang.

      Ketika Tengku Tjhik di Tiro Muhammad Saman shahid pada 25 Januari, 1891, sesudah berhasil memimpin dan mempertahankan negara selama 17 tahun, baginda diganti oleh putera pertamanya, Tengku Muhammad Amin di Tiro.

      Ketika Muhammad Amin mati shahid dalam medan perang Kuta Aneuk Galong pada 26 Mart, 1896 (23 tahun sesudah Belanda menyatakan perang pada 26 Mart, 1873) baginda diganti oleh adiknya, Tengku Ubaidullah di Tiro, yang tewas, shahid, dalam medan perang Lhok Panah, empat tahun kemudian, ditahun 1899.

      Baginda diganti oleh adiknya, Tengku Sulaiman di Tiro, lebih terkenal dengan gelar Tengku Lambada. Baginda tewas, shahid, dalam medan perang Keune, Geumpang, lima tahun kemudian, pada tahun 1904. Baginda segera diganti oleh adiknya yang lain, Tengku Muhammad Ali Zainul Abidin di Tiro, lebih dikenal dengan gelar Tengku di Buket. Baginda tewas, shahid, dalam medan perang Gunong Alimon, pada 21 Mei, 1910.

      Baginda diganti oleh adiknya yang penghabisan, Tengku Mahyeddin

       

       

       

      22

      di Tiro, yang digelarkan oleh bangsa Atjeh dengan 'Tangl�ng Nanggroe' (Lampu Negara). Tengku Mahyeddin tewas, shahid, dalam medan perang Alue Simi, Geumpang, pada 5 September, 1910. Baginda adalah putera terakhir dari Tengku Muhammad Saman dan Nenek dari Tengku Hasan di Tiro.

      Baginda segera diganti oleh kemenakannya, Tengku Ma'at di Tiro, putera dari Tengku Muhammad Amin dan cucu dari Tengku Muhammad Saman. Tengku Maat di Tiro tewas, shahid, dalam medan perang Alue Bhot, Tangs�, pada 3 Desember, 1911, dalam usia 16 tahun!

      Panglima Belanda, H.J.Schmidt, yang berperang lawan Tengku Ma'at di Tiro, membuat catatan berikut mengenai kematian Baginda:

      "Darf kepala kancing tali pinggangnya yang berbentuk satu Cap di ukir dengan namanya, mereka tahu dialah Tengku Ma'at di Tiro, tewas sebagai bapanya yang gugur dalam medan perang Kuta Aneuk Galong pada tahun 1896. Ia seorang anak muda, berkulit putih dan bertampan bangsawan yang sungguh gagah. Ia memakai celana hitam bersulam benang perak dan baju jas hitam dengan anak-baju dari emas. Destar sutera merah masih terikat dikepalanya dan tangan kanannya masih menggenggam pistol walaupun ia sudah tidak bernapas lagi. Sebuah peluru telah menembusi jantungnya dan matanya yang sudah dihancurkan peluru masih terbuka memandang kelangit lepas yang merdeka dan bebas diatasnya.

      "Demikianlah harapannya sudah tercapai: untuk mati sebagai pahlawan, seperti bapanya. Kematiannya menutup riwayat kepahlawanan Famili di Tiro: orang2 kuat yang tidak mengenal menyerah,amat bangga dan keras, yang menghina kita ketika kita lemah, dan yang sudah kita jatuhkan ketika tentera kita sudah percaya lagi pada diri-sendiri. Dengan kemat-iannya, maka tiga keturunan dari Famili di Tiro sudah dikuburkan dalam Perang Atjeh."(H.J.Schmidt, Marechaussee in Atjeh,Maastricht,1947,dan H.J.Zentgraaff, Atjeh, Batavia, 1936).

      (6:1)Anthony Reid, The blood of the people (Oxford University Press, Kuala Lumpur, 1979).

      (6:2)Misalnya: Resolusi UN No.1514(XV)telah menentukan:(a) kedaulatan atas wilayah tanah jajahan tidak boleh dipindahkan/diserahkan oleh satu penjajah kepada penjajah yang lain; (b) kedaulatan atas tanah jajahan tidak ada dalam tangan sipenjajah, tetapi berada dalam tangan penduduk asli tanah jajahan itu sendiri; (c) semua kekuasaan wajib dikembalikan oleh sipenjajah kepada penduduk asli dari tanah jajahan i tu.

      Resolusi UN No.2621(XXV) telah menentukan: penjajahan dipandang sebagai satu 'kedauatan internasional'; dan adalah hak mutlak dari semua bangsa2 yang terjajah untuk berperang melawan sipenjajah mereka. Resolusi UN No.2625(XXV) telah menetapkan:(a) adalah kewajiban semua negara untuk menghapuskan penjajahan dan untuk melarang siapapun juga memakai kekerasan atas bangsa2 yang sedang berjuang untuk kemerdekaan mereka; (b) setiap wilayah tanah jajahan mempunyai hak hukum yang terpisah dari tanah jajahan yang lain dan masing2 mempunyai hak untuk merdeka sendiri2.

      Resolusi UN No. 3314(XXIX) telah memutuskan: dilarang pemakaian kekerasan atas mereka yang sedang menuntut Hak Menentukan Nasib Diri-Sendiri.

      (7:1) The Right to Self-Determination, para.60/1991 (Special Rapporteur of the Sub-Commission an Prevention of Discrimination and Protection of Minorities.)

      (7:2) The Lord Avebury,'Masalah Hak Menentukan Nasib Diri-Sendiri di Dunia Islam', London, 1991.

       

       

       

      23

      (7:3)Lihat LAMPIRAN I: Naskhah 'Pernyataan Atjeh/Sumatera Merdeka'. Dan LAMPIRAN II: Daftar Kepala2 Negara Atjeh dari tahun 1500 A.D. sampai sekarang.

      (7:4)Wiecher A. Hulst, Handelsblad, 13 April, 1991. (7:5)H.C.Zentgraaff,Atjeh, Batavia, 1936.
      (7:6)Dirk Vlasblom, Handelsblad, June 1, 1991.
      (8:1)Tengku Hasan M. di Tiro, The Price of Freedom: the unfinished Diary (1981).

      (8:2) The Star (Kuala Lumpur, 25 Juli, 1990).

      (8:3) Reuter's Dispatches(Jakarta, 24 November, 1990)

      (9:1)Tempo-(Jakarta, 17 November, 1990).


      (9:2)ASIA WATCH, Acheh Inquiry, New York, 19 Februari, 199

      (Message over 64 KB, truncated)

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.