Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

31134Sawit Rugikan Masyarakat

Expand Messages
  • Sunny
    Dec 9 11:57 AM
       
       
       
      Sawit Rugikan Masyarakat
       
      Wheny Hari Muljati | Senin, 09 Desember 2013 - 17:26 WIB
      : 100
       

      (SH/Job Palar)
      Rakyat diimbau beralih menanam karet karena secara lingkungan dan ekonomi lebih menguntungkan.
       
      JAKARTA – Masyarakat lebih baik menanam karet ketimbang sawit. Secara ekologi dan ekonomi, tanaman karet lebih banyak manfaatnya dibandingkan sawit.

      Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Pascasarjana Universitas Mulawarman, Ach Ariffien Bratawinata Magr mengatakan, tanaman sawit susah dipelihara. Selain itu, daur ekonominya pendek, antara 6-15 tahun. “Setelah itu produktivitasnya akan rendah. Kalau tanaman karet di mana-mana menguntungkan masyarakat. Di Lampung dan Jambi misalnya, pesantren kaya dari karet,” katanya ketika dihubungi akhir pekan lalu. 

      Dewan Pengawas Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) Universitas Mulawarman ini mengatakan, masyarakat akan rugi jika menanam sawit. Umumnya, mereka hanya memiliki lahan sekitar 3 hektare. “Makanya, orang Malaysia sekarang ganti menanam karet. Kalau mau menanam sawit, mereka ke Indonesia. Kalau habis kontrak mereka pindah lokasi atau pulang ke negerinya. Tanah kitalah yang rusak,” katanya.

      Karet merupakan tanaman yang mampu menyerap dan menyimpan air dalam tanah, sedangkan sawit “menguruskan” tanah. Sawit menyebabkan penguapan air tinggi. Hal ini terjadi di Papua. Transmigran di Papua pernah mengeluhkan sungai-sungai mereka menjadi kering setelah ada lahan sawit.

      “Kalau ada sawit di dekat sungai atau bendungan, hati-hati karena sungai dan bendungan bisa kering,” katanya.

      Tanaman karet berdaun licin sehingga penguapan tidak terlalu tinggi. Dari segi ekonomi, karet menguntungkan masyarakat karena produknya bisa disimpan dalam waktu lama, sampai setahun. Buah sawit hanya tahan disimpan dua sampai tiga hari.

      “Seandainya ada sabotase luar negeri terhadap produk kita, produk karet akan bisa tahan walaupun kita simpan setahun. Tapi, kalau buah sawit, disimpan tiga hari saja bakal busuk. Nilai ekonominya akan langsung turun,” ia memaparkan.

      Hilangnya Kekerabatan

      Dia menambahkan, untuk kawasan Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), ia mengimbau The Nature Conservancy (TNC) lebih mengarahkan masyarakat memilih menanam karet dan pohon buah-buahan ketimbang sawit. Menurutnya, masyarakat Dayak yang terbiasa berladang berpindah sebaiknya tidak hanya diajari menanam dengan pola baru, tetapi harus mendapat pembinaan mengenai jenis pohon yang sebaiknya mereka tanam.

      “Kita harus bekerja sama dengan Departemen Pertanian supaya masyarakat bisa menanam tanaman keras yang bermanfaat, misalnya karet, pohon buah-buahan, dan sayuran untuk kebutuhan sehari-hari,” ia menegaskan.

      Kerugian akibat keberadaan sawit dirasakan warga Merapun, Berau, Kaltim. Soleman, seorang guru asal daerah ini mengatakan, sejak hutan di daerahnya dijadikan lahan sawit, banyak kerugian yang dirasakan warga kampung halamannya.

      “Sekarang kami sulit mendapatkan tanaman obat yang dulu biasa kami temukan di hutan. Setelah jadi lahan sawit, kekerabatan di daerah kami juga berkurang. Kerja bakti dan gotong-royong yang dulu menjadi kebiasaan kami, sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya kepada SH di Merabu, Rabu (4/12).

      Faisal Kairupan, Collaborative Forest Management Specialist TNC menjelaskan, kasus lahan sawit di Merapun tidak termasuk dalam ranah kerja TNC karena awalnya tidak ada program lembaganya di situ. Secara kebijakan, TNC hanya bisa memberikan solusi secara kelembagaan.

      “Kami hanya di Segah, Kelay, dan Lesan. Merapun memang satu lanskap dengan kami, tapi lahan sawit Merapun sudah dibuka sebelum TNC masuk. Saat ini, dari segi ekologis yang kami lihat di situ adalah lahan karet yang masih bisa diselamatkan,” katanya, Kamis pekan lalu.

      Integrated Forest Management (IFM) Manager TNC, Bambang Wahyudi menambahkan, lembaganya sedang menggarap development by design (DBD) untuk mencari penyelesaian kasus seperti di Merapun. Program ini fokus memberikan pertimbangan-pertimbangan pada pemerintah agar membuat analisis sebelum pembukaan lahan, misalnya kalau ada perubahan rencana tata ruang, seperti dari lahan hutan ke nonhutan, sawit, atau tambang.

      “Kami memberikan pertimbangan. Kita harus tahu apa saja risiko kalau mau membuka lahan. Program itu sedang kami garap. Cuma untuk lokasi-lokasi APL yang sudah terlanjur jadi sawit, ya itu memang dilematis bagi kami,” tutur Bambang di Kantor TNC Berau, Kamis.