Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Sinopsis Makam Bunga Mawar

Expand Messages
  • Add Publishing
    Hee Thian Siang, murid dari Pak-bin Sin-po Hong Poh Cui, jatuh cinta sepihak kepada gadis yang dilihatnya, tanpa tahu nama atau golongannya. Ia minta restu di
    Message 1 of 14 , Jul 18, 2012
    • 0 Attachment
      Hee Thian Siang, murid dari Pak-bin Sin-po Hong Poh Cui, jatuh cinta
      sepihak kepada gadis yang dilihatnya, tanpa tahu nama atau golongannya. Ia minta restu di Makam Bunga Mawar dan permintaannya
      disetujui Duta Bunga Mawar dengan melakukan dua pekerjaan dan bertemu kembali
      di kediaman tabib Say Han Kong di gunung Siong-san.
       
      Ketika melewati Bu-tong-san, Hee Thian Siang mendapat tahu kalau tiga tokoh
      Bu-tong-pay telah dibokong senjata duri berbisa. Ketika tiba di Lembah Kematian,
      Hee Thian Siang bertemu It Pun Sin-ceng dan mereka berhasil menyelamatkan Peng
      Sim Sin-nie dan Thiat Kwan Totiang, yang
      juga dibokong senjata duri berbisa thian-kheng-cek, yang biasa dipakai golongan
      Kun-lun-pay.
       
      Pertemuan digerakkan para ketua dari Lo-hu-pay,
      Bu-tong-pay dan Tiam-cong-pay akan diadakan di puncak gunung Thian-tu-hong di
      gunung Uy-san, dengan mengundang ketua Kun-lun-pay untuk menanyakan tentang
      senjata rahasia duri berbisa thian-kheng-cek. Sayang pada pertemuan ini rahasia
      rencana keji tersebut, belum dapat dibuka dan pertemuan ditunda satu tahun dan
      akan dilakukan di tempat dan waktu yang sama.
       
      Hee Thian Siang menduga Rimba Persilatan kembali terancam
      bahaya maut, yang  akan menimbulkan
      keonaran dan pertumpahan darah tidak hentinya. Senjata rahasia duri berbisa dengan
      beruntun telah dipakai melukai dan membunuh orang-orang penting golongan
      Bu-tong, Lo-hu dan Tiam-cong

      Salah satu wanita yang dijumpai Hee Thian Siang
      adalah Tiongsun Hui Kheng. Sayangnya, teringat aturan ayahnya yang tidak mengijinkan murid atau puterinya terganggu asmara,
      Tiongsun Hui Kheng yang mempunyai rasa suka pada Hee Thian Siang, memutuskan pergi
      meninggalkannya. Wanita lainnya, Hok Siu In, salah satu jago pedang Ngo-bie-pay
      juga turut mengisi hati Hee Thian Siang
       
      Partai Kie-lian dan Tiam-cong sudah bersekongkol hendak mendirikan
      partai baru dan mengacau dengan menggunakan duri berbisa untuk memfitnah partai
      Kun-lun-pay dan supaya timbul huru-hara di antara orang-orang Rimba Persilatan
      sendiri, dengan demikiankekuatan dan pengaruhnya akan bertambah, cukup untuk
      berebut pengaruh dengan partai mana pun dalam Rimba Persilatan.
       
      Rencana itu bocordantelah diambil keputusan hendak mendirikan
      partai baru, Ceng-thian-pay, dan mengundang semua tokoh Rimba
      Persilatan ke Kie-lian-san. Kesempatan itu juga digunakan untuk membereskan
      semua perselisihan dan permusuhan antara orang-orang Rimba Persilatan.
       
      Dalam perjalanan
      mengabarkan undangan pertemuan, Hee Thian Siang menolong Liok Giok Jie, gadis
      misterius yang dicarinya selama ini, yang telah diserang thian-kheng-cek murid
      Kun-lun-pay bernama Siang Biauw Yan. Diluar kesadaran, mereka mencium
      cui-sin-hwa, bunga yang mengandung perangsang, sehingga mereka terjerumus ke
      dalam perbuatan asusila.

      Hee Thian Siang pun semakin berkhawatir ketika
      menerima kenyataan bahwa Liok Giok Jie menghilang entah kemana, sedangkan Hok
      Siu In jatuh ke sungai dari tebing setelah bertarung dengan Wanita Kesepian.
       
      Dalam pertemuan besar di gunung Kie-lian, Ceng-thian-pay telah berhasil
      mengundang Pek-kut Sam-mo dan sekelompok manusia-manusia jahat yang berada di
      luar perbatasan, seperti Raja Siluman Pat-bo Yao-ong, Tiga Manusia Kerdil dari
      Lautan Timur, Sepasang Manusia Aneh Berbisa, See-hek Sie-thian-cun dan lainnya
       
      Pertemuan berakhir dengan kekalahan pihak
      Ceng-thian-pay dan salah satu Pek-kut Sam-mo, yaitu Pek-kut Thian-kun harus
      mengakui kepandaian dan mengasingkan diri dari Rimba Persilatan.
       
      Selain itu, para ketua partai setuju untuk
      menurunkan kepandaian ampuh tiap partai, yang akan dipelajari oleh Tiongsun Hui
      Kheng. Hee Thian Siang pun harus berpisah dengan Tiongsun Hui Kheng demi
      mempelajari ilmu-ilmu baru tersebut.
       
      Setelah mewarisi pelajaran dari almarhumah gurunya
      dan mendapat sebutir kian-thian-pek-lek, Hee Thian Siang kembali terjun ke
      dunia Kangouw. Ternyata, Ceng-thian-pay sudah membasmi Bu-tong-pay, Ngo-bie-pay
      telah melarikan diri sebelum diserang. Hee Thian Siang pun bahu membahu dengan
      para pendekar Swat-san-pay mempertahankan diri dari serangan dan berhasil
      mengusir pihak Ceng-thian-pay.

      Permusuhan kedua pihak makin hari makin dalam, meski
      musuh besar sudah undurkan diri, tapi ancaman bahaya di kemudian hari masih
      tetap ada, Pat-bo Yao-ong Hian Wan Liat dan kawan-kawannya, pasti akan datang
      lagi ke daerah Tiong-goan. Surat tantangan pun dilayangkan, waktu pertarungan
      telah ditetapkan
       
      Satu tahun lamanya Hee Thian Siang berdiam di
      gunung Bu-san demi memperdalam ilmu silatnya. Hee Thian Siang masih memikirkan keselamatan diri
      Cin Lok Pho dan Liok Giok Jie, melakukan penyelidikan ke Istana Kesepian.
      Ternyata Puteri Kesepian atau Liok giok Jie sudah melahirkan seorang anak,
      namun anak yang baru lahir itu mendadak hilang.
       
      Pencuri bayi Liok Giok Jie adalah bekas ketua
      Kun-lun-pay Siang Biauw Yan. yang kembali merebut kedudukan ketua. Bekerja sama
      dengan Cong-lam Sam-sat dan Bo Cu Keng, bayi Liok Giok Jie diculik dan ditaruh
      di puncak gunung Kun-lun sebagai umpan memancing kedatangan Hee Thian Siang dan
      dipakai sebagai alat untuk memaksa menerangkan cara penggunaan bom
      kian-thian-pek-lek. Bom tersebut akan digunakan membasmi tokoh-tokoh Rimba
      Persilatan di Tay-pek-hong dan kemudian menjagoi Rimba Persilatan.
       
      Akhirnya pertempuran besar di puncak Tay-pek-hong,
      gunung Cong-lam-san, sudah dimulai, orang-orang Rimba Persilatan dari berbagai
      golongan dan partai sudah datang.Pertarungan akan dimulai demi
      membela keadilan untuk menuju Rimba Persilatan yang aman sentosa.

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.