Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: «PPDi» LAGI, POLEMIK “TELANJANG”! ( II-Akhir )

Expand Messages
  • husaini daud
    Tulisan anda kendatipun tidak habis saya baca namun saya sudah memahami idenya dan cukup bagus saya kira. Sayang nya orang-orang yang sepertinya mengklaim diri
    Message 1 of 4 , Jun 1, 2006
      Tulisan anda kendatipun tidak habis saya baca namun saya sudah memahami idenya dan cukup bagus saya kira. Sayang nya orang-orang yang sepertinya mengklaim diri sebagai orang-orang religius kerapkali terperangkap dalam persoalan kulit bukan substantifnya. Terima kasih saudara Leonowens Sp pemikiran anda sangat okey.

      LEONOWENS SP <leonowens_sp@...> wrote:
      LAGI, POLEMIK “TELANJANG”! ( II-Akhir )
       
      Saya sepakat jika asumsi saudara mencoba memberikan suatu kritisan tentang cara berpakaian minim ataupun cara berpakaian “trend dunia” saat ini, merupakan arahan industri-industri dunia, lalu mereka telah mengeksploitasi ekspresi kebebasan dan ke-kreatifitasan yang semu. Tetapi ada satu pertanyaan yang hendak saya pertanyakan, yaitu sebelum industri-industri dunia tersebut (lebih tepatnya jika saya katakan sebagai “produser trend” dan “germo trend”) eksis pada masa sekarang ini, lalu bagaimana juga dengan sistem liberalisasi pasar uang, pasar saham, pasar komoditas, dan pasar hasil pertambangan dan mineral; yang saat ini mampu mengontrol kehidupan manusia secara kronis, hingga mereproduksi sistem masyarakat yang akhirnya menjadi masyarakat uang? Apakah harus dikeluarkan seperangkat aturan yang mengatur masyarakat (semacam “kontrol budaya”) agar masyarakat tidak terbudaya dengan uang? Bukankah itu ambiguitas tentunya?! Sedangkan, ada suatu sistem yang telah mereposisi uang, sebagai salah satu kebutuhan esensi dalam kehidupan manusia, dan hal itu merupakan realita masa kini, yaitu kapitalisme! Lalu bagaimana juga denga realitas kelas yang terjadi pada masyarakat masa kini? Apakah harus dikeluarkan seperangkat perundangan dan peraturan agar tidak terjadi adanya masyarakat kelas? Ataukah harus dipasrahkan oleh semacam “takdir” yang terjadi ditengah-tengah masyarakat? Atau hanya mampu meminimalisirnya, dengan memberikan sedikit “candu tentang budaya ambigu”? 
       
      Lalu apakah berarti kita harus meniadakan seperangkat hukum dan aturan yang mengontrol masyarakat? Tentu saja tidak. Tetapi bukan berarti hukum dan aturan untuk mengontrol masyarakat, ditujukan “hanya untuk sekadar mengontrol masyarakat” hingga sampai kepada moralitasnya. Karena hal tersebut telah terbukti riil sebagai alat bagi pembodohan masyarakat. Dan apakah industri media yang lebih dominan dikuasai oleh kaum pemilik modal, dan merupakan alat efektif propaganda neoliberalisme, harus ditiadakan? Jika mampu, kenapa tidak. Tetapi untuk apakah hanya sekadar menerbitkan seperangkat hukum dan aturan, tetapi tidak mampu mengontrol revolusi kebebasan teknologi-informasi, yang pada akhirnya akan “memberikan racun secara diam-diam” kepada masyarakat juga? Tentu sangat ambigu bukan, jika kita hanya memberikan “tekanan” pada satu sisi kehidupan, tetapi sisi kehidupan lainnya dibiarkan begitu saja. Perlu sekadar catatan, bahwa hingga daerah-daerah (terpencil) agak jauh dari perkotaan-pun pada rata-rata daerah Indonesia, sebagian masyarakatnya sudah memiliki parabola (sebagai teknologi-informasi). Mereka bisa menonton bermacam acara dan siaran luar negeri dengan banyak channel pilihan, yang sebagiannya banyak menunjukkan hal-hal yang dianggap “pornografi dan pornoaksi”. Kenapa tidak kita paksa pemerintah untuk mem-block rata-rata satelit untuk tidak diarahkan frekwensinya juga ke Indonesia? 
       
      Tentunya jika kita memahami bahwasannya hal itu sangat sulit untuk dibendung, maka kita bukanlah harus melakukan beberapa praksis ambigu. Praksis yang paling utama adalah praksis pencerahan, agar masyarakat sadar dan cerdas akan realita yang tengah dihadapi olehnya. Realita kemiskinan, realita ketertindasan dan bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, realita eksploitasi sistemik, realita peperangan, kapitalisme global, liberalisme pasar, neo-imperialisme, neo-kolonialisme, masalah keadilan dalam kehidupan sehari-harinya, hingga sampai pada generasi lanjutannya; hal itu merupakan realita masyarakat yang menyejarah. Disanalah hendaknya kita mulai membangun tentang budaya pencerdasan masyarakat. Mungkin dapat kita katakan jika kita hendak menaturalisasi budaya bangsa, maka kita harus membangun budaya yang esensinya untuk praksis pembebasan bagi masyarakat, tanpa membiaskan nilai-nilai tradisi-budaya yang ada.*** (selesai) 
       
      Mei 2006, Leonowens SP

      How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

      ------------------------------------------------------------------
                             TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
      ------------------------------------------------------------------
      Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

      Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
      -untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@...

      **************************************************************
      -Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
                     : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
      **************************************************************
      FOR THE LATEST NEWS link to us:
      http://PPDi.cjb.net/
                                http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

      ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!




      YAHOO! GROUPS LINKS





      __________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
      http://mail.yahoo.com

    • husaini daud
      Tulisan anda kendatipun tidak habis saya baca, namun saya sudah memahami idenya dan cukup bagus saya kira. Sayang nya orang-orang yang sepertinya mengklaim
      Message 2 of 4 , Jun 1, 2006
        Tulisan anda kendatipun tidak habis saya baca, namun saya sudah memahami idenya dan cukup bagus saya kira. Sayang nya orang-orang yang sepertinya mengklaim diri sebagai orang-orang religius kerapkali terperangkap dalam persoalan kulit bukan substantifnya. Terima kasih saudara Leonowens Sp pemikiran anda sangat okey.

        LEONOWENS SP <leonowens_sp@...> wrote:
        LAGI, POLEMIK “TELANJANG”! ( II-Akhir )
         
        Saya sepakat jika asumsi saudara mencoba memberikan suatu kritisan tentang cara berpakaian minim ataupun cara berpakaian “trend dunia” saat ini, merupakan arahan industri-industri dunia, lalu mereka telah mengeksploitasi ekspresi kebebasan dan ke-kreatifitasan yang semu. Tetapi ada satu pertanyaan yang hendak saya pertanyakan, yaitu sebelum industri-industri dunia tersebut (lebih tepatnya jika saya katakan sebagai “produser trend” dan “germo trend”) eksis pada masa sekarang ini, lalu bagaimana juga dengan sistem liberalisasi pasar uang, pasar saham, pasar komoditas, dan pasar hasil pertambangan dan mineral; yang saat ini mampu mengontrol kehidupan manusia secara kronis, hingga mereproduksi sistem masyarakat yang akhirnya menjadi masyarakat uang? Apakah harus dikeluarkan seperangkat aturan yang mengatur masyarakat (semacam “kontrol budaya”) agar masyarakat tidak terbudaya dengan uang? Bukankah itu ambiguitas tentunya?! Sedangkan, ada suatu sistem yang telah mereposisi uang, sebagai salah satu kebutuhan esensi dalam kehidupan manusia, dan hal itu merupakan realita masa kini, yaitu kapitalisme! Lalu bagaimana juga denga realitas kelas yang terjadi pada masyarakat masa kini? Apakah harus dikeluarkan seperangkat perundangan dan peraturan agar tidak terjadi adanya masyarakat kelas? Ataukah harus dipasrahkan oleh semacam “takdir” yang terjadi ditengah-tengah masyarakat? Atau hanya mampu meminimalisirnya, dengan memberikan sedikit “candu tentang budaya ambigu”? 
         
        Lalu apakah berarti kita harus meniadakan seperangkat hukum dan aturan yang mengontrol masyarakat? Tentu saja tidak. Tetapi bukan berarti hukum dan aturan untuk mengontrol masyarakat, ditujukan “hanya untuk sekadar mengontrol masyarakat” hingga sampai kepada moralitasnya. Karena hal tersebut telah terbukti riil sebagai alat bagi pembodohan masyarakat. Dan apakah industri media yang lebih dominan dikuasai oleh kaum pemilik modal, dan merupakan alat efektif propaganda neoliberalisme, harus ditiadakan? Jika mampu, kenapa tidak. Tetapi untuk apakah hanya sekadar menerbitkan seperangkat hukum dan aturan, tetapi tidak mampu mengontrol revolusi kebebasan teknologi-informasi, yang pada akhirnya akan “memberikan racun secara diam-diam” kepada masyarakat juga? Tentu sangat ambigu bukan, jika kita hanya memberikan “tekanan” pada satu sisi kehidupan, tetapi sisi kehidupan lainnya dibiarkan begitu saja. Perlu sekadar catatan, bahwa hingga daerah-daerah (terpencil) agak jauh dari perkotaan-pun pada rata-rata daerah Indonesia, sebagian masyarakatnya sudah memiliki parabola (sebagai teknologi-informasi). Mereka bisa menonton bermacam acara dan siaran luar negeri dengan banyak channel pilihan, yang sebagiannya banyak menunjukkan hal-hal yang dianggap “pornografi dan pornoaksi”. Kenapa tidak kita paksa pemerintah untuk mem-block rata-rata satelit untuk tidak diarahkan frekwensinya juga ke Indonesia? 
         
        Tentunya jika kita memahami bahwasannya hal itu sangat sulit untuk dibendung, maka kita bukanlah harus melakukan beberapa praksis ambigu. Praksis yang paling utama adalah praksis pencerahan, agar masyarakat sadar dan cerdas akan realita yang tengah dihadapi olehnya. Realita kemiskinan, realita ketertindasan dan bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, realita eksploitasi sistemik, realita peperangan, kapitalisme global, liberalisme pasar, neo-imperialisme, neo-kolonialisme, masalah keadilan dalam kehidupan sehari-harinya, hingga sampai pada generasi lanjutannya; hal itu merupakan realita masyarakat yang menyejarah. Disanalah hendaknya kita mulai membangun tentang budaya pencerdasan masyarakat. Mungkin dapat kita katakan jika kita hendak menaturalisasi budaya bangsa, maka kita harus membangun budaya yang esensinya untuk praksis pembebasan bagi masyarakat, tanpa membiaskan nilai-nilai tradisi-budaya yang ada.*** (selesai) 
         
        Mei 2006, Leonowens SP

        How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

        ------------------------------------------------------------------
                               TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
        ------------------------------------------------------------------
        Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

        Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
        -untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@...

        **************************************************************
        -Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
                       : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
        **************************************************************
        FOR THE LATEST NEWS link to us:
        http://PPDi.cjb.net/
                                  http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

        ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!




        YAHOO! GROUPS LINKS





        __________________________________________________
        Do You Yahoo!?
        Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
        http://mail.yahoo.com

      • husaini daud
        Tulisan anda kendatipun tidak habis saya baca, namun saya sudah memahami idenya dan cukup bagus saya kira. Sayang nya orang-orang yang sepertinya mengklaim
        Message 3 of 4 , Jun 1, 2006
          Tulisan anda kendatipun tidak habis saya baca, namun saya sudah memahami idenya dan cukup bagus saya kira. Sayang nya orang-orang yang sepertinya mengklaim diri sebagai orang-orang religius kerapkali terperangkap dalam persoalan kulit bukan substantifnya. Terima kasih saudara Leonowens Sp pemikiran anda sangat okey.

          LEONOWENS SP <leonowens_sp@...> wrote:
          LAGI, POLEMIK “TELANJANG”! ( II-Akhir )
           
          Saya sepakat jika asumsi saudara mencoba memberikan suatu kritisan tentang cara berpakaian minim ataupun cara berpakaian “trend dunia” saat ini, merupakan arahan industri-industri dunia, lalu mereka telah mengeksploitasi ekspresi kebebasan dan ke-kreatifitasan yang semu. Tetapi ada satu pertanyaan yang hendak saya pertanyakan, yaitu sebelum industri-industri dunia tersebut (lebih tepatnya jika saya katakan sebagai “produser trend” dan “germo trend”) eksis pada masa sekarang ini, lalu bagaimana juga dengan sistem liberalisasi pasar uang, pasar saham, pasar komoditas, dan pasar hasil pertambangan dan mineral; yang saat ini mampu mengontrol kehidupan manusia secara kronis, hingga mereproduksi sistem masyarakat yang akhirnya menjadi masyarakat uang? Apakah harus dikeluarkan seperangkat aturan yang mengatur masyarakat (semacam “kontrol budaya”) agar masyarakat tidak terbudaya dengan uang? Bukankah itu ambiguitas tentunya?! Sedangkan, ada suatu sistem yang telah mereposisi uang, sebagai salah satu kebutuhan esensi dalam kehidupan manusia, dan hal itu merupakan realita masa kini, yaitu kapitalisme! Lalu bagaimana juga denga realitas kelas yang terjadi pada masyarakat masa kini? Apakah harus dikeluarkan seperangkat perundangan dan peraturan agar tidak terjadi adanya masyarakat kelas? Ataukah harus dipasrahkan oleh semacam “takdir” yang terjadi ditengah-tengah masyarakat? Atau hanya mampu meminimalisirnya, dengan memberikan sedikit “candu tentang budaya ambigu”? 
           
          Lalu apakah berarti kita harus meniadakan seperangkat hukum dan aturan yang mengontrol masyarakat? Tentu saja tidak. Tetapi bukan berarti hukum dan aturan untuk mengontrol masyarakat, ditujukan “hanya untuk sekadar mengontrol masyarakat” hingga sampai kepada moralitasnya. Karena hal tersebut telah terbukti riil sebagai alat bagi pembodohan masyarakat. Dan apakah industri media yang lebih dominan dikuasai oleh kaum pemilik modal, dan merupakan alat efektif propaganda neoliberalisme, harus ditiadakan? Jika mampu, kenapa tidak. Tetapi untuk apakah hanya sekadar menerbitkan seperangkat hukum dan aturan, tetapi tidak mampu mengontrol revolusi kebebasan teknologi-informasi, yang pada akhirnya akan “memberikan racun secara diam-diam” kepada masyarakat juga? Tentu sangat ambigu bukan, jika kita hanya memberikan “tekanan” pada satu sisi kehidupan, tetapi sisi kehidupan lainnya dibiarkan begitu saja. Perlu sekadar catatan, bahwa hingga daerah-daerah (terpencil) agak jauh dari perkotaan-pun pada rata-rata daerah Indonesia, sebagian masyarakatnya sudah memiliki parabola (sebagai teknologi-informasi). Mereka bisa menonton bermacam acara dan siaran luar negeri dengan banyak channel pilihan, yang sebagiannya banyak menunjukkan hal-hal yang dianggap “pornografi dan pornoaksi”. Kenapa tidak kita paksa pemerintah untuk mem-block rata-rata satelit untuk tidak diarahkan frekwensinya juga ke Indonesia? 
           
          Tentunya jika kita memahami bahwasannya hal itu sangat sulit untuk dibendung, maka kita bukanlah harus melakukan beberapa praksis ambigu. Praksis yang paling utama adalah praksis pencerahan, agar masyarakat sadar dan cerdas akan realita yang tengah dihadapi olehnya. Realita kemiskinan, realita ketertindasan dan bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, realita eksploitasi sistemik, realita peperangan, kapitalisme global, liberalisme pasar, neo-imperialisme, neo-kolonialisme, masalah keadilan dalam kehidupan sehari-harinya, hingga sampai pada generasi lanjutannya; hal itu merupakan realita masyarakat yang menyejarah. Disanalah hendaknya kita mulai membangun tentang budaya pencerdasan masyarakat. Mungkin dapat kita katakan jika kita hendak menaturalisasi budaya bangsa, maka kita harus membangun budaya yang esensinya untuk praksis pembebasan bagi masyarakat, tanpa membiaskan nilai-nilai tradisi-budaya yang ada.*** (selesai) 
           
          Mei 2006, Leonowens SP

          How low will we go? Check out Yahoo! Messenger’s low PC-to-Phone call rates.

          ------------------------------------------------------------------
                                 TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
          ------------------------------------------------------------------
          Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

          Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
          -untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@...

          **************************************************************
          -Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
                         : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
          **************************************************************
          FOR THE LATEST NEWS link to us:
          http://PPDi.cjb.net/
                                    http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages

          ALL ADVERTISERS THAT HAVE NOTHING TO DO WITH condemning indon WILL BE BANNED WITHOUT WARNING!!!




          YAHOO! GROUPS LINKS





          __________________________________________________
          Do You Yahoo!?
          Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
          http://mail.yahoo.com

        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.