Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fw: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh

Expand Messages
  • Sunny
    ... From: tossi20 To: media-aceh@yahoogroups.com Sent: Friday, August 01, 2008 6:44 PM Subject: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh
    Message 1 of 3 , Aug 2, 2008
    View Source
    • 0 Attachment
       
      ----- Original Message -----
      From: tossi20
      Sent: Friday, August 01, 2008 6:44 PM
      Subject: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh

      http://www.ranesi. nl/arsipaktua/ indonesia060905/ demokrasi_ gaya_aceh2008080 1

      Membangun Demokrasi Gaya Aceh

       

      Radio Nederland Wereldomroep - Aboeprijadi Santoso 01-08-2008

      Membangun Demokrasi Gaya Aceh

       

      Partai-partai lokal Aceh dalam waktu dekat akan mengumumkan para calon legislatifnya. Para caleg baru dari enam parlok akan bertanding dengan caleg 39 partai nasional yang terwakili di Aceh. Golput, juga partai partai nasional, besar kemungkinan tak akan laku. Sebab, inilah pertama kali Aceh akan memilih parlemen dan pemerintahan sendiri. Sejumlah parlok bertekad membangun demokrasi dari bawah dan menjauhi politik premanismenya partai partai nasional.

       

      Ketika Ketua Delegasi RI Hamid Awaluddin berjalan di tepi sungai di belakang rumah perisitirahatan di Vantaa, di pinggir Helsinki pada Juli 2005, Ketua Delegasi Gerakan Aceh Merdeka GAM Malik Mahmud menangis. Dia mengimbau agar Aceh diizinkan punya partai lokal. GAM bersedia melepas tuntutan kemerdekaan, tapi biarkan Aceh memiliki "kendaraan sendiri." Demikian desak Malik seperi diceritakan Hamid dalam bukunya Damai di Aceh. Malik mendapat dukungan Marttii Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia dan mediator yang berwibawa itu.

       

      Sebaliknya, Hamid hampir putus asa karena justru parlok itulah yang pagi-pagi telah ditolak Jakarta dan membuat perundingan terancam gagal. "Pokoknya, Mbang, nggak ada cerita partai lokal!" begitu pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Mayjen Bambang Dharmono kala itu. SBY konon sampai mengirim fax sebelas kali berisi penolakan, koreksi dan kompromi, khusus tentang parlok. SBY, Wapres Jusuf Kalla, si perintis perdamaian, dan Hamid Awaluddin akhirnya mendapat penegasan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan bahwa partai lokal tidak dengan sendirinya bertentangan dengan konstitusi. Akhirnya, Jakarta setuju dan gol lah tuntutan parlok tsb dalam MoU Helsinki.

       

      Cerita itu menunjukkan betapa Jakarta cemas dan curiga terhadap itikad GAM melalui parlok. Kini, tiga tahun kemudian, kekhawatiran Jakarta terhadap parlok sebagai kendaraan untuk referendum Aceh, masih kuat, terutama di Cilangkap dan Senayan. Tapi TNI dan DPR harus mengakui, aspirasi parlok itu telah meluas di Aceh, tidak hanya di kalangan GAM. Dan GAM, melalui sosok barunya, Partai Aceh, pun siap memetik buah dari legitimasi yang ditanamnya di Helsinki.

       

      Kuatnya aspirasi lokal di Aceh kini tampak dari cara cara parlok Aceh menanggapi isu golput dan menyiapkan para calegnya. Berikut suara wakil parlok-parlok Aceh dalam temu wicara dengan KBR Antero belum lama lalu.

       

      Soal golput
      Kecenderungan golput itu ketika rakyat tidak melihat akan ada alternatif. Ketika rakyat tidak melihat akan ada jalan keluar, ada perubahan. Sekali lagi saya tegaskan mari kemudian kita memberi jalan keluar kepada rakyat.

      Sulit membayangkan Golput akan bergaung seperti di Jawa Timur ketika Aceh memanfaatkan peluang untuk membuka halaman baru provinsi yang merasa pernah dizalimi Jakarta ini.

       

      Soal perubahan
      Rakyat Aceh ini adalah pemilih yang cerdas. Ketika yang lama dilihat sudah tidak bisa dipakai lagi, dia akan memilih yang baru. Setiap yang baru adalah perubahan, adalah harapan dan inilah yang kemudian yang harus kita yakini sebagai sebuah perubahan yang akan terjadi di Aceh dan tetap menjaga perdamaian dengan MoU.

      Juga cara cara menyiapkan calon calon legislatif, atau caleg, mencerminkan aspirasi membangun politik demokrasi dari bawah

       

      Soal caleg
      Caleg-caleg era ini dites, diuji, diusulkan oleh mereka. Memperkuat kwalitas dengan memberikan pemahaman-pemahaman . Dan kita memberikan kontrak politik, supaya caleg kita ini tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dari partai-partail nasional yang lama.

       Kami menjaring dari tokoh-tokoh yang tumbuh dalam masyarakat, sehingga mereka betul-betul terwakilkan dari masyarakat. Jadi dengan demikian mereka sendiri yang memilih utusan yang dikirim dari wilayah kepada pusat. Kami mencoba mengaplikasi persentase itu 30% untuk orang GAM, apakah dia kombatan atau bukan, kemudian 30% untuk wanita, selebihnya itu untuk masyarakat dan ulama.

      Kemudian kriteria yang paling penting adalah taat dan setia kepada partai. Yang kedua profesionalisme, yang ketiga akhlak-ulkarimah. Yang keempat setiap figur yang dicalonkan menjadi teladan bagi rakyat itu sendiri. Dia menampung aspirasi rakyat, mereka dapat membaca Al-Quran dan berpidato.

       

      Menurut sebuah sumber dari luar Partai Aceh yang merupakan sosok baru GAM, sebagian besar dari 17 mantan Panglima Wilayah dan ratusan Panglima Sago akan duduk dalam kepengurusan partai di daerah, tapi tidak harus menjadi caleg. Para caleg akan diserap dari anggota-anggota partai melalui pendidikan politik dari desa ke desa.

       

      Sementara itu, banyak petinggi GAM menjadi elit baru yang merambah keuntungan politik dan bisnis. Ketua Majelis GAM, Tengku Mohammad Usman Lampoh Awe, kepada Radio Nederland Wereldomroep, belum lama lalu mengibaratkan GAM seperti kapal yang harus tetap menuju tujuan ketika kapal tersebut tengah oleng.

       

      Tengku Mohammad Usman Lampoh Awe: Kapten ini melihat kapal kecil ada ombak dari depan, ada angin dari samping dia ribut di belakang. Bawa bukan ke sana, kapten yang benar nggak perlu tahu itu, omongan protes dan sebagainya. Ini nggak demokrasi itu, nggak ada demokrasi di laut nih. Kapten punya hak, dua kali lagi ribut, tolak dia ke laut. Itu hukum dari nabi Yunus sudah ada dulu. Kita jalan terus lemparkan pelampung, nanti kalau dia masih selamat kita ambil. Kapal jalan terus

      ... 

    • Geulanteu
      http://www.republika.co.id/launcher/view2/mid/161/news_id/1164 Dunia Islam Jejak Islam 2008-07-23 10:10:00 Dinasti Penguasa Khwarizmia Di era kejayaannya,
      Message 2 of 3 , Aug 3, 2008
      View Source
      • 0 Attachment
        http://www.republika.co.id/launcher/view2/mid/161/news_id/1164
        Dunia Islam >> Jejak Islam
        2008-07-23 10:10:00

        Dinasti Penguasa Khwarizmia


        20080723100214

        Di era kejayaannya, wilayah Khwarizmia sempat dikuasai sebuah kerajaan bernama Dinasti Khwarizmi. Tak jelas betul, kerajaan itu berdiri. Yang jelas, dinasti itu didirikan oleh Anush Tigin Gharcai - seorang bekas budak Sultan Seljuk yang ditunjuk sebagai Gubernur Khwarizmia. Kerajaan Khwarizmi hanya mampu bertahan hingga tahun 1220 M, setelah dihancurkan pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan.

        Sejak tahun 992 M hingga 1041 M, wilayah itu dikuasai Kerajaan Ghaznavid. Namun, pada tahun 1077 M, Khwarizmia berhasil ditaklukkan Dinasti Seljuk. Sejak saat itu, sultan Seljuk menugaskan Anush Tigin Gharcai sebagai gubernur di provinsi Khwarizmia. Pada tahun 1141 M, Sultan Seljuk, Ahmed Sanjar dikalahkan Kara Khitay. Cucu Anush Tigin, Ala Ad-Din Aziz terpaksa bergabung ke Kara Khitay.

        Sultan Ahmed Sanjar pada tahun 1156 M terbunuh, ketika negara Seljuk mengalami chaos. Momen itu dimanfaatkan para penguasa Khwarizmi untuk mengembangkan wilayah kekuasaannya ke selatan. Pada tahun 1194 M, sultan terakhir Kerajaan Seljuk, Togrull III dikalahkan penguasa Khwarizmia, Ala ad-Din Tekish. Selain menyudahi kekuasaan Seljuk, dia juga membebaskan diri dari pengaruh Kara Khitay.

        Memasuki abad ke-12 M, Tekish meninggal dunia dan digantikan puteranya Ala ad-Din Muhammad. Di era kekuasaan Ala Ad-Din Muhammad itulah seluruh kekuasaan Seljuk Raya berhasil ditaklukkan. Dia kemudian mendaulat dirinya sebagai Shah - gelar raja Persia. Ala Ad-Din Muhammad pun sangat dikenal sebagai Shah Khwarizmi. Wilayah kekuasaan Kerajaan Khwarizmi semakin meluas, ketika pada tahun 1212 M, dia mengalahkan Gur-Khan Kutluk dan menguasai tanah Kara Khitay.

        Wilayah kekuasaan Kerajaan Khwarizmi pun membentang mulai dari Syr Darya hingga Baghdad dan dari Sungai Indus hingga ke Laut Kaspia. Sayangnya, kekuasaan Kerajaan Khwarizmi tak mampu bertahan lama. Pada tahun 1218 M, Jengis Khan mengirimkan duta perdagangannya ke negara yang tengah maju dan berkembang pesat itu. Namun, pemerintahan Khwarizmi menolak tawaran dagang dari penguasa Dinasti Mongol itu.

        Jengis Khan yang dikenal sosok brutal dan sadis pun menuntut pertanggungjawaban Shah Khwarizmi. Invasi pun dilakukan. Tak kurang dari 200 ribu pasukan Mongol menyerbu wilayah kekuasaan Kerajaan Khwarizmi. Dalam waktu dua tahun, kawasan Asia Tengah dikuasai dan ditaklukkan tentara Mongol. Wilayah-wilayah penting dalam peradaban Islam seperti, Bukhara, Samarkand, dan ibu kota Khwarizmia, Urgench dihancurkan. Sultan Ala Ad-Din Muhammad mencoba menyelamatkan diri dari serangan ganas pasukan Jengis Khan itu dan beberapa pekan kemudian wafat di sebuah pulau di Laut Kaspia. Putera Sultan Ala Ad-Din Muhammad, Jalal Ad-Din Manguberdi pun menggantikan posisi ayahnya sebagai sultan baru. Namun, dia menolak menggunakan gelar shah.

        Sultan Jalal Ad-Din pun mencoba untuk menyelamatkan diri dari kepungan tentara Mongol dengan melarikan diri ke India. Upaya untuk lolos dari kejaran tentara Mongol tak berlangsung mulus. Dalam Pertempuran Indus, sang sultan kalah. Namun, Jala Ad-Din berhasil meloloskan diri ke Kesultanan Delhi.

        Ketika Khwarizmia dihancurkan Mongol, penduduk di wilayah itu memilih menjadi tentara bayaran di Irak utara. Para tentara bayaran asal Khwarizmia itu sempat disewa Salih Ayyub, Sultan Dinasti Ayyubiah yang berpusat di Mesir untuk melawan Salih Ismail. Tentara bayaran dari Khwarizmia itu terlibat dalam Perang Salib. Berkat kekuatan tentara Khwarizmia, umat Islam mampu menguasai Yerusalem hingga tahun 1917 M - ketika Inggris mengambilalihnya dari Kerajaan Usmani Turki. hri/yto
        Foto: twccenter.net

        ()

      • Sunny
        ... From: Din Saja To: media-aceh@yahoogroups.com Sent: Sunday, August 03, 2008 2:55 PM Subject: Re: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh Pak Tabrani
        Message 3 of 3 , Aug 4, 2008
        View Source
        • 0 Attachment
           
          ----- Original Message -----
          From: Din Saja
          Sent: Sunday, August 03, 2008 2:55 PM
          Subject: Re: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh


          Pak Tabrani Yunis,
          Semoga Anda selalu dalam keadaan sehat lahir dan batin.
          Saya kagum dengan cara Anda memandang, tentang apa saja. Bahkan Anda begitu giat "membangun" kaum perempuan di Aceh.
          Namun untuk pendapat Anda seperti, Oleh sebab itu, selayaknya Jakarta juga merubah mindset. Bisa melihat Aceh secara rasional, bukan secara emosional dan bersikap paranoid. Saya berpikir tidak sebagaimana yang Anda katakan itu. Justru saya memandang bahwa Jakarta, entah siapakah yang dimaksud dengan Jakarta itu, tidaklah sebagaimana yang dibayangkan selama ini. Saya hanya berpikir "positif", bahwa siapapun Jakarta itu pastilah punya nurani dan memandang semua manusia itu pasti punya tujuan untuk selalu berbuat baik. Dengan begitu banyaknya (orang-orang) Jakarta datang dan membantu, baik itu tenaga, pikiran, juga uang, itu menandakan bahwa mereka juga punya sifat yang baik. Itu hanya pandangan saya kok. Anda punya pandangan sebagaimana dikatakan itu, baik saya sah-sah saja. Saleum hormat untuk Anda.

          --- On Sat, 8/2/08, CCDE Banda Aceh <ccde.aceh@gmail. com> wrote:
          From: CCDE Banda Aceh <ccde.aceh@gmail. com>
          Subject: Re: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh
          To: media-aceh@yahoogro ups.com
          Date: Saturday, August 2, 2008, 10:52 PM

          Rekan-Rekan Yth,

          Perubahan Politik di Aceh saat ini saya lihat sebagai sebuah perubahan
          yang strategis bagi kehidupan kita di Indonesia. saya melihat paling
          tidak, pembangunan demokrasi di Aceh saat ini bisa kita jadikan
          sebagai laboratorium politik bagi Indonesia. Oleh sebab itu,
          selayaknya Jakarta juga merubah mindset. Bisa melihat Aceh secara
          rasional, bukan secara emosional dan bersikap paranoid.

          Saat ini rakyat Aceh sedang belajar menikmati damai yang sedang
          bersemi di Aceh. Semoga suasana hiruk pikuk pertarungan politik di
          Indonesia dan Aceh tidak mengembalikan Aceh ke suasana konflik yang
          memilukan.

          salam damai

          Tabrani Yunis

          On 8/1/08, tossi20 <tossi20@yahoo. com> wrote:
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > http://www.ranesi. nl/arsipaktua/ indonesia060905/ demokrasi_ gaya_aceh2008080 1
          >
          >
          >
          > Membangun Demokrasi Gaya Aceh
          >
          >
          >
          > Radio Nederland Wereldomroep - Aboeprijadi Santoso 01-08-2008
          >
          > Membangun Demokrasi Gaya Aceh
          >
          >
          >
          > Partai-partai lokal Aceh dalam waktu dekat akan mengumumkan para calon
          > legislatifnya. Para caleg baru dari enam parlok akan bertanding dengan caleg
          > 39 partai nasional yang terwakili di Aceh. Golput, juga partai partai
          > nasional, besar kemungkinan tak akan laku. Sebab, inilah pertama kali Aceh
          > akan memilih parlemen dan pemerintahan sendiri. Sejumlah parlok bertekad
          > membangun demokrasi dari bawah dan menjauhi politik premanismenya partai
          > partai nasional.
          >
          >
          >
          >
          >
          > Ketika Ketua Delegasi RI Hamid Awaluddin berjalan di tepi sungai di belakang
          > rumah perisitirahatan di Vantaa, di pinggir Helsinki pada Juli 2005, Ketua
          > Delegasi Gerakan Aceh Merdeka GAM Malik Mahmud menangis. Dia mengimbau agar
          > Aceh diizinkan punya partai lokal. GAM bersedia melepas tuntutan
          > kemerdekaan, tapi biarkan Aceh memiliki "kendaraan sendiri." Demikian desak
          > Malik seperi diceritakan Hamid dalam bukunya Damai di Aceh. Malik mendapat
          > dukungan Marttii Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia dan mediator yang
          > berwibawa itu.
          >
          >
          >
          > Sebaliknya, Hamid hampir putus asa karena justru parlok itulah yang
          > pagi-pagi telah ditolak Jakarta dan membuat perundingan terancam gagal.
          > "Pokoknya, Mbang, nggak ada cerita partai lokal!" begitu pesan Presiden
          > Susilo Bambang Yudhoyono kepada Mayjen Bambang Dharmono kala itu. SBY konon
          > sampai mengirim fax sebelas kali berisi penolakan, koreksi dan kompromi,
          > khusus tentang parlok. SBY, Wapres Jusuf Kalla, si perintis perdamaian, dan
          > Hamid Awaluddin akhirnya mendapat penegasan Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan
          > bahwa partai lokal tidak dengan sendirinya bertentangan dengan konstitusi.
          > Akhirnya, Jakarta setuju dan gol lah tuntutan parlok tsb dalam MoU Helsinki.
          >
          >
          >
          > Cerita itu menunjukkan betapa Jakarta cemas dan curiga terhadap itikad GAM
          > melalui parlok. Kini, tiga tahun kemudian, kekhawatiran Jakarta terhadap
          > parlok sebagai kendaraan untuk referendum Aceh, masih kuat, terutama di
          > Cilangkap dan Senayan. Tapi TNI dan DPR harus mengakui, aspirasi parlok itu
          > telah meluas di Aceh, tidak hanya di kalangan GAM. Dan GAM, melalui sosok
          > barunya, Partai Aceh, pun siap memetik buah dari legitimasi yang ditanamnya
          > di Helsinki.
          >
          >
          >
          > Kuatnya aspirasi lokal di Aceh kini tampak dari cara cara parlok Aceh
          > menanggapi isu golput dan menyiapkan para calegnya. Berikut suara wakil
          > parlok-parlok Aceh dalam temu wicara dengan KBR Antero belum lama lalu.
          >
          >
          >
          > Soal golput
          > Kecenderungan golput itu ketika rakyat tidak melihat akan ada alternatif.
          > Ketika rakyat tidak melihat akan ada jalan keluar, ada perubahan. Sekali
          > lagi saya tegaskan mari kemudian kita memberi jalan keluar kepada rakyat.
          >
          > Sulit membayangkan Golput akan bergaung seperti di Jawa Timur ketika Aceh
          > memanfaatkan peluang untuk membuka halaman baru provinsi yang merasa pernah
          > dizalimi Jakarta ini.
          >
          >
          >
          > Soal perubahan
          > Rakyat Aceh ini adalah pemilih yang cerdas. Ketika yang lama dilihat sudah
          > tidak bisa dipakai lagi, dia akan memilih yang baru. Setiap yang baru adalah
          > perubahan, adalah harapan dan inilah yang kemudian yang harus kita yakini
          > sebagai sebuah perubahan yang akan terjadi di Aceh dan tetap menjaga
          > perdamaian dengan MoU.
          >
          > Juga cara cara menyiapkan calon calon legislatif, atau caleg, mencerminkan
          > aspirasi membangun politik demokrasi dari bawah
          >
          >
          >
          > Soal caleg
          > Caleg-caleg era ini dites, diuji, diusulkan oleh mereka. Memperkuat kwalitas
          > dengan memberikan pemahaman-pemahaman . Dan kita memberikan kontrak politik,
          > supaya caleg kita ini tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dari
          > partai-partail nasional yang lama.
          >
          > Kami menjaring dari tokoh-tokoh yang tumbuh dalam masyarakat, sehingga
          > mereka betul-betul terwakilkan dari masyarakat. Jadi dengan demikian mereka
          > sendiri yang memilih utusan yang dikirim dari wilayah kepada pusat. Kami
          > mencoba mengaplikasi persentase itu 30% untuk orang GAM, apakah dia kombatan
          > atau bukan, kemudian 30% untuk wanita, selebihnya itu untuk masyarakat dan
          > ulama.
          >
          > Kemudian kriteria yang paling penting adalah taat dan setia kepada partai.
          > Yang kedua profesionalisme, yang ketiga akhlak-ulkarimah. Yang keempat
          > setiap figur yang dicalonkan menjadi teladan bagi rakyat itu sendiri. Dia
          > menampung aspirasi rakyat, mereka dapat membaca Al-Quran dan berpidato.
          >
          >
          >
          >
          >
          > Menurut sebuah sumber dari luar Partai Aceh yang merupakan sosok baru GAM,
          > sebagian besar dari 17 mantan Panglima Wilayah dan ratusan Panglima Sago
          > akan duduk dalam kepengurusan partai di daerah, tapi tidak harus menjadi
          > caleg. Para caleg akan diserap dari anggota-anggota partai melalui
          > pendidikan politik dari desa ke desa.
          >
          >
          >
          > Sementara itu, banyak petinggi GAM menjadi elit baru yang merambah
          > keuntungan politik dan bisnis. Ketua Majelis GAM, Tengku Mohammad Usman
          > Lampoh Awe, kepada Radio Nederland Wereldomroep, belum lama lalu
          > mengibaratkan GAM seperti kapal yang harus tetap menuju tujuan ketika kapal
          > tersebut tengah oleng.
          >
          >
          >
          > Tengku Mohammad Usman Lampoh Awe: Kapten ini melihat kapal kecil ada ombak
          > dari depan, ada angin dari samping dia ribut di belakang. Bawa bukan ke
          > sana, kapten yang benar nggak perlu tahu itu, omongan protes dan sebagainya.
          > Ini nggak demokrasi itu, nggak ada demokrasi di laut nih. Kapten punya hak,
          > dua kali lagi ribut, tolak dia ke laut. Itu hukum dari nabi Yunus sudah ada
          > dulu. Kita jalan terus lemparkan pelampung, nanti kalau dia masih selamat
          > kita ambil. Kapal jalan terus
          >
          > ...
          >
          >

          --
          ============ ========= =======
          Center for Community Development and Education (CCDE)
          Jl. Tgk.Chik Lr. E.No.18 Beurawe
          PO. Box 141 Banda Aceh 23001
          Indonesia
          Telp. +62 651 7428446
          Email. ccde.aceh@gmail. com
          Web : www.ccde.or. id

        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.