Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Berikrar Setia atau Memanen Mayat

Expand Messages
  • Ariffadhillah
    Berikrar Setia atau Memanen Mayat Akhir-akhir ini sering kita membaca berita bahwa telah terjadi penyerahan diri dan pengucapan ikrar setia kepada NKRI. Bahkan
    Message 1 of 1 , Aug 2, 2001
    • 0 Attachment

      Berikrar Setia atau Memanen Mayat

      Akhir-akhir ini sering kita membaca berita bahwa telah terjadi penyerahan diri dan pengucapan ikrar setia kepada NKRI. Bahkan Komisaris Polisi Sudarsono SH, wakil Komandan Satuan Tugas Penerangan Operasi Pemulihan Keamanan untuk Aceh, mengklaim, sedikitnya 640 orang telah melakukannya dalam kurun waktu dua bulan terakhir. (Antara, 27.07.2001)

      Hujan gerimis juga ikut membasahi lapangan upacara, pada saat sekitar 6.000 warga Lhong, Aceh Besar mengucapkan ikrar kesetiaannya kepada NKRI. (Kompas, 31.07.2001)

      Ikrar ini akan semakin sering terdengar dalam waktu dekat ini, namun hal ini bukanlah barang baru dalam perjalanan sejarah Aceh. Ikrar Lamtéh tahun 1962, adalah salah satu contoh seremonial ini. Pada awal masa pergerakan Aceh Merdeka, ceremonial ini juga menjadi agenda utama penghambaan diri rakyat Aceh kepada rejim Jakarta. Demikian pula pada masa DOM (1989-1998), ikrar kesetiaan telah menjadi salah satu simbol keberhasilan operasi militer di Aceh.

      Namun ada substansi yang harus dipertanyakan, apakah itu sepenuhnya kesadaran atau keterpaksaan? Nuansa keterpaksaan tak dapat dipungkiri, sebab ini hanya terjadi pada masa-masa puncak operasi militer. Kalau memang atas dasar kesadaran mengapa tidak berlangsung di masa-masa tenang, atau setidaknya tanpa barikade militer indonesia disekitar daerah seremonial tersebut?

      Satu kutipan yang menarik dari ucapan Mayjen H.R. Pramono, Pangdam I/BB, pada tahun 1990:

      "Saya sudah katakan kepada masyarakat, apabila kamu menemukan seorang teroris, bunuh dia. Tidak perlu memeriksanya lagi. Jangan biarkan masyarakat menjadi korban. Apabila masyarakat tidak mau melakukan seperti yang kita perintahkan, tembak mereka ditempat, atau sembelih mereka. Saya memerintahkan masyarakat untuk membawa senjata tajam atau senjata lainnya. Jika bertemu dengan teroris bunuh dia." (Tempo, 17.11.1990; Amnesty International, 1993, "Shock Therapy: Restoring Order in Aceh")

      Pernyataan seperti ini telah membawa rakyat Aceh pada sebuah dilema dalam mengambil keputusan. Selanjutnya dapat ditebak, ikrar kesetiaan semu yang terpaksa harus diucapkan oleh rakyat Aceh. Rakyat Aceh sama sekali tidak mengucapkannya dengan rasa tulus ikhlas, sebab tindakan represif militer Indonesia yang mebuat mereka tidak punya banyak alternatif. Berikrar setia atau memanen mayat!

      Sejak 2 Mei 2001, setidaknya 348 orang telah terbunuh, ketika Presiden Wahid menggelar operasi militer untuk mencari penyelesaian damai. (South China Morning Post, 03.07.2001). Lebih dari 950 orang, umumnya merupakan warga sipil, telah tewas di Aceh sepanjang tahun 2001 ini. (Serambi, 07.07.2001) Angka-angka ini hanyalah sejumlah kematian yang tercatat, jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar, karena tidak mustahil banyak korban yang tidak tercatat.

      Kemungkinan besar panen mayat ini akan terus berlangsung dalam pekan-pekan berikut ini, sebab permainan ini belum berakhir, justru akan semakin seru bahkan taruhanpun semakin tinggi. Bendera atau Mati!

      Ariffadhillah

      Cologne, 03.08.2001

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.