Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

[artikel] "Logam Mulia" Masa Depan

Expand Messages
  • A. Fanar Syukri, Ph.D
    Adakah yang bisa menjelaskan, hubungan logam mulia masa depan yg disebut, dengan dunia nano-nano? :D mohon share-nya ya. -- ** *A. Fanar Syukri, Ph.D*
    Message 1 of 1 , May 18, 2012
      Adakah yang bisa menjelaskan,
      hubungan "logam mulia" masa depan yg disebut,
      dengan dunia nano-nano? :D
      mohon share-nya ya.

      --
      A. Fanar Syukri, Ph.D
      Sekretaris Jenderal
      Masyarakat Nano Indonesia (MNI) 
      Kawasan Puspiptek Gedung 410, lt.1, R.129, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314
      http://www.nano.or.id, afs@...
      Telp & Faks:+62-21-7587-0479

      Gatra 27 / XVIII 16 Mei 2012 ILMU & TEKNOLOGI

      Mendulang Potensi "Logam Mulia" Masa Depan

      Indonesia memiliki potensi logam tanah jarang lumayan besar. Selama ini hanya menjadi tailing. Strategi kebijakan eksplorasi Indonesia harus diubah. Harga logam jarang melonjak di pasar dunia.

      Negeri yang lapar itu bernama Jepang. Tentu saja "negeri matahari terbit" itu tak kekurangan bahan pangan. Tetapi ada suatu bahan yang tak kalah penting bagi industri mereka: rare earth mineralsalias logam tanah jarang (LTJ). Senin pekan lalu, Jepang resmi melakukan kerja sama dengan India untuk pengadaan dan pengembangan LTJ.

      Indian Rare Earth Ltd, perusahaan yang terafiliasi dengan Departemen Energi Atom India, bersama Toyota Tsusho Corp, setuju untuk mengembangkan pabrik pengekstrak LTJ di Orissa, India, mulai Juni mendatang dan mulai berproduksi pada Agustus. Tak hanya itu, seperti dilaporkan harian The Yomiuri Shimbun, Jepang dikabarkan kembali meneken kesepakatan dengan Kazakstan untuk keperluan yang sama. Menurut Menteri Perindustrian, Perdagangan, dan Ekonomi Jepang, Yukio Edano, rangkaian kesepakatan itu mampu menyuplai setidaknya 14% kebutuhan LTJ dalam negeri Jepang.

      Tak hanya Pemerintah Jepang, sejumlah industri di sana juga mulai mengambil langkah serupa. Raksasa otomotif Honda mengeluarkan pernyataan pers, pertengahan April lalu, bahwa mereka akan bermitra dengan Japan Metals & Chemicals Co untuk mendirikan pabrik daur ulang. Pabrik ini bakal mengumpulkan dan mengekstrak LTJ yang terdapat pada barang-barang bekas Honda, seperti aki bekas, terutama dari varian mobil hibrida CR-X dan Insight. Rilis pers itu menyatakan, kebijakan tersebut diambil sebagai reaksi atas meroketnya harga LTJ dunia.

      Maklumlah, saat ini pasokan logam langka itu masih dikuasai Cina. Negeri itulah yang menyuplai hampir 80% kebutuhan LTJ dunia. Cadangan LTJ Cina kini diperkirakan mencapai 36% LTJ dunia. Belakangan, Cina rupanya mengurangi ekspor komoditas logam jarangnya hingga 54%. Sebelumnya, ekspor logam jarang Cina mencapai 65.000 ton per tahun. Walhasil, harga LTJ internasional pun melesat hampir lima kali lipat dari harga semula.

      Oleh sebab itu, wajar saja Jepang ingin melepas cekikan dominasi Cina. Beberapa negara lain menempuh jalan lebih keras: Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Meksiko menggugat Cina ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas tuduhan membatasi ekspor sejumlah LTJ, Januari lalu.

      Tak pelak lagi, LTJ telah menjadi ''logam mulia'' masa depan dunia. Perkembangan teknologi komunikasi dan informatika membuat dunia semakin lapar logam jenis ini. Apa sih yang disebut LTJ? Mereka merupakan 17 unsur logam. Para ahli menempatkannya pada kelompok elemen dengan nomor atom 21 hingga 71 (lihat: Sang Mineral Langka Multiguna).

      Sesuai dengan namanya, kehadiran mereka memang langka di bumi dan biasanya bercampur dengan setidaknya 200 jenis mineral. Salah satunya adalah timah. ''Kalau kita mengambil bijih timah, selalu ada mineral ikutan yang mengandung unsur LTJ,'' kata R. Sukhyar, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Unsur tanah jarang pada tambang timah umumnya berupa monasit, xenotim, dan zirkon.

      Karena kekhasan itu, sejauh ini LTJ banyak digunakan untuk keperluan industri yang spesifik. Sebagai logam transisi, unsur-unsur ini istimewa karena mampu bereaksi dengan unsur-unsur lain. Misalnya, lanthanum (La) banyak digunakan untuk membuat elektroda baterai hidrogen, cerium (Ce) untuk konverter katalitik pada sistem pembuangan mesin, dan neodymium (Nd) yang berguna untuk bahan elektroda motor mobil hibrida (lihat: Penggunaan Logam Tanah Jarang).

      Singkat kata, LTJ hampir menyentuh semua produk berteknologi tinggi saat ini. Dari televisi, telepon seluler, mobil hibrida, hingga perangkat pemandu rudal nuklir.

      Nah, LTJ juga hadir di bumi Nusantara. Catatan Pusat Sumber Daya Geologi menunjukkan, sumber daya logam jarang berupa monasit saja mencapai 185.992 ton pada 2007. Potensi ini terdapat di daerah penghasil timah, seperti kawasan Bangka Belitung, Kundur dan Kampar, Kepulauan Riau, Kalimantan, Papua, dan beberapa pulau yang dekat dengan Sulawesi. ''Itulah tempat-tempat menarik dan bagus untuk dieksplorasi,'' ujar Sukhyar.

      Menurut kalkulasi ESDM, Indonesia memiliki potensi sumber daya sekitar 2.715 ton. Ini memang masih jauh dibandingkan dengan Cina (55 juta ton), Amerika Serikat (13 juta ton), Australia (1,6 juta ton), Brasil (45.000 ton), India (3,1 juta ton), dan Malaysia (30.000 ton). Namun perkiraan itu, menurut Sukhyar, adalah potensi sumber daya (resource). Jika memperkirakan potensi cadangan(reserve), maka jumlah itu dapat meningkat menjadi 10.526 ton. ''Ini bermakna potensi Indonesia juga besar, bahkan mungkin bisa lebih besar dengan survei yang lebih mendalam,'' kata Sukhyar.

      Potensi terbesar LTJ, yang kini lebih banyak berada di Bangka Belitung, belum dimanfaatkan sama sekali. Sebenarnya, menurut Sukhyar, kehadiran dan potenti LTJ terlacak para ahli Indonesia sejak 20 tahun lalu. ''Namun selama ini tidak ada orang yang sengaja mencarinya,'' katanya. Umumnya industri pertambangan lebih memilih mengekploitasi timah yang membawa muatan LTJ itu. Sehingga, ''Unsur LTJ hingga kini belum dijadikan sebagai lahan usaha atau bisnis pengolahaan,'' Sukhyar menambahkan.

      Sejumlah perusahaan pertambangan, menurut Sukhyar, memang paham dengan potensi LTJ. Namun mereka masih memisahkannya begitu saja, seperti dilakukan PT Timah di Bangka Belitung. ''Unsur mineral itu menumpuk saja di lokasinya. LTJ itu belum diutak-atik untuk dijadikan produk berharga secara khusus,'' ujarnya. Akhirnya unsur LTJ yang berharga itu hanya dijadikantailing alias limbah buangan pertambangan.

      Sebetulnya, kata Sukhyar, teknologi pemisahan itu terbilang sederhana, cukup dengan mengandalkan gravitasi. ''Alatnya sederhana, semacam separator,'' katanya. Jika timah dimasukkan ke sana, ia akan tertahan karena lebih besar gravitasinya, sedangkan mineral LTJ yang lebih ringan akan terpisah dengan sendirinya. Namun tahap selanjutnya lebih sulit, yakni mengolah LTJ. Apa boleh buat, industri pertambangan belum menguasai teknologinya. Jika mau cepat, ''Harus impor teknologi,'' tutur Sukhyar. Ini belum mengalkulasi aspek ekonomisnya, layak atau tidak.

      Padahal, ketentuan yang ada telah ''memerintahkan'' agar seluruh bahan mentah mineral, baik yang utama maupun yang sampingan seperti LTJ, harus habis diolah di dalam negeri. Misalnya, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan menyatakan bahwa unsur mineral tidak boleh diekspor. Beleid lain, Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah, menyatakan, ''Mineral ikutan itu harus lebih dulu diolah di Indonesia,'' ujar Sukhyar.

      Sebab itulah, jika Indonesia benar-benar serius ingin mengolah LTJ, lanjut Sukhyar, strategi eksplorasi pertambangan nasional harus diubah. ''Untuk kawasan Bangka Belitung, misalnya, harus mulai difokuskan untuk unsur LTJ, tak hanya timahnya,'' katanya. Boleh jadi, masih ada daerah-daerah yang tidak ada timahnya, tetapi kaya dengan unsur LTJ. Kalau perlu, ''Paradigmanya diubah. Khusus mencari LTJ dan timah menjadi ikutan saja,'' tutur Sukhyar.

      Dia yakin, potensi LTJ di Indonesia sangat besar. Dari timah saja cukup besar. Hal ini bisa diindikasikan dari jumlah pemegang izin usaha pertambangan di Bangka Belitung yang kini mencapai 807 perusahaan. Ini belum ditambah perusahaan tambang lainnya, seperti di Kalimantan dan Sulawesi.

      Sudah selayaknya Indonesia memulainya dari sekarang. Banyak negara lain yang melangkah lebih dulu, termasuk Malaysia. ''Mereka mulai menjadi pengekspor LTJ,'' kata Sukhyar.

      Nur Hidayat dan Deni Muliya Barus



      Sang Mineral Langka Multiguna

      1787. Seorang letnan angkatan bersenjata Swedia, Karl Axel Arrhennius, menjejakkan kaki di Pulau Reasaron, Swedia. Kebetulan ia sedang bertugas di Pangkalan Militer Vaxholm, di pulau lain tidak jauh dari sana. Arrhennius, yang ketika itu berusia 30 tahun, menaruh minat besar pada ilmu kimia dan mineralogi. Ia pun menyempatkan diri berkunjung ke Yttreby. Di desa itu, Arrhennius singgah ke dua lokasi penambangan besar, Feldspar dan Quartzkuarsa.

      Perjalanannya tidak sia-sia. Arrhennius menemukan mineral berwarna hitam yang belum teridentifikasi para minerolog di lokasi pertambangan. Ia lantas mengirim contoh mineral itu kepada Johan Gadolin, peneliti di Universitas Abo, untuk dianalisis. Gadolin berhasil memisahkan mineral temuan Arrhennius, yang kemudian diberi nama Gadolinite.

      Lalu unsur itu dimasukkan dalam golongan lantanida atau logam tanah jarang (rare earth) dalam tabel periodik unsur. Kerja Arrhennius dan Gadolin kemudian memicu penemuan beragam jenis unsur logam tanah jarang lainnya. Saat ini, dikenal 100 jenis mineral tanah jarang. Namun hanya 14 jenis yang dikenal memiliki kandungan oksida tanah jarang yang tinggi.

      Kini, ratusan tahun setelah penemuan Arrhennius, logam tanah jarang menjelma menjadi komoditas yang paling diburu. Sesuatu yang mungkin tidak pernah diperkirakan Arrhennius dan Gadolin. Sebab industri teknologi tinggi membutuhkan logam tanah jarang sebagai bahan bakunya. Dari industri penggunaan materi gelas, keramik, elektronik, hingga perminyakan.

      Nur Hidayat

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.