Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Dahlan Iskan Dihujani Curhatan Guru dan Siswa Daerah Terpencil + Butuh 270 Tahun, Baru Maluku Terang

Expand Messages
  • Sunny
    Ref: Siwa dan guru daerah terpencil dibawa ke Jakarta untuk mengajukan pertanyaan? Agaknya, tak dapat diragukan bahwa solusi dari masalah yang diajukan memakan
    Message 1 of 1 , Mar 11, 2013
    • 0 Attachment
      Ref: Siwa dan guru daerah terpencil dibawa ke Jakarta untuk mengajukan pertanyaan? Agaknya, tak dapat diragukan bahwa solusi dari masalah yang diajukan memakan waktu seperti listrik di Maluku.
       
      UMAT, 08 Maret 2013 | 507 Hits
      Dahlan Iskan Dihujani Curhatan Guru dan Siswa Daerah Terpencil
       
      Jakarta, AE— Menteri BUMN Dahlan Iskan menghadiri pertemuan dengan ratusan guru dan siswa daerah terpencil di kantornya untuk memberikan bantuan dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Dahlan dihujani curhatan guru dan siswa seputar masalah pendidikan.

      iapa yang mau bertanya kepada saya?” tanya Dahlan kepada guru dan siswa di kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (7/3/2013).

      Menanggapi Dahlan, dengan cepat guru dan siswa mengangkat tangan dan langsung bertanya kepada mantan Dirut PLN ini. Banyak di antara mereka yang mengeluhkan fasilitas sekolah yang tidak layak untuk dihuni puluhan siswa untuk belajar. Lalu bagaimana tanggapan Dahlan ?
      “Rasanya ada program revitalisasi dan pembangunan sekolah di program Kemendikbud. Karena ada anggaran pendidikan sebesar Rp 320 triliun. Saya akan cek nanti di Kemendikbud dan saya akan bilang ke menterinya,” tegas Dahlan.

      Kemudian Dahlan juga mengomentari keluhan guru dan siswa dari Papua, Ketapang, dan Simeuleu (Aceh) terkait masalah listrik dan internet.

      “Kemarin kami rapat di Menko agar PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) diprioritaskan di Timur Indonesia bukan di Pulau Jawa. Saya akan sampaikan keluhan ini di Menteri ESDM. Untuk internet saya minta Telkom atasi ini. Ini gampang untuk Telkom, karena mereka labanya Rp 13 triliun,” ujarnya.
      Kemudian di akhir kalimat, Dahlan mengingatkan, untuk berprestasi ia tidak percaya dengan faktor tempat. Menurutnya di manapun kita berada, kita bisa berprestasi.

      “Apakah permintaan bisa dipenuhi, yang penting ke sini dulu (Jakarta), bukan untuk merasa rendah diri. Seharusnya bangga kami datang dari pulau terpencil dan jauh datang ke sini. Untuk bisa beprestasi bisa di manapun tempatnya dan saya tidak percaya tempat menentukan prestasi. Kepada siswa yang mempunyai prestasi harus mempunyai kelakukan yang baik agar masa depannya pasti cerah,” cetusnya.(dtc)
      ++++
       
      Butuh 270 Tahun, Baru Maluku Terang
       
      AMBON,AE.- Keterbelakangan di Maluku masih tetap nampak, meski pemerintah telah mengklaim berhasil menurunkan tingkat kemiskinan jauh dari angka saat konflik kemanusiaan tahun 1999 lalu.

      Ketidaktersediaan fasilitas pendidikan yang memadai, dan fasilitas penerangan atau listerik terbatas membuat tingkat kesejahteraan masyarakat masih jauh dari harapan.

      Sejak menyatakan bersama Indonesia tahun 1945 silam, hingga kini masih banyak masyarakat di desa-desa tidak pernah merasakan manfaat dari listerik sebagai sarana multi fungsi. Pasalnya dari 1024 desa di Maluku, sebanyak 270 desa tidak pernah dialiri aliran listerik melalui Perusahaan Listerik Negara. Kalau pun ada, masyarakat tidak bisa menggunakan sepanjang 24 jam.

      Temuan ini didasarkan pada hasil inventarisasi yang dilakukan Dinas Enegri dan Sumberdaya Mineral (ESDM). “Sesuai hasil inventarisasi yang dilakukan Dinas ESDM, kurang lebih 270 desa yang ada di Maluku belum teraliri listrik,” ungkap Kepala Dinas ESDM Maluku Martha Nanlohy kepada koran ini pekan, kemarin.

      Desa–desa tersebut tersebar di hampir semua kabupaten/kota yakni Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat (MTB), Maluku Barat Daya, Aru, Buru Selatan, Seram Bagian Timur, Seram Bagian Barat (SBB), dan Maluku Tengah. Kecuali Kota Ambon yang semua desa sudah teraliri listerik.

      Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah telah membangun komunikasi dengan pemerintah pusat termasuk PLN. Tahun ini, Dinas ESDM Maluku mendapatkan bantuan listrik masuk desa dari PT PLN Pusat. “Bantuannya sebanyak 53 desa. Ini direalisasikan setelah kita dengan komisi D DPRD Maluku ke Jakarta untuk menemui Direktur Utama PT PLN Pusat. Kita kebagian bantuan untuk 53 desa dan itu telah diproses. Mudahan-mudahan dalam waktu dekat bisa teraliri listrik,” ungkapnya.

      Kendati telah mendapatkan bantuan listrik untuk 53 desa di Maluku, Nanlohy mengaku belum sepenuhnya desa-desa di Maluku teraliri listrik. “Kita masih punya 270 desa lagi yang belum teraliri listrik. Kita harus upayakan agar desa-desa di Maluku ini semuanya harus diteraliri listrik,” sebutnya.
      Untuk program listrik masuk desa tidak dianggarkan dari APBN, semuanya dibebankan kepada APBD Provinsi Maluku. Kalau APBD Maluku satu tahun hanya bisa untuk satu desa. Karena itu kalau ada 270 desa lebih, otomatis 270 tahun lagi kedepan baru seluruh desa di Maluku bisa teraliri listrik.

      “Satu tahun kita hanya bisa bikin satu desa. Bayangkan saja, kalau ada 270 desa yang belum, otomatis 270 tahun kedepan baru semua desa bisa teraliri listrik,” pungkasnya.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.