Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Walau MALIK MAHMUD nggak bisa ngaji namun dia pandai menyanyi LAGU INDONESIA RAYA.

Expand Messages
  • Acheh Watch
    Message 1 of 26 , Aug 31, 2012
    • 1 Attachment
    • 2.3 MB

  • DARAH SYUHADA
    ________________________________ Från: Acheh Watch Till: Aceh Institute ; achehnews@yahoogroups.com
    Message 2 of 26 , Sep 1, 2012


    Från: Acheh Watch <rajabakoi@...>
    Till: "Aceh Institute <aceh_institute@yahoogroups.com>; "achehnews@yahoogroups.com" <achehnews@yahoogroups.com>; "aceh_milist@yahoogroups.com" <aceh_milist@yahoogroups.com>; "acehkita@yahoogroups.com" <acehkita@yahoogroups.com>; ajisaja@yahoogroups.com
    Skickat: lördag, 1 september 2012 6:39
    Ämne: |IACSF| Walau MALIK MAHMUD nggak bisa ngaji namun dia pandai menyanyi LAGU INDONESIA RAYA.

      .


  • Acheh Watch
    7 Tahun MoU Damai Helsinki Hasrat Merdeka Tetap Membara Lahir sebagai generasi Aceh ketiga, berpendidikan tinggi di luar negeri dan memiliki kemampuan
    Message 3 of 26 , Sep 2, 2012
    • 0 Attachment
      7 Tahun MoU Damai Helsinki

      Hasrat Merdeka Tetap Membara

      Lahir sebagai generasi Aceh ketiga, berpendidikan tinggi di luar negeri dan memiliki kemampuan intelektual serta teknologi. Mereka menjalin komunikasi dengan mantan kombatan GAM yang kecewa.  Hasrat untuk Merdeka ternyata masih ada.

      Muhammad Saleh

      TUBUHNYA tinggi kurus. Penampilannya juga sederhana. Usianya sudah kepala lima (50 tahun—red). Jika tak kenal, jangan ajak bicara. Dia cenderung tertutup dan enggan untuk bertanya.  Sebaliknya, jika bisa merebut hatinya, dia akan ungkapkan semua. Apa yang dia lakukan dan kerjakan saat Aceh masih dilanda konflik. Termasuk menghabisi semua yang dianggap musuh.  Prajurit TNI, Polri, sesama rakyat dan tokoh Aceh serta etnis Jawa.

      “Andai orang yang telah kami bunuh dulu bisa hidup dan bangkit kembali, mungkin mereka akan mengejar dan membunuh kami kembali. Saya benar-benar menyesal. Jika saya tahu, akhir dari perjuangan Paduka Yang Mulia Wali Neugara Atjeh Merdeka Tgk Hasan Tiro, digunakan hanya untuk meraih kursi gubernur, bupati, walikota dan DPR Aceh, saya tak mau bergabung dalam GAM,” kata pria ini polos, sambil mengusap air mata.  Tanpa diminta, dia pun menyebutkan satu persatu nama-nama yang syahid. Mulai dari rakyat biasa yang dituduh cuak (mata-mata—red) hingga Prof. Dr. Dayan Dawood (Rektor Unsyiah, Banda Aceh), Dr. Safwan Idris (Rektor IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh) dan Mayjen TNI (Purn) Teuku Djohan (mantan Wagub Aceh). “Itu saja yang masih saya ingat, sisanya saya lupa,” ungkap dia.

      Seterusnya, dia bercerita tentang sisi lain dari perjuangan yang telah dia lakoni sejak bergabung dengan GAM tahun 1990-2004.  Mulai dari berhadap-hadapan dengan prajurit TNI dan Polri di lapangan hingga kesepakatan untuk tidak saling menyerang atau baku tembak. “Ya, kalau nasib lagi baik malah kami beli senjata dan peluru dari oknum TNI dan Polri.  Mereka juga butuh uang,” kenang dia, sambil tersenyum.

      Secara tak senggaja, pria ini bertemu saya, awal Agustus lalu di Banda Aceh. Sebut saja namanya RAJU (samaran—red). Pendidikannya hanya tamat sekolah dasar (SD). Karena alasan keselamatan, kami sepakat untuk tidak menuliskan secara jelas identitasnya.  “Bukan saya takut, tapi dari pada mati konyol, lebih baik nama saya Anda sembunyikan,” pinta ayah dua anak ini.  Selanjutnya, kami pun sering bertegur sapa dan bercerita. Tentu tak jauh dari kenangan indah dan pahit getir masa lalu, saat Aceh masih dilanda konflik bersenjata hingga datang MoU Damai Helsinki, antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), 15 Agustus 2005 silam di Helsinki, Finlandia.

      Dan, Rabu, 15 Agustus 2012 lalu, saya mengajak dia untuk bertemu kembali sambil ngopi. Tujuannya, hanya ingin meminta pendapatnya seputar peringatan 7 Tahun MoU Damai. “Kini, saya tak lagi berharap banyak. Saya dan kawan-kawan telah memilih jalan sendiri, mencari kehidupan untuk anak dan istri. Tapi satu hal, kami jangan diganggu.  Mempertahankan diri itu wajib,” tegasnya dengan wajah serius.

      Nah, dari RAJU saya pun dapat memahami dan mengetahui posisi pimpinan dan mantan kombatan GAM saat ini. Walau tak lengkap dan utuh, setidaknya bisa sebagai pintu masuk selanjutnya.  Termasuk, kiprah dan gerakan anggota Majelis Pemerintah (MP) GAM di Aceh. Salah-salah GAerakan “sempalan” dari Aceh Merdeka (AM) yang dibentuk Hasan Tiro tahun 1976.  Situasi ini jauh berbeda dengan tahun pertama dan kedua, paska penandatanganan MoU Damai RI-GAM. Hampir tak dapat diperoleh dan akses berbagai cerita serta sisi lain dari sepak terjang para pimpinan maupun mantan anggota GAM. “Ada, memang benar.  Beberapa kawan seperjuangan yang dulu saya kenal, kini mengaku sebagai anggota MP GAM. Dia tidak puas dengan hasil yang ada sekarang,” ungkap RAJU.

      Masih kata RAJU. “Semua sudah mabuk kekuasaan. Hanya gara-gara kursi Gubernur, Bupati dan Walikota, kami saling membunuh.  Saat di hutan, sama-sama tahan lapar dan dalam ancaman mati. Tapi sekarang, lupa diri. Yang menerima manfaat justeru orangorang yang bergabung kemudian.  Mereka pinter menjilat dan cari muka,” katanya sambil menyedot dalam sebatang rokok kretek.

      RAJU berkisah tentang duka saat perjuangan di Buket Cot Keueung, Aceh Besar. Batinnya sempat terpukul sepekan, karena sohib dekatnya syahid dalam perjuangan.  Suaranya tiba-tiba tinggi, ketika dia bercerita tentang sukses story yang telah dia dan kawan-kawannya lakukan “Saat itu, kami berhasil menembak mati beberapa prajurit TNI dalam kontak tembak 24 jam,”kenang RAJU.  Begitupun, satu hal yang tak dapat dia dan kawan-kawannya terima. “Dulu, ketika kami mati dianggap syahid dan resiko perjuangan.  Kini, sedikit saja berbeda pandangan politik, langsung dicap sebagai pengkhianat. Ini benar-benar tidak adil,” sebut RAJU yang mengaku ikut memenangkan pasangan Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, saat Pemilukada 2006 silam dan Partai Aceh (PA) untuk kursi DPR Aceh dan DPRK Aceh Besar pada Pemilu Legislatif 2009 lalu.

      “Sejujur saja, saat itu saya ikut menekan orang kampung untuk memilih PA,” ungkap dia.  Memang, paska damai dan Pemilukada 2006 silam, RAJU lebih merapatkan diri dalam barisan Irwandi Yusuf. Ini dia lakukan, karena perintah Panglima GAM (komando—red). Hasilnya, RAJU memperoleh beberapa pekerjaan. Dari hasil itulah, dia bisa menghidupkan dapur untuk anak dan istri serta kawan-kawan.  Pernah sekali waktu, dana Rp 1 miliar lebih dari hasil keuntungan proyek dia bagikan. Saat itu, menjelang Hari Raya Idul Fitri 1431 H atau 2010 lalu. “Uang itu saya ambil cash di bank dan saya masukkan dalam karung beras serta saya bagikan kepada kawan-kawan,” kenang dia.


      ***


      SEPERTI Idul Fitri tahun lalu, lebaran kedua dan ketiga tahun ini pun saya dan keluarga memilih mudik ke Lhokseumawe dan Aceh Timur. Selain bersilaturrahmi dengan keluarga, juga bertemu dengan rekan-rekan lainnya.  Hari itu, Selasa, 21 Agustus 2012, sekira pukul 11.00 WIB, saat sedang bertamu di Bagok, Kabupaten Aceh Timur, telepon seluler saya berdering. “Halo, mohon maaf lahir dan batin. Lebaran ini kita tak bisa bertemu.  Kondisi saya dan kawan-kawan sedang tidak kondusif, paska Pilkada lalu,” kata seorang anak muda di ujung telpon, sambil bertanya dimana posisi saya saat itu.  Sebut saja RAMAN (samaran—red). Dia merupakan mantan kombatan GAM Wilayah Aceh Utara atau akrab disebut Pase. 

      RAMAN adalah salah seorang teman saya di SMA dulu, di Lhokseumawe. Ayahnya merengang nyawa, setelah ditembak oknum TNI tahun 1986 silam dengan tuduhan terlibat dan ikut membantu GAM.  Nah, entah karena dendam atau kesadaran sendiri, setamat SMA, warga Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara ini, memilih bergabung dalam GAM. Dia sempat diburu TNI dan Polri dan akhirnya kabur ke Malaysia dan kembali tahun 2000. Saat melakukan tugas jurnalistik ketika itu, saya sering meminta jasa RAMAN untuk menerobos ke sejumlah Markas GAM. Termasuk berbagai informasi operasi serta kontak senjata yang terjadi.

      Dari mulut RAMAN pula, saya kembali mendapat cerita basah seputar situasi dan kondisi di tubuh (internal) PA serta mantan kombatan GAM. “Saat ini saya dan 30 kawan-kawan pendukung Tgk Liyah Pase (Ilyas A. Hamid, mantan Bupati Aceh Utara—red) berada di salah satu tempat di pedalaman Sawang.  Untuk sementara, kami tidak bisa bermain di kota, karena telah dicap sebagai pengkhianat,” ungkap RAMAN.

      Saat Pemilukada, 9 April 2012 lalu, RAMAN memang pendukung setia Tgk Liyah Pase. Untuk posisi gubernur, dia mengaku pendukung ring satu Irwandi Yusuf.  Dia punya alasan tertentu kenapa menjatuhkan pilihan kepada Tgk Liyah dan Irwandi Yusuf. “Saya bukan pengkhianat. Yang saya dan kawan-kawan lakukan, semata-mata karena setia kepada perjuangan dan panglima.  Dulu pun saya mendukung Tgk Agam (sebutan untuk Irwandi—red) dan Tgk Liyah karena perintah komando dari Mualem (Panglima GAM Muzakir Manaf, kini Wagub Aceh) dan Tgk Sofyan Daud,” ungkap RAMAN.  Bukankah, Mualem juga maju sebagai Wagub Aceh? tanya saya. Dengan lantang RAMAN mengatakan. “Karena itulah, kami tak mendukungnya. Anda bisa bayangkan, apa jadinya perjuangan selama 30 tahun lebih yang di proklamirkan Paduka Yang Mulia Hasan Tiro, jika panglima tertinggi maju jadi pejabat.  Jika ada masalah, kepada siapa lagi kami mengadu,” kata RAMAN lantang.

      Kecuali itu, yang membuat batin RAMAN berontak adalah, begitu mudah gelar pengkhianat perjuangan diberikan kepada dia dan kawan-kawannya saat ini. “Saat kampanye di Landing, Lhoksukon, Aceh Utara Anda dengar sendiri penjelasan dari Tgk Sofyan Daud, Tgk Liyah dan Tgk Agam. Apa peran mereka dalam perjuangan dan siapa mereka-mereka itu (Malek Mahmud, Zaini Abdullah dan Mualem—red). Jadi, tidak usah saya jelaskan lagi,” ungkap RAMAN.  Satu hal yang membuat jantung saya berdetak kencang adalah saat muncul pengakuan RAMAN tentang MP GAM.

      “Sejak setahun lalu, saya terus melakukan kontak dengan Arif Fadillah (aktivis MP GAM—red) di Sweden dan Amerika serta beberapa pemimpin lainnya. Dari dialah, kami paham, duduk persoalan perjuangan yang sebenarnya.  Tak semua tuduhan dan propaganda murahan yang selama ini diarahkan kepada MP GAM dan Tgk Husaini Hasan benar,” ulas RAMAN.

      Menurut RAMAN, saat ini ada seratusan anggota dan aktivis MP GAM asal negeri jiran Malaysia, Sweden, Denmark dan Australia, berada di Aceh. “Kami sudah beberapa kali bertemu dan mengadakan rapat. Tapi, Anda tak perlu tahu dimana. Kami akan lanjutkan perjuangan Paduka Yang Mulia Tgk Hasan Tiro untuk Aceh Merdeka. Dan kami akan tueng bila (membalas—red) kematian Tgk Don Fahri dan Hanafiah Norwe serta Tgk Cagee,” kata RAMAN dengan suara tinggi dan langsung mematikan telepon seluler. Hingga, Jumat pekan lalu, nomor seluler RAMAN, tak bisa lagi dihubungi. “Ka beuh, saleum (sudah ya, salam—red),” kata RAMAN.


      ***


      DARI hulu hingga hilir. Dari Aceh hingga luar negeri, semangat perlawanan atau keinginan untuk mengusung Aceh Merdeka, ternyata belum juga padam di benak sebagian mantan kombatan GAM serta warga Aceh yang kini bermukim di luar negeri. Sebaliknya, tetap saja membara. Namanya Arif Fadillah. Di dunia maya (blog), dia menyatakan diri sebagai Ketua Presidium Gerakan Kemerdekaan Aceh atau Acheh Sumatra National Liberation Front (ASLNF). Sosok anak muda ini aktif mengelola dan menyuarakan lanjutan perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di luar negeri, khususnya Eropa.  Mereka menamakan dirinya Majelis Pemerintah (MP) Gerakan Aceh Merdeka, dipimpin dr. Husaini Hasan, sohib dekat almarhum Hasan Tiro dan dr. Zaini Abdullah (mantan Menteri Luar Negeri Aceh Merdeka—red).  Selain sekampung, Pidie. Husaini Hasan dan Zaini Abdullah merupakan satu almamater, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU). Mereka pecah, karena beda tafsir dalam menarik simpati dari Hasan Tiro. Puncaknya, dalam proses damai, 15 Agustus 2005 di Helsinki.  

      Husaini Hasan Cs mengaku tak dilibatkan jika tak elok disebut telikung. Hasilnya, gerbong Zaini Abdullah bersama Malek Mahmud Cs, menerima tawaran damai Pemerintah Indonesia. Sementara, gerbong Husaini Hasan Cs, menolaknya dan mendirikan MP GAM.  Bersama Arif, Husaini Hasan, ada sederet nama lain seperti, Tengku Amir Ishak SH, Asnawi Ali, Yusuf Daud, Diya Yusuf, Mustafa Ali, Herry Iskandar, Muhammad Ali, M. Nur Daud, Hanafiah Sjech, Awee Hasan, Mazlan Yakob, Sahli bin Mubin, Tayeb Yet, Fasola, Abdul Manaf, Ali Rahmad, Ahmad Amin, Junaidi Ahmad dan lain-lain.

      Arif Fadillah, Asnawi Ali dan Yusuf Daud (Yusda), cukup berperan mengeluarkan pernyataan pers atas nama ASNLF. Arif, Asnawi dan Yusuf Daud, sepertinya seiring dan sejalan. “Memang betul, pada pertemuan, Mei 2012 lalu, Yusda dan Asnawi Ali menghadiri pertemuan dan pelatihan HAM serta demokrasi di Jenewa, Swiss.  Termasuk pertemuan serupa di Belanda,” ungkap sumber media ini, Jumat pekan lalu.  Sumber tadi menjelaskan, Arif Fadillah sempat tercatat sebagai salah seorang dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Medio tahun 1998 atau 1999, kabarnya dia mendapat beasiswa atau tugas belajar dari BPPT, Kemenristek RI ke Jerman. 

      Nah, saat di Jerman, Arif ikut membantu dan bergabung dengan sejumlah pimpinan GAM di Eropa, terutama saat pertemuan dan pembahasan MoU Damai di Helsinki.  Merasa tak sepakat dengan butir-butir MoU, Arif bersama Fadlon Tripa dan Yusuf Daud saat itu, menyatakan menarik diri dan berikrar akan melanjutkan perjuangan Hasan Tiro yaitu Aceh Merdeka. Maka, tahun 2009 lalu, disepakati kembali melanjutkan perjuangan Aceh Merdeka dengan tetap menambalkan nama: Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) dan Arif Fadillah ditunjuk sebagai Ketua Presidium. “Tapi Fadlon sempat pulang ke Aceh karena diajak Irwandi, sementara Yusuf Daud dan Arif tidak kembali ke Aceh,” ungkap sumber ini. 

      Entah karena alasan itu pula, saya sempat menerima beberapa kali surat elektronik (email) dari Asnawi Ali. Isinya, cerita tentang berbagai kegiatan ASLNF.  Termasuk siaran pers Asnawi Ali dan Yusuf Daud (Yusda) yang terbang dari Swedia menuju Jenewa, 12 Mei 2012 lalu.  Mereka hadir di sana, untuk memenuhi undangan salah satu LSM international yang bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan fokus mengatasi ketidakadilan dan permasalahan hak asasi manusia di belahan dunia. LSM Internasional itu berkantor pusat di Jenewa dan terpaut ratusan meter dari kantor PBB urusan masalah HAM di Swiss. “Kami sudah mengirim siaran pers, tapi kenapa MODUS ACEH tidak mempublikasinya,” tanya Asnawi Ali melalui email.

      Kabarnya, hampir semua aktivis HAM di setiap negara, khususnya negara anggota PBB wajib menyampaikan upaya pelaksanaan kemajuan dan perlindungan HAM di negaranya masing-masing sebagai Tinjaun Periodik Universal -UPR (Universal Periodic Review). “Acara empat tahunan sekali itu merupakan mekanisme terbaru Dewan HAM yang memberi kesempatan kepada negara anggota PBB untuk menyampaikan berbagai upaya dan pelaksanaan pemajuan dan perlindungan HAM di negaranya,” jelas Yusuf Daud.

      Sebelumnya, Minggu (20/5), Harian Media Indonesia memberitakan, satu LSM Human Right Working Group (HRWG) menilai Indonesia memang tidak mampu menyelesaikan permasalahan HAM. “Kami berharap bahwa sidang UPR (Universal Periodic Review) bisa memberikan rekomendasi lengkap,” kata Choirul Aman yang juga salah satu anggota delegasi LSM Indonesia untuk menghadiri sidang yang diadakan 23 Mei, di Jenewa, Swiss.  

      Tak hanya itu, Rabu pagi, 8 Agustus 2012 lalu, sejumlah aktivis HAM dan demokrasi dari berbagai dunia, juga menghadiri “International Human Rights Training” yang berlangsung di Gedung Clingendael Netherlands Institute.  Sebagai diplomat resmi, Duta Besar Bolivia untuk Belanda didaulat berpidato, selanjutnya Direktur Clingendael Netherlands Institute, Ketua Unpresented Nations and Peoples Organization (UNPO), Ketua Netherlands Centre for Indigenous Peoples (NCIV) dan Walikota Den Haag.  Nama UNPO sudah akrab bagi mereka dipengasingan. Pelatihan Speakout! 2012 ini adalah even tahunan yang keempat kalinya. Tahun ini giliran UNPO memfokuskan pelatihan HAM kepada generasi muda. Beberapa diantaranya pemudi Zimbabwe representatif dari UNPO Brussel, aktivis untuk Tibet, The Young Assyrians in Australia, Anne Frank House Netherland, Nuria Andreu Spain, Hmong Federation People Assembly, Khmer Krom Cambodia, Political Advisor for Internatonal Affairs Republic of Kosovo, Swedish Achehnese Association, Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF), serta beberapa mahasiswa asal Jerman dan Belanda kandidat master jurusan hubungan Internasional.

      Rupanya, Yusda dan Asnawi Ali memanfaatkan pertemuan itu dengan membuka telepon gratis melalui sambungan internet Skype. Tujuannya, bukan hanya untuk didengar, tapi dapat juga melihat langsung melalui kamera tentang pelatihan HAM SpeakOut! 2012, di Den Haag, Belanda.  Diakui Aswani Ali, pertemuan di Kota Den Haag mempunyai arti besar bagi aktivis ASNLF.  Setelah sebelumnya sempat “lolos” dan berhasil memasuki Gedung PBB urusan HAM di Jenewa dalam sidang UPR (Universal Periodic Review) akhir Mei lalu 2012.  Sebulan kemudian memenuhi undangan untuk berdialog dengan salah satu LSM dan lembaga kemanusiaan Internasional di kota dan negara yang sama.  “Menyadari akan kelangsungan perjuangan yang panjang, regenerasi untuk mencetak aktivis baru bagi ASNLF sedang dipersiapkan,” tulis Asnawi.

      Lantas, apa kata Malek Mahmud? “Semua terserah mereka. Kalau masih ada yang mau merdeka silahkan. Kami tidak melarang”. Sepertinya, hasrat untuk merdeka masih membara di belahan negara Eropa? Entahlah, hanya waktu dan sejarah yang bisa menjawabnya.***

      Sumber:
      Tabloid Modus, edisi 27 Agustus - 2 September 2012.
      http://modusaceh.com/index.html





    • Acheh Watch
      Message 4 of 26 , Sep 2, 2012





    • Acheh Watch
      Foto Bersama Istri Pejabat Tolong Dong Foto Kami Tuesday, June 26, 2012 Banda Aceh | acehtraffic.com - Hari pertama menjalani rutinitas sebagai istri
      Message 5 of 26 , Sep 4, 2012
      • 0 Attachment

        Foto Bersama Istri Pejabat " Tolong Dong Foto Kami"

        Tuesday, June 26, 2012

        Banda Aceh | acehtraffic.com - Hari pertama menjalani rutinitas sebagai istri Gubernur Aceh, Ny Niazah Abd Hamid menjadi incaran isteri pejabat Depdagri.

        Di sela-sela pertemuan antara Mendagri Gamawan Fauzi, Gubernur Zaini Abdullah, mantan Pj Gubernur Aceh Tarmizi A Karim, Dirjen Otda Kemendagri Johermansyah Johan, para istri pejabat memanfaatkan waktu senggang untuk foto bersama di samping Kolam Renang, Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Selasa 26 Juni 2012. 

        Isteri Mendagri Hj Vita Gamawan, isteri mantan Pj Gubernur Aceh Inayati Tarmizi A Karim bersama isteri pejabat Depdagri lain bergaya di depan kamera bersama Niazah.

        Foto mereka diabadikan oleh staf Depdagri serta sekretaris pribadi isteri pejabat dimaksud.

        Ummi Niazah tampil anggun pada pagi itu. "Tolong dong kami difoto, dan jangan lupa dikirim via email ya," ujar Inayati.

        Ummi Niazah kepada serambinews, mengaku rutinitas hari pertama menjadi sebagai istri gubernur ibarat mimpi. "Nyau lage lam lumpau sang (ini ibarat mimpi-red)," ujarnya tersenyum. | Serambi

         

        Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!"
        http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related




      • Acheh Watch
        ia Former Liberian president Charles Taylor, April 2006, has flown from Freetown to the Netherlands where he will stand trial for war crimes (AFP/File) =====
        Message 6 of 26 , Sep 4, 2012
        ia

        Former Liberian president Charles Taylor, April 2006, has flown from Freetown to the Netherlands where he will stand trial for war crimes (AFP/File)
        =====



        ''You name any human rights violations, Aceh has it. If anybody wants to research human rights violation, Aceh would be a perfect place to go.'' Debra Yatim, The Nation, Bangkok, October 14, 1999

        Geonocide in Bosnia


        Trial of Slobodan Milosevic in Den Haag



        Salah saboh cell teumpat tinggai Charles Taylor dan Milosovic di den Haag.
        (Pakon bgs atjeh han keumah geuba algojo2 jawa keuno?)
         
        Genocide in Acheh


        Drop dan ba u Mahkamah International !

        Wiranto Cs
         
        Drop dan ba u Mahkamah International !

        SBY Cs
         
         
         

        A family returns to its burned-out house
        by Indonesian military


        A mass grave has been unearthed
        "The darkest chapter in Indonesia's history" Grim evidence of the army's campaign against separatism in Aceh is only now being uncovered. Only now can the real grieving begin. The BBC's Jonathan Head:



        One of the sixty burned-alive Achehnese
        civilians by Indonesian army in the village of Lancok, Syamtalira Bayu, North Acheh, on 19/03/2002


        Investigators have found a number of mass graves in Acheh committed by the Indonesian regime
         

        Indonesian troops shot dead up to 60 peopleand wounded 10 last Friday in two villagesin Beutong Ateuh of West Aceh. And the bodies were thrown into an abandoned wel
        ''Name any human rights violations, Aceh has it. If anybody wants to research human rights violation, Aceh would be a perfect place to go.'' Debra Yatim, The Nation, Bangkok, October 14, 1999

        2-7 Achehnese killed everyday by
        Indonesian Colonialism Regime


         
         


        Jenazah Mukhtar(24) satpam kantor Dinas Sosial Prov NAD,yang meninggal akibat penganiayaan oknum polisi, diciumi ibu kandungnya sesaat sebelum dikafankan di rumah duka Desa Puni Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar, Jumat (27/10/2006). SERAMBI /MANSHAR

        Family and colleagues mourn a farmer as he
        is prepared for burial.

        Massacred in KNPI Lhokseumawe, 60 civilians were brutally butchered by Indonesian Occupation Forces


        Massacred in Simpang KKA, 250 villagers were brutally butchered by Indonesian Occupation Forces


        The Victims tortures before they kills


        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh


        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        Local police chief Said Huseini said three "separatist rebels" were shot dead Saturday on the outskirts of the provincial capital Banda Aceh. A civilian was killed in the crossfire, he said.


        MASYARAKAT ACEH BERBARING DI TANAH PADA SAAT TNI AD MELEPASKAN TEMBAKAN PERINGATAN PADA RIBUAN PENGUNJUK RASA DI LHOKSEUMAWE, PROPINSI ACEH 21 APRIL 1999. DUA ORANG PENDUDUK TEWAS SETELAH POLISSI DAN TENTARA MEMBUBARKAN UNJUK RASA RIBUAN PELAJAR SEKOLAH YANG MEMINTA DILEPASKANNYA 300 ORANG PELAJAR YANG TERTANGKAP SAAT UNJUK RASA MENDUKUNG KEMERDEKAAN ACEH BEBERAPA HARI SEBELUMNYA. (en/str: REUTERS)


        Seorang ibu menangis setelah anak kandungnya dibunuh
        secara sangat kejam dan keji oleh babi jawa


        Seorang anak dan ibunya kembali kerumah yang baru saja dibakar oleh anjing jawa

        Setelah dibunuh Anjing TNI menyuruh masyarakat kampung untuk mengambilnya


        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh, Kamis, 9 Augustus 2001, Avdelning 4, PT Bumi Flora, Desa Alue Rambôt, Kec. Bandar Alam Aceh Timur










        Pihak keluarga, sejak awal tidak setuju otopsi dilakukan. Karena dari awal kejadian mereka sudah bawa korban ke rumah sakit. “Jadi, mengapa setelah sampai dua bulan kemudian baru diotopsi. Ini pun dipaksa,” kata Yusuf, abang Muslem. Se-usai otopsi. “Kami melihat, meski ada tuntutan tapi tidak ada proses. Apalagi, kami masyarakat awam. Kalau pun ada hukum, yang pegang hukum nggak adil,” tambahnya.
         




        The wife and children of an Acehnese farmer
        killed by Indonesian soldiers

        Just In One Day, Over 100 Unarmed Achehnese Civilianswere Unlawfully Killed by TNI

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh
        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh


        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh


        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh


        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh

        Men in Aceh are questioned by
        Indonesian soldiers

        KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap Bangsa Aceh


        BABI-BABI JAWA MENGADAKAN PEMERIKSAN KEPADA SETIAP KENDARAAN YANG AKAN MENUJU KOTA BANDA ACEH TEMPAT DI ADAKANNYA SIDANG RAYA RAKYAT ACEH UNTUK KEDAMAIAN, 10 NOVEMBER 2000. TINDAKAN KERAS APARAT KEPADA MASYARAKAT YANG AKAN MENGHADIRI SIDANG ITU MENGAKIBATKAN BELASAN ORANG MENINGGAL DUNIA. (AP Photo/Ismael)


        Seorang student berdiri didepan rumah sekolahnya yang baru saja dibakar hangus oleh anjing-anjing TNI

        Salah seorang masyarakat biasa yg
        dibunuh secara begitu keji dan kejam oleh babi dan anjing jawa-TNI di Kecamatan Nilam, Aceh Utara

         
         
         
         

        Press Release

        To News Editors
        July 21, 1999
        For Immediate Release
        ACEH REBEL LEADER CALLS INDONESIAN RULE ABSURD
        In a rare interview from his exile in Sweden, the leader of the movement fighting for independence in Indonesia's northernmost province of Aceh, Hasan di Tiro, says Indonesia has no right to govern Aceh. The exclusive interview with the FAR EASTERN ECONOMIC REVIEW appears in its July 29 issue, published Thursday, July 22.
        The uncompromising di Tiro calls Indonesia another name for the Dutch East Indies with new rulers, Javanese instead of Dutch. Di Tiro, who declared Aceh's independence in 1976 but fled to Sweden three years later, dismisses Indonesia's new autonomy legislation as irrelevant. The notion of Indonesia is absurd, he says. He also ridicules the Bahasa Indonesia language as "pidgin Malay" and calls the Javanese "barbaric and uncivilized."
        Di Tiro puts the overall strength of separatist forces operating in Aceh at around 5,000. Asked what sort of message would he send to a new Indonesian government, perhaps one headed by Megawati Sukarnoputri whose party won the largest number of votes in June's parliamentary elections, Di Tiro says: "No message. They're all the same. Uneducated fools."
        The REVIEW obtained the interview amid mounting concern that Aceh may be posing a serious challenge to Indonesian unity. The REVIEW reports Indonesian military concerns that outside support makes Aceh's rebels much more dangerous than the ragtag, poorly armed independence fighters of East Timor and Irian Jaya.
        Two battalions of troops--backed by 1,700 paramilitary police from Jakarta--have renewed operations in Aceh response to a wave of ambushes, assassinations and arson attacks in recent weeks. In one of the worst incidents so far, guerrillas killed five soldiers and wounded 20 in a July 19 ambush on a military convoy. More than 70,000 refugees have scattered across Aceh.

        For further information, please contact:
        Michael Vatikiotis
        Far Eastern Economic Review
        Tel 852 2508 4420
        Fax 852 2503 1530
         

        The death of the charismatic Syafii, 54, his wife Fatimah alias Aisyah and five bodyguards were killed in the head and chest on Tuesday during fierce battle. Indonesia accused of treachery over Syafii's killing. (AT)

        The remains of great and charismatic Abdullah Syafei (L), 54, his wife Fatimah alias Aisyah (R) were taken to their house after verification of identities by his brother Zakaria at Sigli hospital on 24 January 2002. Abdullah Syafei was the Free Acheh Movement (GAM)' s War Commander who was killed by Indonesian troops on 22 January. GAM has accused Indonesian military of treachery over Syafii's killing. (AT)

        Dari awai








         

        Almarhum Sjahid Jafar Siddiq Hamzah, murdered by Indonesian regime

        "KEBIADABAN KAFIR indonesia jawa tidak akan kita maafkan oleh kita Bangsa Aceh.
        Lihat dalam foto, bagaimana kafir laknat penjajah indonesia jawa membunuh anak2 Bangsa Aceh di depan ibu2 mereka yang telah tua. Kemudian kafir laknat indonesia jawa itu telah mengikat tangan2 ibu mereka.....Demi Allah, kita Bangsa Aceh wajib terus memerangi kafir laknat penjajah indonesia jawa penyembah berhala burung garuda dan pancasila. KITA BANGSA ACEH JANGAN SEKALI-KALI PATAH SEMANGAT dalam memerangi kafir laknat indonesia jawa yang biadab itu.
        Wassalam,
        Puteh Sarong



        Sampoë uroë njoe










        *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"
        *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai bangsa terjajah"

      • Acheh Watch
        1. 56217Like ·  · Share 2. Pna Partai Nasional Aceh  2820Like ·  · Share 3. http://www.facebook.com/pnapartai.aceh?clk_loc=3  post * * 4.   5.
        Message 7 of 26 , Sep 6, 2012
        • 0 Attachment
        • Acheh Watch
          Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)OPINI | 03 August 2012 | 09:20Dibaca: 462   Komentar: 1   Nihil Malik Khaidir Mahmud. Demikianlah nama
          Message 8 of 26 , Sep 8, 2012
          • 0 Attachment

            Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)

            OPINI | 03 August 2012 | 09:20Dibaca: 462   Komentar: 1   Nihil
            Malik Khaidir Mahmud. Demikianlah nama asli beliau. Seorang tokoh elit eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal dekat dengan Wali Nanggroe, Hasan Tiro. Tokoh yang satu ini memang sungguh unik, tertutup dan sangat berhati-hati dalam berbagai isu yang menyangkut akan latar belakang dan riwayat hidupnya. Sehingga tidak diperoleh catatan yang jelas apa dan siapa Malik Mahmud tersebut. Sementara itu, arah politik Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki, menjadikan tokoh ini begitu populer sebagai Perdana Menteri GAM yang “berhasil” membawa perdamaian ke Aceh melalui jalur politik. Hingga saat ini, tidak ada catatan yang jelas mengenai siapa sebenarnya Malik Mahmud ini. Dari mana ia berasal, kompetensinya dalam karir yang digelutinya selama ini, catatan pendidikan dan pengalaman pekerjaan, keluarga, anak dan istri serta hal-hal lain yang terasa gelap bagi masyarakat Aceh tentang sosok yang disebut-sebut akan menjadi figure pemersatu bagi rakyat Aceh.

            Riwayat Kehidupan
            Ia lahir pada tahun 1939 si Singapura. Menghabiskan sebagian besar hidupnya di perantauan mengikuti orang tuanya yang bekerja sebagai Saudagar di Singapura. Semasa tinggal di Singapura, ia sempat bekerja sebagai pegawai pencatatan dan kelahiran sipil lalu terdaftar sebagai Tentara Marinir Singapura akibat program wajib militer yang diberlakukan oleh negara itu. Tidak ada catatan yang jelas mengenai kiprah maupun karir Malik di militer. Selanjutnya, asal nama Malik Mahmud Al Haythar berasal dari kesulitan beliau di masa kecilnya dengan menyebut nama tengahnya, “Khaidir”. Sehingga menggantinya dengan ejaan yang lebih mudah menjadi Hayther atau Haythar. Kata penambahan “Al” itu hanyalah reka-reka sendiri mengingat orang Aceh senang dengan hal-hal yang berbau ke Arab-araban.

            Ibunya berasal dari Lampreh, Lambaro. Ayahnya, Haji Mahmud, berasal dari Lampuuk, Banda Aceh, campuran Arab dan India. Haji Mahmud pindah ke Singapura untuk mengembangkan bisnis perdagangan. Almarhum Haji Mahmud Khaidir (demikian ia disebut) merupakan pedagang Aceh yang hebat, sangat kaya, dengan sejumlah tanah yang dimilikinya hingga di Singapura. Semasa ia hidup, sebagai orang dagang, Haji Mahmud menjalin persahabatan dengan berbagai kalangan baik di Aceh maupun di Singapura. Ia juga cukup dekat dengan tokoh-tokoh DI/TII seperti Teungku Ilyas Leubeu dan Tengku Daud Bereueh. Sementara Hasan Tiro sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Sementara itu, di kalangan Singapura pun Haji Mahmud cukup akrab dengan tokoh-tokoh kawasan Geylang tempatnya tinggal seperti kelompok See Tong, Wo Shing Wo, Sun Tee On hingga Roland yang merupakan cikal bakal tokoh mafia terkenal yang sangat dekat dengan Malik Mahmud.

            Sementara itu, Hasan Tiro selama tergabung dalam DI sangat dekat dengan keluarga Mahmud, terutama dengan Amir Rashid (abang Malik Mahmud yang juga salah seorang Mentri GAM). Haji Mahmud sendiri dianggap sangat berjasa bagi masyarakat Aceh di Singapura, juga bagi orang Melayu, sehingga ia dikenal engan sebutan Ayah Aceh. Ketika terjadi racial clash di Singapura, orang Melayu di Geylang lari berlindung ke rumahnya dengan aman akibat koneksi yang cukup baik dengan tokoh-tokoh Mafia dan Triad di Singapura tersebut.

            Malik Mahmud dan Mafia Singapura
            Sekitar tahun 1969 merupakan tahun dimana Roland dan anggota geng mafia See Tong mulai menancapkan  “kukunya” di wilayah Singapura setelah sekian lama membangun reputasi bisnis ilegalnya di Negeri Singa tersebut.
            1343959681387955300
            http://www.flickr.com/photos/drhusaini/7518038894/in/photostream/
            Tahun itu juga merupakan awal jalinan kedekatan persahabatan Malek Mahmud dan ketua geng, Roland alias Hylam-kia. Pada malam tanggal 23 Oktober 1969, sekitar sepuluh dari sesama anggota geng dari See Tong menyerang dua anggota geng saingan mereka, Pek Kim Leng ( Putih Golden Dragon). Salah satu anggota geng saingan, yang juga bersenjata, tewas dan yang lainnya terluka parah dalam serangan itu.

            Bentrokan terjadi akibat dari perselisihan sebelumnya antara tahta Tong (See Tong) yang dekat dengan kelompok perantau di Geylang termasuk Malik Mahmud dan Ayahnya, dengan Kim Pek Leng di sebuah bar. Krisis pun terjadi di antara keduanya, ketika negosiasi tidak tercapai untuk menghasilkan solusi damai. Pertarungan antara dua geng pun terjadi dimana anggota geng akan saling menyerang saat melihat satu sama lain. Untuk menghindari adanya kejaran dari pihak kepolisian Singapura, Roland dengan dibantu kelompok See Tong dan Malik Mahmud melarikan diri ke Malaysia dan atas bantuan koneksi dari Haji Mahmud yang luas, Roland berhasil ke Belanda dengan dibantu oleh mantan pelaut Singapura yang telah bermukim di Belanda, bernama “Big Jhonny”. Atas rekomendasi Haji Mahmud lah, Big Jhonny membuka jalan Roland untuk bertemu dengan tokoh-tokoh TRIAD Hongkong di Belanda seperti Wo Shing Wo dan Sun Tee On.

            Kelompok ini yang selanjutnya terkenal dengan sebutan geng Ah Kong yang beroperasi hingga ke seluruh dunia termasuk Amsterdam, Belanda. Malik Mahmud yang kala itu telah mendukung perjuangan Hasan Tiro, ditunjuk sebagai penggalang dana dengan cara memasok kebutuhan akan ganja dan zat-zat adiktif lainnya ke Belanda yang memang cukup tinggi permintaannya. Sebagaimana diketahui, Amsterdam merupakan salah satu kota dunia yang melegalkan penggunaan ganja dan sejenisnya untuk dikonsumsi oleh warganya. Persahabatan geng Ah Kong terus berlanjut hingga saat ini bahkan setelah kematian Bos Ah Kong tahun 2010.

            Perjalanan Malik Mahmud dalam “dunia bawah tanah” Singapura belum benar-benar berakhir meskipun dengan meninggalnya bos Ah Kong. Jalinan persahabatan terus dibangun sebagai wujud kebersamaan dalam membangun reputasi di dunia hitam.


            Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (2)

            OPINI | 04 August 2012 | 13:02Dibaca: 384   Komentar: 3   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
            Melanjutkan tulisan kemarin tentang sosok Sang Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haythar, yang misterius dan tertutup serta keunggulannya dalam menjalin dan memelihara kerjasama dan hubungan dengan “dunia bawah tanah” Singapura, pembahasan kali ini akan mendeskripsikan kelihaian Malik Mahmud sebagai seorang yang lihai dalam memanfaatkan peluang “kekosongan” sejarah Aceh dalam mendukung langkah dan  gerakan yang dilakukan oleh Hasan Tiro dalam memerdekakan Aceh.

            Tahun 2002, adalah tahun penting bagi Malik Mahmud setelah perjalanan panjang yang ia  lakukan bersama Hasan Tiro sejak mengenalnya tahun 1964. Tahun itu, adalah tahun penetapan sekaligus pengukuhan dirinya sebagai Perdana Menteri GAM sekaligus Pemangku Wali Nanggroe dalam rapat rahasia yang dihadiri secara terbatas oleh para kombatan GAM di luar negeri. Rapat rahasia itu dilaksanakan di Stavanger Norwegia atas inisiatif Malik Mahmud dalam upayanya menetapkan posisi dan kedudukan para elit GAM kala itu sekaligus sebagai usaha untuk tidak kehilangan reputasi di tengah perlawanan keras yang dilakukan oleh para pejuang GAM di Aceh yang sangat berwibawa saat itu yaitu Tengku Abdullah Syafei. Pemangku Wali sendiri dapat diartikan sebagai pelaksana tugas-tugas Wali Nanggroe apabila sang wali berhalangan sementara ataupun tetap. Namun demikian, muncul pertanyaan, apakah pengukuhan tersebut merupakan kehendak rakyat Aceh seluruhnya? Apakah pengukuhan tersebut semata-mata merupakan strategi menuju ke puncak kekuasaan Aceh dengan mengabaikan peranan Kesultanan Aceh yang sesungguhnya?

            13440599992125930638
            http://www.flickr.com/photos/drhusaini/7512999628/in/photostream
            Sejarah mencatat, bahwa  sejatinya wali nanggroe telah ada semasa Kesultanan Aceh di masa penjajahan Belanda yaitu Tuanku Hasyim Banta Muda, Syaikh Abdur Rauf al-Singkili yang pernah mewakili kerajaan Aceh. Kesultanan Aceh sendiri berawal dari kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1500-1530) hingga Sultan Muhammad Dawud Syah (1874-1903). Namun demikian, dengan berlandaskan buku yang dikeluarkan oleh Parlemen Inggris, New Birth of Freedom tahun 1992, Hasan Tiro mengaku sebagai keturunan dan penguasa kesultanan Aceh yang ke-41 yaitu sejak tahun 1976. Ini adalah hal yang sungguh aneh di tengah para keturunan langsung Sultan dan Wali Nanggroe Aceh Darusalam yang terikat oleh sejarah dan tradisi kesultanan Aceh melihat kedudukan Hasan Tiro maupun Malik Mahmud sebagai tokoh yang memanipulasi sejarah Aceh untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

            Dalam diskusi Panteue yang turut dihadiri Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibarim sebagai cucu Sultan Alaidin Muhammad Dawud Syah (Sultan Aceh yang terakhir), juga hadir cucu Wali Nangroe Tuanku Hasyim Banta Muda, Adli Abdullah tanggal 12 Desember 2010 di Lampriet Banda Aceh, menurut  Adli bahwa  dalam daftar Piagam Bate KurengSAMA SEKALI TIDAK ADA NAMA Tgk. Hasan Tiro, kecuali Tengku Zainal Abidin Muhammad Tiro dan Tengku Umar Tiro.

            Selanjutnya, simbol kerajaan dan pemerintahan Aceh berupa cap Sikureng yang pernah diberikan kepada Tgk Chik di Tiro, setelah sepeninggal beliau pada tahun 1891, telah diserahkan kepada Habib Samalanga (Reid, 2005:275). Melihat symbol kerajaan yang dipegang oleh Habib tersebut, apakah keturunan habib itu juga berhak atas gelar Wali Nanggroe?

            Melihat penelusuran sejarah singkat di atas tentang Wali Nanggroe, tentunya terbentuk pemahaman, siapa sebenarnya Hasan Tiro dan apa yang melandasi penunjukan Malik Mahmud sebagai Pemangku Wali Nanggroe untuk menduduki sebuah jabatan yang memiliki nilai-nilai kultur dan sejarah Keacehan yang sangat tinggi dan tak ternilai?

            Disinilah letak kelihaian Malik Mahmud dalam merencanakan dan memanipulasi sejarah Aceh yang terputus karena didera konflik selama puluhan tahun. Malik Mahmud tampaknya menyadari posisinya yang sangat lemah dalam silsilah kesultanan Aceh sehingga merekayasa pertemuan rahasia Sigom Donya di Stavanger sebagai upayanya dalam mengukuhkan kedudukannya andaikan Hasan Tiro tiada. Hal ini sama dengan ketika marsekal Perancis Jean Baptiste Bernadotte menggantikan Raja Swedia Carl XIII yang tidak memiliki putra mahkota. Dengan musyawarah kerajaan yang diinisiasi oleh Bernadotte, maka mau tak mau dalam musyawarah tersebut menunjuk Bernadotte sebagai Raja Swedia pada tahun 1810.

            Bisa dikatakan, apa yang dilakukan oleh Malik Mahmud dan mendiang Hasan Tiro dalam rapat Stavanger tersebut adalah Coup D etat atas sejarah dan nilai-nilai kultur serta budaya Aceh maupun  pengkhianatan terhadap kejayaan Kesultanan Aceh masa lalu. Semuanya dilakukan bukan karena dilandasi oleh niat yang tulus dan ikhlas dalam mensejahterakan rakyat Aceh atau bahkan memerdekakannya, namun lebih karena nafsu kekuasaan.



            Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (3)

            OPINI | 05 August 2012 | 12:42Dibaca: 457   Komentar: 0   Nihil
            Setelah berkisah tentang kelihaian Malik Mahmud dalam memanipulasi sejarah Aceh pada rapat Sigom Donya di Stavanger Norwegia 10 tahun lalu, cerita tentang Malik Mahmud kali ini akan lebih menyoroti tentang “petualangan” Malik Mahmud dengan banyak wanita. Silsilah keluarga yang tidak jelas dan ketertutupan Malik Mahmud akan hal-hal yang bersifat pribadi, adalah hal wajar bagi kebanyakan orang yang hidup dalam dunia hitam. Tidak jelas siapa orangnya yang disebut dengan Mrs. Malik Mahmud atau Nyonya Malik, namun yang sudah menjadi rahasia umum adalah banyak wanita di sekeliling Malik Mahmud.

            “Petualangan” Malek Mahmud dan perempuan bukanlah hal baru bagi rakyat Aceh maupun kalangan eks kombatan GAM. Beberapa kesaksian dari sahabat yang gemar dalam “berpetualang” di dunia hiburan malam seluruh dunia, menyebutkan bahwa sosok Sang Pemangku Wali ini, adalah orang yang sangat flamboyant, santai dan bersahabat. Hal ini tentunya berbeda dengan yang dikenal oleh rakyat Aceh selama ini, dimana Malik Mahmud adalah figur yang tegas, tertutup dan keras.
            1344218450696364124
            http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7696170304/in/photostream/
            Namun semua kesan keras dan ketegasannya tersebut hilang seketika dalam “petualangannya” kePalm Hills Casino resort Las Vegas tahun 2006 lalu, disebutkan bahwa ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam Hugh Hefner club Sky Villa sebuah klub yang dimiliki oleh bos majalah Playboy, Hugh Hefner. Klub ini memang luar biasa, dengan menyuguhkan hiburan-hiburan kelas dunia dengan menu wanita-wanita paling cantik sejagad koleksi majalah Playboy dari seluruh dunia. Artis-artis top Hollywood, pengusaha hingga para dictator negara-negara ATimur Tengah kerap menjadi tamu istimewa klub yang berharga $35,000 USD per malamnya. Malik Mahmud tentu dengan kekuatan dan pengaruhnya yang begitu besar di Aceh maupun kalangan eks kombatan GAM tidak terlalu kesulitan untuk memperoleh dan membelanjakan uang sebesar itu untuk membeli sebuah surga di dunia.
            1344145257196650034
            http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7696173690/in/photostream
            Selain di Amerika dan Eropa, petualangan Sang Pemangku Wali juga dilakukan di local area, juga regional. Seperti di Singapura dan Medan, dua kota yang menjadi tempat favorite Malik untuk menghabiskan weekendnya. Setiap akhir sholat Jumat, Malek Mahmud secara rutin “terbang” ke Singapura maupun Medan untuk menuntaskan hasrat dan syahwatnya yang tertahan selama lebih kurang 5 hari berada di Serambi Mekah.Di Singapura, sasaran penuntasan syahwat Malik adalah di Orchad Tower maupun Huxon Hill, dua tempat yang terkenal dengan wanita-wanita penjaja seks high class. Sementara itu di Medan, Malek kerap memanfaatkan “jasa” penyedia layanan “pesan-antar” untuk melayaninya di hotel-hotel seperti Medan Deli maupun Polonia Medan.
            13442186291556287261
            http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7696165344/in/photostream/
            Terlepas dari baik ataupun buruknya keadaan ini jika dilihat dari sisi religius, paling tidak kita semua menyadari bahwa kita hidup di dunia dan alam yang sama, kita pun menghirup udara yang sama pula sehingga tentu apa yang dilakukan oleh Pemangku Wali adalah hal yang manusiawi dimana semua manusia lahir disertai dengan akal dan nafsu. Apapun baju yang dikenakannya, Pendeta, Ustadz atau bahkan Pemangku Wali sekalipun. Semuanya tetap manusia dan masih memiliki nafsu, namun hanya dengan akal lah kehormatan dan reputasi dapat dibangun sehingga tampil sebagai sosok yang pantas untuk menjadi panutan. Apakah Sang Pemangku Wali pantas untuk menjadi panutan kita? Andalah yang memilih sesuai dari sudut pandang mana anda melihat.

            ~~BERSAMBUNG~~



          • Acheh Watch
            Si-ôn nibak buku DOKUMEN NEGARA, Seunusôn Mustafa Djalil, Stockholm, 1997. Lampiran III LAPÔRAN YUSRIL ABDULLAH  PEUKARA KOH-MEUKOH DI SWEDEN: Bak
            Message 9 of 26 , Sep 8, 2012
            • 0 Attachment
              Si-ôn nibak buku DOKUMEN NEGARA, Seunusôn Mustafa Djalil, Stockholm, 1997.



              Lampiran III

              LAPÔRAN YUSRIL ABDULLAH 
              PEUKARA KOH-MEUKOH DI SWEDEN:


              Bak uroëbuleuën 7 september, 1997, ulôn, Yusril Abdullah, keunong hei u rumoh Toto Zaini Abdullah deungon hana geupeutrang leubèh dilèë peuë meukeusud dan tudjuan geuheinjan. Diminjubnjoë ulôn peutren khulasah nibak sueuë-djaweuëb antara ulôn deungon Toto Zaini dan M. Jamil Amin.

              YUSRIL: Assalamualaikum...

              TOTO, M.JAMIL: Alaikum Salam!

              TOTO: Phôn that peureulèë ulôn peutrôk bak gata amanah Teungku peukara njang hana mungkén teudjadi teutapi ka teudjadi uroënjoë. Lagèë watèë trôk si Otto (utôsan dari RMS) keunoë. Dilôn deungon ‘gléh haté’ keuneuk seutot si Otto beutrôk bak rumoh Teungku Daud deungon tudjuan keu got teutapi Teungku Daud han geubri dan geukheun ”peuë gobnjan geumeudjak luëm2 lôn”. Syarif pih na lakèë djak tjit tapi han geubri djak. Djadi deungon peukara2 njoë Teungku ka bungèh dan djinoë ka geutjok sikap geutarék garéh ateuëh ureuëngnjan.

              YUSRIL: Pakriban Teungku geutjok garéh langsông deungon hana geusidék leubéh dilèë? Padip na geutanjoë rugoë watéë ureuëng droëneuh neukoh awak nam droë dilèë, dan djinoë ka keunong ateuëh Teungku Daud dan Bang Yusuf lom. Padip na rugoë keu geutanjoë?

              TOTO: Tapi Teungku neupeugotnjan teuntèë kana sabab2 njang meuteuntèë.

              YUSRIL: Peuë djeuët neupeutrang batjut, sabab, ulôn sidroë ureuëng njang paléng barô disinoë dan hana lôn teupeuë-sapeuë?
              M.JAMIL: Bôh peutrang lé droëneuh Toto . (M.Jamil juë Toto peutrang).

              TOTO: Saboh sabab phôn njang rajek watéë di glé dilèë peukara Teungku Darul Kamal. Teungku Daud geupeugot tjara droë-geuh dan hana geupatéh peurintah Teungku. Njang keudua, watèë woë u Malaya ban-ban njoë ka geupeugot buët deungon hana peurintah Teungku.

              YUSRIL: Djeuët neupeugah peuë njang ka geupeugot di Malaya njang meusalah ?

              TOTO: Lagèë tjunto ka geudjak beu-et Madjeulih Neugara dan na laén2 lom njang hana peureulèë lôn peugah.

              YUSRIL: Teungku kon hana geuduëk di Malaya. Haba2 lagèënjoë musti na ureuëng peutrôk bak Teungku.

              M.JAMIL: ( Geukoh ladju deungon beungèh batjut). Peuë na tapiké lé gata bahwa kamoë njang ban woë dari Malaya njang peutrôk haba2 lagèënjoë? Bék u Malaya, u Amerika Teungku na kontak ‘geunap uroë’.

              YUSRIL: Bôh na neuteupeuë Toto, ulôn na di Malaya baroëkon, padip na karu watèënjan di Malaya sampé2 ureuëng geutanjoë ka geudjak seumeupoh saré keudroë2. Tapi deungon Teungku Daud kana keudéh, meunurôt lôn teupeuë, peukara njan ka keumah geupeugot bandum.

              M.JAMIL: (Jamil Amin njang dari beunoë geuduëk meusadeuë ulikôt, meukulèk, djinoë geuduëk tjot deungon muka meudjhô ukeuë). Peuë buët Teungku Daud njang peugot njan?

              YUSRIL: Hai kon langsông! Tapi kareuna Teungku Daud kana keudéh, ureuëng2 tuha pih ka geutém meusaboh, dan karu2njan ka keumah geupeu- seuleusoë bandum dan djak bri peuneurangan ban sabohnjan.
              M.JAMIL: Bôh lagèë Yusuf na butôi djidjak kheun ‘nol’?

              YUSRIL: Hana! Tapi njang lôn teupeuë bang Yusuf hana geukheun ‘nol’. Mungkén gobnjan geubandéng ‘ohna geutanjoë tinggai deungon Timu-Timu. Peukara bang Yusuf na geukheun nol di gombak Batèë Nam, watèënjan lôn na di Malaya tapi hana lôn deungo bak babah ureuëng meusikrèk pih bahwa bang Yusuf na geukheun nol. Peuë ureuëng2 njang deungo njan hana geupeugah bak lôn, tapi peukara2 laén adak han le meubatjut teuteupeuë tjit.

              M.JAMIL: Bôh kadjeuët tjit si Yusuf hana djikheun nol. Teutapi narit djih dalam rapat bak rumoh gata ban-ban njoë peuë njan geuhon atawa phui, njang disinan djipeugah djih handjeuët djimeusulét ngon ureuëng droë (ureuëng AM). Dan Yusuf na djikheun tjit bahwa djih han keumah djipeubuët buëtnjoë meunjo handjeuët djipeugah lagèëna bak ureuëng droë teuh. Pakon watèë djih djak u Tallin meutamah got dan pakon watèë Teungku djak hana got?

              YUSRIL: Djadi meunoë Teungku Jamil, geutanjoë meunjo leupah that tapeugot propaganda pih hana got tjit. Bang Yusuf na geukheun tjit meunjo ngon ureuëng droë-teuh pajah that tapeugot propaganda, tapi meunjo deungon ureuëng luwa adak leubèh nibak Teungku peugah pih keumah geupeugah, meunankeuh kira2. Djadi peukara tarék garéh deungon bang Yusuf dan Teungku Daud bunoë, ulôn han keumah djaweuëb djinoë - pajah lôn lakèë watèë. Sabab, Teungku Daud dan Bang Yusuf hana geupeudeuh droë-geuh sibagoë ‘pengkhianat’. Peuë droëneuh ka neukira ureuëngnjan ‘pengkhianat’?

              TOTO: Hana! Hana geupeugah lé Teungku!

              YUSRIL: Peuë lôn mantong djeuët meurumpok, marit dan djak u rumoh ureuëngnjan?

              TOTO, M.JAMIL: Njan pih hana geupeugah lé Teungku. ( Bandua djaweuëb meusigo).

              YUSRIL: Djadi na saran batjut bak lôn, njanpih meunjo Wali ka bit-bit neutjok peuneutôh lagèënjan. Peu hana leubèh got meunjo lagèë droëneuh sidroë Meuntroë,neupeugah-bak-Wali-bék-geupeugot-meunan.Meukeusuddjih,geuta-njoë na padum droë treuk tinggai djinoë beutameugot-got.

              TOTO: Kadjeuët! Saran gatanjan akan lôn peutrôk bak Teungku.

              Stockholm, 10 Oktober 1997

              Njang beuna 
              Yusril Abdullah



            • Acheh Watch
              Senin, 23 April 2012 09:51:09Wawancara Zaini Abdullah Zaini Abdullah: Saya mengutuk gerakan separatis Gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah di rumahnya,
              Message 10 of 26 , Sep 9, 2012
              • 0 Attachment
                Wawancara Zaini Abdullah

                Zaini Abdullah: Saya mengutuk gerakan separatis

                Zaini Abdullah: Saya mengutuk gerakan separatis
                Gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah di rumahnya, pedalaman Kabupaten Pidie, Aceh. (merdeka.com/Arie Basuki)
                Kategori
                Khas
                 
                52
                Reporter: Eko Prasetya
                Sisa-sisa keriuhan masih terlihat di kediaman gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah di Desa Teureubeu, Kabupaten Pidie. Tenda masih berdiri di halaman, meja prasmanan masih dipenuhi bekas makanan. Kerabat juga masih berkumpul.  

                Maklum saja, Ahad (15/4) sore, sang tuan rumah baru selesai menggelar acara syukuran setelah menang pada pemilihan kepala daerah. Zaini yang berpasangan dengan Muzakkir Manaf berhasil menenggelamkan pesaing terbesar mereka duet Gubernur Irwandi Yusuf dan Muhyan Yunan. 

                Sebagai bekas pentolan Gerakan Aceh Merdeka, banyak orang mengenal di mana rumah Zaini. Rumah yang menempati lahan sekitar 2.500 meter persegi itu terletak di Desa Teureubeu. Persis 50 meter dari Jalan Raya Kota Bakti Km 1. Untuk sampai di sana, butuh sekitar 3-4 jam perjalanan dengan mobil dari Banda Aceh. Lantas menyusuri jalan tanah bebatuan yang cukup dilalui satu mobil saja. 

                Sebelum perjanjian damai diteken di Ibu Kota Helsinki, Finlandia, Zaini yang bermukim di Ibu Kota Stockholm, Swedia, menjabat menteri luar negeri. Sedangkan Muzakkir panglima angkatan bersenjata GAM. 

                Wawancara berlangsung sekitar sejam di teras samping rumah. Zaini berkemeja lengan pendek warna hitam dengan corak garis putih tanpa alas kaki ditemani ajudannya. Obrolan berjalan serius, minus cemilan atau segelas air. 

                Kepada Eko Prasetya dan juru foto Arie Basuki dari merdeka.com, Zaini menjelaskan mimpinya membangun Aceh setelah dilantik menjadi orang nomor satu di sana. Berikut penuturannya:  

                Apa arti jabatan gubernur bagi Anda setelah berjuang bertahun-tahun bersama GAM?

                Konflik lama di Aceh berakhir dengan kesepakaan bersama dalam perdamaian. Perjuangan kami capai dengan kesimpulan kita berdamai dengan Negara kesatuan Republik Indonesia dan sebagai kunci, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya, Jusuf Kalla dengan adanya perjanjian. Membenarkan agar boleh dibuat partai lokal. Terpanggil dari hati mengingat kondisi Aceh

                Imbalan apa Anda janjikan dengan memakai tiga purnawirawan TNI dalam tim sukses? 

                Tidak ada. Mereka merasa terpanggil mengingat apa yang di lapangan. Sejak 15 Agustus 2005 - 2012 belum ada hasil signifikan

                Komentar Anda soal rencana Irwandi menggugat hasil pemilihan? 

                Saya tidak pnya penjelasan apa-apa, Sah-sah saja, siapa pun bisa menggugat. Saya harap KIP (Komite Independen Pemilihan) dapat jujur, tidak ada manipulasi.

                Selama kampanye Anda berjani meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh. Bagaimana mewujudkan itu?
                 
                Di samping visi dan misi, program 100 hari telah kami siapkan. Kemiskinan, harta benda akbat konflik, dan bencana kita fokuskan. Pendidikan akan gratis. Kesehatan juga tidak kalah penting dan jaminan kesehatan. Di tiap-tiap kabupaten kita perlu tingkatkan pelayanan kesehatan.

                Bagaimana menjaga hubungan harmonis dengan pemerintah pusat?

                Sejak kita memperoleh kemenangan, melakukan konsolidasi supaya menjalin hubungan baik.

                Apa harapan Anda kepada Jakarta?

                Keadilan dan komitmen dalam Undang-undang. Kejujuran, keikhlasan, dan keterbukaan. Semoga tidak ada penghalang bagi perdamaian abadi.

                Apa ada indikasi gerakan separatis tetap hidup di Aceh?

                Kami mengutuk keras hal-hal seperti itu. Itu tidak sehat. Semua saya serahkan kepada pihak berwenang.

                Setelah dilantik, apa Anda bakal meneruskan program gubernur sebelumnya? 

                Dalam program 100 hari kita sudah bikin seksama dan terlalu dini berbicara hal ini.

                Bagaimana mengantasi masalah peredaran ganja di Aceh? 

                Kita akan lihat, di sana-sini banyak menanam ganja. Ini juga tanggung jawab kami dan perlu ditanyakan ke polisi.

                Soal syariat Islam, apa dipertahankan?

                Islam di Aceh sudah mendarah daging, amalan untuk rakyat Aceh, dari lahir sudah mendapat ajaran. Bila pencuri dipotong, sedangkan korupsi dibiarkan, ini tidak seimbang, Insya Allah kita membuat peraturan mendetail. Kita ikutkan semua ulama untuk fokus membahas peraturan ini. Hukum cambuk adanya saat Gus Dur. Mereka menyudutkan Aceh sebagai Islam fanatik sehingga membuat hubungan dengan negara lain putus. Insya Allah kalau saya naik, ini akan kami utamanakan

                Bagaimana Anda melihat Aceh dibanding daerah lain di Indonesia?
                Aceh begitu kaya. Alam Aceh mengandung gas, minyak, dan timah. Semua tinggal sedikit, tanah Aceh banyak hasil bumi tetapi rakyat miskin dan paling miskin dibanding daerah lain. Pascakonflik ada kesepakatan harus dijalankan, kita hanya memantau dari luar.

                Korupsi masalah yang dihadapi semua kepala daerah. Bagaimana Anda mengatasi ini?

                Itu urusan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menyelidiki, kalau salah harus dihukum. Korupsi merupakan penyakit kanker, kita harus buang

                Apa yang menarik selama proses pemilihan?

                Mereka yang datang ke tempat kami kampanye seperti lautan manusia tanpa mendapat upah, mendengarkan orasi kami, Itu hati yang berbicara. Saya tafsirkan mereka belum mendapat hasil memuaskan. Mereka ingin perubahan, rakyat juga tahu siapa bertanggung jawab.

                Konflik di Aceh dan mendapat perdamaian itu mempunyai makna yang bertanggung jawab GAM dan Partai Aceh bertanggung jawab atas peristiwa itu.

                Sejauh mana popularitas Partai Aceh?
                Pemahaman undang-undang pemerintahan Aceh, saya kira hampir semua orang tahu, menjaga dan melanjutkan perdamaian, sedangkan partai nasional tidak berkewajiban. Inilah tugas pokok Partai Aceh. Di pelosok-pelosok, kami kuat, ini nyata saat kami kampanye. Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Aceh.

                Anda panik saat gempa Rabu lalu?
                Panik sih tidak, waktu itu kami di mess, lima kilometer dari Masjid Baiturahman. Lari ke masjid di lambaru yang jauh dari pantai. Bagi saya tidak sedemikian panik. Saya kasihan kepada rakyat biasa karena trauma. 

                Apa hobi dan kegiatan Anda sehari -hari?
                Saya tidak banyak menjalankan hobi sejak terlibat dalam GAM. Saya suka pimpong.
                Di samping bekerja, saya juga mengurus famili dan menghabiskan waktu dengan keluarga.
                 


                 |IACSF| FOTO ANAK GUBERNUR ACEH ZAINI ABDULLAH (DOTO ZAINI)

              • Acheh Watch
                Senin, 23 April 2012 09:51:09 Wawancara Zaini Abdullah Zaini Abdullah: Saya mengutuk gerakan separatis Gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah di rumahnya,
                Message 11 of 26 , Sep 10, 2012
                • 0 Attachment
                  Senin, 23 April 2012 09:51:09
                  Wawancara Zaini Abdullah

                  Zaini Abdullah: Saya mengutuk gerakan separatis

                  Zaini Abdullah: Saya mengutuk gerakan separatis
                  Gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah di rumahnya, pedalaman Kabupaten Pidie, Aceh. (merdeka.com/Arie Basuki)
                  Kategori
                  Khas
                   
                  52
                  Reporter: Eko Prasetya


                  Sisa-sisa keriuhan masih terlihat di kediaman gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah di Desa Teureubeu, Kabupaten Pidie. Tenda masih berdiri di halaman, meja prasmanan masih dipenuhi bekas makanan. Kerabat juga masih berkumpul.  

                  Maklum saja, Ahad (15/4) sore, sang tuan rumah baru selesai menggelar acara syukuran setelah menang pada pemilihan kepala daerah. Zaini yang berpasangan dengan Muzakkir Manaf berhasil menenggelamkan pesaing terbesar mereka duet Gubernur Irwandi Yusuf dan Muhyan Yunan. 

                  Sebagai bekas pentolan Gerakan Aceh Merdeka, banyak orang mengenal di mana rumah Zaini. Rumah yang menempati lahan sekitar 2.500 meter persegi itu terletak di Desa Teureubeu. Persis 50 meter dari Jalan Raya Kota Bakti Km 1. Untuk sampai di sana, butuh sekitar 3-4 jam perjalanan dengan mobil dari Banda Aceh. Lantas menyusuri jalan tanah bebatuan yang cukup dilalui satu mobil saja. 

                  Sebelum perjanjian damai diteken di Ibu Kota Helsinki, Finlandia, Zaini yang bermukim di Ibu Kota Stockholm, Swedia, menjabat menteri luar negeri. Sedangkan Muzakkir panglima angkatan bersenjata GAM. 

                  Wawancara berlangsung sekitar sejam di teras samping rumah. Zaini berkemeja lengan pendek warna hitam dengan corak garis putih tanpa alas kaki ditemani ajudannya. Obrolan berjalan serius, minus cemilan atau segelas air. 

                  Kepada Eko Prasetya dan juru foto Arie Basuki dari merdeka.com, Zaini menjelaskan mimpinya membangun Aceh setelah dilantik menjadi orang nomor satu di sana. Berikut penuturannya:  

                  Apa arti jabatan gubernur bagi Anda setelah berjuang bertahun-tahun bersama GAM?

                  Konflik lama di Aceh berakhir dengan kesepakaan bersama dalam perdamaian. Perjuangan kami capai dengan kesimpulan kita berdamai dengan Negara kesatuan Republik Indonesia dan sebagai kunci, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya, Jusuf Kalla dengan adanya perjanjian. Membenarkan agar boleh dibuat partai lokal. Terpanggil dari hati mengingat kondisi Aceh

                  Imbalan apa Anda janjikan dengan memakai tiga purnawirawan TNI dalam tim sukses? 

                  Tidak ada. Mereka merasa terpanggil mengingat apa yang di lapangan. Sejak 15 Agustus 2005 - 2012 belum ada hasil signifikan

                  Komentar Anda soal rencana Irwandi menggugat hasil pemilihan? 

                  Saya tidak pnya penjelasan apa-apa, Sah-sah saja, siapa pun bisa menggugat. Saya harap KIP (Komite Independen Pemilihan) dapat jujur, tidak ada manipulasi.

                  Selama kampanye Anda berjani meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh. Bagaimana mewujudkan itu?
                   
                  Di samping visi dan misi, program 100 hari telah kami siapkan. Kemiskinan, harta benda akbat konflik, dan bencana kita fokuskan. Pendidikan akan gratis. Kesehatan juga tidak kalah penting dan jaminan kesehatan. Di tiap-tiap kabupaten kita perlu tingkatkan pelayanan kesehatan.

                  Bagaimana menjaga hubungan harmonis dengan pemerintah pusat?

                  Sejak kita memperoleh kemenangan, melakukan konsolidasi supaya menjalin hubungan baik.

                  Apa harapan Anda kepada Jakarta?

                  Keadilan dan komitmen dalam Undang-undang. Kejujuran, keikhlasan, dan keterbukaan. Semoga tidak ada penghalang bagi perdamaian abadi.

                  Apa ada indikasi gerakan separatis tetap hidup di Aceh?

                  Kami mengutuk keras hal-hal seperti itu. Itu tidak sehat. Semua saya serahkan kepada pihak berwenang.

                  Setelah dilantik, apa Anda bakal meneruskan program gubernur sebelumnya? 

                  Dalam program 100 hari kita sudah bikin seksama dan terlalu dini berbicara hal ini.

                  Bagaimana mengantasi masalah peredaran ganja di Aceh? 

                  Kita akan lihat, di sana-sini banyak menanam ganja. Ini juga tanggung jawab kami dan perlu ditanyakan ke polisi.

                  Soal syariat Islam, apa dipertahankan?

                  Islam di Aceh sudah mendarah daging, amalan untuk rakyat Aceh, dari lahir sudah mendapat ajaran. Bila pencuri dipotong, sedangkan korupsi dibiarkan, ini tidak seimbang, Insya Allah kita membuat peraturan mendetail. Kita ikutkan semua ulama untuk fokus membahas peraturan ini. Hukum cambuk adanya saat Gus Dur. Mereka menyudutkan Aceh sebagai Islam fanatik sehingga membuat hubungan dengan negara lain putus. Insya Allah kalau saya naik, ini akan kami utamanakan

                  Bagaimana Anda melihat Aceh dibanding daerah lain di Indonesia?
                  Aceh begitu kaya. Alam Aceh mengandung gas, minyak, dan timah. Semua tinggal sedikit, tanah Aceh banyak hasil bumi tetapi rakyat miskin dan paling miskin dibanding daerah lain. Pascakonflik ada kesepakatan harus dijalankan, kita hanya memantau dari luar.

                  Korupsi masalah yang dihadapi semua kepala daerah. Bagaimana Anda mengatasi ini?

                  Itu urusan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menyelidiki, kalau salah harus dihukum. Korupsi merupakan penyakit kanker, kita harus buang

                  Apa yang menarik selama proses pemilihan?

                  Mereka yang datang ke tempat kami kampanye seperti lautan manusia tanpa mendapat upah, mendengarkan orasi kami, Itu hati yang berbicara. Saya tafsirkan mereka belum mendapat hasil memuaskan. Mereka ingin perubahan, rakyat juga tahu siapa bertanggung jawab.

                  Konflik di Aceh dan mendapat perdamaian itu mempunyai makna yang bertanggung jawab GAM dan Partai Aceh bertanggung jawab atas peristiwa itu.

                  Sejauh mana popularitas Partai Aceh?
                  Pemahaman undang-undang pemerintahan Aceh, saya kira hampir semua orang tahu, menjaga dan melanjutkan perdamaian, sedangkan partai nasional tidak berkewajiban. Inilah tugas pokok Partai Aceh. Di pelosok-pelosok, kami kuat, ini nyata saat kami kampanye. Saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Aceh.

                  Anda panik saat gempa Rabu lalu?
                  Panik sih tidak, waktu itu kami di mess, lima kilometer dari Masjid Baiturahman. Lari ke masjid di lambaru yang jauh dari pantai. Bagi saya tidak sedemikian panik. Saya kasihan kepada rakyat biasa karena trauma. 

                  Apa hobi dan kegiatan Anda sehari -hari?
                  Saya tidak banyak menjalankan hobi sejak terlibat dalam GAM. Saya suka pimpong.
                  Di samping bekerja, saya juga mengurus famili dan menghabiskan waktu dengan keluarga.
                   

                   |IACSF| FOTO ANAK GUBERNUR ACEH ZAINI ABDULLAH (DOTO ZAINI)


                • Acheh Watch
                  Si-ôn nibak buku DOKUMEN NEGARA, Seunusôn Mustafa Djalil, Stockholm, 1997.  Lampiran IV LAPÔRAN ADAM UMAR PEUKARA KOH-MEUKOH DI SWEDEN Bak uroëbuleuën 7
                  Message 12 of 26 , Sep 14, 2012
                  • 0 Attachment

                    Si-ôn nibak buku DOKUMEN NEGARA, Seunusôn Mustafa Djalil, Stockholm, 1997. 


                    Lampiran IV

                    LAPÔRAN ADAM UMAR
                    PEUKARA KOH-MEUKOH DI SWEDEN

                    Bak uroëbuleuën 7 September, 1997, ulôn, Adam Umar, keunong hei u rumoh Toto Zaini Abdullah deungon hana geupeutrang leubèh dilèë peuë meukeusud dan tudjuan geuheinjan. Dimijubnjoë ulôn peutren khulasah nibak sueuë- djaweuëb antara ulôn, Adam Umar, deungon Toto Zaini dan M. Jamil Amin.

                    ADAM: Assalamualaikum...

                    TOTO, M.JAMIL: Alaikumsalam!

                    TOTO: Yusuf, Teungku Daud dan Syahbuddin, awaknjan lhèë na masalah2 karu.
                    ADAM: Peuë masaalah?

                    TOTO: Hai lagèë Yusuf djikheun keu Teungku ‘nol’ watèë djiwoë u Malaya. Yusuf, Teungku Daud dan Syahbuddin kadjipeugot grup laén. Meunan tjit masaalah Otto ngon Frieda (utôsan dari RMS) djak keunoë. Awaknjan djak keunoë rahsia neugara. Watèë awaknjan djak meurumpok ngon Teungku, Teungku peugah haba lagèë hana sakét - dumpeuë djiteubiët. Watèë woë bak Teungku u rumoh Syarif, Yusuf djitaloëpun Syarif juë Otto dan Frieda pajôh bu malam di rumoh djih. Syarif mupakat ngon lôn dan rantjana awaknjan djak ngon moto lôn keudéh. Tapi Teungku Daud geutham dan geukheun: ”Peuë peureulèë gobnjan djak keunoë!” Padahai, lôn ‘geujuë djak lé Teungku’.

                    ADAM: Bôh pakon rahsia sabé! Watèë bang Malek djak keunoë rahsia, Otto djak rahsia, tapi keuneuleuëh meurumpok tjit

                    TOTO: Masalahdjih meunoë. Kamoë kalheuëh tjok peuneutôih keuneuk peumeurumpok gata bandum ngon awaknjan, dan Bakhtiar kalheuëh taloëpun ureuëng bandum.

                    ADAM: Poh padum Yusuf taloëpun bang Syarif dan poh padum Bakhtiar taloëpun ureuëng?

                    TOTO: Bakhtiar taloëpun antara poh 11-12, dan Yusuf taloëpun poh dua lheuëh luhô.

                    ADAM:Peuë neupeugah Toto,seudangkan lôn hana djitaloëpun!Peuë neupeu gah na djitaloëpun! Lôn hana lôn teupeuë masalah awaknjan teuka keunoë!

                    TOTO: Sabab kana peuneutôh djak bak Teungku Daud.

                    ADAM: Sabé rahsia, Watéë ulôn djak saweuë Teungku ngon ureuëng inong ulôn sabé neupeugah Teungku ka leupah teubiët siat dan euntreuk malam geuwoë. Pada hai Teungku ka leupah u luwa nanggroë dan neusom bak lôn.

                    M.JAMIL: Peukara Teungku djak keunoë keudéh, lôn keudroë hana peureulèë teupeuë tjit. Sabab njan buët neugara.

                    ADAM: Watèë lôn lheuëh meurumpok ngon Toto Husaini bak rumoh sakét Tumba (Toto Husaini keuridja disinan), njan dumpeuë hana geupeugah sapeuë lé bak lôn meunjo Teungku djak u luwa. Meunjo bak djak hana soë peugah, teutapi meunjo bak woë sabé geupeugah. Njoë peuë sabab hana soë djak prèh?

                    TOTO, M.JAMIL: ( Seungap, hana suôt- sapeuë)

                    ADAM: Seulama Teungku sakét, sabé tapeugot rapat, meupakat peuë peureulèë tapeugot, dan peukara peuteubiët beulandja . Pakon watéë trôk Otto dan Frieda keunoë hana meupakat sapeuë?

                    M.JAMIL: Tapi peukara djamèë hana tamupakat dalam rapat2 njang kalheuëh.

                    ADAM: Tapi, meunjo trôk djamèë2 luwa pajah mupakat.

                    TOTO,M.JAMIL: (seungap -hana djaweuëb sapeuë).

                    ADAM: Djadi peukara beulandja watèë trôk djamèë, bajeuë taloëpun, panè pèng? Njan kon pajah taduëk rapat bandum dan tiëp djiteubiët pèng le-le sabé pajah duëk rapat.

                    TOTO, M.JAMIL: ( seungap)

                    ADAM: Peukara karu2 deungon Teungku Daud, Yusuf dan Syahbuddin, njan kon djeuët tapeugot bèk bitjah2 lé. Soë2 njang salah meulakèë- lakèë meu’ah asai geutanjoë beugot.

                    TOTO: Meunjo Teungku geutém!

                    ADAM: Hai neupeutrôk amanah lôn njoë bak Teungku!

                    M.JAMIL: Kadjeuët teupeutrôk, malamnjoë ladju kamoë djak peutrôk bak Teungku.

                    ADAM: Kalheuëh Toto Husaini Cs geukoh baroëdjéh. Kalheuëh koh kadjak saboh saho. Djinoë na 14 droë treuk geutanjoë, adak djeuët tameudjrôh-djrôh bèk lé tjèbré.

                    TOTO: Bôh gata ho rot tadong?

                    ADAM: Piké2 dilèë! TOTO, M.JAMIL: (seungab meu-anggôk2)

                    TOTO: Peuë tapiké-piké teuman, Yusuf kon na djikheun ‘nol’ keu Teungku. Pakriban teuma?

                    ADAM: Pané na thum meugum ladju ! Kon pajah piké2 dilèë!


                    Stockholm, 10 ktober 1997
                    Njang beuna 
                    M. Adam Umar

                     



                    Si-ôn nibak buku DOKUMEN NEGARA, Seunusôn Mustafa Djalil, Stockholm, 1997.



                    Lampiran III

                    LAPÔRAN YUSRIL ABDULLAH 
                    PEUKARA KOH-MEUKOH DI SWEDEN:


                    Bak uroëbuleuën 7 september, 1997, ulôn, Yusril Abdullah, keunong hei u rumoh Toto Zaini Abdullah deungon hana geupeutrang leubèh dilèë peuë meukeusud dan tudjuan geuheinjan. Diminjubnjoë ulôn peutren khulasah nibak sueuë-djaweuëb antara ulôn deungon Toto Zaini dan M. Jamil Amin.

                    YUSRIL: Assalamualaikum...

                    TOTO, M.JAMIL: Alaikum Salam!

                    TOTO: Phôn that peureulèë ulôn peutrôk bak gata amanah Teungku peukara njang hana mungkén teudjadi teutapi ka teudjadi uroënjoë. Lagèë watèë trôk si Otto (utôsan dari RMS) keunoë. Dilôn deungon ‘gléh haté’ keuneuk seutot si Otto beutrôk bak rumoh Teungku Daud deungon tudjuan keu got teutapi Teungku Daud han geubri dan geukheun ”peuë gobnjan geumeudjak luëm2 lôn”. Syarif pih na lakèë djak tjit tapi han geubri djak. Djadi deungon peukara2 njoë Teungku ka bungèh dan djinoë ka geutjok sikap geutarék garéh ateuëh ureuëngnjan.

                    YUSRIL: Pakriban Teungku geutjok garéh langsông deungon hana geusidék leubéh dilèë? Padip na geutanjoë rugoë watéë ureuëng droëneuh neukoh awak nam droë dilèë, dan djinoë ka keunong ateuëh Teungku Daud dan Bang Yusuf lom. Padip na rugoë keu geutanjoë?

                    TOTO: Tapi Teungku neupeugotnjan teuntèë kana sabab2 njang meuteuntèë.

                    YUSRIL: Peuë djeuët neupeutrang batjut, sabab, ulôn sidroë ureuëng njang paléng barô disinoë dan hana lôn teupeuë-sapeuë?
                    M.JAMIL: Bôh peutrang lé droëneuh Toto . (M.Jamil juë Toto peutrang).

                    TOTO: Saboh sabab phôn njang rajek watéë di glé dilèë peukara Teungku Darul Kamal. Teungku Daud geupeugot tjara droë-geuh dan hana geupatéh peurintah Teungku. Njang keudua, watèë woë u Malaya ban-ban njoë ka geupeugot buët deungon hana peurintah Teungku.

                    YUSRIL: Djeuët neupeugah peuë njang ka geupeugot di Malaya njang meusalah ?

                    TOTO: Lagèë tjunto ka geudjak beu-et Madjeulih Neugara dan na laén2 lom njang hana peureulèë lôn peugah.

                    YUSRIL: Teungku kon hana geuduëk di Malaya. Haba2 lagèënjoë musti na ureuëng peutrôk bak Teungku.

                    M.JAMIL: ( Geukoh ladju deungon beungèh batjut). Peuë na tapiké lé gata bahwa kamoë njang ban woë dari Malaya njang peutrôk haba2 lagèënjoë? Bék u Malaya, u Amerika Teungku na kontak ‘geunap uroë’.

                    YUSRIL: Bôh na neuteupeuë Toto, ulôn na di Malaya baroëkon, padip na karu watèënjan di Malaya sampé2 ureuëng geutanjoë ka geudjak seumeupoh saré keudroë2. Tapi deungon Teungku Daud kana keudéh, meunurôt lôn teupeuë, peukara njan ka keumah geupeugot bandum.

                    M.JAMIL: (Jamil Amin njang dari beunoë geuduëk meusadeuë ulikôt, meukulèk, djinoë geuduëk tjot deungon muka meudjhô ukeuë). Peuë buët Teungku Daud njang peugot njan?

                    YUSRIL: Hai kon langsông! Tapi kareuna Teungku Daud kana keudéh, ureuëng2 tuha pih ka geutém meusaboh, dan karu2njan ka keumah geupeu- seuleusoë bandum dan djak bri peuneurangan ban sabohnjan.
                    M.JAMIL: Bôh lagèë Yusuf na butôi djidjak kheun ‘nol’?

                    YUSRIL: Hana! Tapi njang lôn teupeuë bang Yusuf hana geukheun ‘nol’. Mungkén gobnjan geubandéng ‘ohna geutanjoë tinggai deungon Timu-Timu. Peukara bang Yusuf na geukheun nol di gombak Batèë Nam, watèënjan lôn na di Malaya tapi hana lôn deungo bak babah ureuëng meusikrèk pih bahwa bang Yusuf na geukheun nol. Peuë ureuëng2 njang deungo njan hana geupeugah bak lôn, tapi peukara2 laén adak han le meubatjut teuteupeuë tjit.

                    M.JAMIL: Bôh kadjeuët tjit si Yusuf hana djikheun nol. Teutapi narit djih dalam rapat bak rumoh gata ban-ban njoë peuë njan geuhon atawa phui, njang disinan djipeugah djih handjeuët djimeusulét ngon ureuëng droë (ureuëng AM). Dan Yusuf na djikheun tjit bahwa djih han keumah djipeubuët buëtnjoë meunjo handjeuët djipeugah lagèëna bak ureuëng droë teuh. Pakon watèë djih djak u Tallin meutamah got dan pakon watèë Teungku djak hana got?

                    YUSRIL: Djadi meunoë Teungku Jamil, geutanjoë meunjo leupah that tapeugot propaganda pih hana got tjit. Bang Yusuf na geukheun tjit meunjo ngon ureuëng droë-teuh pajah that tapeugot propaganda, tapi meunjo deungon ureuëng luwa adak leubèh nibak Teungku peugah pih keumah geupeugah, meunankeuh kira2. Djadi peukara tarék garéh deungon bang Yusuf dan Teungku Daud bunoë, ulôn han keumah djaweuëb djinoë - pajah lôn lakèë watèë. Sabab, Teungku Daud dan Bang Yusuf hana geupeudeuh droë-geuh sibagoë ‘pengkhianat’. Peuë droëneuh ka neukira ureuëngnjan ‘pengkhianat’?

                    TOTO: Hana! Hana geupeugah lé Teungku!

                    YUSRIL: Peuë lôn mantong djeuët meurumpok, marit dan djak u rumoh ureuëngnjan?

                    TOTO, M.JAMIL: Njan pih hana geupeugah lé Teungku. ( Bandua djaweuëb meusigo).

                    YUSRIL: Djadi na saran batjut bak lôn, njanpih meunjo Wali ka bit-bit neutjok peuneutôh lagèënjan. Peu hana leubèh got meunjo lagèë droëneuh sidroë Meuntroë,neupeugah-bak-Wali-bék-geupeugot-meunan.Meukeusuddjih,geuta-njoë na padum droë treuk tinggai djinoë beutameugot-got.

                    TOTO: Kadjeuët! Saran gatanjan akan lôn peutrôk bak Teungku.

                    Stockholm, 10 Oktober 1997

                    Njang beuna 
                    Yusril Abdullah





                  • Acheh Watch
                    Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép! http://www.youtube.com/watch?v=V4k4RV-bCmM  Tengku Hasan di Tiro: Peuë makna Indonesia ?
                    Message 13 of 26 , Sep 19, 2012
                    • 0 Attachment
                      Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép!

                      Tengku Hasan di Tiro: gandjéthat, 'aébteuh lagoina peuë njang ka teudjadi di atjèh

                      Tengku Hasan di Tiro: Minimum nibak keupeunténgan Bansa Atjèh
                       
                      Tengku Hasan di Tiro: Keupeunténgan nasional atjèh hana lé lam pikéran ureuëng geutanjoë

                      Tengku Hasan di Tiro: Pakriban tapeu-ék seumangat njang karhet ?

                      Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh !

                      Pham beugot seudjarah Atjèh @ Tudjuan Pendídékan Atjèh ! 
                      http://www.youtube.com/watch?v=psq5tz6w9wA&feature=related
                       

                      HIKAJAT SEUMANGAT IMAN. Uléh: Sjahid Tgk Idris Ahmad
                      http://www.youtube.com/watch?v=gCiemmLRlwg&feature=related 

                      KISAH SEUDJARAH BARÔ. Keunarang: Tgk M. Daud Husin
                      http://www.youtube.com/watch?v=PL4N61Pxq4E

                      Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
                      http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 

                      ###########################

                      "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."

                      ###############################################################



                    • Acheh Watch
                      Home / Nanggroe / Pidie Jamaah Turunkan Khatib Jumat Sabtu, 22 September 2012 15:26 WIB * Isi Khutbah Dinilai Menyinggung SIGLI - Teungku Usman AR SAg yang
                      Message 14 of 26 , Sep 22, 2012
                      • 0 Attachment

                        Jamaah Turunkan Khatib Jumat
                        Sabtu, 22 September 2012 15:26 WIB


                        * Isi Khutbah Dinilai Menyinggung

                        SIGLI - Teungku Usman AR SAg yang sedang menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Baitul ‘Ala Limujahidin Abu Beureueh, Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie, tiba-tiba diturunkan oleh sebagian jamaah shalat Jumat dari mimbar (mihrab). Tindakan itu dilakukan, karena jamaah menilai isi khutbahnya kontroversial.

                        Menurut bendahara panitia masjid tersebut, Tgk H Jamal Abadi kepada Serambi kemarin, peristiwa itu terjadi sekira pukul 13.12 WIB. Saat itu Usman AR yang merupakan warga Simbe, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, baru setengah perjalanan berkhutbah, lalu dihentikan.

                        “Itu karena, sebagian jamaah tersinggung dengan isi khutbahnya yang kontroversial. Dia katakan kenduri pada hari ketujuh, ke-14, hingga hari ke-100 orang meninggal atau musibah merupakan perbuatan orang Hindu,” ujar Tgk Jamal Abadi yang didampingi Tgk H Muktasem, Ketua Bidang Wakaf Masjid Abu Beureueh itu.

                        Selain itu, kata Jamal Abadi, khatib juga menyebutkan bahwa doa dan shalawat secara jihar (suara dibesarkan) tidak dianjurkan, akan tetapi haruslah disirkan (cukup di dalam hati saja).

                        Isi khutbah yang demikian, tidak berkenan di hati jamaah yang dalam keseharian mempraktikkan hal yang sebaliknya. “Mendengar materi khutbah seperti itu, puluhan jamaah yang merasa tersinggung langsung berteriak-teriak minta khatib turun dari mimbar,” ujar Tgk Jamal.

                        Menyadari sebagian jamaah bereaksi spontan, pengurus masjid bersama Kapolsek Mutiara langsung menurunkan Tgk Usman AR dari mimbar dan melarikannya dari pintu belakang masjid untuk selanjutnya diamankan dari kemungkinan dikasari. Tgk Usman AR bahkan dikawal sampai ke rumahnya.

                        Di sisi lain, karena khutbah Jumat sudah tergolong cacat, maka imam masjid tersebut, Tgk Abubakar Maneh, diminta untuk memeruskan khutbah hingga tuntas, lalu dilanjutkan dengan shalat Jumat.

                         Tetap secara jihar
                        Menurut Tgk Jamal Abadi, pernyataan Tgk Usman AR saat menjadi khatib tadi, tidak akan memengaruhi apa yang sudah biasa mereka praktikkan di masjid itu. “Dari hasil kesepakatan pemuka agama dan masyarakat serta jamaah di masjid ini, kami tetap menggelar doa dan shalawat bersama secara jihar,” imbuhnya.

                        Sementara itu, Kapores Pidie, AKBP Dumadi SStMk melalui Kapolsek Mutiara, Iptu Rahmad Nuzuli mengatakan, kasus penurunan khatib itu telah ditangani dan diselesaikan secara damai melalui musyawarah bersama. “Kebetulan saat kejadian kita pun sedang Jumatan di masjid tersebut, sehingga cepat dilakukan tindakan antisipasi,” tukasnya.

                         Bukan pertama

                        Kasus khatib Jumat diturunkan dari mimbar, bukan pertama terjadi di Pidie. Pada hari Jumat, 9 September tahun lalu, Tgk Saiful Bahri bin Ahmad Abu (41) yang sedang berkhutbah di Masjid Raya Keumala Kampung Jijiem, Kecamatan Keumala, Pidie, juga diturunkan paksa oleh sejumlah jamaah.

                        Bukan saja diturunkan dari mimbar, ia bahkan mengaku dikeroyok oleh delapan jamaah, sehingga kening kanannya luka dan berdarah. Kejadian ini dipicu oleh rasa tidak suka jamaah terhadap isi khutbahnya yang menyinggung perasaan mereka sebagai anggota Komite Peralihan Aceh. Kasus ini sempat ditangani polisi. (c43)

                        materi khutbah kontroversi
                        * Kenduri hari ketujuh, ke-14, dan ke-100 di rumah orang meninggal/ditimpa musibah merupakan budaya agama Hindu.
                        * Shalawat dan doa bersama secara jihar (membesarkan suara) tidak dianjurkan.
                        Editor : hasyim




                         
                        Tengku Hasan di Tiro: Seuntimèn keu Mardéka mantong hansép!

                        Tengku Hasan di Tiro: gandjéthat, 'aébteuh lagoina peuë njang ka teudjadi di atjèh

                        Tengku Hasan di Tiro: Minimum nibak keupeunténgan Bansa Atjèh
                         
                        Tengku Hasan di Tiro: Keupeunténgan nasional atjèh hana lé lam pikéran ureuëng geutanjoë

                        Tengku Hasan di Tiro: Pakriban tapeu-ék seumangat njang karhet ?

                        Tengku Hasan di Tiro: Kru-Seumangat Bansa Atjèh !

                        Pham beugot seudjarah Atjèh @ Tudjuan Pendídékan Atjèh ! 
                        http://www.youtube.com/watch?v=psq5tz6w9wA&feature=related
                         

                        HIKAJAT SEUMANGAT IMAN. Uléh: Sjahid Tgk Idris Ahmad
                        http://www.youtube.com/watch?v=gCiemmLRlwg&feature=related 

                        KISAH SEUDJARAH BARÔ. Keunarang: Tgk M. Daud Husin
                        http://www.youtube.com/watch?v=PL4N61Pxq4E

                        Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!" 
                        http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related 

                        ###########################

                        "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."

                        ###############################################################



                      • Acheh Watch
                        Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)OPINI | 03 August 2012 | 09:20Dibaca: 462   Komentar: 1   Nihil Malik Khaidir Mahmud. Demikianlah nama
                        Message 15 of 26 , Dec 31, 2012
                        • 0 Attachment

                          Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)

                          OPINI | 03 August 2012 | 09:20Dibaca: 462   Komentar: 1   Nihil
                          Malik Khaidir Mahmud. Demikianlah nama asli beliau. Seorang tokoh elit eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal dekat dengan Wali Nanggroe, Hasan Tiro. Tokoh yang satu ini memang sungguh unik, tertutup dan sangat berhati-hati dalam berbagai isu yang menyangkut akan latar belakang dan riwayat hidupnya. Sehingga tidak diperoleh catatan yang jelas apa dan siapa Malik Mahmud tersebut. Sementara itu, arah politik Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki, menjadikan tokoh ini begitu populer sebagai Perdana Menteri GAM yang “berhasil” membawa perdamaian ke Aceh melalui jalur politik. Hingga saat ini, tidak ada catatan yang jelas mengenai siapa sebenarnya Malik Mahmud ini. Dari mana ia berasal, kompetensinya dalam karir yang digelutinya selama ini, catatan pendidikan dan pengalaman pekerjaan, keluarga, anak dan istri serta hal-hal lain yang terasa gelap bagi masyarakat Aceh tentang sosok yang disebut-sebut akan menjadi figure pemersatu bagi rakyat Aceh.

                          Riwayat Kehidupan
                          Ia lahir pada tahun 1939 si Singapura. Menghabiskan sebagian besar hidupnya di perantauan mengikuti orang tuanya yang bekerja sebagai Saudagar di Singapura. Semasa tinggal di Singapura, ia sempat bekerja sebagai pegawai pencatatan dan kelahiran sipil lalu terdaftar sebagai Tentara Marinir Singapura akibat program wajib militer yang diberlakukan oleh negara itu. Tidak ada catatan yang jelas mengenai kiprah maupun karir Malik di militer. Selanjutnya, asal nama Malik Mahmud Al Haythar berasal dari kesulitan beliau di masa kecilnya dengan menyebut nama tengahnya, “Khaidir”. Sehingga menggantinya dengan ejaan yang lebih mudah menjadi Hayther atau Haythar. Kata penambahan “Al” itu hanyalah reka-reka sendiri mengingat orang Aceh senang dengan hal-hal yang berbau ke Arab-araban.

                          Ibunya berasal dari Lampreh, Lambaro. Ayahnya, Haji Mahmud, berasal dari Lampuuk, Banda Aceh, campuran Arab dan India. Haji Mahmud pindah ke Singapura untuk mengembangkan bisnis perdagangan. Almarhum Haji Mahmud Khaidir (demikian ia disebut) merupakan pedagang Aceh yang hebat, sangat kaya, dengan sejumlah tanah yang dimilikinya hingga di Singapura. Semasa ia hidup, sebagai orang dagang, Haji Mahmud menjalin persahabatan dengan berbagai kalangan baik di Aceh maupun di Singapura. Ia juga cukup dekat dengan tokoh-tokoh DI/TII seperti Teungku Ilyas Leubeu dan Tengku Daud Bereueh. Sementara Hasan Tiro sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya. Sementara itu, di kalangan Singapura pun Haji Mahmud cukup akrab dengan tokoh-tokoh kawasan Geylang tempatnya tinggal seperti kelompok See Tong, Wo Shing Wo, Sun Tee On hingga Roland yang merupakan cikal bakal tokoh mafia terkenal yang sangat dekat dengan Malik Mahmud.

                          Sementara itu, Hasan Tiro selama tergabung dalam DI sangat dekat dengan keluarga Mahmud, terutama dengan Amir Rashid (abang Malik Mahmud yang juga salah seorang Mentri GAM). Haji Mahmud sendiri dianggap sangat berjasa bagi masyarakat Aceh di Singapura, juga bagi orang Melayu, sehingga ia dikenal engan sebutan Ayah Aceh. Ketika terjadi racial clash di Singapura, orang Melayu di Geylang lari berlindung ke rumahnya dengan aman akibat koneksi yang cukup baik dengan tokoh-tokoh Mafia dan Triad di Singapura tersebut.

                          Malik Mahmud dan Mafia Singapura
                          Sekitar tahun 1969 merupakan tahun dimana Roland dan anggota geng mafia See Tong mulai menancapkan  “kukunya” di wilayah Singapura setelah sekian lama membangun reputasi bisnis ilegalnya di Negeri Singa tersebut.
                          1343959681387955300
                          http://www.flickr.com/photos/drhusaini/7518038894/in/photostream/
                          Tahun itu juga merupakan awal jalinan kedekatan persahabatan Malek Mahmud dan ketua geng, Roland alias Hylam-kia. Pada malam tanggal 23 Oktober 1969, sekitar sepuluh dari sesama anggota geng dari See Tong menyerang dua anggota geng saingan mereka, Pek Kim Leng ( Putih Golden Dragon). Salah satu anggota geng saingan, yang juga bersenjata, tewas dan yang lainnya terluka parah dalam serangan itu.

                          Bentrokan terjadi akibat dari perselisihan sebelumnya antara tahta Tong (See Tong) yang dekat dengan kelompok perantau di Geylang termasuk Malik Mahmud dan Ayahnya, dengan Kim Pek Leng di sebuah bar. Krisis pun terjadi di antara keduanya, ketika negosiasi tidak tercapai untuk menghasilkan solusi damai. Pertarungan antara dua geng pun terjadi dimana anggota geng akan saling menyerang saat melihat satu sama lain. Untuk menghindari adanya kejaran dari pihak kepolisian Singapura, Roland dengan dibantu kelompok See Tong dan Malik Mahmud melarikan diri ke Malaysia dan atas bantuan koneksi dari Haji Mahmud yang luas, Roland berhasil ke Belanda dengan dibantu oleh mantan pelaut Singapura yang telah bermukim di Belanda, bernama “Big Jhonny”. Atas rekomendasi Haji Mahmud lah, Big Jhonny membuka jalan Roland untuk bertemu dengan tokoh-tokoh TRIAD Hongkong di Belanda seperti Wo Shing Wo dan Sun Tee On.

                          Kelompok ini yang selanjutnya terkenal dengan sebutan geng Ah Kong yang beroperasi hingga ke seluruh dunia termasuk Amsterdam, Belanda. Malik Mahmud yang kala itu telah mendukung perjuangan Hasan Tiro, ditunjuk sebagai penggalang dana dengan cara memasok kebutuhan akan ganja dan zat-zat adiktif lainnya ke Belanda yang memang cukup tinggi permintaannya. Sebagaimana diketahui, Amsterdam merupakan salah satu kota dunia yang melegalkan penggunaan ganja dan sejenisnya untuk dikonsumsi oleh warganya. Persahabatan geng Ah Kong terus berlanjut hingga saat ini bahkan setelah kematian Bos Ah Kong tahun 2010.

                          Perjalanan Malik Mahmud dalam “dunia bawah tanah” Singapura belum benar-benar berakhir meskipun dengan meninggalnya bos Ah Kong. Jalinan persahabatan terus dibangun sebagai wujud kebersamaan dalam membangun reputasi di dunia hitam.


                          Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (2)

                          OPINI | 04 August 2012 | 13:02Dibaca: 384   Komentar: 3   1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
                          Melanjutkan tulisan kemarin tentang sosok Sang Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haythar, yang misterius dan tertutup serta keunggulannya dalam menjalin dan memelihara kerjasama dan hubungan dengan “dunia bawah tanah” Singapura, pembahasan kali ini akan mendeskripsikan kelihaian Malik Mahmud sebagai seorang yang lihai dalam memanfaatkan peluang “kekosongan” sejarah Aceh dalam mendukung langkah dan  gerakan yang dilakukan oleh Hasan Tiro dalam memerdekakan Aceh.

                          Tahun 2002, adalah tahun penting bagi Malik Mahmud setelah perjalanan panjang yang ia  lakukan bersama Hasan Tiro sejak mengenalnya tahun 1964. Tahun itu, adalah tahun penetapan sekaligus pengukuhan dirinya sebagai Perdana Menteri GAM sekaligus Pemangku Wali Nanggroe dalam rapat rahasia yang dihadiri secara terbatas oleh para kombatan GAM di luar negeri. Rapat rahasia itu dilaksanakan di Stavanger Norwegia atas inisiatif Malik Mahmud dalam upayanya menetapkan posisi dan kedudukan para elit GAM kala itu sekaligus sebagai usaha untuk tidak kehilangan reputasi di tengah perlawanan keras yang dilakukan oleh para pejuang GAM di Aceh yang sangat berwibawa saat itu yaitu Tengku Abdullah Syafei. Pemangku Wali sendiri dapat diartikan sebagai pelaksana tugas-tugas Wali Nanggroe apabila sang wali berhalangan sementara ataupun tetap. Namun demikian, muncul pertanyaan, apakah pengukuhan tersebut merupakan kehendak rakyat Aceh seluruhnya? Apakah pengukuhan tersebut semata-mata merupakan strategi menuju ke puncak kekuasaan Aceh dengan mengabaikan peranan Kesultanan Aceh yang sesungguhnya?

                          13440599992125930638
                          http://www.flickr.com/photos/drhusaini/7512999628/in/photostream
                          Sejarah mencatat, bahwa  sejatinya wali nanggroe telah ada semasa Kesultanan Aceh di masa penjajahan Belanda yaitu Tuanku Hasyim Banta Muda, Syaikh Abdur Rauf al-Singkili yang pernah mewakili kerajaan Aceh. Kesultanan Aceh sendiri berawal dari kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1500-1530) hingga Sultan Muhammad Dawud Syah (1874-1903). Namun demikian, dengan berlandaskan buku yang dikeluarkan oleh Parlemen Inggris, New Birth of Freedom tahun 1992, Hasan Tiro mengaku sebagai keturunan dan penguasa kesultanan Aceh yang ke-41 yaitu sejak tahun 1976. Ini adalah hal yang sungguh aneh di tengah para keturunan langsung Sultan dan Wali Nanggroe Aceh Darusalam yang terikat oleh sejarah dan tradisi kesultanan Aceh melihat kedudukan Hasan Tiro maupun Malik Mahmud sebagai tokoh yang memanipulasi sejarah Aceh untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

                          Dalam diskusi Panteue yang turut dihadiri Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibarim sebagai cucu Sultan Alaidin Muhammad Dawud Syah (Sultan Aceh yang terakhir), juga hadir cucu Wali Nangroe Tuanku Hasyim Banta Muda, Adli Abdullah tanggal 12 Desember 2010 di Lampriet Banda Aceh, menurut  Adli bahwa  dalam daftar Piagam Bate KurengSAMA SEKALI TIDAK ADA NAMA Tgk. Hasan Tiro, kecuali Tengku Zainal Abidin Muhammad Tiro dan Tengku Umar Tiro.

                          Selanjutnya, simbol kerajaan dan pemerintahan Aceh berupa cap Sikureng yang pernah diberikan kepada Tgk Chik di Tiro, setelah sepeninggal beliau pada tahun 1891, telah diserahkan kepada Habib Samalanga (Reid, 2005:275). Melihat symbol kerajaan yang dipegang oleh Habib tersebut, apakah keturunan habib itu juga berhak atas gelar Wali Nanggroe?

                          Melihat penelusuran sejarah singkat di atas tentang Wali Nanggroe, tentunya terbentuk pemahaman, siapa sebenarnya Hasan Tiro dan apa yang melandasi penunjukan Malik Mahmud sebagai Pemangku Wali Nanggroe untuk menduduki sebuah jabatan yang memiliki nilai-nilai kultur dan sejarah Keacehan yang sangat tinggi dan tak ternilai?

                          Disinilah letak kelihaian Malik Mahmud dalam merencanakan dan memanipulasi sejarah Aceh yang terputus karena didera konflik selama puluhan tahun. Malik Mahmud tampaknya menyadari posisinya yang sangat lemah dalam silsilah kesultanan Aceh sehingga merekayasa pertemuan rahasia Sigom Donya di Stavanger sebagai upayanya dalam mengukuhkan kedudukannya andaikan Hasan Tiro tiada. Hal ini sama dengan ketika marsekal Perancis Jean Baptiste Bernadotte menggantikan Raja Swedia Carl XIII yang tidak memiliki putra mahkota. Dengan musyawarah kerajaan yang diinisiasi oleh Bernadotte, maka mau tak mau dalam musyawarah tersebut menunjuk Bernadotte sebagai Raja Swedia pada tahun 1810.

                          Bisa dikatakan, apa yang dilakukan oleh Malik Mahmud dan mendiang Hasan Tiro dalam rapat Stavanger tersebut adalah Coup D etat atas sejarah dan nilai-nilai kultur serta budaya Aceh maupun  pengkhianatan terhadap kejayaan Kesultanan Aceh masa lalu. Semuanya dilakukan bukan karena dilandasi oleh niat yang tulus dan ikhlas dalam mensejahterakan rakyat Aceh atau bahkan memerdekakannya, namun lebih karena nafsu kekuasaan.



                          Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (3)

                          OPINI | 05 August 2012 | 12:42Dibaca: 457   Komentar: 0   Nihil
                          Setelah berkisah tentang kelihaian Malik Mahmud dalam memanipulasi sejarah Aceh pada rapat Sigom Donya di Stavanger Norwegia 10 tahun lalu, cerita tentang Malik Mahmud kali ini akan lebih menyoroti tentang “petualangan” Malik Mahmud dengan banyak wanita. Silsilah keluarga yang tidak jelas dan ketertutupan Malik Mahmud akan hal-hal yang bersifat pribadi, adalah hal wajar bagi kebanyakan orang yang hidup dalam dunia hitam. Tidak jelas siapa orangnya yang disebut dengan Mrs. Malik Mahmud atau Nyonya Malik, namun yang sudah menjadi rahasia umum adalah banyak wanita di sekeliling Malik Mahmud.

                          “Petualangan” Malek Mahmud dan perempuan bukanlah hal baru bagi rakyat Aceh maupun kalangan eks kombatan GAM. Beberapa kesaksian dari sahabat yang gemar dalam “berpetualang” di dunia hiburan malam seluruh dunia, menyebutkan bahwa sosok Sang Pemangku Wali ini, adalah orang yang sangat flamboyant, santai dan bersahabat. Hal ini tentunya berbeda dengan yang dikenal oleh rakyat Aceh selama ini, dimana Malik Mahmud adalah figur yang tegas, tertutup dan keras.
                          1344218450696364124
                          http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7696170304/in/photostream/
                          Namun semua kesan keras dan ketegasannya tersebut hilang seketika dalam “petualangannya” kePalm Hills Casino resort Las Vegas tahun 2006 lalu, disebutkan bahwa ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam Hugh Hefner club Sky Villa sebuah klub yang dimiliki oleh bos majalah Playboy, Hugh Hefner. Klub ini memang luar biasa, dengan menyuguhkan hiburan-hiburan kelas dunia dengan menu wanita-wanita paling cantik sejagad koleksi majalah Playboy dari seluruh dunia. Artis-artis top Hollywood, pengusaha hingga para dictator negara-negara ATimur Tengah kerap menjadi tamu istimewa klub yang berharga $35,000 USD per malamnya. Malik Mahmud tentu dengan kekuatan dan pengaruhnya yang begitu besar di Aceh maupun kalangan eks kombatan GAM tidak terlalu kesulitan untuk memperoleh dan membelanjakan uang sebesar itu untuk membeli sebuah surga di dunia.
                          1344145257196650034
                          http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7696173690/in/photostream
                          Selain di Amerika dan Eropa, petualangan Sang Pemangku Wali juga dilakukan di local area, juga regional. Seperti di Singapura dan Medan, dua kota yang menjadi tempat favorite Malik untuk menghabiskan weekendnya. Setiap akhir sholat Jumat, Malek Mahmud secara rutin “terbang” ke Singapura maupun Medan untuk menuntaskan hasrat dan syahwatnya yang tertahan selama lebih kurang 5 hari berada di Serambi Mekah.Di Singapura, sasaran penuntasan syahwat Malik adalah di Orchad Tower maupun Huxon Hill, dua tempat yang terkenal dengan wanita-wanita penjaja seks high class. Sementara itu di Medan, Malek kerap memanfaatkan “jasa” penyedia layanan “pesan-antar” untuk melayaninya di hotel-hotel seperti Medan Deli maupun Polonia Medan.
                          13442186291556287261
                          http://www.flickr.com/photos/yusufdaud/7696165344/in/photostream/
                          Terlepas dari baik ataupun buruknya keadaan ini jika dilihat dari sisi religius, paling tidak kita semua menyadari bahwa kita hidup di dunia dan alam yang sama, kita pun menghirup udara yang sama pula sehingga tentu apa yang dilakukan oleh Pemangku Wali adalah hal yang manusiawi dimana semua manusia lahir disertai dengan akal dan nafsu. Apapun baju yang dikenakannya, Pendeta, Ustadz atau bahkan Pemangku Wali sekalipun. Semuanya tetap manusia dan masih memiliki nafsu, namun hanya dengan akal lah kehormatan dan reputasi dapat dibangun sehingga tampil sebagai sosok yang pantas untuk menjadi panutan. Apakah Sang Pemangku Wali pantas untuk menjadi panutan kita? Andalah yang memilih sesuai dari sudut pandang mana anda melihat.

                          ~~BERSAMBUNG~~





                        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.