Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Wikileaks: Raja Saudi Desak AS Serang Iran

Expand Messages
  • Ali Al Asytar
    http://achehkarbala.blogspot.com/2010/09/islam-warisan-dan-islam.html Wikileaks: Raja Saudi Desak AS Serang Iran Pemimpin Arab Saudi Raja Abdullah, telah
    Message 1 of 2 , Nov 29, 2010
    • 0 Attachment
       
       
       
      Wikileaks: Raja Saudi Desak AS Serang Iran
      Pemimpin Arab Saudi Raja Abdullah, telah berulang kali mendesak Amerika Serikat untuk menyerang program nuklir Republik Islam Iran. Informasi ini disampaikan Wikileaks berdasar data diplomatik Washington yang bocor ke publik. Selain Iran, Abdullah juga menyarankan perlakuan yang sama ke Cina atas serangan maya (cyberattack) negeri itu yang diarahkan pada AS.

      Lebih dari 250 ribu dokumen, yang diberikan kepada lima kelompok media. The New York Times (NYT) menyatakan apa yang dikemukakan WikiLeaks memberikan titik terang mengenai pandangan para pemimpin asing. Juga, informasi yang sensitif terhadap terorisme dan proliferasi nuklir yang diajukan oleh diplomat AS.

      Dalam harian Guardian Inggris -- yang juga menerima kiriman dokumen dari Wikileaks -- Raja Abdullah dilaporkan telah "sering mendesak AS untuk menyerang Iran demi mengakhiri program senjata nuklirnya."

      "Potong kepala ular itu," Duta Besar Saudi untuk Washington, Adel al-Jubeir, mengutip ucapan Raja. Hal itu, katanya, diungkapkan dalam pertemuan Abdullah dengan Jenderal David Petraeus pada bulan April 2008.

      NYT menyatakan dokumen yang bocor, sebagian besar merupakan data tiga tahun terakhir, juga mengungkapkan tuduhan Amerika bahwa Politbiro Cina mengarahkan sebuah penyusupan ke sistem komputer Google. Hal ini merupakan bagian dari kampanye terkoordinasi lebih luas untuk sabotase komputer yang dilakukan oleh koperasi pemerintah Cina, pakar keamanan swasta, dan penjahat internet.

      Surat kabar itu juga mengatakan tersebut dalam dokumen itu bahwa donor Saudi juga menjadi pemasok dana kelompok Sunni militan seperti Al Qaeda. Dalam dokumen itu juga disebut Qatar yang telah "bermurah hati" kepada militer AS selama bertahun-tahun, adalah negara terburuk di kawasan itu dalam hal kontra-terorisme.

      Sejumlah nama disebut dalam dokumen itu, mulai dari anggota Senat urusan luar negeri, pimpinan militer, aktivis HAM, hingga wartawan, dengan peringatan "Please Protect" atau "Strictly Protect".

      Gedung Putih mengutuk pelepasan dokumen itu dengan mengatakan hal itu bisa membahayakan kehidupan orang-orang yang hidup di bawah "rezim yang menindas". Selain itu, juga "sangat berdampak" bagi kepentingan kebijakan luar negeri AS dan sekutu-sekutunya.

      "Supaya jelas - pengungkapan tersebut beresiko bagi para diplomat kami, profesional intelijen, dan orang di seluruh dunia yang mempromosikan demokrasi dan pemerintahan yang terbuka," kata juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs.

      "Dengan merilis dokumen dicuri dan diklasifikasikan, WikiLeaks telah menempatkan risiko tidak hanya bagi hak asasi manusia, tetapi juga kehidupan dan pekerjaan orang-orang ini," katanya. (IRIB/Republika/RM)


    • Ali Al Asytar
      Ketajaman pandangan DR Mahmud Ahmadinejad sepertinya ketajaman pandangan Ayatullah Khomaini ketika menyekap inteljen AS, dimana Abul Hasan Bani Sadr tidak
      Message 2 of 2 , Dec 1, 2010
      • 0 Attachment
        Ketajaman pandangan DR Mahmud Ahmadinejad sepertinya ketajaman pandangan Ayatullah Khomaini ketika menyekap inteljen AS, dimana Abul Hasan Bani Sadr tidak memilikinya.
        Kali ini DR Ahmadinejad mampu mendeteksi apa mahunya Wikileak terhadap Dunia Islam di Timur Tengah....
        Dokumen Rahasia dan Mimpi Wikileaks Buat Timur Tengah

        Situs Wikileaks masih terus melanjutkan proyek pembocoran dokumen rahasia Amerika.Tujuan aksi Wikileaks ini dapat ditangkap sebagai upaya memperkuat front Arab dalam menghadapi diplomasi regional Republik Islam Iran.

        Dampak dari Pembocoran dokumen-dokumen rahasia ini akan dimanfaatkan oleh Amerika untuk meminggirkan ancaman rezim Zionis Israel bagi dunia Islam. Selain itu, proyek ini memberikan kesempatan kepada Tel Aviv untuk menarik napas lega dari kejaran dunia Islam atas pelbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya selama ini.

        Empat tahun merupakan waktu yang cukup lama bagi sebuah situs internet untuk menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dunia. Tapi situs internet Wikileaks yang selama empat tahun beraktivitas tidak pernah dikenal oleh dunia, hanya dalam setahun tiba-tiba menjadi situs yang paling dicari oleh media-media pemberitaan.

        Popularitas situs Wikileaks berasal dari dokumen-dokumen rahasia yang dipublikasikannya. Menurut para penanggung jawa situs ini, dokumen-dokumen ini merupakan bukti-bukti rahasia terkait pasukan militer Amerika di Irak dan Afghanistan.

        Sekalipun demikian, dengan mengkaji dokumen-dokumen yang telah dipublikasikan oleh situs ini dapat diketahui bahwa sekalipun terkait kondisi perang dan militer Amerika di Timur Tengah, tapi sebagian besar isinya punya hubungan dengan Republik Islam Iran. Masalah yang membuat para pengamat meragukan klaim yang disampaikan para penanggung jawab situs ini.

        Proyek Wikileaks, Ciptakan Konflik antara Iran dan Arab

        Di antara dokumen yang dipublikasikan Wikileaks, ada sejumlah masalah yang menunjukkan proyek ini telah direkayasa sejak sebelumnya. Ada aksi terorganisir di balik proyek ini dengan tujuan menciptakan perselisihan dan konflik antarnegara Timur Tengah.

        Penjelasan ungkapan sebagian kepala-kepala negara Arab terkait Iran yang dikutip dalam dokumen-dokumen ini merupakan upaya menjustifikasi adanya perselisihan dan konflik hebat antara negara-negara di Timur Tengah.

        Para pengamat politik berkeyakinan, dengan mencermati pengaruh kuat Republik Islam Iran di kawasan, khususnya di bulan-bulan terakhir seperti dalam lawatan Presiden Mahmoud Ahmadinejad ke Lebanon yang mendapat sambutan luar biasa, publikasi berita-berita semacam ini dan fokus media-media secara luas akan masalah ini membuktikan ada satu skenario untuk menciptakan perselisihan antara Iran dan negara-negara Arab.

        Di sisi lain, lawatan Nouri Maliki, Perdana Menteri Irak ke Tehran yang berujung pada keberhasilannya membentuk pemerintah baru telah menciptakan eskalasi sensifitas baru terkait peran Tehran di Timur Tengah, khususnya di front negara-negara Arab.

        Tampaknya proyek berkelanjutan pembocoran dokumen-dokumen rahasia yang dilakukan Wikileaks salah satu tujuannya adalah memperkuat front Arab dalam menghadapi diplomasi regional Iran. Dampak dari proyek ini akan dimanfaatkan oleh Amerika untuk meminggirkan ancaman rezim Zionis Israel bagi dunia Islam. Selain itu, proyek ini memberikan kesempatan kepada Tel Aviv untuk menarik napas lega dari kejaran dunia Islam atas pelbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya selama ini.

        Oleh karenanya, Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benyamin Netanyahu begitu gembira atas pembocoran dokumen-dokumen Amerika ini dan menyebut Wikileaks tidak akan membuat masalah bagi Zionis Israel, sebaliknya malah memperkuat posisi Zionis Israel.

        Dari Perang Irak Hingga Pemilu Iran

        Ada hal lain lagi yang membuat pengakses situs Wikileaks semakin yakin ada konspirasi antara para penanggung jawab situs ini dengan para pemimpin Gedung Putih dan rezim Zionis Israel. Karena ada banyak masalah yang pada prinsipnya tidak ada hubungannya dengan militer Amerika di Irak dan Afghanistan, tapi cenderung hanya untuk menciderai posisi Iran di Timur Tengah.

        Para penanggung jawab situs Wikileaks tidak pernah memberikan penjelasan bagaimana surat-menyurat pasukan Amerika di Irak sampai pada jumlah perolehan suara Mahmoud Ahmadinejad dalam pemilu presiden tahun lalu dengan tepat!!!

        Begitu juga prosentasi yang cukup tinggi dari dokumen-dokumen ini terkait Iran, lebih dari 70 persen, membuat para pengamat independen internasional menilai Wikileaks hanya bagian dari proyek CIA.

        Reaksi Ahmadinejad atas Aksi Wikileaks

        Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad Senin kemarin (29/11) dalam konferensi persnya di hadapan wartawan dalam dan luar negeri terkait dokumen-dokumen yang dipublikasikan oleh Wikileaks yang membuat permintaan sebagian negara-negara Arab agar Amerika menyerang Iran menjawab, "Publikasi dokumen-dokumen ini merupakan kenakalan Amerika dan menurut kami hal itu tidak bernilai sedikitpun. Hubungan kami dengan negara-negara tetangga adalah hubungan negara bersahabat dan bersaudara. Kenakalan-kenakalan semacam ini tidak akan pernah mengganggu hubungan kami. Selain itu, dokumen-dokumen ini tidak punya nilai sama sekali."(IRIB/SL/PH)


        From: Ali Al Asytar <alasytar_acheh@...>
        To: PPDi@yahoogroups.com; Komunitas_Papua@yahoogroups.com; ambon@yahoogroups.com; kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com; oposisi-list@yahoogroups.com; politikmahasiswa@yahoogroups.com; GAMRMSOPM@yahoogroups.com; Lantak@yahoogroups.com; fundamentalis@yahoogroups.com; achehnews@yahoogroups.com
        Sent: Tue, November 30, 2010 7:23:17 AM
        Subject: Wikileaks: Raja Saudi Desak AS Serang Iran

         
         
         
        Wikileaks: Raja Saudi Desak AS Serang Iran
        Pemimpin Arab Saudi Raja Abdullah, telah berulang kali mendesak Amerika Serikat untuk menyerang program nuklir Republik Islam Iran. Informasi ini disampaikan Wikileaks berdasar data diplomatik Washington yang bocor ke publik. Selain Iran, Abdullah juga menyarankan perlakuan yang sama ke Cina atas serangan maya (cyberattack) negeri itu yang diarahkan pada AS.

        Lebih dari 250 ribu dokumen, yang diberikan kepada lima kelompok media. The New York Times (NYT) menyatakan apa yang dikemukakan WikiLeaks memberikan titik terang mengenai pandangan para pemimpin asing. Juga, informasi yang sensitif terhadap terorisme dan proliferasi nuklir yang diajukan oleh diplomat AS.

        Dalam harian Guardian Inggris -- yang juga menerima kiriman dokumen dari Wikileaks -- Raja Abdullah dilaporkan telah "sering mendesak AS untuk menyerang Iran demi mengakhiri program senjata nuklirnya."

        "Potong kepala ular itu," Duta Besar Saudi untuk Washington, Adel al-Jubeir, mengutip ucapan Raja. Hal itu, katanya, diungkapkan dalam pertemuan Abdullah dengan Jenderal David Petraeus pada bulan April 2008.

        NYT menyatakan dokumen yang bocor, sebagian besar merupakan data tiga tahun terakhir, juga mengungkapkan tuduhan Amerika bahwa Politbiro Cina mengarahkan sebuah penyusupan ke sistem komputer Google. Hal ini merupakan bagian dari kampanye terkoordinasi lebih luas untuk sabotase komputer yang dilakukan oleh koperasi pemerintah Cina, pakar keamanan swasta, dan penjahat internet.

        Surat kabar itu juga mengatakan tersebut dalam dokumen itu bahwa donor Saudi juga menjadi pemasok dana kelompok Sunni militan seperti Al Qaeda. Dalam dokumen itu juga disebut Qatar yang telah "bermurah hati" kepada militer AS selama bertahun-tahun, adalah negara terburuk di kawasan itu dalam hal kontra-terorisme.

        Sejumlah nama disebut dalam dokumen itu, mulai dari anggota Senat urusan luar negeri, pimpinan militer, aktivis HAM, hingga wartawan, dengan peringatan "Please Protect" atau "Strictly Protect".

        Gedung Putih mengutuk pelepasan dokumen itu dengan mengatakan hal itu bisa membahayakan kehidupan orang-orang yang hidup di bawah "rezim yang menindas". Selain itu, juga "sangat berdampak" bagi kepentingan kebijakan luar negeri AS dan sekutu-sekutunya.

        "Supaya jelas - pengungkapan tersebut beresiko bagi para diplomat kami, profesional intelijen, dan orang di seluruh dunia yang mempromosikan demokrasi dan pemerintahan yang terbuka," kata juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs.

        "Dengan merilis dokumen dicuri dan diklasifikasikan, WikiLeaks telah menempatkan risiko tidak hanya bagi hak asasi manusia, tetapi juga kehidupan dan pekerjaan orang-orang ini," katanya. (IRIB/Republika/RM)



      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.