Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

topik bersama

Expand Messages
  • MM.Sarinanto
    Yth teman-teman milis nano_ina, Sebagai salah satu obsesi para peneliti di bidang nano (atau seperti saya yang masih mikro tapi tertarik akan nano-subnano..),
    Message 1 of 1 , Oct 5, 2005
    • 0 Attachment
      Yth
      teman-teman milis nano_ina,

      Sebagai salah satu obsesi para peneliti di bidang nano (atau seperti saya
      yang masih mikro tapi tertarik akan nano-subnano..), adalah memiliki sarana
      penelitian yang memadai untuk bisa bicara dalam orde nano.
      Dalam diskusi awal di Ristek kira-kira tahun lalu, saya pernah melontarkan
      pendapat bahwa kalau kita mau bicara nanoteknologi, maka kita harus bisa
      tahu (baik melihat atau mengukur atau membuat) akan obyek yang kita
      bicarakan itu. Dan yang paling perlu kita miliki adalah kemampuan untuk
      membuktikan bahwa kita memang sedang bicara nano, dan bukan mikro atau
      (bahkan) mili. Dengan kata lain, kita perlu punya mikroskop yang punya
      kemampuan untuk melihat obyek seukuran nano (kalau mau murni nanometer ya
      berarti puluhan angstrom, tapi kalau mau subnano ya berarti ratusan angstrom
      atau persepuluhan mikrometer).
      Teman-teman yang masih berhubungan dengan dunia peneliti luar tentunya masih
      bisa menikmati berbagai mikroskop tadi, yang kelihatannya sekarang
      sebetulnya tidak senjelimet dulu yang harus menggunakan TEM atau STM untuk
      melihat obyek sekecil itu. Sekarang ini (tolong betulkan kalau salah), AFM
      sudah dipandang cukup merepresentasikan obyek-obyek kecil dengan harga yang
      relatif jauh lebih murah.
      Jadi kalau konsorsium para peneliti nanotek yang bergabung di milis ini mau
      urun rembug dan urun dana, kita perlu membuat wadah (secara fisik) dimana
      kita bisa memiliki dan menggunakan bersama alat-alat itu (dimulai dari
      mikroskop, mungkin) untuk bisa benar-benar terjun ke dunia nanoteknologi.
      Metode pembuatan saya rasa tidak kalah rumit, tapi kalau kita tidak sanggup
      mengadakan mikroskop ya apa boleh buat. Setahu saya TEM terbaik yang
      dimiliki oleh Indonesia (yang terbaru adalah yang berada di Kimia LIPI ?)
      belum sanggup melihat lattice image, bukan hanya karena resolusinya tidak
      sedetil itu tapi juga karena kita tidak punya alat untuk membuat sampelnya
      (seperti ion milling). Jadi kalau mau TEM ya berarti kita perlu beli lagi
      (atau cukup beli tools pembuat sampelnya ?), atau kita beli mikroskop lain
      yang lebih murah tapi sudah bisa dipakai untuk melihat-lihat.

      Saya rasa kalau itu sudah kita miliki, barulah dunia kita di Indonesia agak
      terbuka. Kalau tidak bisa, saya menganjurkan teman-teman untuk memperdalam
      ilmu di luar negeri dulu sambil menguatkan relasi dengan asing, siapa tahu
      nanti bisa mengusahakan dana dalam rangka joint research atau pola kerjasama
      lainnya. Tapi, mengingat nanotechnology merupakan salah satu teknologi kunci
      di masa mendatang, maka kemungkinan besar tidak ada 'teknologi gratis' dari
      luar. Kalau mau ya kita harus cari dan usahakan sendiri, dan para peneliti
      kita di luar negeri juga mungkin akan 'dikunci' untuk tidak 'membagi-bagi'
      teknologi yang masih mahal tersebut untuk kita.

      Ya, selanjutnya memang terserah kita sendiri menentukan arah dan tujuan
      kita.

      Sekian dulu, terimakasih.

      Mohammad Mustafa Sarinanto
      Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Informasi dan Elektronika BPPT




      ----- Original Message -----
      From: "nano_indonesia" <nano_indonesia@...>
      To: <MNI@yahoogroups.com>
      Sent: Tuesday, September 27, 2005 2:56 PM
      Subject: [MNI] Teknologi Nano: Trendsetter Baru Dunia Ilmu Pengetahuan*


      > Harian Kompas pernah memuat tulisan tentang pemanfaatan teknologi
      > nano untuk membuat nanokomposit yang kekerasannya melebihi intan.
      > Teknologi nano memang kini menjadi buah bibir di kalangan ilmuwan,
      > karena menjanjikan masa depan yang sangat cerah. Negara-negara maju
      > kini berlomba-lomba untuk meraih keunggulan di bidang yang sangat
      > menarik ini. Jepang misalnya, berani menginvestasikan dana sebesar
      > satu milyar dollar AS untuk pengembangan teknologi nanonya pada tahun
      > 2002, disusul oleh AS dengan 550 juta dollar dan Uni Eropa dengan 450
      > juta dollar. Ini membuktikan komitmen negara-negara tersebut untuk
      > pengembangan teknologi nano, sekaligus keyakinan mereka bahwa
      > teknologi nano adalah jawaban untuk masa depan. Berikut ini akan
      > dibahas beberapa contoh aplikasi teknologi nano yang tengah diteliti.
      >
      > Teknologi nano untuk penahan cahaya pada jendela
      >
      > Penahan cahaya atau kaca film berfungsi untuk menahan panas sehingga
      > ruangan di dalam rumah atau mobil tetap sejuk. Sistem yang ada
      > sekarang menggunakan lapisan polimer yang diaplikasikan pada
      > permukaan kaca. Namun seringkali ruangan masih terasa panas, karena
      > kaca film jenis ini tidak mampu menahan sinar infra merah dekat (Near
      > Infra Red, NIR). NIR ini adalah sumber utama dari panas yang terasa
      > di dalam ruangan, sekalipun menggunakan kaca film.
      >
      > Stefan Schelm dan Geoff Smith dari University of Technology di
      > Sydney, Australia, baru-baru ini menemukan bahwa dengan menambahkan
      > sedikit nanopartikel Lanthanum Hexaborida (LaB6) pada polimer kaca
      > film, efisiensi penyerapan NIR bisa ditingkatkan secara dramatis. Hal
      > ini disebabkan oleh efek eksitasi plasma permukaan (surface plasmon
      > excitation, SPE), yakni tereksitasinya elektron bebas di pita
      > konduksi pada logam secara bersama-sama sehingga terjadi penyerapan
      > energi. Ukuran partikel LaB6 sendiri harus cukup kecil untuk mencegah
      > terjadinya penghamburan (scattering) cahaya. Lanthanum Hexaborida
      > yang berukuran 20-200 nm ternyata bisa menyerap 95% NIR pada panjang
      > gelombang 900-1200 nm, sedangkan kaca film biasa hanya menyerap
      > sekitar 30-40%.
      >
      > Teknologi nano untuk terapi fotodinamik
      >
      > Terapi fotodinamik adalah terapi menggunakan molekul peka cahaya
      > (photosensitizers, PSs) yang cenderung berkumpul pada sel tumor. Jika
      > diiradiasi dengan sinar yang memiliki panjang gelombang tertentu, PSs
      > akan tereksitasi dan mentransfer energinya kepada molekul oksigen
      > terdekat sehingga membentuk spesies oksigen reaktif (reactive oxygen
      > species, ROSs) yang akan membunuh sel kanker di dekatnya. Dengan
      > demikian pengobatan kanker dapat ditargetkan secara akurat tanpa
      > merusak sel sehat. Masalahnya, kebanyakan PSs bersifat hidrofobik
      > sehingga tidak dapat langsung dimasukkan ke dalam tubuh. Untuk itu
      > dibutuhkan suatu pembawa (carrier) yang mampu membawa PSs ke sel
      > kanker tanpa efek samping yang mengganggu.
      >
      > Paras N. Prasad dkk, dari State University of New York di Buffalo dan
      > The Roswell Park Cancer Institute menemukan bahwa nanopartikel
      > keramik dapat digunakan sebagai pembawa PSs dengan efisien dan aman.
      > Bahan keramik ini mudah dibuat, dapat melindungi PSs dari pengaruh pH
      > atau temperatur, serta memiliki sifat biokompatibel yang memungkinkan
      > penambahan senyawa tertentu yang akan menempel pada sel kanker.
      >
      > Mereka mensintesis keramik yang di-dope dengan 2-devinyl-2-(1-
      > hexyloxyethyl) pyropheophorbida (HPPH), sejenis PSs yang sedang
      > menjalani uji klinis fase I/II sebagai obat kanker. Pori-pori pada
      > nanokeramik sangat kecil sehingga bisa menahan HPPH tetapi melewatkan
      > oksigen sehingga HPPH tetap dapat memproduksi ROSs di sekitarnya dan
      > menimbulkan kematian sel kanker.
      >
      > Kemungkinan lain adalah menggunakan nanopartikel berbasis silika
      > dengan inti magnetik. Nanopartikel ini kemudian diberi senyawa
      > tertentu yang bisa menempel pada sel kanker dengan reseptor yang
      > sesuai. Kemudian, jika diberi medan magnet dc, maka nanopartikel yang
      > sudah menempel pada sel kanker akan mengakibatkan kematian sel akibat
      > medan magnet (magneto-cytolysis) dan membunuh sel kanker tersebut.
      >
      > Teknologi nano sebagai alternatif penyimpan data
      >
      > Teknologi penyimpanan data sudah melompat jauh dari bahan pita
      > magnetik sampai ke teknologi laser pada DVD dan CD-ROM. Namun,
      > teknologi nano nampaknya akan mampu membawa penyimpanan data menjadi
      > lebih maju lagi.
      >
      > Petter Vettiger dan Gerd Binnig (Binnig adalah pemenang Nobel Fisika
      > tahun 1986 untuk penemuan "scanning tunneling microscope", STM), dari
      > IBM Zurich Research Laboratory, mengemukakan gagasan untuk
      > menggunakan jarum nano (prinsip pada teknik STM) sebagai alat
      > penyimpan data. Prototip alat ini disebut Millipede (kaki seribu).
      >
      > Prinsip kerja Millipede sebenarnya sangat sederhana. Sebuah jarum
      > berukuran nano ditempelkan pada penyangga yang kemudian dipasang di
      > atas suatu lembaran polimer. Jika penyangga dipanaskan dengan suhu
      > tinggi (sekitar 400 oC), maka penyangga akan memuai dan jarum akan
      > membuat sebuah indentasi pada polimer. Indentasi tersebut dibaca
      > sebagai sinyal 1 dan tidak ada indentasi sebagai 0. Pembacaan data
      > juga menggunakan prinsip yang sama. Jika penyangga dipanaskan pada
      > temperatur 300 oC, maka penyangga akan sedikit memuai dan ujung jarum
      > tepat menyentuh permukaan polimer. Jarum tersebut kemudian
      > akan 'terperosok' masuk ke dalam indentasi sehingga terjadi penurunan
      > suhu dan perubahan hantaran listrik. Fenomena inilah yang kemudian
      > digunakan untuk membaca data pada lembaran polimer.
      >
      > Keuntungan lain dari sistem ini adalah kemungkinan untuk menghapus
      > data yang sudah tertulis. Jika penyangga dipanaskan pada temperatur
      > 400 oC dan masuk ke indentasi yang sudah ada, maka panas yang
      > dipindahkan ke polimer mampu melelehkannya dan menutup indentasi
      > tadi. Dengan cara ini data bisa dihapus, disimpan, dan dibaca ulang
      > dengan cepat dan tahan lama.
      >
      > Prototip Millipede yang paling mutakhir sudah bisa memuat 1.024 jarum
      > dan penyangganya dalam chip seluas 3 mm2. Sekitar 80% sudah berfungsi
      > secara baik dan sudah diuji coba untuk aplikasi langsung. Hasil ini
      > sangat menggembirakan dan membuktikan keampuhan teknologi nano dalam
      > teknologi penyimpanan data.
      >
      > Teknologi nano memang menjanjikan banyak hal untuk masa depan. Dengan
      > banyaknya kemungkinan penggunaan yang ada serta fleksibilitas
      > teknologi nano yang luar biasa, tidak heran jika dalam empat sampai
      > lima tahun ke depan, teknologi nano akan sampai ke tangan konsumen
      > dan berperanan penting dalam kehidupan sehari-hari.
      >
      > Oleh Harry H. Nazarudin, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Material
      > Universitas Indonesia
      > Disarikan dari:
      > Business Week edisi Indonesia
      > www.acs.org
      > www.sciam.com
      >
      > Sumber:Situs web kimia Indonesia (http://www.chem-is-try.org/?
      > sect=artikel&ext=60)
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Yahoo! Groups Links
      >
      >
      >
      >
      >
      >
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.