Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Walikota Surabaya Harus Bertanggung Jawab Atas Kematian Satwa di KBS

Expand Messages
  • Al Faqir Ilmi
    Walikota Surabaya Harus Bertanggung Jawab Atas Kematian Satwa di KBS SURABAYA (suarakawan.com) – Terkuaknya penyebab pastinya kematian satwa KBS, seperti
    Message 1 of 1 , Feb 29, 2012

      SURABAYA (suarakawan.com) – Terkuaknya penyebab pastinya kematian satwa KBS, seperti kematian Celeng Goteng yang diracun Sianida, mendapat prihatin sebagian masyarakat pecinta satwa Surabaya.

      Seperti yang diungkapkan Singky Suwaji, pecinta satwa, dia menegaskan Walikota Surabaya Tri Rismaharini adalah orang yang harus paling bertanggung jawab atas sejumlah kematian satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Karena telah membangun konflik baru antara Pemkot Surabaya dengan Kementerian Kehutanan (Dephut), sehingga dimanfaatkan oleh pihak ketiga yang tidak bertanggung jawab.

      Saat ini selaku walikota Surabaya, Tri Risma Harini memaksakan kehendak untuk mengelolah KBS dengan caranya sendiri, tanpa mau mengikut peraturan dan UU yang ada, sedang persyaratan yg ditetapkan Dephut sudah sesuai dengan Permenhut No 53 Tahun 2006.
      “Kematian Celeng Goteng terakhir di KBS telah terdeteksi karena diracun dengan Sianida, yang mana belakangan kematian satwa di KBS sudah dapat diatasi sejak KBS dijaga ketat siang malam oleh Polisi, walau penjagaan ini sempat ditentang oleh beberapa karyawan yg biasa suka membelot,” ujarnya kepada suarakawan.com

      Menurutnya, misteri kematian satwa KBS sudah mencurigakan sejak kematian Komodo yg terdapat lebam di sekujur punggung sebelah kiri dan merenggangnya ruas tulang ekor Komodo yang mati tersebut.

      Demikian pula kematian Bekantan yang terjatuh dengan kondisi batok kepala pecah, karena sangat mustahil jenis Primata bisa terjatuh sehingga kepalanya pecah, dan diindikasi Bekantan tersebut di ketapel hingga kepalanya pecah kemudian terjatuh dan mati.

      Sementar itu, informasi yang diperoleh dari sumber di forensik Kedokteran Hewan KBS yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan hasil investigasi sementara dari pihaknya, sebagian hewan yang tewas diantaranya Ular dan Anoa diketemukan zat kerosin atau minyak tanah.

      Seperti diketahui, yang lebih mencengangkan sumber tersebut mengatakan bahwa DR sering melakukan rapat dengan beberapa karyawan KBS yang tak suka dengan sistem manajemen KBS di salah satu radio swasta terbesar di Surabaya.

      “Sejak dia mendengar dan mengetahui rapat ‘gelap’ tersebut, banyak permasalahan hewan mati di KBS,” tutupnya, Jum’at (17/02).(jto)

      http://suarakawan.com/2012/02/18/ada-dengan-kbs-walikota-surabaya-harus-bertanggung-jawab-atas-kematian-satwa-kbs/


      SURABAYA (suarakawan.com) – Pihak Polrestabes Surabaya bergerak cepat untuk menindak lanjuti pengaduan dari KBS terkait kematian Celeng Goteng yang didalam tubuhnya ditemukan kandungan racun Sianida (CN) sesuai dengan hasil Labfor Polri Cabang Surabaya.

      “Hari ini tim Satuan Tindak Pidana Tertentu (Sat Pidter) akan turun ke KBS untuk melakukan penyelidikan.Kita akan menyelidiki segala kemungkinan yang menyebabkan Celeng Goteng itu mati,”ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Farman,(Sabtu,18/02).

      Ia menambahkan,pihaknya masih melakukan penyelidikan awal dengan mengumpulkan keterangan-keterangan dan informasi-informasi seputar kondisi kandang,mulai perawatan,makanan serta petugas yang bertanggung jawab mengurusi satwa Celeng tersebut.

      “Jadi kita tidak akan menduga-duga,apakah binatang ini sengaja atau tidak sengaja diracun,atau pelakunya orang dalam atau orang luar,semua masih menunggu hasil penyelidikan yang di lakukan oleh tim,” ujarnya.

      Mantan Koorspri Kapolda Jatim ini mengatakan, dugaan-dugaan yang berkembang harus berdasarkan bukti-bukti yang otentik untuk menghindari terjadinya fitnah dan mengedepankan asas praduga tak bersalah.

      “Tunggu saja hasil penyelidikan,agar tidak menimbulkan persepsi dan dugaaan yang bermacam-macam,” katanya.

      Alumni Akpol’96 ini menyebutkan, setelah mengumpulkan keterangan dan informasi awal, pihaknya akan menelusuri bagaimana racun Sianida itu bisa masuk ke KBS terutama ke kandang Celeng Goteng hingga dikonsumsi oleh Celeng.

      “KBS kan area publik,siapa saja diperbolehkan memberi makan ke satwa secara langsung,jadi inilah yang nantinya akan kita selidiki, bagaimana Sianida itu bisa masuk ke KBS, termasuk apakah Sianida itu dicampurkan dulu ke makanan Celeng Goteng ataukah si pelaku sudah membawa makanan Celeng Goteng yang sudah diberi cairan Sianida, ” ungkapnya.

      Seperti diberitakan sebelumnya, Berdasarkan surat permintaan pemeriksaan toksilogi dari pihak pengelola KBS nomor 44/Ext/TPS-KBS/XI/2011 melaporkan masalah kematian Celeng Goteng betina ke Polrestabes Surabaya,setelah hasil laboratorium forensik (Labfor) Mabes Polri cabang Surabaya menyatakan bahwa dalam cairan lambung Celeng Goteng tersebut di temukan kandungan racun Sianida(CN).(wis/jto)

      http://suarakawan.com/2012/02/18/ada-apa-dengan-kbs-tim-polrestabes-ubek-ubek-kbs-telusuri-racun-sianida/


      SURABAYA (suarakawan.com) – Sikap Pemkot Surabaya yang memaksakan UPTD sebagai pengelolah Kebun Binatang Surabaya sangat bertentangan Permenhut 53/2006 tentang lembaga konservasi.

      Meskipun sudah mengetahui melanggar permenhut Walikota Surabaya tetap bersih keras mengelolah KBS.

      Mengenai sikap Walikota tersebut suarakawan.com melakukan investigasi mendalam tentang hal tersebut.

      Pada Kamis (16/02) malam suarakawan.com menemui sumber yang mengetahui penyebab sikap Walikota tersebut.

      Sumber tersebut memaparkan pada awalnya saat era Walikota Bambang DH sudah melakukan komunikasi tentang konsep KBS ke depan.

      Disaat Walikota Bambang DH habis masa jabatannya maka pihak TPS KBS disarankan berkomunikasi dengan Walikota Tri Rismaharini. Namun sayang, jawaban supaya menyarankan agar dibicarakan dengan staf ahlinya berinisial DR.
      Di Saat melakukan komunikasi itu DR menarik ulur komunikasi TPS KBS.
      Karena merasa dikesampingkan, Dirjen KKH Kemnehut bersama Tony Sumampouw dan beberapa pengurus PKBSI melakukan audience dengan Walikota Surabaya Tri Rismahirini di ruang kerjanya.

      “Kami lakukan audience tersebut pada bulan april 2010,” kata sumber tersebut.
      Dan pada saat itulah, lanjutnya, Bu Walikota merenung sejenak dengan untuk mengambil sikap. Nah, sehari kemudian Pak Tony (Ketua TPS KBS, red) memutuskan untuk menggandeng dan menyerahkan pengelolaan ke Pemkot Surabaya.

      Setelah ada keputusan pengelolaan untuk diserahkan kepada Pemkot Surabaya, tetapi Pemkot Surabaya mendiamkan.

      “Dan pada bulan Juli 2010, TPS KBS mendapat surat yang berbunyi agar TPS KBS menyediakan tempat untuk rapat tim terpadu bentuk Pemkot Surabaya,”
      Jadi sejak, masih dikatakan sumber tersebut setiap minggu melakukan rapat. Setelah hasil notulen dirangkum dan disepakati maka dibuat konsep surat kesepakatan pengelolaan dan ironisnya Walikota tidak mau menandatanganinya.

      “Khan aneh, sudah sepakat kok tak mau menandatangani. Hal itu menyebabkan Asisten 2 Pemprop Jatim marah besar” jelasnya.

      Setelah ditelusuri, ternyata sikap walikota tersebut dipengaruhi oleh staf khususnya berinisial DR.

      Sejak itu, permasalahan selalu muncul di KBS seperti kematian beberapa hewan, penghasutan terhadap karyawan.

      Yang lebih mencengangkan sumber tersebut mengatakan bahwa DR sering melakukan rapat dengan beberapa karyawan KBS yang tak suka dengan sistem manajemen KBS di salah satu radio swasta terbesar di Surabaya.

      “Sejak dia mendengar dan mengetahui rapat ‘gelap’ tersebut, banyak permasalahan hewan mati di KBS,” tutupnya.(*)

      http://suarakawan.com/2012/02/17/ada-apa-dengan-kbs-sikap-keras-walikota-tentang-kbs-dipengaruhi-oleh-staf-ahlinya/


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.