Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [http://acehnews.net.tc] Re: [IACSF] Tarawih Berjamaah is Bid'ah? (betapapun ini bukan hal yang prinsipil, hanya persoalan cabang bukan pokok)

Expand Messages
  • Ali Al Asytar
    Syiah Imamiah 12 atau mazhab Jakfari tidak pernah mencaci sahabat yang benar-benar beriman, kecuali sahabat-sahabat yang berhak dicaci menurut Allah dan
    Message 1 of 1 , Sep 1, 2009
    • 0 Attachment


      Syiah Imamiah 12 atau mazhab Jakfari tidak pernah mencaci sahabat yang benar-benar beriman, kecuali sahabat-sahabat yang berhak dicaci menurut Allah dan RasulNya. Anda terperangkap dengan hadist palsu made in Abu Hurairah yang dirawi atas perintah Muawiyah yang begitu ”baik” memahami ayat mawaddah, meracuni Imam Hasan, cucu Rasulullah. Tidakkah anda berpikir?

      Sahabat macam Muawiyah itu tidakkah pantas kita kutuk? Kalau anda menjawabnya ”tidak” tepat sekali anda sama sepakterjangnya macam Muawiyah dan Yazid anak Muawiyah, pembantai keturunan Rasulullah di Karbala. Tidakkah Yazid pantas dicaci?

      Ayat mawaddah (keluarga Nubuwah)
      Allah berfirman:  Katakan (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah apapun kepada kalien dalam dakwah ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.” (Surat Asy- yura: 23)

      Ayat ini turun sebagai peringatan kepada ummah Muhammad bahwa banyak sahabat yang bukan saja tidak menaruh kasing sayang terhadap keluarganya  setelah Rasulullah wafat tapi juga, meracuni, membantainya dan membunuh. Contohnya Muawiyah mera cuni Imam Hassan cucu Rasulullah, Yazid bin Muawiyah membantai keluarga Rasul di Karbala, Irak. Orang-orang yang bersekongkol dalam system Bani Umaiah dan Abbai siah meracuni, membunuh, menganianya, memperkosa dan membantai siapa saja yang mengikuti agama Islam keturunan Rasulullah, sementara mereka masih mengakui beragama Islam.

      Justru itulah siapapun yang menjadi presiden baik di a Asia maupun di Afrika sama sepakterjangnya dengan penguasa Bani Umaiah dan Bani Abbaisiah yang mengaku Islam tapi membunuh keluarga Rasul. Penguasa dan Orang yang bersekongkol dalam system kebanyakan di Asia dan Afrika mengaku beragama Islam tapi mereka tidak beriman dengan  ayat Allah surah al Maidah, 44, 45 dan 47. Umumnya penguasa di
      Asia dan Afrika hidup mewah sementara mayoritas rakyatnya hidup morat-marit.

      Kenapa Muawiyah dan Yazid anaknya tidak mencintai keluarga Rasulullah? Kenapa mereka tega membunuh, meracuni dan membantai keluarga Rasulullah?. Jawabnya adalah: Ini semua akibat dari orang-orang yang ambisius kekuasaan hingga berani membuat rapat gelap melawan ketentuan Rasulullah sendiri yang telah diputuskan Allah dan Rasulnya di Ghadirkgum agar ummahnya mendapat bimbingan Imam-iman yang di utus Allah dan Rasulnya. Siapakah mereka itu hingga diikuti teladannya oleh Muawiyah dan anaknya Yazid dan bahkan penguasa-penguasa lanjutannya hingga sekarang ini?  Tidak pantaskah mereka itu kita kutuk? Selidikilah, siapa mereka itu agar terbuka cakrawalka anda berfikir tidak jumut dan fanatikbuta.

      Anda hai Tarmizi menuduh saya menjerumuskan kaum Muslimin kepada kesesatan agama Syiah. Apakah mereka itu gak mampu berpikir tentang benar tidaknya tulisan saya itu? Apakah tulisan saya itu tidak didukung Qur-an dan Hadist Ittrah Nabi Suci? Kalau tulisan saya menurut Qur-an dan Hadist Ittrah Nabi suci bermakna bukan saya yang berbicara Tapi Allah dan Rasulnya. Saya hanya sebagai penyampai saja  sebagai keyakinan saya sejak di Acheh - Sumatra. Alhamdulillah saya memahami Sunni dan Syiah sementara anda hanya memahami Sunni saja, itupun Sunni fanatikbuta  bukan Sunni yang mau berafala ta’qilun dan afala yatazakkarun.

      Selanjutnya realitanya anda tidak mengenal Ulama warasatul Ambiya. Yang anda kanal hanyalah ulama yang berjingkrak-jingkrak dalam ketiak penguasa dhalim dimasa Mua wiyah, Yazid dan penguasa Bani Umaiah lainnya serta penguasa Bani Abbaisiah. Anda keliru 180 derajat ketika anda duga bahwa Rasulullah menyuruh ummatnya ikuti khalifah 4. Bagaimana mungkin adanya hadist palsu itu sementara Rasulullah hanya mengang kat Imam Ali di Ghadirkhum sebagai wazirnya, wakilnya, khalifahnya dan disaksikan oleh Abukakar, Umar dan Usman sendiri. Terkenal ucapan Umar: ”Tahniah ya Abbal Hassan, anda telah menjadi pemimpin kaum Muslimin dan Muslimat”

      Betapa fatalnya kalimat anda berikut ini:
      ”Bahkan ALLAH telah menurunkan ayat yang membenarkan usulan Umar kepada Nabi, tentang bentuk hukuman terhadap pemimpin musyrik yg tertawan yg berbeda dari usulan Nabi & Abu Bakar”.(Tarmizi Ag alias Mukarram). Ayat mana yang anda maksudkan?

      Inilah hikayat musang yang kumaksudkan. Masak Umar lebih pandai daripada Rasu lullah, betapa ngerinya cara anda berfikir.” Justru Umar menentang Nabi suci keika hendak menulis wasiat saat berbaring di ranjang kewafatannya. Justru Umar memprotes Nabi ketika Nabi mengangkat Usamah sebagai komandan prang. Justru Umar menyakiti hati Fatimah Az Zahara, putri kesayangan Rasulullah.

      Rasulullah berkata: "Fahtimah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti dia telah membuatku marah." (Shahihu l`Bukhari 2/308). "Dia (Fathimah) adalah belahan nyawaku, maka barang siapa yang mencemaskannya berarti dia telah mencemaskan diriku, dan barangsiapa yang manyakitinya berarti dia telah menyakiti diriku". (Shahihul`Bukhari 3/265).

      Sebagai penutub ikutilah alinia-alibia beriket ini:
      Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya pada Bab Manaqib Umar bin Khattab (Keistimewaan Umar bin Khattab) sebagai berikut: Ketika Umar menderita karena tikaman, beliau merintih kesakitan. Ibnu Abbas datang menghiburnya sambil berkata,
      "Ya Amir al-Mukminin, apabila memang sudah waktunya tiba, bukankah engkau adalah sahabat Rasulullah yang baik. Ketika kau berpisah dengannya, bukankah dia juga rela padamu?. Kemudian kau telah bersahabat dengan Abu bakar dengan persahabatan yang baik, lalu kau berpisah dengannya juga dalam keadaan dia rela padamu. Kau juga bersahabat dengan yang lainnya dengan baik. Jika seandainya kau harus meninggalkan mereka, maka mereka akan rela padamu."

      Tidak lama berselang Umar kemudian menjawab, "Adapun tentang persahabatan dan kerelaan Rasulullah yang kau sentuh tadi, maka itu adalah anugerah yang Allah telah berikan padaku. Persahabatan dan kerelaan Abu Bakar yang kau katakan tadi, itu juga adalah anugerah yang Allah limpahkan padaku. Namun apa yang kau saksikan dari rasa khawatir pada wajahku adalah semata-mata karena kamu dan sahabat-sahabatmu. Demi Allah, apabila aku punya segunung emas maka aku akan korbankan demi dapat terselamat dari azab Allah sebelum aku datang menjumpai-Nya.(Shahih Bukhori jil. 2 hal. 201.)

      Sejarah juga mencatat kata-kata Umar berikut: "Oh, alangkah beruntungnya apabila aku hanyalah seekor kambing milik keluargaku. Digemukkannya aku seperti yang mereka suka kemudian menjadi lahapan orang yang menyenanginya. Mereka iris sebagian dariku dan dipanggangnya sebagian yang lain. Kemudian aku dimakan dan dikeluarkan pula sebagai najis. Oh, kalaulah aku seperti itu dan tidak menjadi manusia.(Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah jil. 3 hal.131; Hilyat al-Auliya' Oleh Ibnu Nu'aim jil. 1 hal. 52.)

      Sejarah juga mencatat kata-kata Abu Bakar berikut: "Ketika Abu Bakar melihat seekor burung hinggap di suatu pohon, dia berkata, berbahagialah engkau duhai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon, tanpa ada hisab atau balasan. Aku lebih suka kalau aku ini adalah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, kemudian datanglah seekor onta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan dan tidak menjadi seorang manusia. (Tarikh Thabari hal. 41; ar-Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; Kanzul Ummal hal. 361; Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120.)

      Di tempat lain beliau juga pernah berkata: "Oh, kalaulah ibuku tidak pernah melahirkanku. Oh, kalaulah aku hanya sebiji pasir dari satu batu bata." (Tarikh Thabari hal.41; Riyadh an-Nadhirah jil. 1 hal. 134; KanzulUmmalhal.361 Minhaj as-Sunnah jil. 3 hal. 120)

      Demikianlah sebagian kecil dari bukti yang dapat kita contohkan di sini sebagai renungan semata-mata. Dan berikut ini adalah firman Allah SWT yang memberikan berita gembira kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin: "Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati; (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." (QS: Yunus: 62, 63, 64).

      Dan firman Allah dalam surat lain, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka teguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'" (QS. Al Fushilat: 30, 31,32).

      Kenapa Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) berangan-angan untuk tidak jadi manusia, makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT atas makhluk-makhluknya yang lain. Apabila seorang mukmin yang biasa yang istiqamah dalam hidupnya bisa didatangi oleh Malaikat dan diberinya kabar gembira dengan kedudukan di sorga, lalu dia tidak khawatir pada azab Allah dan tidak bersedih hati dengan masa lalunya di dunia, bahkan baginya berita gembira di dalam kehidupan di dunia sebelum kehidupan di akhirat, maka kenapa tokoh-tokoh sahabat yang dikatakan sebagai makhluk terbaik setelah Rasulullah berangan-angan ingin menjadi najis atau sehelai rambut atau sebiji pasir?

      Seandainya para Malaikat telah memberinya berita gembira akan hal sorga, semestinya mereka tidak akan berangan-angan untuk memiliki segunung emas agar dapat dikorbankan sebagai tebusan atas azab Allah sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah SWT berfirman: "Dan kalau setiap diri yang zalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu, dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil sedang mereka tidak dianiaya." (S. Yunus: 54). Allah juga berfirman: "Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai semua apa yang ada di bumi dan sebanyak itu (pula) besertanya, niscaya mereka menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkan." (QS. Az-Zumar: 47,48).

      Billahi fi sabililhaq
      Ali al Asytar
      Acheh - Sumatra



      --- On Mon, 8/31/09, Mukarram Ibrahim <mukarram_chiba@...> wrote:

      From: Mukarram Ibrahim <mukarram_chiba@...>
      Subject: Re: [http://acehnews.net.tc] Re: [IACSF] Tarawih Berjamaah is Bid'ah? (betapapun ini bukan hal yang prinsipil, hanya persoalan cabang bukan pokok)
      To: achehnews@yahoogroups.com, IACSF@yahoogroups.com, Lantak@yahoogroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com
      Date: Monday, August 31, 2009, 10:39 PM

       

      

      Permasalahannya karena anda memakai cara agama syi'ah yang dengki dan mencari2 
      segala cara untuk agar bisa menyalahkan (bahkan mengkafirkan) para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar Radhiyallaahuanhum.
       
      Kalau saja anda mau jujur dan mempelajari shirah dgn benar, maka anda akan menemukan hikmah yang besar atas decision yang dibuat Umar Radhiyallaahu' anhu.
      Silakan baca kitab2 shirah tulisan para ulama yang mengulas hikmah2 atas berbagai decision para sahabat Nabi.
      Semua fitnah2 yg sering anda via email hanya isapan jempol untuk menjerumuskan kaum muslimin kpd kesesatan agama syi'ah.
       
      1.   Nabi telah mengingatkan umatnya agar berpegang dengan apa2 decision khulafa 4 khalifaf sesudah beliau, berarti termasuk Abu Bakar, Umar, Usman dan 'Aliy.
            Mereka semua adalah ulama nya ulama, jauh diatas ulama2 lain. (Maka apalah artinya ulama2 syi'ah tidak jelas statusnya).
            Jika ulama2 lain setelah mereka layak berijtihad, maka para sahabat tentu lebih sangat layak untuk berijtihad.
            Dan terbukti banyak sekali hikmah2 yg diperoleh dari keputusan2 yg diusulkan atau dibuat oleh Umar semasa Nabi hidup, masa khalifah Abu Bakar dan masa khalifah Umar sendiri.
            Bahkan ALLAAH telah menurunkan ayat yang membenarkan usulan Umar kepada Nabi, tentang bentuk hukuman terhadap pemimpin musyrik yg tertawan yg berbeda dari usulan Nabi & Abu Bakar.
       
      2.   Jawaban atas syubhat anda tentang cara memilih pemimpin.
            Nabi memang tidak menentukan detail cara memilih pemimpin.
            Para sahabat adalah manusia terbaik setelah Nabi, sgt layak berijtihad metode apa yg terbaik utk menentukan pemimpin, dgn keilmuwan mereka maka hal tersebut bukan hal yg sulit bagi mereka.
            Sebelum Nabi wafatpun, sesama para sahabat sudah saling bicara dan mengetahui urutan siapa2 yang paling utama,  No.1 AbuBakar, No.2 Umar, dstnya.
            Abu Bakar lah yg diperintahkan Nabi untuk memimpin shalat jama'ah ketika Nabi sakit diakhir hayatnya,  walaupun ulama2 syi'ah sekarang masih juga ingin protes.  
            Detailnya silakan baca kitab para ulama......
       
      3.   Masalah perubahan shalat tarawih menjadi berjama'ah. 
            Sudah banyak sekali Ulama menjelaskan hikmah keputusan Umar ini, dan sekaligus membuktikan sangat2 cerdasnya Umar.
      -->  Tarawih berjama'ah bukanlah bid'ah krn telah dicontohkan langsung dari Nabi selama 3 malam.
            Lalu dihentikan Nabi karena khawatir menjadi wajib dan umatnya kemudian tidak siap menjalankannya.
            Tetapi ketika Nabi telah wafat, maka tidak ada lagi ayat yang turun sehingga kekhawatiran tersebut hilang dgn sendirinya. Maka Umar kembali menghidupkannya.
            Detailnya silakan baca kitab para ulama......
       
      4.   Masalah hak kaum Mu'allaf. 
            Disini juga ada hikmah dari keputusan Umar, sekaligus membuktikan kecerdasan beliau yg memang layak berijtihad, karena beliau adalah murid hasil didikan dari guru terbaik (Rasulullaah) .
            Penghidupannya yang selalu dekat dgn AL-Qur'an & As-sunnah menjadikan pemahaman beliau sangat tinggi atas tuntunan ALLAAH & RasulNYA.
      -->  Pada masa Nabi, memang kaum mu'allaf lebih mendapatkan prioritas untuk melunakkan hati mereka untuk menerima/masuk Islam.
            Tetapi ketika Islam sudah sangat kuat dan tersebar luas ke berbagai negeri, maka prioritas tersebut dikalahkan oleh hal lain yang lebih prioritas.
            Detailnya silakan baca kitab para ulama.....
       
      5.   Demikian juga syubhat masalah kawin mut'ah, dll  
            Silakan lanjut baca kitab para ulama.....
       
      Seharusnya kita2 ini baca2 dulu kitab para ulama sebelum berprasangka mempermasalahkan Umar yg merupakan salah satu murid terbaik Rasulullaah.
      Jika para ulama2 cerdas saja pada minder dan kagum pada berbagai kecerdasan jtihad-nya Umar, kok malah kita protes,
      Apalah artinya ilmu kita yang masih cetek ini, yang belajar islampun setelah tua dan cuma sambilan/kadang2.
       
      Hendaknya syi'ah bersikap objecive dalam mempelajari sejarah, jangan sengaja mencari2 jalan untuk memfitnah mereka, akibatnya bisa celaka dunia dan akhirat.
      Mereka adalah orang2 terbaik yang telah dipilih ALLAAH untuk mendampingi perjuangan RasulNYA.
      ALLAAH dan RasulNYA telah menyatakan ridha kepada mereka, lantas mengapa syi'ah tidak ridha????
      Mana ada artinya keilmuawan ulama syi'ah dibanding murid2 Rasulullaah.
       
      Semoga ALLAAH melunak hati kita untuk menerima segala kebenaran dari manapun sumbernya.
      Semoga ALLAAH mengumpulkan kita dijannnahNYA bersama manusia yang palin kita cintai,  Nabi & para sahabatnya, Aamiin.
      Al-Faqir ilaa ALLAAH. 
       
       
      ----- Original Message -----
      Sent: Tuesday, September 01, 2009 6:36 AM
      Subject: [http://acehnews. net.tc] Re: [IACSF] Tarawih Berjamaah is Bid'ah? (betapapun ini bukan hal yang prinsipil, hanya persoalan cabang bukan pokok)

       

      http://achehkarbala .blogspot. com/



      Anda nampaknya memahami betul persoalan tarawih. Betul sekali bahwa kita perlu klarifikasi persoalan yang berbeda tersebut berdasarkan petunjuk Allah dan Rasulnya atau mungkinkah digunakan pendapat manusia walau seharusnya tidak punya hak untuk berbeda dengan petunjukn Allah dan Rasulnya?. Satuhal yang perlu dipertanyakan kenapan Abubakar tidak melaksanakan sebagaimana Umar.

      Ketika Umar membuat tim formatur dalam pemilihan khalifah paskanya, dia membuat syarat bagi siapapun yang terpilih agar bersedia mengikuti dua khalifah sebelumnya, sementara Umar sendiri tidak mengikuti khalifah sebelumnya, dimana dia membuat shalat tarawih secara berjamaah, mengharamkan kawin mut'ah dan haji tamattu' serta menghentikan hak kaum muallaf dimana Abubakar sendiri tidak berani merobah kebiasaan di jaman Rasulullah. Selebihnya Umar juga merobah hak kaum muslimin dimana oramg yang senior diberikan banyak sementara yang yunior dan yang baru masuk Islam diberikan sedikit. Kebiasaan Umar ini dilanjutkan oleh khalifah Usman bin Affan.

      Justru itulah ketika Imam Ali menjadi khalifah paska Usman terbunuh dalam pemberontakan Muhammad bin Abubakar (khalifah pertama), kebiasaan yang menyimpang itu dikembalikan sebagaimana jaman Rasulullah. Disinilah Talhah bin Ubaidillah dan Zubeir bin Awwam merasa tersinggung dimana haknya sebagai orang senior disamakan dengan orang yunior dan bahkan sama dengan orang yang baru saja masuk Islam.

      Ketika Imam Ali sedang berkhutbah, Talhah dan Zubeir cs, duduk disudut Mesjid dan berbicara masalah itu. Imam dapat membaca mimik wajah mereka yang kurang senang ke pada Imam Ali. Setelah selesai shalat, Imam mendatangi mereka berdua dan menanyakan kenapa mereka sepertinya kurang senang kepadanya, bukankah kalian yang mula sekali membai'atku dimana saya sendiri pada mulanya menolak untuk jabatan khalifah?  Bukankah kalian yang mendorong orang ramai untuk datang kerumahku agar aku bersedia jadi khalifah?

      Talhah dan Zubeir mengaku itu semua tapi mereka berdalih bahwa Imam telah mengurangi hak mereka. Kemudian datang sekolompok senior lainnya dan mengatakan bahwa orang tua mereka banyak yang dibunuh Imam Ali, kini hak merekapun disamakan dengan orang yang baru masuk Islam.  Imam menjawab bahwa bukan dia yang membunuh orang tua mereka tapi kebenaran. Ketika kebenaran datang dibawakan Rasulullah orang tua kalian menentang kebenaran tersebut, lalu berhadapanlah dengan pedang Zulfikarku. Adapaun tuduhan anda hai Talhah dan Zubeir bahwa aku telah mengurangi hak anda sebagai orang senior, ada orang yang lebih senior dari anda dimasa Rasulullah tapi tidak pernah mendapat lebih dari hak kaum muslimin lainnya. Itu merupakan keadilan yang diterapkan Rasulullah dimana Abubakar juga mencontohinya tapi Umar telah merobah kebiasaan itu hingga diteruskan oleh Usman. Ketika kukembalikan sebagaimana jaman Rasulullah, anda terlupa sampai menuduhku tidak menghormati hak anda.

      Pembaca sekalian disinilah kelemahan kebanyakan manusia tak tahan ujian fulus dan 3 ta (baca harta, tahta dan wanita) Hal ini dapat kita saksikan bagaimana terninabobokkan orang Acheh - Sumatra ketika fulus dihamparkan dihadapan mereka sekarang ini, musuhpun kadang sudah dibaca sebagai kawan.

      Slam Ramadhan!!!
      "Betapa banyak orang yg berpuasa, tapi
      mereka tidak mendapat apa-apa kecuali
      lapar dan dahaga"  (hadist)
      (alasytar)




      --- On Mon, 8/31/09, Merdeka Diri <merdekadiri@ gmail.com> wrote:

      From: Merdeka Diri <merdekadiri@ gmail.com>
      Subject: Re: [IACSF] Tarawih Berjamaah is Bid'ah?
      To: IACSF@yahoogroups. com
      Date: Monday, August 31, 2009, 5:00 PM

       

      Kalau memang perkara tarawih mau di jadikan bahan diskusi dalam milis ini..
      Mungkin baik untuk menanyakan apakah shalat tarawih itu memiliki landasan pelaksanaannya atau tidak? dalam artian adakah tertuang dalam ayat alquran atau nabi pernah melakukannya atau tidak? pertanyaaan ini perlu untuk kita jawab sehingga kita memiliki landasan kuat untuk membenarkan pelaksanaan tarawih? Setau ku pelaksanaan berjamaah shalat tarawih mulai dilakukan pada masalah kalifah umar dan dilanjutkan pada masa usman, namun pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib shalat berjamaah ini kembali ditiadakan. Pertanyaan kemudian apakah ibadah itu dilakukan berbasis pada selera manusia atau selera Tuhan? Kalau jawabannya adalah boleh berbasis pada selera manusia, tentu saja inisiatif untuk melakukan koreksi atas pelaksanaan ibadah yang belum pernah dilakukan oleh nabi adalah baik dan dibenarkan..
      Mohon Pencerahan.. ...
      Saleum Meutuah...

      2009/8/31 reza idria <eza_guevararino@ yahoo.com>
       

      Umar Ibn Khattab seperti juga kita yang punya otak dan akal tentu punya pertimbangan matang, secara aqidah, ilmu dan kedekatannya dengan Rasulullah SAW ketika memutuskan untuk kenapa menegakkan shalat tarawih berjama'ah. Jadi beliau bukan tidak tahu apakah itu "bid'ah" atau "apalah namanya" dan juga konsekuensinya, sehingga lucu bagiku penulis di bawah ini yang berjarak 14 abad dari Rasul SAW tampak "show off" kalau dia lebih tahu apa itu bid'ah dari Umar Ibn Khattab R.A. Ada-ada saja.

      Setidaknya Umar sudah menunjukkan dari awal betapa Islam juga sangat membuka ruang interpretasi, dengan beberapa revolusi hukum dan kebijakan yang dia tetapkan.
      Kurasa soal tarawih berjama'ah, 20 atau 8, itu tak elok bila masih harus dipersoalkan bid'ah atau tidak, "sesat" atau bukan. Siapapun bisa melihat mana lebih besar sisi positifnya ketika ia dikerjakan berjama'ah atau sendiri-sendiri. Dan hendaknya jangan mengutip dalil sepotong-sepotong, begitu juga soal Hadist. Sepanjang Bukhari sendiri yang mengumpulkan Hadits shahih itu dan adalah murid langsung Imam Syafi'i yang shalat tarawihnya berjama'ah (sesuai dengan yang sampai kepada kita), tentu punya dalil penunjang lain yang membuat para imam ini tetap berkeyakinan demikian. Kalau mau kembali ke asal mula terminologi bid'ah, cara dia memposting "khutbah" ini di blogg-nya sebenarnya juga adalah bid'ah itu sendiri, bagaimana dia bisa menolak keberadaan bid'ah 'hasanah' dan 'dhalalah' bila dia tdk bisa lepas dari pengertian bid'ah adalah sesuatu yg baru dan tdk dikerjakan Rasul SAW termasuk dakwah via internet misalnya? Sekali lagi, ada-ada saja.

      Jadi untuk Aceh, kalau menurutku, hal-hal furu'iyyah seperti ini sudah harus pindah dari mimbar debat, dan sebenarnya keberadaan orang-orang yang cepat mengindikasikan sesuatu dengan cepat ke arah terma "sesat" adalah penyakit ummat sepanjang abad.

      Gitu dulu Rim,

      Reza


      --- On Mon, 8/31/09, | r i m a | <gulam.pawoun@ gmail.com> wrote:

      From: | r i m a | <gulam.pawoun@ gmail.com>
      Subject: [IACSF] Tarawih Berjamaah is Bid'ah?
      To: IACSF@yahoogroups. com, "'Aceh Institute'" <aceh_institute@ yahoogroups. com>
      Date: Monday, August 31, 2009, 4:04 AM

       

      Source: http://islamsyiah. wordpress. com/2008/ 08/31/shalat- tarawih-berjamaa h-adalah- bid%E2%80% 99ah/

      Shalat Tarawih Berjamaah adalah Bid’ah

       

      Allah SWT berfirmah kepada Rasulullah SAWW:

      Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Aali Imran: 31)

       

      Dan perintah Allah kepada umat Muhammad:

      apa yang diberikan Rasul kepada kalian, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagi kalian, Maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS Al-Hasyr: 7)

       

      Dan firman Allah:

      Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata” (QS Al-Ahzab: 36)

       

      Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SAWW pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah. Bahkan dalam beberapa hadis disebutkan bahwa berkumpul dengan pelaku bid’ahpun dilarang, apalagi melakukan bid’ah. Hal itu karena imbas dari ajaran Islam yang mengajarkan ajaran tauhid, termasuk tauhid dalam penentuan hukum agama. Jangankan manusia biasa, Rasulullah pun dilarang untuk membikin-bikin hukum agama. Beliau hanya berhak menyampaikan hukum Allah saja, tanpa diperkenankan untuk menambahi maupun menguranginya. Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu.

       

      Pada kesempatan kali ini, kita akan menegok kembali hukum ‘Shalat Tarawih’ di bulan suci Ramadhan yang seringnya dilakukan secara berjamaah oleh kebanyakan kaum muslimin, tidak terkecuali di Indonesia. Apakah Rasul pernah mencontohkannya ataukah tidak? Siapa pertama kali yang mempolopori pelaksanaan shalat tarawih berjamaah, dan dengan alasan apa? Jika Rasul tidak pernah mencontohkannya –bahkan memerintahkan untuk shalat sendiri-sendiri- maka pelaksanaannya secara berjamaah apakah tidak termasuk kategori bid’ah, sedang Rasul dalam hadisnya perbah bersabda: “Setiap Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?

       

      Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

       

      Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut?

       

      Kini kita lihat pengakuan beberapa ulama Ahlusunnah tentang hakekat hukum shalat tarawih berjamaah itu sendiri. Di sini kita akan mengambil beberapa contoh dari pribadi-pribadi tersebut. Al-Qosthalani dalam mensyarahi ungkapan Umar (“Ini adalah sebaik-baik bid’ah”) dalam kitab Shahih Bukhari tadi mengatakan: “Ia mengakui bahwa itu adalah bid’ah karena Rasul tidak pernah memrintahkanya sehingga shalat sunah di malam Ramadhan harus dilakukan secara berjamaah. Pada zaman Abu Bakar pun tidak pernah ada hal semacam itu. Begitu pula tidak pernah ada pada malam pertama Ramadhan (di malam hari keluarnya perintah Umar tadi. red). Juga dalam kaitannya dengan jumlah rakaat (shalat tarawih) yang tidak memiliki asal” (Irsyad as-Sari jilid 5 halaman 4). Ungkapan dan penjelasan semacam ini juga dapat kita temukan dalam kitab Fathul Bari, Umdah al-Qori dan beberapa kitab lain yang dikarya untuk mensyarahi Shahih Bukhari. As-Suyuthi dalam kitab “Tarikh al-Khulafa’” menjelaskan bahwa, pertama kali yang memerintahkan untuk melakukan shalat tarawih secara berjamaah adalah Umar bin Khatab. Ini pula yang diungkapkan oleh Abu Walid Muhammad bin Syuhnah dalam mengisahkan kejadian tahun 23 H. Sebagaimana juga diakui oleh Muhammad bin Saad sebagaimana yang tercantum dalam jilid ketiga kitab “at-Tabaqoot” sewaktu menyebut nama Umar bin Khatab. Juga yang dinyatakan oleh Ibnu Abdul Bar dalam kitab “al-Isti’ab” sewaktu mensyarahi pribadi Umar bin Khatab. Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ibadah yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah.

       

      Sementara, dalam hadis-hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah dengan keras melarang umatnya untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasul pernah bersabda: “Hendaknya atas kalian untuk melakukan shalat di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah yang dilakukan di rumah, kecuali shalat fardhu (wajib)” (Shohih Muslim dengan Syarh Imam Nawawi jilid 6 halaman 39, atau pada kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

       

      Dengan menggabungkan empat argumen di atas tadi –(1) perintah mengikuti Rasul sehingga mendapat ridho Allah, (2) larangan melakukan bid’ah, (3) shalat tarawih tidak dicontohkan Rasul yang mensicayakan bid’ah dalam peribadatan dan (4) perintah Rasul untuk melakukan shalat sunah di rumah, secara sendiri-sendiri- maka banyak dari ulama Ahlusunnah sendiri yang mereka melakukan shalat tarawih di rumah masing-masing, tidak berjamaah di masjid ataupun mushalla. Malah dalam kitab “al-Mushannaf” disebutkan, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan bahwa; “Ibnu Umar tidak pernah melakukan shalat tarawih berjamaah”. Dan dalam kitab yang sama, Mujahid mengatakan: “Pernah seseorang datang kepada Ibnu Umar dan bertanya: “Pada bulan Ramadhan, apakah shalat tarawih kita lakukan dengan berjamaah?” Ibnu Umar berkata: “Apakah kamu bisa membaca al-Quran?” Ia (penanya tadi) menjawab: “Ya!?” lantas Ibnu Umar berkata: Lakukan shalat tarawih di rumah!” (Al-Mushannaf jilid 5 halaman 264 hadis ke-7742 dan ke-7743).

       

      Namun, sebagian dari ikhwan Ahlsunnah mengelak bahwa itu (tarawih berjamaah) adalah bid’ah berargumen dengan beberapa dalil. Di sini kita akan sebutkan sandaran mereka dengan kritisi ringkas atas dalil yang mereka kemukakan.

       

      Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan;

            1.            Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya” . Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)

      Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengaakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas.

            2.            Ibn Wahab menukil dari Abu Hurairah yang meriwayatkan bahwa, suatu saat Rasul memasuki masjid. Belioau melihat para sahabat di beberapa tempat sedang sibuk melaksanakan shalat. Beliau bertanya: “Shalat apa yang mereka lakukan?”. Dijawab: “Sekelompok sedang melakukan shalat dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab”. Rasul lantas bersabda: “Apa yang mereka lakukan benar dan mereka telah melakukan kebaikan.” (Fathul Bari jilid 4 halaman 252).

      Menjadikan hadis ini sebagai pembenar pelaksanaan shalat tarawih berjamaah pun tidak benar, karena dalam teks hadis jelas tidak dinyatakan shalat apakah yang sedang mereka laksanakan, shalat tarawihkah ataukah shalat fardhu (shalat wajib). Selain itu, Ibnu Hajar sendiri (penulis kitab “Fathul Bari” tadi) setelah menukil hadis tersebut menyatakan kelemahan hadis tersebut dari dua sisi; pertama: Terdapat pribadi yang bernama Muslim bin Khalid yang lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Kedua: Dalam hadis ini disebutkan bahwa Rasul yang mengumpulkan orang-orang agar shalat di belakang Ubay bin Ka’ab, padahal yang terkenal (ma’ruf) adalah sahabat Umar-lah yang mengumpulkan orang-orang untuk shalat bersama Ubay bin Ka’ab.

       

      Dari sini jelaslah bahwa, pelaksanaan ‘ibadah shalat tarawih berjamaah’ bukan hanya tidak pernah diperintahkan oleh Rasul, bahkan Rasul sendiri tidak pernah mencontohkannya. Dan terbukti pula bahwa sahabat umar-lah yang mempelopori ibadah tersebut. Padahal kita tahu bahwa ‘penentuan amal ibadah’ adalah hak mutlak Allah yang dijelaskan melalui lisan suci Rasulullah. Rasul sendiri tidak berhak menentukan suatu amal ibadah, apalagi manusia biasa, walaupun ia tergolong sahabat. Oleh karenanya, sahabat Umar sendiri mengakui bahwa itu adalah bagian dari Bid’ah. Sedang kita tahu bahwa semua bid’ah adalah sesat, sehingga tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah kepada baik dan tidak baik.

       

      Semoga dalam bulan suci Ramadhan ini kita bisa mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menjauhi segala macam jenis bid’ah seperti melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Karena bagaimana mungkin kita akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT namun jalan dan sarana yang kita tempuh adalah melalui perbuatan yang dibenci oleh Allah, seperti bid’ah. Mustahil sesuatu yang menjauhkan dari Allah (seperti Bid’ah) akan dapat mendekatkan kepada-Nya (masuk kategori ibadah). Ini adalah dua hal kontradiktif yang mustahil terjadi. Semoga dengan menjauhi semua bid’ah kita dapat meninggalkan bulan Ramadhan dengan kembali ke fitrah yang suci, melalui Iedul Fitri. Amin

       





    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.