Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

TENTANG NUZULUL QUR'AN

Expand Messages
  • Irawan Eko Prabowo
    TENTANG NUZULUL QUR AN Rabu, 18 Oktober 06 Pada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar acara peringatan Nuzulul Qur an. Untuk itu perlu kiranya kali
    Message 1 of 1 , Oct 30, 2006
    • 0 Attachment
      TENTANG NUZULUL QUR'AN
      Rabu, 18 Oktober 06


      Pada bulan Ramadhan banyak umat Islam yang menggelar acara
      peringatan Nuzulul Qur'an. Untuk itu perlu kiranya kali ini kita
      menyoroti masalah Nuzulul Qur'an, hukum memperingatinya, dan fungsi
      utama diturunkannya Al-Qur'an.

      Beberapa Versi Tentang Kapan Nuzul Al-Qur'an

      Syaikh Shafiyur Rahman Al-Mubarakfuriy (penulis kitab sirah
      nabawiyah "Ar-Rahiq al-Makhtum" menyatakan bahwa para ahli sejarah
      banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali
      diturunkannya Al-Qur'an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling
      tidak ada tiga pendapat :

      Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu ada pada
      bulan Rabiul Awwal.

      Ke dua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur'an itu pada bulan
      Rajab.

      Ke tiga: Pendapat yang mengata-kan bahwa Nuzulul Qur'an itu pada
      bulan Ramadhan.

      Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada
      yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8
      Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal
      (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu `anhu).

      Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua. Ada
      yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab
      (hal ini diriwayat-kan dari Abu Hurairah radhiyallahu `anhu).

      Al Hafidz Ibnu Hajar Al- Asqalani rahimahullah di dalam Fathul Bari
      berkata, "Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi
      adalah 6 (enam) bulan." Maka berdasarkan kisah ini permulaan
      kenabian dimulai dengan mimpi shalihah yang terjadi pada bulan
      kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40
      tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga)
      dimulai pada bulan Ramadhan (6 bulan berikutnya, red).

      Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul
      Qur'an ada pada bulan Ramadhan karena Allah subhanahu wata'ala
      berfirman, artinya, "Bulan Rama-dhan, bulan yang di dalamnya diturun-
      kan (permulaan) Al-Qur'an." (Al-Baqarah: 185)

      Dan Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya Kami
      telah menurun-kannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan." (Al-Qadr :
      1)

      Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada
      bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah
      subhanahu wata'ala yang artinya, "Sesungguhnya Kami menurunkannya
      pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya, Kamilah yang
      memberi peringatan." (Ad-Dukhaan: 3)

      Dan karena menyepinya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam di gua
      Hira' adalah pada bulan Ramadhan, dan kejadian turunnya
      Jibril 'alaihissalam adalah di dalam gua Hira'.

      Jadi Nuzulul Qur'an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab
      semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa
      diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat
      kuat karena Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam ketika ditanya
      tentang puasa Senin beliau menjawab, "Di dalamnya aku dilahirkan dan
      di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku."

      Dalam sebuah lafadz dikatakan, "Itu adalah hari dimana aku
      dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu)
      atasku." (HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim)

      Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada yang
      mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14
      (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang
      mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal
      24 (hari Kamis). Pendapat "17 Ramadhan" diriwayatkan dari sahabat
      Bara' bin Azib radhiyallahu `anhu dan dipilih oleh Ibnu Ishaq,
      kemudian oleh Ustadz Muhammad Hudariy Beik. Pendapat "21 Ramadhan"
      dipilih oleh Syaikh Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada
      malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal 7,
      14, 21 dan 28. Sedangkan pendapat "24 Ramadhan" diriwayatkan dari
      Aisyah radhiyallahu `anha, Jabir dan Watsilah bin Asqa' , dan
      dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitsamiy , ia mengatakan, "Ini sangat
      kuat dari segi riwayat".

      Karena itu memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an pertama kali
      tidaklah penting, sebab di samping hal itu tidak dicontohkan oleh
      Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, para sahabatnya dan para
      tabi'in, Al-Qur'an diturunkan tidaklah untuk diperingati tetapi
      untuk memperingatkan kita.

      Syaikh Abul Hasan An-Nadwiy dalam kitab Nafahatul Iman mengatakan
      tentang Isra' Mi'raj , demikian, "Sesungguhnya peristiwa Isra' -
      wahai saudara-saudaraku yang tercinta- bukanlah diharapkan agar
      dijadikan sebagai hari raya oleh umat ini, yang dirayakan setiap
      tahun, sesungguhnya Islam bukanlah agama perayaan sebagaimana halnya
      agama-agama lain."

      Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi juga menegaskan bahwa Islam
      itu tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkus dengan perayaan-
      perayaan yang membuat orang-orang tertarik kepadanya.

      Karena itu pesta hari raya tahunan di dalam Islam hanya ada dua
      yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

      Jadi turunnya Al-Qur'an bukan untuk diperingati setiap tahunnya,
      melainkan untuk memperingatkan kita setiap saat. Allah subhanahu
      wata'ala menegaskan, artinya, "Alif Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah
      kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di
      dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab
      itu (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang
      beriman." (Al-A'raaf: 1-2).

      Bukan Cara Salafus Shalih

      Memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an bukanlah cara orang-orang
      shaleh yang muttaqin. Akan tetapi jejak ulama-ulama salaf adalah
      membaca Al-Qur'an, membaca dan membaca lagi. Allah subhanahu
      wata'ala berfirman, artinya,
      "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan
      mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami
      anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan,
      mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi."
      (Faathir: 29)

      Apalagi di bulan Ramadhan, bulan Al-Qur'an ini, Umar
      radhiyallahu `anhu berkata, "Seandainya kita-kita bersih, tentu akan
      merasa kenyang dari kalam Allah l. Sesungguhnya aku amat tidak suka
      manakala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca Al-Qur'an."
      Karena itu beliau tidak meninggal dunia sehingga mushafnya sobek
      karena seringnya dibaca.

      Dan ketika menjadi imam pada shalat shubuh beliau sering membaca
      surat Yusuf yang terdiri dari 111 ayat tertulis dalam 13 halaman,
      yang berarti satu sepertiga juz.

      Hal ini tidak mengherankan karena khalifah kedua Umar bin Khatthab
      radhiyallahu `anhu ketika memimpin shalat shubuh juga selalu membaca
      surat-surat yang bilangan ayatnya lebih dari 100 ayat seperti surat
      Al- Kahfi (110 ayat), surat Maryam (98 ayat) dan surat Thaha (135
      ayat).

      Begitulah generasi Qur'ani sangat mencintai Al-Qur'an. Mereka tidak
      pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur'an tetapi shalatnya membaca
      ratusan ayat, sementara kita sebaliknya.

      Shalat Tarawih di jaman salaf rata-rata membutuhkan waktu 5 jam, dan
      kadang-kadang semalam suntuk, yang berarti setiap satu rakaat
      tarawih (dari sebelas rakaat) membutuhkan waktu 40 menit. Bahkan
      para sahabat banyak yang shalat sambil bersandar dengan tongkat
      karena terlalu lamanya berdiri.

      Mengkhususkan Membaca Al-Qur'an

      Para Tabi'in dan Tabi'uttabi'in, karena begitu memahami arti dari
      Ramadhan, bulan Al-Qur'an, dan begitu kuatnya dalam mencintai Al-
      Qur'an, maka bila bulan Ramadhan tiba, mereka meng-khususkan diri
      untuk membaca Al-Qur'an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri
      dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu bulan khatam Al-Qur'an
      berpuluh-puluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar Ramadhan khatam
      setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di
      sepuluh hari terakhir khatam setiap hari. Sementara Imam Syafi'i di
      luar Ramadhan setiap hari khatam sekali, dan di dalam Ramadhan
      setiap hari khatam dua kali. Itu semua di luar shalat. Begitulah
      ulama Ahlus Sunnah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur'an, namun
      setiap hari khatam Al-Qur'an, ada yang sekali dan ada yang dua kali.
      Sementara kita sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja, maka sudah
      puas dan gembira. Itupun bisa dihitung dengan jari.

      Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selama di dalam penjara, dari
      tanggal 7 Sya'ban 426 H sampai wafatnya 22 Dzulqa'dah 428 H, selama
      2 tahun 4 bulan beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an bersama
      saudaranya Syaikh Zainuddin Ibnu Taimiyah sebanyak 80 kali khatam,
      yang berarti rata-rata setiap 10 hari khatam satu kali. Semoga Allah
      subhanahu wata'ala merahmati kita bersama mereka dan semoga kita
      bisa meneladani Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, para
      sahabatnya, dan para ulama salaf dalam mencintai Al-Qur'an dan di
      dalam tata cara ibadah lainnya. Amin. (Abu Hamzah Agus Hasan
      Bashari, LC. M.Ag.)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.