Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

INDONESIA: NEGARA TERRORIST

Expand Messages
  • Datu Beru
    Ass, staff PPDI. Terima kasih dengan bantuannya memasukkan datuberu ke dalam PPDI@egroups.com INDONESIA: NEGARA TERRORIST JIKA dipakai standard moral yang
    Message 1 of 1 , Dec 6, 2000
    View Source
    • 0 Attachment
      Ass, staff PPDI.
       
      Terima kasih dengan bantuannya memasukkan datuberu ke dalam PPDI@egroups.com
       
      INDONESIA: NEGARA TERRORIST
       
      JIKA dipakai standard moral >>yang menuntut manusia supaya bertindak manusiawi<< untuk mengukur prilaku rezim Indonesia, maka tindakan  Polisi dan TNI di Acheh, Papua, Ambon dan Maluku, sungguh di luar batas pri-kemanusiaan. Cara-cara yang digunakan untuk menghabisi korban sangat biadab dan perbuatan Polisi dan TNI tersebut telah memperkaya perbendaharaan jenis-jenis kejahatan yang pernah dikenal di dunia. Kejahatan seperti ini hanya diorganisasi oleh negara terrorist. Untuk itu, tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali: melawan kemungkaran negara terrorist >>Indonesia<< dengan jihad fisabilillah demi mengangkat harkat dan martabat manusia.
       
      Jika dipakai standard sosial-religius >>yang menekankan kepada pentingnya memelihara nilai-nilai sosial dan dilarang membunuh dengan tanpa hak dalam tamadun manusia<< sebagai alat uji terhadap perbuatan regim Indonesia, maka tindakan Polisi dan TNI di Acheh, Papua, Ambon dan Maluku, sudah mengangkangi kerangka sosial-religius. Mereka menghabisi korban dengan tanpa perhitungan: anak-anak, perempuan, orang tua, pembumi hangusan harta kekayaan.  Perbuatan Polisi dan TNI dikendalikan oleh suatu sistem terpadu dan systematik. Kejahatan seperti ini hanya diorganisasi oleh negara terrorist. Oleh sebab itu, tidak ada alternatif lain bagi kita kecuali: menghentikan perbuatan fasad fil ardhi ini dengan jihad fisabilillah untuk menyelamatkan tamadun manusia dari kemusnahan oleh negara terrorist -Indonsia.
       
      Jika dipakai standard demokrasi >>yang menentang penyalah gunaan kuasa sewenang-wenang<< sebagai mizan untuk menimbang tabiat anggota DPR-RI asal Acheh, maka kumpulan "binatang" asal Acheh ini 100% pengkhianat bangsa Acheh. Ini nampak dari butir ke-6 dari 10 memorandum yang diajukan kepada DPR berbunyi: "jika pemerintah hendak menerjunkan tentara ke Acheh, hendaknya berasal dari kesatuan yang profesional, misalnya Siliwangi atau Brawijaya".
      Siapa yang membunuh bangsa Maluku seramai 25.000 jiwa, sewaktu meletus revolusi menuntut kemerdekaan Maluku di bawah pimpinan Dr. Soumokel tahun 1950, kalau bukan pasukan dari Divisi Siliwangi dan Brawijaya?
      Siapa yang membunuh bangsa Sunda seramai 40.000 jiwa, sewaktu meletus pemberontakan DI-TII di bahwah pimpinan Karto Suwiryo, akhir tahun 1949, kalau bukan pasukan dari Divisi Siliwangi dan Brawijaya?
      Siapa yang membunuh bangsa Sulawesi seramai 30.000 jiwa, sewaktu meletus pemberontakan DI-TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar, tahun 1950,  kalau bukan pasukan dari Divisi Siliwangi dan Brawijaya?
      Siapa yang membunuh bangsa Acheh seramai 30.000 jiwa, sewaktu meletus pemberontakan DI-TII di bawah pimpinan Tengku Daud Beureu�h tahun 1953-1961, kalau bukan pasukan dari Divisi Siliwangi dan Brawijaya? 
      Siapa yang membunuh bangsa Minangkabau dan bangsa Riau, sewaktu meletus pemberontakan PRRI di bawah pimpinan Ahmad Hus�n tahun 1957, kalau bukan pasukan dari Divisi Siliwangi dan Brawijaya? 
      Siapa yang membunuh bangsa Melayu di Kalimantan seramai 20.000 jiwa, sewaktu meletus Permesta di bawah pimpinan Ibu Hajar tahun 1957, kalau bukan pasukan dari Divisi Siliwangi dan Brawijaya? Kejahatan seperti ini hanya diorganisasi oleh negara terrorist. 
       
      Ironis sekali, kalau Tengku Baihaqi AK, fraksi PPP DPR-RI asal Acheh, seorang bekas tangan kanan Tengku Daud Beureu�h pura-pura tidak tahu perkara ini  dan mendadak berubah: dari membenci kepada tukang cuci pantat penjajah Indonesia. Terlalu mudah dan murah anggota DPR-RI asal Acheh menjual harga diri bangsa Acheh. Satu saat nanti sdr-sdr akan berhadapan dengan Mahkamah Malikul 'Adil negara Acheh.
      Jika dipakai standard Hukum Internasional dan resolusi PBB >>yang menghormati dan menjamin hak asasi manusia: kebebasan berbicara, kebebasan dari rasa takut, kebebasan untuk menentukan nasib diri-sendiri (self determination), maka tindakan Polisi dan TNI di Acheh, Papua, Ambon, Maluku dan Kalimantan (Suku Dayak) adalah penjajahan yang secara terang-terangan menghalangi hak suatu bangsa untuk merdeka seperti: penangkapan sdr Muhammad Nazar, Ketua SIRA dan sdr Theys Hiyo Eluay, Ketua Presideum Dewan Kongres Papua dan pemanggilan terhadap 9 aktivis SIRA yang lain. Perbuatan ini benar-benar berlawanan dengan ketentuan Hukum Internasional terutama Piagam PBB pasal 1 ayat 2 & 55 menyebut: "semua bangsa berhak menentukan nasib diri-sendiri dan hak tersebut dijamin oleh Hukum Perserikatan bangsa-bangsa".  Kejahatan seperti ini hanya diorganisasi oleh negara terrorist.  Karena itu satu-satunya jalan ialah berjuang di jalan Allah >>fisabilillah<< untuk memerangi penjajah Indonesia demi mempertahankan hak, mengembalikan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa kita. Apalagi Resolusi PBB No. 2621-XXV yang jelas-jelas menyebut: "Penjajahan adalah suatu kejahatan internaional" ("That colonialism is considered an international crime".
       
      Adalah hak mutlak suatu bangsa untuk merdeka. Jadi, jika PBB bermaksud membuka perwakilannya di Acheh adalah legal menurut Hukum Internasional dan Resolusi PBB.  Justeru ucapan Mahfud: "Jangan turut campur! Sebab di tempat kami (Indonesia) ada prosedure-prosedur megatasi masalah seperti Aceh. Kalau tujuannya mau turut campur kita tolak; "Jeda kemanusiaan antara Indonesia-Acheh akan kita putus di tengah jalan. Jika perlu akan kita lakukan darurat sipil atau dadurat militer di Acheh. Setiap tuntutan kemerdekaan akan ditindak." (Serambi, 18 November 2000), nyata-nyata melanggar ketentuan Hukum Internasional dan resolusi PBB.  Sebab Resolusi PBB, 3314-XXIX menyebut: "Tidak dibenarkan menggunakan kekerasan senjata terhadap bangsa yang sedang menuntut kemerdekaannya". Dan sebaliknya demi untuk mempertahankan hak suatu bangsa untuk merdeka, Sidang Umum PBB, 12 Oktober 1970, No. 2621-XXV menyebut: "mengakui hak hukum (legal) dari gerakan kemerdekaan bangsa-bangsa dijajah, termasuk perjuangan menggunakan senjata untuk mengusir penjajah dari negerinya sendiri". Mahfud membuat propaganda palsu untuk memenuhi selera masyarakat kelas kaki lima >>pharia<< dan tidak laku untuk bangsa Acheh. Jarum jam di Acheh, Papua, Ambon-Maluku, Kalimantan terus bergerak menuju angka 7 = MERDEKA dan jarum jam di Jakarta terus menuju angka 3 (jam 15 -3 sore) = INDONESIA HANCUR. 
       
      Bagi bangsa Acheh, Menteri Pertahanan Indonesia, Mahfud tidak lebih dari orang-orangan ("scarecrow"), yang orang Acheh sebut dengan "Langk�t atau si-ureu�ng-ureu�ng".  Di Acheh, "Langk�t" dibuat dari kayu atau bambu: ada kepala, mata, hidung, tangan dan kaki (mirip "hantu") untuk menakut-nakuti burung-burung dan babi-babi hutan yang merusak tanaman di kebun dan padi di sawah, ianya dikomando dari jarak jauh. Ketika "Langk�t" digerakkan, maka hama burung-babi ini terbang dan lari terbirit-birit. Terus terang, hanya burung-burung dan Babi-babi hutan atau perampok kekayaan Acheh yang bukan orang Acheh, atau teuku Mirza >>teuku_mirza@...<< ('pakar Federasi'), bidj�h Ul�� Balang jalang kesiangan yang takut kepada "Langk�t"atau si-ureu�ng-ureu�ng. Artinya: jika "langk�t Mahfud" berkata: "NKRI adalah harga mati", maka bangsa Acheh menjawab: "Acheh Merdeka adalah harga mati". Perbandinganya, jika Danmark pada tahun 1940 berkata: "Ikke ti vilde heste at f� mig til at acceptere Tyske som colonialisme" ("menolak mentah-mentah Jerman sebagai penjajah"), maka Acheh pada 4 Desember 1976, sudah memproklamirkan kembali kemerdekaannya yang mengutuk semua bentuk penjajahan Indonesia di Acheh.
       
      Jika John Walles, tokoh pejuang kemerdekaan Irlandia melawan Inggeris berkata: "They may take our lives but they'll never take our freedom" (Brives heart), maka bangsa Achehpun berkata: "Peurasaan tjeu�k akan gadoh, wat�� ka lheu�h ta dj�p i� nibak tjawan teumak�t."  Jadi, bangsa Acheh yang berjiwa patriotik, heroik dan berpikir merdeka tidak akan takut kepada "Langk�t Mahfud" Indonesia.
       
      Bangsa Acheh memiliki fakta sejarah yang gilang-gemilang, yaitu: ketika terjadi perang dahsyat antara Belanda-Acheh pada 26 Maret 1873, Belanda merupakan satu-satunya negara terkuat di dunia pada waktu itu. Akan tetapi bangsa Acheh tidak gentar menghadapinya. Terlalu mahal Belanda membayar perang dengan Acheh, sampai-sampai imperium Hindia Belanda yang dikenal megah, berpusat di pulau Jawa terpaksa gulung tikar. Belanda tidak sanggup menerima malu dalam persoalan Acheh sampai hari ini.  Lantas, Indonesia yang hutang luar negerinya sudah melebihi $122 Billion AS; nilai rupiah terperosok (Rp. 9.000 - 10.000 per $1AS); kemiskinan yang luar biasa; seluruh biaya operasi Polisi dan TNI di Acheh dibiayai oleh Exxon Mobil Oil yang mencapai 5 milyar lebih setiap bulan; (lihat: laporan Kontras Acheh, 18 November 2000) konon mau berperang??? Jika terjadi perang, maka bangsa Acheh generasi sekarang akan mengulangi sejarah kegemilangan nenek moyang kita. Insya-Allah.
       
      Jadi, yang perlu dipikirkan dan tindakan konkrit dari masyarakat Internasional dan PBB adalah: bagaimana Acheh merdeka lebih cepat secara damai, dengan demikian Indonesia masih bisa konsentrasi untuk membayar hutang luar negerinya. Jika penyelesaian masalah Acheh >>merdeka<< diulur-ulur dan terjadi perang antara Acheh-Indonesia, akibatnya ialah: seluruh sumber ekonomi Indonesia dan negara-negara asing di Acheh-Sumatera akan hancur lebur, sebagimana dialami oleh Belanda. Perang akan merambah dari Pulau W�h sampai Bangka Belitung (Bandar Acheh - Lampung), bahkan ke Kalimantan, Maluku dan Papua. Ini berarti semua kepentingan Indonesia dan kapitalis asing akan jadi bubur. Acheh Merdeka tidak akan bertanggungjawab untuk membayar hutang luar negeri Indonesia dan semua resiko yang ditimbulkan daripada perang suci ini. Sampaikah perhitungan politik Indonesia dan negara-negara asing di Acheh-Sumatera ke tahap ini??? Wallahu'aklam bissawab.
       
      Yusra Habib Abd Gani
      Biro Penerangan ASNLF, Danmark



      Get more from the Web. FREE MSN Explorer download : http://explorer.msn.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.