Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Kata Bangsat dari Dewan Terhormat

Expand Messages
  • sunny
    Refleksi : Tentu saja di Dewan Penipu Rakyat (DPR) kata bangsat adalah masalah biasa, bukan pelanggaran hukum apa pun, karena begitulah mutu para penipu!
    Message 1 of 1 , Jan 12, 2010
      Refleksi : Tentu saja di Dewan Penipu Rakyat (DPR) kata bangsat adalah masalah biasa, bukan pelanggaran hukum apa pun, karena begitulah mutu para penipu! 
       
       
      Senin, 11 Januari 2010 13:30

      Kata Bangsat dari Dewan Terhormat

      OLEH: ARDI WINANGUN


      memanas, sampai-sampai antaranggota pansus ter­jadi saling debat kusir, bSuasana Sidang Pansus Bank Century dari hari ke hari se­makin ah­kan salah satu anggota pansus dari Partai Demokrat Ruhut Sitom­pul mengatakan kata bangsat kepada pemimpin si­dang dari Fraksi PDIP Gayus Lum­buun.

      Nah, bila demikian di mana letak etika anggota DPR bila sudah mengatakan umpatan yang termasuk dalam kategori kotor dan merendahkan itu?

      Menjadi anggota DPR di Indonesia syaratnya memang sangat mudah sehingga setiap orang bisa mengajukan dirinya menjadi anggota DPR. Hal demikian di satu sisi membuat adanya egaliter politik, siapa saja berhak dipilih dan memi­lih. Namun di sisi lain, dengan adanya kebebasan maka tidak ada seleksi sehingga orang yang berkualitas dan tidak beretika bisa terpilih.


      Munculnya kata bangsat yang dilontarkan oleh Ruhut itu merupakan sebuah bentuk politik yang menghalalkan se­gala cara. Bila ini dibiarkan ten­tu dalam sidang-sidang ang­­gota DPR akan terjadi ti­dak hanya umpatan, namun perkelahian. Meski itu sudah pernah terjadi, tetapi tingkatnya akan lebih tinggi dan lebih seru. Memang kalau kita melihat parlemen-parlemen di ne­gara lain, di Taiwan misalnya, dalam sidang-sidang parlemen mereka sering adu fisik, na­mun hal yang demikian bu­kan budaya kita dan tidak men­cerminkan sikap memiliki ka­pasitas sebagai anggota DPR.


      Kesalahan partai politik dalam merekrut calon anggota legislatif (caleg)-nya inilah yang mencitrakan bahwa partai itu sekadar merekrut orang tanpa melihat kemampuan dan etikanya. Tak heran bila ada partai politik yang bercitrakan artis karena banyak merekrut artis. Untuk itu partai politik dalam merekrut calegnya harus mempertimbangkan kapasitas, kualitas, dan etika. Bisa saja secara kapasitas dan kualitas Ruhut memenuhi, namun kalau secara etika itu perlu dipertanyakan karena dirinya sudah mengeluarkan kata bangsat.


      Selama ini partai politik merekrut caleg hanya ber­dasarkan pertimbangan ketenaran, kekayaan, dan ketokohan semata. Ketenaran inilah yang membuat banyak partai politik yang merekrut calegnya dari kalangan artis. Figur yang ganteng, cakap, dan lucu ter­nyata merupakan penampilan yang menarik bagi masyarakat, sehingga masyarakat pun ber­duyun-duyun mencentang­nya. Namun, sepertinya dunia artis belum bisa menjanjikan ke­mampuannya dalam dunia politik.


      Indikasinya adalah, berda­sarkan pengalaman dari aktor Arnold Schwarzenegger yang menjadi Gubernur California, USA, ternyata Schwarzenegger setelah enam tahun menjadi gu­benur gagal mewujudkan pembaruan fiskal yang dijanjikannya pada awal jabatannya dan kesempatan untuk me­menuhi janjinya itu semakin menyusut. Kemudian, ber­da­sarkan umpatan bangsat tadi dengan mengacu apa yang di­ungkapkan Gayus Lumbuun menghadapi Ruhut merupakan suatu yang sulit sebab yang dihadapi adalah pemain sinetron.

      Hati-hati Pilih Caleg
      Artis terjun dalam dunia sinetron tentu membuat mereka bingung, gugup, dan kelihatan linglung dalam dunia yang selama ini baru baginya. Dunia politik merupakan du­nia yang sangat jauh dari du­nia keartisan. Mereka yang bia­sanya bekerja dalam dunia ak­ting, glamor, sebagai presenter atau master of ceremony (MC), tiba-tiba harus bersentuhan de­ngan dunia yang penuh in­trik, adu debat, lobi-lobi, me­nyerap aspirasi, dan me­ngawasi jalannya pemerintahan.


      Apabila mereka tidak sanggup, tentunya mereka akan lebih banyak dikendalikan oleh partai politiknya, sebab mereka tidak menguasai masalah atau bahan-bahan yang harus di­ker­jakan. Apabila demikian yang terjadi, aspirasi dan perjuangan yang diamanatkan rakyat kepada mereka tidak akan bisa dilakukan.

      Bila demikian, partai politik harus lebih hati-hati dalam memilih calegnya. Menurut pengamat politik dari LSI Bur­hanuddin Muhtadi, jika ting­kah laku Ruhut ini keseringan dengan cara-cara yang kurang santun akan bisa merusak citra Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tidak hati-hatinya partai politik me­rekrut caleg juga dikha­wa­tirkan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.


      Mahfud MD mengeluhkan soal rendahnya kualitas dari hasil produk legislasi yang dihasilkan DPR. Menurut mantan politikus Partai Kebang­kitan Bangsa itu, hal ini bisa terjadi karena banyaknya ang­gota DPR yang bukan orang hukum, bahkan sekolahnya hanya di pesantren. Jadi, tidak mengerti legal drafting (pembuatan undang-undang) dan aturan ketatanegaraan.
      Sebenarnya banyak ang­gota DPR yang tidak hanya tidak beretika dalam ucapan, namun juga banyak yang tidak beretika dalam tindakan. Berdasarkan pengalaman, kita sering melihat anggota DPR bolos daripada mengikuti pro­ses-proses pembuatan legislasi. Ini bisa terjadi karena faktor tidak bisa mengikuti pembahasan materi.


      Mereka tidak bisa meng­ikuti pembahasan materi karena tidak menguasai masalah. Ini bisa terjadi karena mereka tidak memiliki kapasitas, se­hingga mereka merasa tidak enjoy berada di dalam ruang sidang. Daripada kelihatan diam dan tidak vokal, mereka lebih memilih bolos atau se­kadar tanda tangan kehadiran saja, sebab bila tetap memaksakan dirinya di dalam rua­ngan akan membuat mereka salah ucap atau mengumpat dengan kata-kata yang kotor, misalnya bangsat.

      Penulis adalah Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.