Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Lembaga Wali Nanggroe bukan Lembaga Wali Negara

Expand Messages
  • Acheh Watch
    http://www.asnlf.org/index.php/asnlf-website-melaju/berita-aktual/siaran-pers-11112012/ Siaran Pers 11 November 2012 Lembaga Wali Nanggroe bukanLembaga Wali
    Message 1 of 111 , Nov 19, 2012
    View Source
    • 0 Attachment
      http://www.asnlf.org/index.php/asnlf-website-melaju/berita-aktual/siaran-pers-11112012/

      Siaran Pers
      11 November 2012

      Lembaga Wali Nanggroe bukan Lembaga Wali Negara

      Mengkritisi penyimpangan sejarah yang terjadi akibat rencana pembentukan lembaga Wali Nanggroe di Aceh, ASNLF menegaskan bahwa:


      Tidak ada hubungan apapun antara Lembaga Wali Negara yang merujuk pada sejarah dan budaya bangsa Aceh, yang terakhir kali dipegang oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm), dengan lembaga “Wali Nanggroe” produk Helsinki yang sedang dipersengketakan oleh banyak pihak di Aceh akhir-akhir ini.


      Dalam buku “The Price of Freedom”, Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) telah menjelaskan, apa yang dimaksud dengan Wali Negara dan kenapa beliau menyebutkan dirinya sebagai wali. Istilah “Wali” diibaratkan seperti seorang anak kecil yang kehilangan orang tuanya, sementara dia belum dewasa. Sebagai pengganti orang tuanya diperlukan seorang Wali untuk menjaga dan melindungi dirinya. Demikianlah halnya dalam kasus negara Aceh, yang akan dijelaskan dalam alasan historis berikut ini.


      Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Wali Negara adalah wujud dari deklarasi kembali kemerdekaan Aceh 4 Desember 1976, dimana Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) mengkaitkan dengan jejak sejarah panjang saat berlangsung perjuangan melawan serangan kerajaan Belanda pada tahun 1873.


      Ketika itu, tahun 1874, pemangku Sultan Aceh Muhammad Daudsyah masih berumur 9 tahun. Dalam kondisi Sultan yang belum memungkinkan untuk mengambil alih pemerintahan, dan mana kala negara Aceh dalam keadaan darurat, maka telah terjadi pemindahan kekuasaan dari Sultan Aceh kepada Tengku Muhammad Saman di Tiro. Estafet kepemimpinan Aceh ini dijalankan secara turun temurun oleh keluarga di Tiro hingga syahidnya Tengku Chik Maat di Tiro pada tanggal 3 Desember 1911.


      Pada tahun 1953, Tengku Muhammad Daud Beureuéh mendirikan gerakan Darul Islam, yang berlanjut pada pendirian Republik Islam Aceh ditahun 1961. Saat itu, beliau juga pernah ditetapkan sebagai Wali Negara Aceh.


      Sejarah berulang, pada tahun 1976, Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) dengan sebutan Wali Negara, mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh, sekaligus mendirikan front pembebasan bangsa Aceh Sumatra (National Liberation Front of Acheh Sumatra) atau lebih dikenal dengan Angkatan Atjèh Meurdéhka.


      Sejalan dengan waktu, sebutan Wali Negara semakin mengakar dalam masyarakat dengan semakin kuatnya gerakan perlawanan menentang penjajahan di atas bumi Aceh, terutama di tahun-tahun akhir hayatnya Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Tak dapat disanggah, bahwa beliau telah menjadi simbol pemersatu bangsa Aceh dalam perjuangan menuntut hak penentuan nasib sendiri.


      Berdasarkan fakta sejarah di atas, jelaslah bahwa Wali Negara adalah jabatan yang tak dapat dilepaskan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan kedaulatan Negara Aceh. Hal tersebut sangat bertentangan dengan rumusan lembaga Wali Nanggroe untuk memilih seorang pemimpin adat, sebagaimana tertuang dalam qanun lembaga tersebut. Sehingga kedua istilah ini tidak dapat disetarakan ataupun disama-artikan.


      Sejak Tengku Hasan Muhammad di Tiro wafat, belum ada seorang pun, baik yang berasal dari keturunan keluarga di Tiro maupun bukan, yang mengklaim dirinya sebagai pengganti Wali Negara dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Aceh. Meskipun demikian, perjuangan tersebut tetap dan masih terus dilanjutkan oleh pejuang-pejuang Aceh Merdeka yang bersatu dalam satu front pembebasan yang diwariskan oleh Wali Negara Teungku Hasan, yaitu Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF).


      Sebagaimana diketahui, sejak 1997 Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro telah berada dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan. Mengkaitkan “Wali Nanggroe” dalam NKRI dengan Wali-Wali Negara Aceh Merdeka, dari sisi kriteria apapun tidaklah berdasar. Tidak ada bukti keturunan ataupun dokumen pelimpahan kekuasaan Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro (alm) kepada pihak-pihak lain.


      Bahkan, patut dipertanyakan atas dasar hukum apa, oleh siapa, dimana dan kapan Malik Mahmud Al Haytar diangkat sebagai Wali Nanggroe, sebagaimana tertulis dalam qanun tersebut. Bahkan, ia tidak memenuhi syarat-syarat yang dapat diterima oleh nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Aceh. Apalagi ia secara terang-terangan telah melanggar amanah perjuangan kemerdekaan Aceh.


      Menyetarakan Wali Nanggroe dalam NKRI dengan Wali Negara Aceh Merdeka adalah sungguh suatu tindakan manipulasi untuk memutar balikkan fakta sejarah perjuangan bangsa Aceh. Oleh karena itu, ASNLF sama sekali tidak memiliki kepentingan apapun terhadap Lembaga Wali Nanggroe tersebut, apalagi lembaga itu bila hanya untuk memuaskan kepentingan segelintir elite politik dengan menghambur-hamburkan uang rakyat.


      Pembentukan lembaga Wali Nanggroe dan perangkat kelengkapannya akan berakibat pada pemborosan anggaran belanja. Sangatlah menyedihkan, di saat rakyat Aceh terhimpit dengan persoalan ekonomi untuk hidup sehari-hari, pihak-pihak yang mengatasnamakan wakil rakyat membentuk satu lembaga “super-power”, yang akan menyerap anggaran belanja tanpa makna apapun dalam pemberdayaan ekonomi rakyat, selain dari pada bermegah-megah di atas penderitaan rakyat.


      Terlebih lagi, situasi di Aceh membuktikan bahwa sengketa berkepanjangan dalam perumusan lembaga Wali Nanggroe telah pula mengorban hak-hak rakyat yang masih saja bergelut dalam konflik politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Anggota-anggota DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh), yang seharusnya menampung aspirasi masyarakat sesuai dengan tugas yang mereka pikul, malah mengabaikannya. 


      Perlakuan tersebut telah mencerminkan sistem tirani yang mereka anut sehingga menghambat terbangunnya nilai-nilai demokrasi, dan akan dapat memicu konflik baru dengan kemungkinan terjadinya pertumpahan darah sesama bangsa Aceh. Dan hal ini dapat dipastikan akan terjadi, kalau pihak Jakarta menyetujui qanun lembaga ini.


      Maka, ASNLF perlu menekankan sekali lagi betapa pentingnya jaminan kebebasan bagi rakyat Aceh dalam mengungkapkan pikiran secara terbuka baik dalam bentuk aksi protes, penyampaian petisi maupun aksi-aksi damai lainnya tanpa adanya ancaman ataupun rasa takut. Sebab hanya dengan jaminan atas hak-hak dasar berpolitik inilah rakyat Aceh berpeluang untuk berpartisipasi secara aktif dalam menentukan masa depan mereka. 


      Mencermati fenomena penindasan atas hak-hak dasar ini, ASNLF mengajak rakyat Aceh untuk serentak bangun dan menuntut hak-hak dasar tersebut dengan cara-cara yang dibenarkan. Penderitaan yang sedang menimpa bangsa kita sekarang tidak akan berakhir, tanpa adanya usaha-usaha yang keras dan berkelanjutan dari kita sendiri untuk merubah status quo yang ada.

      ===================================================


      Tengku Hasan di Tiro: gandjéthat, 'aébteuh lagoina peuë njang ka teudjadi di atjèh

      "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."
      http://www.asnlf.org/files/5513/4955/4638/SuAM_02.pdf


      Attachment(s) from Acheh Watch
      2 of 2 File(s)




      _

      _

    • DARAH SYUHADA
      Pasca Pengesahan Qanun Bendera Aceh, Abu Sumatera Tunding DPRA Pengkhianat
      Message 111 of 111 , Mar 25, 2013
      View Source
      • 0 Attachment
        Lhokseumawe-ANP : Panglima wilayah pasee, ASNLF-AM, Abu Sumatera, seyogyanya menuding anggota DPRA Aceh adalah pengkhianat bangsa. Pasalnya, pengesahan Qanun Bendera Aceh berlambang bulan bintang Sabtu 23 Maret 2013 dinilai telah menyalahi komitmen dan sumpah sejarah perjuangan Aceh.

        Menurut Abu Sumatera, kebijakan DPRA Aceh mengesahkan Qanun bendera berlambang bintang, itu murni untuk kepentingan kelompok tertentu. Sayangnya, demi kepentingan kelompoknya rela mengorbankan bangsa Aceh. Dimana, bendera yang disahkan itu lebih rendah dari pada bendera RI karena pengibarannya setelah merah putih baru dibawahnya bendera berlambang bulan bintang.

        Dia menambahkan, nah....! secara terang-terangan kebijakan DPRA aceh telah merendahkan wibawa bangsa aceh dan melawan dengan perjanjian Aceh Merdeka. Karena dalam komitmen perjuangan bahwa bendera aceh harus setingkat dengan bendera seperti negara lainnya. Tetapi, kenapa hari ini bendera pusaka bangsa telah dipermainkan oleh sekelompok orang demi meraih kepentinganya dan rela menjual Aceh kepada pemerintah RI.

        Itu sebabnya, kami atas nama ASNLF wilayah pase tetap menyatakan Aceh tidak ada istilah tawar menawar kecuali Merdeka. Maka mari semua bangsa untuk bersatu padu, satu arah, satu tujuan memperjuangkan kemerdekaan di bumi aceh dari tangan penjajah, yang kini telah dikuasai oleh kelompok tertentu , harap Abu Sumatera. (Redaksi)
         

         
        *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"
        *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"
         
         

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

        Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

        Acheh Sumatra National Liberation Front

        WN: Gata kadjiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték

        WN: Soë njang djeuët takheun musôh dan pengkhianat ?

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

        Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

        Acheh Sumatra National Liberation Front

        WN: Njang paléng bahaja keu geutanjoë uroë njoë 

        WN: Gata kadjiparôh lé djawa lagèë djiparôh iték

        WN: Soë njang djeuët takheun musôh dan pengkhianat ?

        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh

        Milad 4 Désèmbèr 2012 Uléh ASNLF Sagoë Malaja

        Acheh Sumatra National Liberation Front

















      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.