Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Pramoedya Wafat...

Expand Messages
  • Que se vayan todos !
    *Pramoedya Ananta Toer Tutup Usia* Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4) sekitar
    Message 1 of 2 , Apr 29, 2006
    • 0 Attachment
      Pramoedya Ananta Toer Tutup Usia

      Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di rumahnya Jl Multikarya II No.26, Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4) sekitar pukul 09.00 WIB.

      Pria yang dipanggil Pram itu dirawat di rumah tersebut sejak Sabtu sekitar pukul 19.00 WIB karena ia meminta pulang ketika sedang menjalani perawatan di ICU RS St Carolus Jakarta.

      Pram yang kini berusia 81 tahun dirawat di RS tersebut sejak Kamis (27/4) malam, karena keluhan nyeri di dada, sesak nafas dan lemah karena sudah seminggu tidak mau makan.

      Sepanjang Sabtu malam sampai Minggu pagi, Pram berkali-kali melewati masa krisis tetapi ia sempat terjaga dan meminta lampu-lampu untuk dipadamkan serta bertanya: "apakah sampah sudah dibakar?."

      Pada saat itu banyak pesan singkat (SMS) menanyakan kebenaran apakah ia sudah meninggal.

      Dari pihak keluarga belum diperoleh informasi di mana pria yang lahir di Blora pada 6 Februari 1925 dari pasangan Toer dan Saidah itu akan dimakamkan.

      Sastrawan yang secara internasional sering dijuluki Albert Camus Indonesia itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca sejajar dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht (dikutip dari Los Angeles Time -red).

      Profil Pram juga pernah ditulis di New Yorker, The New York Time dan banyak publikasi dunia lainnya. Karya-karyanya juga sudah diterjemahkan dalam lebih dari 36 bahasa asing termasuk bahasa Yunani, Tagalok dan Mahalayam.

      Kompas.com: Minggu, 30 April 2006, 10:04 WIB

       

       

      Pramoedya Kritis

       

      Sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (81) yang baru saja dilarikan ke RS St Carulus di Jakarta Pusat, Sabtu (29/4) kemarin dibawa  pulang ke rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Namun keluarganya menyatakan saat ini Pramoedya dalam keadaan kritis.
          
      Saat dihubungi Warta Kota melalui telepon, putrinya, Astuti dan salah satu kerabat keluarganya Gunawan, mengatakan bahwa sastrawan yang pernah dua kali dicalonkan sebagai peraih penghargaan Nobel itu, saat ini terbaring di rumahnya di Jalan Multikarya II, Utan Kayu.
         
      Saat ditelepon keduanya menolak dasas-desus yang beredar melalui sistem pelayanan (SMS) yang menyatakan bahwa Pram -- demikian dia kerap disapa -- telah meninggal. "Tidak benar kabar itu. Bapak sekarang berada di rumah. Tadi bapak minta pulang saja," kata Astuti.
          
      Setelah Pram meminta pulang keluarganya pun menurutinya dengan menggunakan ambulans. Sekitar pukul 18.30 WIB, Pram tiba di rumahnya.
          
      Seperti diberitakan Warta Kota, edisi Jumat (29/4) Pram masuk Unit Gawat Darutar (UGD) RS St Carolus di Jalan Salemba Raya, Jakarta, Kamis (27/4) lalu. Sebab, kondisi pria kelahiran Blora 6 Februari 1925 yang dipulau-burukan oleh penguasa dan militer Orde Baru tanpa proses pengadilan ini memburuk. Dalam pemeriksaan medis, tekanan darah Pram Pram yang cukup lama menderita diabetes melitus tercatat 90-an, kadar gula dalam darahnya tergolong tinggi.    
          
      Setelah desa-desus di SMS beredar sejumlah kolega Pram tampak menjenguknya langsung di Utan Kayu. Tampak di antaranya sejumlah tokoh yang mengenal dekat Pram seperti budayawan yang juga rohaniwan Mudji Sutrisno SJ dan mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko. Pramoedya  adalah salah satu anggota PRD. 
          
      Sementara itu, menurut pantauan Warta Kota pihak keluarga dan kerabat yang datang tampak membacakan doa seraya melafalkan tahlil.
          
      Pramoedya Ananta Toer adalah penulis produktif, meskipun atas tulisan dan aktivitasnya dia acap dijebloskan ke penjara sejak masa Kolonial Belanda. Pram dikenal dengan tetraloginya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca,  dan Gadis Pantai. Namun, sastrawan yang sejumlah karyanya dilarang beredar semasa pemerintahan Orde Baru itu telah menulis ratusan karya baik fiksi maupun nonfiksi dan sebagian telah diterjemahkan ke puluhan bahasa di dunia.(wip)

      KCM, Minggu, 30 April 2006, 04:28 WIB

       
      Sastrawan Besar Pramoedya Telah Tiada

      Minggu, 30 April 2006, 09:42:43 WIB
      Laporan: Tuahta Arief

      Jakarta, Rakyat Merdeka. Setelah mengalami masa kritis, sastrawan angkatan 45, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia pukul 09.15 WIB tadi. Demikian dikemukakan seorang anaknya, Yudhi saat dihubungi Situs Berita Rakyat Merdeka beberapa menit lalu.

      Pram meninggal akibat penyakit gula. Selama ini dia mencoba bertahan dari gempuran penyakit tersebut dengan pengobatan sendiri. Setiap hari ia mengunyah bawang putih untuk menahan penyakitnya itu.

      Kamis lalu (27/4), Pram tak kuat lagi menahan sakitnya itu. Pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk membawanya ke RS St. Carolous. Setelah dirawat dua hari, kondisinya tak kunjung membaik. Keluarganya pasrah dan membawanya ke kediamannya di Jalan Multikarya II/26 Utan Kayu, Jakarta Timur, Sabtu (29/4).

      Di rumahnya kondisi Pram naik turun, hingga menghembuskan nafas terakhir Minggu pagi.

      Pram adalah sosok sastrawan yang mengalami penderitaan hebat kala dibuang di Nusakambangan tahun 1965 dan selanjutnya dibuang ke Pulau Buru. Dia baru menghirup kebebasan pada 1979.

      Meskipun terus diteror kekerasan, nyali Pram tak pernah surut. Dari besutannya lahir Tetralogi Pulau Buru, Nyanyian Sunyi Seorang Bisu, Arus Balik, Panggil Aku Kartini Saja hingga Mangir.

      Dia sempat dicalonkan menjadi nominator peraih nobel sastra pada 1995. Namun, dia tak sempat memperoleh anugerah bergengsi tersebut karena alasan-alasan politis.

      Kini, Pram telah berpulang untuk selama-lamanya. Sebulan lalu, Pram sempat meminta agar jasad dia dibakar saja. sam

       

    • rasyidi_bkry
      Last Updated: Sunday, 30 April 2006, 09:16 GMT 10:16 BBC UK Author Pramoedya Ananta Toer dies The author was jailed several times for his political views
      Message 2 of 2 , Apr 30, 2006
      • 0 Attachment
        Last Updated: Sunday, 30 April 2006, 09:16 GMT 10:16 BBC UK

        Author Pramoedya Ananta Toer dies

        The author was jailed several times for his political views
        Indonesian author Pramoedya Ananta Toer has died at his east Jakarta
        home aged 81, his family has said.
        The writer had been in hospital since Thursday where he had been
        receiving treatment for heart problems.

        A family member told the AFP news agency that the writer had
        insisted on returning home.

        Pramoedya is best known for his Buru Quartet series retracing the
        rise of Indonesian nationalism in the first decades of the 20th
        Century.

        The novelist, essayist and short story writer was nominated several
        times for the Nobel prize for literature, first in 1986, and was
        last year the only Indonesian to appear on a list of 100 leading
        intellectuals named by British magazine Prospect.

        Almost all his work was banned in Indonesia, where he spent many
        years in jail under three successive rulers.

        Pramoedya wrote eight of his novels, including the Buru tetralogy,
        during his 10-year stay at the infamous Buru island labour camp
        where he was sent after four years of detention at various other
        jails.

        Thousands of alleged communist members and supporters were also
        incarcerated on the island without trial.

        He received various awards including France's Chevalier of the Ordre
        des Arts et des Lettres and the Japanese Fukuoka Asian Culture Grand
        Prize, both in 2000.

        He also received the 1995 Ramon Magsasay Award for Journalism,
        Literature and Creative Communication Arts and, in 1992, the PEN
        Freedom to Write Award.






        --- In Diskusi-Pembebasan@yahoogroups.com, "Que se vayan todos !"
        <utkmilis@...> wrote:
        >
        > *Pramoedya Ananta Toer Tutup Usia*
        >
        > Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di rumahnya Jl Multikarya II
        No.26,
        > Utan Kayu, Jakarta Timur, Minggu (30/4) sekitar pukul 09.00 WIB.
        >
        > Pria yang dipanggil Pram itu dirawat di rumah tersebut sejak Sabtu
        sekitar
        > pukul 19.00 WIB karena ia meminta pulang ketika sedang menjalani
        perawatan
        > di ICU RS St Carolus Jakarta.
        >
        > Pram yang kini berusia 81 tahun dirawat di RS tersebut sejak Kamis
        (27/4)
        > malam, karena keluhan nyeri di dada, sesak nafas dan lemah karena
        sudah
        > seminggu tidak mau makan.
        >
        > Sepanjang Sabtu malam sampai Minggu pagi, Pram berkali-kali
        melewati masa
        > krisis tetapi ia sempat terjaga dan meminta lampu-lampu untuk
        dipadamkan
        > serta bertanya: "apakah sampah sudah dibakar?."
        >
        > Pada saat itu banyak pesan singkat (SMS) menanyakan kebenaran
        apakah ia
        > sudah meninggal.
        >
        > Dari pihak keluarga belum diperoleh informasi di mana pria yang
        lahir di
        > Blora pada 6 Februari 1925 dari pasangan Toer dan Saidah itu akan
        > dimakamkan.
        >
        > Sastrawan yang secara internasional sering dijuluki Albert Camus
        Indonesia
        > itu termasuk dalam 100 pengarang dunia yang karyanya harus dibaca
        sejajar
        > dengan John Steinbejk, Graham Greene dan Bertolt Berecht (dikutip
        dari Los
        > Angeles Time -red).
        >
        > Profil Pram juga pernah ditulis di New Yorker, The New York Time
        dan banyak
        > publikasi dunia lainnya. Karya-karyanya juga sudah diterjemahkan
        dalam lebih
        > dari 36 bahasa asing termasuk bahasa Yunani, Tagalok dan Mahalayam.
        >
        > *Kompas.com:* Minggu, 30 April 2006, 10:04 WIB
        >
        >
        >
        > * *
        >
        > *Pramoedya Kritis*
        >
        >
        >
        > Sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (81) yang
        baru saja
        > dilarikan ke RS St Carulus di Jakarta Pusat, Sabtu (29/4) kemarin
        dibawa
        > pulang ke rumahnya di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur. Namun
        keluarganya
        > menyatakan saat ini Pramoedya dalam keadaan kritis.
        >
        > Saat dihubungi Warta Kota melalui telepon, putrinya, Astuti dan
        salah satu
        > kerabat keluarganya Gunawan, mengatakan bahwa sastrawan yang
        pernah dua kali
        > dicalonkan sebagai peraih penghargaan Nobel itu, saat ini
        terbaring di
        > rumahnya di Jalan Multikarya II, Utan Kayu.
        >
        > Saat ditelepon keduanya menolak dasas-desus yang beredar melalui
        sistem
        > pelayanan (SMS) yang menyatakan bahwa Pram -- demikian dia kerap
        disapa --
        > telah meninggal. "Tidak benar kabar itu. Bapak sekarang berada di
        rumah.
        > Tadi bapak minta pulang saja," kata Astuti.
        >
        > Setelah Pram meminta pulang keluarganya pun menurutinya dengan
        menggunakan
        > ambulans. Sekitar pukul 18.30 WIB, Pram tiba di rumahnya.
        >
        > Seperti diberitakan Warta Kota, edisi Jumat (29/4) Pram masuk Unit
        Gawat
        > Darutar (UGD) RS St Carolus di Jalan Salemba Raya, Jakarta, Kamis
        (27/4)
        > lalu. Sebab, kondisi pria kelahiran Blora 6 Februari 1925 yang
        > dipulau-burukan oleh penguasa dan militer Orde Baru tanpa proses
        pengadilan
        > ini memburuk. Dalam pemeriksaan medis, tekanan darah Pram Pram
        yang cukup
        > lama menderita diabetes melitus tercatat 90-an, kadar gula dalam
        darahnya
        > tergolong tinggi.
        >
        > Setelah desa-desus di SMS beredar sejumlah kolega Pram tampak
        menjenguknya
        > langsung di Utan Kayu. Tampak di antaranya sejumlah tokoh yang
        mengenal
        > dekat Pram seperti budayawan yang juga rohaniwan Mudji Sutrisno SJ
        dan
        > mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman
        Sudjatmiko.
        > Pramoedya adalah salah satu anggota PRD.
        >
        > Sementara itu, menurut pantauan Warta Kota pihak keluarga dan
        kerabat yang
        > datang tampak membacakan doa seraya melafalkan tahlil.
        >
        > Pramoedya Ananta Toer adalah penulis produktif, meskipun atas
        tulisan dan
        > aktivitasnya dia acap dijebloskan ke penjara sejak masa Kolonial
        Belanda.
        > Pram dikenal dengan tetraloginya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa,
        Rumah
        > Kaca, dan Gadis Pantai. Namun, sastrawan yang sejumlah karyanya
        dilarang
        > beredar semasa pemerintahan Orde Baru itu telah menulis ratusan
        karya baik
        > fiksi maupun nonfiksi dan sebagian telah diterjemahkan ke puluhan
        bahasa di
        > dunia*.(wip)
        > *
        >
        > KCM, Minggu, 30 April 2006, 04:28 WIB
        >
        >
        > Sastrawan Besar Pramoedya Telah Tiada
        >
        > Minggu, 30 April 2006, 09:42:43 WIB
        > Laporan: Tuahta Arief
        >
        > Jakarta, Rakyat Merdeka. Setelah mengalami masa kritis, sastrawan
        angkatan
        > 45, Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia pukul 09.15 WIB tadi.
        Demikian
        > dikemukakan seorang anaknya, Yudhi saat dihubungi Situs Berita
        Rakyat
        > Merdeka beberapa menit lalu.
        >
        > Pram meninggal akibat penyakit gula. Selama ini dia mencoba
        bertahan dari
        > gempuran penyakit tersebut dengan pengobatan sendiri. Setiap hari
        ia
        > mengunyah bawang putih untuk menahan penyakitnya itu.
        >
        > Kamis lalu (27/4), Pram tak kuat lagi menahan sakitnya itu. Pihak
        keluarga
        > akhirnya memutuskan untuk membawanya ke RS St. Carolous. Setelah
        dirawat dua
        > hari, kondisinya tak kunjung membaik. Keluarganya pasrah dan
        membawanya ke
        > kediamannya di Jalan Multikarya II/26 Utan Kayu, Jakarta Timur,
        Sabtu
        > (29/4).
        >
        > Di rumahnya kondisi Pram naik turun, hingga menghembuskan nafas
        terakhir
        > Minggu pagi.
        >
        > Pram adalah sosok sastrawan yang mengalami penderitaan hebat kala
        dibuang di
        > Nusakambangan tahun 1965 dan selanjutnya dibuang ke Pulau Buru.
        Dia baru
        > menghirup kebebasan pada 1979.
        >
        > Meskipun terus diteror kekerasan, nyali Pram tak pernah surut. Dari
        > besutannya lahir Tetralogi Pulau Buru, Nyanyian Sunyi Seorang
        Bisu, Arus
        > Balik, Panggil Aku Kartini Saja hingga Mangir.
        >
        > Dia sempat dicalonkan menjadi nominator peraih nobel sastra pada
        1995.
        > Namun, dia tak sempat memperoleh anugerah bergengsi tersebut karena
        > alasan-alasan politis.
        >
        > Kini, Pram telah berpulang untuk selama-lamanya. Sebulan lalu,
        Pram sempat
        > meminta agar jasad dia dibakar saja. sam
        >
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.