Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: «PPDi» ALQUBRA BELAJAR MENULIS DG OMAR PUTEH, AM DG IQBAL IDRIS

Expand Messages
  • " Seulawah Agam "
    PEMERINTAH NEGARA ACHEH KANTOR PERDANA MENTERI d/a: ASNLF - P.O. BOX 130, S-145 01 NORSBORG, SWEDEN TEL: +46 8 531 83833 FAX: +46 8 531 91275 Pernyataan
    Message 1 of 3 , Sep 3, 2005

       

      PEMERINTAH NEGARA ACHEH

      KANTOR PERDANA MENTERI

      d/a: ASNLF - P.O. BOX 130, S-145 01 NORSBORG, SWEDEN

      TEL: +46 8 531 83833

      FAX: +46 8 531 91275 

       

      Pernyataan Perdana Menteri Negara Acheh

      Sempena Peresmian Kedutaan Acheh di Port Vila, Vanuatu

      17 Agustus 2003  

       

      Hari ini 17 Agustus 2003, Pemerintah Negara Acheh dan Pemerintah Republik Vanuatu mengumumkan secara resmi terjalinnya hubungan diplomatik antara kedua negara. Peristiwa bersejarah ini berlangsung di Port Vila, ibukota Vanuatu dalam upacara pembukaan kantor bersama Kedutaan-Kedutaan Negara Acheh, Papua dan Maluku, yang disempurnakan oleh Wakil Perdana Menteri Vanuatu, Yang Mulia Tuan Serge R. Vohor.

       

      Bagi rakyat Acheh, peristiwa ini merupakan pengakuan pertama oleh sebuah negara lain atas hak bangsa Acheh untuk menentukan masa depan politik mereka sejak Belanda menyatakan perang dan mendaratkan pasukan kolonialnya di bumi Acheh pada 26 Maret 1873.

       

      Atas nama rakyat Acheh dan Kepala Negara, Wali Neugara kami, Tengku Hasan M. di Tiro, Pemerintah Acheh mengungkapkan penghargaan setinggi-tingginya atas langkah bijaksana dan berani yang diambil oleh kabinet Presiden dan kantor Perdana Menteri Republik Vanuatu dan rakyat negara yang gagah berani ini, dalam mendukung perjuangan keadilan bagi bangsa Acheh untuk membebaskan diri dari cengkaman penjajahan brutal rejim kolonial Indonesia.

       

      Perwakilan diplomatik kami akan melakukan usaha-usaha khusus untuk lebih meningkatkan lagi hubungan-hubungan bilateral unik yang telah ada antara rakyat Acheh dan Vanuatu, dan untuk memperkuat persahabatan dan kerjasama strategis ke tingkat yang lebih tinggi di masa depan. Kami menyatakan seikhlas-ikhlasnya komitmen kami untuk menghormati undang-undang, nilai-nilai serta norma-norma kehidupan yang berlaku di negara tuan rumah kami.

       

      Sesungguhnya, penjalinan  hubungan diplomatik antara kedua negara  ini telah dimungkinkan oleh kesedaran dan pengertian bersama atas berbagai perkara yang menimpa negara-negara di wilayah Asia-Pasifik di masa lalu hingga hari ini - sebagai sebuah akibat warisan kolonial. Kami yakin dengan kerjasama yang erat dan tinjauan ke masa depan yang jelas, Vanuatu dan Acheh bersama dengan Papua dan Maluku akan mampu menempa masa depan yang stabil, demokratik dan makmur untuk seluruh wilayah Asia-Pasifik.

       

      Negara Acheh membuat pernyataan ini dengan penuh kemuliaan dan kebanggaan. Sesungguhnyalah, hari ini adalah suatu hari yang penuh kegembiraan, tetapi juga suatu hari untuk merenungkan dengan sedih akan ramainya rakyat kami yang telah terkorban nyawa dalam usaha menuntut hak-hak asasi kebebasan mereka, ditambah lagi dengan pahlawan-pahlawan gagah berani kami yang telah gugur dalam pertempuran yang lama dan masih berlangsung melawan kebrutalan dan kebiadaban angkatan bersenjata kolonial Indonesia.

       

      Pemerintah dan rakyat Vanuatu telah memberikan harapan kepada bangsa Acheh bahwa dalam masyarakat internasional, yang seolah-olah berdiam diri di hadapan kezaliman, masih ada pemerintah-pemerintah yang bersedia bertindak berani dalam memegang prinsip keadilan dan martabat kemanusiaan.

       

      Kami memandang masa depan dengan keyakinan akan hubungan bersahabat yang berkepanjangan dan untuk kebaikan bersama, serta mengambil kesempatan ini untuk menyerukan kepada seluruh bangsa Acheh supaya terus berjuang  hingga kemenangan dan kemerdekaan tercapai.

       

      Hidup Acheh! Hidup Vanuatu! 

      Malik Mahmud 

      Perdana Menteri 

      Negara Acheh 

       

      -----------

      THE GOVERNMENT OF THE STATE OF ACHEH

      OFFICE OF THE PRIME MINISTER

      c/o: ASNLF - P.O. BOX 130, S-145 01 NORSBORG, SWEDEN

      TEL: +46 8 531 83833

      FAX: +46 8 531 91275



       

      Statement by the Prime Minister of Acheh

      In conjunction with

      The Official Opening Ceremony of the Embassy of Acheh

      At Port Vila, Vanuatu

      17 August 2003 

       

       

      Today, 17 August 2003, the Government of the State of Acheh and the Republic of Vanuatu, announced officially the establishment of diplomatic relations between the two countries. This event took place in Port Vila, the capital of Vanuatu during a ceremony of the opening of the Joint Chanceries of the Embassies of Acheh, Papua and Maluku by His Excellency Mr. Serge R. Vohor, the Deputy Prime Minister of Vanuatu. 

      For the Achehnese people, this historic event represents the first recognition by a nation-state, of the legitimate right of the Achehnese to determine their own political future. It also symbolizes their first official foreign diplomatic mission since 1873, when Holland declared war and landed its colonial troops on the soil of Acheh on March 26, 1873. 

      On behalf of the Achehnese people and the Head of State of Acheh, our Wali Neugara, Tengku Hasan M. di Tiro, the Government of Acheh, expresses its deepest appreciation to the wisdom and courageous move taken by the Offices of the President and Prime Minister of Vanuatu and the friendly people of this nation in giving their support to the just struggle of the Achehnese people, for their rightful independence from the yoke of the Indonesian neo-colonialist regime. 

      Our diplomatic representatives will make special efforts to enhance significantly the already established unique bilateral relations between the peoples of Acheh and Vanuatu, and to raise our friendship and co-operation to an even higher level of strategic partnership in the future. For our part, we shall make a commitment to uphold the laws, values and norms of our Vanuatuan host. 

      Indeed, the establishment of diplomatic relations between our countries were made possible through mutual awareness and understanding of the various problems that beset countries of Asia-Pacific region in the past until this day – as a result of colonial legacy. We believe with close co-operation and clear foresight, Vanuatu and Acheh along with Papua and Maluku will be able to forge a stable, democratic and prosperous future for the whole Asia-Pacific region in which we all belong. 

      It is with great honour and pride that the State of Acheh makes this announcement. It is a day of happiness, but also a day of sad reflection that so many of our people have already perished whilst attempting to exercise their right of freedom, not to mention our gallant soldiers – national heroes – who have fallen in the long and ongoing fight for freedom against the barbaric Indonesian armed forces. 

      The government and the valiant people of Vanuatu has given Achehnese their support for their independence from Indonesia. It was indeed a rare occassion that within the seemingly muted international community, there are still governments that are willing to act bravely in upholding the principle of justice and dignity of human being. 

      Against this background, I am calling on all Achehnese to keep on the struggle until we achieve victory and regain our freedom. 

      Vive Acheh! Vive Vanuatu! 

       

      Malik Mahmud

      Prime Minister

      State of Acheh 

       
      laksamana cheng ho <laksamana_chengho@...> wrote:
      Sungguh lucu Alqubra sekarang ini, dia terpaksa membantu guru nya Omar Puteh dalam usaha menjelekkan MP GAM. Ini nampaknya terpaksa dilakukan oleh Alqubra berikutan adanya sedikit cek-cok dengan guru kesayangannya itu, ini juga sebuah usaha mendamaikan diri mereka yang sempat bercerai sebelum di tanda tangani MoU Helsinki, tetapi sekarang mereka telah rujuk kembali setelah pemimpin mereka merujuk diri kepada pimpinan RI. Dan mereka(Alqubra-Omar Puteh) mendapat jatah yang sama rata sehingga terpaksa akur dengan bagian masing-masing. Dan bila tidak jatah mereka akan dikurang bahkan mungkin di limpahkan kepada Iqbal Idris sang "hakim cap MP" anak murid nya Omar Puteh juga. Tapi hebat juga si Iqbal Idris ini, setelah mendapat ilmu AM dari Lipaya di limpahkannya kepada Alqubra yang akhirnya berbuah sesat. Mungkin guru mereka juga mendapat ilmu dari aliran sesat, mungkin juga dari Faisal Janggot.
       
      Sebenarnya Alqubra punya sedikit masalah dengan jiwa nya itu, dimana beliau berani mencabut balik nama-nama yang telah di berikan ke anaknya. Alqubra/Ali Alasytar/Taqi Muntaqiri/Fika atau yang lainnya adalah nama2 bocah nya. Nama sebenarnya Husaini Daud dengan gelar Sp yang didapati dari RI agak jarang digunakan. Mungkin ini satu taktik yang di ajari oleh Omar Puteh untuk berlayar di milis ini. Lebih heran lagi orang2 yang tidak sehaluan dengan mereka(Alqubra-Omar Puteh-Iqbal Idris) dianggap pengkhianat. Tapi sayang seribu kali sayang mereka tak bisa menulis sebuah buku pun seperti halnya Yusra Habib Abdul Gani. Jelas buku2 beliau bermutu tinggi, lebih baik membaca buku Yusra Habib dari pada "dongeng tiga serangkai" mereka.
       
      Dan yang sebenarnya nya lagi mereka bertiga adalah musuh wilayah.


      How much free photo storage do you get? Store your holiday snaps for FREE with Yahoo! Photos. Get Yahoo! Photos


      Start your day with Yahoo! - make it your home page

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.