Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Begitu Sulitnya Mendorong Dialog Kepentingan Buruh-Perusahaan

Expand Messages
  • Sunny
    Ref: Mungkin pemerintah anti gerakan buruh dan juga kalangan buruh kurang bersatu untuk memajukan masalah kepentingan buruh misalnya perbaikan kondisi kerja,
    Message 1 of 1 , Nov 18, 2012
    • 0 Attachment
      Ref: Mungkin pemerintah anti gerakan buruh dan juga kalangan buruh kurang bersatu untuk memajukan masalah kepentingan buruh misalnya perbaikan kondisi kerja, keselamatan bekerja dan upah. Ada pendapat lain?
       
       
       
      Oleh : Manosor Panjaitan.
      Bangsa kita akan tetap dililit beragam permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kalau beberapa orang diantara kita tetap bersikukuh memperjuangakan egonya, hanya memikirkan yang terbaik menurut dirinya sendiri. Kenapa kita tidak belajar dari generasi terdahulu yang begitu membanggakan. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Hari Pahlawan 10 Nopember 1945 baru saja diperingati dengan segala kreasinya, namun kita tidak melakoni sikap luhur didalamnya: perjuangan untuk kebaikan bersama, kebaikan untuk bangsa dan negara.
      Menyikapi permasalahan perburuhan di tanah air, maka penulis menyumbangkan gagasan dengan maksud mendorong terciptanya sebuah dialog konstruktif yang akan menegakkan kembali pilar hubungan industrial. Latar belakang penulis yang merupakan bagian managemen sebuah perusahaan paling sedikit direspon baik sebagai sebuah aspirasi dari kalangan industri.

      Pengalaman penulis menemukan bahwa ada yang perlu dikoreksi oleh pihak buruh, dimana bila koreksi ini dilakukan dapat mendorong perusahaan untuk memenuhi tuntutan para buruh. Harus ada jual beli, maka muncullah gagasan tentang barter.

      Namun sayang, niat baik ini direspon emosional pemilik kebenaran (meminjam istilah Ahmad Yani, anggota DPR-RI). Emosi cenderung memunculkan subjektifitas setiap orang, membuatnya sulit objektif dalam menganalisis sebuah permasalahan. Subjektifitas pada akhirnya membuat setiap orang sulit menemukan "sedikit saja kebenaranan" dalam diri orang lain. Bila ini yang terjadi maka yang muncul adalah anarki. Itulah yang terjadi selama ini di negara tercinta kita ini.

      Arif

      Lewat artikel "Meminimalkan Monopoli Pengusaha" maka Ir. Fadmin Prihatin Malau, sang penulis berpetuah bahwa seorang penulis harus seperti Fadmin yakni arif dan cerdas dalam melihat akar masalah sehingga ditemukan solusi yang tepat dan dapat menemukan dimana titik kelemahan (kesalahan) itu untuk dilakukan perbaikan oleh pihak yang berkompeten. Tidak boleh melakukan pembelaan yang tanpa dasar akan tetapi membela berdasarkan data dan fakta faktual yang teruji.

      Penulisan artikel "Seyogianya Buruh Melakukan Barter" sesungguhnya adalah gagasan penulis yang nota bene masih ada dalam perut sebuah industri. Paling sedikit, ada suara hati, aspirasi dari dunia industri ditengah gencarnya opini publik yang didominasi buruh dan pemerhati buruh. Paling sedikit ini harus dianggap "bocoran soal" dari dunia industri, semestinya penulis diberi apresiasi.

      Lewat artikel ini maka pesan penulis adalah agar seluruh komponen bangsa ini mendorong buruh-perusahaan untuk membenahi dirinya masing-masing lalu duduk dalam meja perundingan, menata sebuah hubungan industrial yang sehat. Saling memahami bahwa masing-masing pihak memiliki hak dan kewajiban timbal balik.

      Boleh jadi, karena dituntun emosi maka Fadmin tidak membaca bahwa dalam pengantar "Seyogianya Buruh Melakukan Barter" penulis menitip pesan bahwa artikel itu bukan sebagai pembelaan. Terimalah itu sebagai aspirasi. Kalau ada gagasan yang oleh para pemilik kebenaran dianggap "salah" maka jelaskanlah dimana letak "dosa" gagasan tersebut.

      Ada pesan Fadmin kalau dirinya sudah lama malang melintang dalam dunia hubungan kerja sehingga harus dianggap sebagai seorang guru yang ulasannya harus diterima sebagai sebuah kebenaran. Pernah menjadi HRD, Media Relations, Public Relation, menjadi Manager Operasional. Ada komentar mengejutkan yang disampaikan lewat artikel ini bahwa: Dengan mengetahui sudah begitu lama dibesarkan oleh industri maka seharusnya Fadmin harus bisa menjembatani antara buruh dan perusahaan pada saat konflik perburuhan ini.

      Punya pengalaman menjadi managemen perusahaan dan menjadi aktivis perburuhan seharusnya bisa disinkronkan untuk membangun bangsa dan negara ini lewat penataan hubungan industrial di Indonesia. Ternyata jauh panggang dari api, Fadmin bukan seorang satria. Begitu turun dari singgasana ketenarannya dalam dunia industri, kini berbalik menjadi oposan, yang mengolok-olok almamaternya yang dulu dibangunnya.

      Akar Masalah

      Lewat artikel "Buruh, Mencari Solusi Kesejahteraan" maka penulisnya Muhammad Ishak sudah mewanti-wanti bahwa sumber konflik itu terletak pada ego masing-masing (buruh-perusahaan-pemerintah). Seharusnya ini menjadi pencerahan bagi pihak buruh-perusahaan dan juga untuk pemerintah sendiri.

      Ada yang harus dibenahi yakni, cobalah duduk bersama untuk menyusun disain hubungan industrial dimana masing-masing pihak memahami mereka memiliki hak dan kewajiban timbal balik. Kalau setiap pihak hanya menonjolkan ego masing-masing maka sampai kapanpun konflik perburuhan akan tetap ada.

      Tentang outsourcing sudah diinformasikan bahwa beberapa perusahaan memahaminya sebagai sebuah alternatif untuk bisa menjangkau buruh bermasalah, bukan sebatas upah murah. Lebih mudah menjangkau buruh bermasalah dalam sistim outsourcing daripada buruh perusahaan, inilah yang harus disikapi oleh seluruh komponen bangsa ini.

      Outsourcing seyogianya dihapuskan namun harus ada kondisi terbaru yang ditampilkan buruh pasca penghapusan outsourcing semisal, produktif, dan loyal. Dengan barter ini diharapkan bisa "memaksa" perusahaan untuk sampai pada sebuah pemahaman bahwa outsorcing harus ditinggalkan. Bukankah hidup ini harus saling memberi dan saling menerima.

      Membangun dialog kepentingan buruh-perusahaan, penting untuk dilakukan siapa saja dalam negeri ini. Atas dasar pemikiran inilah muncul gagasan penulis yang kebetulan masih ada dalam perut industri. Kebebasan mengeluarkan pendapat lisan dan tertulis dijamin oleh konstitusi. Kalau ada gagasan yang kurang berkenan maka harus dipatahkan lewat argumen membangun.

      Penulis mencoba menguraikan analisisnya tentang kondisi perburuhan berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakan agar bisa menjadi pertimbangan dalam menyelesaikan konflik perburuhan. Sangat mengejutkan ketika argumen ini dikomentari bahwa seseorang memiliki pengalaman yang melebihi siapapun karena pernah menjadi HRD, Manager dan lain-lain. Pertanyaannya adalah: apa relevansi antara gagasan yang disodorkan penulis dengan segudang kesuksesan Fadmin (jaman dulu).

      Ada banyak ulasan Fadmin yang harus digali lebih mendalam, termasuk tentang tentang sistem pemberdayaan manusia (pekerja/buruh). Menurutnya, HRD fokus menjadikan pekerja/buruh sebagai subjek, bukan sebagai objek. Sedangkan personalia fokus menjadikan pekerja/buruh sebagai objek.

      Subjek itu adalah setiap orang yang memiliki hak dan kewajiban, sedangkan objek hanya memiliki kewajiban semata. Contoh, mesin. Mesin itu adalah objek karena dia hanya menjalankan kewajiban yang diperintahkan. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah ada personalia perusahaan yang memperlakukan buruh hanya sebagai objek? Hanya dipandang sebagai pihak yang memiliki kewajiban, tanpa hak?

      Mendorong

      Buruh itu adalah aset bangsa, demikian juga perusahaan. Buruh dan perusahaan sudah dikawinkan dalam sistem hubungan industrial. Hubungan industrial mengatur tentang hak dan kewajiban kedua pihak. Konflik perburuhan saat ini harus disikapi dengan upaya yang bisa mempertemukan kepentingan kedua belah pihak, mencari dan menemukan yang terbaik untuk kepentingan kedua belah pihak. Jangan ada pihak yang merasa bahwa kebenaran yang diyakininya itulah yang harus diterima buruh-perusahaan sebagai kebenaran.

      Buruh dan perusahaan itu adalah sebuah keluarga besar. Kalau ada konflik maka mereka harus dipertemukan. Bangsa ini baru saja memperingati hari Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan. Sumpah Pemuda adalah ikrar tentang tekad untuk mengubur ego dan kepentingan kelompok untuk kebaikan bersama. Hari Pahlawan adalah hari yang mempertontonkan ketika setiap orang di Surabaya berhasil mengubur ego masing-masing dan maju bersama ke medan tempur untuk kepentingan semua.

      Membangun kebersamaan, harus menjadi kompas dalam menyikapi permasalahan perburuhan di tanah air. Tidak ada pembicaraan yang mengulas siapa yang disebut buruh, siapa yang disebut pengusaha. Tidak ada pembicaraan tentang HRD, Manager, atau Humas. Kebenaran itu ada pada setiap orang. ***

      Penulis: Kepala Personalia & Humas industri CPO.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.