Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

20341Misteri ‘Tas Hitam’ Tengku Hasan Tiro di Apartemen Alby Blok 11 Norsborg, Stockholm, S wedia.

Expand Messages
  • Acheh Watch
    Aug 4 1:34 PM
      Wed, Aug 4th 2010, 08:56

      Misteri ‘Tas Hitam’ Wali

      MENGULAS sosok yang satu ini, kita seperti tak kehabisan kata mengulitinya. Fenomena yang terekam dari kehidupannya bak selimut di puncak gunung Seulawah. Membahas ide-idenya juga tak cukup satu meja, apalagi kalau cuma sekadar meja bundar. Begitulah dia hidup dalam imaji rakyat Aceh. Meski jasadnya sudah tiada, tapi ‘nafas’nya seakan masih terasa.

      Begitulah Teungku Hasan Muhammad di Tiro hidup. Siapa tokoh ini, saya pikir tak usah lagi kita ulas lebih detil. Apalagi tokoh yang disapa Wali itu sudah 62 hari pergi. Bicara figur militan itu, saya yakin semua orang sudah memahami, kecuali kalau ada yang tak mau tahu. Yang paling diketahui banyak orang sudah pasti, dia tokoh pemberontak, penggagas sebuah gerakan perlawanan dan ungkapan lain. Akan tetapi, di balik semua itu, nyaris tak banyak orang ‘mengenal’ wataknya yang keras, disiplin, telaten, dan sarat wibawa.

      Semua pujian, saya yakin selalu mengalir ke sosok pria kelahiran Tanjong Bungong, 25 September 1925 itu. Sebagai penulis, Hasan Tiro adalah contoh yang patut ditiru. Catatannya terdata rapi, gagasan dan idenya menjulang awan. Ketika orang lain baru berpikir, dia malah sudah berbuat, secara tersirat mungkin ini bisa kita lihat dari karyanya yang berjudul ‘Demokrasi Untuk Indonesia’.

      Dus, kekaguman pengikutnya, bukan pula pada unsur karena Hasan terlahir dari trah Tiro; klan pejuang yang membuat penjajah merinding. Tapi ada sisi lain-mungkin--yang abai dipahami, pengikut, simpatisan dan orang-orang dekat. Itulah yang menambah kemisterian sampai menembus batas imaji.

      Hasan Tiro adalah sosok yang sangat rapi dalam pendokumentasian. Bayangkan saja, ketika masih bergerilya pun dia mampu membuat catatan berupa stensilan, meski belum selesai. Namanya, “The Price of Freedom; The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro”. Buku setebal 238 halaman terbit di London pada 1981.

      Beranjak dari situ bukan mustahil, sejak dia cabut dari Aceh pada 29 Maret 1979, cukup banyak tulisan dan arsip-arsip yang disimpan rapi. Mungkin saja sudah ada yang hendak dia bukukan, tapi belum sampai, sama seperti cita-cita yang membentur damai. Atau bahkan ada catatan hariannya yang lain, tapi di mana? Sayangnya, sampai ayah Karim Tiro itu mengembuskan nafas terakhir, kita tidak tahu bagaimana nasib kertas-kertas usang itu.  

      Berangkat dari rasa ingin tahu yang menyergap, tak ada salahnya kita juga melacak posisi dokumen yang dimaksud, dengan harapan ini bagian bukti sejarah tokoh besar Aceh abad 20. Sebab kita tahu, Hasan Tiro itu pelaku sejarah dan mungkin saja bisa kita sebut pencatat sejarah; minimal sejarah perjuangannya yang belum kelar.

      Belum tersingkap
      Kekuatan tabir misteri itu, kian utuh setelah kepergiannya. Sebab banyak tanya belum terungkap. Di antaranya, kenapa orang bisa takzim di depannya, meski sebelum itu sudah pasang aksi sedikit wibawa. Kenapa namanya agung dan disanjung ribuan pengikut. Atau karena aura yang melingkupi tokoh legendaris ini amat kuat. Sayang, belum satu pun tersingkap.

      Sama seperti belum tersibaknya, apa saja isi ‘tas hitam’ yang acap ditunjukkan Wali pada setiap tamu yang bertandang ke kamar 0075 Apartemen Alby Blok 11 Norsborg, Stockholm, Swedia. Kata sejumlah penulis yang sudah bersua langsung di kediamannya, Wali menyimpan dengan rapi setiap dokumen tentang Aceh, termasuk kliping koran.  

      Sejumlah sumber lain ikut berkisah, Wali juga masih menyimpan dengan aman sebuah mesin ketik tua, foto kakek dan foto cantik sang istri saat muda serta gambar anak tunggal mereka. Tentu semua dokumen-dokumen itu masih tersimpan di dinding kamar dan almari rumah pria necis yang selalu berdasi dengan jas rapi.

      Salah satu yang patut dicermati adalah, isi ‘tas hitam’ Wali. Boleh jadi, ‘tas hitam’ ini akan menyibak misteri siapa Wali berikutnya yang direkomendir Hasan Tiro. Bila pun tidak, bisa pula bahwa hanya dirinya Wali terakhir. Setelah dimangkat--kecuali keturunannya--maka yang lain belum berhak. Ini juga belum ada peunutoh. Dan banyak arsip-arsip lain soal Aceh yang sedikitnya bisa memberi pencerahan kepada masyarakat.

      Belajar dari kasus lampau juga, ketika S.M. Kartosuwiryo yang berhasrat mendirikan Negara Islam Indonesia di Jawa Barat. Saat Kartosuwiryo mangkat, muncul kabar, yang mengklaim dirinyalah pemegang mandat untuk melanjutkan perjuangannya. Sama seperti halnya Hasan tiro, apakah tongkat estafet gerakan perjuangan yang dicetusnya sudah ada ‘diwariskan’? Kepada siapa, Karim Tiro atau yang lain? Ini belum terjawab. Lalu, betapa urgensinya “black bag” itu? Saya pikir ini sama mahalnya dengan “black box” milik pesawat terbang. Untuk mendapat jawaban kenapa `burung besi’ naas, cuma dengan menemukan kotak hitam itu, baru misteri tersingkap. Sebenarnya tak jauh beda pula dengan “black bag Wali.

      Namanya memang hitam, tapi sebenarnya kotak yang dimaksud itu berwarna jingga atau oranye. Begitu juga dengan ‘tas hitam’ Wali, warnanya tidak hitam, tapi coklat tua. Dan ada seperti tas komputer jinjing. Penting “black bag” itu dibuka guna menjawab kemisteriusan yang melilit selama ini. Salah satunya, kenapa tidak sembarang orang bisa menjumpainya? Termasuk kabar kematiannya, bagaimana dia menanggapi serta tanggapan dia terhadap tentara-tentaranya yang terus berperang sebelum damai datang. Banyak yang yakin “black bag” itu menyimpan banyak catatan peristiwa perjalanan hidupnya. Termasuk yang kita terka-terka tadi.

      Pada sisi lain, pendukung dan simpatisan fanatiknya pun, tidak terus dihinggapi rasa itu dan ini “Peunutoh” Wali. Jika yang bersangkutan masih hidup, tentu “peunutoh” masih berlaku. Tapi ketika dia sudah mangkat, tentu akan akan ada yang namanya “wasiet” Wali. Dari mana orang tahu bahwa itu “peunutoh” atau “wasiet” wali? Sekali lagi sulit menjawabnya. Tapi dengan membuka `tas hitam’ dengan segala makna, paling tidak kita bisa mencerna mana saja pusakanya. Memang, membuka `tas hitam’ tak segampang membaca kotak hitam.

      Kendati, isi yang kita lihat dan terima tak sesuai harapan, itu bukan problem. Yang penting, informasinya berguna bagi Aceh dan dunia. Seperti bergunanya cinta di mata bening Dora bagi Hasan Tiro yang fotonya menghias dinding rumah. Dengan cintanya pula, Hasan Tiro menduniakan Aceh. Pun begitu, kita berharap isi ‘tas hitam’ tersebut bisa pula terdokumentai dengan rapi. Seperti kompilasi tulisan soal Wali dalam buku “Hasan Tiro, The Unfinished Story of Aceh” yang diluncurkan Minggu 1 Agustus lalu. Dalam diskusi pada peluncuran tersebut juga mencuat soal ‘tas hitam’ Wali.

      Kita tunggu opisode Wali yang lain. Syukur, jika topiknya isi ‘tas hitam’ serta pemikiran yang belum diketahui khalayak dari tokoh yang dikultuskan pengikutnya. Dengan harapan semoga ‘tas hitam’ itu membuka tabir misteri yang selama ini sedikit sumir.

      * Penulis adalah jurnalis di Banda Aceh.

      Tgk Hasan di Tiro: Awaknjan mandum ka pungo ! Kadjitém seumah dan teurimong peurintah bak djawa !
      Tengku Hasan di Tiro: "Ureuëng2 lagèë  lôn siribèë go leubèh got maté nibak didjadjah lé djawa !http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ
       Tgk Hasan di Tiro: Lumo djawa (jawa) dum di Atjèh (Aceh) !
      http://www.youtube.com/watch?v=H7wcl7m8xp8&feature=related
      Tgk Hasan di Tiro: Ureuëng Atjèh Kahabéh Gadoh Karakter !
      http://www.youtube.com/watch?v=H8mbiUwHpIY&feature=related

      Tgk Hasan di Tiro: Peuë (Puë) peunjakét Bangsa Atjèh uroë njoë ?
      http://www.youtube.com/watch?v=sbJsJtdDFE8

      Tgk Hasan di Tiro: Gubernur, Bupati, Camat dst nakeuh geupeunan Lhoh (Pengkhianat)!
      http://www.youtube.com/watch?v=oqJYGoF0SMQ&feature=related
      Tgk Hasan di Tiro: "Ureuëng njang paléng bahaja keu geutajoe nakeuh - djawa keumah djipeugot urg atjèh seutotdjih nibak seutot geutanjoe. Mantong na urg atjèh njang tém djeuët keu kulidjih, keu sidadudjih, keu gubernurdjih, keu bupatidjih, keu tjamatdjih, dll. Mantong na biëk droëteuh njang djak djôk dan peusah nanggroe atjèh keu djawa!"
      http://www.youtube.com/watch?v=Gbjb04wKWow&feature=related

      MoU Helsinki is worse than Special Autonomy !
      MoU Helsinki njan leubèh brôk nibak Otonomi Khusus !
      http://www.youtube.com/watch?v=HXyH-o4Ab84&feature=related

      DRAMA SEUDJARAH ATJÈH. Act-5. Scene-3. Peumandangan lam kèm Tjut Njak Dien (1)
       
      http://www.freeacheh.info/B/ "Sesungguhnya jika sebagian di antara kita yang dewasa ini bermegah dengan kedudukan dan kekayaan yang mereka dapatkan dari menghambakan diri kepada penjajah, adalah pribadi-pribadi yang meracuni dan melecehkan ideologi Acheh Merdeka yang beliau lahirkan, dan kepada mereka masa kehancuran akan datang yang membuat mereka lebih nista daripada kaum penjajah."



    • Show all 27 messages in this topic