Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [IACSF] Re: GUBERNUR IRWANDI BERTEMU TOKOH MASYARAKAT GAYO

Expand Messages
  • Ali Al Asytar
    Anggapan anda yang keliru itu sudah dijelaskan oleh saudara Winwannur. Justru itu takperlu saya tanggapi. Kecuali persoalan memerdekakan Acheh saja. Anda
    Message 1 of 3 , May 1, 2008
    • 0 Attachment
      Anggapan anda yang keliru itu sudah dijelaskan oleh saudara Winwannur. Justru itu takperlu saya tanggapi. Kecuali persoalan memerdekakan Acheh saja. Anda sepertinya memiliki keyakinan Acheh akan merdeka dengan cara yang sedang ditempuh Irwandi - Nazar, semendara keyakinan saya justru Irwandi - Nazar telah membawa Acheh kembali ke nol lagi (baca Otonomi). Merewka memang telah merebut kekuasaan tapi dibawah kekuasaan musuh. Justru itu kekuasaan seperti itu sedikitpun tidak bermanfaat buat rakyat jelata, kecuali buat Irwandi cs dan keluarganya masing-masing. Sepakterjang yang mereka perlihatkan terindikasi, itu bukan perdamaian tapi menyerah kepada musuh. Saya yakin anda tidak mampu mencerna pernyataan saya ini disebabkan anda barangkali masih berada dalam orbitnya system Indonesia yang dhalim dan Hipokrit. Maaf andaikata prediksi saya
      ini salah.

      6 ayat dari surah yasin yang saya ikutkan sebagai penutup tulisan itu, secara tersurat memang tidak ada hubungannya dengan apa yang saya bahas tapi secara tersirat. Walaupun sebetulnya fungsi ayat-ayat itu sebagai pendamping mottonya. saja.

      Secara filosofis, siapapun yang bersatupadu dalam system Thaghut kecuali taqiyah, mereka termasuk orang-orang yang mengikuti langkah syaithan. Mereka terkena dengan surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47. Mereka berada diluar Islam. Justru utu perlu kita ingatkan tempelakan Allah kelak dengan ayat-ayat tersebut,

      Filosofis disini bermakna hakikat. yang sebenarnya. Filosofis berasal dari kata filsafat, Filsafat satu tingkat lebih tinggi dibandingkan ilmu biasa. Justru itu orang yang berilmu disebut imuwan sedangkan orang yang (mampu) berfilsafat disebut Filosof, yang berarti ahli fikir. Kalau kita tidak mampu berfikir secara filkosofis, kita tidak mampu memahami
      bahwa orang-orang yang bersatupadu dalam system Indonesia itu adalah diluar Islam. Kita hanya melihat bahwa orang tersebut selalu shalat, malah khatib lagi atau malah Haji lagi macam Suharto. Ini ada hubungannya sedikit dengan apa yang sedang diperdebatkan Razali Paya alias omputeh, Novendra, Rima dan lain-lainnya. (meunjena njeng saket ulee lam kawannjan, hek teuh).


      Diatas filsafat itu masih ada satu tingkat lagi dan ini adalah tingkat yang tertinggi, yaitu ilmu Hikmah(QS. Jum'h 2). Ilmu dan filsafat adalah producnya intelek manusia. Dari itu kalau tidak kita dasarkan dengan Qur-an sebagai pedoman Hidup yang dikirim Allah akan keluar dari relnya Islam. Filsafat Yunani adalah product ahli pikir Yunani yang bertentangan dengan Qur-an, dengan Islam. Ahli fikir Islam mendasarkan filsafatnya dengan Qur-an, maka dsisebut Filsafat Islam sedangkan orangnya disebut Filosof Islam seperti Mulla Sadra dari Iran.

      Yang harus diingat disini
      bahwa kendatipun seorang filosof mendasarkan jalan pikirannya dengan Al Qur-an masih belum apa -apa. Mereka adalah termasuk dalam katagory manusia-manusia berwajah "pucat". Filosof sebagaimana Ilmuan, netral terhadap kondisi lingkungannya yang korup dan anianya. Di Acheh, Indonesia dan negara negara Asia - Afrika yang mayoritas penduduknya mengaku beragama Islam, banyak sekali filosofnya tapi mereka bekerja sama dengan penguasa Dhalim yang menindas rakyatnya. Justru para Ideologlah yang merobah realita kepada kebenaran. Para Ideologlah yang menggerakkan massa akar rumput, kaum dhu'afa untuk melawan kedhaliman. Senmua para Rasul dan para Imam adalah Ideolog. Mereka adalah manusia-manusia yang berwajah "merah". Apa kelebihan Ideolog? Mereka memiliki ilmu hikmah, yakni ilmu kesadaran. Ilmu yang diturunkan Allah kepada para Rasul dan para Imam. Ilmu tersebut adalah sinar yang menerangkan segala jenis ilmu-ilmu lainnya. Ilmu tersebut diturunkan di
      "Masy'arul haram", malamnya. Sedangkan ilmu-ilmu lainnya termasuk filsafat diturunkan di "Arafah". siangnya.

      Secara filosofis, manusia 'ideal' adalah, bermula di A'rafah (tahap ilmu pengetahuan), lalu menuju Masya'r (tahap kesadaran), dan terus ke Mina (tahap keyakinan cinta dan aksi).

      Selanjutnya perhatikanlah perbandingan berikut:

      1. Filosof, bermula dari A'rafah dan tetap di A'rafah, tidak pernah beranjak ke mana-mana.
      2. Sufi, bermula di Mina dan juga tetap di Mina, tidak pernah beranjak ke mana-
      mana
      3. Islam sejati, bermula di A'rafah, lalu ke Masya'r terus ke Mina. (Sistematis, Optimis, Kreatif dan Dinamis

      Selanjutnya marilah kita ber Afala ta`qilun dan Afala yatazakkarun!

      Semua Rasul Allah/Utusan Allah adalah Idiolog-idiolog. Kepada mereka diamanahkan untuk menghidupkan/ merealisasikan kekuasaan Allah di atas permukaan planet Bumi ini. Setelah priode mereka berakhir, amanah tersebut diteruskan oleh Imam-Imam/U'la ma Warasatul Ambia'. Mereka itu semuanya adalah Idiolog-Idiolog Islami. Islam yang memiliki ilmu pengetahuan (A'rafah) serta memiliki kesadaran suci (Masya'r) untuk apa sesungguhnya hidup di dunia ini, beraksi, bertempur (Mina) untuk menumbangkan system Thaghut di permukaan Bumi ini, lalu menggantikan dengan system Allah (Kedaula tan Allah). "Qulja al haqqu wazahaqal bathil innal bathil lakana zahuqa" ( QS. 17 ; 81 ).

      Sedangkan para Filosof asik membangga-banggakan ilmu pengetahuannya, merasa sejuk dan aman hidup dibawah kekuasaan Thaghut Dhalim dan Munafiq sekalipun, dan membiarkan Kaum Dhua'fa merintih di gubuk-gubuk reot dan menahan beban hidup yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sementara para Sufi juga asik dengan angan-angan mereka untuk menggapai Syurga. Betulkah? Tunggu dulu.

      Bagaimana mungkin semudah itu bisa dapat Syurga, dengan berkomatkamit membaca "mentera-mentera", membisikkan kata-ka ta Syurga ketelinga pengikut-pengikutnya, tanpa berjuang sama-sekali untuk membebaskan kaum Dhua'fa dari belenggu penindasan dan penjajahan, sebagaimana yang di diperjuangkan para Rasul, para Imam dan para U'lama Warasatul Ambia' (Pemimpin Kaum Dhua'fa). "Afala ta'qilun? Afala yatazakkarun?".

      Sebagai penutupo, renungkanlah tempelakan Allah ini agar kita memposisikan diri dalam barisan "habikl-habil" untuk menentang "qabil-qabil":

      "Bukankah sudah kusampaikan kepadamu hai bani Adam agar kamub tidak
      mengikuti langkah-langkah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu musuh
      yang nyata bagi kamu. Tundukpatuhlah kepadaKu, inilah jalan yang
      selurus-lurusnya. Betapa banyak sudah manusia yang rugi karenanya,
      apakah kamu tidak berpikir? Inilah Neraka Jahannam yang dahulu kamu
      diancam denagnnya. Masuklah kamu hari ini kedalamnya, disebabkan kamu
      dahulu mengingkarinya. Hari ini ditutup mulut kamu, tangan dan kaki
      diminta persaksian terhadap apa yang telah kamu kerjakan dahulu"
      (QS.38 : 60 - 65)

      (alstr - Acheh)




      -- In IACSF@yahoogroups. com,
      muhammad hadi <hadi_hukum@ ...> wrote:
      >
      > Anda terlalu banyak berteori Bung Ali Al Asytar...zaman sekarang ini
      bukan kumpulan teori yang diperlukan.. .tapi kumpulan praktek yang
      ingin dirasakan... .anda juga terlalu jauh menarik sebuah batas
      kesimpulan.. sampai2 Orde baru ikut anda libatkan...padahal belum tentu
      akan seperti itu..itu wilayah yang belum pasti..zaman sekarang butuh
      kepastian, bukan teori prasangka... .esensi pembangunan adalah punya
      niat yang tulus dan cerdas dalam melakukan pembangunan yang
      diinginkan.. ..anda orang cerdas Bung jadi tak perlu saya jelaskan
      maksud tulus dan cerdas disini.
      >
      > Apa yang dilakukan oleh
      Irwandi dan Para Tokoh masyarakat gayo
      adalah sesuatu yang sangat berarti dan bermanfaat bagi masa depan
      Aceh. sebagai orang yang cerdas, seharusnya anda lebih paham dan
      mengerti bukan justru melihat sesuatu dengan tabiat kebencian yang
      belum hilang...ini
      bukan jamannya lagi memakai tabiat itu...
      >
      > JIKA ANDA INGIN MENGALAHKAN MUSUH ANDA...MAKA ANDA HARUS BELAJAR
      KELEMAHAN DAN PELUANG DARI MUSUH ANDA UNTUK MEMENANGKAN PERTANDINGAN
      INI....INI PERTANDINGAN MODERN BUNG, TERMASUK DALAM MEREBUT TANAH AIR
      >
      > saya heran dengan tindakan anda yang melampirkan salah satu ayat
      Al Quran...karena tidak nyambung dengan konteks yang kita
      bicarakan... termasuk antara ayat dengan argumen anda juga bertolak
      belakang...saya tidak membandingkan anda dengan pembuat film
      fitna...yang begitu cerdas mendesain sebuah produk kebencian dengan
      melampirkan ayat2 yang tujuannya jelas untuk membangun dinasti
      kebencian agama dengan melampirkan ayat sesuka hati....
      >
      > persoalan BRR...mungkin semua orang tahu bobroknya... .di dunia
      boleh2 saja mereka menang dengan lampiran angka...tapi di akhirat
      mereka akan kalah dengan lampiran data...disana ada tempat yang
      adil
      untuk siapapun....
      >
      > MARI KITA LANJUTKAN DISKUSI
      >
      > salam
      >
      > hd
      >
      > Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ ...> wrote:
      > Anda berbicara pembangunan tapi anda
      sepertinya belum memahami esensi pembangunannya. Anda sepertinya
      ikut-ikutan tergiring dengan kata yang sudaah terkontaminasi dengan
      unsur hipokritnya orde baru..
      >
      > Kalau kita berbicara pembangunan tidak akan pernah berhasil sebelum
      kita memahami esensinya. Sebelum kita berbicara esensi pembangunan,
      terlebih dahulu kita harus memahami esensi kemanusiaan. Pertama
      sekali yang perlu kita pahami apakah manusia itu pada hakikatnya,
      Apakah tujuan hidupnya (untuk apa dia dijadikan) dan yang terakhir,
      > Apa sajakah kebutuhannya? (pelajari filsafat manusia versi Islam via
      Qur-an sebagai pedoman Hidup orang-orang yang beriman).
      >
      > Kalau tiga hal diatas menyangkut pelaku pembangunan
      belum kita
      pahaami, pembangunan yang kita bicarakan akan melenceng daripada
      kebutuhan manusia itu sendiri. Ketika itu pembangunan yang kita
      bicarakan tidak jauh bergeser dibandingkan pembangunan yang digarap
      orang- orang Golkar di jaman Suharto dan berakhir dengan penyematan
      gelar kepada koruptor nomor wahid di Dunia itu, yaitu "Bapak
      Pembangunan" Lalu kita pertanyakan, apakah yang telah dibangun
      Suharto? Untuk siapakah pembangunan tersebut?
      >
      > Mereka membangun kota Jakarta tampa membangun kemanusiaannya.
      Akibatnya siapa yang menikmati gedung-gedung mewah jakarta itu?
      Umumnya para basyar, yakni makhluk yang sekedar exist di permukaan
      planet Bumi ini. Sementara rakyat biasa terus digusur hingga
      kepinggir-pinggir kota. Lalu Kuntoro dikirim ke Acheh - Sumatra untuk
      membangun kota Banda Acheh, bagaikan alimpalsu yang membagikan zakat
      kepada 8 senif penerimanya, dimana Kuntoro cs sebagai senif
      "amil"
      melahap hampir seratusan juta rupiah perbulannya. Bayangkan berapa
      banyak sudah mereka lahap dana tsunami itu sampai bulan May 2008 ini?
      Lalu lihatlah senif "Fakir dan Miskin", berapa mereka terima
      perbulannya? Baru kemudian kita pertanyakan lagi untuk siapakah
      pembangunan yang digarap dengan dana yang sehahusnya diprioritaskan
      kepada kaum dhu'afa itu? Untuk kaum dhu'afakah? Untuk rakyat Achehkah?
      Untuk Cinakah?, Untuk Jawakah? Untuk pejabat-pejabat hindunesia
      Acehkah? untuk orang luar negerikah? Siapakah yang menghuni
      > gedung-gedung mewah itu?, rakyat Acheh sederhanakah atau rakyat
      Acheh yang menggunakan seragam ketika masuk kantor pejabatnya?
      Bukankah rakyat Acheh juga terus tergusur kepinggirnya? Adakah itu
      termasuk pembangunan kemanusiaan?
      >
      > Demikian jugalah sekarang Irwandi sedang melakukan hal yang sama
      melalui orang Gayo yang kriusis identitas itu untuk membangun
      Takengon.
      Siapakah yang akan menikmati hasil pembangunan tewrsebut?
      Pertama sekali sudah jelas orang - orang yang antithesis dengan
      saudara Winwannur yang original Gayon itu, setelah didahului
      makhluk-makhluk yang sama sebagaimana pembangunan Jakarta dan Banda Acheh.
      >
      > Dan apabila pembangunan yang non esensi itu berhasil di tanah Gayo,
      kemungkinan besar bedebah dan begajul di Takengon akan memberikan
      titel kepada Irwandi sebagai "bapak pembangunan Acheh", he he he.
      >
      > Apakah Irwandi sedang menelusuri sepakterjang Suharto sekarang ini?
      Sepertinya demikian keberadaannya sekarang. Yang terperosoki kedalam
      lobang yang sama bukan Saja Irwandi tapi seluruh makhluk yang
      bersatupadu dalam system Taghut Indonesia Dhalim dan Hipokrit di Acheh
      - Sumatra sekarang. Mereka realitanya memang sudah tertutup mata hati
      disebabkan setelah Allah memberi petunjuk dulu hingga mengenali betul
      siapa musuh mereka, namun
      setelah itu mereka berjingkrak- jingkrak
      masuk dalam "ketiak" musuh.
      >
      > "Bukankah sudah kusampaikan kepadamu hai bani Adam agar kamub tidak
      mengikuti langkah-langkah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu musuh
      yang nyata bagi kamu. Tundukpatuhlah kepadaKu, inilah jalan yang
      selurus-lurusnya. Betapa banyak sudah manusia yang rugi karenanya,
      apakah kamu tidak berpikir? Inilah Neraka Jahannam yang dahulu kamu
      diancam denagnnya. Masuklah kamu hari ini kedalamnya, disebabkan kamu
      dahulu mengingkarinya. Hari ini ditutup mulut kamu, tangan dan kaki
      diminta persaksian terhadap apa yang telah kamu kerjakan dahulu"
      (QS.38 : 60 - 65)
      >
      > ”Yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang”
      >
      >
      > Billahi fi sabililhaq
      > (alasytar Acheh)
      >
      >
      >
      >
      > --- On Sun, 4/27/08, muhammad hadi <hadi_hukum@ ...> wrote:
      > From: muhammad hadi
      <hadi_hukum@ ...>
      > Subject: Re: [IACSF] GUBERNUR IRWANDI BERTEMU TOKOH MASYARAKAT GAYO
      > To: IACSF@yahoogroups. com
      > Date: Sunday, April 27, 2008, 3:00 AM
      >
      >
      > AlHamdulillah semoga komunikasi ini terus berlanjut dan meluas
      sampe ke seluruh Aceh. hanya lewat komunikasi yang intensif...pembangu
      nan ini akan berlanjut. tapi jangan hanya sebatas komunikasi namun
      perlu realisasinya juga.

      kita menyambut baik tindakan Irwandi dan para Tokoh Gayo
      ini...semoga Aceh maju bersama dan sejahtera bersama dalam lipatan
      kain perdamaian.. .Amin..

      salam


      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
    • Ali Al Asytar
      Terimakasih saudaraku. Apa yang belum kujemput, alhamdulillah telah anda antar khususnya manusia-manusia Ideolog dan juga sekaligus filosof seperti Imam
      Message 2 of 3 , May 2, 2008
      • 0 Attachment
        Terimakasih saudaraku. Apa yang belum kujemput, alhamdulillah telah anda antar khususnya manusia-manusia Ideolog dan juga sekaligus filosof seperti Imam Khomaini, Ali Syariati, Murtada Mutahhari dan lain - lain sebagainya. Tinggallagi diawal tanggapan anda entah memang berbeda pendapat atau salah tafsir, semoga yang terakhir.
        Realita yang kumaksudkan dalam kontek Sosial Politik bukan dalam bingkai Teology. Kendatipun sebetulnya tidak ada hal yang non teology dalam pandangan Islam sejati, membutuhkan frimnya juga agar terhindar kesalahpahaman bagi sementara orang.

        Anda benar ketika berbicara realitas alam malakut tidak butuh penilaian manusia. Itu pastinya kebenaran dan realita menyatu tapi realita sosial politik telak dirusak sejak awal sekali oleh Qabil bin Adam dan diteruskan oleh "qabil-qabil" lainnya sampai hari ini,
        termasuk di Acheh - Sumatra. Justru itu dibutuhkan "Imam 'Ali" untuk merobah realita yang salah kaprah kepada realita yang semestinya.

        "Yang menang belum tentu benar, tang benar pasti menang"
        (alasytar - Acheh)



        --- On Thu, 5/1/08, Novendra Dj <cahaya.benings@...> wrote:
        From: Novendra Dj <cahaya.benings@...>
        Subject: RE: [IACSF] Re: GUBERNUR IRWANDI BERTEMU TOKOH MASYARAKAT GAYO
        To: IACSF@yahoogroups.com
        Date: Thursday, May 1, 2008, 11:29 PM



















        Sedikit klarifikasi dari saudara mu, Novendra wahai Tgk. Al Asytar…
        mudah mudahan bisa menjadi penerang bagi nalar dan menerangi cahaya hati kita
        semua…



        Realitas itu sebagaimana adanya.. kebenaran juga demikian adanya…
        dia tidak butuh manusia untuk berpikir… karena ia relaitas, ia benar bukan
        karena manusia mau berpikir tentangnya, hingga ia menjadi benar. Tidak sama
        sekali. Tapi manusialah yang butuh mengenali realitas, hakikat sesuatu dan
        kebenaran itu sendiri. Tuhan ada, makluk adalah ciptaan NYa, penindasan ada,
        kezaliman perampasan hak kelompok manusia atas manusia lain dan bangsa atas
        bangsa lain juga ada. Tidak butuh pengakuan manusia atas keberadaan itu… tapi
        manusialah yang butuh pengetahuan tentang itu untuk kemudian menetukan sikap
        atasnya...



        Pengetahuan mendalam dan esensial tentang segala sesuatu dan
        menerjemahkan dalam Kerangka pandangan dunia (world view) kita sebut sebagai “akal
        teoritis” [kemampuan intelek manusia untuk mengetahui realitas sebagaimana
        adanya] dan penentuan sikap atas pengetahuan sebagaimana adanya adalah Kerangka
        “akal praktis” [akal penuntun manusia untuk memahami apa dan bagaimana
        seharusnya]. Yang pertama kita sebut sebut “world view” sebagai yang memberi
        pemaknaan atas realita, yang kedua kita sebut sebagai “ideology” karena berhubungan
        dengan harus tidak harus bagi manusia untuk bertindak.



        Jika seorang filosof dapat memahami realitas sebagaimana adanya,
        dan juga pengetahuan turunan konsekuensi tindakan apa yang seharusnya, lalu ia
        berhenti disitu, jangankan bertindak dalam bentuk amal praktis yang diterjemahkan
        dari ideology, menyebarkan bentuk ideology [tindakan apa yang seharusnya] saja
        tidak dilakukannya… maka sang filosof telah teralienasi antara diri dan
        pengetahuannya sendiri, tidak ada kesatuan antara pengetahuan dan keyakinan
        serta amal perbuatannya [tindakan praktis]. Dan filosof seperti ini ada dan
        banyak, dan Imam Khomeini menyebutnya sebagai orang-orang yang ilmunya menjadi
        hijab baginya [baca hijab berbentuk cahaya], yang sejatinya ilmu adalah cahaya
        yang menuntun manusia memahami sesuatu dan menentukan tindakan atas sesuatu itu
        dengan benar.



        Namun kita punya para filosof yang tidak hanya mengorbankan
        waktunya hanya sekedar merenung dan asyik-masyuk dengan teori-teori
        filosofisnya. Suhrawardi al Maqtul adalah filosof dan pendiri mazhab Isyraqi berakhir
        hidupnya dan terbunuh dalam penjara Salahuddun al Ayyubi, karena aktifitas
        politik dan ideology yang diperjuangkannya, bukan hanya sekedar tuduhan
        ulama-ulama Fiqh atasnya yang membahayakan keberagamaan kaum awam. Mulla Shadra
        juga terusir karena kritisnya dan tidak pernah mau diajak bekerja oleh pemerintahan
        yang bersebrangan dengan keharusan-keharusan yang telah didapati nilai
        kebenaran olehnya. Tabatabai’ cukup member kontribusi besar dan para muridnya
        menjadi arsitek dan penopang proses dan keberhasilan revolusi Islam Iran.
        Syahid Bahesti, Syeik Bahonar dan Syahid Muthahhari dalah filosof filosof yang
        bergerak massif dalam tataran ideology dan menemukan kesyahidan karena
        kebenaran yang diperjuangkannya, menegakkan revolusi Islam Iran. Syeik Jawadi
        Amuli dan Taqi Misbah Yazdi adalah filosof sekarang yang mumpuni serta terus
        berjuang dalam tataran ideology mempertahankan revolusi dan hak-hak serta
        kemajuan bangsa Iran dan kaum muslim dunia.. Iqbal Lahore [Muhammad Iqbal] juga
        seorang filosof dan terlibat perjuangan bawah tanah untuk melepaskan Pakistan
        dari penjajahan Inggris. Dan yang cukup segar adalah, Ayatullah Syahid Bagir as
        Sadr, seorang marja’, filosof brilian dan kompleks serta pejuang dan penentang
        sengit Saddam Husain, sang dictator. Hingga Syahid Sadr dan kakanya, Bintul
        Huda] harus wafat di eksekusi rezim Saddam, dan semasa Saddam masih berkuasa,
        keluarga as Sadr selalu berada dalam keadaan di terror penguasa. Buah dari itu semua,
        kita kenal yang namanya Muqthada Sadr, sang kemenakan Syahid Sadr yang dengan
        sengit melawan penindasan tentara pendudukan Amerika Serikat di Irak.



        Kita merindukan Abuzar al Ghifari, manusia yang Rasulullah menyatakan
        tentangnya “sulit sekali mencari orang yang berbicara jujur di kolong langit,
        seperti Abuzar”. Kita juga merindukan Ammar bin Yassir dan lebih lagi kepada
        Salman al Farisi. Dan yang pasti kita selalu butuh orang-orang seperti Ali bin
        Abithalib, yang dengan cahaya hikmah selalu meliputinya, yang tegar dengan
        penderitaan, yang cengeng di mihgrabnya seperti bayi butuh putting susu ibunya,
        yang seperti singa dimedan tempur dan mengetarkan musuh-musuhnya.



        Manusia dianugerahi kemerdekaan oleh Allah Swt, tidak ada yang
        berhak merampas, kecuali seizin-Nya. Dimanapun manusia berada, tidak terkecuali
        bangsa Aceh… ia harus hidup terhormat dan bebas dari penindasan, dan perampasan
        hak milik. Dimanapun kita berada, tidak ada hak merampas kemerdekaan dan mengalihkan
        hak kepemilikan manusia lain dengan zalim. Ingatlah, “berbuat adil lah kamu,
        meskipun itu terhadap musuh-musuh Mu!!” Bukankah Islam mengajari kita seperti
        ini. Tidak lemah memperjuangkan kebenaran dan hak-haknya, dan juga tidak
        berlaku zalim, sekalipun itu kepada musuh”, Taburi dan suguhilah rahmat bagi
        sekalian alam…



        Allahumma salli’ala Muhammad waali Muhammad!!!







        From: IACSF@yahoogroups. com
        [mailto:IACSF@ yahoogroups. com] On Behalf Of Ali Al Asytar

        Sent: Friday, May 02, 2008 1:22 AM

        To: IACSF@yahoogroups. com

        Subject: Re: [IACSF] Re: GUBERNUR IRWANDI BERTEMU TOKOH MASYARAKAT GAYO
















        Anggapan anda yang keliru itu sudah dijelaskan oleh
        saudara Winwannur. Justru itu takperlu saya tanggapi. Kecuali persoalan
        memerdekakan Acheh saja. Anda sepertinya memiliki keyakinan Acheh akan
        merdeka dengan cara yang sedang ditempuh Irwandi - Nazar, semendara keyakinan
        saya justru Irwandi - Nazar telah membawa Acheh kembali ke nol lagi (baca
        Otonomi). Merewka memang telah merebut kekuasaan tapi dibawah kekuasaan
        musuh. Justru itu kekuasaan seperti itu sedikitpun tidak bermanfaat buat
        rakyat jelata, kecuali buat Irwandi cs dan keluarganya masing-masing.
        Sepakterjang yang mereka perlihatkan terindikasi, itu bukan perdamaian tapi
        menyerah kepada musuh. Saya yakin anda tidak mampu mencerna pernyataan saya
        ini disebabkan anda barangkali masih berada dalam orbitnya system Indonesia
        yang dhalim dan Hipokrit. Maaf andaikata prediksi saya

        ini salah.



        6 ayat dari surah yasin yang saya ikutkan sebagai penutup tulisan itu, secara
        tersurat memang tidak ada hubungannya dengan apa yang saya bahas tapi secara
        tersirat. Walaupun sebetulnya fungsi ayat-ayat itu sebagai pendamping
        mottonya. saja.



        Secara filosofis, siapapun yang bersatupadu dalam system Thaghut kecuali
        taqiyah, mereka termasuk orang-orang yang mengikuti langkah syaithan. Mereka
        terkena dengan surah Al Maidah ayat 44, 45 dan 47. Mereka berada diluar
        Islam. Justru utu perlu kita ingatkan tempelakan Allah kelak dengan ayat-ayat
        tersebut,



        Filosofis disini bermakna hakikat. yang sebenarnya. Filosofis berasal dari
        kata filsafat, Filsafat satu tingkat lebih tinggi dibandingkan ilmu biasa.
        Justru itu orang yang berilmu disebut imuwan sedangkan orang yang (mampu)
        berfilsafat disebut Filosof, yang berarti ahli fikir. Kalau kita tidak mampu
        berfikir secara filkosofis, kita tidak mampu memahami

        bahwa orang-orang yang bersatupadu dalam system Indonesia itu adalah diluar
        Islam. Kita hanya melihat bahwa orang tersebut selalu shalat, malah khatib
        lagi atau malah Haji lagi macam Suharto. Ini ada hubungannya sedikit dengan
        apa yang sedang diperdebatkan Razali Paya alias omputeh, Novendra, Rima dan
        lain-lainnya. (meunjena njeng saket ulee lam kawannjan, hek teuh).





        Diatas filsafat itu masih ada satu tingkat lagi dan ini adalah tingkat yang
        tertinggi, yaitu ilmu Hikmah(QS. Jum'h 2). Ilmu dan filsafat adalah producnya
        intelek manusia. Dari itu kalau tidak kita dasarkan dengan Qur-an sebagai
        pedoman Hidup yang dikirim Allah akan keluar dari relnya Islam. Filsafat
        Yunani adalah product ahli pikir Yunani yang bertentangan dengan Qur-an,
        dengan Islam. Ahli fikir Islam mendasarkan filsafatnya dengan Qur-an, maka
        dsisebut Filsafat Islam sedangkan orangnya disebut Filosof Islam seperti
        Mulla Sadra dari Iran.



        Yang harus diingat disini

        bahwa kendatipun seorang filosof mendasarkan jalan pikirannya dengan Al
        Qur-an masih belum apa -apa. Mereka adalah termasuk dalam katagory
        manusia-manusia berwajah "pucat". Filosof sebagaimana Ilmuan,
        netral terhadap kondisi lingkungannya yang korup dan anianya. Di Acheh,
        Indonesia dan negara negara Asia - Afrika yang mayoritas penduduknya mengaku
        beragama Islam, banyak sekali filosofnya tapi mereka bekerja sama dengan
        penguasa Dhalim yang menindas rakyatnya. Justru para Ideologlah yang merobah
        realita kepada kebenaran. Para Ideologlah yang menggerakkan massa akar
        rumput, kaum dhu'afa untuk melawan kedhaliman. Senmua para Rasul dan para
        Imam adalah Ideolog. Mereka adalah manusia-manusia yang berwajah
        "merah". Apa kelebihan Ideolog? Mereka memiliki ilmu hikmah, yakni
        ilmu kesadaran. Ilmu yang diturunkan Allah kepada para Rasul dan para Imam.
        Ilmu tersebut adalah sinar yang menerangkan segala jenis ilmu-ilmu lainnya.
        Ilmu tersebut diturunkan di

        "Masy'arul haram", malamnya. Sedangkan ilmu-ilmu lainnya termasuk
        filsafat diturunkan di "Arafah". siangnya.



        Secara filosofis, manusia 'ideal' adalah, bermula di A'rafah (tahap ilmu
        pengetahuan) , lalu menuju Masya'r (tahap kesadaran), dan terus ke Mina (tahap
        keyakinan cinta dan aksi).



        Selanjutnya perhatikanlah perbandingan berikut:



        1. Filosof, bermula dari A'rafah dan tetap di A'rafah, tidak pernah beranjak
        ke mana-mana.

        2. Sufi, bermula di Mina dan juga tetap di Mina, tidak pernah beranjak ke
        mana-

        mana

        3. Islam sejati, bermula di A'rafah, lalu ke Masya'r terus ke Mina.
        (Sistematis, Optimis, Kreatif dan Dinamis



        Selanjutnya marilah kita ber Afala ta`qilun dan Afala yatazakkarun!



        Semua Rasul Allah/Utusan Allah adalah Idiolog-idiolog. Kepada mereka
        diamanahkan untuk menghidupkan/ merealisasikan kekuasaan Allah di atas
        permukaan planet Bumi ini. Setelah priode mereka berakhir, amanah tersebut
        diteruskan oleh Imam-Imam/U' la ma Warasatul Ambia'. Mereka itu semuanya
        adalah Idiolog-Idiolog Islami. Islam yang memiliki ilmu pengetahuan (A'rafah)
        serta memiliki kesadaran suci (Masya'r) untuk apa sesungguhnya hidup di dunia
        ini, beraksi, bertempur (Mina) untuk menumbangkan system Thaghut di permukaan
        Bumi ini, lalu menggantikan dengan system Allah (Kedaula tan Allah).
        "Qulja al haqqu wazahaqal bathil innal bathil lakana zahuqa" ( QS.
        17 ; 81 ).



        Sedangkan para Filosof asik membangga-banggakan ilmu pengetahuannya, merasa
        sejuk dan aman hidup dibawah kekuasaan Thaghut Dhalim dan Munafiq sekalipun,
        dan membiarkan Kaum Dhua'fa merintih di gubuk-gubuk reot dan menahan beban
        hidup yang menimpa kuduk-kuduk mereka. Sementara para Sufi juga asik dengan
        angan-angan mereka untuk menggapai Syurga. Betulkah? Tunggu dulu.



        Bagaimana mungkin semudah itu bisa dapat Syurga, dengan berkomatkamit membaca
        "mentera-mentera", membisikkan kata-ka ta Syurga ketelinga
        pengikut-pengikutny a, tanpa berjuang sama-sekali untuk membebaskan kaum
        Dhua'fa dari belenggu penindasan dan penjajahan, sebagaimana yang di
        diperjuangkan para Rasul, para Imam dan para U'lama Warasatul Ambia'
        (Pemimpin Kaum Dhua'fa). "Afala ta'qilun? Afala yatazakkarun?".



        Sebagai penutupo, renungkanlah tempelakan Allah ini agar kita memposisikan
        diri dalam barisan "habikl-habil" untuk menentang "qabil-qabil":



        "Bukankah sudah kusampaikan kepadamu
        hai bani Adam agar kamub tidak

        mengikuti langkah-langkah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu musuh

        yang nyata bagi kamu. Tundukpatuhlah kepadaKu, inilah jalan yang

        selurus-lurusnya. Betapa banyak sudah manusia yang rugi karenanya,

        apakah kamu tidak berpikir? Inilah Neraka Jahannam yang dahulu kamu

        diancam denagnnya. Masuklah kamu hari ini kedalamnya, disebabkan kamu

        dahulu mengingkarinya. Hari ini ditutup mulut kamu, tangan dan kaki

        diminta persaksian terhadap apa yang telah kamu kerjakan dahulu"

        (QS.38 : 60 - 65)



        (alstr - Acheh)









        -- In IACSF@yahoogroups. com,

        muhammad hadi <hadi_hukum@ ...> wrote:

        >

        > Anda terlalu banyak berteori Bung Ali Al Asytar...zaman sekarang ini

        bukan kumpulan teori yang diperlukan.. .tapi kumpulan praktek yang

        ingin dirasakan... .anda juga terlalu jauh menarik sebuah batas

        kesimpulan.. sampai2 Orde baru ikut anda libatkan...padahal belum tentu

        akan seperti itu..itu wilayah yang belum pasti..zaman sekarang butuh

        kepastian, bukan teori prasangka... .esensi pembangunan adalah punya

        niat yang tulus dan cerdas dalam melakukan pembangunan yang

        diinginkan.. ..anda orang cerdas Bung jadi tak perlu saya jelaskan

        maksud tulus dan cerdas disini.

        >

        > Apa yang dilakukan oleh Irwandi dan Para Tokoh masyarakat gayo

        adalah sesuatu yang sangat berarti dan bermanfaat bagi masa depan

        Aceh. sebagai orang yang cerdas, seharusnya anda lebih paham dan

        mengerti bukan justru melihat sesuatu dengan tabiat kebencian yang

        belum hilang...ini

        bukan jamannya lagi memakai tabiat itu...

        >

        > JIKA ANDA INGIN MENGALAHKAN MUSUH ANDA...MAKA ANDA HARUS BELAJAR

        KELEMAHAN DAN PELUANG DARI MUSUH ANDA UNTUK MEMENANGKAN PERTANDINGAN

        INI....INI PERTANDINGAN MODERN BUNG, TERMASUK DALAM MEREBUT TANAH AIR

        >

        > saya heran dengan tindakan anda yang melampirkan salah satu ayat

        Al Quran...karena tidak nyambung dengan konteks yang kita

        bicarakan... termasuk antara ayat dengan argumen anda juga bertolak

        belakang...saya tidak membandingkan anda dengan pembuat film

        fitna...yang begitu cerdas mendesain sebuah produk kebencian dengan

        melampirkan ayat2 yang tujuannya jelas untuk membangun dinasti

        kebencian agama dengan melampirkan ayat sesuka hati....

        >

        > persoalan BRR...mungkin semua orang tahu bobroknya... .di dunia

        boleh2 saja mereka menang dengan lampiran angka...tapi di akhirat

        mereka akan kalah dengan lampiran data...disana ada tempat yang

        adil

        untuk siapapun....

        >

        > MARI KITA LANJUTKAN DISKUSI

        >

        > salam

        >

        > hd

        >

        > Ali Al Asytar <alasytar_acheh@ ...> wrote:

        > Anda berbicara pembangunan tapi anda

        sepertinya belum memahami esensi pembangunannya. Anda sepertinya

        ikut-ikutan tergiring dengan kata yang sudaah terkontaminasi dengan

        unsur hipokritnya orde baru..

        >

        > Kalau kita berbicara pembangunan tidak akan pernah berhasil sebelum

        kita memahami esensinya. Sebelum kita berbicara esensi pembangunan,

        terlebih dahulu kita harus memahami esensi kemanusiaan. Pertama

        sekali yang perlu kita pahami apakah manusia itu pada hakikatnya,

        Apakah tujuan hidupnya (untuk apa dia dijadikan) dan yang terakhir,

        > Apa sajakah kebutuhannya? (pelajari filsafat manusia versi Islam via

        Qur-an sebagai pedoman Hidup orang-orang yang beriman).

        >

        > Kalau tiga hal diatas menyangkut pelaku pembangunan

        belum kita

        pahaami, pembangunan yang kita bicarakan akan melenceng daripada

        kebutuhan manusia itu sendiri. Ketika itu pembangunan yang kita

        bicarakan tidak jauh bergeser dibandingkan pembangunan yang digarap

        orang- orang Golkar di jaman Suharto dan berakhir dengan penyematan

        gelar kepada koruptor nomor wahid di Dunia itu, yaitu "Bapak

        Pembangunan" Lalu kita pertanyakan, apakah yang telah dibangun

        Suharto? Untuk siapakah pembangunan tersebut?

        >

        > Mereka membangun kota Jakarta tampa membangun kemanusiaannya.

        Akibatnya siapa yang menikmati gedung-gedung mewah jakarta itu?

        Umumnya para basyar, yakni makhluk yang sekedar exist di permukaan

        planet Bumi ini. Sementara rakyat biasa terus digusur hingga

        kepinggir-pinggir kota. Lalu Kuntoro dikirim ke Acheh - Sumatra untuk

        membangun kota Banda Acheh, bagaikan alimpalsu yang membagikan zakat

        kepada 8 senif penerimanya, dimana Kuntoro cs sebagai senif

        "amil"

        melahap hampir seratusan juta rupiah perbulannya. Bayangkan berapa

        banyak sudah mereka lahap dana tsunami itu sampai bulan May 2008 ini?

        Lalu lihatlah senif "Fakir dan Miskin", berapa mereka terima

        perbulannya? Baru kemudian kita pertanyakan lagi untuk siapakah

        pembangunan yang digarap dengan dana yang sehahusnya diprioritaskan

        kepada kaum dhu'afa itu? Untuk kaum dhu'afakah? Untuk rakyat Achehkah?

        Untuk Cinakah?, Untuk Jawakah? Untuk pejabat-pejabat hindunesia

        Acehkah? untuk orang luar negerikah? Siapakah yang menghuni

        > gedung-gedung mewah itu?, rakyat Acheh sederhanakah atau rakyat

        Acheh yang menggunakan seragam ketika masuk kantor pejabatnya?

        Bukankah rakyat Acheh juga terus tergusur kepinggirnya? Adakah itu

        termasuk pembangunan kemanusiaan?

        >

        > Demikian jugalah sekarang Irwandi sedang melakukan hal yang sama

        melalui orang Gayo yang kriusis identitas itu untuk membangun

        Takengon.

        Siapakah yang akan menikmati hasil pembangunan tewrsebut?

        Pertama sekali sudah jelas orang - orang yang antithesis dengan

        saudara Winwannur yang original Gayon itu, setelah didahului

        makhluk-makhluk yang sama sebagaimana pembangunan Jakarta dan Banda Acheh.

        >

        > Dan apabila pembangunan yang non esensi itu berhasil di tanah Gayo,

        kemungkinan besar bedebah dan begajul di Takengon akan memberikan

        titel kepada Irwandi sebagai "bapak pembangunan Acheh", he he he.

        >

        > Apakah Irwandi sedang menelusuri sepakterjang Suharto sekarang ini?

        Sepertinya demikian keberadaannya sekarang. Yang terperosoki kedalam

        lobang yang sama bukan Saja Irwandi tapi seluruh makhluk yang

        bersatupadu dalam system Taghut Indonesia Dhalim dan Hipokrit di Acheh

        - Sumatra sekarang. Mereka realitanya memang sudah tertutup mata hati

        disebabkan setelah Allah memberi petunjuk dulu hingga mengenali betul

        siapa musuh mereka, namun

        setelah itu mereka berjingkrak- jingkrak

        masuk dalam "ketiak" musuh.

        >

        > "Bukankah sudah kusampaikan kepadamu hai bani Adam agar kamub tidak

        mengikuti langkah-langkah syaithan? Sesungguhnya syaithan itu musuh

        yang nyata bagi kamu. Tundukpatuhlah kepadaKu, inilah jalan yang

        selurus-lurusnya. Betapa banyak sudah manusia yang rugi karenanya,

        apakah kamu tidak berpikir? Inilah Neraka Jahannam yang dahulu kamu

        diancam denagnnya. Masuklah kamu hari ini kedalamnya, disebabkan kamu

        dahulu mengingkarinya. Hari ini ditutup mulut kamu, tangan dan kaki

        diminta persaksian terhadap apa yang telah kamu kerjakan dahulu"

        (QS.38 : 60 - 65)

        >

        > ”Yang menang belum tentu benar, yang benar pasti menang”

        >

        >

        > Billahi fi sabililhaq

        > (alasytar Acheh)

        >

        >

        >

        >

        > --- On Sun, 4/27/08, muhammad hadi <hadi_hukum@ ...> wrote:

        > From: muhammad hadi

        <hadi_hukum@ ...>

        > Subject: Re: [IACSF] GUBERNUR IRWANDI BERTEMU TOKOH MASYARAKAT GAYO

        > To: IACSF@yahoogroups. com

        > Date: Sunday, April 27, 2008, 3:00 AM

        >

        >

        > AlHamdulillah semoga komunikasi ini terus berlanjut dan meluas

        sampe ke seluruh Aceh. hanya lewat komunikasi yang intensif...pembangu

        nan ini akan berlanjut. tapi jangan hanya sebatas komunikasi namun

        perlu realisasinya juga.



        kita menyambut baik tindakan Irwandi dan para Tokoh Gayo

        ini...semoga Aceh maju bersama dan sejahtera bersama dalam lipatan

        kain perdamaian.. .Amin..



        salam












        Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo!
        Mobile. Try
        it now.







        No virus found in this incoming message.

        Checked by AVG.

        Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.7/1408 - Release Date: 4/30/2008 6:10
        PM









        No virus found in this outgoing message.

        Checked by AVG.

        Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.7/1410 - Release Date: 5/1/2008 5:30 PM


























        Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.