Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Damai yang Terancam di Aceh.

Expand Messages
  • Sumatra Ku
    Damai yang Terancam di Aceh Ulah TNI dan POLRI. Lihat keadaan sekarang bukankah rakyat sudah sedikit aman di Aceh, tetapi ABRI selalu mengacau dan mengancam
    Message 1 of 1 , Feb 4, 2003
      Damai yang Terancam di Aceh
      Ulah TNI dan POLRI.
       
      Lihat keadaan sekarang bukankah rakyat sudah sedikit aman di Aceh, tetapi ABRI selalu mengacau dan mengancam akan menyerang ini adalah niat jahat serdadu yang memang sudah menjadi Proyek ABRI di Aceh.
      Bangkit nya GAM, adalah akibat kerakusan dan kebiadaban pusat terhadap rakyat, dari segala segi hingga rakyat bangkit melawan dengan segala usaha untuk membebaskan diri dari kezaliman. Mengapa di salahkan ?.
      Kini lebih baik bangsa-bangsa lain seperti Minang. Batak. Melayu Deli. Papua. Maluku. Sunda. dan lain-lain bangulah ikut seperti Aceh jangan lagi mau dibodohi oleh Jakarta yang tidak ada apa-apanya lagi negara sudah bangkrut dan hancur. Bukalah pikiran belum terlambat.
       
      JANGAN lagi mau kita di adu domba oleh Jakrta anak Minang dikerim ke Acheh unutuk membunuh bangsa Aceh dengan alasan mempertahankan NKRI, itu nihil hanya tipu dan muslihat gajinya pun hanya pas-pasan menyabung nyawa mengapa tidak sadar??????.
       
      BIARKAN ACEH MERDEKA, bukankah itu hak segala bangsa yang harus kita hormati
      karena kita belajar dari sejarah dan sejarah adalah guru yang tidak pernah menyembungikan kebenaran selama kita mau mempelajarinya dan menghargainya.



      SETELAH perang berkepanjangan, ternyata tidak mudah menjalin damai. Tidak mudah, sekalipun dengan saudara sebangsa sendiri. Itulah yang terjadi di Aceh dewasa ini, setelah tercapainya perjanjian damai yang ditandatangani di Jenewa, 9 Desember 2002.

      Saling menyalahkan, misalnya, kembali muncul antara tentara dan GAM. Yang satu menyalahkan yang lain sebagai pihak yang tidak mematuhi perjanjian. Setelah saling menyalahkan, lalu saling memberi ultimatum. Dan, tentu saling menggertak.

      Jika hal itu terus berlangsung maka keadaan akan kembali memanas dan meruncing. Karena yang menggertak dan digertak sama-sama bersenjata, akhirnya, yang bicara bukan lagi mulut, melainkan senjata. Dan, perang pun kembali pecah. Yaitu, lagi dan lagi, sesama anak bangsa saling bunuh dengan dendam dan kemarahan yang membara.

      Jika hal itu terulang kembali, sebuah perang yang lebih panjang daripada sebelumnya mungkin yang akan dihadapi. Tetapi, hasilnya sama saja dengan perang sebelumnya, yaitu tidak ada yang menang. Yang ada adalah semuanya kalah karena yang menjadi korban tetaplah anak bangsa sendiri.

      Damai, memang, telah ditandangani di Jenewa. Tetapi, damai yang tertera di atas kertas itu memerlukan komitmen yang sangat kuat agar menjadi perkara yang nyata dalam kehidupan masyarakat yang riil. Untuk itu, tidak bisa lain, semua pihak harus mematuhi semua butir-butir perjanjian yang telah disepakati. Jika tidak, damai itu hanya menjadi perkara omong kosong.

      Yang terjadi di lapangan adalah masalah yang sangat mendasar bagi terwujudnya perdamaian. Yaitu, buruknya kepercayaan masing-masing pihak yang bersenjata. Saling curiga sangat tinggi bersemayam di kalbu GAM terhadap TNI dan Brimob dan begitu pula sebaliknya TNI dan Brimob terhadap GAM. Itulah sebabnya, tidak ada kemajuan yang signifikan yang menjamin bahwa gencatan senjata akan terjadi selamanya.

      Mengapa? Karena tidak ada yang merasa aman, hidup tanpa senjata. GAM tidak merasa aman tanpa senjata, sebaliknya juga TNI dan Brimob. Semuanya, pada dasarnya, sadar atau tidak sadar, tetap bersiap perang sekalipun perjanjian damai telah disepakati.

      GAM tidak mau menggudangkan senjatanya sekalipun itu diatur dalam perjanjian. Tidak mau, karena tidak percaya kepada TNI dan Brimob. Salah satunya, GAM menyangsikan kesediaan TNI dan Brimob menarik pasukannya ke pos-pos resmi mereka. Bahkan, menurut GAM, setiap hari selalu ada pelanggaran yang dilakukan TNI dan Brimob.

      Sebaliknya, ketidaksediaan GAM menggudangkan senjatanya kembali memicu kecurigaan TNI dan Brimob. Yaitu, GAM telah bertindak curang, menggunakan keadaan tanpa perang sekarang ini justru untuk konsolidasi dan memperkuat barisan GAM.

      Begitulah, saling curiga masih mengental. Kedua pihak yang bersenjata tetap saling tidak percaya serta mengintip kelakuan masing-masing. Yang satu dan yang lain tetap curiga bahwa perdamaian masih merupakan urusan basa-basi.

      Melihat keadaan itu, kiranya diperlukan banyak pasukan pengawas yang netral. Kita juga mengimbau GAM maupun TNI dan Brimob agar tidak saling memberi komentar atas kelakuan masing-masing pihak. Penilaian dan penghakiman atas kelakuan masing-masing seharusnya dipercayakan kepada Tim Komite Keamanan Bersama yang dipimpin Mayjen Thanongsuk Tuviun.

      Apa boleh buat, kita memang memerlukan jenderal asal Thailand itu untuk mewujudkan damai di negeri sendiri. Sangat memalukan jika itu pun ternyata sia-sia.

      Wartawan

      koran jawa.



      MSN Messenger - Den korteste veien mellom deg og dine venner
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.