Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

TANGAN-TANGAN YAHUDI DI AMBON DAN MALUKU #2

Expand Messages
  • Laksa Marda
    Assalamu alaikum Wr.Wb. Informasi Al-Islam TANGAN-TANGAN YAHUDI DI AMBON DAN MALUKU #2 Ribuan Umat Islam Indonesia Menjadi Korban Kebiadabannya. Oleh : Achmad
    Message 1 of 1 , Nov 5, 2001
      Assalamu'alaikum Wr.Wb.
      Informasi Al-Islam

      TANGAN-TANGAN YAHUDI DI AMBON DAN MALUKU #2

      Ribuan Umat Islam Indonesia Menjadi Korban Kebiadabannya.

      Oleh : Achmad Setiyaji (reporter HU "Pikiran Rakyat" Bandung)

      Sambungan.......
      Setelah dua kali saling memerangi, akhirnya Belanda menguasai Ambon pada 1814. Dalam buku Ensiklopedia Indonesia disebutkannya, selama menjajah ternyata Belanda juga menyebarkan agama Kristen. Penduduk Ambon yang mau memeluk Kristen mendapat perlakuan istimewa dibandingkan dengan penganut agama lainnya. Mereka diberi kesempatan lebih luas dalam mengenyam pendidikan dan memperoleh pekerjaan sebagai pegawai dan serdadu Belanda. Adanya faktor kaitan historis semacam inilah, yang tampaknya melatarbelakangi seringnya para wisatawan dari luar negeri seperti Belanda, Inggris, Portugis dan lainnya mengunjungi Ambon dan sekitarnya. Selain mengunjungi sejumlah obyek pariwisata, diduga kuat para wisatawan tersebut membawa misi penyebaran agama Kristen. Adapun kasus kerusuhan di Pulau Ambon dan sekitarnya (selanjutnya disebut kasus Ambon) terjadi pada 19 Januari 1999 bertepatan dengan Idul Fitri 1419 H. Saat itu, umat Islam yang sedang bersilaturahmi Idul Fitri mendapat serangan tiba-tiba dari kaum Nasrani. Ratusan umat Islam pun menjadi korban kebiadaban kaum Nasrani yang diduga kuat menjadi pendukung pemberontak Republik Maluku Sarani atau Republik Maluku Selatan (RMS). Namun jauh sebelum peristiwa "Idul Fitri Berdarah" tersebut, sempat pula terjadi peristiwa pengusiran dan pembantaian terhadap suku Bugis, Buton dan Makasar. Kasus Ambon ini-menurut versi pemerintah-dipicu oleh adanya perkelahian antara sopir angkutan umum dari suku Bugis yang beragama Islam dengan sopir suku Ambon yang Kristen. Proses hukum dalam kasus perkelahian ini sempat dilakukan oleh aparat penegak hukum di Ambon. Putusan majelis hakim dalam persidangan itu menimbulkan sikap pro dan kontra, baik di kalangan penduduk Kristen maupun Islam. Aksi-aksi pertikaian-baik dalam skala besar maupun kecil-di Ambon dan sekitarnya masih terjadi hingga kini. Kasus Ambon, ternyata berkembang ke pulau-pulau di sekitarnya. Pada akhir Maret dan awal April 1999, terjadi peristiwa pertikaian antara Muslim dengan komunitas Kristen yang menjadi pendukung pemberontak RMS di kawasan Pulau Kei Besar dan Kei Kecil. Ratusan umat Islam pun menjadi korban dari tindakan kejam komunitas Nasrani yang menjadi pendukung gerakan sparatis RMS. Sekitar tujuh bulan kemudian (November 1999), suasana "tegang" antara penduduk Muslim dan Kristen terjadi di kawasan Pulau Halmahera dan sekitarnya seperti di Pulau Ternate dan Tidore.

      Puncaknya adalah berupa aksi kerusuhan di kawasan Ternate, yang kemudian menyebar ke Tidore, Halmahera, dan pulau-pulau sekitarnya. Peristiwa pembantaian umat Islam di Halmahera Utara, persisnya di Kecamatan Tobelo dan Kecamatan Galela, terjadi satu hari setelah umat Kristen merayakan Hari Natal (26 Desember 1999). Dalam peristiwa itu, Tim Pencari Fakta yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara menyatakan jumlah korban jiwa di pihak umat Islam hingga 20 Januari 2000 tercatat 3587 orang. Fakta temuan tersebut logis, karena di kawasan Kecamatan Tobelo, misalnya, tercatat ada 2080 Muslim yang meninggal dunia dalam keadaan terbantai. Di mesjid Al Ikhlas, Togiula Tobelo, jumlah umat Islam perempuan dan anak-anak yang dibantai mencapai 253 orang. Fakta yang sama juga diungkapkan oleh wartawan Antara di Ternate Maluku Utara, AN, yang menyebutkan, bau mayat masih menyengat di Halmahera Utara. Di dalam kuburan itu, terbujur kaku 253 mayat warga Muslim yang dibantai pasukan pemberontak RMS pada 29 Desember 1999. Kuburan masalnya berukuran kurang lebih 5 kali 6 meter persegi dengan kedalaman 1,5 meter. Ini terletak di halaman mesjid Al Ikhlas desa Togoliua, yang terletak sekitar 25 kilometer dari kota Kecamatan Tobelo. Selain di Togoliua, menurut Danramil Tobelo, Kapten Inf. Made Parsio, juga ada kuburan masal di desa Popilo sekitar 5 kilometer dari kota Kecamatan Tobelo. Sedangkan kalau menurut versi pemerintah (Pemda Maluku Utara), jumlah umat Islam yang meninggalkan di daerah Tobelo hanya 877 orang dan yang luka berat sebanyak 215 orang. Jumlah mesjid yang rusak tercatat 14 unit, dan gereja 1 unit. Adapun jumlah umat Islam dan Kristen yang meninggal di Maluku Utara tercatat, meninggal dunia (1.655 orang), luka berat/ringan (1.219), yang hilang atau lari ke hutan (2.315). Sedangkan harta benda : rumah rusak/terbakar (6.497), gereja rusak/terbakar (45), mesjid rusak/terbakar (51), toko/kios terbakar (66), sarana pendidikan rusak/terbakar (8), sarana perkantoran terbakar (6), Puskesmas terbakar (1), kendaraan terbakar (57), lahar pertanian/peternakan (ribuan hektar dan puluhan ribu ternak mati). Jumlah pengungsi : di Ternate (97.342), Halmahera Tengah (12.253), Maluku Utara (31.408).

      Bersambung ................

      Tulisan ini dikutip dari situs www.alislam@... . Insya Allah akan saya posting secara berurutan. Posting akan saya bagi-bagi, agar tidak bosan membacanya.

      Copyright © Al-Islam 1998
      Jl. Pahlawan Revolusi, No 100, Jakarta 13430
      Telpon: 62-21-86600703, 86600704, Fax: 62-21-86600712
      E-Mail: info@...

      Wassalamu'alaykum wR. wB.

      Marda
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.