Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kabinet dan Parlemen Kian Disorientasi

Expand Messages
  • Sunny
    Ref: Sebentar lagi sudah tahun 2014, berakhirlah masa jabatan, jadi buat apa merepotkan diri dengan segala macam taik kucing, tidak hadir pada sidang atau
    Message 1 of 1 , Jan 3, 2013
    • 0 Attachment
      Ref: Sebentar lagi sudah tahun 2014, berakhirlah masa jabatan, jadi buat apa merepotkan diri dengan segala macam taik kucing, tidak hadir pada sidang atau tidak berorientasi pun tetap gaji, tunjangan etc dibayar, alangkah indah menjadi wakil rakyat yang dibodohi.
       
       
      Kabinet dan Parlemen Kian Disorientasi
      Ruhut Ambarita | Kamis, 03 Januari 2013 - 15:58:14 WIB
      : 45

      (dok/SH)
      Perilaku elite di kabinet dan parlemen tahun 2013, akan lebih mengedepankan politik pencitraan.

      JAKARTA - Setahun menjelang Pemilu 2014, kinerja pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 dan parlemen periode 2009-2014 diperkirakan semakin mengalami disorientasi.

      Menteri-menteri, terutama yang berasal dari partai dan politikus di parlemen, akan lebih sibuk mengejar citra ketimbang bekerja.

      Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Malikussaleh Aceh, Teuku Kemal Fasya dan Rudi Rohi dari Universitas Nusa Cendana Kupang. Mereka dihubungi SH secara terpisah dari Jakarta, Rabu (2/1) malam.

      "Distorsi akan semakin besar pada tahun 2014. Semua (elite politik di kabinet dan parlemen) akan melupakan posisi mereka sebagai pilar demokrasi," kata Kemal. Perilaku elite di kabinet dan parlemen tahun 2013, lanjutnya, akan lebih mengedepankan politik pencitraan ketimbang politik kinerja.

      Sejak awal pemerintahan, Kemal mengatakan, sebetulnya telah diketahui bahwa postur politik yang dibangun bukan untuk meningkatkan politik kinerja. Apalagi telah sejak lama, kata dia, budaya politik yang dijalankan para elite telah lepas dari keteladanan. Elitisme dan politik pencitraan lebih mengemuka.

      Oleh karena itu, Kemal memperkirakan korupsi politik dan politik uang akan semakin menggejala pada 2013. Partai-partai, kata dia, akan menjadikan tahun ini sebagai momentum untuk meraup uang sebanyak-banyaknya demi meraih kekuasaan dalam Pemilu 2014.

      Rudi menambahkan, korupsi uang yang kian menggila jelang pemilu sudah bukan lagi rahasia. Itu karena, kata dia, semua kekuatan politik akan dikerahkan demi meraih kemenangan dalam Pemilu 2014.

      Itu mengapa, ia mengatakan, disorientasi kinerja pemerintahan dan parlemen tidak mungkin dihindari pada 2013. Apalagi, kata dia, rezim pemerintahan saat ini telah sejak awal dibangun oleh kekuatan politik yang korup. Malah, ia menilai, kinerja pemerintahan periode ini lebih buruk dari sebelumnya.

      Ia memperkirakan, rezim korupsi yang telah berhasil mengonsolidasikan kekuatannya menjadi kekuatan yang populis akan semakin merajalela pada 2013. "Rezim korupsi telanjur sangat kuat dan (pada sisi lain) mereka (bakal) menjalankan politik yang populis," ujarnya.

      Di sisi lain, lanjutnya, parlemen yang sejak awal tidak serius menjalankan kontrolnya justru akan semakin melebur menjadi bagian dari rezim tersebut. Politikus di parlemen, kata dia, membutuhkan uang sebagai sumber pendanaan Pemilu 2014.

      Rakyat Selamatkan Negara

      Beathor Suryadi dari Konsolidasi Demokrasi Indonesia (KDI) menegaskan bahwa mustahil pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dapat memperbaiki kinerja pemerintahan dalam waktu satu tahun ke depan. Pelayanan publik akan merosot bersamaan dengan rapuh dan pecahnya kabinet yang berisi menteri-menteri dari partai politik.

      “Menuntut pemerintah untuk memperbaiki kinerja adalah sia-sia. Semua pemimpin termasuk Pak SBY dan Boediono akan konsentrasi mengurus kepentingannya masing masing menghadapi 2014,” ujarnya.

      Menurutnya ini saatnya rakyat yang sadar mempersiapkan diri menyelamatkan negara ini dari kebangkrutan ekonomi dan politik lebih dalam lagi. Seluruh elemen masyarakat mahasiswa, buruh, tani, kaum miskin kota, akademikus, dan perempuan harus bersatu untuk mengonsolidasikan diri mengambil alih tanggung jawab negara.

      “Semua partai dan politikus di DPR telah mengkhianati rakyat dan tidak akan bisa menyelamatkan negeri ini. Sekarang tinggal rakyat yang bisa menyelamatkan negara ini, pada saat semua institusi negara macet dan lepas tangan dari tanggung jawab,” tegas aktivis 1998 ini. (Web Warouw)

      Sumber : Sinar Harapan
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.