Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

EKSEKUSI SADDAM, ADALAH ALAT PROPAGANDA BARAT, TERUTAMASEKALI GEORGE W BUSH DAN TONY BLAIR

Expand Messages
  • Muhammad al qubra
    Ahmadinejad: Eksekusi Saddam, Alat Propaganda Barat Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menilai eksekusi mati Mantan Presiden Irak, Saddam
    Message 1 of 1 , Jan 2, 2007
    • 0 Attachment
      Ahmadinejad: Eksekusi Saddam, Alat Propaganda Barat
       
      Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, menilai eksekusi mati Mantan Presiden Irak, Saddam Hussein, sebagai alat tentara pendudukan untuk menciptakan instabilitas dan perpecahan serta memperkuat posisinya di Irak dan negara- negara kawasan. Ahmadinejad di depan warga Ahwaz, Provinsi Khuzistan, Iran selatan, hari ini menyatakan, "Dengan dieksekusinya Saddam, tentara pendudukan bertujuan menciptakan perselesihan dan perang saudara, serta menduduki Irak dan kawasan Timur Tengah, serta berusaha mencapai tujuan-tujuan yang gagal mereka capai dalam perang Irak-Iran selama delapan tahun."
       
      Mengenai masalah nuklir Iran, Ahmadinejad menyatakan, "Resolusi anti nuklir Iran yang diratifiksi DK PBB dengan tekanan AS dan Inggris bertentangan dengan piagam PBB. Dikatakannya pula, "Bagi Iran, resolusi itu ilegal." Ahmadinejad menegaskan, " DK PBB yang seharusnya mendukung perdamaian dan keamanan dunia malah mengeluarkan resolusi anti nuklir Iran yang dinilai tak konstitusional dan sarat politik di bawah tekanan AS dan Inggris." Ditegaskannya pula, "Telah terbukti bagi seluruh dunia bahwa pernyataan Barat soal usaha membasmi senjata nuklir adalah bohong belaka."
      Seraya menandaskan hak bangsa Iran dalam mendayagunakan teknologi nuklir sipil, Ahmadinejad menyatakan, "Seluruh negara dunia lambat laun tak mempunyai pilihan lain kecuali mencapai teknologi nuklir sipil."
       
       
      Jubir Pemerintahan Iran: Tiga Ribu Sentrifugal Akan Dioperasikan
      Juru Bicara Pemerintahan Iran, Ghulam-husain Elham, dalam jumpa persnya hari ini menegaskan kemampuan Republik Islam Iran saat ini yang kemudian akan disusul dengan serangkaian kemampuan lainnya. Elham menyatakan, "Tim Inspeksi Badan Energi Atom Internasional adalah pihak yang memantau langsung pengoperasian tiga ribu jaringan mesin sentrifugal. Badan Energi Atom Iran juga membuka pintu untuk umum melihat instalasi nuklir Iran."
      Elham menjelaskan, "Kami mencapai teknologi nuklir sipil dengan kemampuan industri dan pemuda pribumi." Dikatakannya pula, "Bagi kami, mencapai produksi bahan bakar nuklir merupakan strategi yang sudah pasti."
       
       
      Rekaman Video Eksekusi Saddam, Skenario Barat
      Penayangan rekaman video eksekusi Mantan Presiden dan Diktator Irak, Saddam Hussein mencerminkan skenario AS untuk memicu perang suadara di Irak. Menurut para analis, rekaman video eksekusi Saddam secara tak resmi itu dilakukan dengan sengaja. Suasana yang ditampilkan dalam rekaman video sangat sarat dengan ciri khas Syiah. Dalam tayangan video itu juga terdengar sekelompok orang yang dihubungkan dengan Moqtada Sadr mencaci Saddam. Rekaman video amatiran itu juga menayangkan penandatangan PM Irak, Nouri Maliki, yang merestui eksekusi Saddam tanpa menayangkan penandatangan Presiden Irak, Jalal Talebani yang notabene bermadzhab Sunni. Penayangan rekaman vidoe itu mempunyai sederet indikasi untuk menyulut permusuhan Sunni-Syiah.
       
      Para pengamat juga menilai, bahwa dalam proses pengadilan, hanya tuduhan pembantaian terhadap warga Syiah desa Dujail saja yang diangkat, dan atas dasar tuduhan itulah Saddam kemudian divonis mati. Padahal kejahatan-kejahatan-kejahatan Saddan bukan hanya terhadap warga Syiah, bahkan juga terhadap warga Sunni, terutama suku Kurdi Irak. Hal ini juga dianggap sebagai sebagai bagian dari skenario AS untuk dijadikan sebagai bahan menyulut permusuhan Sunni – Syiah.
       
      Sementara itu, berbagai media berkali-kali menayangkan warga Tikrit yang berbelasungkawa dengan kematian Saddam, dan pada saat yang sama, ditayangkan pula warga Iran yang bergembira dan bersuka cita. Hal ini juga menunjukkan adanya propaganda beracun Barat untuk menyulut sentimen anti Iran.
       
      Sabtu lalu, setelah Saddam dieksekusi, Nuri Maliki mengucapkan selamat kepada seluruh warga Irak dan mengingatkan rakyatnya untuk tidak terpancing dengan propaganda media massa Barat.
       
       
      Wakil Muslim Argentina: AS dan Inggris Terlibat dalam Kejahatan Saddam
      Wakil Komunitas Muslim di Parlemen Argentina, Sheikh Abdul Karim Pas, menyatakan, "AS dan Inggris terlibat dalam serangkaian kejahatan Mantan Presiden Diktator Irak, Saddam Hussein. Dengan dieksekusinya Saddam, keterlibatan kedua negara ini tertutup."
       
      Abdul Karim Pas ketika diwawancarai Radio IRIB mengatakan, "Saddam adalah seorang diktator yang berkas kejahatannya sangat tebal. Meski Saddam sangat layak untuk dieksekusi, namun keadilan yang sebenarnya belum diterapkan, karena ia baru dikenai hukuman mati berdasarkan bagian kecil dari kejahatannya." Dikatakannya pula, "Dieksekusinya Saddam merupakan pelajaran bagi seluruh pihak dan para diktator yang berada di Gedung Putih."
       
      Menyinggung kelanjutan pendudukan di Irak, Abdul Karim Pas menyatakan, "Penempatan tentara asing di Irak bukan bertujuan untuk menggulingkan Saddam, namun mempunyai tujuan untuk mempertahankan Rezim Zionis Israel, memblokade Iran, mengeruk kekayaan Irak dan menguatkan posisi AS di kawasan."
       
      Menurut para analis Argentina, kondisi Irak tak membaik dengan dieksekusinya Saddam. Penarikan mundur pasukan pendudukan dari Irak merupakan satu-satunya jalan untuk menstabilkan negara ini.
       
       
      Aksi Teror Masih Warnai Kawasan Irak
      Ledakan bom di bagian selatan Baghdad menewaskan dan mencederai empat orang. Menurut Kantor Berita Xin Hua, polisi Irak kemarin sore mengatakan, ledakan bom mengenai satuan patroli tentara Irak di sebuah jalan kota Mahmudiah sebelah selatan Baghdad yang kemudian menewaskan seorang tentara Irak dan mencederai tiga orang lainnya.
      Berbagai sumber berita Irak melaporkan tewasnya 12 orang akibat serangkaian konflik yang terjadi Senin kemarin.
       
       
      Partai Amal dan Hizbullah Dukung Kelanjutan Demonstrasi Anti Siniora
      Partai-partai dan kelompok-kelompok yang mendukung pembentukan pemerintahan nasional bersatu Lebanon menyatakan untuk melanjutkan demonstrasi anti pemerintahan PM Lebanon, Fuad Seniora. Kantor Berita Xin Hua dari Beirut melaporkan, Partai Amal dan Gerakan Hizbullah Lebanon dalam pernyataan bersama Senin kemarin menyatakan bahwa kedua pihak menentang segala upaya yang menimbulkan friksi antar kelompok."
      Dalam pernyataan tersebut, pemerintah Seniora dikatakan sebagai pihak yang menghalangi upaya untuk mengakhiri krisis politik di negara ini. Ditegasakan pula, "Persatuan adalah jalan satu-satunya mempertahankan Lebanon."
      Kelompok-kelompok pendukung pembentukan pemerintahan nasional bersatu Lebanon menggelar unjuk rasa di depan Istana Perdana Menteri Lebanon dalam rangka menuntut penarikan mundur kabinet Siniora sejak awal bulan Desember lalu.
       
       
      Pesawat Tempur Zionis Kembali Langgar Zona Udara Lebanon
      Pesawat tempur Zionis Israel kembali melanggar zona udara Lebanon. Militer Lebanon mengumumkan, tentara Zionis kemarin sore kembali melakukan penerbangan di kawasan kota Sour dan sekitarnya di Lebanon selatan.
      Meski pemerintah Lebanon berkali-kali mengajukan protesnya kepada PBB, pesawat-pesawat tempur Rezim Zionis hampir setiap hari melanggar zona udara Lebanon.
       
       
      Menteri Perang Zionis Akan Undurkan Diri
      Menteri Perang Rezim Zionis, Amir Perez di bawah tekanan opini umum menyatakan, "Jika komite pencari fakta membuktikan bahwa dirinya bersalah, saya akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Peperangan Rezim Zionis."
      Amir Perez di tengah para keluarga tentara yang tewas dalam perang dengan Hizbullah Lebanon selama 33 hari mendukung dimulainya perundingan soal pertukaran tawanan tentara Zionis, Ghelad Shelit dengan para tahanan Palestina. Lebih Lanjut Perez mengatakan, "Oleh karena komentar yang tidak pada tempatnya akan menghalangi proses pertukaran tawanan, maka saya merasa harus menunggu dan tidak akan berkomentar hingga adanya hasil yang pasti berkenaan dengan masalah ini."
       

       
      Transkrip Berita Siaran Selasa Pagi  2 Januari 2007
       
       
      Hoseini: Resolusi DK PBB Tak Hambat Program Nuklir Iran
       
      Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Muhammad Ali Hoseini menyatakan, Teheran tetap bertekad melanjutkan aktivitas nuklirnya. Menurutnya, resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1737 tidak akan menghambat tekad bangsa Iran untuk mendayagunakan teknologi nuklir sipil. Ditegaskannya kembali bahwa program nuklir sipil merupakan hak legal bangsa Iran.
       
      Menyinggung seluruh kerjasama dan upaya Iran dalam menciptakan rasa kepercayaan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Hoseini mengatakan, selama ini Teheran telah mengundang berbagai negara untuk berpartisipasi dalam program nuklir Iran. Teheran juga telah menangguhkan pengayaan uraniumnya secara sukarela selama dua tahun, bahkan menandatangani Protokol Tambahan. Itu semua membuktikan status damai program nuklir Iran dan transparasi Teheran di bidang ini.
       
      Di bagian lain pernyataannya, Hoseini menjelaskan, pendefinisian ketentuan internasional di bidang nuklir secara diskriminatif dan sepihak, serta pemanfaatan ketentuan tersebut untuk tujuan politis, tidak akan dapat menyelesaikan masalah.
       
       
      Bourujerdi: Iran Kebal Terhadap Represi Barat
      Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Islam Iran, Alauddin Bourujerdi menyatakan, berkat kerja keras para cendikiawan Iran, dalam waktu dekat Teheran akan meluncurkan satelitnya ke luar angkasa. Menyinggung bahwa kasus nuklir Iran harus diselesaikan melalui diplomasi, Bourujerdi juga menekankan kematangan diplomasi Iran dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam beberapa tahun terakhir.
       
      Hasil dari diplomasi tersebut adalah pengakuan Dirjen IAEA, Muhammad ElBaredei bahwa tidak ada penyelewengan apapun dalam program nuklir Iran. Menurutnya, Barat tidak pernah menyangka bahwa pada suatu hari Iran akan dapat menggapai teknologi daur bahan bakar nuklir. Namun kini Iran sudah berada di posisi yang membuat Barat tak lagi dapat bertindak semena-mena terhadap Teheran. Mereka tidak dapat memaksa Iran tunduk di hadapan represi dan trik-trik politik seperti resolusi Dewan Keamanan PBB.
       
       
      Pesawat Tempur AS Bombardir Permukiman Baghdad, Enam Tewas
      Militer AS mengerahkan pesawat tempurnya membombardir kawasan permukiman di Baghdad. Televisi Al Iraqia melaporkan, insiden tersebut merenggut nyawa enam warga Irak temasuk dua anak kecil dan menciderai sejumlah orang lainnya. Marinir AS juga menyerang sejumlah gedung perumahan di Baghdad dan menembak mati enam warga.
       
       
      Nyawa Tiga Marinir AS Melayang di Irak
      Militer AS kembali mengkonfimrasikan tewasnya tiga personilnya di Irak. Seperti dilaporkan Kantor Berita Xinhua, dua tentara AS tewas kemarin akibat ledakan bom di jalan yang dilintasi satuan patroli militer AS di Propinsi Diyali, timur laut Baghdad. Insiden tersebut juga menciderai dua marinir AS lainnya. Seorang marinir AS juga tewas akibat ledakan bom pinggir jalan di selatan Baghdad. Dengan demikian, jumlah tentara AS yang tewas di Irak sejak bulan Maret 2003 lalu, tercatat mencapai 3.002 orang. Namun sumber-sumber independen menyebutkan jumlah korban tewas di pihak militer AS di Irak sudah mencapai angka puluhan ribu orang.
       
      Menyusul eskalasi jumlah korban tewas tentara AS dan kian buruknya kondisi di Irak, Seorang Senator AS, Joseph Boyden, meminta Gedung Putih segera menarik mundur pasukannya dari Irak. Koran USA TODAY memuat analisa Boyden yang menulis bahwa masalah tersebut merupakan tuntutan seluruh warga AS. Dikatakannya, "Sebelum terjadi tragedi besar akibat munculnya ruang kosong pasca penarikan mundur pasukan AS dan sebelum kita meninggalkan mimpi buruk di Irak, secepatnya tentara AS ditarik mundur dari negeri 1001 malam itu. Menurutnya, seluruh kinerja politis dan militer AS di Irak harus dirombak total.
       
       
      Nabih Berri Akan Ajukan Prakarsa Baru untuk Krisis Politik Lebanon
      Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Beri, mengkonfirmasikan penyusunan prakarsa baru untuk menyelesaikan krisis politik negaranya. Seperti dilansir Kantor Berita Fars yang mengutip laporan Koran Al Akhbar terbitan Lebanon, Nabih Beri mengatakan bahwa prakarsa tersebut akan segera diumumkan. Sebelumnya, Mantan PM Lebanon, Salim Alhos, juga mengajukan prakarsa untuk menyelesaikan krisis politik negara ini, namun tidak ada penindaklanjutan dalam hal ini.
       
      Sementara itu, Front Amal dan Hezbollah Lebanon tetap menekankan berlanjutnya demonstrasi dan mogok damai guna menentang pemerintahan PM Fuad Siniora. Demikian dilaporkan Kantor Berita IRNA. Kedua fraksi Lebanon itu kemarin menggelar pertemuan di kota Sour, selatan Beirut. Dalam pertemuan itu ditekankan kembali soal pentingnya tercapainya stabilitas dan partisipasi seluruh kelompok dalam kancah politik Lebanon. Selain itu, kelompok oposisi tidak akan mengalah di hadapan partai berkuasa atau Kelompok 14 Maret.
       
      Pertemuan itu juga menghasilan sebuah deklarasi yang menyebut pemerintah tidak bertanggung jawab dan hanya mengutamakan kepentingan pihak asing. Tidak hanya itu, Kelompok 14 Maret juga dituding sengaja mengandaskan seluruh upaya guna menyelesaikan krisis politik Lebanon.
       
       
      Tel Aviv Takkan Bebaskan Tahanan Palestina
      Sumber terdekat dengan PM Israel, Ehud Olmert menyatakan, untuk sementara ini, Tel Aviv tidak akan membebaskan para tahanan Palestina. Seperti dilansir Kantor Berita IRNA, kabinet Zionis (Knesset) hingga kini menentang pembebasan para tahanan Palestina termasuk Sekjen Gerakan Fatah, Marwan Bargouthi. Sementara itu, perundingan antara Olmert dan penanggung jawab kasus pembebasan Ghilat Shalit, tentara Israel yang ditawan kelompok perjuangan Palestina, tidak membuahkan hasil. Olmert menolak pembebasan 1.400 tahanan Palestina dengan dalih kelompok perjuangan Palestina juga tidak bersedia membebaskan Shalit.
      Saat ini tercatat 9.000 warga Palestina yang mendekam di penjara Rezim Zionis. Mereka ditangkap dan dipenjara tanpa melalui pengadilan terlebih dahulu. Di antara para tahanan itu, terdapat ribuan anak kecil dan perempuan.
       
       
      Israel Ingin Bergabung dalam NATO
      Menteri Urusan Strategi Rezim Zionis Israel, Avigdor Lieberman, mengkonfirmasikan keinginan Tel Aviv bergagung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sebagaimana dilaporkan wartawan IRIB, Lieberman kemarin mengatakan, bergabung dalam NATO dan masuk dalam komunitas Eropa merupakan prioritas politik dan keamanan Israel pada tahun-tahun mendatang.
       
      Ditambahkannya pula, tidak diragukan lagi bahwa negara-negara anggota NATO akan menyambut baik keanggotaan Israel. Lieberman juga optimis bahwa setelah keanggotaan Israel disetujui, NATO akan memberikan kebebasan penuh kepada Tel Aviv untuk menggulirkan operasi militernya di kawasan.
       
       
      Israel Siagakan Armada Angkatan Udaranya
      Rezim Zionis Israel menyiagakan seluruh armada Angkatan Udaranya menyusul sebuah pesawat tanpa awak Lebanon memasuki zona udara Palestina pendudukan. Demikian dilaporkan Televisi Al Arabia. Padahal sejak Israel menarik mundur pasukannya dari Lebanon selatan enam tahun lalu, pesawat tempur Israel secara rutin melanggar zona udara Lebanon.
       
      LINTAS   WARTA
       
       
       
       
      Barat di Balik Dosa-Dosa Saddam
       
      Kematian Saddam Hossein di tiang gantungan bukan berarti keadilan menyangkut dosa-dosa eks diktator Irak itu sudah sepenuhnya tegak, setidaknya di mata bangsa Iran. Bagi bangsa yang pernah menjadi korban kekejaman Saddam ini, rezim Ba'ath pimpinan Saddam tidak sendirian dalam menebar kejahatan, melainkan dibantu oleh kekuatan-kekuatan Barat, terutama AS.  
      Sebab itu, Kejaksaan Umum Republik Islam Iran menegaskan, sebagaimana Saddam diadili, para pendukungnya pun juga harus diadili di mahkamah, karena merekalah yang membekali rezim Ba'ath dengan senjata kimia, fasilitas perang, dan informasi militer sehingga terjadilah berbagai tragedi besar dan menimpakan kerugian jiwa dan materi yang tak terhitung jumlahnya terhadap bangsa Iran.
       
      Dalam perang delapan tahun melawan agresi rezim Ba'ath, Iran bukan hanya menderita  kerugian materi sebesar ratusan miliar USD, tetapi juga kehilangan ratusan ribu prajurit dan warga sipilnya serta pedih menyaksikan para korban cidera. Sebelum pengadilan Saddam dibentuk, pemerintah Iran sudah menuntut pengusutan terhadap semua kejahatan Saddam. Dalam rangka ini, Teheran menampung dan menyusun pengaduan para korban perang dan penderita dampak serangan bom kimia Saddam. Pengaduan ini lantas diajukan kepada para pejabat pengadilan yang berwenang di Irak.
       
      Namun, seperti dapat diduga sebelumnya, pengaduan itu dihadang oleh upaya-upaya sabotase pasukan yang menduduki Irak. Di mata mereka, Saddam jangan sampai diseret ke pengadilan dengan berkas perang Iran-Irak karena dapat membuka belang dan aib besar AS dan negara-negara Barat lainnya. Tentang peranan Barat dalam kejahatan Saddam itu, tak sedikit media Barat sendiri mengungkap bahwa AS gencar mendukung Saddam pada tahun 1980-an, dan bahwa fakta ini menjadi masalah besar bagi pasukan pendudukan jika Saddam diadili secara transparan dan komprehensif.
       
      Dukungan AS kepada antagonisme Saddam terlihat antara lain dalam peristiwa kunjungan Donald Rumfeld selaku utusan khusus presiden AS saat itu ke Baghdad. Dua kali dia datang ke Istana Saddam; pertama pada Desember 1983, dan kedua pada 24 Maret 1984, yaitu tepat ketika PBB untuk pertama kalinya mengkonfirmasikan rezim Saddam sebagai pihak agresor.  Lima hari setelah kunjungan Rumsfeld, Harian New York Times melaporkan bahwa para diplomat AS puas terhadap Irak, puas menyaksikan balatentara Saddam mengganyang Iran, negara Republik Islam yang belum lama berdiri pasca revolusi pimpinan Imam Khomaini.
       
      Dengan fakta-fakta ini, jelas bahwa jatuhnya Saddam akibat invasi militer AS tidak dapat menutupi andil Washington dalam aksi-aksi kriminal Saddam. Dan untuk membongkar fakta-fakta kejahatan AS itu, Iran berusaha menempuh koridor hukum agar semua dimensi kejahatan Saddam jelas di mata dunia dan sejarah.
       
       
       
       
       
      Emir Peretz di Tengah Ceceran Publik Israel
       
      Kegagalan rezim Zionis Israel dalam invasi militernya selama sekitar satu bulan terhadap Libanon hingga kini masih menimbulkan gempa politik susulan. Setelah dua petinggi militernya mundur, kini giliran Emir Peretz terancam mundur dari jabatannya sebagai Menteri Peperangan Israel. Dia menuai banyak kecaman dari berbagai forum politik Israel.
       
      Karena itu, dalam sebuah pertemuan dengan kedua orang tua salah satu tentara Israel yang tewas dalam Perang Libanon, Peretz menyatakan siap meletakkan jabatan. Katanya, jika komisi Winograd yang dibentuk pemerintah untuk menyelidiki perang Libanon mengeluarkan laporan yang menganggapnya bertanggungjawab atas kekandasan tentara Israel, maka dia akan mengundurkan diri.
       
      Komisi Winograd dibentuk Perdana Menteri Israel Ehud Olmert September 2006 menyusul derasnya arus tekanan publik terhadap pemerintahan Olmert. Dua petinggi militer yang sudah mundur akibat tekanan itu adalah Komandan Angkatan Darat kawasan utara, Udi Adam, dan Komandan Divisi 91, Gal Hirsh.
       
      Tapi mundurnya mereka rupanya masih belum memuaskan publik, apalagi hasil jajak pendapat telah "memvonis" Emir Peretz dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Dan Halutz, sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas kekandasan militer Israel. Menurut forum-forum politik dan pers Israel, kekandasan Israel adalah hasil disefektivitas kinerja dan ke-non-sipilan para pejabat tinggi Israel.
       
      Perang Libanon yang berlangsung Juli sampai Agustus 2006 itu menjadi tamparan telak untuk Israel. Di situ mitos keperkasaan dan kedigdayaan Israel runtuh setelah menjulang megah selama hampir enam dekade. Ini terjadi karena Israel tetap gagal menumpas Hizbullah Libanon, walaupun sudah mengerahkan segenap kehebatan mesin-mesin perangnya, termasuk senjata-senjata inkonvensional, dalam menggempur Libanon secara masif dari darat, laut, dan udara. 
       
      Pasokan senjata supermodern AS yang dikirim ke Israel melalui bandara-bandara London juga tak dapat melindungi Israel dari sengitnya perlawanan Hizbullah. Pada puncaknya, jutaan bom cluster dan fosfor yang dijatuhkan Israel di daratan Libanon juga tak ampuh untuk membuyarkan spirit perlawanan para pejuang Hizbullah.   
       
      Sekarang, empat bulan pasca perang, publik Israel tetap mencecar para petinggi Tel Aviv; mengapa semua itu bisa terjadi? Di tengah cecaran inilah Sang  Menteri Peperangan Emir Peretz kini menjadi pesakitan utama. Dia pun tampak pasrah di depan arus opini yang berkembang sehingga mengaku akan segera mundur dan tidak akan menunggu laporan final Komisi Winograd; cukup laporan sementara yang memastikan ketidak-becusan dirinya.
       
       
        
       
       
       
       
      .
       
       

       
       
       

      __________________________________________________
      Bruker du Yahoo!?
      Lei av spam? Yahoo! Mail har den beste spambeskyttelsen
      http://no.mail.yahoo.com

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.