Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Indonesia akui sukar tangani fenomena kanak-kanak pendek + Anak Indonesia Cenderung Pendek

Expand Messages
  • Sunny
    Ref: Tak apa pendek-pendek, asal presiden dan ibu negara beserta konco-konco penguasa dan kaum elit nan makmur mempunyai anak-anak berbadan ukuran tinggi,
    Message 1 of 1 , Nov 18, 2012
    • 0 Attachment
      Ref: Tak apa pendek-pendek, asal presiden dan ibu negara beserta konco-konco penguasa dan kaum elit nan makmur mempunyai anak-anak berbadan ukuran tinggi, gagah lagi cantik molek Smile. hehehehehe
       
       
       
       
       
      Indonesia akui sukar tangani fenomena kanak-kanak pendek
      November 18, 2012
      Kaji selidik Makanan Berkhasiat Asia Tenggara (Seanuts) terbaharu menunjukkan kanak-kanak Indonesia adalah yang paling pendek di antara empat negara di Asia Tenggara. - Gambar Reuters
      JAKARTA, 18 Nov — Kaji selidik Makanan Berkhasiat Asia Tenggara (Seanuts) terbaharu menunjukkan kanak-kanak Indonesia adalah yang paling pendek di antara empat negara di Asia Tenggara iaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

      Pihak kerajaan Indonesia mengakui sedang berdepan masalah yang sangat kompleks dan sukar mengatasinya kerana fenomena itu bukan semata-mata berpunca daripada kekurangan zat makanan tetapi juga faktor lain seperti penyakit dan kebersihan alam sekitar.

      Fenomena kanak-kanak pendek atau kanak-kanak yang terbantut pertumbuhannya sering dikaitkan dengan masalah kekurangan zat makanan akibat daripada penyakit seperti cirit-birit kronik, kelahiran tidak normal, penyakit cacing, malaria dan jangkitan pada saluran pernafasan. Pengarah Pembangunan Makanan Berzat Untuk Masyarakat, Kementerian Kesihatan Indonesia Minarto berkata usaha untuk mengatasi masalah “tumbesaran terbantut” di Indonesia memerlukan masa yang panjang.

      Kanak-kanak kecil yang diserang cirit-birit misalnya boleh mengalami masalah kekurangan zat makanan dan jika tidak ditangani, ia akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kanak-kanak itu, Minarto dipetik sebagai berkata oleh akhbar Media Indonesia pada Sabtu.

      Penyakit cirit-birit, jangkitan pada saluran pernafasan dan cacing pula berkait rapat dengan gaya hidup masyarakat dan kebersihan alam sekitar, oleh itu penanganan masalah itu perlu disertai usaha membudayakan gaya hidup sihat dan penjagaan kebersihan alam sekitar.

      Hasil kaji selidik Seanuts di empat negara itu iaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam bagi tahun 2011 yang diumumkan baru-baru ini mendapati bahawa kanak-kanak berusia bawah lima tahun di Indonesia mengalami masalah “tumbesaran terbantut” pada kadar 24.1 peratus (lelaki) dan 24.3 peratus (perempuan).

      Bagi kanak-kanak berusia enam hingga 12 tahun pula, peratusan yang mengalami masalah sama ialah 24.1 peratus (lelaki) dan 25.2 peratus (perempuan).

      Secara perbandingan peratusan kanak-kanak yang mengalami masalah tumbesaran terbantut di Malaysia, Thailand dan Vietnam pada umumnya ialah antara 11 hingga 12 peratus.

      Minarto berkata Gerakan Nasional 1,000 Hari Pertama Kehidupan yang dilancarkan oleh Kementerian Kesihatan Indonesia pada bulan ini merupakan satu daripada program dalam usaha menangani isu itu di peringkat hulu.

      Gerakan itu menumpukan perhatian kepada ibu-ibu mengandung hingga anak mereka berusia dua tahun, dengan pemberian makanan tambahan kepada ibu-ibu mengandung, bayi diwajibkan minum susu ibu hingga berusia enam bulan dan bantuan makanan berzat kepada kanak-kanak berusia di bawah lima tahun. — Bernama

      +++++

      Anak Indonesia Cenderung Pendek

      Jumat, 15 Juli 2011 | 06:52 WIB

      Singapura, Kompas - Indonesia termasuk dalam lima negara yang memiliki jumlah anak pendek terbanyak di dunia. Negara lain yang memiliki banyak anak pendek adalah China, India, Pakistan, dan Banglades.

      Hal itu dikemukakan Soekirman, Guru Besar Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, di sela-sela acara Kongres Nutrisi Asia XI yang didukung oleh Danone, Kamis (14/7) di Singapura.

      ”Sebanyak 38,6 persen dari total anak balita di Indonesia memiliki tinggi badan tidak sesuai umur,” kata Soekirman yang juga Ketua Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI). Artinya, sekitar empat dari 10 anak mengalami kekerdilan akibat kekurangan gizi, terutama zat besi.

      Kekurangan gizi berdampak dalam kecerdasan anak. Kurangnya kecerdasan membuat anak tidak mampu meraih pendidikan tinggi sehingga produktivitas tidak maksimal. Penelitian tentang dampak kekerdilan, kecerdasan, dan produktivitas telah dilakukan di negara-negara Amerika Latin.

      Untuk mengatasi persoalan kekurangan gizi itu, Indonesia melakukan program fortifikasi (penambahan) zat besi dan asam folat pada tepung terigu. Indonesia melalui KFI juga tengah mengkaji fortifikasi zat besi dan asam folat pada beras murah.

      Kegemukan

      Selain harus berjuang keras mengatasi masalah kurang gizi, Indonesia dan negara berkembang lainnya di Asia kini menghadapi tantangan baru, yaitu kecenderungan obesitas (kegemukan) pada masyarakat miskin.

      Dalam Kongres Nutrisi Asia terungkap bahwa ada gejala peningkatan angka kegemukan pada masyarakat miskin di negara- negara berkembang. Menurut Berry Popkin, guru besar gizi dari Universitas North Carolina Amerika Serikat, saat ini di negara- negara berkembang, terutama di China, Brasil, India, juga Indonesia, terjadi transisi dari kurus ke kegemukan dan munculnya penyakit degeneratif.

      Ia memprediksi pada negara yang rata-rata penduduknya berpenghasilan 2.500 dollar AS per tahun per orang terjadi kegemukan akibat perubahan pola konsumsi dan gaya hidup. Mereka yang mengalami kegemukan lebih banyak masyarakat miskin.

      ”Karena ingin bergaya hidup modern, mereka mulai mengonsumsi minuman atau makanan enak yang manis dan berlemak,” kata Soekirman. Perubahan pola konsumsi terjadi karena teknologi pangan kini bisa memproduksi makanan enak dan murah. Gencarnya iklan produk makanan dan minuman di televisi ikut mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat miskin.

      Pada kelompok masyarakat berpenghasilan lebih tinggi, jumlah kegemukan lebih sedikit karena kesadaran akan kesehatan semakin meningkat.

      Prema Ramachandran dari Yayasan Nutrisi India mengatakan, data survei nutrisi di India menunjukkan, lima tahun terakhir mulai terjadi penurunan angka kekurangan gizi di India. Sebaliknya, dalam dua tahun terakhir terjadi kenaikan angka kegemukan di kalangan masyarakat miskin.

      (Lusiana Indriasari dari Singapura)

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.