Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: «PPDi» Sejumlah Warga Syiah masih Hilan g

Expand Messages
  • Ali Al Asytar
    Suriah dan Kebohongan Media Mainstream Kamis, 2012 Agustus 09 14:30
    Message 1 of 13 , Sep 1, 2012

      Suriah dan Kebohongan Media Mainstream
      Kamis, 2012 Agustus 09 14:30

       http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/suriah-dan-kebohongan-media-mainstream

      Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.

      Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.

      Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC.

      Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias.

      Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah.

      Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut.

      Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer."

      Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci."

      Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun.

      Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika.

      Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar.

      Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO.

      TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar.

      Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi.

      Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. (IRIB Indonesia/PH)

      Tags:
      Related News
      Mengenang Bapak Geografi Modern Iran

      Read More >>

      Mengenal Situs Bersejarah Iran
      Konferensi Internasional Mahdiisme Ke-8
      Laju Pertumbuhan Penduduk Dunia Antara Kekhawatiran dan Harapan
    • Jasuli Ahmad
      Suriah dan Kebohongan Media Mainstream Kamis, 2012 Agustus 09 14:30  
      Message 2 of 13 , Sep 1, 2012
        Suriah dan Kebohongan Media Mainstream
        Kamis, 2012 Agustus 09 14:30
         
        http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/suriah-dan-kebohongan-media-mainstream


        Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.

        Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.

        Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC.

        Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias.

        Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah.

        Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut.

        Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer."

        Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci."

        Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun.

        Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika.

        Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar.

        Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO.

        TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar.

        Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi.

        Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. (IRIB Indonesia/PH)

        Tags:
        Related News
        Mengenang Bapak Geografi Modern Iran

        Read More >>

        Mengenal Situs Bersejarah Iran
        Konferensi Internasional Mahdiisme Ke-8
        Laju Pertumbuhan Penduduk Dunia Antara Kekhawatiran dan Harapan


        From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@...>
        To: "PPDi@yahoogroups.com" <PPDi@yahoogroups.com>; "Lantak@yahoogroups.com" <Lantak@yahoogroups.com>; "ambon@yahoogroups.com" <ambon@yahoogroups.com>; "sueue@yahoogroups.com" <sueue@yahoogroups.com>; "politikmahasiswa@yahoogroups.com" <politikmahasiswa@yahoogroups.com>
        Sent: Saturday, September 1, 2012 11:38 AM
        Subject: «PPDi» Re: «PPDi» Sejumlah Warga Syiah masih Hilang

         

        Suriah dan Kebohongan Media Mainstream
        Kamis, 2012 Agustus 09 14:30

         http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/suriah-dan-kebohongan-media-mainstream

        Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.

        Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.

        Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC.

        Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias.

        Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah.

        Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut.

        Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer."

        Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci."

        Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun.

        Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika.

        Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar.

        Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO.

        TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar.

        Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi.

        Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. (IRIB Indonesia/PH)

        Tags:
        Related News
        Mengenang Bapak Geografi Modern Iran

        Read More >>

        Mengenal Situs Bersejarah Iran
        Konferensi Internasional Mahdiisme Ke-8
        Laju Pertumbuhan Penduduk Dunia Antara Kekhawatiran dan Harapan


      • Sunny
        TV Aljazeerah adalah milik Qatar. Qatar memberikan bantuan kepada mereka yang namanya Free Syrian Army (FSA) untuk menjatuhkan Assad, jadi terang benderan
        Message 3 of 13 , Sep 1, 2012
          TV Aljazeerah adalah milik Qatar. Qatar memberikan bantuan kepada mereka yang namanya Free Syrian Army (FSA) untuk menjatuhkan Assad, jadi terang benderan mereka harus sesuai dengan hasrat pemilik TV. 
           
          Sent: Saturday, September 01, 2012 12:09 PM
          Subject: �PPDi� Betapa banyak orang Islam yang terlanjur menimba info dari media yang bohong ini. Semoga mereka sadar sebagaimana sadarnya sejumlah staf dan jurnalis Aljazira. Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu.
           
           

          Suriah dan Kebohongan Media Mainstream
          Kamis, 2012 Agustus 09 14:30
           
          http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/suriah-dan-kebohongan-media-mainstream


          Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.

          Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.

          Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC.

          Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias.

          Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah.

          Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut.

          Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer."

          Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci."

          Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun.

          Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika.

          Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar.

          Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO.

          TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar.

          Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi.

          Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. (IRIB Indonesia/PH)

          Tags:
          Related News
          Mengenang Bapak Geografi Modern Iran

          Read More >>

          Mengenal Situs Bersejarah Iran
          Konferensi Internasional Mahdiisme Ke-8
          Laju Pertumbuhan Penduduk Dunia Antara Kekhawatiran dan Harapan
           

          From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@...>
          To: "PPDi@yahoogroups.com" <PPDi@yahoogroups.com>; "Lantak@yahoogroups.com" <Lantak@yahoogroups.com>; "ambon@yahoogroups.com" <ambon@yahoogroups.com>; "sueue@yahoogroups.com" <sueue@yahoogroups.com>; "politikmahasiswa@yahoogroups.com" <politikmahasiswa@yahoogroups.com>
          Sent: Saturday, September 1, 2012 11:38 AM
          Subject: «PPDi» Re: «PPDi» Sejumlah Warga Syiah masih Hilang
           
           

          Suriah dan Kebohongan Media Mainstream
          Kamis, 2012 Agustus 09 14:30

          http://indonesian.irib.ir/hidden-1/-/asset_publisher/m7UK/content/suriah-dan-kebohongan-media-mainstream

          Salah satu masalah paling mendasar dalam media adalah validitas informasi. Belakangan ini sejumlah media mainstream melancarkan kampanye hitam melalui pemberitaan bohong yang disiarkan ke seluruh dunia. Media Amerika Serikat, Foreign Policy mengungkapkan bahwa dua jaringan televisi Arab, Aljazeera dan Al Arabiya menuding televisi nasional Suriah menutupi kenyataan sebenarnya yang terjadi sejak meletusnya konflik di negara itu. Namun kini faktanya, tudingan tersebut justru dilakukan oleh Aljazeera dan Al Arabiya yang memberitakan kebohongan di Suriah.

          Kebohongan Aljazeera terungkap dari dalam dengan keluarnya sejumlah staf dan jurnalis yang tidak tahan dengan kebohongan media Qatar itu. Bulan Mei lalu, Aljazeera diguncang eksodus staf dan jurnalisnya akibat begitu banyak kebohongan media massa itu dalam melansir berita terutama di Libya, Suriah, Bahrain, Saudi. Mereka tidak tahan lagi dengan kebijakan Aljazeera yang menjadi corong propaganda perang, bukannya mewartakan kejadian sesungguhnya.

          Aljazeera menjadi corong ambisi perang Emir Qatar di Timur Tengah. Dan dunia jurnalistik kehilangan kepercayaan terhadap Aljazeera yang kini tidak jauh berbeda dengan CNN, Fox News dan BBC.

          Rusia Today pada 12 Maret 2012 lalu, melalui Paula Slier mengabarkan bahwa biro Aljazeera di Beirut mengundurkan diri pekan lalu. Mereka adalah Managing Director Hassan Shaaban. Ini lanjutan dari pengunduran diri Staff Ali Hashem, Ghassan ben Jaddo, dan Afshin Rattansi. Alasannya adalah penolakan Aljazeera menayangkan video gempuran pemberontak Suriah. Selain itu menolak menayangkan berita pembantaian yang dilakukan pemerintah Bahrain terhadap rakyatnya sendiri, dan penolakan Emir Qatar atas hasil Referendum Suriah. Dari sinilah Aljazeera terlihat sangat bias.

          Seorang wartawan dan produser program televisi Aljazeera menyatakan mengundurkan diri setelah pidato Sekjen Gerakan Muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) soal standar ganda Arab terhadap Suriah. Mousa Ahmad menyatakan bahwa aksinya adalah dalam rangka mendukung Suriah.

          Televisi Aljazeera Qatar yang menerapkan kebijakan konfrontatif terhadap Suriah, kembali diprotes oleh karyawannya sendiri yang menentang metode pemberitaan tendensiusnya. Mousa Ahmad bergabung dengan Aljazeera sejak tahun 2009 dan Ahad (4/3) menyatakan berhenti dari stasiun tersebut.

          Setelah mendengar pidato Sayid Nasrullah, Mousa Ahmad menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ahmad mengatakan, "Arab telah memberi banyak kesempatan kepada rezim Zionis Israel hingga sekarang, akan tetapi mereka tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Suriah dan bahkan menekankan intervensi militer."

          Dalam wawancaranya dengan koran al-Akhbar, Mousa Ahmad mengecam politik Aljazeera terhadap Suriah. Ahmad menuturkan, "Di stasiun televisi itu tidak ada tempat untuk orang moderat. Dengan cara halal atau haram Aljazeera ingin menggulingkan pemerintahan Suriah. Aljazeera adalah lengan politik dan media provokatif. Saya menyaksikan boikot pemberitaan tentang referendum di Suriah, akan tetapi sebaliknya mereka memfokuskan pada perkembangan di Baba Amr, seakan wilayah tersebut adalah tempat suci."

          Perubahan watak Aljazeera dibenarkan oleh aktivis Don Debar dan blogger Ted Rall. Kondisi ini mulai terasa sejak April 2011, ketika Emir Qatar mengambil penuh kendali profesional Aljazeera. Perubahan kian mencolok setelah Direktur Aljazeera Wardah Khandar undur diri September 2011 setelah mengabdi 7 tahun.

          Sumber lain mengatakan bahwa perubahan arah Aljazeera berkat lobi menteri luar negeri Amerika Hillary Clinton. Amerika menghendaki agar Aljazeera sama seperti corong propaganda perang Barat semacam CNN, BBC dan Fox News. Usulan Washington itu diamini oleh Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifa al Thani. Dan sejak itu Emir menyerukan propaganda perang media sesuai dikte Amerika.

          Pada 14 Maret 2012, Veterans Today dari Amerika melalui Stephen Lendman mencatat beberapa kejadian penting terkait sejarah Aljazeera yang agresif menghasut kerusuhan di Libya, Suriah dan Iran. Hal ini sejalan dengan agenda Amerika-Inggris-Israel. Segala upaya dan ajakan damai ditolak melalui Aljazeera yang menyuarakan dikte Emir Qatar.

          Ironisnya Sekjen dan Utusan PBB ikut terjebak dalam perangkap mesin propaganda perang media. Mereka menyarankan intervensi asing di Suriah sebagaimana di Libya, tanpa menyinggung sama sekali aksi kerusuhan yang dilakukan pemberontak. Mereka juga tidak melihat kenyataan melalui berita SANA bahwa ribuan rakyat Suriah di Damaskus menolak intervensi asing.Tidak hanya itu mereka juga menyangkal bukti bukti keterlibatan perusuh asing yang menyusup ke Suriah atas restu komandan NATO.

          TV Global Research dari Kanada membahas masalah yang sama yang diangkat oleh Rusia Today. Seperti biasanya Hanya mainstream media Barat yang tutup mulut. Sangat disayangkan jaringan TV Aljazeera yang menjangkau 50 juta pemirsa di seluruh dunia hancur reputasi gara-gara melayani ambisi pribadi Emir Qatar.

          Sebelumnya kebohongan juga dilakukan media mainstream semacam BBC yang tertangkap basah melakukan penipuan berita foto. Di situsnya tertanggal 27 Mei, BBC memuat foto mayat-mayat dan diklaimnya sebagai korban pembantaian massal di di Houla. Tentu saja, yang dituduh sebagai pembantai adalah tentara Suriah. Padahal berbagai fakta menunjukkan bahwa yang menjadi korban pembantaian itu adalah orang-orang pro pemerintah. Kedua, secara logika saja, tidak ada keuntungan yang didapat Assad dengan membantai massal warganya sendiri. Keuntungan dari peristiwa ini justru didapat oleh pihak oposisi.

          Kebohongan BBC terungkap setelah fotografer asli foto tersebut protes dan memberitahu bahwa itu adalah foto korban pembunuhan massal di Irak tahun 2003. BBC mencabut begitu saja foto itu, tanpa minta maaf. Sementara foto itu sudah terlanjur disebarluaskan ke seluruh dunia, dan sudah diposting ulang pula oleh banyak orang. Tujuan utama dari aksi pembantaian massal yang sangat kejam ini adalah agar PBB menyetujui ‘humanitarian intervention' dalam bentuk pengiriman pasukan perang internasional ke Suriah untuk menggulingkan Assad, sebagaimana yang sudah terjadi di Libya. (IRIB Indonesia/PH)

          Tags:
          Related News
          Mengenang Bapak Geografi Modern Iran

          Read More >>

          Mengenal Situs Bersejarah Iran
          Konferensi Internasional Mahdiisme Ke-8
          Laju Pertumbuhan Penduduk Dunia Antara Kekhawatiran dan Harapan


        • Ali Al Asytar
          Pejabat Israel Akan Jadi Korban Pertama Serangan Israel Minggu, 2012 September 02 17:22      Seorang komandan senior Pengawal Islam Revolusi Iran (IRGC)
          Message 4 of 13 , Sep 2, 2012
            Pejabat Israel Akan Jadi Korban Pertama Serangan Israel
             
            Seorang komandan senior Pengawal Islam Revolusi Iran (IRGC) mengatakan dalam kasus serangan Israel ke Tehran, para pejabat rezim Tel Aviv akan menjadi korban pertama dari serangan balasan.
            Hal itu dikemukakan Brigadir Jenderal Mohammad Ali Asoudi (1/9). Ditambahkannya, "Dalam kasus serangan militer Israel terhadap Iran, para pejabat rezim Zionis [Israel] akan berada di antara korban pertama dari serangan tersebut," kata.
            Asoudi mengatakan kebijakan gila perang Israel memantik kebencian di antara warga wilayah Palestina pendudukan terhadap para pejabat Tel Aviv.
            Menyinggung gelombang eksodus sebagian besar orang Yahudi ke tanah air mereka di Eropa, pejabat militer Iran mengatakan bahwa "Mereka kembali ke negara mereka karena krisis ekonomi, sosial dan politik di Israel."
            "Ini terjadi di saat sejumlah warga Israel membakar diri karena masalah ekonomi," kata Asoudi.
            Empat warga Israel melakukan aksi bakar diri sebagai protes atas masalah kemiskinan dan ekonomi sejak pertengahan Juli setelah seorang pria 57-tahun membakar diri saat "protes sosial" di Tel Aviv.
            Moshe Silman, yang meninggal akibat luka-bakarnya sepekan setelah insiden, mengkritik Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan mengatakan "Negara Israel merampok saya dan tidak menyisakan apapun."
            Beberapa jam sebelum pemakaman Silmon itu, Akiva Mafa'I, seorang veteran militer cacat berusia 45 tahun, meninggal setelah membakar diri di sebuah halte bus di kota Yehud sekitar 15 kilometer di sebelah timur Tel Aviv.
            Asoudi menambahkan pula bahwa sejumlah anggota kabinet Israel menyadari fakta dan menentang serangan militer ke Iran.
            Pemerintah Iran berulang kali memperingatkan bahaya dari segala bentuk tindakan militer terhadap Republik Islam dan menyatakan bahwa jika Israel membuat kekeliruan dengan meluncurkan serangan, maka ini akan menjadi akhir hayat rezim Zionis.(IRIB Indonesia/MZ)
             
              
          • Jasuli Ahmad
            Saudi Arabia yang mengaku beragama Islam mengirim pasukan tentara untuk membunuh rakyat Bahrain yang menuntut haknya. Di yaman juga komunitas Qabil
            Message 5 of 13 , Sep 2, 2012
              Saudi Arabia yang mengaku beragama Islam mengirim pasukan tentara untuk membunuh rakyat Bahrain yang menuntut haknya. Di yaman juga "komunitas Qabil" bekerjasama dengan kaum arogan luar negeri untuk membunuh rakyat Yaman. Di Indonesia komunitas yang mayoriti tega membunuh komunitas yang minoriti dengan alasan mereka itu sesat. Padahal andaikata pembunuh itu benar Islam murni, mustahil melakukan kezaliman terhadap komunitas Syiah dan Ahmadiah. Hal ini sesuai firman Allah dalam surah al Kafirun yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Demikian menyangkut perbedaan agama. Dalam hal ini berarti jangankan sesama Islam terhadap orang non Islampun haram membunuhnya kecuali memang komunitas pembunuh itu sama dengan "komunitas Qabil", Jangankan orang lain, saudaranya sendiri dibunuhnya. Apakah terlalu sukar untuk dipahami oleh pendukung pembunuhan tersebut? Berarti mereka sudah tertutup mata hatinya hingga demikian kalap dalam hidup ini (jsl)


              From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@...>
              To: "PPDi@yahoogroups.com" <PPDi@yahoogroups.com>; "Lantak@yahoogroups.com" <Lantak@yahoogroups.com>; "ambon@yahoogroups.com" <ambon@yahoogroups.com>; "sueue@yahoogroups.com" <sueue@yahoogroups.com>; "politikmahasiswa@yahoogroups.com" <politikmahasiswa@yahoogroups.com>
              Sent: Sunday, September 2, 2012 4:36 PM
              Subject: [Lantak] APABILA KITA TIDAK KEMBALI KESEJARAH PEMBUNUHAN MANUSIA PERTAMA YANG DILAKUKAN OLEH ANAK NABI ADAM AS SENDIRI (BACA QABIL MEMBUNUH HABIL), PENDUDUK BUMI INI YANG MENGAKU BERAGAMA ISLAM JADI CONFUSED KENAPA KOMUNITAS ISLAM AL QAEDA MEMBUNUH KOMUNITAS ISLAM LAINNYA DI SIRIA. ANDAIKATA YAHUDI YANG MELAKUKAN PEMBUNUHAN MUDAH DIPAHAMI SEBAB MEREKA TIDAK MAMPU MELIHAT ORANG ISLAM SEBAGAI SAUDARA KEMANUSIAAN. NAMUN BILA KITA KEMBALI KE QABIL DAN HABIL BARU MUDAH DIPAHAMI BAHWA ISLAM QABIL YANG PALSU MEMBUNUH KOMUNITAS HABIL YANG MURNI.

               
              Pejabat Israel Akan Jadi Korban Pertama Serangan Israel
               
              Seorang komandan senior Pengawal Islam Revolusi Iran (IRGC) mengatakan dalam kasus serangan Israel ke Tehran, para pejabat rezim Tel Aviv akan menjadi korban pertama dari serangan balasan.
              Hal itu dikemukakan Brigadir Jenderal Mohammad Ali Asoudi (1/9). Ditambahkannya, "Dalam kasus serangan militer Israel terhadap Iran, para pejabat rezim Zionis [Israel] akan berada di antara korban pertama dari serangan tersebut," kata.
              Asoudi mengatakan kebijakan gila perang Israel memantik kebencian di antara warga wilayah Palestina pendudukan terhadap para pejabat Tel Aviv.
              Menyinggung gelombang eksodus sebagian besar orang Yahudi ke tanah air mereka di Eropa, pejabat militer Iran mengatakan bahwa "Mereka kembali ke negara mereka karena krisis ekonomi, sosial dan politik di Israel."
              "Ini terjadi di saat sejumlah warga Israel membakar diri karena masalah ekonomi," kata Asoudi.
              Empat warga Israel melakukan aksi bakar diri sebagai protes atas masalah kemiskinan dan ekonomi sejak pertengahan Juli setelah seorang pria 57-tahun membakar diri saat "protes sosial" di Tel Aviv.
              Moshe Silman, yang meninggal akibat luka-bakarnya sepekan setelah insiden, mengkritik Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan mengatakan "Negara Israel merampok saya dan tidak menyisakan apapun."
              Beberapa jam sebelum pemakaman Silmon itu, Akiva Mafa'I, seorang veteran militer cacat berusia 45 tahun, meninggal setelah membakar diri di sebuah halte bus di kota Yehud sekitar 15 kilometer di sebelah timur Tel Aviv.
              Asoudi menambahkan pula bahwa sejumlah anggota kabinet Israel menyadari fakta dan menentang serangan militer ke Iran.
              Pemerintah Iran berulang kali memperingatkan bahaya dari segala bentuk tindakan militer terhadap Republik Islam dan menyatakan bahwa jika Israel membuat kekeliruan dengan meluncurkan serangan, maka ini akan menjadi akhir hayat rezim Zionis.(IRIB Indonesia/MZ)
               
                


            • Jasuli Ahmad
              http://indonesian.irib.ir/suara/-/asset_publisher/f4kY/content/file-suara-doa-bersama-untuk-korban-sampang-orasi-doktor-muhsin-labib?
              Message 6 of 13 , Sep 2, 2012


                From: Jasuli Ahmad <ahmad_msia@...>
                To: "Lantak@yahoogroups.com" <Lantak@yahoogroups.com>; "PPDI@yahoogroups.com" <PPDI@yahoogroups.com>; "politikmahasiswa@yahoogroups.com" <politikmahasiswa@yahoogroups.com>; "kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com" <kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com>; "oposisi-list@yahoogroups.com" <oposisi-list@yahoogroups.com>; "sueue@yahoogroups.com" <sueue@yahoogroups.com>; "ambon@yahoogroups.com" <ambon@yahoogroups.com>; "Komunitas_Papua@yahoogroups.com" <Komunitas_Papua@yahoogroups.com>; "GAMRMSOPM@yahoogroups.com" <GAMRMSOPM@yahoogroups.com>
                Sent: Sunday, September 2, 2012 4:55 PM
                Subject: Re: [Lantak] APABILA KITA TIDAK KEMBALI KESEJARAH PEMBUNUHAN MANUSIA PERTAMA YANG DILAKUKAN OLEH ANAK NABI ADAM AS SENDIRI (BACA QABIL MEMBUNUH HABIL), PENDUDUK BUMI INI YANG MENGAKU BERAGAMA ISLAM JADI CONFUSED KENAPA KOMUNITAS ISLAM AL QAEDA MEMBUNUH KOMUNITAS ISLAM LAINNYA DI SIRIA. ANDAIKATA YAHUDI YANG MELAKUKAN PEMBUNUHAN MUDAH DIPAHAMI SEBAB MEREKA TIDAK MAMPU MELIHAT ORANG ISLAM SEBAGAI SAUDARA KEMANUSIAAN. NAMUN BILA KITA KEMBALI KE QABIL DAN HABIL BARU MUDAH DIPAHAMI BAHWA ISLAM QABIL YANG PALSU MEMBUNUH KOMUNITAS HABIL YANG MURNI.

                Saudi Arabia yang mengaku beragama Islam mengirim pasukan tentara untuk membunuh rakyat Bahrain yang menuntut haknya. Di yaman juga "komunitas Qabil" bekerjasama dengan kaum arogan luar negeri untuk membunuh rakyat Yaman. Di Indonesia komunitas yang mayoriti tega membunuh komunitas yang minoriti dengan alasan mereka itu sesat. Padahal andaikata pembunuh itu benar Islam murni, mustahil melakukan kezaliman terhadap komunitas Syiah dan Ahmadiah. Hal ini sesuai firman Allah dalam surah al Kafirun yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Demikian menyangkut perbedaan agama. Dalam hal ini berarti jangankan sesama Islam terhadap orang non Islampun haram membunuhnya kecuali memang komunitas pembunuh itu sama dengan "komunitas Qabil", Jangankan orang lain, saudaranya sendiri dibunuhnya. Apakah terlalu sukar untuk dipahami oleh pendukung pembunuhan tersebut? Berarti mereka sudah tertutup mata hatinya hingga demikian kalap dalam hidup ini (jsl)


                From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@...>
                To: "PPDi@yahoogroups.com" <PPDi@yahoogroups.com>; "Lantak@yahoogroups.com" <Lantak@yahoogroups.com>; "ambon@yahoogroups.com" <ambon@yahoogroups.com>; "sueue@yahoogroups.com" <sueue@yahoogroups.com>; "politikmahasiswa@yahoogroups.com" <politikmahasiswa@yahoogroups.com>
                Sent: Sunday, September 2, 2012 4:36 PM
                Subject: [Lantak] APABILA KITA TIDAK KEMBALI KESEJARAH PEMBUNUHAN MANUSIA PERTAMA YANG DILAKUKAN OLEH ANAK NABI ADAM AS SENDIRI (BACA QABIL MEMBUNUH HABIL), PENDUDUK BUMI INI YANG MENGAKU BERAGAMA ISLAM JADI CONFUSED KENAPA KOMUNITAS ISLAM AL QAEDA MEMBUNUH KOMUNITAS ISLAM LAINNYA DI SIRIA. ANDAIKATA YAHUDI YANG MELAKUKAN PEMBUNUHAN MUDAH DIPAHAMI SEBAB MEREKA TIDAK MAMPU MELIHAT ORANG ISLAM SEBAGAI SAUDARA KEMANUSIAAN. NAMUN BILA KITA KEMBALI KE QABIL DAN HABIL BARU MUDAH DIPAHAMI BAHWA ISLAM QABIL YANG PALSU MEMBUNUH KOMUNITAS HABIL YANG MURNI.

                 
                Pejabat Israel Akan Jadi Korban Pertama Serangan Israel
                 
                Seorang komandan senior Pengawal Islam Revolusi Iran (IRGC) mengatakan dalam kasus serangan Israel ke Tehran, para pejabat rezim Tel Aviv akan menjadi korban pertama dari serangan balasan.
                Hal itu dikemukakan Brigadir Jenderal Mohammad Ali Asoudi (1/9). Ditambahkannya, "Dalam kasus serangan militer Israel terhadap Iran, para pejabat rezim Zionis [Israel] akan berada di antara korban pertama dari serangan tersebut," kata.
                Asoudi mengatakan kebijakan gila perang Israel memantik kebencian di antara warga wilayah Palestina pendudukan terhadap para pejabat Tel Aviv.
                Menyinggung gelombang eksodus sebagian besar orang Yahudi ke tanah air mereka di Eropa, pejabat militer Iran mengatakan bahwa "Mereka kembali ke negara mereka karena krisis ekonomi, sosial dan politik di Israel."
                "Ini terjadi di saat sejumlah warga Israel membakar diri karena masalah ekonomi," kata Asoudi.
                Empat warga Israel melakukan aksi bakar diri sebagai protes atas masalah kemiskinan dan ekonomi sejak pertengahan Juli setelah seorang pria 57-tahun membakar diri saat "protes sosial" di Tel Aviv.
                Moshe Silman, yang meninggal akibat luka-bakarnya sepekan setelah insiden, mengkritik Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan mengatakan "Negara Israel merampok saya dan tidak menyisakan apapun."
                Beberapa jam sebelum pemakaman Silmon itu, Akiva Mafa'I, seorang veteran militer cacat berusia 45 tahun, meninggal setelah membakar diri di sebuah halte bus di kota Yehud sekitar 15 kilometer di sebelah timur Tel Aviv.
                Asoudi menambahkan pula bahwa sejumlah anggota kabinet Israel menyadari fakta dan menentang serangan militer ke Iran.
                Pemerintah Iran berulang kali memperingatkan bahaya dari segala bentuk tindakan militer terhadap Republik Islam dan menyatakan bahwa jika Israel membuat kekeliruan dengan meluncurkan serangan, maka ini akan menjadi akhir hayat rezim Zionis.(IRIB Indonesia/MZ)
                 
                  




              • Ali Al Asytar
                http://indonesian.irib.ir/suara/-/asset_publisher/f4kY/content/file-suara-doa-bersama-untuk-korban-sampang-orasi-agus-abu-bakar-al-habsyi Related News File
                Message 7 of 13 , Sep 2, 2012
                • Jasuli Ahmad
                  Menuju memecahkan monopoli kekuasaan Barat Sun Sep 2, 2012 18:34 GMT http://www.presstv.com/detail/259325.html Dengan Salami Ismail Sudah saatnya AS berhenti
                  Message 8 of 13 , Sep 3, 2012
                    Menuju memecahkan monopoli kekuasaan Barat
                    Sun Sep 2, 2012 18:34 GMT


                    Dengan Salami Ismail

                    Sudah saatnya AS berhenti bermain guru, dan berpikir dan membuat keputusan untuk negara-negara lain. Sebagai langkah pertama, NAM negara anggota harus melakukan upaya untuk membebaskan Dewan Keamanan PBB dari perusahaan penangkaran budak ke Amerika Serikat dan sekutunya. "
                    Meskipun kurangnya perhatian yang disengaja Barat ke dan mengabaikan yang disengaja untuk KTT Gerakan Non-Blok di Teheran, tidak ada menyangkal fakta bahwa KTT telah disebabkan kecewa ekstrim di Washington dan Israel dan bahwa dialog antar peradaban dalam mencapai perdamaian global masih kelayakan kuat.


                    Hanya sehari sebelum peresmian KTT GNB, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan sinisme yang khas dan membanting kehadiran high-profile perwakilan dari lebih dari 120 negara di pertemuan puncak itu, dan mengatakan itu adalah "noda pada kemanusiaan." Penyebab kemarahan putus asa Netanyahu adalah namun cukup jelas.

                    KTT GNB ke-16 yang resmi terbungkus di Teheran pada Jumat menyimpulkan resolusi, termasuk lebih dari 700 klausa. Penyelesaian akhir yang dibacakan oleh Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad menyatakan dukungan untuk program energi nuklir Iran, menolak sanksi sepihak AS terhadap Republik Islam, dan menyerukan upaya yang lebih besar untuk juara penyebab Palestina dan menghentikan diskriminasi ras di seluruh dunia.

                    KTT GNB ditujukan sejumlah isu berduri yang Barat salah mengartikan seperti program energi nuklir Iran atau meremehkan seperti masalah Palestina dan AS tidak sah pesawat tak berawak serangan yang sejauh ini merenggut nyawa banyak warga sipil di Pakistan, Afghanistan, Somalia dan Yaman .

                    Sebagai kesempatan bagi para peserta untuk menyuarakan keluhan mereka yang telah mencengkeram negara-negara mereka dengan leher, Menteri Luar Negeri Pakistan Hina Rabbani Khar menyatakan keprihatinan negaranya atas serangan pesawat tak berawak ilegal di Pakistan dan mendesak Washington untuk segera mengakhiri mesin pembunuh mereka di Pakistan.

                    "Kau melihat posisi Pakistan jelas hari ini dan telah jelas di masa lalu. Posisi kami adalah bahwa ini adalah sesuatu yang kontra-produktif. Merupakan pelanggaran hukum. Ini adalah ilegal, dan karena itu mereka harus berhenti. Inilah parlemen Pakistan telah jelas mengatakan, "Rabbani Khar mengatakan pada hari Rabu.

                    Namun, pusat puncak adalah pidato bernas disampaikan oleh Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam di mana ia jelas menegaskan kembali sikap resmi Republik Islam pada beberapa isu utama termasuk senjata nuklir dan menjelaskan bahwa Iran tidak pernah berusaha untuk memproduksi senjata nuklir, tidak akan menginjak-injak seperti jalan menghebohkan dan bahwa pengejaran tersebut, penggunaan dan produksi senjata tersebut merupakan dosa yang tidak terampuni. Analisis mendalam dari kebijakan paradoks Washington layak perhatian. Menunjuk ke "ironi pahit zaman kita", Ayatollah Khamenei diperkuat fakta bahwa pemerintah AS "memiliki stok terbesar dan paling mematikan dari senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya dan satu-satunya negara bersalah karena penggunaannya, saat ini ingin melakukan bendera oposisi terhadap proliferasi nuklir "dan bahwa rezim yang sama telah mempersenjatai rezim Zionis dengan merebut senjata nuklir dan menciptakan ancaman besar bagi daerah ini sensitif."

                    Bahkan, Washington dan Tel Aviv sedang bermain di tangan iblis dalam upaya mereka untuk membagi bangsa dan menjajah negara mereka dengan menciptakan 'musuh global' dan kejam memobilisasi orang lain terhadap mereka.

                    Dalam hal ini, KTT GNB dapat memainkan peran penting dalam pengalihan peran destruktif pemerintah AS dan kekuatan intimidasi lainnya dalam mendorong maju dengan agenda globalis mereka untuk peran konstruktif di bawah naungan anggota GNB. Dalam melawan efek dari pertemuan puncak penting substansial seperti, media barat pingsan pada kebenaran dan menahan diri dari pelaporan fakta-fakta yang dalam satu atau lain cara menunjukkan agenda tersembunyi mereka. The pemadaman media Barat mengenai KTT di Teheran baik sama saja dengan pemadaman kebenaran dan iman, tanda mengerikan yang dengan jelas menunjukkan mengapa upaya global dalam mencapai perdamaian dan harmoni yang akhirnya didorong ke dalam jurang kegagalan. Dalam rangka untuk menghancurkan cengkraman media mafia, kepala Republik Islam Iran Broadcasting (IRIB) Ezzatollah Zarghami telah menyarankan Gerakan Non-Blok mendirikan sebuah blok media alternatif. Inisiatif tersebut memang terpuji dan harus dianggap sebagai cara efektif untuk mengimbangi bias media yang buta.

                    Dengan keyakinan penuh, satu sedih dapat mengatakan bahwa ada sabotase tangan di tempat kerja untuk menggagalkan upaya dalam memperjuangkan perdamaian global dalam terang kepemimpinan bersatu. Apa yang sebenarnya harus atas KTT GNB di masa depan adalah untuk merumuskan suatu pendekatan yang efektif dalam mengatasi krisis global dan berjuang untuk mencapai sebuah konsensus internasional untuk mengurangi pengaruh politik Washington dan self-acclaimed kepemimpinan diktator. Sudah saatnya AS berhenti bermain guru, dan berpikir dan membuat keputusan untuk negara-negara lain. Sebagai langkah pertama, NAM negara anggota harus melakukan upaya untuk membebaskan Dewan Keamanan PBB dari perusahaan penangkaran budak ke Amerika Serikat dan sekutunya.

                    Sebuah tatanan dunia baru mulai terbentuk. Dalam tatanan dunia baru, imperialisme mulai menghilang dan gagasan pemasangan ekspedisi militer di bawah bendera memerangi terorisme atau mendikte demokrasi Barat segera menguap. Ide ini mungkin jauh dari kenyataan tapi itu bukanlah sebuah kemustahilan. Hal ini dapat berubah menjadi berkat nyata terhadap kekuatan mengeluarkan dari upaya kolektif dari semua bangsa. Ini adalah apa pimpinan Barat paling takuti dan apa yang paling dibutuhkan dunia: a bangsa bersatu akan terbang dalam menghadapi hak yang salah dan kedua.

                    IS / JR

                    AKA Salami Ali, Dr Salami Ismail adalah seorang penulis internasional diterbitkan beberapa buku dan ratusan artikel, Shakespeare, Iranologist dan leksikografer. Tulisan-tulisannya telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Seorang Teheran Times, mantan editor-in-chief, Salami memegang gelar PhD dalam Shakespeare Studi dan merupakan penulis Hak Asasi Manusia dalam Islam dan Iran, Cradle of Civilization. Salami Dr meneliti perkembangan sejarah yang berdampak nasional hubungan saat ini, dan cara orang Barat melihat Iran. Lebih TV artikel Pers oleh Salami Ismail


                    http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/q9vX/content/statemen-cerdik-pemimpin-revolusi-islam-iran-soal-suriah?redirect=http%3A%2F%2Findonesian.irib.ir%2Fhidden-2%3Fp_p_id%3D101_INSTANCE_q9vX%26p_p_lifecycle%3D0%26p_p_state%3Dnormal%26p_p_mode%3Dview%26p_p_col_id%3Dcolumn-2%26p_p_col_count%3D1


                  • Ali Al Asytar
                    Iran: Kami Bisa Memproduksi Sistem yang Lebih Unggul dari S-300 Senin, 2012 September 03 16:18     Panglima Pangkalan Pertahanan Udara Khatamul Anbiya,
                    Message 9 of 13 , Sep 3, 2012

                      Iran: Kami Bisa Memproduksi Sistem yang Lebih Unggul dari S-300

                       
                      Panglima Pangkalan Pertahanan Udara Khatamul Anbiya, Brigjen Farzad Esmaili menyatakan, "Kami akan memproduksi sebuah sistem yang memiliki kemampuan lebih banyak dibandingkan sistem anti-rudal S-300."
                       
                      Hal itu dikemukakan Brigjen Esmaili hari ini (Senin, 3/9) dalam wawancaranya dengan para wartawan. Dikatakannya, "Tahun lalu kami berada di satu tahap produksinya, akan tetapi tahun ini kami berada di tingkat yang sudah memasuki tahap deteksi ancaman, produksi seluruh komponennya dengan bantuan sektor industri dan universitas, serta telah memasuki tahap perampungan."
                       
                      Ditambahkannya bahwa sistem tersebut lebih maju dibanding sistem S-300 produksi Rusia. "Kami tidak menemukan masalah dalam sistem radar, identifikasi dan penguncian, yang semuanya telah dirampungkan."
                       
                      Menurutnya, produksi sistem anti-rudal tersebut melalui proses yang sangat rumit dan proses identifikasi dan penghancuran target memerlukan kesabaran, ketelitian, dan keahlian tinggi. 
                       
                      Menyinggung penolakan Rusia menyerahkan sistem anti-rudal S-300 kepada Iran, Esmaili mengatakan, "Sejak saat itu pula, kami memulai produksi sistem anti-rudal yang menyerupai S-300." (IRIB Indonesia/MZ)
                    • Ali Al Asytar
                      Bush, Blair must stand trial for war crimes: Tutu South African Nobel Laureate, Archbishop Desmond Tutu (file photo) Sun Sep 2, 2012 2:13PM GMT 685 54  The
                      Message 10 of 13 , Sep 3, 2012

                        Bush, Blair must stand trial for war crimes: Tutu
                        South African Nobel Laureate, Archbishop Desmond Tutu (file photo)
                        South African Nobel Laureate, Archbishop Desmond Tutu (file photo)
                        Sun Sep 2, 2012 2:13PM GMT
                        685
                         
                        54
                         
                        The immorality of the United States and Great Britain's decision to invade Iraq in 2003, premised on the lie that Iraq possessed weapons of mass destruction, has destabilized and polarized the world to a greater extent than any other conflict in history.”
                        South African Nobel Laureate, Archbishop Desmond Tutu
                        South African Nobel Laureate Desmond Tutu has called for the trial of former US President George W. Bush and former British Prime Minister Tony Blair for their role in the Iraq war.


                        “The immorality of the United States and Great Britain's decision to invade Iraq in 2003, premised on the lie that Iraq possessed weapons of mass destruction, has destabilized and polarized the world to a greater extent than any other conflict in history,” Archbishop Desmond Tutu wrote in an article in The Observer on Sunday.

                        The Nobel Peace Prize winner called for the trial of the pair at the International Criminal Court (ICC) in The Hague.

                        Tutu added that, instead of recognizing the sophistications and issues of the world, “the then-leaders of the US and UK fabricated the grounds to behave like playground bullies and drive us further apart.”

                        He further argued that, the suffering and loss of the victims of the war were beyond the killing fields, “in the hardened hearts and minds of members of the human family across the world.”

                        Tony Blair, however, responded to Tutu in a statement saying that “this is the same argument we have had many times with nothing new to say.”

                        This comes after Tutu boycotted the one-day Discovery Invest Leadership Summit in Johannesburg on Tuesday, saying it would be “inappropriate” for him to share a platform with Blair, because of his “morally indefensible” support for the US-led war in Iraq.

                        Tutu has been a prominent peace icon in South Africa, and he won the Noble Peace Prize in 1984 following his campaign against apartheid.

                        TNP/JR/AZ
                      • Ali Al Asytar
                        KTT GNB di Tehran; Menengok Peran Iran di GNB Selasa, 2012 September 04 11:04     Republik Islam Iran dewasa ini menjadi pelopor kebangkitan, persatuan dan
                        Message 11 of 13 , Sep 4, 2012

                          KTT GNB di Tehran; Menengok Peran Iran di GNB

                           
                          Republik Islam Iran dewasa ini menjadi pelopor kebangkitan, persatuan dan kehormatan bangsa dunia. Bangsa-bangsa dunia yang menuntut independensi dan keadilan di benua Asia serta Afrika secara sadar mulai memusatkan perhatiannya ke Iran. Bangsa-bangsa ini menyadari bahwa Revolusi Islam menjadi inspirasi bagi kebangkitan lain di dunia untuk mendobrak ketidakadilan yang tengah berlangsung. Sementara itu, dari segi transformasi internasional, ideologi Republik Islam Iran di kancah internasional dapat menjadi teladan bagi bagi Gerakan Non Blok (GNB) untuk berkiprah dan menjadi kekuatan dunia.
                           
                          Tak diragukan lagi bahwa mengingat besarnya anggota yang dimiliki GNB dan mencakup dua pertiga negara dunia, organisasi ini sangat layak untuk menjadi kekuatan internasional dengan prinsip-prinsip dasar tidak berpihak (netral). Di sisi lain, Republik Islam Iran bertekad mengupayakan GNB menjadi kekuatan dunia yang memainkan peran signifikan. Iran sendiri yang dibentuk berdasarkan doktrin pendiri Republik Islam, Imam Khomeini "tidak Timur dan tidak Barat" sebenarnya sangat dekat dengan ideologi GNB.
                           
                          Republik Islam Iran pada tahun 1979 setelah kemenangan Revolusi Islam dan di KTT GNB ke 6 di Havana secara resmi menjadi anggota organisasi ini. Iran yang bergabung dengan Pakta Militer Baghdad, tidak dapat menghadiri KTT GNB pertama di Belgrad pada tahun 1961. Sejak saat itu keanggotaan Iran di GNB tidak pernah disinggung. Tahun 1979 setelah kemenangan Revolusi Islam, tumbangnya rezim Shah Palevi, bubarnya Pakta Cento dan menyusul kebijakan baru luar negeri Iran, keanggotaan Tehran di GNB mulai dibahas secara serius. Isidoro Malmierca Peoli, Menteri Luar Negeri Kuba waktu itu menyatakan bahwa setelah menyaksikan kebijakan baru luar negeri Iran, negara ini diterima secara resmi menjadi anggota GNB.
                           
                          Partisipasi Iran di organisasi ini senantiasa aktif. Upaya-upaya Iran selama menjadi anggota GNB adalah melontarkan isu Palestina, menentang kekerasan antar-mazhab dan rasisme, meminta dibukanya pasar negara-negara utara bagi ekspor negara-negara selatan. Sebaliknya GNB sangat aktif membela hak legal nuklir sipil Iran di Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Di sidang Dewan Gubernur IAEA yang membahas aktivitas nuklir Iran, GNB dalam sikapnya berulang kali meminta Dewan ini untuk menjahui pemanfaatan represi. GNB juga meminta IAEA teliti dalam mengkaji kondisi senjata seluruh negara anggota.
                           
                          Secara global dapat dikatakan keanggotaan Iran di GNB mampu membuat organisasi ini semakin mengarah ke peran internasional, khususnya Iran bersama Kuba, Malaysia dan Afrika Selatan menempati urutan keempat negara-negara pelopor kebijakan netral. Sejak bergabung dengan GNB, Iran senantiasa menekankan direalisasikannya misi organisasi.
                           
                          Sikap serius Iran tercermin dalam setiap statemen dan pidato pejabat resmi negara ini di setiap KTT GNB. Para petinggi Iran menyeru ditingkatkannya peran GNB di kancah internasional guna merealisasikan kesetaraan hukum di tingkat internasional. Dengan dasar ini Iran meyakini perlu diadakan reformasi di prinsip-prinsip dasar GNB guna menyempurnakan filsafat eksistensi organisasi ini, khususnya mengingat tuntutan dan transformasi dunia modern. Iran mengharapkan GNB bergerak ke arah positif, menggapai peran internasional serta memimpin dunia.
                           
                          Iran juga memiliki keinginan, di masa mendatang GNB akan semakin kuat dengan menggalang kerjasama budaya dan politik sesama anggota, mengaktifkan perangkat organisasi, menseriusi kapasitas besar politik dan meninjau ulang tujuan serta struktur Dewan Keamanan PBB serta mengupayakan keanggotaan tetap di Dewan Keamanan berdasarkan asas keadilan.
                           
                          Para pengamat menilai keharusan independensi politik mewajibkan negara-negara anggota GNB untuk menjahui kekuatan arogan dunia. Dan sebaliknya GNB harus aktif berpartisipasi dalam membentuk struktur dan sistem baru sehingga proses satu kutub kekuatan besar dunia di kancah internasional dapat dibendung atau setidaknya dikurangi.
                           
                          Usulan Ayatullah Shahroudi, mantan Ketua Mahkamah Agung Iran untuk menciptakan rancangan bagi pembentukan struktur hukum dan peradilan oleh GNB dapat berpengaruh langsung bagi nasib dan masa depan organisasi ini. Oleh karena itu, untuk menyimak peran dan posisi GNB terlebih dahulu harus dibahas kemampuan dan kapasitas politik, ekonomi dan budaya serta identitas negara-negara anggota sehingga akan berpengaruh pada kemajuan tujuan kolektif GNB dan gerakan organisasi ini di bidang perdamaian dan keamanan, independensi serta terbebas dari pengaruh kekuatan besar dunia.
                           
                          Menurut para pengamat, Iran sebagai pemain aktif dan penting internasional di GNB dapat memainkan peran dan memberikan pengaruh bagi terealisasinya ide-ide penggerak ke arah kemajuan di organisasi ini. Iran telah melakukan berbagai langkah penting untuk merealisasikan perubahan hubungan ekonomi dan politik internasional. Upaya Iran ini sangat sesuai dengan tujuan dan misi negara-negara anggota Gerakan Non Blok.
                           
                          Republik Islam Iran sejak menjadi anggota GNB hingga kini senantiasa berupaya merealisasikan misi organisasi ini dan memainkan peran penting dalam memajukan misi dan cita-cita GNB dalam menolak pengaruh kekuatan besar dunia serta memerangi ketidakadilan di sistem internasional. Pengalaman gemilang Iran sebagai salah satu anggota GNB dalam menentang pengaruh kekuatan imperialis dunia membuat para anggota sepakat menunjuk Iran sebagai ketua periodik GNB selanjutnya setelah Mesir.
                           
                          Kepemimpinan Iran di GNB untuk tiga tahun mendatang akan diserahkan Mesir di KTT GNB ke 16 di Tehran. Terdapat harapan bahwa dengan kepemimpinan Iran, GNB akan semakin aktif dan dapat memainkan peran lebih besar di tingkat internasional. Salah satu kebijakan luar negeri Iran adalah memperluas hubungan dengan negara-negara independen. Oleh karena itu, Iran sebagai ketua periodik baru GNB dan organisasi terbesar kedua dunia setelah PBB dapat memainkan peran signifikan dalam memimpin organiasasi ini. Sekali lagi KTT GNB ke 16 di Tehran merupakan kesempatan emas untuk merealisasikan misi dan cita-cita Gerakan Non Blok.
                           
                          Dapat disimpulkan bahwa dewasa ini setelah beberapa dekade dari pembentukan Gerakan Non Blok dan terealisasinya kerjasama serta partisipasi negara-negara anggota di berbagai bidang politik, ekonomi dan budaya mulai terasa kebutuhan bahwa GNB harus meningkatkan perannya di kancah internasional untuk mencegah petualangan dan arogansi kekuatan arogan dunia sehingga organisasi ini dapat tampil lebih memuaskan di transformasi dunia.
                           
                          Sementara itu, kehadiran pemimpin dan perwakilan lebih dari 120 negara dunia beserta negara pengamat, tamu dan organisasi internasional di KTT GNB Tehran dapat menjadi titik tolak untuk membuat Barat dan sekutu kawasannya semakin pasif serta menjadi simbol kemajuan kekuatan regional dan internasional Iran di hubungan internasional.
                           
                          Kehadiran para pemimpin dunia dan perwakilan organisasi internasional di Tehran dari sisi ekonomi juga patut untuk diperhatikan. Hal ini dapat menjadi jembatan baru bagi Iran untuk meruntuhkan sanksi ekonomi serta menggagalkan Barat mencapai ambisinya. Iran dapat memanfaatkan momen ini dengan melakukan berbagai lobi ekonomi serta meningkatkan volume hubungannya khususnya dengan negara-negara yang baru mengalami perubahan dengan menjalin berbagai kontrak. Dengan demikian diharapkan Iran akan mencapai puncak ekonomi dan kemajuan. (IRIB Indonesia)

                          Tags:

                          Related News

                          Suriah dan Kebohongan Media Mainstream



                          From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@...>
                          To: "PPDi@yahoogroups.com" <PPDi@yahoogroups.com>; "Lantak@yahoogroups.com" <Lantak@yahoogroups.com>; "ambon@yahoogroups.com" <ambon@yahoogroups.com>; "sueue@yahoogroups.com" <sueue@yahoogroups.com>; "politikmahasiswa@yahoogroups.com" <politikmahasiswa@yahoogroups.com>
                          Sent: Monday, September 3, 2012 6:14 PM
                          Subject: Iran: Kami Bisa Memproduksi Sistem yang Lebih Unggul dari S-300


                          Iran: Kami Bisa Memproduksi Sistem yang Lebih Unggul dari S-300

                           
                          Panglima Pangkalan Pertahanan Udara Khatamul Anbiya, Brigjen Farzad Esmaili menyatakan, "Kami akan memproduksi sebuah sistem yang memiliki kemampuan lebih banyak dibandingkan sistem anti-rudal S-300."
                           
                          Hal itu dikemukakan Brigjen Esmaili hari ini (Senin, 3/9) dalam wawancaranya dengan para wartawan. Dikatakannya, "Tahun lalu kami berada di satu tahap produksinya, akan tetapi tahun ini kami berada di tingkat yang sudah memasuki tahap deteksi ancaman, produksi seluruh komponennya dengan bantuan sektor industri dan universitas, serta telah memasuki tahap perampungan."
                           
                          Ditambahkannya bahwa sistem tersebut lebih maju dibanding sistem S-300 produksi Rusia. "Kami tidak menemukan masalah dalam sistem radar, identifikasi dan penguncian, yang semuanya telah dirampungkan."
                           
                          Menurutnya, produksi sistem anti-rudal tersebut melalui proses yang sangat rumit dan proses identifikasi dan penghancuran target memerlukan kesabaran, ketelitian, dan keahlian tinggi. 
                           
                          Menyinggung penolakan Rusia menyerahkan sistem anti-rudal S-300 kepada Iran, Esmaili mengatakan, "Sejak saat itu pula, kami memulai produksi sistem anti-rudal yang menyerupai S-300." (IRIB Indonesia/MZ)


                        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.