Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

20369PELABUHAN BEBAS SABANG YANG TERPASUNG

Expand Messages
  • Acheh Watch
    Aug 15, 2010

      WN: Ureuëng2 lagèë lôn 1000 x go leubèh got maté nibak didjadjah lé djawa !


      Tgk Hasan di Tiro Cs
      di Glé Atjèh, 1976

      "Udép geutanjoë hana juëm
      meusaboh aneukmanok meunjo hana tapeutheun peuë njang ka geukeubah lé éndatu. Udép sibagoë lamiët dan djadjahan gob njan hana juëm meu-sikeuëh ! Meunjo tateupuë(peuë) arti keumuliaan!
      Tgk Hasan di Tiro

       


      Almarhum Sjahid Dr. Muchtar J. A. Hasbi:
      Dr. Mokhtar nakeuh saboh tjeunto, symbol nibak sidroë Sardjana, Intellektual Atjèh njang geungui nan, 'eleumèë, pikéran, hareuta, seureuta deungon darah dan djawongneuh bak buët bila bangsa Atjèh .Sampoë sjahidneuh. Ka trôih lumpoë droëneuhnjan. Ka trôih tjita-tjita droëneuhnjan. Inna lillahi wa inna ilaih radji'un.



      Sjahid Dr. Zubir Mahmud. "Bahthatpih umu-geuh barô 28 thôn, Dr. Zubir nakeuh sidroë Meuntroë dan sidroë Gubernur njang paléng tjarong dan meuhasé di Wilayah Peureulak" Tgk Hasan di Tiro

       


      "People who call themselves Indonesians are having an identity crisis." Syahid Tgk Abdullah Syafie





      Panglima Operasi Gerakan Aceh Merdeka Wil Peureulak Tgk Ishak Daud:
      "Hakikat nibak OTONOMI hana laén nibak tapeusah droë teutap djeuët keu aneuk djadjahan gob"

       

      Pelabuhan Bebas Sabang Yang Terpasung




      Pelabuhan Bebas Sabang

      "Kelemahan dan kelalaian Pemerintah Daerah Acheh sekarang tidak lain karena permainan dan skenario indonesia yang memang sudah diatur sedemikian rupa. Untuk memajukan perekonomian daerah sendiri dengan biaya sendiri masih juga harus mengemis minta izin ke Jakarta. Itulah salah satu contoh kebijakan indonesia yang sangat rancu, padahal katanya hak-hak tersebut adalah milik Pemerintah Daerah Acheh
      "

      Oleh: Jaffaniel Alamsyah

       

      Hari demi hari kebohongan kolonial RI terhadap rakyat Acheh semakin terang dan terus bertambah. Sikap yang tidak jujur dalam menjalankan apa yang diharapkan rakyat sebagaimana yang sudah mereka janjikan sebelumnya, adalah suatu kenyataan. Tapi masalahnya, kepekaan mereka yang mengaku sebagai pemimpin Acheh juga sangat kurang, bahkan mau diperbodoh terus oleh Jakarta.

      Kelemahan dan kelalaian Pemerintah Daerah Acheh sekarang tidak lain karena permainan dan skenario indonesia yang memang sudah diatur sedemikian rupa. Padahal kita tahu hal yang paling mendesak untuk memajukan roda perekonomian Acheh sekarang, yang salah satunya yaitu dengan menghidupkan kembali pelabuhan bebas, supaya bisa terlepas dari ketergantungan kepada provinsi Sumatera Utara, yang hanya memanfaatkan keburukan sistem manajemen pemerintah Acheh selama ini. Bagaimna tidak, hampir 100 persen barang yang masuk ke Acheh datang melalui bahkan dari provinsi tersebut. Begitu juga seluruh barang mentah dari Acheh mau tak mau harus di-eksport melalui provinsi itu dengan menggunakan segala fasiliti milik mereka. Sudah tentu pajak dan retribusi masuk ke pemerintah setempat.

      Kita mundur ke belakang. Saat pelabuhan bebas Sabang coba untuk dihidupkan kembali beberapa tahun lalu, ada beberapa provinsi lain di indonesia yang berteriak atas kebijakan itu, terutama Sumatera Utara. Sebagai contoh Ketika mobil import bekas dari Singapore masuk ke pelabuhan bebas sabang.

      Ketika gula pasir masuk melalui pelabuhan di ujung Acheh tersebut, saat itu kita lihat roda perekonomian sudah mulai bergerak. Namun seiring dengan itu, banyak pula para pedagang dari Medan yang dilanda ketakutan yang kesehariannya sangat banyak meraup keuntungan dari rakyat Acheh. Bagaimana tidak, sebelumnya Acheh adalah pasar yang sangat baik buat mereka. Pada saat itu mereka merancang satu skenario bekerjasama dengan apparatus pemerintah setempat untuk menghentikan import gula lewat pelabuhan Sabang.

       

      Hingga kini Badan Pelaksana Kawasan Sabang (BPKS) dan Dublin Port Company belum dapat membuka Pelabuhan Bebas Sabang sebagaimana seharusnya. Kondisi itu terjadi karena sejak setahun lalu sampai kini, penyerahan aset pelabuhan dari PT Pelindo ke BPKS belum dilakukan. Demikian, antara lain, dikatakan Kepala BPKS, Teuku Syaiful Achmad beberapa waktu lalu. Menurutnya, surat untuk penyerahan asset dari Pelindo sebenarnya sudah keluar. Namun, secara resmi belum dilakukan pemerintah pusat indonesia.

       

      Hal itu tidak masuk akal sama sekali, untuk memajukan perekonomian daerah sendiri dengan biaya sendiri masih juga harus mengemis minta izin ke Jakarta. Itulah salah satu contoh kebijakan indonesia yang sangat rancu, padahal katanya hak-hak tersebut adalah milik Pemerintah Daerah Acheh.

      Jaffaniel Alamsyah


       =============================

      Menanggapi Hasil Temuan Migas Raksasa
      di Nanggroe Acheh


       

       


      Temuan Migas Raksasa di Nanggroe Acheh

      “ Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama lembaga riset geologi dan kelautan Jerman (BGR) menemukan sumber daya minyak dan gas berskala raksasa di timur laut Pulau Simeulue, Aceh. Potensi hidrokarbon itu ditaksir mencapai 50 miliar barel. Lebih besar dari yang terdapat di Banyu Urip, Jawa Timur, yang hanya 450 juta barel.
      Jika dibandingkan dengan negara negara lain, penemuan ini termasuk kategori kakap. Arab Saudi, misalnya, cadangan terbuktinya 264,21 miliar barel, sehingga bisa dieksplorasi selama 250 tahun. "
      .
      Jaffaniel Alamsyah
      Sepertinya keadaan propinsi Acheh semakin hari semakain rumit. Kekangan R.I terhadap propinsi Acheh semakin kuat. Indonesia semakin yakin dan pasti dengan segala daya upaya Acheh harus mereka pertahankan agar tetap berada di dalam negara kesatuan republik Indonesia. Salah satu alasannya di samping letak propinsi Acheh yang sangat srategis, juga hasil alamnya yang sangat menjanji kan. Bagaimana tidak, Sebagaimana yang dinyatakan sebuah koran terbitan Acheh pada Selasa (12/2/2008) di mana “Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama lembaga riset geologi dan kelautan Jerman (BGR) menemukan sumber daya minyak dan gas berskala raksasa di timur laut Pulau Simeulue, Aceh. Potensi hidrokarbon itu ditaksir mencapai 50 miliar barel. Lebih besar dari yang terdapat di Banyu Urip, Jawa Timur, yang hanya 450 juta barel. Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi BPPT Yusuf Surahman menjelaskan, potensi itu berdasarkan perhitungan dengan porositi 15 persen. Porositi merupakan kemungkinan batuan menyimpan cairan (termasuk minyak) di dalam gugusannya”. Jika dibandingkan dengan negara negara lain, penemuan ini termasuk kategori kakap. Arab Saudi, misalnya, cadangan terbuktinya 264,21 miliar barel, sehingga bisa dieksplorasi selama 250 tahun. Sedangkan potensi migas di Banyu Urip, Jawa Timur, sebesar 450 juta barel. Adapun lapangan migas yang dapat dikategorikan sebagai giant field adalah apabila volume cadangan terhitung mencapai 500 juta barel. Menanggapi penemuan Migas raksasa yang ditemukan di Acheh, semakin berat tantangan yang harus sama-sama kita hadapi yang artinya semakin berat tugas kita untuk memisahkan diri dari kesatuan republik indonesia. Di Acheh sendiri yang suasana politik semakin tak menentu. Mereka para mantan GAM semakin merajalela menerima suapan R.I tanpa memperdulikan akibatnya. Kecemburuan sosial merupakan salah satu penyakit yang menjadi rahasia umum dalam keseharian di Acheh akhir-akhir ini. Ketidakmampuan pemerintah mengontrol harga bahan pokok mengakibatkan suatu krisis yang semakin tajam di kalangan masyarakat pada umumnya. Berdasarkan paparan di atas, ruang apa kiranya yang bisa kita ambil untuk meng-eksis-kan diri kita. Kita harus berbuat sesuatu. Keharusan menjawab tantangan ini adalah urgent sifatnya. Bagaimana kita dapat mengambil langkah untuk memacu perjuangan dalam membebaskan diri dengan lebih cepat dan bertenaga, baik itu dengan kekuatan yang kita miliki di luar ataupun di dalam Acheh. Sebab keinginan ini bukan saja berangkat dari keinginan kita untuk memperoleh hak kelola dari hasil bumi yang kita miliki untuk kepentingan dan kesejahteraan bangsa kita sendiri, tetapi yang perlu juga perlu kita hindari adalah kemungkinan rakyat kita akan lebih menderita dan lebih terjajah apabila kolonial indonesia menemukan sumber daya alam baru untuk mereka kuras.
      ____________________
       

      Peusan Kumite Ateuëh Ulang Thôn Atjèh Meurdéhka Njang keu-31
      4 Desember 1976 - 4 Desember 2007
       

      Gurèë A. Rahman
      Video bak YouTube (Part-5)
      Video bak YouTube (Part-6)

      Video Part-7: Doa Seulamat

      Uléh: Tgk Ramli A. Baka
      r

      "Untuk tapeugisa keulai marwah bansa dan rakjat Atjèh njang ka leubèh lhèë plôh thôn djigilho-gilho uléh RI, dan djinoë djitamah tjatjah lom uléh MA’OB Helsinki, njang djibantu uléh padum-padum droë biëk Atjèh (lhoh) njang ka keumah djingui lé musôh, maka tjit saboh treuk sagai tjara njang mantong teuhah keu geutanjoë uroë njoë nakeuh ta gisa keulai bak asai: gisa bak Proklamasi 1976, mumat bak sumpah Atjèh Meurdéhka dan sampôh beugléh kumeun-kumeun MA’OB Helsinki njang tiëp uroë dan djeuëb minet djisuleuëng dalam babah bansa Atjèh uléh RI dan kawôm lhoh di Atjèh, meulalui mass-media dan surat haba di nanggroë njang djeuët keu tjurong peundjadjah Indonesia"
      Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
       
      Phôn-phôn that saleuëm seudjahtra dan dôá seulamat dari Kumite keu bandum bansa Atjèh njang kamoë gaséh, pat mantong ateuëh rhuëng dônja njoë, mudah2an beuna sabé dalam lindôngaan Po Teuh Allah. Amin…
       
      Uroë njoë nakeuh uroë 4 Desember 2007, geunap 31 thôn Atjèh Meurdéhka ka neupeunjata keulai ubak dônja uléh Tengku Hasan di Tiro di wilajah meudèëlat Putjôk Gunong Tjokkan, Mamprèë. Lhèë plôh sa thôn geutanjoë bansa Atjèh ka tapeunjata droë-teuh tameudong keudroë, hana lé ta seutot peurintah dari Djakareuta dan bibeuëh nibak bandum hubôngan politék, seudjarah, militè dan ekonomi deungon bansa pura-pura, nakeuh peundjadjah Indonesia. Dan geutanjoë ka tameusumpah tjit ateuëh nan Allah dan ateuëh nan para sjuhada njang ka leubèh awai neupeulikôt geutanjoë bak neupeutheun nanggroë dan bandèra pusaka, bahwa geutanjoë han ta tém lé djidjadjah, djihina dan djipeugot saban sakri uléh bansa luwa njang teuka dari blahdéh laôt.
       
      Kareuna peunutôh njang ka ta tjok njan, maka seulama 31 thôn njoë meuplôh-plôh ribèë bansa geutanjoë ka djipoh mate uléh sidadu Indonesia: meuribèë-ribèë manjèt peudjuang Atjèh Meurdéhka hana mupat djeurat; meuribèë aneuk jatim hana soë hiroë dan meuribèë ureuëng binoë seureuta aneuk2 dara Atjèh ka djipeulaku uléh peundjadjah biadab Indonesia kri njang galak djih. Kurubeuën2 njang dumnan rajek njang ka geubri uléh bansa Atjèh njang tudjuan djih nakeuh untôk peugisa keulai kedèëlatan Neugara Atjèh dan untôk tubôih keulai jum meurdéhka njang ka gadoh njan. Uroënjoë ka djisampôh bandum uléh peurdjandjian “bangai” MoU deungon peurupaganda self-government- djih.
       
      Bansa Atjèh njang kamoë peumulia!
       
      Meuhubông deungon ulang thôn Atjèh Meurdéhka njang keu-31 njoë, Kumite meulakèë bak bandum bansa Atjèh, pat mantong ateuëh rhuëng dônja, supaja saban-saban ta kalon, ta tilék keulai dan ta peunjum-peunjum deungon ban peuët pantja indra teuh teuntang peuë seubutôi djih makna ”dame” njang djitèkèn di Helsinki bak uroë neuhaih 15 Agustus, 2005, keu bansa Atjèh?
       
      Deungon lahé peurdjandjian atawa MA’OB Helsinki, maka akibat djih handjeuët han, antara laén:
       
      1. Bansa Atjèh ka gadoh Nanggroë Seunambông (Successor State) njang meuseubôt dalam surat Peunjata Atjèh Meurdéhka njang neupeunjata uléh Wali Neugara Tengku Hasan Muhammad di Tiro di Gunong Tjokkan bak uroë 4 Desember 1976 – 31 thôn njang ka ulikôt
       
      2. Ubéna keudjeuhatan dan keubiadaban sidadu Indonesia ateuëh rakjat Atjèh seulama lhèë plôh thôn njoë, teumasôk meuplôh ribèë kurubeuën masa DOM, handjeuët soë ungkét-ungké lé dan bandum ka djimensoh deungon meusadja that uléh peurundéng2 di Helsinki. Seudangkan bansa dan rakjat Atjèh njang ka meugulé maté sjahid bak peutheun nanggroë dan bandéra pusaka éndatu ka djianggap lagèë ôn geurusông, hana makna sapeuë-pih keu awaknjan.
       
      3. Bansa Atjèh njang ka meusumpah akan geubri ”djawong dan hareuta” geuh untôk tubôih keumeurdéhkan ka meulanggéh bandum. Meumakna bansa Atjèh njang teurimong MoU njan deungon trang-trang ka geukhianat keu sumpah dan Proklamasi Atjèh Meurdéhka 1976, sibagoë teumpat meudong dan sibagoë teumpat rudju’k peurdjuangan sutji keumeurdéhkaan Atjèh.
       
      4. Hak bansa Atjèh untôk djak tuntut meurdéhka atawa referendum ka djipeugadoh.
      Djadi, bansa Atjèh njang mantong seutia keu peurdjuangan sutji éndatu, deungon padum-padum boh tjunto njang teuseubôt di ateuëh, mudah2an ka leubèh trang lom keu geutanjoë bandum bahwa peurdjandjian atawa MA’OB Helsinki njan nakeuh saboh buët teumipèë njang paléng trang dan paléng djeuheut dalam abad njoë, njang ka djipeugot ateuëh saboh Geurakan Keumeurdéhkaan uléh saboh Neugara peundjadjah.
       
      Bansa Atjèh njang dumnan kha dalam seudjarah bak peutheun nanggroë dan agama geuh, keuneulheuëh djih keumah djitipèë deungon tjara njang paléng hina, nakeuh deungon tjara djipeudijeuëng- dijeuëng dan disuleung Dollar Amerika (bantuan tsunami), djimeudjandji ”self-government” (nan laén nibak otonomi) dan djipeutaba pangkat njang “raja-raja” lagèëna (gubernur, bupati dan anggèëta dewan), bah that njang atô dan peunteuntèë dumpeuë peukara teutap di Djawakarta. Wali Nanggroë geutanjoë ka lheuëh geukheun njang bahwa tjamat, bupati ngon gubernur njan nakeuh nan laén dari Tjokan, Guntjo, Suntjo njang djingui uléh Djeupang, dan ureuëng2 njang teurimong pangkatnjan bandum hana laén nibak bansa Atjèh njang ka djeuët keu “lhoh”, atawa pengkhianat. Peuë keuh ureuëng2 njang peugah droe geuseutot peurdjuangan Atjèh Meurdéhka ka geu peutuwo haba Wali Nanggroë? Atawa ureuëng2 njan ka buta ngon pèng dan pangkat?
       
      Pakriban njan ék teudjadi, dan pakriban na biëk Atjèh atawa siteungoh Atjèh djitém khianat dan djitém tuka meuplôh-plôh ribèë kurubeuën konflik dan darah sjuhada deungon ajeuëm siat njan (pèng dan pangkat)? Gohlom peurnah teudjadi dalam seudjarah keumeurdéhkaan modèrèn njoë ureuëng djitém peupré meunan-meunan mantong dumnan rajek peulanggaran HAM, keutjuali di Atjèh.
       
      Bansa Atjèh njang that teugaséh dan teusajang…
       
      Untuk tapeugisa keulai marwah bansa dan rakjat Atjèh njang ka leubèh lhèë plôh thôn djigilho-gilho uléh RI, dan djinoë djitamah tjatjah lom uléh MA’OB Helsinki, njang djibantu uléh padum-padum droë biëk Atjèh (lhoh) njang ka keumah djingui lé musôh, maka tjit saboh treuk sagai tjara njang mantong teuhah keu geutanjoë uroë njoë nakeuh ta gisa keulai bak asai: gisa bak Proklamasi 1976, mumat bak sumpah Atjèh Meurdéhka dan sampôh beugléh kumeun-kumeun MA’OB Helsinki njang tiëp uroë dan djeuëb minet djisuleuëng dalam babah bansa Atjèh uléh RI dan kawôm lhoh di Atjèh, meulalui mass-media dan surat haba di nanggroë njang djeuët keu tjurong peundjadjah Indonesia.
       
      Geutanjoë bansa Atjèh njang mantong seutia keu peurdjuangan éndatu, njang mantong djilé darah Atjèh dalam tubôh teuh, njang mantong djeuët tameututô deungon basa watèë geupeulahé teuh, dan mantong tapeujum darah sjuhada njang ka djilé rata kruëng Atjèh, bandum karônja Allah dan pusaka éndatu njoë wadjéb ta peutheun dan tapeulahra deungon peuë mantong resiko. Geutanjoë musti saban-saban ta tjok tanggông djaweuëb bak ta hadapi malapeutaka Helsinki, njang ka djidjak peuhaleuë peundjadjah Indonesia di bumoë Atjèh, ka djidjak sampôh bandum djeudjak identiti dan tapak éndatu droë teuh.
       
      Uléh sababnjan, Kumite Peukeumah Atjeh Merdehka Demokratik, sibagoë alat atawa forum untôk peurapat seuëh dan peusaboh keulai bangsa Atjèh njang ka djipeutjré-bré uléh MA’OB Helsinki, teungoh meubuët ladju untôk peu-udjud saboh tudjuan dan tjita-tjita sutji bansa Atjèh bak peubibeuëh droë dan peumeurdéhka nanggroë dari peundjadjah Indonesia. Insja Allah deungon peukara MoU Helsinki ka geu pham uléh bansa Atjèh, maka neuduëk peurdjuangan geutanjoë untuk masa ukeuë akan leubèh teupat lom, beu teuglong lagèë bak watèë geu peu lahé peurdjuangan njoë 31 thôn u likôt. Kru seumangat ukeuë bansa Atjèh njang gagah peurkasa, deungon beureukat rahmat Allah, dôa para sjuhada, asoë proklamasi 4 Desember 1976 akan djeuët keu peutunjok bagi geutanjoë untôk ta peusampoë tjita-tjita aneuk bansa, njang hana laén tudjuan maléngkan untôk MERDÉHKA.
       
      Stockholm, 4 Desember 2007

      Sekretariat Kumite
      =========================
      Kumite Peukeumah Atjèh Meurdéhka Demokratik (Komite Persiapan Aceh Merdeka Demokratik/Preparatory Committee of the Free Acheh Democratic) E-mail: committee@freeacheh .info www.freeacheh. info



      Tgk Hasan di Tiro: Awaknjan mandum ka pungo ! Kadjitém seumah dan teurimong peurintah bak djawa !
      Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng2 lagèë  lôn siribèë go leubèh got maté nibak didjadjah lé djawa !http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ
       Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) !
      http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related
      Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter !
      http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related

      Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ?
      http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8

      Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh (Pengkhianat)!
      http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related
      Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!"
      http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related

      MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
      MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
      http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related

      DRAMA SEUDJARAH ATJÈH. Act-5. Scene-3. Peumandangan lam kèm Tjut Njak Dien (1)
       
      http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."



    • Show all 27 messages in this topic