Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kado Natal !

Expand Messages
  • MANG UCUP
    Menjelang Natal banyak orang yang akan mendapatkan kado, tetapi tidak setiap kado bisa membahagiakan orang yang menerimanya. Walaupun mungkin bungkus dan
    Message 1 of 1 , Nov 29, 2005
    • 0 Attachment
      Menjelang Natal banyak orang yang akan mendapatkan kado, tetapi tidak setiap
      kado bisa membahagiakan orang yang menerimanya. Walaupun mungkin bungkus
      dan paketnya indah sekali, tetapi sayangnya hanya itulah yang pertama kali
      bisa kita lihat, ialah bagian luarnya saja, setelah kita buka baru kita bisa
      mengetahui isinya. Sebagaimana kisah di bawah ini yang terjadi di bulan
      Desember. Beberapa hari sebelum Natal, seorang ibu merasa telah mendapat
      kado yang terindah selama hidupnya. Betapa tidak, ibu tersebut telah
      menerima telegram dari anaknya yang selama ini di duga telah mati di medan
      perang.

      "Huuu..uuura!" Teriakan gembira dari seorang ibu yang menerima
      telegram dari anaknya yang telah bertahun - tahun menghilang,
      apalagi puteranya itu adalah anak satu - satunya.

      Maklumlah anak tersebut ditugaskan pergi ke medan perang di Vietnam empat
      tahun yang lampau, dan sejak tiga tahun yang terakhir, orang tuanya tidak
      pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut, sehingga mereka
      menduga bahwa anaknya gugur di medan perang. Anda bisa membayangkan
      betapa bahagianya perasaan ibu tersebut. Dalam telegram itu tercantum
      bahwa anaknya akan pulang besok.

      Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera
      tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya direncanakan akan diadakan
      pesta khusus untuk menyambut kedatangan puteranya, di mana seluruh anggota
      keluarga maupun rekan - rekan bisnis dari suaminya turut diundang semua.
      Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang cukup terkenal di manca
      negara.

      Siang harinya si ibu menerima telepon dari anaknya yang ternyata telah tiba
      di airport.
      Anak : "Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya ?"
      Ibu: "Oh... sudah tentu, rumah kita cukup besar, dan kamarpun cukup banyak.
      Ajak saja temanmu itu, tidak usah sungkan Nak, bawalah dia kerumah."
      Anak: "Tetapi kawan saya adalah seorang cacat, ia korban perang di
      Vietnam."
      Ibu: "..Oooh tidak jadi masalah. Bolehkah ibu tahu bagian mana yang cacat ?
      " - nada suaranya terdengar agak menurun
      Anak: "Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya Bu!"

      Si ibu dengan nada agak terpaksa, karena tidak ingin mengecewakan anaknya
      berkata: "Asal hanya untuk beberapa hari saja, ibu kira tidak jadi masalah."
      Anak: "..tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama ibu,
      kawan saya itu wajahnya juga rusak, begitu pula dengan kulitnya, karena
      sebagian besar hangus terbakar. Maklumlah pada saat ia mau menolong
      kawannya, ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang
      hancur, melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!"

      Dengan nada kecewa dan kesal ibunya berkata: "Naaa.ak lain kali saja kawanmu
      itu diundang ke rumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel,
      kalau perlu biar ibu yang bayar nanti biaya penginapannya!"
      Anak: ".tetapi ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari
      dia!"
      Ibu: "Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat
      yang ternama, dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun
      orang - orang penting yang berkunjung ke rumah kita, apalagi nanti malam
      kita akan mengadakan perjamuan malam khusus di mana hanya para VIP yang
      diundang ke rumah. Bahkan telah dikonfirmasi bahwa Menteri Perdaganganpun
      akan turut hadir, apa kata mereka nanti apabila mereka melihat tubuh yang
      cacat dan wajah yang rusak ? Bagaimana pandangan umum dan bagaimana
      lingkungan bisa menerima kita nanti ? Apakah tidak akan menurunkan martabat
      kita, bahkan jangan - jangan nanti bisa merusak citra bisnis usaha ayahmu."

      Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya, telepon diputuskan dan ditutup
      begitu saja oleh si Anak. Karena sang Anak telpon dari telepon umum, maka ia
      tidak bisa dihubungi lagi oleh ibunya.

      Beberapa jam kemudian, kedua orang tua dari kedua anak tersebut maupun para
      tamu menunggu hingga jauh malam kedatangan puteranya, tetapi sang Anak
      tidak pulang juga. Ibunya mengira mungkin anaknya tersinggung dan marah
      karena temannya tidak boleh datang berkunjung ke rumah mereka.

      Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit. Mereka
      diminta untuk segera datang ke sana guna mengindentifikasi mayat dari
      orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam yang
      telah kehilangan tangan maupun kedua kakinya, dan wajahnyapun telah rusak
      karena terbakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman
      anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anak kandungnya sendiri
      ! Rupanya karena ingin membela status dan nama baik, akhirnya mereka harus
      kehilangan putera tunggalnya !

      Mungkin pembaca akan mencemoohkan orang tua dari anak tersebut dan
      menilainya kejam, karena mereka hanya mementingkan nama dan status saja.
      Tetapi, bagaimana dengan diri kita sendiri ? Apakah kita lain dari mereka ?

      Apakah Anda masih tetap mau berkawan
      ...dengan anak - anak jalanan ?
      ...dengan orang cacat,
      ...yang bukan karena cacat tubuh saja ?
      ... tetapi cacat mental,
      ...cacat status, cacat nama, atau
      ...cacat latar belakang kehidupannya ?

      Apakah Anda masih tetap mau berkawan dengan orang
      ...yang jatuh miskin ?
      .yang kena penyakit AIDS ?
      ...yang tidak punya rumah lagi ?
      .yang berlainan agama ?
      .pelacur ?
      ...pemabuk ?
      ...pecandu ?

      Renungkanlah jawabannya, karena hanya Anda pribadi dan Sang Pencipta saja
      yang mengetahuinya ! Dan pertanyaan terakhir : apakah Anda bisa dan mau
      menerima kado yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada kita, entah itu baik
      atau tidak sambil mensyukurinya ?
      Mang Ucup
      e-Mail: mang.ucup@gmail
      Homepage : www.mangucup.net
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.