Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???

Expand Messages
  • Mr. Toto Tambunan
    Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat, bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka, sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya dibuat agar
    Message 1 of 8 , Dec 30, 2000
      Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat, bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka, sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang hingga terakhir ini ditunjukkan bahwa orang Aceh dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang sekaligus panglimanya.

      Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya adalah orang Indonesia yang asal Sumatra dan ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan Jawa, Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun. Saya tidak menjadi CUPET/KERDIL dengan menganggap orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak, Makasar dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir dibandingkan agama saya. Bagi saya biarlah kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi milik saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada Tuhan.

      Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32 tahun itu (saya tidak termasuk di dalamnya !) kita telah mengalami masa yang menghancurkan moral bangsa dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah bagi kepentingan kekuasaan sehingga kita tidak percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah untuk meredam  hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi yang pun dikuasai oleh kroni dan banyak lagi kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti. Rezim telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban kita (saya dan anda) untuk memperbaikinya.

      Kenapa kita tidak mau bersatu dalam tanggungjawab dan beban tersebut, kenapa justru mau bikin negara sendiri dan untuk mencapainya menyebarkan teror, provokasi, bom, bunuh saudara sendiri dlsb. Sebab dan akibat bagai lingkaran setan yang terus saling menyalahkan, dendam terpelihara terus.

      Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu disini, wahai pimpinan elit yang bermukim di Norway. Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat yang tidak bersalah yang tetap merasa sebagai bangsa Indonesia dan bukan 'Jawa'.

       

          

      ----- Original Message -----
      Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
      Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???



       
      SALINAN DARI BUKU  " MALA PETAKA DI BUMI SUMATRA"
      OLEH : LUTH ARI LINGE.                                                    


      KEKAYAAN SUMATRA DAN
      AMAN MENURUT PENJAJAH
       
      SAMBUNGAN KE-3
       
      Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda bangsa-bangsa Sumatra saat ini adalah terjadinya suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari kemiskinan adalah datangnya dari Tuhan. Seluruh aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu kemiskinan telah meliliti leher kita, si Suharto masih berkata: "Kencankan ikat pinggan kita." Dengan begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara ini memang ditentukan oleh Allah. Dari segi keyakinan, kita tidak munafikan apalagi menolak kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan firman Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat  Hud, ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah ditafsirkan secara sempit. Menurut penjajah Indonesia-Jawa, 
      apabila terjadi kemiskinan yang melanda manusia, khususnya bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah yang harus bertanggung-jawab karena Allah telah menjamin rezeki hambanya.
       
             Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering menulis persoalan ini dalam majalah politik seperti " Tempo " dan surat-surat kabar untuk meyakinkan bangsa terjajah ( bangsa-bangsa  Sumatra ) dengan menafsirkan Al-Qur`an menurut kemauan dan kepentingan politiknya, mereka menjual ayat Allah dengan harga yang murah.
       
             Tujuannya  supaya bangsa-bangsa Sumatra dan bangsa-bangsa lain yang dijajahnya bersedia tunduk menghambakan diri dihadapan penjajah Indonesia-Jawa dengan dalih kestabilan serta untuk mencapai keharmonisan dan ketenangan hidup yang abadi. pada hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda: "Kemiskinan itu dapat mendekatkan seseorang kepada kekufuran atau kekafiran." Persoalan kemiskinan adalah semata-mata persoalan manusia dalam mengatur hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6 tadi sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita tidak sesempit seperti yang di gambarkan oleh penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas mengajarkan seperti firman-Nya: "Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, selamma kaum itu sendiri tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad, ayat 11 ). Disinilah dinamika hidup, sehingga manusia mempunyai ruang gerak untuk merubah nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib suatu bangsa.
       
             Sesudah kita melaksanakan amalan ini menurut kemauan penjajah Indonesia-Jawa, maka tahap berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli (pen: bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya sendiri, dimana mereka nampak lesu kurang gairah. Inilah sebabnya, suatu penyelidikan tentang dunia penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah bagai mana cara mengarahkan kemarahannya, mengubah dan meyanlurkannya kearah yang tepat. Gerakan tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti dan terbina ( ini dapat disaksikan di Afrika Hitam ). Dalam negara jajahan, kaum petani adalah golongan Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam bukunya "The Wretched of the Earth".
       
           Lihat saja dalam peristiwa Talang Sari,Lampung Selatan. Ketika rakyat bangkit menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat yang dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan tidak mau mengikuti ajaran sesat ( Pancasila, agama Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia ( ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan kekerasan, membakar ratusan rumah penduduk dan menembak mati siapa saja yang melawan Pemerintah. Lebih 1.500 orang  dibantai dengan biadab oleh serdadu Indonesia-Jawa.
       
              Begitu juga dalam peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Medan, Sumatra Utara. Dimana pihak Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) tidak mau kalau pihak Pemerintah mencampuri urusan dalam Gereja. Penjajah Indonesia-Jawa ini melalui Badan Koordinasi Stabilitas Keamanan Daerah (Bakorstasda) tetap dengan pendiriannya-ingin mengatur kebijak sananan Gereja-dan sedadu penjajah ini tidak segan-segan menasehati para Pendeta dengan menangkap, menahan, menyiksa, menganiaya dan menghukum dengan hukuman penjara.
       
             Apabila Jema`at Gereja bangkit menentang dan melawan pihak ABRI mengarahkan laras senjatanya kearah Jema`at tersebut-rakyat diperintahkan " tenang ", surat kabar diacam dengan mencabut surat izin terbitnya apabila memberitakan dan wartawan-wartawan diancam akan dibunuh apabila meyiarkan dan membesar-besarkan peristiwa ini. Sementara itu rakyat terus dipaksa mengikuti Penataran P-4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ), dengan mendoktrin supaya rakyat mengutamakan stabilitas nasional dan menampakkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan dan kepentingan pribadi. Kepentingan nasional di sini adalah kepentingan bangsa jawa.
       
            Jadi, nyatalah bahwa penjajah Indonesia-Jawa secara terang-terangan menjerumuskan bangsa-bangsa Sumatra ke dalam jurang-dan mengarahkan kemarahan kita, meredam perasaan dendam kita dengan cara-cara biadab. 
       
            Dalam kemiskinan yang kita rasakan, keresahan hidup tanpa ujung dan kelabunya masa depan generasi muda, mereka menasehati orang-orang di kampung dan di kota seluruh Sumatra dengan peluru yang ada di tangan mereka, supaya menerima dengan pasrah keadaan ini.
       
             Sementara dibelakang layar, penjajah ini membuat satu mafia, dengan membentuk kalangan "bourgeoisie" dan pengusaha kelas menengah, antara penjajah dan pemilik modal ini mempunyai tujuan masing-masing. Akan tetapi bagi kita keduanya sama bejat dan zalimnya. Ada dua cara dan dua tujuan yang berbeda sekali sewaktu mereka memainkan tipu muslihat masing-masing mempercayai bahwa cara dan tujuan mereka akan tercapai. Pertama, penjajah Indonesia-Jawa memberikan peluang kepada kalangan pemilik modal untuk meminjam uang dari Bank-bank Pemerintah, dan diberikan izin untuk membuka usaha apa saja yang mendatangkan keuntunganKeduapenanaman modal ini meyuap para jenderal dan orang-orang tertentu demi memperoleh pinjaman dan " tender ". Kedua-duanya adalah a-moral dan bejat.
       
             Tujuan yang diharapkan pemilik modal (pengusaha) dan pendukung keuangan yang lain kepada pihak penjajah adalah, bukannya supaya menghapuskan penjajahan regime Suharto keatas bangsa-bangsa Sumatra, melainkan harus memelihara perjanjian antara mereka dan meyelamatkan kepentingan masing-masing.    (Bersambung)

                                                       RENUNGAN !
      "Kerajaan-kerajaan besar mati karena sakit perut : tidak dapat mencernakan apa yang sudah dimakannya, " kata Napoleon. Begitulah nasib kerajaan Rome. Begitulah nasib Hindia Belanda. Dan begitulah nasib´ Indonesia-Jawa` walaupun masih berdiri sebentar lagi atas belas-kasihan Negara-negara tetangganya, besar-kecil ´Indonesia-Jawa` yang menggambarkan dalam surat-surat kabar Inperialis Barat sebagai ´negara teladan`sebenarnya adalah ORANG SAKIT DARI ASIA TENGGARA !                  

      DIEDIT KEMBALI OLEH:
      BIRO PENERANGAN  ASNLF DI NORWAY.





      Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.



      --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
      Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

      untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com

    • warwick aceh
      Herman itu bukan si Tulanggggggg, tapi jawa saket tengkorak. Mana ada rezim penggati orde brobrok soeharto itu lebih baik. Penyambung penjajah itu tetap
      Message 2 of 8 , Jan 1, 2001
        Herman itu bukan si Tulanggggggg, tapi jawa saket
        tengkorak.

        Mana ada rezim penggati orde brobrok soeharto itu
        lebih baik. Penyambung penjajah itu tetap penjajah
        juga.


        --- "Mr. Toto Tambunan" <herman@...> wrote: >
        Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat,
        > bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka,
        > sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya
        > dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang
        > hingga terakhir ini ditunjukkan bahwa orang Aceh
        > dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang sekaligus
        > panglimanya.
        > Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya
        > adalah orang Indonesia yang asal Sumatra dan
        > ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan
        > Jawa, Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan
        > saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya
        > itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam,
        > Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun.
        > Saya tidak menjadi CUPET/KERDIL dengan menganggap
        > orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak, Makasar
        > dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir
        > dibandingkan agama saya. Bagi saya biarlah
        > kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi milik
        > saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada
        > Tuhan.
        >
        > Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32 tahun
        > itu (saya tidak termasuk di dalamnya !) kita telah
        > mengalami masa yang menghancurkan moral bangsa
        > dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah
        > bagi kepentingan kekuasaan sehingga kita tidak
        > percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah untuk
        > meredam hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi
        > yang pun dikuasai oleh kroni dan banyak lagi
        > kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti. Rezim
        > telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban
        > kita (saya dan anda) untuk memperbaikinya.
        >
        > Kenapa kita tidak mau bersatu dalam tanggungjawab
        > dan beban tersebut, kenapa justru mau bikin negara
        > sendiri dan untuk mencapainya menyebarkan teror,
        > provokasi, bom, bunuh saudara sendiri dlsb. Sebab
        > dan akibat bagai lingkaran setan yang terus saling
        > menyalahkan, dendam terpelihara terus.
        >
        > Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu disini,
        > wahai pimpinan elit yang bermukim di Norway.
        > Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk
        > membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat
        > yang tidak bersalah yang tetap merasa sebagai bangsa
        > Indonesia dan bukan 'Jawa'.
        >
        >
        >
        >
        >
        > ----- Original Message -----
        > From: Sumatra Ku
        > To: ppdi@egroups.com ; iqrak@egroups.com
        > Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
        > Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA
        > ???
        >
        >
        >
        >
        >
        ------------------------------------------------------------------------------
        >
        >
        > SALINAN DARI BUKU " MALA PETAKA DI BUMI SUMATRA"
        > OLEH : LUTH ARI LINGE.
        >
        >
        >
        >
        >
        ------------------------------------------------------------------------------
        >
        > KEKAYAAN SUMATRA DAN
        > AMAN MENURUT PENJAJAH
        >
        > SAMBUNGAN KE-3
        >
        > Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda
        > bangsa-bangsa Sumatra saat ini adalah terjadinya
        > suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu
        > keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari
        > kemiskinan adalah datangnya dari Tuhan. Seluruh
        > aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu
        > kemiskinan telah meliliti leher kita, si Suharto
        > masih berkata: "Kencankan ikat pinggan kita." Dengan
        > begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara
        > ini memang ditentukan oleh Allah. Dari segi
        > keyakinan, kita tidak munafikan apalagi menolak
        > kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan
        > firman Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu
        > binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah
        > yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat Hud,
        > ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah
        > ditafsirkan secara sempit. Menurut penjajah
        > Indonesia-Jawa,
        > apabila terjadi kemiskinan yang melanda manusia,
        > khususnya bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah yang
        > harus bertanggung-jawab karena Allah telah menjamin
        > rezeki hambanya.
        >
        > Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering
        > menulis persoalan ini dalam majalah politik seperti
        > " Tempo " dan surat-surat kabar untuk meyakinkan
        > bangsa terjajah ( bangsa-bangsa Sumatra ) dengan
        > menafsirkan Al-Qur`an menurut kemauan dan
        > kepentingan politiknya, mereka menjual ayat Allah
        > dengan harga yang murah.
        >
        > Tujuannya supaya bangsa-bangsa Sumatra dan
        > bangsa-bangsa lain yang dijajahnya bersedia tunduk
        > menghambakan diri dihadapan penjajah Indonesia-Jawa
        > dengan dalih kestabilan serta untuk mencapai
        > keharmonisan dan ketenangan hidup yang abadi. pada
        > hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda: "Kemiskinan
        > itu dapat mendekatkan seseorang kepada kekufuran
        > atau kekafiran." Persoalan kemiskinan adalah
        > semata-mata persoalan manusia dalam mengatur
        > hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6
        > tadi sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita
        > tidak sesempit seperti yang di gambarkan oleh
        > penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas
        > mengajarkan seperti firman-Nya: "Allah tidak akan
        > merubah nasib sesuatu kaum, selamma kaum itu sendiri
        > tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad,
        > ayat 11 ). Disinilah dinamika hidup, sehingga
        > manusia mempunyai ruang gerak untuk merubah
        > nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib
        > suatu bangsa.
        >
        > Sesudah kita melaksanakan amalan ini
        > menurut kemauan penjajah Indonesia-Jawa, maka tahap
        > berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli (pen:
        > bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya
        > sendiri, dimana mereka nampak lesu kurang gairah.
        > Inilah sebabnya, suatu penyelidikan tentang dunia
        > penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa
        > bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah
        > bagai mana cara mengarahkan kemarahannya, mengubah
        > dan meyanlurkannya kearah yang tepat. Gerakan
        > tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti
        > dan terbina ( ini dapat disaksikan di Afrika Hitam
        > ). Dalam negara jajahan, kaum petani adalah golongan
        > Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam
        > bukunya "The Wretched of the Earth".
        >
        > Lihat saja dalam peristiwa Talang
        > Sari,Lampung Selatan. Ketika rakyat bangkit
        > menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat
        > yang dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan
        > tidak mau mengikuti ajaran sesat ( Pancasila, agama
        > Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia
        > ( ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan
        > kekerasan, membakar ratusan rumah penduduk dan
        > menembak mati siapa saja yang melawan Pemerintah.
        > Lebih 1.500 orang dibantai dengan biadab oleh
        > serdadu Indonesia-Jawa.
        >
        > Begitu juga dalam peristiwa yang terjadi
        > baru-baru ini di Medan, Sumatra Utara. Dimana pihak
        > Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) tidak
        > mau kalau pihak Pemerintah mencampuri urusan dalam
        > Gereja. Penjajah Indonesia-Jawa ini melalui Badan
        > Koordinasi Stabilitas Keamanan Daerah (Bakorstasda)
        > tetap dengan pendiriannya-ingin mengatur kebijak
        > sananan Gereja-dan sedadu penjajah ini tidak
        > segan-segan menasehati para Pendeta dengan
        > menangkap, menahan, menyiksa, menganiaya dan
        > menghukum dengan hukuman penjara.
        >
        > Apabila Jema`at Gereja bangkit menentang
        > dan melawan pihak ABRI mengarahkan laras senjatanya
        > kearah Jema`at tersebut-rakyat diperintahkan "
        > tenang ", surat kabar diacam dengan mencabut surat
        > izin terbitnya apabila memberitakan dan
        > wartawan-wartawan diancam akan dibunuh apabila
        > meyiarkan dan membesar-besarkan peristiwa ini.
        > Sementara itu rakyat terus dipaksa mengikuti
        > Penataran P-4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
        > Pancasila ), dengan mendoktrin supaya rakyat
        > mengutamakan stabilitas nasional dan menampakkan
        > kepentingan nasional di atas kepentingan golongan
        > dan kepentingan pribadi. Kepentingan nasional di
        > sini adalah kepentingan bangsa jawa.
        >
        > Jadi, nyatalah bahwa penjajah Indonesia-Jawa
        > secara terang-terangan menjerumuskan bangsa-bangsa
        > Sumatra ke dalam jurang-dan mengarahkan kemarahan
        > kita, meredam perasaan dendam kita dengan cara-cara
        > biadab.
        >
        > Dalam kemiskinan yang kita rasakan,
        > keresahan hidup tanpa ujung dan kelabunya masa depan
        > generasi muda, mereka menasehati orang-orang di
        > kampung dan di kota seluruh Sumatra dengan peluru
        > yang ada di tangan mereka, supaya menerima dengan
        > pasrah keadaan ini.
        >
        > Sementara dibelakang layar, penjajah ini
        > membuat satu mafia, dengan membentuk kalangan
        > "bourgeoisie" dan pengusaha kelas menengah, antara
        > penjajah
        === message truncated ===


        =====
        Puteh Sarong
        Conventry
        CV4 7AL
        United Kingdom
        Fax: +44/0 24 765242250
        http://www.geocities.com/universityofwarwick/index.html
        "BEBASKAN NEGERI DAN RAKYAT ACEH DARI KEBIADABAN DAN KEZALIMAN GEROMBOLAN PENJAJAH BIADAB INDONESIA."

        ____________________________________________________________
        Do You Yahoo!?
        Get your free @... address at http://mail.yahoo.co.uk
        or your free @... address at http://mail.yahoo.ie
      • Moh Zaini
        MR . TIMBUNAN. KALAU KAU ORANG BATAK TIDAK MAU BERPISAH DENGAN SAUDARA MU MONYET JAWA ITU HAK KAU. JUGA ADA HAK ORANG LAIN UNTUK MENENTUKAN APA KEMAUAN NYA
        Message 3 of 8 , Jan 1, 2001
          MR  . TIMBUNAN.
           KALAU KAU ORANG BATAK TIDAK MAU BERPISAH DENGAN SAUDARA MU MONYET JAWA ITU HAK KAU.
          JUGA ADA HAK ORANG LAIN UNTUK MENENTUKAN APA KEMAUAN NYA .JANGAN SUKA JADI JAGOAN HANYA DI TERMINAL.
          SEMUA ORANG TAU NOMOR SATU PENJILAT DARI SUMATRA ITU ADALAH ORANG BATAK.
          CUMA SAYANG SUADARA MU JAWA ITU HANYA SEBAGAI PENINDAS DAN PERAMPOK MEMANG BUKAN SEMUANYA TAPI SEMBILAN PULUH PERSEN PENGUASA JAKARTA TIDAK LEBIH SEPERTI MAFIA YANG MENGISAP DARAH MANUSIA DARI SABANG HINGGA MAROKE.
          ITU PENDAPAT RAKYAT KALAU MENURUT KAU INI SALAH KAU JUGA BUTA TULI
          SAMA DENGAN GUSDUR.
           
          BONG TEBING.
          ----- Original Message -----
          Sent: Saturday, December 30, 2000 4:16 PM
          Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???

          Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat, bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka, sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang hingga terakhir ini ditunjukkan bahwa orang Aceh dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang sekaligus panglimanya.

          Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya adalah orang Indonesia yang asal Sumatra dan ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan Jawa, Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun. Saya tidak menjadi CUPET/KERDIL dengan menganggap orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak, Makasar dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir dibandingkan agama saya. Bagi saya biarlah kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi milik saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada Tuhan.

          Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32 tahun itu (saya tidak termasuk di dalamnya !) kita telah mengalami masa yang menghancurkan moral bangsa dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah bagi kepentingan kekuasaan sehingga kita tidak percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah untuk meredam  hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi yang pun dikuasai oleh kroni dan banyak lagi kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti. Rezim telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban kita (saya dan anda) untuk memperbaikinya.

          Kenapa kita tidak mau bersatu dalam tanggungjawab dan beban tersebut, kenapa justru mau bikin negara sendiri dan untuk mencapainya menyebarkan teror, provokasi, bom, bunuh saudara sendiri dlsb. Sebab dan akibat bagai lingkaran setan yang terus saling menyalahkan, dendam terpelihara terus.

          Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu disini, wahai pimpinan elit yang bermukim di Norway. Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat yang tidak bersalah yang tetap merasa sebagai bangsa Indonesia dan bukan 'Jawa'.

           

              

          ----- Original Message -----
          Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
          Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???



           
          SALINAN DARI BUKU  " MALA PETAKA DI BUMI SUMATRA"
          OLEH : LUTH ARI LINGE.                                                    


          KEKAYAAN SUMATRA DAN
          AMAN MENURUT PENJAJAH
           
          SAMBUNGAN KE-3
           
          Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda bangsa-bangsa Sumatra saat ini adalah terjadinya suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari kemiskinan adalah datangnya dari Tuhan. Seluruh aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu kemiskinan telah meliliti leher kita, si Suharto masih berkata: "Kencankan ikat pinggan kita." Dengan begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara ini memang ditentukan oleh Allah. Dari segi keyakinan, kita tidak munafikan apalagi menolak kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan firman Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat  Hud, ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah ditafsirkan secara sempit. Menurut penjajah Indonesia-Jawa, 
          apabila terjadi kemiskinan yang melanda manusia, khususnya bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah yang harus bertanggung-jawab karena Allah telah menjamin rezeki hambanya.
           
                 Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering menulis persoalan ini dalam majalah politik seperti " Tempo " dan surat-surat kabar untuk meyakinkan bangsa terjajah ( bangsa-bangsa  Sumatra ) dengan menafsirkan Al-Qur`an menurut kemauan dan kepentingan politiknya, mereka menjual ayat Allah dengan harga yang murah.
           
                 Tujuannya  supaya bangsa-bangsa Sumatra dan bangsa-bangsa lain yang dijajahnya bersedia tunduk menghambakan diri dihadapan penjajah Indonesia-Jawa dengan dalih kestabilan serta untuk mencapai keharmonisan dan ketenangan hidup yang abadi. pada hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda: "Kemiskinan itu dapat mendekatkan seseorang kepada kekufuran atau kekafiran." Persoalan kemiskinan adalah semata-mata persoalan manusia dalam mengatur hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6 tadi sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita tidak sesempit seperti yang di gambarkan oleh penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas mengajarkan seperti firman-Nya: "Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, selamma kaum itu sendiri tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad, ayat 11 ). Disinilah dinamika hidup, sehingga manusia mempunyai ruang gerak untuk merubah nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib suatu bangsa.
           
                 Sesudah kita melaksanakan amalan ini menurut kemauan penjajah Indonesia-Jawa, maka tahap berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli (pen: bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya sendiri, dimana mereka nampak lesu kurang gairah. Inilah sebabnya, suatu penyelidikan tentang dunia penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah bagai mana cara mengarahkan kemarahannya, mengubah dan meyanlurkannya kearah yang tepat. Gerakan tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti dan terbina ( ini dapat disaksikan di Afrika Hitam ). Dalam negara jajahan, kaum petani adalah golongan Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam bukunya "The Wretched of the Earth".
           
               Lihat saja dalam peristiwa Talang Sari,Lampung Selatan. Ketika rakyat bangkit menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat yang dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan tidak mau mengikuti ajaran sesat ( Pancasila, agama Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia ( ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan kekerasan, membakar ratusan rumah penduduk dan menembak mati siapa saja yang melawan Pemerintah. Lebih 1.500 orang  dibantai dengan biadab oleh serdadu Indonesia-Jawa.
           
                  Begitu juga dalam peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Medan, Sumatra Utara. Dimana pihak Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) tidak mau kalau pihak Pemerintah mencampuri urusan dalam Gereja. Penjajah Indonesia-Jawa ini melalui Badan Koordinasi Stabilitas Keamanan Daerah (Bakorstasda) tetap dengan pendiriannya-ingin mengatur kebijak sananan Gereja-dan sedadu penjajah ini tidak segan-segan menasehati para Pendeta dengan menangkap, menahan, menyiksa, menganiaya dan menghukum dengan hukuman penjara.
           
                 Apabila Jema`at Gereja bangkit menentang dan melawan pihak ABRI mengarahkan laras senjatanya kearah Jema`at tersebut-rakyat diperintahkan " tenang ", surat kabar diacam dengan mencabut surat izin terbitnya apabila memberitakan dan wartawan-wartawan diancam akan dibunuh apabila meyiarkan dan membesar-besarkan peristiwa ini. Sementara itu rakyat terus dipaksa mengikuti Penataran P-4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ), dengan mendoktrin supaya rakyat mengutamakan stabilitas nasional dan menampakkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan dan kepentingan pribadi. Kepentingan nasional di sini adalah kepentingan bangsa jawa.
           
                Jadi, nyatalah bahwa penjajah Indonesia-Jawa secara terang-terangan menjerumuskan bangsa-bangsa Sumatra ke dalam jurang-dan mengarahkan kemarahan kita, meredam perasaan dendam kita dengan cara-cara biadab. 
           
                Dalam kemiskinan yang kita rasakan, keresahan hidup tanpa ujung dan kelabunya masa depan generasi muda, mereka menasehati orang-orang di kampung dan di kota seluruh Sumatra dengan peluru yang ada di tangan mereka, supaya menerima dengan pasrah keadaan ini.
           
                 Sementara dibelakang layar, penjajah ini membuat satu mafia, dengan membentuk kalangan "bourgeoisie" dan pengusaha kelas menengah, antara penjajah dan pemilik modal ini mempunyai tujuan masing-masing. Akan tetapi bagi kita keduanya sama bejat dan zalimnya. Ada dua cara dan dua tujuan yang berbeda sekali sewaktu mereka memainkan tipu muslihat masing-masing mempercayai bahwa cara dan tujuan mereka akan tercapai. Pertama, penjajah Indonesia-Jawa memberikan peluang kepada kalangan pemilik modal untuk meminjam uang dari Bank-bank Pemerintah, dan diberikan izin untuk membuka usaha apa saja yang mendatangkan keuntunganKeduapenanaman modal ini meyuap para jenderal dan orang-orang tertentu demi memperoleh pinjaman dan " tender ". Kedua-duanya adalah a-moral dan bejat.
           
                 Tujuan yang diharapkan pemilik modal (pengusaha) dan pendukung keuangan yang lain kepada pihak penjajah adalah, bukannya supaya menghapuskan penjajahan regime Suharto keatas bangsa-bangsa Sumatra, melainkan harus memelihara perjanjian antara mereka dan meyelamatkan kepentingan masing-masing.    (Bersambung)

                                                           RENUNGAN !
          "Kerajaan-kerajaan besar mati karena sakit perut : tidak dapat mencernakan apa yang sudah dimakannya, " kata Napoleon. Begitulah nasib kerajaan Rome. Begitulah nasib Hindia Belanda. Dan begitulah nasib´ Indonesia-Jawa` walaupun masih berdiri sebentar lagi atas belas-kasihan Negara-negara tetangganya, besar-kecil ´Indonesia-Jawa` yang menggambarkan dalam surat-surat kabar Inperialis Barat sebagai ´negara teladan`sebenarnya adalah ORANG SAKIT DARI ASIA TENGGARA !                  

          DIEDIT KEMBALI OLEH:
          BIRO PENERANGAN  ASNLF DI NORWAY.





          Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.



          --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
          Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

          untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com



          --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
          Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

          untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com

        • Mr. Toto Tambunan
          Pak Zaini, Itulah yang saya maksud bahwa saya tidak mau menjadi CUPET/KERDIL, merasa benar dan besar sendiri tanpa mempedulikan keberadaan orang lain. Kita
          Message 4 of 8 , Jan 2, 2001
            Pak Zaini,
            Itulah yang saya maksud bahwa saya tidak mau menjadi CUPET/KERDIL, merasa benar dan besar sendiri tanpa mempedulikan keberadaan orang lain. Kita semua mahlukNya. Kita sangat kecil ..... maka kitapun harus bersikap kecil dihadapan siapapun supaya kita tampak besar dihadapan Allah.
            Tak perlu karena pendapat kita berbeda kemudian Anda robah nama saya, anda katakan orang Batak penjilatlah, jagoan terminallah entah apalagi. Lupa rupanya Anda pada kesopanan karena kita beda. Saya belum tentu benar begitu juga anda!
            ----- Original Message -----
            From: Moh Zaini
            Sent: Monday, January 01, 2001 11:10 PM
            Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???

            MR  . TIMBUNAN.
             KALAU KAU ORANG BATAK TIDAK MAU BERPISAH DENGAN SAUDARA MU MONYET JAWA ITU HAK KAU.
            JUGA ADA HAK ORANG LAIN UNTUK MENENTUKAN APA KEMAUAN NYA .JANGAN SUKA JADI JAGOAN HANYA DI TERMINAL.
            SEMUA ORANG TAU NOMOR SATU PENJILAT DARI SUMATRA ITU ADALAH ORANG BATAK.
            CUMA SAYANG SUADARA MU JAWA ITU HANYA SEBAGAI PENINDAS DAN PERAMPOK MEMANG BUKAN SEMUANYA TAPI SEMBILAN PULUH PERSEN PENGUASA JAKARTA TIDAK LEBIH SEPERTI MAFIA YANG MENGISAP DARAH MANUSIA DARI SABANG HINGGA MAROKE.
            ITU PENDAPAT RAKYAT KALAU MENURUT KAU INI SALAH KAU JUGA BUTA TULI
            SAMA DENGAN GUSDUR.
             
            BONG TEBING.
            ----- Original Message -----
            Sent: Saturday, December 30, 2000 4:16 PM
            Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???

            Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat, bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka, sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang hingga terakhir ini ditunjukkan bahwa orang Aceh dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang sekaligus panglimanya.

            Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya adalah orang Indonesia yang asal Sumatra dan ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan Jawa, Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun. Saya tidak menjadi CUPET/KERDIL dengan menganggap orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak, Makasar dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir dibandingkan agama saya. Bagi saya biarlah kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi milik saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada Tuhan.

            Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32 tahun itu (saya tidak termasuk di dalamnya !) kita telah mengalami masa yang menghancurkan moral bangsa dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah bagi kepentingan kekuasaan sehingga kita tidak percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah untuk meredam  hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi yang pun dikuasai oleh kroni dan banyak lagi kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti. Rezim telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban kita (saya dan anda) untuk memperbaikinya.

            Kenapa kita tidak mau bersatu dalam tanggungjawab dan beban tersebut, kenapa justru mau bikin negara sendiri dan untuk mencapainya menyebarkan teror, provokasi, bom, bunuh saudara sendiri dlsb. Sebab dan akibat bagai lingkaran setan yang terus saling menyalahkan, dendam terpelihara terus.

            Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu disini, wahai pimpinan elit yang bermukim di Norway. Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat yang tidak bersalah yang tetap merasa sebagai bangsa Indonesia dan bukan 'Jawa'.

             

                

            ----- Original Message -----
            Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
            Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???



             
            SALINAN DARI BUKU  " MALA PETAKA DI BUMI SUMATRA"
            OLEH : LUTH ARI LINGE.                                                    


            KEKAYAAN SUMATRA DAN
            AMAN MENURUT PENJAJAH
             
            SAMBUNGAN KE-3
             
            Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda bangsa-bangsa Sumatra saat ini adalah terjadinya suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari kemiskinan adalah datangnya dari Tuhan. Seluruh aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu kemiskinan telah meliliti leher kita, si Suharto masih berkata: "Kencankan ikat pinggan kita." Dengan begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara ini memang ditentukan oleh Allah. Dari segi keyakinan, kita tidak munafikan apalagi menolak kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan firman Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat  Hud, ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah ditafsirkan secara sempit. Menurut penjajah Indonesia-Jawa, 
            apabila terjadi kemiskinan yang melanda manusia, khususnya bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah yang harus bertanggung-jawab karena Allah telah menjamin rezeki hambanya.
             
                   Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering menulis persoalan ini dalam majalah politik seperti " Tempo " dan surat-surat kabar untuk meyakinkan bangsa terjajah ( bangsa-bangsa  Sumatra ) dengan menafsirkan Al-Qur`an menurut kemauan dan kepentingan politiknya, mereka menjual ayat Allah dengan harga yang murah.
             
                   Tujuannya  supaya bangsa-bangsa Sumatra dan bangsa-bangsa lain yang dijajahnya bersedia tunduk menghambakan diri dihadapan penjajah Indonesia-Jawa dengan dalih kestabilan serta untuk mencapai keharmonisan dan ketenangan hidup yang abadi. pada hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda: "Kemiskinan itu dapat mendekatkan seseorang kepada kekufuran atau kekafiran." Persoalan kemiskinan adalah semata-mata persoalan manusia dalam mengatur hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6 tadi sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita tidak sesempit seperti yang di gambarkan oleh penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas mengajarkan seperti firman-Nya: "Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, selamma kaum itu sendiri tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad, ayat 11 ). Disinilah dinamika hidup, sehingga manusia mempunyai ruang gerak untuk merubah nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib suatu bangsa.
             
                   Sesudah kita melaksanakan amalan ini menurut kemauan penjajah Indonesia-Jawa, maka tahap berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli (pen: bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya sendiri, dimana mereka nampak lesu kurang gairah. Inilah sebabnya, suatu penyelidikan tentang dunia penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah bagai mana cara mengarahkan kemarahannya, mengubah dan meyanlurkannya kearah yang tepat. Gerakan tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti dan terbina ( ini dapat disaksikan di Afrika Hitam ). Dalam negara jajahan, kaum petani adalah golongan Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam bukunya "The Wretched of the Earth".
             
                 Lihat saja dalam peristiwa Talang Sari,Lampung Selatan. Ketika rakyat bangkit menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat yang dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan tidak mau mengikuti ajaran sesat ( Pancasila, agama Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia ( ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan kekerasan, membakar ratusan rumah penduduk dan menembak mati siapa saja yang melawan Pemerintah. Lebih 1.500 orang  dibantai dengan biadab oleh serdadu Indonesia-Jawa.
             
                    Begitu juga dalam peristiwa yang terjadi baru-baru ini di Medan, Sumatra Utara. Dimana pihak Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) tidak mau kalau pihak Pemerintah mencampuri urusan dalam Gereja. Penjajah Indonesia-Jawa ini melalui Badan Koordinasi Stabilitas Keamanan Daerah (Bakorstasda) tetap dengan pendiriannya-ingin mengatur kebijak sananan Gereja-dan sedadu penjajah ini tidak segan-segan menasehati para Pendeta dengan menangkap, menahan, menyiksa, menganiaya dan menghukum dengan hukuman penjara.
             
                   Apabila Jema`at Gereja bangkit menentang dan melawan pihak ABRI mengarahkan laras senjatanya kearah Jema`at tersebut-rakyat diperintahkan " tenang ", surat kabar diacam dengan mencabut surat izin terbitnya apabila memberitakan dan wartawan-wartawan diancam akan dibunuh apabila meyiarkan dan membesar-besarkan peristiwa ini. Sementara itu rakyat terus dipaksa mengikuti Penataran P-4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ), dengan mendoktrin supaya rakyat mengutamakan stabilitas nasional dan menampakkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan dan kepentingan pribadi. Kepentingan nasional di sini adalah kepentingan bangsa jawa.
             
                  Jadi, nyatalah bahwa penjajah Indonesia-Jawa secara terang-terangan menjerumuskan bangsa-bangsa Sumatra ke dalam jurang-dan mengarahkan kemarahan kita, meredam perasaan dendam kita dengan cara-cara biadab. 
             
                  Dalam kemiskinan yang kita rasakan, keresahan hidup tanpa ujung dan kelabunya masa depan generasi muda, mereka menasehati orang-orang di kampung dan di kota seluruh Sumatra dengan peluru yang ada di tangan mereka, supaya menerima dengan pasrah keadaan ini.
             
                   Sementara dibelakang layar, penjajah ini membuat satu mafia, dengan membentuk kalangan "bourgeoisie" dan pengusaha kelas menengah, antara penjajah dan pemilik modal ini mempunyai tujuan masing-masing. Akan tetapi bagi kita keduanya sama bejat dan zalimnya. Ada dua cara dan dua tujuan yang berbeda sekali sewaktu mereka memainkan tipu muslihat masing-masing mempercayai bahwa cara dan tujuan mereka akan tercapai. Pertama, penjajah Indonesia-Jawa memberikan peluang kepada kalangan pemilik modal untuk meminjam uang dari Bank-bank Pemerintah, dan diberikan izin untuk membuka usaha apa saja yang mendatangkan keuntunganKeduapenanaman modal ini meyuap para jenderal dan orang-orang tertentu demi memperoleh pinjaman dan " tender ". Kedua-duanya adalah a-moral dan bejat.
             
                   Tujuan yang diharapkan pemilik modal (pengusaha) dan pendukung keuangan yang lain kepada pihak penjajah adalah, bukannya supaya menghapuskan penjajahan regime Suharto keatas bangsa-bangsa Sumatra, melainkan harus memelihara perjanjian antara mereka dan meyelamatkan kepentingan masing-masing.    (Bersambung)

                                                             RENUNGAN !
            "Kerajaan-kerajaan besar mati karena sakit perut : tidak dapat mencernakan apa yang sudah dimakannya, " kata Napoleon. Begitulah nasib kerajaan Rome. Begitulah nasib Hindia Belanda. Dan begitulah nasib´ Indonesia-Jawa` walaupun masih berdiri sebentar lagi atas belas-kasihan Negara-negara tetangganya, besar-kecil ´Indonesia-Jawa` yang menggambarkan dalam surat-surat kabar Inperialis Barat sebagai ´negara teladan`sebenarnya adalah ORANG SAKIT DARI ASIA TENGGARA !                  

            DIEDIT KEMBALI OLEH:
            BIRO PENERANGAN  ASNLF DI NORWAY.





            Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.



            --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
            Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

            untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com



            --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
            Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

            untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com



            PPDI(Persatuan Pembebasan Dari Indonesia)
            --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
            Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

            untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com

          • Teungku AweGeutah
            BANG ZAINI, BERI SEDIKIT MASA BAGI YANG BUTA UNTUK MENGOBATI MATA DAN HATINYA. ATAU MUNGKIN IA AKAN TERUS BERSATU DENGAN MONYET-MONYET JAWA. ... Pak Zaini, ...
            Message 5 of 8 , Jan 4, 2001
              BANG ZAINI, BERI SEDIKIT MASA BAGI YANG BUTA UNTUK
              MENGOBATI MATA DAN HATINYA. ATAU MUNGKIN IA AKAN TERUS
              BERSATU DENGAN MONYET-MONYET JAWA.

              --- "Mr. Toto Tambunan" <herman@...> wrote: >
              Pak Zaini,
              > Itulah yang saya maksud bahwa saya tidak mau menjadi
              > CUPET/KERDIL, merasa benar dan besar sendiri tanpa
              > mempedulikan keberadaan orang lain. Kita semua
              > mahlukNya. Kita sangat kecil ..... maka kitapun
              > harus bersikap kecil dihadapan siapapun supaya kita
              > tampak besar dihadapan Allah.
              > Tak perlu karena pendapat kita berbeda kemudian Anda
              > robah nama saya, anda katakan orang Batak
              > penjilatlah, jagoan terminallah entah apalagi. Lupa
              > rupanya Anda pada kesopanan karena kita beda. Saya
              > belum tentu benar begitu juga anda!
              > ----- Original Message -----
              > From: Moh Zaini
              > To: PPDI@egroups.com
              > Sent: Monday, January 01, 2001 11:10 PM
              > Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI
              > SUMATRA ???
              >
              >
              > MR . TIMBUNAN.
              > KALAU KAU ORANG BATAK TIDAK MAU BERPISAH DENGAN
              > SAUDARA MU MONYET JAWA ITU HAK KAU.
              > JUGA ADA HAK ORANG LAIN UNTUK MENENTUKAN APA
              > KEMAUAN NYA .JANGAN SUKA JADI JAGOAN HANYA DI
              > TERMINAL.
              > SEMUA ORANG TAU NOMOR SATU PENJILAT DARI SUMATRA
              > ITU ADALAH ORANG BATAK.
              > CUMA SAYANG SUADARA MU JAWA ITU HANYA SEBAGAI
              > PENINDAS DAN PERAMPOK MEMANG BUKAN SEMUANYA TAPI
              > SEMBILAN PULUH PERSEN PENGUASA JAKARTA TIDAK LEBIH
              > SEPERTI MAFIA YANG MENGISAP DARAH MANUSIA DARI
              > SABANG HINGGA MAROKE.
              > ITU PENDAPAT RAKYAT KALAU MENURUT KAU INI SALAH
              > KAU JUGA BUTA TULI
              > SAMA DENGAN GUSDUR.
              >
              > BONG TEBING.
              > ----- Original Message -----
              > From: Mr. Toto Tambunan
              > To: PPDI@egroups.com ; iqrak@egroups.com
              > Sent: Saturday, December 30, 2000 4:16 PM
              > Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI
              > SUMATRA ???
              >
              >
              > Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat,
              > bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka,
              > sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya
              > dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang
              > hingga terakhir ini ditunjukkan bahwa orang Aceh
              > dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang sekaligus
              > panglimanya.
              > Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya
              > adalah orang Indonesia yang asal Sumatra dan
              > ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan
              > Jawa, Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan
              > saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya
              > itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam,
              > Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun.
              > Saya tidak menjadi CUPET/KERDIL dengan menganggap
              > orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak, Makasar
              > dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir
              > dibandingkan agama saya. Bagi saya biarlah
              > kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi milik
              > saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada
              > Tuhan.
              >
              > Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32
              > tahun itu (saya tidak termasuk di dalamnya !) kita
              > telah mengalami masa yang menghancurkan moral bangsa
              > dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah
              > bagi kepentingan kekuasaan sehingga kita tidak
              > percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah untuk
              > meredam hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi
              > yang pun dikuasai oleh kroni dan banyak lagi
              > kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti. Rezim
              > telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban
              > kita (saya dan anda) untuk memperbaikinya.
              >
              > Kenapa kita tidak mau bersatu dalam
              > tanggungjawab dan beban tersebut, kenapa justru mau
              > bikin negara sendiri dan untuk mencapainya
              > menyebarkan teror, provokasi, bom, bunuh saudara
              > sendiri dlsb. Sebab dan akibat bagai lingkaran setan
              > yang terus saling menyalahkan, dendam terpelihara
              > terus.
              >
              > Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu
              > disini, wahai pimpinan elit yang bermukim di Norway.
              > Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk
              > membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat
              > yang tidak bersalah yang tetap merasa sebagai bangsa
              > Indonesia dan bukan 'Jawa'.
              >
              >
              >
              >
              >
              > ----- Original Message -----
              > From: Sumatra Ku
              > To: ppdi@egroups.com ; iqrak@egroups.com
              > Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
              > Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI
              > SUMATRA ???
              >
              >
              >
              >
              >
              --------------------------------------------------------------------------
              >
              >
              > SALINAN DARI BUKU " MALA PETAKA DI BUMI
              > SUMATRA"
              > OLEH : LUTH ARI LINGE.
              >
              >
              >
              >
              >
              --------------------------------------------------------------------------
              >
              > KEKAYAAN SUMATRA DAN
              > AMAN MENURUT PENJAJAH
              >
              > SAMBUNGAN KE-3
              >
              > Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda
              > bangsa-bangsa Sumatra saat ini adalah terjadinya
              > suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu
              > keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari
              > kemiskinan adalah datangnya dari Tuhan. Seluruh
              > aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu
              > kemiskinan telah meliliti leher kita, si Suharto
              > masih berkata: "Kencankan ikat pinggan kita." Dengan
              > begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara
              > ini memang ditentukan oleh Allah. Dari segi
              > keyakinan, kita tidak munafikan apalagi menolak
              > kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan
              > firman Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu
              > binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah
              > yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat Hud,
              > ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah
              > ditafsirkan secara sempit. Menurut penjajah
              > Indonesia-Jawa,
              > apabila terjadi kemiskinan yang melanda
              > manusia, khususnya bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah
              > yang harus bertanggung-jawab karena Allah telah
              > menjamin rezeki hambanya.
              >
              > Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering
              > menulis persoalan ini dalam majalah politik seperti
              > " Tempo " dan surat-surat kabar untuk meyakinkan
              > bangsa terjajah ( bangsa-bangsa Sumatra ) dengan
              > menafsirkan Al-Qur`an menurut kemauan dan
              > kepentingan politiknya, mereka menjual ayat Allah
              > dengan harga yang murah.
              >
              > Tujuannya supaya bangsa-bangsa Sumatra
              > dan bangsa-bangsa lain yang dijajahnya bersedia
              > tunduk menghambakan diri dihadapan penjajah
              > Indonesia-Jawa dengan dalih kestabilan serta untuk
              > mencapai keharmonisan dan ketenangan hidup yang
              > abadi. pada hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
              > "Kemiskinan itu dapat mendekatkan seseorang kepada
              > kekufuran atau kekafiran." Persoalan kemiskinan
              > adalah semata-mata persoalan manusia dalam mengatur
              > hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6
              > tadi sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita
              > tidak sesempit seperti yang di gambarkan oleh
              > penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas
              > mengajarkan seperti firman-Nya: "Allah tidak akan
              > merubah nasib sesuatu kaum, selamma kaum itu sendiri
              > tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad,
              > ayat 11 ). Disinilah dinamika hidup, sehingga
              > manusia mempunyai ruang gerak untuk merubah
              > nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib
              > suatu bangsa.
              >
              > Sesudah kita melaksanakan amalan ini
              > menurut kemauan penjajah Indonesia-Jawa, maka tahap
              > berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli (pen:
              > bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya
              > sendiri, dimana mereka nampak lesu kurang gairah.
              > Inilah sebabnya, suatu penyelidikan tentang dunia
              > penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa
              > bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah
              > bagai mana cara mengarahkan kemarahannya, mengubah
              > dan meyanlurkannya kearah yang tepat. Gerakan
              > tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti
              > dan terbina ( ini dapat disaksikan di Afrika Hitam
              > ). Dalam negara jajahan, kaum petani adalah golongan
              > Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam
              > bukunya "The Wretched of the Earth".
              >
              > Lihat saja dalam peristiwa Talang
              > Sari,Lampung Selatan. Ketika rakyat bangkit
              > menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat
              > yang dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan
              > tidak mau mengikuti ajaran sesat ( Pancasila, agama
              > Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia
              > ( ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan
              > kekerasan,
              === message truncated ===


              ____________________________________________________________
              Do You Yahoo!?
              Get your free @... address at http://mail.yahoo.co.uk
              or your free @... address at http://mail.yahoo.ie
            • Abu Arafah
              SAYA MENGHARAPKAN SEMUA ORANG YANG INGIN MENGOMENTARI MASALAH KONFLIK ACEH, TERLEBIH DAHULU MENGENAL SEJARAH ACEH, KALAU TIDAK ANDA AKAN BERBICARA DILUAR
              Message 6 of 8 , Jan 5, 2001
                SAYA MENGHARAPKAN SEMUA ORANG YANG INGIN MENGOMENTARI MASALAH KONFLIK ACEH,
                TERLEBIH DAHULU MENGENAL SEJARAH ACEH, KALAU TIDAK ANDA AKAN BERBICARA
                DILUAR KONTEK SAMA SEKALI DAN MWMBUAT ORANG ACEH TAMBAH MARAH.

                ACEH ADALAH SEBUAH NEGARA YANG TELAH BERDIRI SEJAK ABAD KE 15 DAN SEJAK
                TAHUN 1873 BERPERANG DENGAN BELANDA, KARENA ACEH TIDAK PERNAH DIJAJAH OLEH
                BELANDA DAN ACEH SETUJU SAAT TAHUN 1945 SEBAGAI BAHAGIAN DARI INDONESIA,
                MAKA PBB MENYETUJUI LAHIRNYA INDONESIA, SEANDAI SAAT ITU ORANG ACEH
                MENYATAKAN DIRINYA BUKAN BAHAGIAN DARI INDONESIA, MAKA TIDAK PERNAH WUJUD
                INDONESIA, YANG ADA ADALAH NEGARA JAJAHAN BELANDA.

                BENCINYA ORANG INDONESIA TERHADAP PENJAJAHAN BELANDA BUKAN MAIN, HAL ITU
                TERCERMIN SAMPAI SAAT INI, BAIK DARI SIKAP ATAU PERBUATAN. DAN HAL INI PULAH
                YANG TERJADI BAGI ORANG ACEH HARI INI, INDONESIA TELAH MENJAJAH BANGSA ACEH,
                KARENA SEMUA PERJANJIAN SAAT ITU TIDAK PERNAH DITEPATI, DAN PENJAJAHAN INI
                TIDAK AKAN HILANG DALAM OTAK ORANG ACEH HINGGA SERATUS TAHUN LAGI, SAMA
                SEPERTI YANG DIRASAKAN OLEH ORANG INDONESIA SAAT INI TERHADAP BELANDA.

                PENGAKUAN ORANG ACEH SE BAGAI BAGIAN INDONESIA SAAT ITU, KARENA ORANG ACEH
                SUDAH LELAH BERPERANG DENGAN BELANDA (HAMPIR SERTATUS TAHUN)DENGAN HARAPAN
                MASA AKAN DATANG LEBIH BAIK, NAMUN APA YANG TERJADI PENJAJAHAN BERIKUTNYA
                LEBIH SADIS DAN TANPA MORAL SAMA SEKALI, BELANDA YANG KAFIR SAAT ITU JAUH
                LEBIH BAIK DARI INDONESIA YANG KONON MUSLIM DEWASA INI.

                SUDAH WATAK MANUSIA, SEBAGAI PENJAJAH ANDA TIDAK MERASA BAHWA ANDA SEDANG
                MENJAJAH, NAMUN KALAU ANDA PERHATIKAN KRETIA PENJAJAH, MAKA ANDA AKAN
                MENGERTI, DIMANA ANDA DATANG KE SEBUAH KELOMPOK ATAU GOLONGAN, ANDA TERAPKAN
                HUKUM ANDA DISITU, ANDA AMBIL HARTANYA DAN ANDA BUNUH ORANG YANG MELAWAN
                KEKUASAAN ANDA, ITULAH NAMANYA PENJAJAH.

                BISAKAH SIFAT PENJAJAH PADA ORANG INDONESIA YANG MAYORITAS JAWA DIHILANGKAN
                ??? JAWABNYA TIDAK ! BUKTINYA SAMPAI HARI INI DI JAWA MASIH ADA PERBUDAKAN,
                SELAMA ,MASIH MENGANUT PERBUDAKAN, MAKA SIFAT MENJAJAH TIDAK PERNAH HILANG,
                RAKYAT SENDIRI DI JAWA DIJAJAH ! APA LAGI ORANG LAIN
                CONTOHNYA ; HAMPIR SETIAP RUMAH DI PULAU JAWA MEMILIKI PEMBANTU RUMAH
                TANGGA, MEREKA DIGAJI KECIL DAN HARUS BEKERJA 24 JAM, MEREKA HARUS MAKAN
                SISA MAKANAN MAJIKAN, DAN MEREKA DIKENAL DENGAN ORANG BELAKANG SEBAGAI KELAS
                DUA. DAN HAL INI TIDAK PERNAH TERJADI DI NEGARA SUDAH BERBUDAYA DAN
                BERMORAL, TERMASUK DI ACEH. DI ACEH BILA TERPAKSA MENGGUNAKAN TENAGA ORANG
                LAIN DIRUMAH, MAKA DIA AKAN DIANGGAP SEBAGAI SAUDARA, DAN BERHAK MAKAN
                SEMEJA DENGAN PEMILIK RUMAH DAN TIDAK MENGENAL PERBEDAAN, SEORANG SUPIR AKAN
                DUDUK SEMEJA DENGAN KITA PADA SAAT MAKAN DIPERJALANAN, MALAH SUPIR HARUS
                MAKAN LEBIH BANYAK KARENA DIA KERJA LEBIH BERAT DAN UNTUK MENJAGA
                KESELAMATAN PENUMPANGNYA.

                MAKANYA KALAU ADA PEJABAT JAWA KE ACEH, MEREKA MERASA HERAN, KARENA ORANG
                ACEH SUSAH DIATUR, TIDAK BERADAB DAN LAIN SEBAGAINYA, PADAHAL MEREKA TIDAK
                SADAR BAHWA ORANG ACEH MEMPUNYAI STANDART BUDAYA NORMAL SEPERTI MANUSIA
                LAINNYA DI NEGARA MAJU DAN BERBUDAYA, TIDAK INGIN DIJAJAH DAN TIDAK INGIN
                PULA MENJAJAH ORANG LAIN.

                KESIMPULANNYA BAHWA BUDAYA DAN MENTAL YANG DIMILIKI ORANG JAWA TIDAK MUNGKIN
                DISATUKAN DENGAN BUDAYA DAN MENTAL ORANG ACEH, MELIHAT SEJARAH DARI TAHUN
                1945 SAMPAI SEKARANG SEHARUSNYA INDONESIA TIDAK PERLU MENAHAN LAGI ACEH,
                MEREKA HARUS MELEPASKAN ACEH, SEPERTI MALAYSIA MELEPASKAN SINGAPUR, NAMUN
                KARENA MEREKA TIDAK MEMILIKI BUDI DAN BUDAYA YANG BAIK
                DAN MEMILIKI MENTAL PENJAJAH, MAKA MEREKA TERUS MEMERANGI DAN MEMBUNUH ORANG
                ACEH, TAK ADAK DIALOG DAN BAHASAN YANG BISA KITA KEMUKAKAN, KECUALI
                BERPERANG WALAU SERIBU TAHUN LAGI ! MARI KITA LANJUTKAN PEPERANGAN INI, MATI
                HANYA SEKALI, HANYA WAKTU YANG DIBEDAKAN. "MARI HIDUP SECARA MULIA DAN MATI
                SEBAGAI SYUHADA", KARENA MEMPERTAHANKAN KEPEMILIKAN BAGIAN DARI SYAHID,
                TIDAK PEDULI SIAPA LAWANNYA.

                H. SHALAHUDDIN ALFATA


                >From: "Mr. Toto Tambunan" <herman@...>
                >Reply-To: PPDI@egroups.com
                >To: <PPDI@egroups.com>
                >Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???
                >Date: Wed, 3 Jan 2001 00:22:44 +0700
                >
                >Pak Zaini,
                >Itulah yang saya maksud bahwa saya tidak mau menjadi CUPET/KERDIL, merasa
                >benar dan besar sendiri tanpa mempedulikan keberadaan orang lain. Kita
                >semua mahlukNya. Kita sangat kecil ..... maka kitapun harus bersikap kecil
                >dihadapan siapapun supaya kita tampak besar dihadapan Allah.
                >Tak perlu karena pendapat kita berbeda kemudian Anda robah nama saya, anda
                >katakan orang Batak penjilatlah, jagoan terminallah entah apalagi. Lupa
                >rupanya Anda pada kesopanan karena kita beda. Saya belum tentu benar begitu
                >juga anda!
                > ----- Original Message -----
                > From: Moh Zaini
                > To: PPDI@egroups.com
                > Sent: Monday, January 01, 2001 11:10 PM
                > Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???
                >
                >
                > MR . TIMBUNAN.
                > KALAU KAU ORANG BATAK TIDAK MAU BERPISAH DENGAN SAUDARA MU MONYET JAWA
                >ITU HAK KAU.
                > JUGA ADA HAK ORANG LAIN UNTUK MENENTUKAN APA KEMAUAN NYA .JANGAN SUKA
                >JADI JAGOAN HANYA DI TERMINAL.
                > SEMUA ORANG TAU NOMOR SATU PENJILAT DARI SUMATRA ITU ADALAH ORANG BATAK.
                > CUMA SAYANG SUADARA MU JAWA ITU HANYA SEBAGAI PENINDAS DAN PERAMPOK
                >MEMANG BUKAN SEMUANYA TAPI SEMBILAN PULUH PERSEN PENGUASA JAKARTA TIDAK
                >LEBIH SEPERTI MAFIA YANG MENGISAP DARAH MANUSIA DARI SABANG HINGGA MAROKE.
                > ITU PENDAPAT RAKYAT KALAU MENURUT KAU INI SALAH KAU JUGA BUTA TULI
                > SAMA DENGAN GUSDUR.
                >
                > BONG TEBING.
                > ----- Original Message -----
                > From: Mr. Toto Tambunan
                > To: PPDI@egroups.com ; iqrak@egroups.com
                > Sent: Saturday, December 30, 2000 4:16 PM
                > Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???
                >
                >
                > Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat, bahwa orang Aceh ini
                >dari dulu sudah ingin merdeka, sudah ingin punya negara sendiri. Segala
                >upaya dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang hingga terakhir ini
                >ditunjukkan bahwa orang Aceh dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang
                >sekaligus panglimanya.
                > Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya adalah orang Indonesia
                >yang asal Sumatra dan ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan Jawa,
                >Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan saya tidak mau berpisah dengan
                >saudara-saudara saya itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam,
                >Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun. Saya tidak menjadi
                >CUPET/KERDIL dengan menganggap orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak,
                >Makasar dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir dibandingkan
                >agama saya. Bagi saya biarlah kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi
                >milik saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada Tuhan.
                >
                > Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32 tahun itu (saya tidak
                >termasuk di dalamnya !) kita telah mengalami masa yang menghancurkan moral
                >bangsa dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah bagi kepentingan
                >kekuasaan sehingga kita tidak percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah
                >untuk meredam hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi yang pun dikuasai
                >oleh kroni dan banyak lagi kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti.
                >Rezim telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban kita (saya dan
                >anda) untuk memperbaikinya.
                >
                > Kenapa kita tidak mau bersatu dalam tanggungjawab dan beban tersebut,
                >kenapa justru mau bikin negara sendiri dan untuk mencapainya menyebarkan
                >teror, provokasi, bom, bunuh saudara sendiri dlsb. Sebab dan akibat bagai
                >lingkaran setan yang terus saling menyalahkan, dendam terpelihara terus.
                >
                > Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu disini, wahai pimpinan elit
                >yang bermukim di Norway. Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk
                >membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat yang tidak bersalah yang
                >tetap merasa sebagai bangsa Indonesia dan bukan 'Jawa'.
                >
                >
                >
                >
                >
                > ----- Original Message -----
                > From: Sumatra Ku
                > To: ppdi@egroups.com ; iqrak@egroups.com
                > Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
                > Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI SUMATRA ???
                >
                >
                >
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                >
                >
                > SALINAN DARI BUKU " MALA PETAKA DI BUMI SUMATRA"
                > OLEH : LUTH ARI LINGE.
                >
                >
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                >
                > KEKAYAAN SUMATRA DAN
                > AMAN MENURUT PENJAJAH
                >
                > SAMBUNGAN KE-3
                >
                > Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda bangsa-bangsa Sumatra
                >saat ini adalah terjadinya suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu
                >keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari kemiskinan adalah datangnya
                >dari Tuhan. Seluruh aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu kemiskinan
                >telah meliliti leher kita, si Suharto masih berkata: "Kencankan ikat
                >pinggan kita." Dengan begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara ini
                >memang ditentukan oleh Allah. Dari segi keyakinan, kita tidak munafikan
                >apalagi menolak kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan firman
                >Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi
                >ini melainkan Allah yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat Hud,
                >ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah ditafsirkan secara
                >sempit. Menurut penjajah Indonesia-Jawa,
                > apabila terjadi kemiskinan yang melanda manusia, khususnya
                >bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah yang harus bertanggung-jawab karena Allah
                >telah menjamin rezeki hambanya.
                >
                > Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering menulis persoalan ini
                >dalam majalah politik seperti " Tempo " dan surat-surat kabar untuk
                >meyakinkan bangsa terjajah ( bangsa-bangsa Sumatra ) dengan menafsirkan
                >Al-Qur`an menurut kemauan dan kepentingan politiknya, mereka menjual ayat
                >Allah dengan harga yang murah.
                >
                > Tujuannya supaya bangsa-bangsa Sumatra dan bangsa-bangsa
                >lain yang dijajahnya bersedia tunduk menghambakan diri dihadapan penjajah
                >Indonesia-Jawa dengan dalih kestabilan serta untuk mencapai keharmonisan
                >dan ketenangan hidup yang abadi. pada hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
                >"Kemiskinan itu dapat mendekatkan seseorang kepada kekufuran atau
                >kekafiran." Persoalan kemiskinan adalah semata-mata persoalan manusia dalam
                >mengatur hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6 tadi
                >sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita tidak sesempit seperti yang
                >di gambarkan oleh penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas mengajarkan
                >seperti firman-Nya: "Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum, selamma
                >kaum itu sendiri tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad, ayat 11
                >). Disinilah dinamika hidup, sehingga manusia mempunyai ruang gerak untuk
                >merubah nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib suatu bangsa.
                >
                > Sesudah kita melaksanakan amalan ini menurut kemauan penjajah
                >Indonesia-Jawa, maka tahap berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli
                >(pen: bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya sendiri, dimana
                >mereka nampak lesu kurang gairah. Inilah sebabnya, suatu penyelidikan
                >tentang dunia penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa
                >bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah bagai mana cara
                >mengarahkan kemarahannya, mengubah dan meyanlurkannya kearah yang tepat.
                >Gerakan tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti dan terbina (
                >ini dapat disaksikan di Afrika Hitam ). Dalam negara jajahan, kaum petani
                >adalah golongan Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam bukunya
                >"The Wretched of the Earth".
                >
                > Lihat saja dalam peristiwa Talang Sari,Lampung Selatan. Ketika
                >rakyat bangkit menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat yang
                >dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan tidak mau mengikuti ajaran sesat
                >( Pancasila, agama Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia (
                >ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan kekerasan, membakar ratusan rumah
                >penduduk dan menembak mati siapa saja yang melawan Pemerintah. Lebih 1.500
                >orang dibantai dengan biadab oleh serdadu Indonesia-Jawa.
                >
                > Begitu juga dalam peristiwa yang terjadi baru-baru ini di
                >Medan, Sumatra Utara. Dimana pihak Gereja HKBP (Huria Kristen Batak
                >Protestan) tidak mau kalau pihak Pemerintah mencampuri urusan dalam Gereja.
                >Penjajah Indonesia-Jawa ini melalui Badan Koordinasi Stabilitas Keamanan
                >Daerah (Bakorstasda) tetap dengan pendiriannya-ingin mengatur kebijak
                >sananan Gereja-dan sedadu penjajah ini tidak segan-segan menasehati para
                >Pendeta dengan menangkap, menahan, menyiksa, menganiaya dan menghukum
                >dengan hukuman penjara.
                >
                > Apabila Jema`at Gereja bangkit menentang dan melawan pihak
                >ABRI mengarahkan laras senjatanya kearah Jema`at tersebut-rakyat
                >diperintahkan " tenang ", surat kabar diacam dengan mencabut surat izin
                >terbitnya apabila memberitakan dan wartawan-wartawan diancam akan dibunuh
                >apabila meyiarkan dan membesar-besarkan peristiwa ini. Sementara itu rakyat
                >terus dipaksa mengikuti Penataran P-4 ( Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
                >Pancasila ), dengan mendoktrin supaya rakyat mengutamakan stabilitas
                >nasional dan menampakkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan
                >dan kepentingan pribadi. Kepentingan nasional di sini adalah kepentingan
                >bangsa jawa.
                >
                > Jadi, nyatalah bahwa penjajah Indonesia-Jawa secara
                >terang-terangan menjerumuskan bangsa-bangsa Sumatra ke dalam jurang-dan
                >mengarahkan kemarahan kita, meredam perasaan dendam kita dengan cara-cara
                >biadab.
                >
                > Dalam kemiskinan yang kita rasakan, keresahan hidup tanpa
                >ujung dan kelabunya masa depan generasi muda, mereka menasehati orang-orang
                >di kampung dan di kota seluruh Sumatra dengan peluru yang ada di tangan
                >mereka, supaya menerima dengan pasrah keadaan ini.
                >
                > Sementara dibelakang layar, penjajah ini membuat satu mafia,
                >dengan membentuk kalangan "bourgeoisie" dan pengusaha kelas menengah,
                >antara penjajah dan pemilik modal ini mempunyai tujuan masing-masing. Akan
                >tetapi bagi kita keduanya sama bejat dan zalimnya. Ada dua cara dan dua
                >tujuan yang berbeda sekali sewaktu mereka memainkan tipu muslihat
                >masing-masing mempercayai bahwa cara dan tujuan mereka akan tercapai.
                >Pertama, penjajah Indonesia-Jawa memberikan peluang kepada kalangan pemilik
                >modal untuk meminjam uang dari Bank-bank Pemerintah, dan diberikan izin
                >untuk membuka usaha apa saja yang mendatangkan keuntungan. Kedua,
                >penanaman modal ini meyuap para jenderal dan orang-orang tertentu demi
                >memperoleh pinjaman dan " tender ". Kedua-duanya adalah a-moral dan bejat.
                >
                > Tujuan yang diharapkan pemilik modal (pengusaha) dan
                >pendukung keuangan yang lain kepada pihak penjajah adalah, bukannya supaya
                >menghapuskan penjajahan regime Suharto keatas bangsa-bangsa Sumatra,
                >melainkan harus memelihara perjanjian antara mereka dan meyelamatkan
                >kepentingan masing-masing. (Bersambung)
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                >
                > RENUNGAN !
                > "Kerajaan-kerajaan besar mati karena sakit perut : tidak dapat
                >mencernakan apa yang sudah dimakannya, " kata Napoleon. Begitulah nasib
                >kerajaan Rome. Begitulah nasib Hindia Belanda. Dan begitulah nasib�
                >Indonesia-Jawa` walaupun masih berdiri sebentar lagi atas belas-kasihan
                >Negara-negara tetangganya, besar-kecil �Indonesia-Jawa` yang menggambarkan
                >dalam surat-surat kabar Inperialis Barat sebagai �negara teladan`sebenarnya
                >adalah ORANG SAKIT DARI ASIA TENGGARA !
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                >
                > DIEDIT KEMBALI OLEH:
                > BIRO PENERANGAN ASNLF DI NORWAY.
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                >
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                >
                >
                >
                >
                >
                >--------------------------------------------------------------------------
                > Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at
                >http://www.hotmail.com
                >
                >
                >
                >
                > --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA,
                >ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI
                >BELENGGU PENJAJAHAN INI---
                > Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama
                >seperti anda alami sekarang ini??..
                >
                > untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com
                >
                >
                >
                > --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH
                >SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU
                >PENJAJAHAN INI---
                > Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti
                >anda alami sekarang ini??..
                >
                > untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com
                >
                >
                > eGroups Sponsor
                >
                >
                > PPDI(Persatuan Pembebasan Dari Indonesia)
                > --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH
                >SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU
                >PENJAJAHAN INI---
                > Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti
                >anda alami sekarang ini??..
                >
                > untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com
                >

                _________________________________________________________________________
                Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
              • Laksa Marda
                Assalamu alaykum wR. wB. (Maaf saya ikut nimbrung) Mohon kita semua memperhatikan sabda Baginda Rasulullah SAW berikut ini: Wahai segenap manusia,
                Message 7 of 8 , Jan 5, 2001
                  Assalamu'alaykum wR. wB.

                  (Maaf saya ikut nimbrung)
                  Mohon kita semua memperhatikan sabda Baginda Rasulullah SAW berikut ini:
                  "Wahai segenap manusia, sesungguhnya Robbmu satu dan Bapakmu satu. Tidak ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang (berkulit) merah atas yang berkulit hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketaqwaannya. Apakah aku sudah menyampaikan hal ini ? (HR. Ahmad).
                  Semoga kita semua mendapat Rahmat dan Hidayah dari Allh SWT. Amin
                  Terima kasih.

                  Wassalamu'alaykum wR. wB.

                  Marda

                  >>> teungkuawegeutah@... 04-Jan-01 11:37:09 >>>
                  BANG ZAINI, BERI SEDIKIT MASA BAGI YANG BUTA UNTUK
                  MENGOBATI MATA DAN HATINYA. ATAU MUNGKIN IA AKAN TERUS
                  BERSATU DENGAN MONYET-MONYET JAWA.

                  --- "Mr. Toto Tambunan" <herman@...> wrote: >
                  Pak Zaini,
                  > Itulah yang saya maksud bahwa saya tidak mau menjadi
                  > CUPET/KERDIL, merasa benar dan besar sendiri tanpa
                  > mempedulikan keberadaan orang lain. Kita semua
                  > mahlukNya. Kita sangat kecil ..... maka kitapun
                  > harus bersikap kecil dihadapan siapapun supaya kita
                  > tampak besar dihadapan Allah.
                  > Tak perlu karena pendapat kita berbeda kemudian Anda
                  > robah nama saya, anda katakan orang Batak
                  > penjilatlah, jagoan terminallah entah apalagi. Lupa
                  > rupanya Anda pada kesopanan karena kita beda. Saya
                  > belum tentu benar begitu juga anda!
                  > ----- Original Message -----
                  > From: Moh Zaini
                  > To: PPDI@egroups.com
                  > Sent: Monday, January 01, 2001 11:10 PM
                  > Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI
                  > SUMATRA ???
                  >
                  >
                  > MR . TIMBUNAN.
                  > KALAU KAU ORANG BATAK TIDAK MAU BERPISAH DENGAN
                  > SAUDARA MU MONYET JAWA ITU HAK KAU.
                  > JUGA ADA HAK ORANG LAIN UNTUK MENENTUKAN APA
                  > KEMAUAN NYA .JANGAN SUKA JADI JAGOAN HANYA DI
                  > TERMINAL.
                  > SEMUA ORANG TAU NOMOR SATU PENJILAT DARI SUMATRA
                  > ITU ADALAH ORANG BATAK.
                  > CUMA SAYANG SUADARA MU JAWA ITU HANYA SEBAGAI
                  > PENINDAS DAN PERAMPOK MEMANG BUKAN SEMUANYA TAPI
                  > SEMBILAN PULUH PERSEN PENGUASA JAKARTA TIDAK LEBIH
                  > SEPERTI MAFIA YANG MENGISAP DARAH MANUSIA DARI
                  > SABANG HINGGA MAROKE.
                  > ITU PENDAPAT RAKYAT KALAU MENURUT KAU INI SALAH
                  > KAU JUGA BUTA TULI
                  > SAMA DENGAN GUSDUR.
                  >
                  > BONG TEBING.
                  > ----- Original Message -----
                  > From: Mr. Toto Tambunan
                  > To: PPDI@egroups.com ; iqrak@egroups.com
                  > Sent: Saturday, December 30, 2000 4:16 PM
                  > Subject: Re: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI
                  > SUMATRA ???
                  >
                  >
                  > Yang saya tahu sejak saya masih sekolah rakyat,
                  > bahwa orang Aceh ini dari dulu sudah ingin merdeka,
                  > sudah ingin punya negara sendiri. Segala upaya
                  > dibuat agar orang melihat perjuangan mereka yang
                  > hingga terakhir ini ditunjukkan bahwa orang Aceh
                  > dengan GAM-nya sudah punya angkatan perang sekaligus
                  > panglimanya.
                  > Yang mau saya katakan disini adalah bahwa saya
                  > adalah orang Indonesia yang asal Sumatra dan
                  > ke-Sumatra-an saya tidak membedakan saya dengan
                  > Jawa, Kalimantan, Menado, Ambon maupun Papua dan
                  > saya tidak mau berpisah dengan saudara-saudara saya
                  > itu. Saya tidak membedakan apakah dia itu Islam,
                  > Kristen, Hindu, Budha bahkan Konghucu sekalipun.
                  > Saya tidak menjadi CUPET/KERDIL dengan menganggap
                  > orang Sumatra lebih dari orang Jawa, Dayak, Makasar
                  > dll. atau Islam, Hindu dll. adalah agama yang kafir
                  > dibandingkan agama saya. Bagi saya biarlah
                  > kebanggaan atas agama dan suku itu menjadi milik
                  > saya pribadi. Tanggung jawab iman saya hanya kepada
                  > Tuhan.
                  >
                  > Kalau selama pemerintahan Orde Baru yang 32
                  > tahun itu (saya tidak termasuk di dalamnya !) kita
                  > telah mengalami masa yang menghancurkan moral bangsa
                  > dengan pola politik sentralistik. Hukum hanyalah
                  > bagi kepentingan kekuasaan sehingga kita tidak
                  > percaya lagi pada hukum. Stabilitas hanyalah untuk
                  > meredam hampir setiap gejolak kritis demi ekonomi
                  > yang pun dikuasai oleh kroni dan banyak lagi
                  > kebusukan2nya, namun itu semua telah berganti. Rezim
                  > telah tumbang dan sekarang tanggungjawab dan beban
                  > kita (saya dan anda) untuk memperbaikinya.
                  >
                  > Kenapa kita tidak mau bersatu dalam
                  > tanggungjawab dan beban tersebut, kenapa justru mau
                  > bikin negara sendiri dan untuk mencapainya
                  > menyebarkan teror, provokasi, bom, bunuh saudara
                  > sendiri dlsb. Sebab dan akibat bagai lingkaran setan
                  > yang terus saling menyalahkan, dendam terpelihara
                  > terus.
                  >
                  > Datanglah sendiri dan lihatlah saudara2mu
                  > disini, wahai pimpinan elit yang bermukim di Norway.
                  > Hitunglah berapa jumlah kalian yang nyata untuk
                  > membuat negara Aceh dan jangan kesampingkan rakyat
                  > yang tidak bersalah yang tetap merasa sebagai bangsa
                  > Indonesia dan bukan 'Jawa'.
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  > ----- Original Message -----
                  > From: Sumatra Ku
                  > To: ppdi@egroups.com ; iqrak@egroups.com
                  > Sent: Thursday, December 28, 2000 7:37 PM
                  > Subject: [PPDI] KEMANA BANGSA-BANGSA DI
                  > SUMATRA ???
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  --------------------------------------------------------------------------
                  >
                  >
                  > SALINAN DARI BUKU " MALA PETAKA DI BUMI
                  > SUMATRA"
                  > OLEH : LUTH ARI LINGE.
                  >
                  >
                  >
                  >
                  >
                  --------------------------------------------------------------------------
                  >
                  > KEKAYAAN SUMATRA DAN
                  > AMAN MENURUT PENJAJAH
                  >
                  > SAMBUNGAN KE-3
                  >
                  > Apa yang telah dan sedang terjadi dan melanda
                  > bangsa-bangsa Sumatra saat ini adalah terjadinya
                  > suatu pemaksaan untuk menerima dan memahami satu
                  > keyakinan yang merusak bahwa sebab musabab dari
                  > kemiskinan adalah datangnya dari Tuhan. Seluruh
                  > aspek kehidupan kita adalah taqdir. Sewaktu
                  > kemiskinan telah meliliti leher kita, si Suharto
                  > masih berkata: "Kencankan ikat pinggan kita." Dengan
                  > begitu, kita akan menerima dengan pasrah, perkara
                  > ini memang ditentukan oleh Allah. Dari segi
                  > keyakinan, kita tidak munafikan apalagi menolak
                  > kebenaran Qur`an. Kita tau dan mengakui keabsahan
                  > firman Allah yang berbunyi: "Dan tidak ada satu
                  > binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah
                  > yang memberi rezekinya...."( AL-Qur`an, Surat Hud,
                  > ayat 6 ). Tetapi oleh penjajah Indonesia-Jawa telah
                  > ditafsirkan secara sempit. Menurut penjajah
                  > Indonesia-Jawa,
                  > apabila terjadi kemiskinan yang melanda
                  > manusia, khususnya bangsa-bangsa Sumatra, maka Allah
                  > yang harus bertanggung-jawab karena Allah telah
                  > menjamin rezeki hambanya.
                  >
                  > Para ahli ekonomi Indonesia-Jawa sering
                  > menulis persoalan ini dalam majalah politik seperti
                  > " Tempo " dan surat-surat kabar untuk meyakinkan
                  > bangsa terjajah ( bangsa-bangsa Sumatra ) dengan
                  > menafsirkan Al-Qur`an menurut kemauan dan
                  > kepentingan politiknya, mereka menjual ayat Allah
                  > dengan harga yang murah. , Makasar
                  > dll. atau Islam,
                  >
                  > Tujuannya supaya bangsa-bangsa Sumatra
                  > dan bangsa-bangsa lain yang dijajahnya bersedia
                  > tunduk menghambakan diri dihadapan penjajah
                  > Indonesia-Jawa dengan dalih kestabilan serta untuk
                  > mencapai keharmonisan dan ketenangan hidup yang
                  > abadi. pada hal Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
                  > "Kemiskinan itu dapat mendekatkan seseorang kepada
                  > kekufuran atau kekafiran." Persoalan kemiskinan
                  > adalah semata-mata persoalan manusia dalam mengatur
                  > hidupnya. Jadi, firman Allah dalam surat Hud ayat 6
                  > tadi sesunguhnya tidak berdiri sendiri. Agama kita
                  > tidak sesempit seperti yang di gambarkan oleh
                  > penjajah Indonesia-Jawa. Islam secara tegas
                  > mengajarkan seperti firman-Nya: "Allah tidak akan
                  > merubah nasib sesuatu kaum, selamma kaum itu sendiri
                  > tidak mau merubahnya." ( Al-Qur`an, surat Ar-Rad,
                  > ayat 11 ). Disinilah dinamika hidup, sehingga
                  > manusia mempunyai ruang gerak untuk merubah
                  > nasipnya, baik orang-perseorangan ataupun nasib
                  > suatu bangsa.
                  >
                  > Sesudah kita melaksanakan amalan ini
                  > menurut kemauan penjajah Indonesia-Jawa, maka tahap
                  > berikutnya: "kita melihat emosi bangsa asli (pen:
                  > bangsa-bangsa Sumatra) semakin pudar dalam tariannya
                  > sendiri, dimana mereka nampak lesu kurang gairah.
                  > Inilah sebabnya, suatu penyelidikan tentang dunia
                  > penjajahan, harus menyertakan fenomina tarian bangsa
                  > bersangkutan. Wujud ketenangan bangsa asli adalah
                  > bagai mana cara mengarahkan kemarahannya, mengubah
                  > dan meyanlurkannya kearah yang tepat. Gerakan
                  > tariannya adalah gerakan bebas yang mengandung arti
                  > dan terbina ( ini dapat disaksikan di Afrika Hitam
                  > ). Dalam negara jajahan, kaum petani adalah golongan
                  > Revolusioner." Demikian kata Frantz Fanon dalam
                  > bukunya "The Wretched of the Earth".
                  >
                  > Lihat saja dalam peristiwa Talang
                  > Sari,Lampung Selatan. Ketika rakyat bangkit
                  > menentang dan melawan karena peyerobotan atas rakyat
                  > yang dilakukan oleh penjajah Indonesia-Jawa dan
                  > tidak mau mengikuti ajaran sesat ( Pancasila, agama
                  > Jawa ) yang menyesatkan itu, lalu serdadu Indonesia
                  > ( ABRI ) menghentikan perlawanan ini dengan
                  > kekerasan,
                  === message truncated ===


                  ____________________________________________________________
                  Do You Yahoo!?
                  Get your free @... address at http://mail.yahoo.co.uk
                  or your free @... address at http://mail.yahoo.ie


                  PPDI(Persatuan Pembebasan Dari Indonesia)
                  --- ANDA BUKANLAH SATU SUKU SEBAGAIMANA DI NYATAKAN INDONESIA, ANDALAH SATU BANGSA HARAPAN NENEK MOYANG ANDA UNTUK PEMBEBASAN DARI BELENGGU PENJAJAHAN INI---
                  Sanggupkah anda melihat anak cucu anda menerima nasib yg sama seperti anda alami sekarang ini??..

                  untuk membuat posting kirimkan ke: PPDI@egroups.com
                Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.