Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

OMAR PUTEH: PLUS I + INDUNESIA TIWUL.

Expand Messages
  • Ahmad Sudirman
    http://www.dataphone.se/~ahmad ahmad@dataphone.se Stavanger, 31 Desember 2005 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Assalamu alaikum wr wbr. PLUS I + INDUNESIA TIWUL.
    Message 1 of 2 , Dec 31, 2005
    • 0 Attachment
      http://www.dataphone.se/~ahmad
      ahmad@...

      Stavanger, 31 Desember 2005

      Bismillaahirrahmaanirrahiim.
      Assalamu'alaikum wr wbr.


      PLUS I + INDUNESIA TIWUL.
      Omar Puteh
      Stavanger - NORWEGIA.


      NKRI DIPERINTAH OLEH REZIM INDONESIA JAWA CHAUVINIS ATAU JAWA SENTRIS ATAU
      JAWA UNITARIS ATAU JAWA MOJOKERTONIS-SOLOIS OLEH SOEKARNO SI PENIPU LICIK.
      GREAT JAVA UBER ALLES!?

      Saudara Tiwul,

      Disini, kembali saya menyambung lagi respon saya tentang: Indonesia
      Tiwul-nya anda itu Tiwul.

      Tetapi kali ini, biarlah ia terpintas lewat saudara Irfan Anshory, Direktur
      Pendidikan "Ganesha Operation", si penulis Indunesia Tiwul-anda itu sendiri.

      Saudara Irfan Anshory, mengapakah anda menggunakan institusi pendidikan anda
      itu dengan: India Anglo atau Indo Anglo? Ataukah India Anglo atau Indo
      Anglo anda itu, kemudiannya akan berevolusi atau berasimilasi juga? Kalau
      ya, lantas akan menjadi apa agaknya ya?

      Saudara Irfan Anshory, nampaknya anda agak rasialis atau chauvinis?

      Kalau "hindunesia atau hindunesha" itu dibaca oleh Raden Samuel Plotomi
      sebagai "indosnesos" mengikut pelet lidah Yunani-nya, dan kemudian sesampai
      ke Raden George Samuel Windsor Earl dengan pelet England-nya katanya sudah
      menjadi "indunesia". Lantas sampai pula ke Raden James Richardson Logan
      dengan pelet lidah Scotland-nya yang agak keras berbanding pelet siorang
      England, maka katanya sebutan "indunesia" itu, sudah pula bertukar menjadi
      "indonesia"?

      Raden Adolf Bastian-pun, dengan pelet lidah Jerman-nya memang agak serasi
      juga dengan "indonesia" itu dan langsung mempublikasikannya: Wilayah
      "hindunesia atau hindunesha" atau "indosnesos" atau "little india" atau
      "futher india" atau bahagian dari wilayah great india atau "tanjung keling"
      atau "kepulauan sunda besar dan sunda kecil" atau "indunesia" adalah sebagai
      "indonesia" namanya nusantara, sama sebagaimana pernyataan Dr Henry
      Kissinger, mantan Menlu Amerika Serikat, yang juga pernah mengingatkan bahwa
      wilayah nusantara yang dimaksudkan itu: "indonesia", adalah sebagai sebutan
      (nama) geografis bukan sebagai nama kebangsaan atau "indonesia" itu bukan
      sebagai nama bangsa atau negara!

      "Sejarah wilayah Hindia Belanda, terbentuk mirip kesamaan sejarahnya seperti
      terbentuknya wilayah USSR, wilayah Yugoslavia (Serbia Raya), atau Negara
      Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lewat rampokan wilayah dengan kekuatan
      militer, lantas memaksa dan menggiringi negara-negara (kerajaan-kerajaan)
      yang berdaulat sebelumnya, tunduk dibawah sebuah payung kuasa administrasi
      tunggal untuk diperintah oleh sebuah rezim. Negara Kesatuan Republik
      Indonesia (NKRI) diperintah oleh sebuah rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau
      Jawa Sentris atau Jawa Unitaris.

      Makanya jika kita mau melihat ke akar sejarah ketatanegaraan dari
      negara-negara atau kerajaan-kerajan berdaulat itu, yang telah disatukan
      dibawah payung kuasa administrasi tunggal oleh rezim itu, jelaslah bahwa,
      rezim itu akan terpandang sebagai rezim penjajah sebuah bangsa keatas
      bangsa-bangsa yang lain: Exploitation de nation par nation! Maka rezim
      Indonesia Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris terregister
      dalam sejarah nusantara atau indunesia atau indonesia, sebagai Penjajah
      Indonesia Jawa, pewaris Penjajah Hindia Belanda!?

      Jadi saudara Irfan Anshory, itu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
      bukan dibentuk oleh kehendak nasionalisme "indunesia" atau "indonesia",
      tetapi oleh kehendak sebuah: Rezim Jawa Chauvinis, atau Jawa Sentris ataupun
      Jawa Unitaris. Tidak ada nasionalisme Hindia Belanda, tidak ada
      nasionalisme USSR, tidak ada nasionalis Yugoslavia dan juga tidak ada
      nasionalisme NKRI!...............................

      Ketika Hindia Belanda berkuasa keatas wilayah: hindunesia atau hindunesha
      atau indosnesos atau little india atau futher india atau bahagian great
      india atau kepulauan tanjung keling atau kepulauan sunda besar dan sunda
      kecil atau indunesia atau indonesia semua mereka yang ada disana telah
      mengikrarkan diri sebagai bangsa Hindia Belanda.

      Begitulah juga terjadi terhadap bangsa-bangsa Melayu Nusantara hari ini,
      dengan sebuah sejarah tragis lain, setelah Hindia Belanda menyerahkan
      wilayah kekuasaannya kepada bangsa-bangsa dalam wilayah hindunesia atau
      hindunesha atau indosnesos atau little india atau futher india atau
      sebahagian great india atau kepulauan tanjung keling atau kepulauan sunda
      besar dan kecil atau indunesia atau indonesia yang terhimpun dalam RIS
      (Republik Indonesia Serikatat), lantas, setelah 231 hari, kuasa wilayah RIS
      (Republik Indonesia Serikat) itu, dirampok dengan menggunakan trick platform
      undang-undang RIS: PP RIS No 21/08/1950 dan disusuli dengan penggunaan
      kekuatan militer oleh Soekarno si Penipu licik.

      Dan dalam sekelip mata, wilayah RIS (Republik Indonnesia Serikat) itu
      bertukar menjadi wilayah kuasa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indionesia
      atau disebut juga sebagai Negara Kolonialis Republik Indonesia) rezimnya
      penjajah Indonesia Jawa atau Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa
      Unitaris, yang juga mau, agar setiap orang dipaksa musti mengkikrarkan diri
      sebagai bangsa baru, bangsa NKRI!

      NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) negara yang tidak sah! Dr
      Pramoedya Ananta Toer dalam wawancaranya pada hari ulang tahun ke 80?
      kembali lagi, mengatakan NKRI itu negara yang tidak sah! Happy Birth Day Dr
      Pramoedya!

      Mari, disini kita membicarakan:

      (1) Mengenai anak-anak Jawa, dari anggota PKB (Perserikatan Komunis
      Belanda), walaupun telah mengubah nama partainya menjadi PKI (Partai Komunis
      Indonesia) pada tahun 1924, tetapi anggotanya ,juga masih tetap menyatakan
      diri mereka sebagai bangsa Hindia Belanda dan berkewarganegaraan Hindia
      Belanda. Indonesia yang telah dijadikan predikat partai komunis itu,
      semata-mata adalah sebagai suatu symbol!

      (2) Kumpulan anak-anak Jawa komunis inilah juga yang mempelopori Soempah
      Pemoeda 28 Oktober, 1928. Indonesia dalam sebutan sumpah mereka itu,
      dilihat dari dialektika sejarahnya bangsa Jawa juga, hanya sebagai suatu
      symbol!

      (3) Begitu juga halnya Soekarno si Penipu licikpun, walaupun dia telah
      mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) atau juga disebut sebagai PKB
      (Partai Komunis Bunglon) pada tahun 1927, dan tetap menyatakan dirinya
      sebagai bangsa Hindia Belanda dan berkewarganegaraan Hindia Belanda. Jadi
      Indonesia masih sebagai symbol!

      Malahan Soekarno si Penipu licik pada Agustus 1930 dalam pledoi pembelaannya
      "Indonesia menggugat" di Landraad, Bandung, sebagaimana dikomentari oleh
      Prof Dr Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Jokyakarta bahwa, Soekarno si Penipu
      licik itu, sesungguhnya (dia sebagai warga negara Belanda dan sebagai bangsa
      Belanda) tidak pernah menentang pemerintahan Hindia Belanda, sebagai
      pemerintahan yang sah dan mengakuinya pula bahwa, Hindia Belanda itu, bukan
      sebagai bangsa asing, sebagai kolonialis-imperialis.

      Silakan baca kembali sendiri, tulisan Soekarno si Penipu licik "Indonesia
      Menggugat"! Disinipun terbaca bahwa dalam jiwa Soekarno si Penmipu licik,
      ketika dia telah berumur 29 tahun, ditahun 1930, Indonesia-nya itu, masih
      hanya sebagai symbol!

      Note (1): Sikap Soekarno si Penipu licik, selaku seorang warga negara
      Belanda, tidak mau menentang Belanda sebagai bangsa asing, sebagai
      kolonialis, sebagai imperialis. Dalam menyusuri catatatan epos sejarah
      perjungan bangsa Jawa bahwa, bangsa Jawa, tidak pernah menentang
      kolonialis-imperialis Belanda, hanya karena Belanda itu sebagai
      kolonialis-imperialis. Tetapi karena akibat dilibatkan oleh ulah-tingkah
      raja-raja Jawa, bangsawan-bangsawan Jawa dan para tuan-tuan tanah atau
      lintah-lintah darat Jawa!

      Atau mungkin karena mereka: Raja-raja Jawa, bangsawan-bangsawan Jawa,
      tuan-tuan tanah atau lintah-lintah darat Jawa ketika itu belum sempat
      mengenal isyarat symbol indunesia atau indonesia?

      Sekalipun dia senantiasa meneriaki doktrin komunismenya, menentang keras:
      Kolonialisme dan imperialisme! Sedangkan dia tahu bahwa, feudalisme dan
      kapitalisme adalah akar tunggal kolonialisme dan imperialisme dan sangat
      tegas disuarakan dalam doktrin komunisme!

      Tetapi mengapakah pula, Soekarno si Penipu licik itu tidak pernah
      menyuarakan tantangan terhadap feudalisme atau feudalisme Jawa? Bukankah
      feudalisme Jawa ketika itu juga punca kejahatan kemanusian keatas
      manusia-manusia Jawa yang lain?

      Bukankah feudalisme Jawa tentunya tidak boleh wujud lagi, effektip sejak
      Soekarno si Penipu licik telah menerima watikah "indonesia", walaupun ketika
      itu masih sebagai symbol, karena semua feudalisme di luar pulau Jawa
      semuanya telah dihabisi oleh anak-anak Jawa Pembunuh bayaran KNIL Belanda
      atau si Belanda Hitam ketika mereka ditugaskan diseluruh wilayah Hindia
      Belanda dulu.

      Feudalisme dan kapitalisme adalah akar tunggal kolonialisme dan imperialisme
      dan sangat tegas tantangannya disuarakan dalam doktrin komunisme! Apakah
      tidak demikian dalam doktrin Soekarnoisme!? Atau karena komunismenya sudah
      menjadi komunis bunglon dalam "nasional"-nya symbolik indonesia itu?

      Feudalisme Jawa terkenal kejam, melangkahi feudalisme Eropah ketika itu.
      Feudalisme Jokyakarta dan Surakarta yang dibangun dan diarsitekkan oleh
      Jacob Mossel pada tahun 1755, jelas sebagai anjangan panggung kolonialisme
      dan imperialisme seterusnya di Pulau Jawa, tidak pernah ditentang oleh
      Soekarno si Penipu licik! Kejahatan Amangkurat I misalnya sampai sekarang
      masih lagi dalam riset historis, yang tidak selesai-selesainya. Feudalisme
      Jawa tercatat kejam dan telah tercatat sepanjang sejarah bangsa Jawa!

      Apalagi sehingga 15 Agustus, 1945, dia masih lagi sebagai Kolaborator Resmi
      Kerajaan Jepang, dan tidak ada sepotongpun dari ucapannya menentang fasis
      Jepang sama seperti tidak pernahnya dia menetang feudalisme Jawa yang kejam
      itu.

      Soekarno si Penipu licik, sangat dikenal sebagai Ketua Milisi Laksmana
      Maida dan bersama sekelompok anak-anak Jawa lainnya telah bersiteguh menolak
      merdeka pada tanggal tersebut, sehingga beberapa anak-anak muda Sumatra: Dr
      Chairul Saleh, Adam Malik dan Pak Buyung Nasution menyeretnya ditengah malam
      ke Jakarta Utara dan dengan todongan pistol Dr Chairul Salleh ke tengkorak
      kepala Soekarno si Penipu licik itu, maka baru segera terdraftkan
      proklamasinya, symbol indonesia itu!

      Saudara Irfan Anshory,

      Ketika peristiwa itu, Soekarno si Penipu licik dan sekumpulan anak-anak Jawa
      lainnya hampir-hampir saja melupakan symbol indonesia mereka, dan mereka
      ingin sekali kembali mengensot-ngensot ke alun-alun istana Jokyakarta,
      symbolnya "maharaja Jawa patnernya maharaja Hirohito"! Inilah mungkin dia
      mengenyampingkan penentangannya terhdap feudalisme Jawa, ketika saat-saat
      sedang menerima indonesia sebagai symbol nasionalisme?

      Silakan cari kembali tulisan ini yang pernah diterbitkan sejak saat-saat
      Soekarno si Penipu licik itu ditodong dengan pistol oleh Dr Chairul Salleh
      ditengkorak kepalanya, yang pernah dimuat dalam mass media sebaik dia
      tumbang atau anda bisa tanyakan langsung kepada keluarga mereka, seperti
      yang telah kami lakukan langsung sebelumnya, agar dengannya saudara Irfan
      Anshory dapat membaca bagaimana struktur kejiwaan nya Soekarno si Penipu
      licik dengan kepitan nasionalisme indunesia atau indonesia-nya.

      (4) Begitu juga misalnya mengambil contoh lain: Suharto Kleptokracy, pada
      tahun 1941 masih sebagai Pembunuh bayaran KNIL Belanda dan sejak 1942
      menjadi serdadu Jepang dan bersama Soedarsono diduga kuat terlibat
      menyembelih Tan Malaka, kemudian dia menjadi Presiden Penjajah Indonesia
      Jawa!

      Nah, Irfan Anshory, dimanakah struktur nasionalisme Indonesia, yang
      dikatakan menyebar itu, dan ternyata juga tidak sampai kedalam diri Soeharto
      Kleptokracy, sebagai kandidat Presiden Penjajah Indonesia Jawa kedua?
      Nampaknya symbolisme indonesia itupun belum ada dalam jiwa bangsa Jawa!
      Kecuali dalam buku-buku notes para kolaborator kolonialisimperialis Hindia
      Berlanda dan Fasis Jepang.

      (5) Bukan itu saja, mengambil contoh lain: Berapa ratus ribu anak-anak Jawa
      Pembunuh bayaran KNIL Belanda, masih bertaburan dan berserakan diluar Pulau
      Jawa menyembelih bangsa-bangsa Melayu Nusantara hingga detik-detik
      kedatangan bala tentara Jepang pad 8 Maret, 1942. Saudara Irfan Anshory
      dimanakah nasionalisme indunesia atau indonesia itu?

      (6) Contohnya yang saudara Irfan Anshory paparkan sendiri bagaimana tiga
      orang anggota Volksraad DPR Hindia Belanda): Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
      Purbohadidjoyjo dan Sutardjo pada tahun 1939 masih juga sebagai kaki tangan
      penjajah Hindia Belanda, menjelang kedatangan bala tentara Jepang.
      Bagaimanakah nilai kwalitas nasionalisme Indunesia atau Indonesia mereka?

      Apa yang telah saya tuliskan sebelumnya dari pernyataan Dr Mohammad Hatta
      (Dr Meutia Hatta), Dr Pramoedya Anata Toer dapatlah pula saya simpulkan
      bahwa apa yang disebut nasionalisme Indonesia itu adalah hanya slogan,
      tetapi penulis-penulis sejarah Jawa Chauvinis, Jawa Sentris atau Jawa
      Unitaris, kemudian memolesnya dengan bedak dingin Njonja Meneer!
      Jelas-jelas penipuan sejarah yang tidak pernah berhenti!

      (7) Nah, coba saudara Irfan Anshory memberikan nilai kwalitas nasionalisme
      indonesia terhadap kedua anak-anak Jawa Soekarno si Penipu licik, si
      Kolaborator Jepang dan Suharto Kleptokracy si KNIL Belanda si serdadu
      Jepang, tetapi kemudian mereka bisa menjadi Presiden Republik Indunesia atau
      Indonesia, Presiden Penjajah Indoneia Jawa! Samakah nilai nasionalisme
      indunesia atau indonesia mereka. Tetapi dalam kenyataan perjalanan sejarah
      kedua mereka ini adalah punya kecenderungan dengan nasionalisme Jawa, Jawa
      Chauvinis, Jawa Sentris, Jawa Unitaris, Jawa Mojokertonis-Solois!

      Hinduism is India! India is Hinduism! Javanism is Indonesia! Indonesia
      is Javanism! Dibawah bayangan panji: The Blue Print of The Political
      Structure of Javanese Colonialism!

      Itulah sebabnya pada tanggal 27 Desember, 1949 di meja Konferensi Meja
      Bundar, di Den Haag, Belanda atau bertepatan 282 tahun setelah matinya Raden
      Trunojoyo pada 27 Desember, 1667, yang dikatakan sebagai keturunan anak raja
      Majapahit terakhir pada tanggal 27 Desember,1667, maka Negara (Kerajaan)
      Belanda memutuskan untuk membentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), negara
      bagi negara-negara atau kerajaan-kerajaan yang pernah berdaulat ketika
      Hindia Belanda di jadikan bangsa dan dijadikan negara, untuk menghindari
      wilayah-wilayah nusantara itu diperintah dibawah dominisasi Jawa Chauvisnis
      atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris!

      Sebuah perikatan dari negara-negara (kerajaan-kerajaan) yang pernah
      berdaulat yang pernah dijajah atau diduduki oleh Belanda untuk
      memayungkannya dalam sebuah federasi, dimana kesemua negara-negara atau
      kerajaan-kerajaan itu sama hak dan sama kewajibannya.

      Tetapi RI-Jawa Jokya, sebagai sebuah negara bahagian dibawah kepimpinan
      Soekarno si Penipu licik, malah telah meleburkan negara RIS (Republik
      Indonesia Serikat) yang baru berusia 231 hari saja dan kemudian membentuk
      NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia atau sebutkan sebagai: Negara
      Kolonialis Republik Indonesia), lewat rampokan wilayah lewat trick platform
      undang-undang RIS: PP RIS No 21/08/1950 dan disusuli dengan kekuatan
      militer, lantas memaksa dan menggiring negara-negara (kerajaan-kerajaan)
      yang berdaulat sebelumnya, tunduk dibawah sebuah payung kuasa administrasi
      tunggal untuk diperintah oleh sebuah rezim. Negara Kesatuan Republik
      Indonesia (NKRI) diperintah oleh sebuah rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau
      Jawa Sentris atau Jawa Unitaris atau Jawa Mojokertonis-Solois, oleh Soekarno
      si Penipu licik. Great Java uber alles!?

      Dan untuk mengetahui lebih lanjut dan terperinci, mengenai struktur
      kenegaran NKRI yang tidak sah itu, maka disini saya sebagai penyerta milis
      bebas kelolaan Tengku Ahmad Hakim Sudirman dan dengan ini menganjurkan:

      Kepada saudara Irfan Anshory, lewat media ini, lewat milis bebas Tengku
      Ahmad Hakim Sudirman ini, agar dapat kiranya bersenantiasa menjenguk ke
      Website: http://www.dataphone.se/~ahmad dengan alamat email di
      ahmad@... atau ahmad_sudirman@... , dimana, disana anda
      akan dapat membaca kupasan-kupasan beliau, buku demi buku dan ruas demi ruas
      apa itu RIS, apa itu RI-Jawa-Jokya dan apa itu NKRI! Karena saya ingat
      Tengku Ahmad Hakim Sudirman telah mengkhususkan diri tentang ketatanegaraan
      NKRI keseluruhannya.

      Beritahukan dan umumkan kepada seluruh cabang-cabang institusi anda dimana
      saja, agar senatiasa berhubungan dengan milis bebas tersebut diatas. Nah,
      dipersilakan dengan segala hormatnya!

      (8) R. A. Kartini, walaupun anak Jawa ini seorang penganut Katholik, namun
      dia tetap konsekwen hingga terakhir kehari matinya ditahun 1904, sebagai
      anak Jawa! Hanya Armijn Pane, siapa yang telah memberikan judul: "Habis
      gelap terbitlah terang", atas kumpulan tulisan-tulisan R. A. Kartini, kepada
      induk semangnya di Belanda yang terbinding itu, sebagaimana yang dikehendaki
      oleh para nasionlis-nasionalis Jawa Chauvinis, Jawa Sentris atau Jawa
      Unitaris, tetapi sebagai Wanita Indonesia Jawa, bukan sebagai Wanita Jawa.
      Dan belum nampakpun fajar symbol indunesia atau indonesia.

      (9) Dr Soetomo ( Dr Budi Utomo ) dan Dr Wahidin Soedirohoesodo dengan Budi
      Utomo hanya pernah menyebutkan 20 Mei, 1908 sebagai kebangkitan bangsa Jawa,
      tetapi mereka tidak pernah menyebutkan sebagai kebangkitan bangsa
      "indonesia". Malahan pemuda-pemuda komunis Jawa pada tahun 1918 dengan
      lantang menyebutkan 20 Mei, 1908 itu, hanya sebagai kebangkitan (bangsa)
      Jawa Priyayi!? atau yang kemudian dikenal sebagai Jawa Chauvinis berevolusi
      menjadi Indonesia Jawa!?

      Saudara Irfan Anshory, dibawah inipun saya perlu mempertanyakan dan
      membentangkan serba sedikit tentang paparan anda dan berkait dengannya:

      (a) Apakah Java yang diindonesiakan menjadi Jawa adalah juga sama dengan
      Jawi? Atau mengapakah Sulavesi (sula-besi) menjadi Sulawesi-nya Daeng Yusuf
      Kalla didalam peta? Hayam Vuruk (ayam-buruk) menjadi Hayam Wuruk, rajanya
      Majapahit dalam sejarah Jawa? Pulau Vetar menjadi Pulau Wetar didalam peta
      Kepulauan Sunda Kecil? Kepulauan Bavian menjadi Kepulauan Bawean, didalam
      peta? Tetapi mengapakah masyarakat Kepulauan Bawean sendiri tetap mengataka
      bahwa, mereka datang dari kepulauan Babian.

      Note: Sebutan v pada Bavian, sama seperti menyebut sebutan cubitan pada
      huruf "v" dari kata vitamin.

      Bagaimanakah pula dengan Java-nya James Gosling pada PC atau H/P?

      (b) Tetapi dalam bahasa Achèh meu-Jawi itu, bukan berarti menjadi Jawa,
      tetapi dimaksudkan sebagai gerak mengidal, atau sebagai gerak si Kidal. Dan
      dengan kata lain disebutkan sebagai geraknya tangan kiri. Begitu juga
      dimaksudkan dengan tulisan Jawo atau tulisan Jawi pula sebagai tulisan
      Melayu beraksara Arab, yang guratan tulisannya ditarik dari arah sebelah
      kanan kearah sebelah kiri.

      Bagi saya tidaklah akan menjadi menarik untuk mengatakan orang Jawa sebagai
      orang Jawi atau Jawo, lantas diteruskan dengan mengatakan sebagai orang
      kiri. Walaupun sejarah Jawa, sejak setelah Mpu Sendok mengundurkan diri dan
      pergi menyendiri, bertapa mensucikan jiwa, tertulis disana bahwa, para
      Raja-Raja dan Bangsawan Jawa (Feudalis-si Penjajah ) dan para Tuan
      Tanah-Tuan Tanah Jawa (Kapitalis-si Penjajah) telah meperlakukan
      rakyat-rakyat Jawa yang miskin tidak punya tanah (kaum proletaris-yang kiri
      dan yang terjajah) dan yang punya sebidang kecil tanah (kaum marhenis?-yang
      kiri dan yang terjajah) telah disifatkan sebagai: exploitation de l'home par
      l'home, si bangsa Jawa Feudalis-Kapitalis yang menjajah bangsa Jawa-nya
      sendiri!

      (c) Tetapi ya, bagi K.H. Munowar Muso, bertekad maukan rakyat Jawa yang
      dijajah, yang miskin yang umumnya hampir-hampir tidak mempunyai sekeping
      harta- tanahpun, biarlah Jawanya menjadi Jawi, menjadi Jawa kiri, seperti
      yang anda, saudara Irfan Anshory maksudkan?

      Note (2): Tetapi mengapakah Pangdam V-Jaya, Mayjen Agustandi Sasongko
      Purnomo, begitu ketakutan dari kebangkitan kembali kekuatan semangat
      30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?

      - Bukankah Gusdur Abduraraman Wahid, Ketua Kumpulan Kambing Congek Indonesia
      Jawa, itu disokong oleh semangat kekuatan 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban
      Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"? Walaupun dia menjalankan tugasnya sambilan
      tidur? Walaupun memerintahkan pembunuhan Tengku Banta Qiah dan 200 jiwa,
      muridnya yang sedang mengaji al-Quran di pesantaren Betong sambilan tidur?
      Dan pembunuhan ratusan lagi disimpang KKA dan tempat lain sambilan tidur?

      - Bukankah Megawati Soekarno Putri, algojo wanita Jawa, yang bodoh dan
      bengok itu, yang kedua tangannya berlumuran darah basah, lebih 20.000 jiwa
      bangsa Achèh dalam Darurat Militer dan Dalam Darurat Sipil, ketika tidak
      diberi sokongan oleh semangat 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa
      1965 Dan Pulau Buru", lantas tumbang dan kemudian menjadi anggota Kambing
      Congek Indonesia Jawa, pimpinan Gusdur Abdurrahman Wahid.

      - Bukankah Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, berhasil menang dalam
      pemilihan langsung itu dan terlantik menjadi Presiden Penjajah Indonesia
      Jawa, karena mendapat sokongan padu langsung dari semangat 30.000.000 jiwa,
      aanak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?

      ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa telah
      menyembelih lebih 3.000.000 jiwa, anak-anak Jawa buruh Fabrik yang tidak
      cukup makan dan anak-anak Jawa buruh Tani, yang miskin yang kesemua mereka
      tidak bersalah, yang disifatkan sebagai Indonesian Java Holocaust.

      Saudara Ibrahim Isa Betawi atau Bilmijer jangan kurang-kurang jumlah
      bilangan Indonesian Java Holocaust itu, karena itu sahih dari Raden Permadi
      SH, anggota PNI, yang diterimanya dari Letjen Sarwo Eddi, bapak mertuanya
      Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono,

      (d) Mengapakah saudara Irfan Anshory, sebagai seorang Direktur Pendidikan
      "Ganesha Opration", menjadi terlalu bersemangat sekali untuk mengutip
      sipedagang kaki lima di pasar Seng, Mekah yang mengatakan bahwa, Sumatra,
      Sulawesi dan Sunda semuanya Jawa?

      Coba anda buka peta lama sekitaran tahun-tahun 1950-an. Disana anda akan
      melihat wilayah "nusantara" ini dibagi dua: (1) Sumatra, Kalimantan, Jawa
      dan Sulawesi disebut sebagai: Sunda Besar, (2) Selainnya disebut (Kepulauan)
      Sunda Kecil (sekarang disebut sebagai Kepulauan Nusatenggara). Papua Barat
      (Irian Barat) Sunda apa? Jadi disana akan terlihat bahwa, "nusantara"
      bukan kepulauan Jawa tetapi sebagai kepulauan Sunda.

      Dan peta lama itupun, dibuat oleh orang-orang Jawa Chauvinis, oleh Jawa
      Sentris atau Jawa Unitaris! Mengapakah dibuat demikian? Silakan anda
      menyelidikinya! Tetapi jangan lupa untuk memberitahukan kepada
      pedagang-pedagan kaki lima di Pasar Seng, Mekah, tentang Sunda Besar dan
      Sunda Kecil, yang Jawa termasuk didalamnya! Sunda bukan Jawa dan bukan
      Indonesia atau Indonesia Jawa! Sama seperti Achèh bukan Indonesia atau
      Indonesia Jawa!

      (e) Sebagai tambahan saya beritahukan bahwa dunia Islam lebih mengenal Achèh
      sebagai 5 Besar Islam: Turkya, Marokko, Iran (Ishfahan), India
      (Lahore-sekarang Pakistan) dan Achèh (Bandar Achèh, Darussalam) dari pada
      pedagang Arab-Arab kaki lima di Pasar Seng, Mekah.

      Dalam khutbahnya Prof Ali Hasyimi di Mesjid Lam Prik, Banda Achèh,
      Darussalam, beliau telah mengkhutbahkan bahwa, Islam yang pernah bermudik di
      Jazirah Arab telah mengalir dan bermuara ke Achèh, ke Banda Achèh
      Darussalam. Dan itulah sebabnya pula oleh Ibnu Khaldum bapak sosiology
      Islam itu, telah menyifatkan Achèh sebagai Andalusia Timur!

      Jadi Arab-Arab di Pasar Seng, Mekah itu, yang pengetahuannya mengenai Jawa
      atau Jawi ataupun Jawo, sama seperti Arab-Arab Badui, yang pernah mogok
      mobilnya, lantas menyumpali tangki minyaknya penuh-penuh dengan gandum
      kedalam tangkinya, agar bisa broooommm kembali.

      Tidakkah Arab-Arab di Pasar Seng, Mekah itu, tahu bahwa, bangsa Jawa telah
      pernah dijajah selama 353 (tiga ratus lima puluh tiga) tahun dari 5 Juni,
      1596 hingga 27 Desember, 1949. Atau sejak 353 tahun yang lalu ditahun 1949,
      bangsa Jawa sememangnya selalu menumpang kapal KPM, kapalnya Wong Londo
      berlayar ke Jedah?

      (f) Sebagaimana dapat kita membaca berulang tentang komitmen solid dari Prof
      Dr Asvi Warman Adam dari LIPI, yang hendak "meluruskan sejarah" , maka saya
      suntinglah secuplikkan tulisan beliau dari koran Rakyat Merdeka , 13 April,
      2005, diantaranya:

      .............. masa yang panjang yang selalu dikatakan bahwa penjajahan
      Belanda di Indonesia berlangsung selama 350 tahun itu. Jelas tidak. Sewaktu
      masa penjajahan Belanda, banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara ini yang
      masih berdaulat. Belanda tidak sampai menjajah atau menguasai
      kerajaan-kerajaan itu.

      Mudah-mudahan sayapun nantinya ada yang memberitahukan sebutan Asvi-nya dari
      Prof Dr Asvi Warman Adam, sebagai cenderung kearah sebutan Asbi atau Asfi?

      (Bersambung: PLUS II + INDUNESIA TIWUL!)

      Wassalam.

      Omar Puteh

      om_puteh@...
      Norway
      ----------
    • " Seulawah Agam "
      Minggu, 1 Januari 2006, 19:05 WIB Gempa 5,8 SR Guncang Aceh Reporter : Radzie Banda Aceh, acehkita.com. Masyarakat Aceh kembali dikejutkan oleh guncangan gempa
      Message 2 of 2 , Jan 1, 2006
      • 0 Attachment
        Minggu, 1 Januari 2006, 19:05 WIB
        Gempa 5,8 SR Guncang Aceh
        Reporter : Radzie
        Banda Aceh, acehkita.com. Masyarakat Aceh kembali dikejutkan oleh guncangan gempa berkekuatan 5,8 pada Skala Richter (SR). Gempa yang terjadi pada pukul 15.47 WIB, berlangsung hingga satu menit.
        Menurut Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Mata Ie, Banda Aceh, Syahnan, pusat gempa berada di laut, sekitar 91 kilometer dari Banda Aceh ke arah barat daya atau sekitar Calang, Aceh Jaya. Pusat gempa berada di koordinat 4,7 Lintang Utara dan 95,1 Bujur Timur.
        Syahnan menambahkan, di Banda Aceh getaran gempa dirasakan III MMI dan tidak menimbulkan kerusakan bangunan. “Gempa ini tidak menimbulkan tsunami dan kerusakan. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan,” kata Syahnan.
        Gempa yang mengguncang Aceh itu menyebabkan warga yang sedang berada di dalam rumah atau bangunan, berhamburan keluar, karena masih trauma dengan gempa berkekuatan 9.0 SR yang menimbulkan gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Namun, warga yang sedang lalu lalang di jalan, tidak merasakan gempa ini. [dzie]
         
        Riwayat TNA yang Terhenti
          
        Oleh: Adi W   
        Wednesday, 28 December 2005
        TNA GAM Bubar setelah damai, riwayatnya lumayan panjang. KPA akan menjadi sejarah barunya.

        Enam orang angota Tentara Neugara Aceh (TNA) berbaris rapi memegang senjata terakhir mereka. Berseragam hitam-hitam, lengkap topi baret dan sepatu militer, tapi tanpa simbol GAM. Mereka bukan lagi latihan di tengah hutan, tapi di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, mengikuti upacara penghancuran senjata terakhir milik mereka, 21 Desember lalu.

        Sesaat kemudian, masih dengan komando militer mereka bergerak mendekati tim decommissioning AMM, dengan sebuah penghormatan senjata itu diserahkan, dan kemudian dihancurkan. Disaksikan oleh ratusan pengunjung, pejabat pemerintah, para wakil TNI/Polri dan GAM serta anggota AMM, sebagai bukti GAM telah menghancurkan semua senjatanya.

        Keenam senjata itu adalah senjata yang terakhir dihancurkan, setelah diserahkan dalam beberapa tahap sebeumnya. “Tadi malam telah ada konfirmasi tertulis dari GAM, semua senjata, amunisi dan bahan peledak telah dimusnahkan,” sebut Pieter Feith, Ketua AMM dalam sambutannya.

        Pada 27 Desember 2005, GAM resmi mengeluarkan surat pernyataan pembubaran sayap militernya. Sehari setelahnya, para petinggi GAM dan para Komando Panglima Wilayah berkumpul untuk menggelar rapat intern, membahas nasip para mantan prajurit GAM, selanjutnya.

        Hampir semua petinggi GAM hadiri pertemuan di Hotel Rajawali, Lampulo, banda Aceh. Sebut saja seperti Ilyas Abed, Bakhtiar Abdullah, Munawar Liza Zein, Irwandi Yusuf dan para mantan Juru Runding GAM. Di kalangan militer, ada Muzakkir Manaf, mantan Panglima Militer GAM, Sofyan Dawood, Darwis Jeunib, Tgk Jamaica, Tgk Muharram dan para utusan wilayah lainnya serta beberapa mantan personil TNA.

        Sore harinya, baru konferensi pers digelar, di kantor GAM, Lamdingin, Banda Aceh. Jumpa dengan wartawan itu termasuk istimewa, Muzakkir Manaf, yang selama ini tak pernah muncul, hadir memberikan keterangannya. Ini adalah kali pertama dia tampil di Media, sejak MoU damai ditandatangani di Helsinki, 15 Agustus lalu.

        Selama menjabat sebagai Panglima tertinggi TNA GAM, Februari 2002, itu adalah kali kedua menerima wartawan. Sebelumnya, dia juga tampil di depan media saat pertemuan para komando GAM, di Tiro, Pidie, awal 2003.

        Tidak munculnya dia selama ini dalam setiap kegiatan GAM, seperti penyerahan senjata maupun pertemuan dengan AMM, menurutnya karena sibuk dalam berbagai urusan untuk kepentingan intern GAM. Pada saat pernyataan resmi pembubaran GAM (27/12), Muzakkir juga tidak tampil, “kemaren saya pulang kampung, ada hajat yang harus saya tunaikan di kampung,” sebutnya.

        “Walaupun tak ada saya, ada yang lain,” tambahnya.

        Menurutnya, pembubaran TNA itu adalah sebagai komitmen GAM terhadap MoU Helsinki. “Kami di pihak TNA sudah kembali ke masyarakat semuanya, menjadi sipil, sebagai komitmen terhadap MoU,” sebut mantan Panglima GAM itu.

        Gantinya dibentuk Komite Peralihan Aceh (KPA) yang akan mengorganisir mantan TNA secara perlahan-lahan, untuk pengalihan ke sipil. KPA yang dipimpinnya saat ini, juga akan terus berusaha memberikan yang terbaik buat mantan prajurit GAM. Ke depan, Muzakkir belum bisa menjelaskan secara detail, apa saja rencana yang akan dilakukan KPA, dalam membawa kesejahteraan bagi para mantan TNA. Yang jelas “keberadaan KPA, untuk melihat para mantan TNA, agar bisa memperoleh perbaikan ekonomi atau kerja,” jelasnya.

        ***
        Tamat sudah riwayat TNA yang dulunya bernama Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) itu. Jalannya lumayan panjang, berumur 29 tahun itu, sejak deklarasi GAM untuk menyatakan pisah dari Indonesia pada 4 Desember 1976. Hasan Tiro sang deklarator saat itu, membentuk sayap militernya, AGAM. Markas pun dibangun di hutan untuk memulai gerilya di Tiro, Pidie.

        Hasan tiro yang sebelumnya tinggal di Amerika Serikat, menganggap Aceh perlu hidup terpisah dari Indonesia, karena ketidakadilan dan kesadaran politik. Berangkat dari strategi gerilya ini, awalnya AGAM tak terlalu menonjolkan gerakan bersenjata. Teungku Hasan Tiro menulis dalam catatan hariannya, ”Kami hanya punya beberapa pucuk senjata,” tulisnya dalam ‘The Price of Freedom: Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro’, yang terbit di Kanada pada 1984.

        Sofyan Dawood, mantan Juru Bicara TNA GAM menceritakan kisah TNA. Pada tahun 1979, Hasan Tiro berangkat ke luar negeri untuk mencari dukungan politik. Urusan perjuangan, diberikan kepada sayap militernya. Panglima militer pertama adalah Daud Husein alias Daud Panek.

        Memperkuat gerakan bersenjata, Hasan Tiro mengeluarkan intruksi untuk mengumpulkan para pemuda Aceh yang gagah, untuk dikirim ke Libya. Sekitar tahun 1986, beberapa pemuda Aceh bergabung dan menjalani latihan di Maktabah Tajurra, kamp latihan militer GAM di Libya.

        Lalu, satu persatu pulang kembali ke Aceh, ”gerakan bersenjata makin kuat, terutama setelah mereka yang dilatih di Libya kembali ke Aceh,” sebut Sofyan. Para jebolan camp militer inilah yang kemudian menjadi perintis gerilya di Aceh.

        Menurut Sofyan, latihan ke Libya berlangsung dalam beberapa tahap, sekitar tahun 1986-1989. Selama itu pula, GAM telah mendidik sekitar 800 orang tentang taktik gerilya, senjata, dan teknik para komando. Lalu kembali untuk niat memerdekakan Aceh.

        Tapi tak semuanya bisa tiba di Aceh, sebagian tersangkut di Malaysia, sambil menunggu bisa menyusup ke Aceh. Sebagian lagi memperkuat GAM dalam meminta dukungan pihak luar. Ratusan alumni Libya masih tersisa saat ini, “Sangat banyak, bukan hanya di Aceh, di luar juga ada,” sebut Sofyan.

        Sebut saja, Panglima GAM, Muzakkir Manaf yang merupakan angkatan pertama Libya. Lainnya adalah Darwis Jeunieb, Ridwan Abu Bakar dan juga Nasaruddin. Tapi tak sedikit juga yang tewas akibat kontak senjata, seperti Ishak Daud, yang tewas September 2003 lalu, di Peurelak, Aceh Timur.

        Alumni inilah yang mendidik para personil muda lainnya di Aceh, hingga kemudian muncul nama-nama seperti Tgk Muchsalmina, Darmansyah, Tgk Jamaica dan Tgk Muharram.

        Sayap militer GAM, memakai kurikulum pendidikan militer Libya sebagai standar pengkaderan. Misalnya, dalam baris-berbaris, semua perintah masih memakai bahasa Arab. Cara mereka berbaris juga mirip tentara Libya. Seperti berjalan dengan dagu tegak, dan bergerak serempak dengan irama kaki yang dilambungkan tinggi-tinggi ke depan.

        Sofyan Dawood menyebutkan, dalam sejarah sayap militer GAM, sebanyak empat orang telah mengisi jabatan panglimanya, setelah Daud Husein, ada Tgk Keuchik Umar, lalu Komandan Rasyid, sebelum Abdullah Syafie memegang tampuk. “Saat itu Muzakkir Manaf adalah wakilnya,” sebut Sofyan.

        Abdullah Syafei meninggal pada Februari 2002, dalam sebuah kontak senjata. Tampuk pimpinan AGAM kemudian dipegang oleh Muzzakir Manaf, tanpa wakil. Juru bicaranya, Sofyan Dawood. Dalam tahun 2002 juga, petinggi GAM mengganti nama sayap militernya dari AGAM menjadi Tentara Neugara Aceh (TNA).

        Pergantian nama itu terjadi pada Minggu, 21 Juli 2002, saat para petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berkumpul di Stafanger, Norwegia. Waktu itu mereka membicarakan tentang kelanjutan perjuangan pemerintahan GAM dan segala atributnya. Pertemuan itu melahirkan Deklarasi Stafanger.

        Kesimpulannya, bentuk pemerintahan diatur kembali dan juga menetapkan berbagai struktur pemimpinnya. Nama negara menjadi Negara Acheh, lalu nama pemerintahan dikukuhkan menjadi Pemerintah Negara Acheh, dengan ibukotanya  Kutaraja (Banda Aceh).

        Pimpinan Negara dipegang oleh DR. M. Hasan di Tiro dengan Perdana Menteri, Malek Mahmood. Beberapa menteri GAM juga ditetapkan di sana. Untuk sayap militer, GAM menggati nama dari Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) menjadi Tentara Neugara Aceh (TNA).

        ***
        Usai kesepakatan damai, MoU Helsinki, militer GAM berangsur-angsur didemobilisasi. Usai penghancuran semua senjata GAM pada 21 Desember 2005, TNA pun dibubarkan. Secara resmi dinyatakan pada 27 Desember 2005.

        Pembubaran sayap militer itu, GAM membentuk Komite Peralihan Aceh (KPA). Menurut Sofyan, komite inilah yang akan mengorganisir semua mantan TNA, untuk kemudian dibantu secara organisasi sipil dalam mencari pekerjaan dan penghidupan yang layak. “Kita tetap akan membantu mantan TNA untuk beralih ke sipil,” sebut Sofyan yang saat ini mempunyai jabatan sebagai Juru Bicara KPA.

        Sofyan menambahkan, bukan tidak mungkin pula, KPA nantinya akan menjadi sebuah partai politik lokal, itu pun akan berjalan seiring dengan kepentingan politik GAM. Lalu, tergantung keputusan dari pimpinan tinggi di Swedia.

        Sejarah baru TNA adalah KPA yang mungkin lama. ***
         


        Ahmad Sudirman <ahmad_sudirman@...> wrote:
        http://www.dataphone.se/~ahmad
        ahmad@...

        Stavanger, 31 Desember 2005

        Bismillaahirrahmaanirrahiim.
        Assalamu'alaikum wr wbr.


        PLUS  I + INDUNESIA TIWUL.
        Omar Puteh
        Stavanger - NORWEGIA.


        NKRI DIPERINTAH OLEH REZIM INDONESIA JAWA CHAUVINIS ATAU JAWA SENTRIS ATAU
        JAWA UNITARIS ATAU JAWA MOJOKERTONIS-SOLOIS OLEH SOEKARNO SI PENIPU LICIK.
        GREAT JAVA UBER ALLES!?

        Saudara Tiwul,

        Disini, kembali saya menyambung lagi respon saya tentang: Indonesia
        Tiwul-nya anda itu Tiwul.

        Tetapi kali ini, biarlah ia terpintas lewat saudara Irfan Anshory, Direktur
        Pendidikan "Ganesha Operation", si penulis Indunesia Tiwul-anda itu sendiri.

        Saudara Irfan Anshory, mengapakah anda menggunakan institusi pendidikan anda
        itu dengan: India Anglo atau Indo Anglo?  Ataukah India Anglo atau Indo
        Anglo anda itu, kemudiannya akan berevolusi atau berasimilasi juga?  Kalau
        ya, lantas akan menjadi apa agaknya ya?

        Saudara Irfan Anshory, nampaknya anda agak rasialis atau chauvinis?

        Kalau "hindunesia atau hindunesha" itu dibaca oleh Raden Samuel Plotomi
        sebagai "indosnesos" mengikut pelet lidah Yunani-nya, dan kemudian sesampai
        ke Raden George Samuel Windsor Earl dengan pelet England-nya katanya sudah
        menjadi "indunesia".  Lantas sampai pula ke Raden James Richardson Logan
        dengan pelet lidah Scotland-nya yang agak keras berbanding pelet siorang
        England, maka katanya sebutan "indunesia" itu, sudah pula bertukar menjadi
        "indonesia"?

        Raden Adolf Bastian-pun, dengan pelet lidah Jerman-nya memang agak serasi
        juga dengan "indonesia" itu dan langsung mempublikasikannya: Wilayah
        "hindunesia atau hindunesha" atau "indosnesos" atau "little india" atau
        "futher india" atau bahagian dari wilayah great india atau "tanjung keling"
        atau "kepulauan sunda besar dan sunda kecil" atau "indunesia" adalah sebagai
        "indonesia" namanya nusantara, sama sebagaimana pernyataan Dr Henry
        Kissinger, mantan Menlu Amerika Serikat, yang juga pernah mengingatkan bahwa
        wilayah nusantara yang dimaksudkan itu: "indonesia", adalah sebagai sebutan
        (nama) geografis bukan sebagai nama kebangsaan atau "indonesia" itu bukan
        sebagai nama bangsa atau negara!

        "Sejarah wilayah Hindia Belanda, terbentuk mirip kesamaan sejarahnya seperti
        terbentuknya wilayah USSR, wilayah Yugoslavia (Serbia Raya), atau Negara
        Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lewat rampokan wilayah dengan kekuatan
        militer, lantas memaksa dan menggiringi negara-negara (kerajaan-kerajaan)
        yang berdaulat sebelumnya, tunduk dibawah sebuah payung kuasa administrasi
        tunggal untuk diperintah oleh sebuah rezim.  Negara Kesatuan Republik
        Indonesia (NKRI) diperintah oleh sebuah rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau
        Jawa Sentris atau Jawa Unitaris.

        Makanya jika kita mau melihat ke akar sejarah ketatanegaraan dari
        negara-negara atau kerajaan-kerajan berdaulat itu, yang telah disatukan
        dibawah payung kuasa administrasi tunggal oleh rezim itu, jelaslah bahwa,
        rezim itu akan terpandang sebagai rezim penjajah sebuah bangsa keatas
        bangsa-bangsa yang lain: Exploitation de nation par nation!  Maka rezim
        Indonesia Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris terregister
        dalam sejarah nusantara atau indunesia atau indonesia, sebagai Penjajah
        Indonesia Jawa, pewaris Penjajah Hindia Belanda!?

        Jadi saudara Irfan Anshory, itu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
        bukan dibentuk oleh kehendak nasionalisme "indunesia" atau "indonesia",
        tetapi oleh kehendak sebuah: Rezim Jawa Chauvinis, atau Jawa Sentris ataupun
        Jawa Unitaris.  Tidak ada nasionalisme Hindia Belanda, tidak ada
        nasionalisme USSR, tidak ada nasionalis Yugoslavia dan juga tidak ada
        nasionalisme NKRI!...............................

        Ketika Hindia Belanda berkuasa keatas wilayah: hindunesia atau hindunesha
        atau indosnesos atau little india atau futher india atau bahagian great
        india atau kepulauan tanjung keling atau kepulauan sunda besar dan sunda
        kecil atau indunesia atau indonesia semua mereka yang ada disana telah
        mengikrarkan diri sebagai bangsa Hindia Belanda.

        Begitulah juga terjadi terhadap bangsa-bangsa Melayu Nusantara hari ini,
        dengan sebuah sejarah tragis lain, setelah Hindia Belanda menyerahkan
        wilayah kekuasaannya kepada bangsa-bangsa dalam wilayah hindunesia atau
        hindunesha atau indosnesos atau little india atau futher india atau
        sebahagian great india atau kepulauan tanjung keling atau kepulauan sunda
        besar dan kecil atau indunesia atau indonesia yang terhimpun dalam RIS
        (Republik Indonesia Serikatat), lantas, setelah 231 hari, kuasa wilayah RIS
        (Republik Indonesia Serikat) itu, dirampok dengan menggunakan trick platform
        undang-undang RIS:  PP RIS No 21/08/1950 dan disusuli dengan penggunaan
        kekuatan militer oleh Soekarno si Penipu licik.

        Dan dalam sekelip mata, wilayah RIS (Republik Indonnesia Serikat) itu
        bertukar menjadi wilayah kuasa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indionesia
        atau disebut juga sebagai Negara Kolonialis Republik Indonesia) rezimnya
        penjajah Indonesia Jawa atau Jawa Chauvinis atau Jawa Sentris atau Jawa
        Unitaris, yang juga mau, agar setiap orang dipaksa musti mengkikrarkan diri
        sebagai bangsa baru, bangsa NKRI!

        NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) negara yang tidak sah!  Dr
        Pramoedya Ananta Toer dalam wawancaranya pada hari ulang tahun ke 80?
        kembali lagi, mengatakan NKRI itu negara yang tidak sah!  Happy Birth Day Dr
        Pramoedya!

        Mari, disini kita membicarakan:

        (1) Mengenai anak-anak Jawa, dari anggota PKB (Perserikatan Komunis
        Belanda), walaupun telah mengubah nama partainya menjadi PKI (Partai Komunis
        Indonesia) pada tahun 1924, tetapi anggotanya ,juga masih tetap menyatakan
        diri mereka sebagai bangsa Hindia Belanda dan berkewarganegaraan Hindia
        Belanda.  Indonesia yang telah dijadikan predikat partai komunis itu,
        semata-mata adalah sebagai suatu symbol!

        (2) Kumpulan anak-anak Jawa komunis inilah juga yang mempelopori Soempah
        Pemoeda 28 Oktober, 1928.  Indonesia dalam sebutan sumpah mereka itu,
        dilihat dari dialektika sejarahnya bangsa Jawa juga, hanya sebagai suatu
        symbol!

        (3) Begitu juga halnya Soekarno si Penipu licikpun, walaupun dia telah
        mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) atau juga disebut sebagai PKB
        (Partai Komunis Bunglon) pada tahun 1927, dan tetap menyatakan dirinya
        sebagai bangsa Hindia Belanda dan berkewarganegaraan Hindia Belanda.  Jadi
        Indonesia masih sebagai symbol!

        Malahan Soekarno si Penipu licik pada Agustus 1930 dalam pledoi pembelaannya
        "Indonesia menggugat" di Landraad, Bandung, sebagaimana dikomentari oleh
        Prof Dr Mubyarto, Guru Besar FE-UGM, Jokyakarta bahwa, Soekarno si Penipu
        licik itu, sesungguhnya (dia sebagai warga negara Belanda dan sebagai bangsa
        Belanda) tidak pernah menentang pemerintahan Hindia Belanda, sebagai
        pemerintahan yang sah dan mengakuinya pula bahwa,  Hindia Belanda itu, bukan
        sebagai bangsa asing, sebagai kolonialis-imperialis.

        Silakan baca kembali sendiri, tulisan Soekarno si Penipu licik  "Indonesia
        Menggugat"!  Disinipun terbaca bahwa dalam jiwa Soekarno si Penmipu licik,
        ketika dia telah berumur 29 tahun, ditahun 1930,  Indonesia-nya itu, masih
        hanya sebagai symbol!

        Note (1): Sikap Soekarno si Penipu licik, selaku seorang warga negara
        Belanda, tidak mau menentang Belanda sebagai bangsa asing, sebagai
        kolonialis, sebagai imperialis. Dalam menyusuri catatatan epos sejarah
        perjungan bangsa Jawa bahwa, bangsa Jawa, tidak pernah menentang
        kolonialis-imperialis Belanda, hanya karena Belanda itu sebagai
        kolonialis-imperialis. Tetapi karena akibat dilibatkan oleh ulah-tingkah
        raja-raja Jawa, bangsawan-bangsawan Jawa dan para tuan-tuan tanah atau
        lintah-lintah darat Jawa!

        Atau mungkin karena mereka: Raja-raja Jawa, bangsawan-bangsawan Jawa,
        tuan-tuan tanah atau lintah-lintah darat Jawa ketika itu belum sempat
        mengenal isyarat symbol indunesia atau indonesia?

        Sekalipun dia senantiasa meneriaki doktrin komunismenya, menentang keras:
        Kolonialisme dan imperialisme!  Sedangkan dia tahu bahwa, feudalisme dan
        kapitalisme adalah akar tunggal kolonialisme dan imperialisme dan sangat
        tegas disuarakan dalam doktrin komunisme!

        Tetapi mengapakah pula,  Soekarno si Penipu licik itu tidak pernah
        menyuarakan tantangan terhadap feudalisme atau feudalisme Jawa?  Bukankah
        feudalisme Jawa ketika itu juga punca kejahatan kemanusian keatas
        manusia-manusia Jawa yang lain?

        Bukankah feudalisme Jawa tentunya tidak boleh wujud lagi, effektip sejak
        Soekarno si Penipu licik telah menerima watikah "indonesia", walaupun ketika
        itu masih sebagai symbol, karena semua feudalisme di luar pulau Jawa
        semuanya telah dihabisi oleh anak-anak Jawa Pembunuh bayaran KNIL Belanda
        atau si Belanda Hitam ketika mereka ditugaskan diseluruh wilayah Hindia
        Belanda dulu.

        Feudalisme dan kapitalisme adalah akar tunggal kolonialisme dan imperialisme
        dan sangat tegas tantangannya disuarakan dalam doktrin komunisme! Apakah
        tidak demikian dalam doktrin Soekarnoisme!? Atau karena komunismenya sudah
        menjadi komunis bunglon dalam "nasional"-nya  symbolik indonesia itu?

        Feudalisme Jawa terkenal kejam, melangkahi feudalisme Eropah ketika itu. 
        Feudalisme Jokyakarta dan Surakarta yang dibangun dan diarsitekkan oleh
        Jacob Mossel pada tahun 1755, jelas sebagai anjangan panggung kolonialisme
        dan imperialisme seterusnya di Pulau Jawa, tidak pernah ditentang oleh
        Soekarno si Penipu licik!  Kejahatan Amangkurat I misalnya sampai sekarang
        masih lagi dalam riset historis, yang tidak selesai-selesainya.  Feudalisme
        Jawa tercatat kejam dan telah tercatat sepanjang sejarah bangsa Jawa!

        Apalagi sehingga 15 Agustus, 1945, dia masih lagi sebagai Kolaborator Resmi
        Kerajaan Jepang, dan tidak ada sepotongpun dari ucapannya menentang fasis
        Jepang sama seperti tidak pernahnya dia menetang feudalisme Jawa yang kejam
        itu.

        Soekarno si Penipu licik,  sangat dikenal sebagai Ketua Milisi Laksmana
        Maida dan bersama sekelompok anak-anak Jawa lainnya telah bersiteguh menolak
        merdeka pada tanggal tersebut, sehingga beberapa anak-anak muda Sumatra: Dr
        Chairul Saleh, Adam Malik dan Pak Buyung Nasution menyeretnya ditengah malam
        ke Jakarta Utara dan dengan todongan pistol Dr Chairul Salleh ke tengkorak
        kepala Soekarno si Penipu licik itu, maka baru segera terdraftkan
        proklamasinya, symbol indonesia itu!

        Saudara Irfan Anshory,

        Ketika peristiwa itu, Soekarno si Penipu licik dan sekumpulan anak-anak Jawa
        lainnya hampir-hampir saja melupakan symbol indonesia mereka, dan mereka
        ingin sekali kembali mengensot-ngensot ke alun-alun istana Jokyakarta,
        symbolnya "maharaja Jawa patnernya maharaja Hirohito"!   Inilah mungkin dia
        mengenyampingkan penentangannya terhdap feudalisme Jawa, ketika saat-saat
        sedang menerima indonesia sebagai symbol nasionalisme?

        Silakan cari kembali tulisan ini yang pernah diterbitkan sejak saat-saat
        Soekarno si Penipu licik itu ditodong dengan pistol oleh Dr Chairul Salleh
        ditengkorak kepalanya,  yang pernah dimuat dalam mass media sebaik dia
        tumbang atau anda bisa tanyakan langsung kepada keluarga mereka, seperti
        yang telah kami lakukan langsung sebelumnya, agar dengannya saudara Irfan
        Anshory dapat membaca bagaimana struktur kejiwaan nya Soekarno si Penipu
        licik dengan kepitan nasionalisme indunesia atau indonesia-nya.

        (4) Begitu juga misalnya mengambil contoh lain: Suharto Kleptokracy, pada
        tahun 1941 masih sebagai Pembunuh bayaran KNIL Belanda dan sejak 1942
        menjadi serdadu Jepang dan bersama Soedarsono diduga kuat terlibat
        menyembelih Tan Malaka, kemudian dia menjadi Presiden Penjajah Indonesia
        Jawa!

        Nah, Irfan Anshory, dimanakah struktur nasionalisme Indonesia, yang
        dikatakan menyebar itu, dan ternyata juga tidak sampai kedalam diri Soeharto
        Kleptokracy, sebagai kandidat Presiden Penjajah Indonesia Jawa kedua? 
        Nampaknya symbolisme indonesia itupun belum ada dalam jiwa bangsa Jawa! 
        Kecuali dalam buku-buku notes para kolaborator kolonialisimperialis Hindia
        Berlanda dan Fasis Jepang.

        (5) Bukan itu saja, mengambil contoh lain:  Berapa ratus ribu anak-anak Jawa
        Pembunuh bayaran KNIL Belanda, masih bertaburan dan berserakan diluar Pulau
        Jawa menyembelih bangsa-bangsa Melayu Nusantara hingga detik-detik
        kedatangan bala tentara Jepang pad 8 Maret, 1942. Saudara Irfan Anshory
        dimanakah nasionalisme indunesia atau indonesia itu?

        (6) Contohnya yang saudara Irfan Anshory paparkan sendiri bagaimana tiga
        orang anggota Volksraad DPR Hindia Belanda): Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
        Purbohadidjoyjo dan Sutardjo pada tahun 1939 masih juga sebagai kaki tangan
        penjajah Hindia Belanda, menjelang kedatangan bala tentara Jepang. 
        Bagaimanakah nilai kwalitas nasionalisme Indunesia atau Indonesia mereka?

        Apa yang telah saya tuliskan sebelumnya dari pernyataan Dr Mohammad Hatta
        (Dr Meutia Hatta), Dr Pramoedya Anata Toer dapatlah pula saya simpulkan
        bahwa apa yang disebut nasionalisme Indonesia itu adalah hanya slogan,
        tetapi penulis-penulis sejarah Jawa Chauvinis, Jawa Sentris atau Jawa
        Unitaris, kemudian memolesnya dengan bedak dingin Njonja Meneer! 
        Jelas-jelas penipuan sejarah yang tidak pernah berhenti!

        (7) Nah, coba saudara Irfan Anshory memberikan nilai kwalitas nasionalisme
        indonesia terhadap kedua anak-anak Jawa Soekarno si Penipu licik, si
        Kolaborator Jepang dan Suharto Kleptokracy si KNIL Belanda si serdadu
        Jepang, tetapi kemudian mereka bisa menjadi Presiden Republik Indunesia atau
        Indonesia, Presiden Penjajah Indoneia Jawa!  Samakah nilai nasionalisme
        indunesia atau indonesia mereka.  Tetapi dalam kenyataan perjalanan sejarah
        kedua mereka ini adalah punya kecenderungan dengan nasionalisme Jawa, Jawa
        Chauvinis, Jawa Sentris, Jawa Unitaris, Jawa Mojokertonis-Solois!

        Hinduism is India!  India is Hinduism!   Javanism is Indonesia!  Indonesia
        is Javanism! Dibawah bayangan panji:  The Blue Print of The Political
        Structure of Javanese Colonialism!

        Itulah sebabnya pada tanggal 27 Desember, 1949 di meja Konferensi Meja
        Bundar, di Den Haag, Belanda atau bertepatan 282 tahun setelah matinya Raden
        Trunojoyo pada 27 Desember, 1667, yang dikatakan sebagai keturunan anak raja
        Majapahit terakhir pada tanggal 27 Desember,1667, maka Negara (Kerajaan)
        Belanda memutuskan untuk membentuk RIS (Republik Indonesia Serikat), negara
        bagi negara-negara atau kerajaan-kerajaan yang pernah berdaulat ketika
        Hindia Belanda di jadikan bangsa dan dijadikan negara, untuk menghindari
        wilayah-wilayah nusantara itu diperintah dibawah dominisasi Jawa Chauvisnis
        atau Jawa Sentris atau Jawa Unitaris!

        Sebuah perikatan dari negara-negara (kerajaan-kerajaan) yang pernah
        berdaulat yang pernah dijajah atau diduduki oleh Belanda untuk
        memayungkannya dalam sebuah federasi, dimana kesemua negara-negara atau
        kerajaan-kerajaan itu sama hak dan sama kewajibannya.

        Tetapi RI-Jawa Jokya, sebagai sebuah negara bahagian dibawah kepimpinan
        Soekarno si Penipu licik, malah telah meleburkan negara RIS (Republik
        Indonesia Serikat) yang baru berusia 231 hari saja dan kemudian membentuk
        NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia atau sebutkan sebagai: Negara
        Kolonialis Republik Indonesia), lewat rampokan wilayah lewat trick platform
        undang-undang RIS: PP RIS No 21/08/1950 dan disusuli dengan kekuatan
        militer, lantas memaksa dan menggiring negara-negara (kerajaan-kerajaan)
        yang berdaulat sebelumnya, tunduk dibawah sebuah payung kuasa administrasi
        tunggal untuk diperintah oleh sebuah rezim.  Negara Kesatuan Republik
        Indonesia (NKRI) diperintah oleh sebuah rezim Indonesia Jawa Chauvinis atau
        Jawa Sentris atau Jawa Unitaris atau Jawa Mojokertonis-Solois, oleh Soekarno
        si Penipu licik.  Great Java uber alles!?

        Dan untuk mengetahui lebih lanjut dan terperinci, mengenai struktur
        kenegaran NKRI yang tidak sah itu, maka disini saya sebagai penyerta milis
        bebas kelolaan Tengku Ahmad Hakim Sudirman dan dengan ini menganjurkan:

        Kepada saudara Irfan Anshory, lewat media ini, lewat milis bebas Tengku
        Ahmad Hakim Sudirman ini, agar dapat kiranya bersenantiasa menjenguk ke
        Website: http://www.dataphone.se/~ahmad dengan alamat email di
        ahmad@...  atau ahmad_sudirman@... , dimana, disana anda
        akan dapat membaca kupasan-kupasan beliau, buku demi buku dan ruas demi ruas
        apa itu RIS, apa itu RI-Jawa-Jokya dan apa itu NKRI!  Karena saya ingat
        Tengku Ahmad Hakim Sudirman telah mengkhususkan diri tentang ketatanegaraan
        NKRI keseluruhannya.

        Beritahukan dan umumkan kepada seluruh cabang-cabang institusi anda dimana
        saja, agar senatiasa berhubungan dengan milis bebas tersebut diatas. Nah,
        dipersilakan dengan segala hormatnya!

        (8) R. A. Kartini, walaupun anak Jawa ini seorang penganut Katholik, namun
        dia tetap konsekwen hingga terakhir kehari matinya ditahun 1904, sebagai
        anak Jawa! Hanya Armijn Pane, siapa yang telah memberikan judul: "Habis
        gelap terbitlah terang", atas kumpulan tulisan-tulisan R. A. Kartini, kepada
        induk semangnya di Belanda yang terbinding itu, sebagaimana yang dikehendaki
        oleh para nasionlis-nasionalis Jawa Chauvinis, Jawa Sentris atau Jawa
        Unitaris, tetapi sebagai Wanita Indonesia Jawa, bukan sebagai Wanita Jawa.
        Dan belum nampakpun fajar symbol indunesia atau indonesia.

        (9) Dr Soetomo ( Dr Budi Utomo ) dan Dr Wahidin Soedirohoesodo dengan Budi
        Utomo hanya pernah menyebutkan 20 Mei, 1908 sebagai kebangkitan bangsa Jawa,
        tetapi mereka tidak pernah menyebutkan sebagai kebangkitan bangsa
        "indonesia".  Malahan pemuda-pemuda komunis Jawa pada tahun 1918 dengan
        lantang menyebutkan 20 Mei, 1908 itu, hanya sebagai kebangkitan (bangsa)
        Jawa Priyayi!? atau yang kemudian dikenal sebagai Jawa Chauvinis berevolusi
        menjadi Indonesia Jawa!?

        Saudara Irfan Anshory, dibawah inipun saya perlu mempertanyakan dan
        membentangkan serba sedikit tentang paparan anda dan berkait dengannya:

        (a) Apakah Java yang diindonesiakan menjadi Jawa adalah juga sama dengan
        Jawi? Atau mengapakah Sulavesi (sula-besi) menjadi Sulawesi-nya Daeng Yusuf
        Kalla didalam peta? Hayam Vuruk (ayam-buruk) menjadi Hayam Wuruk, rajanya
        Majapahit dalam sejarah Jawa? Pulau Vetar menjadi Pulau Wetar didalam peta
        Kepulauan Sunda Kecil? Kepulauan Bavian menjadi Kepulauan Bawean, didalam
        peta?  Tetapi mengapakah masyarakat Kepulauan Bawean sendiri tetap mengataka
        bahwa, mereka datang dari kepulauan Babian.

        Note: Sebutan v pada Bavian, sama seperti menyebut sebutan cubitan pada
        huruf "v" dari kata vitamin.

        Bagaimanakah pula dengan Java-nya James Gosling pada PC atau H/P?

        (b) Tetapi dalam bahasa Achèh meu-Jawi itu, bukan berarti menjadi Jawa,
        tetapi dimaksudkan sebagai gerak mengidal, atau sebagai gerak si Kidal. Dan
        dengan kata lain disebutkan sebagai geraknya tangan kiri.   Begitu juga
        dimaksudkan dengan tulisan Jawo atau tulisan Jawi pula sebagai tulisan
        Melayu beraksara Arab, yang guratan tulisannya ditarik dari arah sebelah
        kanan kearah sebelah kiri.

        Bagi saya tidaklah akan menjadi menarik untuk mengatakan orang Jawa sebagai
        orang Jawi atau Jawo, lantas diteruskan dengan mengatakan sebagai orang
        kiri. Walaupun sejarah Jawa, sejak setelah Mpu Sendok mengundurkan diri dan
        pergi menyendiri, bertapa mensucikan jiwa, tertulis disana bahwa, para
        Raja-Raja dan Bangsawan Jawa (Feudalis-si Penjajah ) dan para Tuan
        Tanah-Tuan Tanah Jawa (Kapitalis-si Penjajah) telah meperlakukan
        rakyat-rakyat Jawa yang miskin tidak punya tanah (kaum proletaris-yang kiri
        dan yang terjajah)  dan yang punya sebidang kecil tanah (kaum marhenis?-yang
        kiri dan yang terjajah) telah disifatkan sebagai: exploitation de l'home par
        l'home, si bangsa Jawa Feudalis-Kapitalis yang menjajah bangsa Jawa-nya
        sendiri!

        (c) Tetapi ya, bagi K.H. Munowar Muso, bertekad maukan rakyat Jawa yang
        dijajah, yang miskin yang umumnya hampir-hampir tidak mempunyai sekeping
        harta- tanahpun, biarlah Jawanya menjadi Jawi, menjadi Jawa kiri, seperti
        yang anda, saudara Irfan Anshory maksudkan?

        Note (2): Tetapi mengapakah Pangdam V-Jaya, Mayjen Agustandi Sasongko
        Purnomo, begitu ketakutan dari kebangkitan kembali kekuatan semangat
        30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?

        - Bukankah Gusdur Abduraraman Wahid, Ketua Kumpulan Kambing Congek Indonesia
        Jawa, itu disokong oleh semangat kekuatan 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban
        Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?  Walaupun dia menjalankan tugasnya sambilan
        tidur?  Walaupun memerintahkan pembunuhan Tengku Banta Qiah dan 200 jiwa,
        muridnya yang sedang mengaji al-Quran di pesantaren Betong sambilan tidur? 
        Dan pembunuhan ratusan lagi disimpang KKA dan tempat lain sambilan tidur?

        - Bukankah Megawati Soekarno Putri, algojo wanita Jawa, yang bodoh dan
        bengok itu, yang kedua tangannya berlumuran darah basah, lebih 20.000 jiwa
        bangsa Achèh dalam Darurat Militer dan Dalam Darurat Sipil, ketika tidak
        diberi sokongan oleh semangat 30.000.000 jiwa, anak-anak "Korban Peristiwa
        1965 Dan Pulau Buru", lantas tumbang dan kemudian menjadi anggota Kambing
        Congek Indonesia Jawa, pimpinan Gusdur Abdurrahman Wahid.

        - Bukankah Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, berhasil menang dalam
        pemilihan langsung itu dan terlantik menjadi Presiden Penjajah Indonesia
        Jawa, karena mendapat sokongan padu langsung dari semangat 30.000.000 jiwa,
        aanak-anak "Korban Peristiwa 1965 Dan Pulau Buru"?

        ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Penjajah Indonesia Jawa telah
        menyembelih lebih 3.000.000 jiwa, anak-anak Jawa buruh Fabrik yang tidak
        cukup makan dan anak-anak Jawa buruh Tani, yang miskin yang kesemua mereka
        tidak bersalah, yang disifatkan sebagai Indonesian Java Holocaust.

        Saudara Ibrahim Isa Betawi atau Bilmijer jangan kurang-kurang jumlah
        bilangan Indonesian Java Holocaust itu, karena itu sahih dari Raden Permadi
        SH, anggota PNI, yang diterimanya dari Letjen Sarwo Eddi, bapak mertuanya
        Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono,

        (d) Mengapakah saudara Irfan Anshory, sebagai seorang Direktur Pendidikan
        "Ganesha Opration",  menjadi terlalu bersemangat sekali untuk mengutip
        sipedagang kaki lima di pasar Seng, Mekah yang mengatakan bahwa, Sumatra,
        Sulawesi dan Sunda semuanya Jawa?

        Coba anda buka peta lama sekitaran tahun-tahun 1950-an.   Disana anda akan
        melihat wilayah "nusantara" ini dibagi dua: (1) Sumatra, Kalimantan, Jawa
        dan Sulawesi disebut sebagai: Sunda Besar, (2) Selainnya disebut (Kepulauan)
        Sunda Kecil (sekarang disebut sebagai Kepulauan Nusatenggara). Papua Barat
        (Irian Barat) Sunda apa?  Jadi disana akan terlihat bahwa, "nusantara" 
        bukan kepulauan Jawa tetapi sebagai kepulauan Sunda.

        Dan peta lama itupun, dibuat oleh orang-orang Jawa Chauvinis, oleh Jawa
        Sentris atau Jawa Unitaris!  Mengapakah dibuat demikian?  Silakan anda
        menyelidikinya!  Tetapi jangan lupa untuk memberitahukan kepada
        pedagang-pedagan kaki lima di Pasar Seng, Mekah, tentang Sunda Besar dan 
        Sunda Kecil, yang Jawa termasuk didalamnya!   Sunda bukan Jawa dan bukan
        Indonesia atau Indonesia Jawa!  Sama seperti Achèh bukan Indonesia atau
        Indonesia Jawa!

        (e) Sebagai tambahan saya beritahukan bahwa dunia Islam lebih mengenal Achèh
        sebagai 5 Besar Islam: Turkya, Marokko, Iran (Ishfahan), India
        (Lahore-sekarang Pakistan) dan Achèh (Bandar Achèh, Darussalam) dari pada
        pedagang Arab-Arab kaki lima di Pasar Seng, Mekah.

        Dalam khutbahnya Prof Ali Hasyimi di Mesjid Lam Prik, Banda Achèh,
        Darussalam, beliau telah mengkhutbahkan bahwa, Islam yang pernah bermudik di
        Jazirah Arab telah mengalir dan bermuara ke Achèh, ke Banda Achèh
        Darussalam.  Dan itulah sebabnya pula oleh Ibnu Khaldum bapak sosiology
        Islam itu, telah menyifatkan Achèh sebagai Andalusia Timur!

        Jadi Arab-Arab di Pasar Seng, Mekah itu, yang pengetahuannya mengenai Jawa
        atau Jawi ataupun Jawo, sama seperti Arab-Arab Badui, yang pernah mogok
        mobilnya, lantas menyumpali tangki minyaknya penuh-penuh dengan gandum
        kedalam tangkinya, agar bisa broooommm kembali.

        Tidakkah Arab-Arab di Pasar Seng, Mekah itu, tahu bahwa, bangsa Jawa telah
        pernah dijajah selama 353 (tiga ratus lima puluh tiga) tahun dari 5 Juni,
        1596 hingga 27 Desember, 1949. Atau sejak  353 tahun yang lalu ditahun 1949,
        bangsa Jawa sememangnya selalu menumpang kapal KPM, kapalnya Wong Londo
        berlayar ke Jedah?

        (f) Sebagaimana dapat kita membaca berulang tentang komitmen solid dari Prof
        Dr Asvi Warman Adam dari LIPI, yang hendak "meluruskan sejarah" , maka saya
        suntinglah secuplikkan tulisan beliau dari koran Rakyat Merdeka , 13 April,
        2005,  diantaranya:

        .............. masa yang panjang yang selalu dikatakan bahwa penjajahan
        Belanda di Indonesia berlangsung selama 350 tahun itu. Jelas tidak. Sewaktu
        masa penjajahan Belanda, banyak kerajaan-kerajaan di Nusantara ini yang
        masih berdaulat. Belanda tidak sampai menjajah atau menguasai
        kerajaan-kerajaan itu.

        Mudah-mudahan sayapun nantinya ada yang memberitahukan sebutan Asvi-nya dari
        Prof Dr Asvi Warman Adam, sebagai cenderung  kearah sebutan Asbi atau Asfi?

        (Bersambung: PLUS  II  +  INDUNESIA  TIWUL!)

        Wassalam.

        Omar Puteh

        om_puteh@...
        Norway
        ----------




        ------------------------------------------------------------------
                               TIADA KATA SEINDAH `MERDEKA`
        ------------------------------------------------------------------
        Ubahlah nasib bangsa kita, jangan jadikan anak cucu kita sebagai mangsa dari keterlambatan kita bertindak pada hari ini.

        Mailing bebas => Meukra-subscribe@yahoogroups.com
        -untuk membuat posting kirimkan ke: PPDi@...

        **************************************************************
        -Beritahu rakan anda untuk menyertai egroups ini dengan hanya menghantar email kosong ke: PPDi-subscribe@egroups.com
                       : Meukra-subscribe@yahoogroups.com
        **************************************************************
        FOR THE LATEST NEWS link to us: http://PPDi.cjb.net/
                                  http://groups.yahoo.com/group/PPDi/messages




        Yahoo! for Good - Make a difference this year.
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.