Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

144AWASI PENGKHIANAT2 BANGSA SUMATRA !

Expand Messages
  • Sumatra Ku
    Feb 2, 2001
    • 0 Attachment

      SALINAN DARI BUKU "MALA PETAKA DI BUMI SUMATRA"
           OLEH : LUTH ARI LINGE.

      BAHAYA "WALKING LIES"

       

      PERANG urat saraf dan perang melawan penjajahan budaya mesti dilancarkan mulai detik ini juga melalui mass media. Perang yang kita lancarkan ini adalah perang pena. 'Pena lebih tajam daripada pedang'. Perang ini wajib kita lancarkan mengigat penjajah Indonesia-Jawa tidak henti-hentinya mempropagandakan melalui media massa-nya di dalam dan di luar negeri. Penjajah ini sanggup membayar mahal penulis asing sebagai corongnya di luar negeri, malah Radio Internasional SABC, Philipina-pun dipergunakan sebagai alat untuk menghancurkan perjuanggan kemerdekaan kita. (Pada jam 6.30 petang, radio khas menyiarkan beberapa acara dalam bahasa Acheh sebagai propaganda regime Indonesia-Jawa). Semua ini mereka lakukan semata-mata untuk membenarkan segala tindakan penjajah Indonesia-Jawa, meski pun sudah terang-terangan regime Jawa ini melakukan kejahatan yang kejam, biadab dan berbuat zalim terhadap bangsa Acheh, Papua Barat dan Timur Timur.

            William Liddle, Dennis Lombard dan Anthony Ried adalah di antara penulis asing yang kerap bersikap �double standard` dalam menulis sejarah Acheh-Sumatra. Sementara itu Nurcholis Majid, Rusdi Hamka, Dr Syahrir, Dr Nadaruddin Syamsuddin, Fachri Ali, Zakaria Pase, Ali Hasyimi, Umar Senoadji, Hasan Basri (MUI), Abdurrahman Wahid (NU), Anton Timur Jailani (PII), Abdul Gafur (HMI), Susanto Pujomarrtono, Nur EI-Ibrahimi, Immanuel Subangun dan J.B Mangunwijaya adalah diantara �pelacur ilmu dan politikus murahan`dalam negeri. Mereka ini telah dijejali otak sadarnya oleh regime Jawa sehingga dalam tulisan mereka selalu melaungkan:"Nasionalisme Indonesia", "Kesadaran Nasional", "Integrasi Bangsa", "Stabilitas Nasional", "wawasan Nusantara" dan "Kebudayaan Indonesia".

            Penjajah Indonesia-Jawa telah berhasil merekayasa pikirannya melalui pendidikan di Universitas yang ada di Indonesia dan mulailah mereka berkerja sebagai orang yang menurut Jean Paul Sartre adalah "WALKING LIES", yaitu: manusia yang dididik dan diasuh oleh sipenjajah untuk menjadi corong yang menyuarakan kemauan penguasa dengan slogan-slogan yang munafiq dan memuakkan: "Suharto Bapak Pembangunan", "Hidup Indonesia", dan "Aku Pendukungmu" hingga selogan ini melengket di gusi rakyat dan hafal mengucapkannya. Tipe manusia ini umumnya, paling berbahaya dalam suatu bangsa. Sebab mereka dapat mempengaruhi pandangan umum melalui tulisannya di surat-surat khabar seperti: �Kompas`, �Merdeka`, �Berita Buana`, �Media Indonesia`, �Harian Terbit`, �Republika` dan lain-lain di Jakarta dan �Waspada`, �Analisa`, �Sinar Indonesia Baru`, �Singgalang` dan �Serambi Indonesia` di Sumatra. Demikian pula majalah seperti: �Tempo`, �Editor`, �Panji Masyarakat`, �Esekutif` dan �Forum` yang mereka awasi.
            Semua ini harus kita hadapi dengan lantang dan berani dalam tulisan-tulisan di media massa sampai dapat merubah arah pandangan umum, memberi bentuk, gambaran, gaya dan meretas tirai yang terselubung menuju arah padangan baru. Pekerjaan ini perlu menyertakan pikiran dan rasa tanggung-jawab kita meneriakkan : MERDEKA, yang gemanya akan menggegarkan dan mengisi kesetiap ruangan dan waktu.
            Tujuan terakhir penjajah Indonesia-jawa adalah mengekalkan Sumatra sebagai salah satu wilayah jajahannya yang paling penting dan potensial. Sejak tahun 1945, penjajah Indonesia-jawa sudah menyuarakan secara tegas,ketika Sukarno mengatakan:"Revolusi kita belum selesai". Secara politik itu berarti, seluruh Indonesia belum menjadi Jawa (di-Jawa- Kan). Itulah yang telah dan sedang mereka perjuangan habis-habisan. Isyarat pernyataan Sukarno ini segera dipertegas oleh si Radjiman Widijodiningrat, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), dalam sidang KNIP pertama, tahun 1945, Radjiman berucap begini :" Kemerdekaan Indonesia dimaksudkan untuk mewujudkan Kerajaan Majapahit yang ke dua." jelas bukan ???
             Hanya saja Dr.Muhammad Hatta, K.H.Agus salim, Mr. Muhammad Yamin, Sultan Sahrir dan Mr. Teuku M.Hasan ( putera Sumatra ) yang sesat dengan �nasionalisme Indonesia-Jawa`, terperangkap dengan permainan �nasionalist jawa`: Sukarno, Abikusno Tjokrosujoso dan jawa-jawa lain, sehinga turut menanam saham dalam melahirkan kemerdekaan "Indonesia" tahun 1945, tidak sadar kalau yang diperbuatnya, di kemudian hari menjadi malapetaka kepada bangsa Sumatra dan disingkirkan dari arena politik Indonesia-Jawa.

           Sebagai bukti, beberapa tahun kemudian timbul perasaan anti terhadap pemerintah Indonesia yang dipimpin Sukarno-Hatta, dengan munculnya gerakan mendirikan Negara Islam Indonesia ( NII) di jawa barat, di Kalimantan, di Sulawesi, di Acheh dan Gerakan PRRI di Sumatra barat serta gerakan Republik Maluku Selatan ( RMS) dan Sumatra Utara ( Tanah Batak ). Ini berarti naskah proklamasi Indonesia yang menyebut: "kami bangsa indonesia....." adalah tidak mewakili aspirasi moral dan politik daripada bangsa-bangsa yang berada di bawah jajahan Indonesia. Inilah keputusan politik paling tolol yang pernah dialami oleh bangsa-bangsa yang berasal dari luar pulau Jawa. (bersambung)


                                                  REMEMBER IT !

      QUISLING : ONE WHO BETRAYS HIS COUNTRY TO THE ENEMY AND IS THEN GIVEN POLITICAL POWER BY THE COQUERORS.

       


                                                      RENUNGAN !

      QUISLING : SESEORANG YANG MENGKHIANATI KEPENTINGAN NASIONALNYA SENDIRI KEPADA MUSUH SUPAYA KEPADANYA DIBERIKAN PANGKAT DAN KEKUASAAN POLITIK OLEH PENAKLUK ATAU SIPENJAJAH.

       


      DIEDIT KEMBALI OLEH:
      BIRO PENERANGAN ASNLF NORWAY.



      Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.