Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

ZDALIKAL KITABU LARAIBA FIHI HUDALLIL MUTTAQIN (QS, 2 : 2) (PENJELASAN)

Expand Messages
  • Ali Al Asytar
    Baiklah selama kita menanti keputusan Allah, perlu saya sampaikan kepada pembaca bahwa orang yang saya maksudkan ketika mengucapkan sumpahserapah kepada
    Message 1 of 1 , Aug 2, 2009
      Baiklah selama kita menanti keputusan Allah, perlu saya sampaikan kepada pembaca bahwa orang yang saya maksudkan ketika mengucapkan sumpahserapah kepada Alauddin Umarov secara membabi buta, diujung tulisannya yang sangat panjang itu menyindir ke saya. Dia mengatakan secara terang terangan bahwa Al Quran itu bukan pedoman Hidup sebagaimana diulang-ulang oleh saya. Lalu saya mengingatkannya secara baik bahwa kalau dia tidak menarik ucapannya itu, murtad hukumnya. Ini bukan klaim saya tapi siapapun orang Islam yang punya pikiran pasti mengetahui bahwa ayat 2 surah al Baqarah sebagai pernyataan Allah sendiri setelah muqaddimahnya (baca surah Al Fatihah), bahwa al Qur-an itu tidak ada keraguan (sedikitpun) padanya, adalah sebagai pedoman/petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Lalu kalau ada orang yang katakan bahwa al Qur-an itu bukan pedoman hidup bagi kita orang Islam sama dengan menentang bukan saja ayat 2 surah al Baqarah itu, tapi juga menentang seluruh al Qur-an. Justru itu saya beritahukan kepada orang tersebut murtad Hukumnya. Malah saya ingatkan dalam bhs Acheh agar tidak diketahui orang non Acheh (maleeteuh lonpeugah meunan).

      Orang tersebut tidak menggubris saya yang ketika itu masih saya anggap teman. Ironisnya dia menulis beberapa hari kemudian bahwa saya hanya menulis Qabil dan Habil saja sejak saya masuk pintu gerbang Norway. Ini terindikasi bahwa dia itu buruk sangka kepada saya. Kali ini dia ulang lagi bahwa Qur-an itu bukan pedoman Hidup. Justru itulah saya tidak lagi bersahabat kepada orang tersebu.

      Haji Umar sepertinya ingin berlangsung dialog Sunni - Syi'i dan mengaku tidak punya ilmu tentang itu, lalu meminta pihak yang ada ilmu untuk tidak main samping. Ketika dialog berlangsung diapun ikutikutan mendukung salah satu pihak, dimana yang semestinya menyimak dulu dengan teliti apa yang dikemukakan kedua pihak. Justru itulah Saya katakan dia itu juga fanatik buta.

      Kami ini malah bukan saja di Achirat siap menyerahkan kepada Allah tapi juga di Dunia ini dengan bermubahalah sebagaimana Rasulullah lakukan ketika pihak lawan terbukti fanatikbuta. Tapi ternyata pihak lawan Rasulullah tidak berani bermubahalah.

      Terahir sekali saya anjurkan agar kedua belah pihak mewakilkan saja kepada Vande dan Venda vs Mutia dan Ridwan.
      Kalau Mutia sedang berdialog dengan Vande, malah sebaiknya, Ridwan bersabar dulu sebagaimana Venda. Apabila Mutia kehabisan bahan barulah Ridwan maju, begitulah sebaliknya.

      (Alasytar)

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.