Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Fenomena paradoks politik Indonesia: Aceh-Afghanis

Expand Messages
  • Marcopolo
    Sabtu, 17/11/2001 Fenomena paradoks politik Indonesia: Aceh-Afghanistan Oleh Hidayat Supangkat FENOMENA paradoksal politik di Indonesia sudah tak bisa dihitung
    Message 1 of 1 , Aug 2, 2003

      Sabtu, 17/11/2001 Fenomena paradoks politik Indonesia: Aceh-Afghanistan Oleh Hidayat Supangkat FENOMENA paradoksal politik di Indonesia sudah tak bisa dihitung dengan jari kedua tangan. Hidup di luar negeri bagi kami tidak juga membebaskan dari ikut ikutan pusing kepala karena rupanya jasad berada di New York, jiwa tetap bercokol di Indonesia betapun juga tragisnya. Yang paling mencolok adalah paradoks Afghanistan - Aceh, di mana kita berteriak teriak supaya serangan terhadap Afghanistan dihentikan terutama selama bulan suci Ramadhan sedangkan di Aceh kita tidak pernah menghentikan operasi militer selama Puasa. Kalau argumentasi kita bahwa GPK Aceh yang tidak pernah berhenti selama Ramadhan dan keamanan kita terancam, maka pihak Indonesia tidak mau tahu apakah Amerika yang sudah diserang dahsyat oleh teroris dengan atrositi yang menewaskan lebih kurang 5.000 nyawa manusia tak berdosa yang kemudian diserang oleh bioterorisme anthrax, dan terancam serangan dahsyat kedua, dan seterusna oleh teroris yang bermarkas di Afghanistan di bawah perlindungan Taliban. Kita menolak melihat gajah dipelupuk mata sendiri dan tetap berteriak-teriak tentang noda di pihak orang lain. Lagi pula sejumlah negara Timur Tengah, Mesir misalnya, tidak pernah menghentikan peperangan selama Ramadhan 1973, demikian pula negara negara Islam lainnya, demikian menurut argumentasi Amerika dan aliansinya. Paradoks Timor sudah lampau - alhamdulillah - tapi paradoks politik luar negeri kita masih diteruskan karena rupanya sudah mendarah mendaging. Paradoks hak asasi manusia berhasil melenyapkan "iman" kami kepada Pancasila karena pelanggaran pelanggaran HAM telanjang bulat di Timor, Papua, Aceh, Ambon, bahkan di Jakarta. Yang paling mencolok adalah pernyataan Nugroho Wisnumurti dalam konperensi HAM Wina yang jelas jelas mengekor RRC, negara komunis, bahwa HAM harus disesuaikan dengan latar belakang kebudayaan nasional dan bahwa HAM bertentangan dengan kebudayaan itu. RRC selalu mengumandangkan doktrik kebudayaan versus HAM ini untuk memberikan justifikasi atas pelanggaran HAM-nya. Dan Indonesia mengekor politik anti-HAM ini. Kontan kami murtad terhadap Pancasila. Sekarang Indonesia yang dituduh melanggar HAM di Aceh, Irja, Ambon bahkan di Jakarta - di Timor sudah tamat - berteriak-teriak kepada AS untuk menghentikan serangannya, terutama selama bulan Ramadhan. Dubes Widodo di PBB membeo dan menyerukan pertemuan PBB menjelang bulan Ramadhan ini untuk membahas serangan bulan Puasa. Radio Hilversum mempersoalkan paradoks politik ini karena Indonesia lebih kurang hanya melihat "kutu tungo di seberang lautan dan tidak mau melihat gajah di pelupuk mata sendiri". Bagaimana dengan perang di Aceh, apakah pernah operasi militer dihentikan selama Ramadan? Demikian pula di Ambon dan Papua? Menurut pihak Amerika negara-negara Arab dan Islam tidak pernah menghentikan peperangan selama bulan Ramadhan. Mesir berperang terus lawan Israel bulan Ramadhan 1973. Indonesia yang coreng-moreng citra internasionalnya akibat Timtim, tidak kapok kapoknya membuat blunder di dunia internasional, terus saja suka "lying through the teeth". Untuk melenyapkan citra buruk akibat invasi Timtim yang ditambah buruk dengan pembantaian dan politik bumi hangus pasca referendum Agustus, sudah kadaluwarsa waktunya bagi Indonesia untuk berucap dan bertindak yang tidak terlalu paradoksal, tidak terlalu ironis di gelanggang politik internasional. Ataukah sudah demikian mendarah mendaging sehingga hanya generasi baru yang revolusioner saja yang bisa mengubahnya?*** Penulis adalah wartawan veteran di AS dan PBB, kini bermukim di New York


      Want to chat instantly with your online friends? Get the FREE Yahoo! Messenger
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.