Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Wali Merasa Dikhianati, GAM: "aku masih seperti yang dulu", Hingga Tuntutan Merdeka

Expand Messages
  • Acheh Watch
    Wali Merasa Dikhianati, GAM: aku masih seperti yang dulu , Hingga Tuntutan Merdeka Monday, June 17, 2013 BANYAK yang menduga bahwa perdamaian di Aceh telah
    Message 1 of 3 , Jun 21, 2013
    • 0 Attachment

      Monday, June 17, 2013



      BANYAK yang menduga bahwa perdamaian di Aceh telah berhasil meredam peperangan antara pemerintahan Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Proses perdamaian yang dirajut sebelum 15 Agustus 2005, memang selalu berada pada ujung kegagalan. Sehingga operasi militer paska-DOM malah lebih banyak menyisakan duka nestapa masyarakat Aceh, terutama Darurat Militer (DM) yang dilakukan pada era pemerintahan Megawati. Karena itu, keberhasilan MoU Helsinki dipandang sebagai puncak sejarah kekerasan di Aceh dalam wujud peperangan. 


      Aceh memang telah akrab dengan perang sejak kedatangan penjajah (Portugis dan Belanda), revolusi sosial (ulama dan uleebalang), atas nama agama (DI/TII), dan etnik-nasionalisme (GAM). Rakyat Aceh tidak dapat keluar dari kemelut, walaupun paska-MoU Helsinki sendiri, kekerasan tidak lagi dimaknai sebagai upaya separatisme, tetapi dipandang sebagai tindak kriminal. Ini pada prinsipnya bukanlah ingin membuka duka nestapa sejarah separatisme di Aceh paska-MoU Helsinki, melainkan melihat apakah masih ada keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI?


      Fenomena paska-MoU
      Ada dua fenomena besar paska-MoU Helsinki yaitu para kombatan telah terintegrasi ke dalam kehidupan masyarakat dan para elite GAM yang pernah menetap di luar negeri juga telah kembali ke Aceh. Sebagian mereka telah menduduki beberapa posisi strategis di lembaga eksekutif dan legislatif yang ada di Aceh saat ini. Bahkan, durasi pertemuan para pejabat dari pemerintah pusat dalam menghadapi persoalan kekinian di Aceh lebih cenderung dilibatkan mereka, ketimbang perwakilan rakyat Aceh. Namun sayup-sayup untuk memisahkan diri dari NKRI masih terdengar. 


      Ada beberapa hasil wawancara responden yang menyebutkan bahwa pucuk pimpinan GAM sendiri, yakni Tgk Hasan di Tiro merasa dikhianati oleh pembantu dekatnya. Akibatnya, keinginan untuk memperkarakan kedudukan Aceh pada masyarakat internasional, dengan berbagai isu seperti pelanggaran HAM, kedudukan Aceh prakemerdekaan RI, dan tidak sahnya peran beberapa mantan elite GAM yang menjadi wakil dari perjuangan mereka di Aceh. Bahkan baru-baru ini telah muncul wacana Neo-GAM di kalangan mantan kombatan. 


      Setelah MoU Helsinki 15 Agustus 2005, di Aceh tidak ada lagi kata merdeka, melainkan istilah baru yang muncul yaitu damai. Walaupun harus diakui bahwa beberapa kali inisiatif perdamaian dilakukan, namun selalu berujung pada kegagalan. Damai pada 2005 ini memang sedikit banyak dipengaruhi oleh situasi Aceh paska-Tsunami 2004. Tahun 2005 menjadi titik akhir dari segala permusuhan antara Pemerintah RI-GAM. Mereka yang menetap di gunung turun ke kota. Mereka yang menetap di luar negeri kembali ke tanah endatu. 


      Pemerintah pun menciptakan beberapa slogan yang amat ampuh di dalam menyosialisasikan perdamaian yaitu Damai Itu Indah, Geutanyoe Mandum Meusyedara, Aceh Aman Ibadah Nyaman. Namun demikian, ujung dari segala aktifitas persaudaraan baru ini adalah Aceh tetap di bawah NKRI dan itu harga mati. Titik akhir ini menciptakan rasa percaya diri bagi eksponen GAM untuk pulang kampung. Mereka disambut seperti pahlawan. Berbagai cerita mengenai misteri perdamaian pun bermunculan, mulai dari lobi hingga perang urat syaraf ketika perundingan RI-GAM yang difasilitasi oleh CMI (Crisis Management Intitiative) di bawah pimpinan Martti Ahtisaari.


      Terlepas dari gejala perdamaian tersebut, paling tidak ada beberapa gejala yang menarik, ketika penelitian ini dilakukan yaitu beberapa mantan kombatan ketika diwawancarai menyanyikan lagu Meriam Bellina yang berbunyi “aku masih seperti yang dulu”. Nyanyian ini tentu saja dilantunkan dengan nada yang datar dan tidak dengan semangat patriotik. Di sini beberapa dari mereka ada yang menyebutkan bahwa perjuangan mereka belum selesai. Dan, keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI masih ada di dalam untaian lagu tersebut. 


      Tidak komprehensif
      Di sini ada beberapa pandangan didapatkan bahwa perdamaian yang dirajut ini sama sekali tidak melalui pengetahuan yang komprehensif dari pucuk pimpinan GAM, (alm) Tgk Hasan di Tiro. Para pembantu dekatnyalah yang berusaha merajut titik-titik perdamaian antara GAM dan RI. Bahkan, ada informasi ketika dia pulang ke Aceh, segala persiapan untuk “mengamankan” dia dari semua informasi yang kontraproduktif dilakukan. Maksudnya, dari informasi seorang elite GAM, dinyatakan bahwa Hasan di Tiro sama sekali tidak mengetahui akan proses perdamaian secara holistik.


      Inilah yang menyebabkan masih ada kelompok kecil yang memiliki semangat bahwa perdamaian ini merupakan bagian dari pengkhianatan terhadap perjuangan Hasan Tiro. Propaganda ini kemudian mendapat klarifikasi dari beberapa peristiwa selama dia berada di Banda Aceh. Bandera Merah Putih diturunkan di halaman masjid Raya Bayturrahman, supaya dia memahami bahwa situasi Aceh, sudah seperti yang diinginkannya selama 30 tahun lebih. 


      Selain itu, ada warga dari kerabatnya yang mencoba mendekati Hasan Tiro yang tidak dibolehkan, karena dikhawatirkan adanya saluran informasi yang keliru kepadanya. Setelah dia mengetahui bahwa Aceh belum merdeka, sakit yang melanda Hasan Tiro mulai kambuh. Menurut penuturan satu informan, Hasan Tiro tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui seluruh proses perdamaian. Karena itu, dia agak kaget ketika melihat masih ada Bendera Merah Putih yang dinaikkan di depan Masjid Raya Bayturrahman. 


      Selain itu, para pengikut setia Hasan Tiro menganggap bahwa tidak ada kata ‘damai’ di Aceh. Beberapa anggota kombatan memilih untuk tidak melibatkan diri di dalam proses sosial politik dan diplomasi yang dilakukan oleh elite GAM. Bagi kelompok ini, kata yang hendak dicapai dari perjuangan adalah ‘merdeka’, bukan ‘damai’. Karena itu, mereka selalu mengingatkan siapa pun untuk tetap setiap pada dasar perjuangan yang sudah digariskan oleh Hasan Tiro. 


      Sementara itu, terdapat pula kelompok yang kemudian berevolusi menjadi neo-GAM yang ingin terus berjuang agar Aceh merdeka. Kelompok neo-GAM ini tidak memiliki tokoh sekaliber Hasan Tiro. Namun mereka tetap melakukan konsolidasi internal bagi penguatan kekuatan GAM baru pada masa yang akan datang. Karena itu, lagu “aku masih seperti yang dulu” merupakan falsafah yang mereka ketengahkan. Bahkan beberapa kombatan setia ini tidak peduli dengan aktifitas diplomasi yang dilakukan oleh para eksponen GAM, baik di luar maupun di dalam negeri (baca: Jakarta).


      Kelompok tersebut kemudian juga melebur di dalam masyarakat. Mereka sama sekali tidak berkeinginan untuk mendapatkan manfaat dari perdamaian. Menurut satu informan dari kalangan mantan elite GAM, proses bagi-bagi uang, paska-MoU Helsinki sangat kuat sekali. Selain itu, mereka yang memiliki koneksi ke luar negeri, mampu melakukan berbagai lobi di tingkat pemerintahan untuk mendapatkan jatah dari setiap proyek yang berhasil mereka dapatkan. Proses pemisahan antarindividu di kalangan GAM memang dilakukan melalui dua cara, yaitu uang dan posisi di dalam struktur pemerintahan. 


      Adapun alasan lain mengapa muncul “aku masih seperti yang dulu” adalah disebabkan menurut beberapa mantan kombatan, perilaku mantan elite GAM ini sudah masuk pada kategori tidak sesuai dengan arah perjuangan yang digariskan oleh Hasan Tiro. Namun demikian, kelompok ini tidaklah mencuat secara dominan. Mereka bahkan memilih jalur masuk ke dalam setiap struktur organisasi yang dibentuk.


      Memahami strategi GAM
      Dari skema di atas, maka kelompok “aku masih seperti yang dulu” boleh jadi berada di dalam gerakan atau institusi di atas atau sebaliknya. Namun, secara garis besar skema itu menunjukkan tingkat perkembangan proses integrasi GAM di Aceh selama 8 tahun terakhir. Dapat dinyatakan bahwa 8 tahun terakhir ini, kombatan GAM beserta elitnya nyaris menguasai semua lini kekuasaan baik politik maupun ekonomi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kekuasaan politik dan ekonomi menjadi hal yang cukup penting dalam memahami strategi GAM paska-MoU Helsinki.


      Hampir semua lini kekuatan GAM paska-MoU Helsinki mendapatkan posisi dari struktur kekuasaan. Malek Mahmud diangkat menjadi Wali Nanggroe, Zaini Abdullah dipilih melalui PA sebagai Gubernur Aceh, Muzakir Manaf sebagai Ketua PA dan sekaligus sebagai Wakil Gubernur Aceh. Hampir semua elite lokal GAM berada pada posisi KPA, mulai di tingkat propinsi sampai sagoe. Beberapa anggota DPRA/K merupakan mantan atau yang diusung oleh PA. Kekuatan baru ini memperlihatkan bahwa GAM malah menunjukkan “aku tidak seperti yang dulu lagi”. 


      Proses perdamaian ini memberikan pelajaran penting, bagaimana kesatuan suara rakyat Aceh yang diwakilkan kepada GAM dikelola dengan baik oleh elite GAM dan pemerintah RI. Harus diakui bahwa tingkat ketidakpuasan sebagian orang Aceh pada situasi damai tidak sedikit, namun karena kekuatan ideologis dan proses self determination tidak dikelola dengan baik seperti era Hasan Tiro, maka permasalahan separatisme tidak lagi menjadi hal yang utama bagi kedua belah pihak. Sebab, proses mediasi dan diplomasi telah menutup semua kemungkinan bagi munculnya kekuatan baru di Aceh yang ingin memisahkan diri dari NKRI. 


      Penulis: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: abah.shatilla@...


      *Tulisan ini merupakan cuplikan makalah yang disampaikan penulis pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), di Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, pada 9 Juni 2013. | Sumber: Serambi |

      ---------------------------------------------------------------------
       
      The right to self-determination is well and still alive

      Tengku Hasan di Tiro: Keupeunténgan nasional atjèh hana lé lam pikéran ureuëng geutanjoë
      http://www.youtube.com/watch?v=rgDKzi... 

      Tengku Hasan di Tiro: Peuë makna Indonesiai njan ?
      http://www.youtube.com/watch?v=tQx4Cv... 

      Tengku Hasan di Tiro: Pakriban tapeu-ék seumangat njang karhet ?
      http://www.youtube.com/watch?v=TSOMK9... 

      Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh !
      http://www.youtube.com/watch?v=U8awek... 

      Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
      http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04... 

      Kepulangan Tengku Hasan di Tiro ke Aceh
      http://www.youtube.com/watch?v=-OJUf8...

      Tgk Hasan di Tiro: Gata ka djiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték!
      http://www.youtube.com/watch?v=vKVA4Z11O1Y

      Tgk Hasan di Tiro: Awak njan mandum ka pungo! Kadjitém seumah dan teurimong peurintah bak djawa gomblong!
      http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og

      Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép!
      http://www.youtube.com/watch?v=V4k4RV... 

      Tengku Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh kahabéh gadoh karakter dum




    • Acheh Watch
      ASNLF/AM Prihatin atas Kondisi Aceh Terkini Lhoksumawe – Aceh Sumatera National Liberation Front/Atjeh Meurdheka (ASNLF/AM) wilayah Samudera Pasè,
      Message 2 of 3 , Jun 22, 2013
      • 0 Attachment

        ASNLF/AM Prihatin atas Kondisi Aceh Terkini


        lambang acehLhoksumawe – Aceh Sumatera National Liberation Front/Atjeh Meurdheka (ASNLF/AM) wilayah Samudera Pasè, menyatakan prihatin atas kondisi sosial, ekonomi dan politik yang berlangsung dewasa ini, khususnya di wilayah Pasè dan Aceh pada umumnya.

        Hal tersebut diungkapkan oleh Abu Sumatra yang mengaku sebagai Juru Bicara Aceh Sumatera Nasional Liberation Front/Atjéh Meurdéhka (ASNLF/AM) Wilayah Samudera Pasè melalui siaran pers yang diterima wartawan, Jum’at (21/6/2013).

        Berikut kami tampilkan secara utuh siaran pers dimaksud;

        Aceh Sumatera National Liberation Front/Atjeh Meurdheka (ASNLF/AM) wilayah Samudera Pasè, menyatakan prihatin atas kondisi sosial, ekonomi dan politik yang berlangsung dewasa ini, khususnya di wilayah Pasè dan Aceh pada umumnya.

        Bahwa secara nyata terjadi kesenjangan di tengah- tengah masyarakat, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat dan di antara dua golongan tersebut seolah-olah terlihat ada diding penghalangnya, banyaknya pengangguran, kaum pemodal semakin kaya, eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam, kesenjangan sosial.

        Taraf hidup sebagian besar masyarakat tidak pernah meningkat, sementara ada kelompok rakyat larut dalam gelimang harta. Korban konflik Aceh khususnya anak yatim dan janda serta mantan kombatan GAM, terabaikan dan masih tidak merasakan indahnya reintegrasi, pasca MoU Helsinki yang telah berjalan selama delapan tahun.


        Kesenjangan sosial hari ini semakin memprihatinkan, pergaulan bebas dan narkoba marak di kalangan masyarakat, semua hal negatif demikian juga merupakan konsekuensi dari penetapan sistem asing di bumi Malikussaleh, jati diri hilang serta identitas kita sebagai suatu bangsa yang berperadaban pun memudar bahkan hampir hilang.

        Menurut ASNLF, hal ini bukan karena bangsa Aceh tidak memiliki kemampuan, akan tetapi lebih disebabkan oleh sistem penjajahan yang masih terus dilestarikan di atas bumi Aceh dan tidak terlepas dari ulah segelintir yang dipercaya oleh bangsa Aceh untuk berdiplomasi dengan pihak-pihak asing yang terkait, tega bertekuk lutut di depan kaum yang menzhalimi bangsa Aceh lalu mempertontonkannya kepada masyarakat internasional. Harkat, martabat dan kedaulatan sebagai hak seluruh rakyat yang dulunya dimiliki Aceh, kini nyatanya masih tergadaikan.


        Dengan dalih menjaga perdamaian, MoU dianggap sakral dan tidak dapat diganggu gugat yang nyata hari ini lebih menunjukkan keburukan ketimbang kebaikan, sementara pihak RI semakin melecehkan butir-butir yang terkandung dalam MoU Helsinki itu sendiri.

        Menjadikan MoU Helsinki sebagai seolah-olah kitab suci dari langit yang bisa memberikan kontribusi besar bagi bangsa Aceh untuk menuju hidup yang lebih baik dan sesuatu yang tidak bisa dirubah, menurut ASNLF penilaian tersebut adalah salah kaprah, bahkan sebaliknya justru telah mengkebiri hak asasi bangsa Aceh untuk menentukan nasib sendiri. Disamping itu, perlu untuk diketahui MoU tidak memiliki kekuatan berarti dalam tatanan hukum Internasional dan bukanlah suatu perjanjian (agreement) yang bersifat mengikat.

        Dengan demikian, tidak ada yang dapat diandalkan dan diharapkan dari MoU Helsinki oleh bangsa dan rakyat Aceh, malah semakin memecah belah persatuan yang telah terbentuk melalui perjuangan Aceh Merdeka. Oleh sebab itu, ASNLF/AM menghimbau kepada seluruh komponen bangsa Aceh untuk menyatukan visi dan misi yang sama dalam memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri dengan cara-cara yang sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat dan dibenarkan oleh hukum international.


        Tertanda:
        Juru Bicara Aceh Sumatera Nasional Liberation Front/Atjéh Meurdéhka (ASNLF/AM)
        Wilayah Samudera Pasè


        Abu Sumatra



         

        Monday, June 17, 2013



        BANYAK yang menduga bahwa perdamaian di Aceh telah berhasil meredam peperangan antara pemerintahan Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Proses perdamaian yang dirajut sebelum 15 Agustus 2005, memang selalu berada pada ujung kegagalan. Sehingga operasi militer paska-DOM malah lebih banyak menyisakan duka nestapa masyarakat Aceh, terutama Darurat Militer (DM) yang dilakukan pada era pemerintahan Megawati. Karena itu, keberhasilan MoU Helsinki dipandang sebagai puncak sejarah kekerasan di Aceh dalam wujud peperangan. 


        Aceh memang telah akrab dengan perang sejak kedatangan penjajah (Portugis dan Belanda), revolusi sosial (ulama dan uleebalang), atas nama agama (DI/TII), dan etnik-nasionalisme (GAM). Rakyat Aceh tidak dapat keluar dari kemelut, walaupun paska-MoU Helsinki sendiri, kekerasan tidak lagi dimaknai sebagai upaya separatisme, tetapi dipandang sebagai tindak kriminal. Ini pada prinsipnya bukanlah ingin membuka duka nestapa sejarah separatisme di Aceh paska-MoU Helsinki, melainkan melihat apakah masih ada keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI?


        Fenomena paska-MoU
        Ada dua fenomena besar paska-MoU Helsinki yaitu para kombatan telah terintegrasi ke dalam kehidupan masyarakat dan para elite GAM yang pernah menetap di luar negeri juga telah kembali ke Aceh. Sebagian mereka telah menduduki beberapa posisi strategis di lembaga eksekutif dan legislatif yang ada di Aceh saat ini. Bahkan, durasi pertemuan para pejabat dari pemerintah pusat dalam menghadapi persoalan kekinian di Aceh lebih cenderung dilibatkan mereka, ketimbang perwakilan rakyat Aceh. Namun sayup-sayup untuk memisahkan diri dari NKRI masih terdengar. 


        Ada beberapa hasil wawancara responden yang menyebutkan bahwa pucuk pimpinan GAM sendiri, yakni Tgk Hasan di Tiro merasa dikhianati oleh pembantu dekatnya. Akibatnya, keinginan untuk memperkarakan kedudukan Aceh pada masyarakat internasional, dengan berbagai isu seperti pelanggaran HAM, kedudukan Aceh prakemerdekaan RI, dan tidak sahnya peran beberapa mantan elite GAM yang menjadi wakil dari perjuangan mereka di Aceh. Bahkan baru-baru ini telah muncul wacana Neo-GAM di kalangan mantan kombatan. 


        Setelah MoU Helsinki 15 Agustus 2005, di Aceh tidak ada lagi kata merdeka, melainkan istilah baru yang muncul yaitu damai. Walaupun harus diakui bahwa beberapa kali inisiatif perdamaian dilakukan, namun selalu berujung pada kegagalan. Damai pada 2005 ini memang sedikit banyak dipengaruhi oleh situasi Aceh paska-Tsunami 2004. Tahun 2005 menjadi titik akhir dari segala permusuhan antara Pemerintah RI-GAM. Mereka yang menetap di gunung turun ke kota. Mereka yang menetap di luar negeri kembali ke tanah endatu. 


        Pemerintah pun menciptakan beberapa slogan yang amat ampuh di dalam menyosialisasikan perdamaian yaitu Damai Itu Indah, Geutanyoe Mandum Meusyedara, Aceh Aman Ibadah Nyaman. Namun demikian, ujung dari segala aktifitas persaudaraan baru ini adalah Aceh tetap di bawah NKRI dan itu harga mati. Titik akhir ini menciptakan rasa percaya diri bagi eksponen GAM untuk pulang kampung. Mereka disambut seperti pahlawan. Berbagai cerita mengenai misteri perdamaian pun bermunculan, mulai dari lobi hingga perang urat syaraf ketika perundingan RI-GAM yang difasilitasi oleh CMI (Crisis Management Intitiative) di bawah pimpinan Martti Ahtisaari.


        Terlepas dari gejala perdamaian tersebut, paling tidak ada beberapa gejala yang menarik, ketika penelitian ini dilakukan yaitu beberapa mantan kombatan ketika diwawancarai menyanyikan lagu Meriam Bellina yang berbunyi “aku masih seperti yang dulu”. Nyanyian ini tentu saja dilantunkan dengan nada yang datar dan tidak dengan semangat patriotik. Di sini beberapa dari mereka ada yang menyebutkan bahwa perjuangan mereka belum selesai. Dan, keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI masih ada di dalam untaian lagu tersebut. 


        Tidak komprehensif
        Di sini ada beberapa pandangan didapatkan bahwa perdamaian yang dirajut ini sama sekali tidak melalui pengetahuan yang komprehensif dari pucuk pimpinan GAM, (alm) Tgk Hasan di Tiro. Para pembantu dekatnyalah yang berusaha merajut titik-titik perdamaian antara GAM dan RI. Bahkan, ada informasi ketika dia pulang ke Aceh, segala persiapan untuk “mengamankan” dia dari semua informasi yang kontraproduktif dilakukan. Maksudnya, dari informasi seorang elite GAM, dinyatakan bahwa Hasan di Tiro sama sekali tidak mengetahui akan proses perdamaian secara holistik.


        Inilah yang menyebabkan masih ada kelompok kecil yang memiliki semangat bahwa perdamaian ini merupakan bagian dari pengkhianatan terhadap perjuangan Hasan Tiro. Propaganda ini kemudian mendapat klarifikasi dari beberapa peristiwa selama dia berada di Banda Aceh. Bandera Merah Putih diturunkan di halaman masjid Raya Bayturrahman, supaya dia memahami bahwa situasi Aceh, sudah seperti yang diinginkannya selama 30 tahun lebih. 


        Selain itu, ada warga dari kerabatnya yang mencoba mendekati Hasan Tiro yang tidak dibolehkan, karena dikhawatirkan adanya saluran informasi yang keliru kepadanya. Setelah dia mengetahui bahwa Aceh belum merdeka, sakit yang melanda Hasan Tiro mulai kambuh. Menurut penuturan satu informan, Hasan Tiro tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui seluruh proses perdamaian. Karena itu, dia agak kaget ketika melihat masih ada Bendera Merah Putih yang dinaikkan di depan Masjid Raya Bayturrahman. 


        Selain itu, para pengikut setia Hasan Tiro menganggap bahwa tidak ada kata ‘damai’ di Aceh. Beberapa anggota kombatan memilih untuk tidak melibatkan diri di dalam proses sosial politik dan diplomasi yang dilakukan oleh elite GAM. Bagi kelompok ini, kata yang hendak dicapai dari perjuangan adalah ‘merdeka’, bukan ‘damai’. Karena itu, mereka selalu mengingatkan siapa pun untuk tetap setiap pada dasar perjuangan yang sudah digariskan oleh Hasan Tiro. 


        Sementara itu, terdapat pula kelompok yang kemudian berevolusi menjadi neo-GAM yang ingin terus berjuang agar Aceh merdeka. Kelompok neo-GAM ini tidak memiliki tokoh sekaliber Hasan Tiro. Namun mereka tetap melakukan konsolidasi internal bagi penguatan kekuatan GAM baru pada masa yang akan datang. Karena itu, lagu “aku masih seperti yang dulu” merupakan falsafah yang mereka ketengahkan. Bahkan beberapa kombatan setia ini tidak peduli dengan aktifitas diplomasi yang dilakukan oleh para eksponen GAM, baik di luar maupun di dalam negeri (baca: Jakarta).


        Kelompok tersebut kemudian juga melebur di dalam masyarakat. Mereka sama sekali tidak berkeinginan untuk mendapatkan manfaat dari perdamaian. Menurut satu informan dari kalangan mantan elite GAM, proses bagi-bagi uang, paska-MoU Helsinki sangat kuat sekali. Selain itu, mereka yang memiliki koneksi ke luar negeri, mampu melakukan berbagai lobi di tingkat pemerintahan untuk mendapatkan jatah dari setiap proyek yang berhasil mereka dapatkan. Proses pemisahan antarindividu di kalangan GAM memang dilakukan melalui dua cara, yaitu uang dan posisi di dalam struktur pemerintahan. 


        Adapun alasan lain mengapa muncul “aku masih seperti yang dulu” adalah disebabkan menurut beberapa mantan kombatan, perilaku mantan elite GAM ini sudah masuk pada kategori tidak sesuai dengan arah perjuangan yang digariskan oleh Hasan Tiro. Namun demikian, kelompok ini tidaklah mencuat secara dominan. Mereka bahkan memilih jalur masuk ke dalam setiap struktur organisasi yang dibentuk.


        Memahami strategi GAM
        Dari skema di atas, maka kelompok “aku masih seperti yang dulu” boleh jadi berada di dalam gerakan atau institusi di atas atau sebaliknya. Namun, secara garis besar skema itu menunjukkan tingkat perkembangan proses integrasi GAM di Aceh selama 8 tahun terakhir. Dapat dinyatakan bahwa 8 tahun terakhir ini, kombatan GAM beserta elitnya nyaris menguasai semua lini kekuasaan baik politik maupun ekonomi. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kekuasaan politik dan ekonomi menjadi hal yang cukup penting dalam memahami strategi GAM paska-MoU Helsinki.


        Hampir semua lini kekuatan GAM paska-MoU Helsinki mendapatkan posisi dari struktur kekuasaan. Malek Mahmud diangkat menjadi Wali Nanggroe, Zaini Abdullah dipilih melalui PA sebagai Gubernur Aceh, Muzakir Manaf sebagai Ketua PA dan sekaligus sebagai Wakil Gubernur Aceh. Hampir semua elite lokal GAM berada pada posisi KPA, mulai di tingkat propinsi sampai sagoe. Beberapa anggota DPRA/K merupakan mantan atau yang diusung oleh PA. Kekuatan baru ini memperlihatkan bahwa GAM malah menunjukkan “aku tidak seperti yang dulu lagi”. 


        Proses perdamaian ini memberikan pelajaran penting, bagaimana kesatuan suara rakyat Aceh yang diwakilkan kepada GAM dikelola dengan baik oleh elite GAM dan pemerintah RI. Harus diakui bahwa tingkat ketidakpuasan sebagian orang Aceh pada situasi damai tidak sedikit, namun karena kekuatan ideologis dan proses self determination tidak dikelola dengan baik seperti era Hasan Tiro, maka permasalahan separatisme tidak lagi menjadi hal yang utama bagi kedua belah pihak. Sebab, proses mediasi dan diplomasi telah menutup semua kemungkinan bagi munculnya kekuatan baru di Aceh yang ingin memisahkan diri dari NKRI. 


        Penulis: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: abah.shatilla@...


        *Tulisan ini merupakan cuplikan makalah yang disampaikan penulis pada International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), di Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, pada 9 Juni 2013. | Sumber: Serambi |

        ---------------------------------------------------------------------
         
        The right to self-determination is well and still alive

        Tengku Hasan di Tiro: Keupeunténgan nasional atjèh hana lé lam pikéran ureuëng geutanjoë
        http://www.youtube.com/watch?v=rgDKzi... 

        Tengku Hasan di Tiro: Peuë makna Indonesiai njan ?
        http://www.youtube.com/watch?v=tQx4Cv... 

        Tengku Hasan di Tiro: Pakriban tapeu-ék seumangat njang karhet ?
        http://www.youtube.com/watch?v=TSOMK9... 

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh !
        http://www.youtube.com/watch?v=U8awek... 

        Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
        http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04... 

        Kepulangan Tengku Hasan di Tiro ke Aceh
        http://www.youtube.com/watch?v=-OJUf8...

        Tgk Hasan di Tiro: Gata ka djiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték!
        http://www.youtube.com/watch?v=vKVA4Z11O1Y

        Tgk Hasan di Tiro: Awak njan mandum ka pungo! Kadjitém seumah dan teurimong peurintah bak djawa gomblong!
        http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og

        Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép!
        http://www.youtube.com/watch?v=V4k4RV... 

        Tengku Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh kahabéh gadoh karakter dum






      • Acheh Watch
        “Statement Wagub Kurang Cerdas” (Oleh: Ghazali Abbas Adan) http://atjehlink.com/statement-wagub-kurang-cerdas/ ...   The right to self-determination is
        Message 3 of 3 , Jun 30, 2013
        • 0 Attachment

          “Statement Wagub Kurang Cerdas”

          (Oleh: Ghazali Abbas Adan)


          --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
           
          The right to self-determination is well and still alive

          Tengku Hasan di Tiro: Keupeunténgan nasional atjèh hana lé lam pikéran ureuëng geutanjoë
          http://www.youtube.com/watch?v=rgDKzi... 

          Tengku Hasan di Tiro: Peuë makna Indonesiai njan ?
          http://www.youtube.com/watch?v=tQx4Cv... 

          Tengku Hasan di Tiro: Pakriban tapeu-ék seumangat njang karhet ?
          http://www.youtube.com/watch?v=TSOMK9... 

          Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh !
          http://www.youtube.com/watch?v=U8awek... 

          Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
          http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04... 

          Kepulangan Tengku Hasan di Tiro ke Aceh
          http://www.youtube.com/watch?v=-OJUf8...

          Tgk Hasan di Tiro: Gata ka djiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték!
          http://www.youtube.com/watch?v=vKVA4Z11O1Y

          Tgk Hasan di Tiro: Awak njan mandum ka pungo! Kadjitém seumah dan teurimong peurintah bak djawa gomblong!
          http://www.youtube.com/watch?v=9kFTIbL48Og

          Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép!
          http://www.youtube.com/watch?v=V4k4RV... 

          Tengku Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh kahabéh gadoh karakter dum







        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.