Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
Skip to search.
 

PENEGASAN ASNLF/AM WILAYAH PASEE TERHADAP PENGESAHAN QANUN BENDERA DAN LAMBANG

Expand Messages
  • DARAH SYUHADA
    PENEGASAN ASNLF/AM WILAYAH PASEE TERHADAP PENGESAHAN QANUN BENDERA DAN LAMBANG Lhokseumawe-ANP: Dalam releas yang di kirim oleh juru bicara ASNLF Wilayah
    Message 1 of 111 , Mar 25, 2013
      bendra gam

      Lhokseumawe-ANP: Dalam releas yang di kirim oleh juru bicara ASNLF Wilayah Pasee, Abu Sumatera, Senin, 25 Maret 2013, menanggapi tentang pengesahan Qanun Acheh tentang bendera dan lambang yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Acheh (DPRA), jum’at malam, 22 Maret 2013, maka ASNLF/AM Wilayah Pasee kembali menegaskan bahwa kejadian tersebut adalah satu dari sekian banyak masalah yang ditimbulkan oleh MoU Helsinki 2005.

       
      Menurut pengamatan ASNLF/AM kesepahaman tersebut jauh melenceng dan bertolak belakang dengan isi surat pernyataan Acheh Merdeka 4 Desember 1976 yang dibacakan sendiri oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro.

      Sehingga jelas perbedaan antara Netherlands East Indie (NKRI) dan Acheh pada hari tersebut sekaligus melantik kabinet pertama semenjak kekosongan pemerintahan Negara Acheh.

      Selama 85 Tahun dan di saat itu pula Bendera Bintang Bulan resmi dikibarkan dengan menambahkan garis hitam-putih sebagai makna mengenang jasa para Syuhada dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dan Agama dari segala bentuk penjajahan serta tetap mengikuti pada jalan suci mereka sebagai arah dari semua bentuk perjuangan dalam menjalankan kehidupan bernegara yang berdaulat dan merdeka.

      Lanjutnya, Berkenaan dengan beberapa hari ini, terlihat perilaku para wakil rakyat dalam mengupayakan sehingga di sahkannya sebuah Qanun Bendera dan Lambang untuk provinsi Acheh.

      “ Dengan menjadikan bendera resmi dari pernyataan kembali kemerdekaan Acheh sejak 1976, maka sangatlah mudah untuk di ambil pelajaran tentang betapa rapuhnya kesadaran bernegara dan berbangsa,” ungkap Abu Sumatera dalam releasnya.

      Tambahnya, pada diri seseorang baik sebagai wakil rakyat perpanjangan tangan Indonesia di bumi Acheh maupun dari masyarakat awam yang menilai kejadian pengesahan tersebut adalah kembalinya kedaulatan Acheh, dikatakan masalah yang timbul dari MoU Helsinki karena kesepahaman MoU dalam hal ini butir 1.1.5 terlebih dahulu di tuangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Acheh yaitu pasal 246 dan Pasal 247 yang menjelaskan bendera tersebut adalah bendera daerah Acheh cermin keistimewaan dan kekhususan bukan merupakan simbol kedaulatan.

       
      Kendati, Sangat di sayangkan, setelah berabad-abad jutaan rakyat dan pejuang Acheh bersimbah darah mejemput syahid demi kembalinya kedaulatan negeri dan agamanya kembali di sia-siakan oleh segelintir manusia yang menganggap murah akan arti sebuah kedaulatan, dan kami mengingatkan kepada rakyat Acheh agar tidak salah menafsir tentang pengesahan tersebut.


      “ Dan perlu untuk di ketahui bahwa sesuai dengan mekanisme pemerintahan otonomi khusus, segala pengesahan Qanun (Perda) suatu daerah perlu di ajukan kembali kepada Kemendagri RI di Jakarta untuk dipertimbangkan selanjutnya dipersetujukan kepada Presiden. Begitu juga terhadap Qanun Bendera dan Lambang Acheh tetap melalui prosesing demikian,” ujar Abu Sumatera.
       

      Maka tidak ada euforia dalam menyambut pengesahan tersebut kecuali kesadaran kehidupan bernegara dan berbangsanya telah hilang dan kegembiraan tersebut secara tidak langsung mempertegas diri kembali menjadi hamba sahaya yang kapan dan di mana saja oleh tuannya bisa untuk menzhaliminya.( Pangwa)

      =============================================
      WN: Njang paléng bahaja keu geutanjoë uroë njoë 

      WN: Gata kadjiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték

      WN: Soë njang djeuët takheun musôh dan pengkhianat ?

      Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

      Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

      Acheh Sumatra National Liberation Front








    • DARAH SYUHADA
      Pasca Pengesahan Qanun Bendera Aceh, Abu Sumatera Tunding DPRA Pengkhianat
      Message 111 of 111 , Mar 25, 2013
        Lhokseumawe-ANP : Panglima wilayah pasee, ASNLF-AM, Abu Sumatera, seyogyanya menuding anggota DPRA Aceh adalah pengkhianat bangsa. Pasalnya, pengesahan Qanun Bendera Aceh berlambang bulan bintang Sabtu 23 Maret 2013 dinilai telah menyalahi komitmen dan sumpah sejarah perjuangan Aceh.

        Menurut Abu Sumatera, kebijakan DPRA Aceh mengesahkan Qanun bendera berlambang bintang, itu murni untuk kepentingan kelompok tertentu. Sayangnya, demi kepentingan kelompoknya rela mengorbankan bangsa Aceh. Dimana, bendera yang disahkan itu lebih rendah dari pada bendera RI karena pengibarannya setelah merah putih baru dibawahnya bendera berlambang bulan bintang.

        Dia menambahkan, nah....! secara terang-terangan kebijakan DPRA aceh telah merendahkan wibawa bangsa aceh dan melawan dengan perjanjian Aceh Merdeka. Karena dalam komitmen perjuangan bahwa bendera aceh harus setingkat dengan bendera seperti negara lainnya. Tetapi, kenapa hari ini bendera pusaka bangsa telah dipermainkan oleh sekelompok orang demi meraih kepentinganya dan rela menjual Aceh kepada pemerintah RI.

        Itu sebabnya, kami atas nama ASNLF wilayah pase tetap menyatakan Aceh tidak ada istilah tawar menawar kecuali Merdeka. Maka mari semua bangsa untuk bersatu padu, satu arah, satu tujuan memperjuangkan kemerdekaan di bumi aceh dari tangan penjajah, yang kini telah dikuasai oleh kelompok tertentu , harap Abu Sumatera. (Redaksi)
         

         
        *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"
        *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"
         
         

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

        Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

        Acheh Sumatra National Liberation Front

        WN: Gata kadjiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték

        WN: Soë njang djeuët takheun musôh dan pengkhianat ?

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

        Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

        Acheh Sumatra National Liberation Front

        WN: Njang paléng bahaja keu geutanjoë uroë njoë 

        WN: Gata kadjiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték

        WN: Soë njang djeuët takheun musôh dan pengkhianat ?

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

        Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

        Acheh Sumatra National Liberation Front

















      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.