Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Korban Gempa Serbu Kantor Gubernur

Expand Messages
  • kerajaan pasai
    http://www.indomedia.com/bpost/062006/1/depan/utama1.htm Senin, 29 Mei 2006 02:43:38 Korban Gempa Serbu Kantor Gubernur Jogja, BPost Hingga hari kelima
    Message 1 of 1 , Jun 1, 2006
    • 0 Attachment
       
      Senin, 29 Mei 2006 02:43:38
       
      Korban Gempa Serbu Kantor Gubernur
       
      Jogja, BPost

      Hingga hari kelima pascagempa, penyaluran bantuan untuk para korban di sejumlah tempat di Jogjakarta dan beberapa wilayah di Jawa Tengah, belum tersalur secara merata. Masih banyak korban belum menerima bantuan pangan maupun obat-obatan yang sangat dibutuhkan.
       
      Akibatnya, Kantor Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta, Rabu (31/5) diserbu ribuan korban gempa di wilayah itu yang hingga kemarin belum memperoleh bantuan. Namun, berbagai bantuan yang diharapkan para korban belum tersedia di sana.
       
      Warga hanya menerima satu sak berisi 25 kg beras. Sementara bantuan lainnya seperti obat-obatan, tenda atau selimut tidak ada. "Satu RT di tempat kami hanya memperoleh beras satu sak," tukas Suroto, mewakili warga satu RT di wilayahnya, Desa Temuwoh, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.
      Bersamaan dengan ketidakberesan penyaluran bantuan kepada korban gempa, harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Dari pantauan BPost, harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat eceran sangat tidak rasional.
       
      Harga BBM jenis premium di kawasan Jalan Parangtritis dijual Rp30.000 per liter. Sedangkan di Bantul bervariasi antara Rp15.000 hingga Rp25.000/liter. Di Kota Jogja seperti di kawasan Gondokusuman harga per liter mencapai Rp9.000. Antrean panjang pun menjadi pemandangan rutin setiap hari di hampir seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
       
      "Antrean ada di mana-mana terutama dekat kawasan bencana, Daripada antre berjam-jam, ya lebih baik cari beli eceran, meski dengan harga selangit," kata Edi Sukrisna, warga setempat.
       
      Tak hanya premium, harga bahan makanan pun mengalami kenaikan gila-gilaan. Harga cabai merah di pasar Beringharjo yang biasanya Rp 8.000/kg, kini menjadi Rp14.000/kg. "Barangnya saat ini sangat langka," kilah seorang pedagang. Gula putih yang sebelum gempa Rp6.000/kg, saat ini Rp10.000. Untuk telor, sebelum gempa Rp6.200/kg, sekarang Rp8.500/kg.
       
      Bahkan, seorang warga harus mengeluarkan Rp40 ribu untuk sebungkus nasi rames. Isi nasi rames itu hanya berupa nasi dengan sayur plus lauk tahu dan tempe goreng. Padahal, biasanya nasi rames seperti hanya dijual Rp3 ribu hingga Rp4 ribu per bungkus. "Ya mau apa lagi, nasinya sudah dimakan, ya harus bayar," ketus para pembeli.
       
      Nasi Kering
       
      Tidak kunjung tibanya bantuan juga menyebabkan ratusan korban gempa di Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, terpaksa mengkonsumsi umbi-umbian. Bahkan, tidak sedikit warga yang memakan nasi kering yang biasa diberikan kepada itik. "Kami makan umbi-umbian yang kami cari sekitar tempat ngungsi atau makan sego aking (nasi yang telah dikeringkan lalu direndam air panas, Red)," ujar Bajang, warga Krakitan.
       
      Seluruh warga di enam desa; Krakitan, Karbolo, Krikilan, Banyuurip, Dolon dan Negahan mengaku belum sekali pun menerima bantuan dari pemerintah. Kalau ada, menurut mereka, bantuan berupa makanan nasi segar atau mi instan dari perseorangan atau organisasi sosial. Padahal mereka sangat memerlukan bantuan karena seluruh rumah di enam desa di Kecamatan Bayat ini rata dengan tanah.
       
      Suroto, salah satu warga mengaku, selain tidak pernah memperoleh bantuan apa pun dari pemerintah, aparat desa maupun kecamatan belum pernah mendata mereka untuk sekadar mengetahui warganya yang meninggal atau sakit.
       
      Pemandangan tidak kalah menyedihkan juga dialami para korban gempa di Dusun Secang RT 3, Kelurahan Seloharjo, Kecamatan Pundong, Bantul, Jogjakarta. Warga terpaksa mencari makanan dengan mencabut tanaman singkong, karena tidak ada bantuan.
       
      "Kula bade teng kebon, mendet tela (saya mau ke kebun, mengambil singkong, Red)," tutur Ny Tukiyem. Di tempat pengungsian, Tukiyem hanya makan seadanya, bahkan seringkali mengais sisa-sisa makanan.
      Ketua RT 3 Dusun Secang, Parno Dikarjo mengatakan, dirinya sudah melaporkan warganya sebanyak 28 KK yang membutuhkan bantuan ke Kelurahan Seloharjo. "Pihak kelurahan hanya menjanjikan secepetnya dikirim bantuan. Tetapi, sekarang belum dikirim," ujarnya.
       
      Bupati Bantul, Idham Samawi di Pokso Satlak mengatakan pihaknya terus berupaya mendistribusikan bantuan bagi korban bencana. Bahkan, bantuan-bantuan ada yang langsung dikirim para donatur ke para korban di lokasi. "Memang, semua daerah di Bantul menjadi korban bencana. Saya sudah meminta pelaksana di lapangan supaya jangan ada korban yang tidak tersentuh," cetusnya.
       
      Belum Pulih
       
      Empat hari setelah gempa, infrastruktur di Bantul belum pulih benar. Saluran listrik hingga kemarin di beberapa tempat belum menyala seluruhnya. Menurut M Fadholi, manajer PLN Area Pelayanan dan Jaringan Jogjakarta mengatakan memerlukan waktu agak lama untuk memulihkan dan memperbaiki sarana listrik. "Semua sudah masuk dalam rencana perbaikan, kini kami mengerahkan seratus lebih teknisi dan pegawai untuk memperbaikinya," ujarnya.
      Selain listrik, persediaan air bersih juga belum mencukupi namun sambungan telepon mulai lancar. Mengenai fasilitas tempat tinggal bagi pengungsi, baru 71 tenda besar yang berdiri di posko-posko. Jumlah itu jauh dari kebutuhan pengungsi yang jumlahnya mencapai ribuan.
       
      Pendistribusian logistik selain menggunakan jalan darat juga menggunakan helikopter TNI dan Polda Jogja. Sementara Satkorlak belum membuat pemetaan pengungsian penduduk lebih detil, sehingga banyak relawan asing kebingungan jika mau mengirim bantuan langsung ke pengungsi.
       
      Victoria, relawan dari United Nation Office for Coordination of Humanitarian Affair mengaku kesulitan menyalurkan bantuan berupa perlengkapan telekomunikasi di berbagai pelosok dusun karena tidak ada pemetaan kebutuhan dan pemetaan tempat.
       
      Tragisnya di situasi menyedihkan ini, di berbagai perkampungan penduduk yang telah rusak dan hancur justru banyak dimasuki pencuri. Sejumlah penduduk bahkan menangkap basah para pencuri itu ketika sedang mengangkut televisi. "Kami terpaksa harus ronda tiap malam di bekas tempat tinggal kami, kalau tidak nanti barang-barang kami hilang," kata seorang warga.
       
      Dari data Depsos, jumlah korban mati hingga Rabu kemarin, mencapai 5.846 orang. Rinciannya, Kabupaten Bantul 3.580 orang, Sleman 326 orang, Gunung Kidul 69 orang, Kota Jogja 165 orang, Kulonprogo 26 orang, Klaten 1.668 orang, Boyolali 3 orang, Magelang 3 orang, Purworejo 3 orang, dan Sukoharjo 1 orang. Sedangkan jumlah korban yang luka berat dan luka ringan sebanyak 17.515 orang dan 5.216 orang. JBP/sry/tj/yul/taf/ewa/pras
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.