Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [IACSF] Ribut Syiah vs Sunni

Expand Messages
  • Ali Al Asytar
    Enaknya buah-buahan dapat dirasakan oleh semua orang tapi enaknya dialog Syiah - Sunnah hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang sedang mencari kebenaran
    Message 1 of 1 , Jul 31, 2009
    • 0 Attachment
      Enaknya buah-buahan dapat dirasakan oleh semua orang tapi enaknya dialog Syiah - Sunnah hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang sedang mencari kebenaran versi Tuhan.


      From: vande charba <vande.charba@...>
      To: IACSF@yahoogroups.com
      Sent: Saturday, August 1, 2009 7:33:15 AM
      Subject: Re: [IACSF] Ribut Syiah vs Sunni

       

      Kalo di mesir kalian sibuk dengan pemilihan presiden PPMI, berbeda sama sekali dengan kami yg belajar di beberapa univ malaysia, pelajar2 dari Aceh merasa berbeda dengan Indonesia, sehingga punya organisasi kemahasiswaan sendiri dan hanya menyibukan diri jika lagi pemilihan presiden organisasi kami, dan jarang mengurus urusan internal mahasiswa indonesia..hehehe tapi kami doakan agar kandidat jagoan anda menang.
       
      Baik lah mutia, sekarang liat lagi sebuah kalimat yg anda tulis sendiri "Tapi nyatanya penjelasan anda belum bersifat informatif, baru mengandalkan empiris (mutia). kalimat yg sudah saya warna merahkan itu saya kutip penuh tanpa edit, para pembaca lain bisa buktikan ini. Anda katakan belum bersifat informatif, tapi masih empiris. Orang yg punya kemampuan memahami teks sedikit saja, akan tau bahwa bagi anda jika aku mengandalkan empiris berarti belum informatif, bukan kah itu mengkontraskan ? sepertinya anda menulis kalimat itu tanpa sadar, atau pura2 lupa anda melakukan kesalahan secara epistemologis dengan kalimat seperti itu. apakah aku tidak mampu menangkap penyampaian pihak mu ? atau pihak mu lah yg mulai amnesia :-) ? jawab dalam hati aja, daripada anda memperpanjang bahasan ini akan memperlihatkan tingkat kepahaman anda dalam epistemologi.
       
      Lalu liat lagi kalimat dari komentar terakhir anda : Bukankah secara rasional, sumber empiris itu juga tidak layak jika bertentangan dengan sumber informatif yang akurat? (mutia). anda menyebutkan 2 sumber : yaitu sumber empiris dan sumber informatif, padahal informatif bukan lah sumber pengetahuan tapi bentuk yang dipilih dalam transfer pengetahuan , para filsuf muslim menyebutkan sumber pengetahuan itu empiris, rasional, dan wahyu. Ini juga pendapat ku dalam diksusi kita. Ketiga sumber pengetahuan itu butuh bahasa untuk dipahamkan kepada orang lain, maka ketiganya akan informatif. Aku harap klaim anda paham epistemologi menjadi cita2 anda, bukan kenyataan anda saat ini.
       
      Mutia yg baik, jika pun kesediaan anda berdiskusi tentang syiah pudar itu tidak bermakna apapun, masyarakat Aceh mulai banyak mengalami perkembangan, keterbukaan, dan terbiasa dengan dialog pengetahuan. so, tidak sedikit pun memberi dharurat kepada kami. Hanya jika anda selalu punya waktu berdiskusi, anda akan mendengar secuil informasi yg belum pernah anda ketahui selama ini, dan itu baik bagi anda sebagai pelajar. Dan jangan lupa, aku sedang berdiskusi dengan anda, bukan dengan yusuf qardhawi. Itulah sebabnya selama berdiskusi dengan anda aku tidak perlu menumpang pada nama2 besar orang lain, baik dari ulama sunni maupun ulama syii. Aku menyampaikan apa yg ku liat dan apa yg ku pahami tentang issu2 yg kita bahas, bahwa kemudian anda meyakini apa yg ku liat dan ku pahami berbeda dengan qardhawi liat dan qardhawi pahami, lalu anda lebih mempercayai qardhawi itu hak anda, sama seperti hak anak kandung qardhawi yg tidak mau mempercayai qardhawi hingga memilih menjadi pendukung (syiah) keluarga nabi yg suci. 
       
      Menurut ku akan lebih adil jika setiap kita menyempatkan diri mempelajari syiah dari ulama sunni dan juga bertanya kepada ulama syiah sendiri. Tentu saja bertanya untuk tau versi mereka, bukan bertanya lalu mencurigai jawaban mereka pasti tidak jujur karena mereka bertaqiyah. Inilah yg paling aneh dari anda berdua (mutia & ridwan) jika anda meliat quran syiah dan sunni sama saja, anda katakan quran syiah pura2 saja (bertaqiyah) , jika anda bertanya kepada ulama syiah, lalu anda hakimi jawaban mereka tidak sebenarnya atau bertaqiyah.
       
      lalu anda sepenuhnya meyakini buku Lillah tsumma littarikh yg ditulis oleh sayyid husein musavi, yg mengaku-ngaku mendapat ijazah dari khu'i, tanpa perlu verifikasi apakah sayyid huseein musavi itu benar ada (bukan tokoh fiktif), kalau pun ada, apakah dia benar2 murid khu'i seperti pengakuannya. pernah gak anda berusaha mengetahui hal2 itu. terus terang, aku belum mendapatkan informasi akurat tentang penulis buku itu, tapi aku sudah membaca sebagian bukunya. Mungkin anda pernah bertemu dengannya ? atau pernah meliat dia di TV ? atau di tempat2 lain beberapa kali ? aku sendiri masih mencari informasi untuk verifikasi tentang sayyid musavi itu, baik jika anda punya dokumen visual tentang dia, itu akan menambah informasi bagi ku. Karena aku mempelajari syiah dari kedua belah pihak, aku mnedengar hujatan terhadap syiah sejak aku sekolah di SMP tapi aku baru sempat bertanya kepada orang syiah sendiri tentang syiah pertama sekali tahun 2003. Sebagai pelajar aku membuka diri dan berusaha mempercayai lawan diskusi. 
       
      Ada 2 hal lagi, yg patut anda ketahui karena relevan dengan diskusi kita. Pertama, tentang Taqiyah (aku menghindari membahas ini sebelumnya karena kita sedang membahas quran). Taqiyah itu bukan kewajiban, tapi membolehkan seorang syii non-marja' (bukan ulama) untuk menyembunyikan kesyiahannya  dalam keadaan nyawanya terancam jika ia menampakan dirinya syiah. Ini bukan aqidah, tapi sesuatu yg alami seperti alaminya seorang pengikut GAM menyembunyikan  identitasnya sebagai pendukung GAM di depan TNI pada masa perang dulu. Karena jika ia menampakan dianya syiah (pengikut) GAM, makanya nyawanya terancam. Hanya dalam kondisi nyawa terancam saja, seorang syii yg bukan ulama boleh bertaqiyah.  Kebiasaan taqiyah itu terjadi sejak Dinasti umayah membunuh cucu nabi Hasan dan Hussein dan para pengikut mereka. Diansti2 arab selanjutnya mengejar-ngejar syiah keluarga nabi, kecuali fathimiah yg mendirikan al-azhar tempat anda kuliah sekarang. Di aceh pun, dulu pernah ada masa seorang syiah terancam nyawanya atau dihalalkan darahnya, termasuk pada era ar-raniry. Namun setelah dunia islam membuka dialog sunni-syiah, maka sudah tidak ada alasan lagi untuk taqiyah.
       
      Hal ke dua yg perlu anda tau adalah syiah hanya mengikut ulama yg masih hidup, tidak lagi mengikut fatwa2 ulama yg sudah meninggal seperti tradisi orang2 sunni yg hidup sekarang pun masih melakukan ibadah berdasarkan kitab2 syafii, maliki dll. Seorang yg bermarja' kepada khomeini tidak lagi mengikuti fatwa2 khomeini sejak khomeini meninggal, keculai jika sejumlah fatwa khomeini masih disahkan oleh marja'2 sekarang misalnya oleh ali khamenei, itulah sebabnya dalam hal keilmuan tidak ada pengkeramatan atas satu kitab alkulaini, Ulama2 sekarang mengkritik beberapa hadis yg dianggap lemah dalam kitab alkulaini, itu hal biasa. Pelajar2 Qum semua tau khomeini ketika mengajar dalam kelas pernah dikritik oleh anaknya, Mustafa, dengan kritikan serius. Dalam hal pengetahun dalam dunia syiah sangat dinamis, tidak ada anggapan ulama terdahulu yg hidup berabad-abad sebelum kita tidak pantas dikritik, seperti tabunya mengkritik syafii dan shahih bukhari dalam dunia sunni. jadi anda tidak bisa membayangkan dunia syiah sama seperti tradisi keilmuan dunia sunni. Maka jika anda bicara tentang syiah saat ini, jangan panik jika anda temukan ada beberapa perbedaan pandangan ulama syiah saat ini dengan kitab2 yg anda baca yg dikarang oleh ulama2 terdahulu, itupun jika anda mang pernah membacanya. Aku berusaha mempercayai anda.
       
      jika kandidat jagoan anda menang jadi presiden PPMI, jangan lupa kabarkan berita baik itu ke kami2... :-)
       
      lanjotttt..       
       
        
       
       



      Pada 1 Agustus 2009 02:04, mutia aceh <cut_mutia_putri@ yahoo.com> menulis:
       

      Bismillah,,,

      Kepad Vande khususnya, dan kepada seluruh anggota milis ini umumnya, maaf lagi nih sangat terlambat balas, karena di Kairo lagi sibuk-sibuknya pemilihan presiden PPMI, maka elemen2 kecil seperti saya juga all out, untuk kebaikan bersama masisir setahun kedepan. Semoga ke depan lebih cepat tanggap. Tapi kesediaan saya menanggapi syiah di sini bisa  saja pudar, bahkan bisa hilang jika para pendukung syiah di milis ini tidak mencerna dengan baik apa yang telah kami tulis.

      Tidak mampu menangkap apa yang pihak lain sampaikan sungguh sangat fatal, jauh dari spektrum ilmiah. Misalnya, sebut saja si Vande yang telah menuduh Ridwan mengatakan Shahih Bukhari 1 jilid, padahal ridwan tidak mengatakan demikian, sesuai klarifikasi yang ia paparakan.

      Misalnya lagi, Vande mengatakan, "Cut adalah satu-satunya pelajar yang membuat klasifikasi informatif dan empiris sebagai dua hal yang dikontraskan." Ini lagi-lagi menunjukkan kemampuan Anda mencerna kurang, dan  parahnya, anda berani membangun tuduhan dari cernaan prematur tersebut.

      Baca saja lagi, saya tidak mengkontraskan keduanya. Karena saya juga alhamdulillah paham betul epistimologi, dan empiris juga salah satu sumber ilmu yang diakui. Oleh karena itu, ketika ada di antara kalian yang mengaku telah membolak-balik kitab kulaini, dan mengaku di dalamnya tidak ada data yang kami paparkan, bukankah saya bertanya, "Kalo memang anda telah-membolak- baliknya, mungkin pengamatan anda kurang cermat atau belum menyeluruh." Ini menunjukkan saya mengakui sumber empiris, tapi yang saya pertanyakan justru kemampuan si pembolak-balik buku, apakah ia telah cermat membolak-baliknya atau tidak. Jadi kekuatan empiris juga perlu dipertanyakan, tidak sembarangan.

      Nah, ketika saya menyatakan,  "Tampak penulisnya lagi-lagi hanya menggunakan keilmuan empiris." Ini bukan mengingkari sumber empiris, tapi secara ilmiah, empiris saja tidak cukup. Bukankah kekuatan sumber empiris juga perlu dipertanyakan? Bukankah secara rasional, sumber empiris itu juga tidak layak jika bertentangan dengan sumber informatif yang akurat?

      Dari pertanyaan inilah makanya saya memaparkan hal yang terkait Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Karena secara informatif, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan ulama-ulama kaliber internasional lainnya juga telah melewati fase2 empiris. Mereka telah melakukan observasi yang luas terhadap referensi-referensi utama syiah. Bahkan mereka juga telah melakukan dialog yang cukup panjang dengan pembesar-pembesar syiah. Yang ingin saya sampaikan dan tekankan, ulama-ulma itu berdasarkan kapasitas keilmuan empirisnya menginformasikan bahwa Syiah 12 meyakini Quran itu telah diselewengkan. Nah, sekarang, ada di antara kalian yang menginformasikan berdasarkan keilmuan empirisnya bahwa setelah membolak-balik kitab Kulaini, tidak ada data yang kami paparkan?? Bila kontradiktif, siapakah yang lebih layak untuk saya dan lainnya percaya??? Bila saya percaya kalian, maka seluruh ulama-ulama besar itu berbohong, ini berarti kalian mengajak kami untuk ikut-ikutan menuduh para ulama2 besar berbohong. Jika saya percaya ulama2 besar tersebut, maka kalianlah yang berbohong. Tapi dari pada menuduh kalian berbohong, makanya saya pertanyakan dulu, "Mungkin pengamatan dan obeservasi anda masih kurang." Jadi mohon diteliti ulang, supaya tidak sembarangan menyampaikan konklusi radikal.

      Jadi saya ingin menegaskan, terkait poin keotentikan Al-Quran, pernyataan kalian bahwa Al-Quran Syiah dan Sunni itu sama, itu memang benar secara realita saat ini. Tapi pembicaraan kita dari dulu bukan realita saat ini yang menipu itu, tapi justru pembicaraan kita tentang aqidah syiah 12 yang meyakini Al-Quran itu telah diselewengkan. Sedangkan banyak bukti menunjukkan bahwa persamaan Al-Quran saat ini merupakan taqiyyah (berpura2) dari syiah belaka, dan memang ada ajaran dari syiah bahwa al-quran yang lengkap akan dibawa imam mahdi nantinya, dan untuk sementara pakai yang seperti sunni dulu. Secara sumber2 informatif, dari berbagai referensi utama syiah juga menyatakan bahwa mereka yakin Al-Quran telah diselewengkan. Baca lagilah berbagai pemaparan kami sebelumnya.

      Pemaparan di atas menunjukkan bahwa klaim-klaim empiris yang kalian utarakan selama ini, masih lemah. Karena adanya hujjah-hujjah empiris yang lebih kuat yang dilakukan oleh para ulama-ulama Sunni. Dan selain empiris, kalian tidak memiliki bukti. Bahkan secara rasional, kalim kalian kontradiktif, karena berdasarkan informasi dari buku Dr. Muhammad Shallabi, tidak ada buku2 yang tersebar di Iran saat ini yang mengkritisi secara tegas kitab Al-Kafi, Bahrul Anwar dan lainnya, yang jelas-jelas menyatakan bahwa Syiah memiliki Quran yang berbeda dengan punya sunni. Ini kontradiktif yang tidak bisa diterima. Sehingga, klaim empiris kalian selama ini tertolak dan tidak bisa diterima.

      Oke, seandainya kalian tidak mengakui validitas ulama-ulama sunni, maka saya ambil sumber dari ulama Syiah yang telah masuk Sunni, setelah secara objektif ia mengkaji kebenaran antara Syiah dan Sunni. Namanya Sayyid Husein Mosavi. Ia mantan ulama besar Syiah yang telah berhak mendapatkan Khumus (1/5), yaitu uang yang berhak didapatkan oleh ulama syiah dari penganut syiah. Dia juga sering berinteraksi langsung dengan Khumaini, Al-Khu'i, Kasyiful Ghitha, dan pembesar-pembesar syiah lainnya. Setelah masuk sunni, ia menulis buku berjudul, "Lillah tsumma littarikh." (Untuk Allah kemudian untuk Sejarah). Bukunya bewarna jingga dan ada ditangan saya saat ini.

      Dalam buku ini, beliau mengupas tuntas kekeliruan2 fatal syiah. Salah satu pembahasan buku ini tentang Al-Quran. Beliau mengatakan bahwa Syiah beraqidah bahwa Al-Quran saat ini telah diselewengkan. Nah, dari sini, sumber empiris mana yang harus saya dan lainnya percaya? Apakah sumber empiris kalian (sepertinya orang sunni), yang hanya baru pergi ke Iran dan belum tentu berinteraksi luas dengan referensi2 syiah dan ulama2 syiah? Atau apakah saya dan lainnya lebih percaya pada sumber empiris salah satu Ulama syiah yang telah masuk sunni??

      Akhirnya, jika kalian tetap mengatakan Quran sunni itu sama, maka setidaknya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, kalian sama seperti orang-orang syiah di Iran saat ini yang mengaku bahwa Quran syiah dan sunni sama, padahal mereka memiliki keyakinan yang berbeda, berdasar banyak bukti yang ada. Kemungkinan kedua, dengan kapasitas keilmuan yang kalian miliki, kalian tertipu oleh pihak syiah yang menggunakan taqiyah, sehingga mereka mampu melakukan ekspansi fikrah syiah ke pihak-pihak sunni lebih luas.

      Saya beharap kalian berada pada kemungkinan kedua. Karena ketidaktahuan salah satu uzur syar'i yang dimaafkan oleh syariat. Tapi bila kalian berada pada kemungkinan pertama, maka kalian lebih pantas disebut munafik. Dalam spektrum kemungkinan pertama ini, jika kalian memang benar-benar ingin mempertahankan aqidah, maka usul saya sebagai umat nabi muhammad, kalian pelajari dulu secara objektif sunni secara mendalam dari  referensi dan ulama-ulamanya, dan kalian pelajari lagi syiah secara mendalam dari referensi dan ulama2nya. Sekali lagi, saya berharap kalian berada di kemungkinan kedua, sehingga akan lebih mudah untuk objektif dalam mengkaji sunni syiah. Wallahu a'lam.

      Allahumma inni ballaghtu, Allahumma fasyhad.

      Saleum;

      Cut Mutia



      --- On Wed, 7/29/09, vande charba <vande.charba@ gmail.com> wrote:

      From: vande charba <vande.charba@ gmail.com>
      Subject: Re: [IACSF] Ribut Syiah vs Sunni
      To: IACSF@yahoogroups. com
      Date: Wednesday, July 29, 2009, 4:15 AM

       

      Mutia yg baik, terimakasih dalam kesibukan anda telah menyempatkan diri melanjutkan diskusi.
      aku berusaha sedapat mungkin meringkas tanggapan agar peserta lain di milis ini yg pengen nimbrung baca atau respon, tidak bosan meliat teks2 yg terlalu panjang. karenanya aku hanya menanggapi bagian2 dari tulisan anda yang patut ku tanggapi karena anda tujukan untuk ku.
      anda : Kepada Vande: Terimakasih atas niatnya ingin memberi informasi lebih valid syiah. Tapi nyatanya penjelasan anda belum bersifat informatif, baru mengandalkan empiris. Sebut saja tentang Quran, Berulang kali saya dan Ridwan menginformasikan bahwa pihak syiah 12 meyakini Quran sekarang tidak lengkap, dan informasi kami ini ilmiah, dari buku-buku sunni dan juga dari referensi syiah langsung, seperti kitab alkafi dan lainnya. Sedangkan Vande dkk, cuma bisa berhujjah bahwa mereka udah lihat bahwa quran sunni syiah sama. Padahal, dalam referensi utama syiah sendiri mengatakan Quran sunni telah diubah.

      aku : ketika kamu katakan penjelasan ku belum bersifat informatif, baru mengandalkan empiris. kamu satu2nya pelajar yang membuat klasifikasi informatif dan empiris sebagai dua hal yg dikontraskan. klasifikasi pengetahun yang umum dimaklumi dalam epistemologi adalah ilmu empirikal dan ilmu rasional. baik empirikal maupun rasional akan bersifat informatif. Hal ini penting ku luruskan karena akan berpengaruh pada klaim ilmiah dari anda dan berpengaruh pada diksusi kita tentang keautentikan Quran. empiris dan informatif bukan hanya sekedar 2 kata, tapi konsep2 kunci dalam pengetahuan.
      ilmu konseptual mesti berbentuk informasi ketika hendak dipahamkan kepada orang lain, baik dalam bentuk buku, makalah, artikel, atau ceramah. informasi terdiri dari satu atau lebih proposisi, proposisi biasanya terdiri dari subjek, prediket, dan objek. Adapun empiris dan rasional adalah metode dan sumber pengetahuan, dan keduanya ilmiah. lalu ketika anda katakan syiah meyakini quran kaum muslimin saat ini tidak lengkap. pernyataan anda itu berbentuk informatif, sama halnya ketika aku katakan syiah meyakini quran kaum muslimin autentik, juga berbentuk informatif. Lalu pengetahuan dari siapa yg ilmiah ? aku pastikan anda menggunakan kata ilmiah secara sembarangan. sama sembarangannya ketika anda katakan empiris tidak informatif. Penggunaan kata secara sembarangan membuat anda saja yg dapat mengerti apa yg anda maksudkan.
      mohon anda jelaskan apa yang anda maksudkan dengan ilmiah ? sehingga aku akan paham ketika aku katakan aku sudah melihat quran milik syiah sama saja dengan quran orang aceh sebagai satu arugmentasi ianya menjadi tidak ilmiah ? sementara anda yang belum pernah meliat quran orang yang anda tuduh, menjadi lebih ilmiah? hanya karena anda mengklaim telah mengutip alkafi atau beberapa kitab lain dari ulama syiah.
      aku dan ridwan telah diskusi lebih maju soal ini. aku katakan dalam kitab ulama sunni pun ada keterangan2 yang menyatakan ada ayat yang dihilangkan, seperti dalam sahih bukhari jilid 8, halaman 26, bab Hudud. Di sana ada hadis dari Umar Ibn Khatab "demi Allah saya pernah membaca ayat : jangan lah kamu membenci orang-orang tua mu, jika kamu membenci orang-orang tua, maka kamu mnejadi kafir. saya tidak pernah lagi menemukan ayat itu sekarang" kata umar. Dan dalam Kitab 'Itqan (ulumul quran ) karya As-Sayuthi bab nasikh wa mansukh, aisyah berkata : " demi Allah, dulu kami membaca surat ahzab lebih 200 ayat, sekarang kami hanya membaca surat ahzab 73 ayat".
      Ridwan mengatkan shahih bukhari tidak berjilid, sementara aku liat shahih bukhari ada 8 jilid. Tapi oke lah jika ridwan belum dapat menemukan itu dalam kitab shahih bukhari, tapi ridwan mengatakan memang benar ada perkataan aisyah demikian seperti dalam kitab As-Sayuthi bahwa surat ahzab telah hilang minimal 127 ayat, karena sudah mansukh. padahal kita tau ayat yang dimansukh itu cuma hukumnya bukan ayatnya yg tidak ditulis lagi dalam quran (atau dihilangkan) .
      maka ku katakan kepada anda, para ulama baik dari sunni maupun syiah bersepakat quran kaum muslimin skarang auntentik/asli/ belum berubah. Jika pun ditemukan dalam kitab2 mana pun yang memberi keterangan berbeda, maka keterangan itu salah, jika bentuknya hadis maka maudhu'. itulah sebabnya mengapa quran sekarang sama saja yang dipegang oleh orang2 irak yg syiah dengan orang2 irak yg sunni. Apakah ini menurut anda tidak ilmiah ? hehehehe.. buat formula ilmiah baru versi anda.
      Terakhir, anda boleh menguitip yusuf qardhawi, tapi jadikan itu pendapat anda, jangan menumpang karena di sini tidak ada rumus : Yusuf qardhawi selamanya benar, siapa yang mengutip yusuf qardhawi maka dia akan benar. Keculai jika anda mau mendatangkan dia terlibat dalam diskusi kita, dengan senang hati kami akan berdiskusi dengannya lansung, tanpa melalui perantaraan anda.
      salam,
      Pada 29 Juli 2009 06:03, mutia aceh <cut_mutia_putri@ yahoo.com> menulis:

      Assalamualaikum

      Kepada haji umar, terimkasih banyak atas segala tangapannya.
      Kepad ridwan, sabar. Dakwah memang menuntut banyak kesabaran.
      Kepada Harry Ganusy, keseharian orang aceh dan syiah kedua-duanya perlu kita benarhi sekaligus. Keseharia perlu kita benahi, sehingga tidak ada orang bisa menuduh syariat Islam di aceh gadungan. Ini killing statemen yang menggugurkan seluruh kerja keras ulama aceh selama ini. Sedangkan mereka sendiri, masih hanya bisa menuding.

      Kepada Vande: Terimakasih atas niatnya ingin memberi informasi lebih valid syiah. Tapi nyatanya penjelasan anda belum bersifat informatif, baru mengandalkan empiris. Sebut saja tentang Quran, Berulang kali saya dan Ridwan menginformasikan bahwa pihak syiah 12 meyakini Quran sekarang tidak lengkap, dan informasi kami ini ilmiah, dari buku-buku sunni dan juga dari referensi syiah langsung, seperti kitab alkafi dan lainnya. Sedangkan Vande dkk, cuma bisa berhujjah bahwa mereka udah lihat bahwa quran sunni syiah sama. Padahal, dalam referensi utama syiah sendiri mengatakan Quran sunni telah diubah.

      Salah seorang di antara kalian juga menulis, "anda klaim mengutipnya dari al Kulaini, hingga sampai anda menyebutkan babnya, terkait hal itu. Padahal setelah dibolak-balik dari kitab itu, tidak ada pernyataan yang demikian. Percaya diri anda mungkin disebabkan oleh karena orang-orang (sunni) khususnya kalangan awam tidak punya dan bahkan tidak pernah melihat dan membaca kitab tersebut (kitab al Kafi, karya al Kulaini), sehingga mereka bisa percaya begitu saja. "

      Nah, dari paragraf kutipan di atas, tampak penulisnya lagi-lagi hanya menggunakan keilmuan empiris. Kalo memang anda telah-membolak- baliknya, mungkin pengamatan anda kurang cermat atau belum menyeluruh.

      Bila anda mengklain telah cermat, maka saya lebih percaya ulama-ulama besar dari pada Anda. Misalnya, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, seorang pemimpin organisasi ulama internasional yang mengayomi sunni dan syiah, beliau juga telah banyak melakukan dialog taqrib dengan syiah. Beliau tahu betul syiah itu dari berbagai sumbernya dan dari tokoh2 mereka langsugn. Apa yang dikatakan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi? Berdasarkan ilmu beliau mengatakan bahwa Kaum Syiah meyakini bahwa Quran itu telah diubah2 sunni. Sungguh ulama besar seperti beliau lebih layak dipercaya dari pada orang yang hanya mengaku telah membolak-balik al-kafi punya kulaini. Dan perlu saya tambahkan, tidak hanya Dr. Qaradhawi, semua buku ulama2 besar lainnya juga mengatakan hal yang sama. Apakah semua ulama itu berbohong hanya untuk memojokkan syiah? Ulama syiah sendiri yang telah masuk sunni, sayyid hasan mosavi pengarang buku lillah tsumma lit tarikh juga mengatkan syiah meyakini quran itu tidak lengkap, dan harus menunggu imam mahdi (versi syiah) untuk melengkapinya. Nah, siapakah yang lebih layak saya dan lainnya percaya, "Apakah orang yang mengaku telah membuka kitab Al-Kafi atau para ulama-ulama besar sunni dan syiah?"

      Terakhir: Vande mengatakan, "lebih dari itu kami hanya mengajarkan kepada mereka bagaimana cara berdiskusi yg baik."

      Maaf, diskusi yang baik versi kalian saya perhatikan justru tidak baik. Misalnya, cut dan ridwan telah mengungkapkan bukti2 bahwa syiah meyakini quran telah diubah, maka vande hanya bisa mengulang-ngulang argumen bahwa mereka udah beli Quran di iran dan ternyata sama. Kalian sendiri yang sering mengulang2 argumen, terus menuding ridwan yang mengulang2 jawaban. Cepak deh...

      ada satu lagi yang lebih parah cara diskusinya, entah si vande entar di vendra. Setelah cut dan ridwan memaparkan bukti dan berabagai referensi, kalian justru mengusulkan cara diskusi, "1. fokus pada masalah... 2. masing2 membawa dirinya..." Parahnya disini adalah, tentang fokus pada satu masalah udah disepakati sebelumnya, sehingga cut dan ridwan memfokuskan pada Quran. Eh setelah kami beri bukti, ditawarkan lagi cara diskusi, bukan malah menjawab bukti2 yang kami sodorkan. Capek des...

      Ada yang parah juga, yaitu membatasi pihak diskusi, Vande (kalo ga salah) dan Ridwan aja. Wah, cara diskusi seperti apa ini? Cut dikemanain? Bahkan, argumen cut dengan judul menyikap syiah juga tidak ditanggapi? Hey, diskusi seperti apa yang kalian pertontonkan? ? setelah cut dan ridwan memaparkan argumen tentang quran, bahkan ada yang mencoba mengalihkan pembicarakan kepersatuan umat islam, dan lainnya. Yah...

      Terus, kalian juga (para pembela syiah), sering memojokkan kami dengan kata-kata fanatik buta, dan mengatakan bahwa Tgk. Ridwan tidak layak diskusi. Padahal, fanatik atau tidak itu bukan berdasar klaim, tapi realita diskusi emang kami yang menulis berdasar referensi. Layak atau tidak diskusi, yang pentengkan isinya. Jangan ribut2 tentang layak atau tidaklah, orang2 bisa menilai hal ini.

      Maaf, cut tidak bermaksud membahas pihak yang berdiskui, karena kebenaran bisa disampaikan oleh siapa saja. Hanya saja, ada yang menuduh cara diskusi ridwan tidak benar, ada juga yang menuding fanatik buta, jadi ini hanya reaksi dari aksi kalian.

      Akhirnya, kalian ternyata memang tidak memiliki bukti kuat tentang pandangan syiah tentang Quran. Bila tanpa bukti tapi juga memperjuangkan bahwa quran syiah dan sunni sama, ini hanya menurut kalian. Sedangkan orang2 syiah meyakini hal yang berbeda. Bila kalian tetap meyakini hal yang berbeda dengan keyakinan syiah, inilah yang pantas disebut dengan fanatik buta. Bosan juga mengulang2 argumen yang sama, karena kalian mengulang2 argumen yang sama. selengkapnya dikit lagi, baca lagi di postingan cut yang berjudul, menyikapi syiah.

      Maaf, cut tidak bermaksud memojokkan kalian, tapi cut cuma berharap, agar kalian mempelajari agama dari ulama-ulama terpercaya, buku-buku yang mu'tamad, karena masalah syiah adalah masalah aqidah. Aqidah tidak hanya berdasarkan interaksi dan melihat, tapi butuh perjuangan. Bila kalian lihat quran di iran sama dengan punya kita, pertama itu bisa jadi taqiyyah, kedua, syiah 12 memang mengajarkan bahwa quran yang lengkap akan dibawa imam mahdi (Versi syiah), untuk sementara pake yang seperti sunni dulu. Semoga kalian bisa menghayati hal ini, dan mencari kebenaran dari ulama-ulama terpercara dan buku2 mu'tamad. Allahumma hal ballaghtu, Allahumma fasyhad.

      Sekian dulu
      Wassalam.

      --- On Mon, 7/27/09, vande charba <vande.charba@ gmail.com> wrote:

      From: vande charba <vande.charba@ gmail.com>
      Subject: Re: [IACSF] Ribut Syiah vs Sunni
      To: IACSF@yahoogroups. com
      Date: Monday, July 27, 2009, 2:03 PM


      kalo kawan ikut dari awal sebenarnya kawan akan tau kita bukan ribut soal mazhab.
      awalnya reza idria posting artikel masrianto tentang syariat nad versus Tuhan, lalu didiskusikan. tiba2 seorang pelajar aceh yg lagi ngaji di al azhar bernama mutia membajak diskusi itu dan mulai menyerang syiah. kami yg telah mempeljari syiah 5 tahun terakhir awalnya ga terlalu merespon, tapi mutia tiba2 sangat serius begitu khawatir orang2 aceh akan terpengaruh dengan syiah, dan akan sesat.
      lalu kami menjelaskan kepadanya hal2 yg dia tidak ketahui tentang syiah. posisi kami mengklarifikasi, agar informasi tentang syiah lebih valid dari sekedar tuduhan membabi buta dari orang yg mempelajari syiah dari buku2 sunni.
      lalu datang lah ridwan, juga pelajar aceh di mesir kembali menyerang syiah sebagaimana yg biasa ia lakukan sebelum2nya. . maka posisi kami adalah memberi penjelasan kepadanya tentang syiah, itu aja. lebih dari itu kami hanya mengajarkan kepada mereka bagaimana cara berdiskusi yg baik.
      so, bukan ribut sunni vs syiah, tapi masih ada orang yg bersedia meluangkan waktu untuk membagi pengetahuan tentang syiah ke pelajar2 aceh di mesir dan mungkin pembaca lain yg ingin mendalami tema ini.
      semoga tidak mengusik anda.. :-)

      Pada 27 Juli 2009 17:51, <murthala_lsm@ yahoo.co. id> menulis:

      Sangat2 setuju pendapat bung Harry.krn sesungguhnya itulah substansi keimanan

      Powered by Telkomsel BlackBerry®


      From: Harry Ganusy
      Date: Mon, 27 Jul 2009 02:46:17 -0700 (PDT)
      To: <IACSF@yahoogroups. com>
      Subject: [IACSF] Ribut Syiah vs Sunni

      Mengapa pula milis ini dipenuhi polemik adu argumentasi pembenaran syiah vs Sunni. Logikanya kalau kita perdebatkan satu topik, perlu kita sadari dan fahami dulu substansi, ide-ide, dan sistem nilai yg dikultuskan kelompok tersebut. Baru nyaman kita diskusi.

      Dari amatan adu argumentasi syiah vs Sunni. Kesan yg sy tangkap sepertinya mayoritas member milis ini pembela panji-panj ajaran Sunni. Sekarang mari kita jujur saja sudahkan kita di Aceh ini benar-benar dan sungguh-sungguh melaksanakan gagasan ajaran dan pemikiran ulama Sunni?, Rasanya BELUM. inilah problem khas orang Aceh suka sekali debatkan wacana, padahal realisasi wacana tsb msh dibawah 50%. Dg kata lain shalat jarang, sedekah kurang dan puasa kadang2 tp kalau dituding kafir, langsung blingsatan terbakar emosi dan marah-marah tak karuan. Padahal dari perilaku sehari-hari nyata sekali secara kasat mata,: Orang Aceh itu dalam keimanannya juga tidak bisa dikategorikan murni sunni atawa syiah. Orang pada waktu magrib, enak2e, duduk di warung kopi. Katanya negeri syariah tp para ABG di jalanna begitu cuek pake baju ketat dan pelukan erat sama lawan jenis dan muhrim. Nah, buat apa berbusa-busa pertentangkan sunni vs syiah?. Mgkn inilah sebabnya Islam di abad 20 ini selalu kalah di bidang ekonomi, politik dan teknologi. Bagaimana tidak, sesama umat aja asyik adu arumentasi cilet2.

      Jadi ngapain ribut2 terus sunni and syiah, kenapa tidak kita tertibkan dulu perilaku keseharian orang Aceh kini yg nyata2 tidak sesuai dengan A Quran dan Al Sunnah.







    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.