Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

SIGNIFIKANSI PENGAJARAN GEREJA (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Expand Messages
  • Denny Teguh Sutandio
    Signifikansi Pengajaran Gereja oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. Signifikansi Pengajaran Gereja-1 : Peran Pengajaran Dalam Gereja (ringkasan khotbah tanggal
    Message 1 of 11 , Jul 14 6:52 PM
    • 0 Attachment
      Signifikansi Pengajaran Gereja
       
       
      oleh :
      Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
       
       
       
      Signifikansi Pengajaran Gereja-1 : Peran Pengajaran Dalam Gereja
      (ringkasan khotbah tanggal 23 April 2004)
       
      Nats : Amsal 2:1-5
       
      Ketika kita ingin berbicara tentang signifikansi pengajaran gereja, maka lingkup awal yang terbaik adalah para pemuda karena kita adalah orang-orang yang seharusnya memiliki pikiran yang sangat tajam. Kita memerlukan ketajaman pikiran untuk berani menerobos apa yang tidak mungkin diterobos oleh orang-orang dunia. Lingkup kedua adalah para majelis yang sangat berperan di dalam organisasi gereja. Di sini kesulitan untuk mengajar lebih sulit lagi karena banyak di antara mereka telah memiliki pengertian yang salah sejak lama dan itulah yang sangat menyulitkan kita untuk mendidik mereka ke arah yang benar. Tetapi di lain pihak semua anak Tuhan harus kembali setia kepada Firman Tuhan sehingga mau tidak mau kita harus siap hati untuk menghancurkan segala pikiran kita yang salah.
       
      Lalu siapakah yang berperan untuk mendidik gereja? Seharusnya yang bertanggung jawab adalah hamba Tuhan, tetapi kalau kita melihat belakangan ini ternyata justru banyak hamba Tuhan yang semakin tidak mau bertanggung jawab. Hamba Tuhan yang seperti ini tidak mengerti panggilan Tuhan terhadap dirinya dan hakekat gereja sebagai tempat untuk mendidik bukan sebagai tempat hiburan. Dan orang seperti ini juga didukung oleh banyaknya pemuda-pemudi yang menganggap bahwa pengajaran di gereja adalah suatu format yang tidak cocok dan tidak diperlukan lagi, memusingkan dan merepotkan. Inilah citra pemuda-pemudi zaman sekarang.
       
      Tetapi masalah ini bukanlah hal yang baru tetapi telah muncul sejak 10 abad yang lalu dimana terdapat 2 pihak yang saling berlawanan, yaitu pihak clergy dan layman. Pihak clergy mempercayai bahwa seorang imam memiliki posisi yang khusus di dalam gereja sehingga hanya mereka yang boleh membaca Alkitab. Jadi memasuki abad ke-10, semua orang tidak diijinkan untuk membaca Alkitab.
       
      Dalam keadaan seperti itu muncullah seorang tokoh pertama yang berani menerjemahkan Alkitab ke bahasa Inggris, yaitu William Tyndale yang akhirnya dia dihukum mati oleh pihak gereja. 150 tahun kemudian ada seorang tokoh refomator yang berani menerjemahkan Alkitab tetapi tidak mati, yaitu Martin Luther. Dia merasakan bahwa sangat tidak baik kalau gereja melepaskan tugasnya untuk mendidik jemaat  sehingga dia berjuang menerjemahkan Alkitab dan semua orang akhirnya bisa membaca Alkitab dan belajar. Begitu pula dengan John Calvin yang sangat memperhatikan prinsip pendidikan iman Kristen kepada jemaat. Walaupun Calvin adalah lulusan di bidang hukum tetapi dia dapat mengerti Firman Tuhan jauh lebih tinggi, terintegrasi, dan akurat dibandingkan dengan orang-orang lulusan teologi. Kenapa bisa begitu? Karena belajar di dalam iman Kristen.
       
      Belajar di dalam iman Kristen merupakan proses belajar yang terbaik dan tertinggi karena hanya di dalam iman Kristen terdapat inti dari segala pengetahuan. Induk dari semua ilmu adalah filsafat, sedangkan semua filsafat bersumber dari teologi, dan semua teologi bersumber dari Alkitab (Wahyu Tuhan). Jadi Wahyu Tuhan yang dimengerti oleh manusia lalu dituangkan menjadi teologi dan teologi tersebut harus menguji semua filsafat, bukan sebaliknya. Setelah itu baru filsafat masuk ke dalam semua bidang ilmu. Inilah sistem belajar yang benar, yaitu dari atas ke bawah. Tapi dunia modern justru membaliknya sehingga apa yang menjadi fenomena di dunia ini digunakan oleh manusia untuk “menggambarkan” Tuhan. pemahaman mereka sangat sempit dan terbatas sekali karena kepala mereka tidak pernah keluar dari sekedar fenomena. Yang lebih celaka disekolahpun kita juga dididik dengan cara seperti ini. Di sinilah peran anak-anak Tuhan untuk melakukan terobosan sehingga sekolah dan guru tahu bagaimana caranya belajar dan mengajar.
       
      Gereja merupakan tempat manifestasi kerajaan Allah di dunia dan disitulah terdapat kebenaran yang sejati, yaitu kebenaran Allah. Kita hanya bisa mencari kebenaran Allah dalam gereja dan itulah yang diucapkan berulang kali di dalam kitab Amsal karena memang seperti itulah sikap belajar yang benar. Paulus sebelum bertobat, juga memiliki otak yang sangat cerdas dan jenius. Tetapi sebelum dia bertemu dengan Tuhan, dia tetap tidak mengerti kebenaran karena dia memiliki sudut pandang yang berbeda dengan Tuhan. Dia pikir tiap hari melakukan hal yang benar sambil tidak tahu bahwa sebenarnya dia justru semakin berdosa. Setelah tunduk di bawah Firman barulah Paulus semakin mengerti kebenaran yang sesungguhnya.
       
      Tuhan menginginkan setiap warga kerajaan-Nya taat terhadap kehendak-Nya dan karena itu kalau kita berani mengaku sebagai anggota kerajaan-Nya, maka kita wajib berusaha untuk menjalankan semua peraturan-Nya. Kita boleh mengaku anak Tuhan tetapi kalau tidak ada ketaatan terhadap Bapa, kita tetap bukan anak Tuhan! Tuhan menuntut kepada setiap anak-Nya untuk semakin dewasa di dalam pikiran dan tingkah lakunya seperti yang Tuhan inginkan. Inilah belajar yang benar. Belajar yang benar adalah bagaimana proses belajar tersebut membuat saya semakin mengerti dan dipersiapkan untuk menjalankan hidup sesuai dengan keinginan Tuhan. Menjadi seorang murid berarti menjadi seorang yang didisiplinkan, dan makna dari disiplin bukanlah hukuman dan pukulan, tetapi kembalinya kita kepada kebenaran kemudian dididik dalam kebenaran dan tidak boleh keluar dari kebenaran itu.
       
      Jika pada saat ini banyak gereja yang tidak menjalankan perannya sebagai wadah untuk mendidik, maka ada beberapa kemungkinan.
      Pertama, gereja menjadi fasilitator dunia, apa yang diinginkan dan dicari oleh orang-orang dunia akan sediakan di dalam gereja. Jadi yang terjadi bukanlah dunia mengikuti gereja tetapi malah sebaliknya sehingga gereja bukan lagi kerajaan Tuhan melainkan kerajaan dunia. Nama bangunan boleh gereja tetapi hakekatnya bukanlah gereja karena gereja memiliki tugas membangun, bukan merusak orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang yang berada di dalamnya pun tidak ada yang bergantung kepada Tuhan karena semuanya bersifat humanis, saling menyerang dan menjatuhkan demi mendapatkan posisi tertinggi. Apakah ini yang disebut pelayanan? Terkadang apa yang terjadi di dalam gereja ternyata justru malah lebih menakutkan daripada di perusahaan. Bagaimana mungkin gereja seperti ini mau mendidik jemaat? Bakal seperti apa jemaatnya. Jemaat bukannya tahu bagaimana prinsip berbisnis yang benar tetapi malah pakai cara dunia lalu buka dagangan sehabis kebaktian. Ini anak setan atau anak Tuhan? Jadilah anak Tuhan yang beriman atau jadilah anak setan sekalian, jangan setengah-setengah.
       
      Kedua, gereja berubah menjadi temannya setan karena semua orang sudah tidak mau tunduk lagi kepada Tuhan tetapi mengijinkan setan masuk ke dalam. Itu sebabnya kalau kita melihat beberapa gereja, terkadang kebaktiannya sangat bersifat mistik tetapi mereka menutupinya dengan alasan pekerjaan Roh Kudus, padahal roh setan. Gereja seperti ini sangat menakutkan karena ini adalah penipuan dan mungkin sebagian besar dari jemaat tidak sadar kalau ditipu karena pendetanya tidak pernah mengajarkan doktrin Roh Kudus sehingga jemaat tidak bisa membedakan keduanya. Apalagi kalau ternyata pendetanya adalah anak buahnya setan, inilah yang disebut di Alkitab sebagai serigala berbulu domba. Mereka pandai sekali membuat mukjizat, bernubuat, dan mengusir setan. Jangan bilang tidak ada karena Yesus telah memperingati kita. Mereka sangat ahli menyamar jadi domba karena kalau tidak, Yesus tidak perlu memperingati kita karena toh pasti ketahuan karena tipuannya kelihatan jelas.
       
      Gereja seharusnya menjadi tempat sekolahnya kerajaan Allah dan di situ terdapat anak-anak Allah yang belajar bagaimana hidup sebagai anak Allah dan menjalankan kehendak-Nya sehingga mereka memiliki pikiran yang kristis dan tidak mudah ditipu oleh zaman. Jika pada hari ini kita masih menganggap diri kita sebagai anak Tuhan, kita perlu mengevaluasi diri kita sendiri apakah akal budi kita semakin serupa dengan dunia ini ataukah berubah sehingga kita bisa melihat mana yang baik dan berkenan bagi Allah. Kalau pikiran kita cukup tajam, kita pasti bisa melihat perbedaan dari hal-hal yang kelihatannya sama. Gereja memiliki berbagai macam sarana untuk mendidik baik melalui katekisasi, liturgi, pengakuan iman, dll. Semua sarana itu telah dipikirkan selama ratusan tahun oleh tokoh-tokoh gereja sehingga setiap hal di dalamnya memiliki signifikansi yang sangat penting yang tidak boleh di ubah-ubah ataupun ditiadakan. Amin.
       
       
       
      Signifikansi Pengajaran Gereja-2 : Katekismus dan Pembinaan Gereja
      (ringkasan khotbah tanggal 30 April 2004)
       
      Nats : 1 Timotius 4:15-16
       
      Semasa hidupnya Socrates pernah mengatakan bahwa orang yang hidupnya tidak pernah teruji, maka orang itu tidak layak hidup karena hidupnya adalah sampah. Jadi ketika kita ingin memiliki hidup yang bernilai, kita tidak dapat membangun dan menguji nilai itu berdasarkan diri kita sendiri tetapi nilai itu harus berasal dari luar, diuji dan dan ditetapkan dari luar diri kita. Kalau kita mengukur dan menetapkan nilai diri kita sendiri, maka nilai tersebut tidak mungkin sah karena kita sedang menilai diri kita sendiri tanpa standar yang jelas dan itu adalah sebuah kebodohan yang sangat besar.
      Salah seorang di sebuah radio pernah bertanya, jumlah sekolah di Surabaya saja terus bertambah banyak tetapi kenapa orang-orang yang bejat juga bertambah banyak? Itu karena banyak manusia yang sewaktu sekolah tidak pernah diajari hidup yang beres, banyak pengajar dan sekolah yang sama sekali tidak memiliki standar. Sebaliknya dengan pola hidup yang tinggi dan memiliki semangat untuk semakin hidup suci dan kudus akan membuat hidup seseorang memiliki kemuliaan sehingga selalu dihormati oleh orang lain. Jadi kalau sekali waktu ada yang melecehkan kita, kita perlu mengevaluasi diri kita karena mungkin kita pantas untuk dilecehkan.
       
      Lantas dimanakah kita bisa mendapatkan kebenaran yang begitu agung? Dimanakah kita bisa belajar sehingga kita bisa memiliki standar yang semakin lama semakin tinggi? Paulus menasehati Timotius untuk selalu memperhatikan dan menguji semua aspek hidupnya sehingga kemajuan dirinya bisa terlihat nyata oleh semua orang. Suatu kualitas hidup yang semakin tinggi tidak mungkin bisa disembunyikan, dengan kalimat lain semua orang bisa melihat perubahan hidup yang semakin baik. Dan ketika orang lain melihat hidup seperti itu, mereka akan merasa enggan untuk mempermainkan dan menghina. Di dalam perikop yang kita baca pada hari ini, Tuhan mengajarkan 2 hal kepada kita untuk memiliki hidup yang berkualitas, yaitu agar kita senantiasa mengawasi diri kita dan juga ajaran kita.
       
      Inilah yang seharusnya juga menjadi tugas gereja di dalam mendidik kita. Mazmur mengatakan agar kita selalu menjaga kelakuan kita sesuai dengan Firman Tuhan. Dengan menggunakan sarana apa? Gereja memiliki 3 tugas, yaitu:  untuk bersaksi (marturia), sebagai persekutuan (koinonia), dan pelayanan (diakonia). Gereja harus menjadi wadah sehingga di situ terdapat banyak jemaat yang bersekutu dengan saudara seiman sehingga mereka memiliki kehidupan yang bisa menjadi saksi nyata di tengah dunia. Setelah marturia dan koinonia berjalan dengan baik, maka itu pasti mengakibatkan diakonia kita juga berjalan dengan baik. Diakonia bukan sekedar menyumbangkan sembako tetapi semua aktivitas pelayanan kita di gereja. Pelayanan juga berbeda dengan pekerjaan karena kalau kita bekerja, maka kita akan menerima upah, tetapi pelayanan adalah sebuah pengabdian diri sebagai upah atas anugerah Tuhan yang sudah begitu besar kepada kita. Jadi orang yang tidak sadar berapa banyak dosanya dan pengorbanan Tuhan di kayu salib, maka dia tidak akan pernah mengerti tentang pelayanan. Seandainya kalau orang seperti ini melayanipun, dia akan mengerjakannya seperti sedang berbisnis, segala sesuatu dihitung untung ruginya. Lalu bagaimana kita membedakan antara profesional dengan pelayanan? Itulah fungsinya kita mempelajari aspek pengajaran gereja.
      Jangan berpikir kalau belajar secara sederhana. Kalau belajar hanya sebatas menambah informasi itu berarti bukan belajar yang sesungguhnya karena di situ tidak terdapat proses pembelajaran sehingga tidak terjadi perubahan di dalam hidup kita. Belajar yang sekedar menambah informasi tidak pernah terdapat sebuah interaksi. Maka di sini setiap jemaat yang mau belajar perlu sebuah sarana, yaitu katekisasi.
       
      Katekisasi adalah studi mengenai kebenaran Firman Tuhan dengan bentuk tanya-jawab. Pada waktu kebaktian umum di hari minggu setiap jemaat tidak diperbolehkan bertanya dan berkomentar karena di situ hamba Tuhan sebagai wakil Allah sedang memberitakan Firman sehingga kalau kita ada masalah, kita bisa bertanya dan berdiskusi di kelas katekisasi. Di sisi yang lain katekisasi juga diperlukan karena kita sadar bahwa khotbah sejam di kebaktian minggu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani kita, apalagi kita berada di dalam posisi yang pasif sehingga kurang mendukung untuk proses belajar. Banyak pula jemaat yang merasa malas untuk belajar di gereja padahal rajin di dunia. Mereka akan rela mengejar apa yang ada di dunia selama itu cocok dengan sifat dosa mereka tetapi mereka tidak pernah mau mengejar apa yang ada di gereja.
       
      Memang susah untuk mengawasi diri dan ajaran kita, tetapi di situlah proses belajar yang benar. Dan untuk itu gereja memberikan katekisasi dan katekismus. Ada beberapa alasan kenapa katekisasi bisa digunakan sebagai wadah untuk belajar dan salah satunya adalah karena katekisasi menjadi bukti iman Kristen mempunyai satu kekuatan pengajaran yang bersifat kritis. Inilah yang menjadi keunggulan iman Kristen tetapi sayangnya, banyak gereja yang sekarang mulai membuang kelas katekisasi sehingga setiap orang bisa dibaptis tanpa terlebih dahulu mengerti iman Kristen yang benar, yang penting percaya. Ini adalah alasan yang sangat bodoh karena kalau begitu apa bedanya kita dengan setan? Setan kan juga percaya bahwa Yesus adalah juru selamat, lalu kenapa kita diselamatkan tetapi setan tidak? Jadi hanya percaya tidak menyelesaikan masalah, tetapi apa yang kita percayai dengan apa yang setan percayai harus berbeda, bukan sama!
       
      Lalu bedanya di mana? Kenapa perbedaan itu bisa menyelamatkan? Yesus yang kita percayai pun harus dipertanyakan karena Alkitab menulis ada berbagai macam versi Yesus. Marilah sama-sama mendefinisikan Allah, maka tidak mungkin ada satupun orang yang tulisannya sama dengan tulisan orang lain karena kita bukan berbicara tentang sebuah benda mati tetapi Allah yang hidup. Sudahkah kita benar-benar mengenal Allah yang selama ini kita percayai? Perasaan mengenal dengan betul-betul mengenal antar pribadi tentu berbeda.
       
      Melalui kelas katekisasi kita bisa belajar konsep pengertian mengenai Allah, diri, gereja, iman Kristen, dll sehingga iman Kristen bukanlah iman yang fanatik tetapi bisa dipertanggung jawabkan secara kritis. Di dalam 1Petrus 3:15 tertulis bahwa kita harus selalu bersiap sedia apabila ada seseorang yang meminta pertanggung jawaban dari iman yang kita percayai. Kelas katekisasi menjadi wadah untuk belajar sehingga kita bisa menjelaskan kenapa setiap manusia harus percaya hanya kepada Yesus agar dirinya bisa diselamatkan. Ini adalah masalah yang sangat serius karena Kekristenan bukanlah salah satu dari banyak jalan tetapi satu-satunya jalan!
      Pertama, untuk mengawasi ajaran kita. Banyak gereja yang semakin lama menjadi kacau karena tidak adanya katekisasi sehingga begitu banyak ajaran yang simpang siur. Ada yang katanya sudah bertobat tetapi ternyata dia sama sekali belum bertobat. Maka tanpa adanya katekisasi orang seperti ini suatu waktu kalau naik menjadi majelis bisa menghancurkan gereja tersebut. Setelah mengikuti katekisasi seharusnya juga terdapat percakapan pribadi dengan hamba Tuhan untuk melihat sejauh mana kita mengerti dan memiliki paham yang sama mengenai segala aspek iman Kristen. Melalui katekisasi kita bukan dituntut untuk menjadi ahli tetapi kita mengerti apa yang benar sesuai dengan porsinya.
       
      Kedua, untuk mengawasi diri kita. Semua pengetahuan dan pengertian yang benar tidak akan bermanfaat apapun kecuali semuanya itu terimplikasi kedalam diri kita. Tuhan bukan hanya menuntut kita agar tambah pintar saja tetapi juga menuntut adanya perubahan hidup kita. Tentu Tuhan tidak menuntut kita menjadi sempurna tetapi kita dituntut supaya bertumbuh secara berkelanjutan atau terus-menerus di dalam proses dan di dalam proses itu ada perubahan hidup yang semakin baik. Jangan menjadi orang yang otaknya banyak isinya tetapi semuanya tidak selaras dengan hidup dan tingkah lakunya.
       
      Di dalam Firman Tuhan terdapat 3 tahap proses pembelajaran, yaitu: menerima informasi sebanyak mungkin, menghubungkan semua informasi tersebut dengan diri kita, dan implikasikan semua pengertian itu dengan kehidupan nyata. Sering kali orang yang tidak bisa menghubungkan semua informasi dengan dirinya sendiri sehingga hanya mampu menjelaskan pikiran orang lain tetapi dirinya sendiri tidak mengerti. 3 tahap ini digambarkan dengan jelas oleh percakapan petrus dengan Yesus. Setelah Yesus bertanya siapakah diri-Nya menurut banyak orang, Yesus bertanya siapakah diri-Nya menurut Petrus sendiri. Dan setelah Petrus mengenal Yesus, maka Yesus menuntut agar Petrus menyangkal dirinya, memikul salib, dan mengikuti diri-Nya. Jadi selain katekisasi sebagai wadah pertama untuk belajar ajaran yang benar, katekisasi juga menjadi wadah pertama bagi perubahan hidup kita.
       
      Dan yang ketiga, agar kita selalu bertekun di dalam semuanya itu. Di sini katekisasi menjadi wadah pertama apologia kita, yaitu pertahanan iman kita. Setiap kebenaran yang kita pelajari di dalam kelas katekisasi seharusnya membuat iman kita semakin tidak tergoyahkan oleh berbagai macam ajaran dan permainan palsu manusia di dalam kelicikan mereka yang menyesatkan (Ef 4:14). Memang katekisasi tidak menyelesaikan semua problematika kita tetapi katekisasi bisa menjadi basis untuk melangkah lebih jauh. Harus ada pertanggung jawaban terhadap kualitas kita di titik minimum sehingga kita bisa dibaptis dan mengaku di depan jemaat bahwa “Aku adalah orang Kristen.” Akhirnya dari sini kita mengerti bahwa sebenarnya katekisasi bukanlah sebuah pilihan melainkan kewajiban bagi setiap gereja untuk mengadakannya. Amin.
       
       
       
      Signifikansi Pengajaran Gereja-3 : Kredo dan Pertahanan Iman
      (ringkasan khotbah tanggal 7 Mei 2004)
       
      Nats : 1 Petrus 3:15
       
      Terdapat 3 alasan yang membuat pengajaran gereja menjadi begitu penting, yaitu :
      pertama, karena pengajaran gereja menyangkut pengajaran iman. Artinya, pe­ngajaran yang kita percayai itu sangat menentukan apakah kita akan masuk surga atau tidak. Apabila kita salah belajar di sekolah atau di unversitas, akibat yang paling parah mungkin adalah kita tidak bisa cari uang, tetapi kalau kita salah mempercayai iman maka itu akan membuat kita masuk ke neraka. Yang lebih parah, untuk urusan pen­didikan duniawi saja banyak orang tidak peduli apalagi urusan pendidikan iman. Di antara banyak agama yang ada, tahukah kita kenapa kita pilih jadi orang Kristen? Yang dipertaruhkan di sini bukan hanya masa depan tapi hidup kekekalan kita.
       
      Kedua, karena iman berhubungan dengan seluruh ekstensi kehidupan kita sehari-hari. Iman adalah hal yang sifatnya paling mendasar sehingga kalau kita memiliki suatu iman Kristen maka seluruh bangunan pikiran yang kita dirikan pasti bernuansa Kristen. Iman dapat dianalogikan sebagai sebuah “kacamata” yang kita gunakan se­bagai dasar untuk melihat dan menilai segala sesuatu apakah itu benar atau salah. Ketika seorang evolusionis dan seorang Kristen melihat hasil sebuah penelitian bahwa anak yang berusia 5 tahun ternyata bisa berpikir secara multi aspek, kesimpulan yang diambil bisa berbeda. Bagi orang Kristen penelitian itu membuktikan bahwa manusia memiliki akal budi sebagai gambar dan rupa Allah. Tetapi bagi orang evolusionis pe­nelitian ini membuktikan bahwa manusia telah mencapai titik perkembangan dari kebina­tang­an­nya yang menjadi semakin canggih. Jadi iman yang tepat membawa kepada pemikiran yang tepat pula.
       
      Ketiga, karena iman tidak berhenti dalam diri kita tetapi memiliki sifat penetrasi dan iluminasi. Setiap orang yang beranggapan bahwa imannya sungguh benar maka orang tersebut pasti menginginkan orang lain juga memiliki iman yang sama dengan dirinya. Itu sebabnya kalau kita sebagai orang Kristen tetapi tidak memiliki jiwa untuk menginjili maka sebenarnya kita bukanlah orang Kristen yang beriman sejati. Setiap orang Kristen seharusnya memiliki semangat agar setiap orang lain yang berdosa bisa memiliki iman yang sama dengan dirinya. Sama dengan ketika kita telah merasakan masakan restoran yang sangat enak, maka kita pasti berusaha keras meyakinkan banyak orang agar mereka yang tadinya tidak suka menjadi mau mencoba makanan tersebut. Masalahnya ketika kita tahu bahwa kita memiliki injil yang sejati dan yang menyelamatkan, pernahkah kita berusaha keras meyakinkan orang lain mengenai kabar baik itu?
       
      Bagian ketiga yang akan kita pelajari pada hari ini adalah mengenai masalah kredo. Pada zaman dahulu kredo memang dianggap kurang perlu karena pada waktu itu Tuhan Yesus sebagai otoritas yang tertinggi masih hidup. Tetapi setelah Yesus naik ke sorga maka setiap kebenaran menjadi sulit untuk diverifikasi, apalagi ketika para rasul juga akhirnya meninggal sehingga sekarang kita mempercayai bahwa kebenaran yang sejati adalah Alkitab, yaitu kebenaran Tuhan yang diwahyukan melalui anak-anak-Nya. Tetapi kalau kita boleh jujur, untuk menghafalkan dan mengerti iman Kristen sejati yang ada di dalam Alkitab merupakan hal yang tidak mudah, bahkan kalau kita melihat hingga hari ini begitu banyak pendeta yang memakai Alkitab untuk mendukung ajaran sesat mereka. Memang kalau kita ingin mengetahui iman yang tepat salah satu caranya adalah dengan banyak bertanya, tetapi bagaimanakah kalau kita ingin menjaga iman tersebut secara utuh? Di sinilah kita memerlukan kredo.
       
      Kredo atau pengakuan iman adalah suatu rumusan yang sesingkat mungkin tetapi mewakili iman Kristen yang paling esensial. Jadi kredo bisa digambarkan sebagai pagar terluar dari iman Kristen sehingga kalau kita keluar dari pagar tersebut, kita pasti bukan orang Kristen. Pada zaman sekarang kredo sangat diperlukan karena gereja Tuhan semakin meluas ke berbagai belahan dunia sehingga untuk itu kita memerlukan kesamaan dasar iman Kristen sehingga kita bisa mempertanggung jawabkan iman kita kepada siapa saja, termasuk kepada orang yang bukan Kristen. Jadi setiap orang berhak bertanya dan kita wajib untuk menjawabnya. Apa yang kita percayai? Siapakah Kristus? Apa bedanya Kristus dengan pemimpin agama lain? Kalau kita tidak bisa menjawab pertanyaan semacam ini, berarti kita tidak tahu apa yang sebenarnya kita percayai.
      Di dalam kekristenan kita memiliki 3 kredo yang terbesar, yaitu: Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea Constantinopel, dan Pengakuan Iman Anathasius. Gereja-gereja Tuhan di seluruh dunia dan di sepanjang zaman seharusnya mengakui bahwa ketiga kredo ini adalah am (imamat) karena ketiganya merupakan kredo yang paling dasar dan mampu mencakup semua kriteria esensial untuk seseorang bisa disebut sebagai orang Kristen. Jadi tidak peduli aliran apapun asalkan Kristen maka aliran tersebut harus bisa memegang ketiga kredo ini sehingga kalau ada aliran yang tidak mau mengikrarkannya dengan sepenuh hati, berarti itu adalah aliran sesat.
       
      Ketiga kredo tersebut tentu memiliki keunikan masing-masing yang berkenaan dengan tantangan zamannya sehingga kredo yang dihasilkan dapat digunakan untuk menjaga kemurnian ajaran gereja di zaman itu. Pengakuan Iman Rasuli sendiri cukup pendek sehingga kita bisa menghafalkannya. Tetapi kenapa banyak gereja yang se­karang tidak mau mengikrarkan pengakuan iman tersebut? Mungkin gereja itu sebenar­nya bukanlah gereja yang asli karena sudah tidak percaya dengan apa yang ter­tulis di dalamnya.
       
      Pengakuan Iman Nicea Constantinopel merupakan rumusan yang berasal dari perdebatan di dalam konsili Nicea dan disahkan di dalam konsili Constantinopel. Kalau kita meneliti isi dari pengakuan iman ini, kita akan melihat bahwa pengakuan ini sangat menekankan kedua natur Kristus karena memang pada zaman itu banyak bidat yang mengajarkan bahwa Kristus hanya memiliki satu natur. Banyak orang yang percaya kalau Yesus itu bukan manusia tetapi Tuhan dan ada juga yang percaya sebaliknya, sehingga pada waktu itu gereja harus menekankan kembali bahwa Kristus adalah sepenuhnya Tuhan dan juga sepenuhnya manusia. Tetapi berbeda dengan Pengakuan Iman Anathasius karena pengakuan ini sangat mene­kan­kan secara teliti tentang konsep tritunggal. Di dalam pengakuan ini kita bisa melihat bagaimana tritunggal digambarkan dengan sangat paradoks yang pada waktu itu masih belum dimengerti oleh banyak orang.
       
      Setelah kita melihat keunikan masing-masing, kita tahu betapa pentingnya se­buah pengakuan iman ditengah-tengah tantangan, tetapi sayangnya banyak gereja yang sekarang membuang pengakuan iman sehingga tidak heran kalau hari ini banyak sekali ajaran bidat yang tercecer di mana-mana. Iman yang seharusnya semakin diperjelas tetapi malah disembunyikan oleh hamba Tuhan yang tidak beres, bagaimana iman bisa ditegakkan? Indikasi yang tidak jelas seperti ini juga membuat akhirnya pemerintah tidak bisa turun tangan untuk menghadapi ajaran bidat. Oleh karena itu kredo memiliki beberapa fungsi, antara lain:
      Pertama, fungsi kredo di dalam gereja Tuhan. Tadi telah dijelaskan bahwa kredo di dalam gereja Tuhan berfungsi sebagai pertanggung jawaban orang Kristen. Gereja kita sendiri (GRII) memiliki sebuah pengakuan, yaitu Pengakuan Iman Reformed Injili yang berguna untuk menekankan kepada setiap orang apa yang dipercayai dan dipertanggung jawabkan. Jadi kalau kita ingin mengetahui ajaran sebuah gereja, pertama kali yang bisa kita lakukan adalah memeriksa pengakuan iman yang di­pegangnya dan apabila terjadi penyelewengan ajaran, pengakuan iman tersebut juga menjadi dasar bagi kita untuk menuntut majelisnya. Janganlah kita mau dibodohi oleh gereja-gereja yang kelihatannya Kristen tetapi ternyata apa yang dipercayai dan yang diajarkan tidak jelas sama sekali. Ingat, ini adalah urusan nyawa kita di kekekalan!
       
      Kedua, fungsi kredo di dalam pengajaran gereja. Fungsi ini sendiri memiliki 4 aspek, yaitu: sebagai penyaring (selector), mengingatkan (refreshing), untuk lebih memperdalam, dan menguatkan kita di dalam apologia. Ketika semua jemaat diundang untuk mengikrarkan pengakuan iman, disitu kita bisa melihat seberapa jauh seseorang meyakini dan berkomitmen terhadap apa yang diikrarkan oleh mulutnya. Kita bisa membedakan yang mana orang Kristen yang serius atau yang sekedar Kristen. Kita bisa tahu apakah hatinya berada di situ atau tidak.
       
      Kemudian, pengikraran kredo setiap kebaktian juga berguna untuk kembali meng­ingatkan apabila kita lupa dan agar pengertian kita semakin dalam, kenapa kita mengikrarkan, Apa artinya setiap kalimat, dll. Pengertian yang dalam akan membuat iman kita semakin kuat sehingga dunia tidak mungkin bisa menggoyahkan kita karena memang iman Kristen itu bukan asal fanatik tetapi kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang kedaulatan Allah dan itu membuat kita mampu melihat dunia dengan semua aspeknya. Terlebih lagi, dengan kredo kita akan senantiasa siap untuk membela iman Kristen ketika kita harus berhadapan dengan iman lain dan diharapkan penjelasan kita dapat membawa dia untuk menjadi orang Kristen. Itu sebabnya Alkitab juga menasehati agar kita melakukan pertanggung jawaban tentang iman kita dengan lemah lembut dan hormat. Jadi apologia bukan asal debat, untuk kurang ajar, dan untuk menyerang ataupun melecehkan orang lain tetapi untuk menjelaskan kebenaran ataupun untuk penginjilan.
       
      Banyak hal yang kita pelajari pada hari ini semoga dapat membuat kita mengerti betapa pentingnya sebuah kredo atau pengakuan iman sehingga kita tidak menjadi orang Kristen yang banyak komentar padahal tidak tahu apa-apa tentang kredo. Jika sebelumnya kita merasa bahwa kredo sangat merepotkan, maka diharapkan pada hari ini kita menjadi sadar bahwa ternyata kredo mutlak dibutuhkan sehingga setiap gereja juga harus merasa wajib untuk mengikrarkan pengakuan iman setiap kali kebaktian. Amin.
       
       
       
      Signifikansi Pengajaran Gereja-4 : Liturgi dan Ibadah
      (ringkasan khotbah tanggal 14 Mei 2004)
       
      Nats : Roma 12: 1-2 ; 1 Korintus 14: 40
       
      Di satu pihak, hari ini banyak sekali orang Kristen yang tidak pernah mau belajar dengan baik tetapi berani berkomentar macam-macam dan salah satunya adalah ber­kenaan dengan liturgi. Mereka tidak pernah baca buku dan belajar apapun mengenai liturgi tetapi mereka berani berkata kalau liturgi tidak diperlukan. Mereka pikir diri mereka cukup pintar tapi malah bersikap bodoh sekali. Sebuah liturgi mengandung banyak elemen yang ditata sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah kebaktian, dan kebaktian itu sendiri merupakan salah satu bagian yang penting di dalam ibadah seseorang.
      Tetapi di pihak lain, ada sedikit orang yang belajar dan mengerti apa pentingnya liturgi tetapi mereka tetap tidak mau memakai liturgi karena memang secara esensial mereka tidak suka. Orang-orang yang termasuk dalam golongan ini adalah para teolog postmodern. Seorang teolog postmodern percaya bahwa tidak ada unsur kebenaran mutlak di dalam kekristenan sehingga kebaktian tidak lebih dari salah satu variasi hidup kita seperti waktu bekerja, pacaran, dll. Kalau kebaktian ditata terlalu formal itu berarti di dalamnya ada unsur kebenaran yang harus ditaati oleh semua orang, padahal inilah yang berlawanan dengan prinsip postmodern.
       
      Apa yang mereka sebut sebagai agama sebenarnya juga bukanlah agama karena syarat sebuah agama ada 3, yaitu: ada Tuhan, kitab suci, dan pengikutnya. Ketiga syarat ini semuanya tidak pedulikan oleh orang postmodern karena walaupun mereka tahu Yesus dan Alkitab tetapi mereka sebagai pengikutnya tidak mempercayai ajaran Yesus dan semua yang tertulis di dalam Alkitab sebagai kebenaran mutlak. Jadi bagi orang postmodern agama bukan iman yang paling mendasar untuk menentukan segala sesuatu tetapi hanya sekedar permainan filsafat manusia yang mencoba untuk mem­permainkan agama. Akibatnya, orang seperti ini bisa merusak tatanan gereja.
       
      Perikop yang kita baca pada hari ini mengatakan dengan jelas kepada kita bagai­mana beribadah yang baik. Melalui Roma 12:1-2, Paulus menasehati agar kita mem­persembah­kan seluruh hidup kita kepada Allah. Artinya, Paulus ingin agar kita selalu memusatkan seluruh hidup kita untuk kembali kepada Allah yang sejati. Bahkan di dalam bahasa Ibrani, kata “ibadah” dapat diartikan sebagai suatu sikap hidup untuk menundukkan diri dan hati kita (to bow down) di hadapan Tuhan. Jadi bagi orang Kristen, hal ber­ibadah bukanlah sekedar hari minggu kebaktian tetapi seharusnya juga mencakup seluruh hidup kita setiap harinya, bahkan setiap detiknya sehingga tubuh kita akan men­­jadi tempat di mana Allah akan bekerja. Tetapi masalahnya pada hari ini adalah bagaimana ibadah yang seperti itu dikaitkan dengan waktu kebaktian kita.
       
      Kenapa hari minggu kita melakukan kebaktian? Kita melakukan kebaktian bukan bertujuan untuk mendengarkan Firman karena kebaktian berbeda dengan STRIS (sekolah teologi).  Tujuan kita melakukan kebaktian dapat kita lihat dari kata dasar dari kata itu sendiri, yaitu “bakti” sehingga, kebaktian adalah waktu untuk kita berbakti (worship). Jadi, kalau sejak kedatangan kita ke gereja sama sekali tidak ada konsep, sikap, dan perilaku seperti seharusnya, maka sebenarnya kita belum berbakti! Mana buktinya kalau kita berbakti? Kita memang datang dan ikut dalam kebaktian, tetapi semuanya itu kita lakukan secara sembarangan. Kita tidak pernah mengabdi kepada Tuhan! Bayangkan kalau kita ingin berbakti kepada orang tua tetapi kita me­laku­kannya dengan sembarangan, apakah orang tua kita akan menganggap kita sudah berbakti?
       
      Adanya kebaktian pada hari minggu juga bukan berfungsi untuk menyegarkan diri kita setelah sibuk selama 6 hari sebelumnya. Kebaktian minggu bukan seperti sebuah knalpot mesin, yaitu sebagai saluran pembuangan. Justru terbalik, kebaktian minggu seharusnya menjadi tempat kita untuk menerima Firman Tuhan dan kemudian menjalankan Firman itu di tempat kerja kita. jadi tempat kerja kitalah yang menjadi knalpot, bukan gereja. Banyak hamba Tuhan yang berpikir semacam itu sehingga jangan heran kalau gereja-gereja di sekitar kita agak mirip diskotik atau night club. Mereka takut kalau kebaktian kurang “menghibur” dan “menyegarkan” akan me­nye­babkan jemaat lari.
       
      Di dalam liturgi kita dapat melihat urutan-urutan tertentu mulai dari votum hingga pengutusan, tetapi apakah kita mengerti kenapa urutannya harus seperti itu? Apa maknanya? Urutan pertama adalah votum, yaitu seperti sebuah proklamasi kita berdasarkan apa kebaktian pada saat itu ditegakkan. Biasanya votum dikutip dari ayat Alkitab yang memberikan suatu keyakinan dan dasar untuk beribadah, masuk ke rumah Tuhan dengan pengertian betapa baiknya Allah. Kemudian untuk menyambut votum, biasanya kita akan menaikkan pujian yang bersifat vertikal sehingga itu akan mengarahkan diri kita untuk memandang kepada Tuhan, misalnya: lagu Suci Suci Suci, dll. Setelah pujian selesai baru kita berdoa pembukaan.
       
      Ketiga langkah persiapan di atas membuat kita datang ke hadirat Tuhan dengan hati yang hormat dan siap untuk beribadah, tetapi sebaliknya oleh gereja-gereja yang mirip night club atau diskotik, votum seperti itu akan ditiadakan dan langsung menyanyi lagu-l

      (Message over 64 KB, truncated)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.