Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

KECURANGAN PEMILIHAN PRESIDEN YANG MEMBAHAYAKAN BANGSA INDONESIA

Expand Messages
  • selamatkanindonesia
    KECURANGAN PEMILIHAN PRESIDEN YANG MEMBAHAYAKAN BANGSA INDONESIA Semua orang di dalam ruang sidang KPU tidak peka, jeli dan tajam dalam mengamati persoalan
    Message 1 of 1 , Jul 27, 2004
    • 0 Attachment
      KECURANGAN PEMILIHAN PRESIDEN YANG MEMBAHAYAKAN BANGSA INDONESIA

      Semua orang di dalam ruang sidang KPU tidak peka, jeli dan tajam
      dalam mengamati persoalan umum yang menyebabkan penundaan yaitu
      adanya ketidaksesuaian antara jumlah pemilih yang menggunakan haknya
      dan jumlah total suara sah dan tidak sah.

      Sebagai contoh di Banten yang jumlah pemilihnya tercatat 4.650.299
      orang namun total suara sah dan tidak sahnya sebanyak 4.894.625,
      kemana suara Golput yang terjadi yang pada pemlihan Presiden 2004 ini
      sangat signuifikan seperti yang telah diumumkan. Hal ini terjadi juga
      di beberapa propinsi. Kita perlu mencermati mengapa Tim Amien Rais-
      Siswono dan Wiranto-Wahid tidak mau menandatangani hasil perhitungan,
      karena mereka punya alasan kuat, dan dari contoh tersebut membuktikan
      adanya konspirasi yang kuat di KPU untuk mengatur hasil pemilihan
      presiden sebelum dimulai serta sangat kuatnya indikasi bahwa KPU
      pusat terdiri dari orang-orang yang tidak punya integritas, apalagi
      di beberapa media kemarin mengatakan bahwa KPU pusat korupsi dan
      kurang anggaran terus sehingga kerjanya bolak-balik minta anggaran,
      padahal terbukti dana anggaran IT yang 200 Milyar tidak digunakan
      secara bertanggungjawab karena ternyata data-data yang ditampilkan
      terbukti 20-30% tidak valid atau tidak sesuai dengan hasil di TPS dan
      ini memberikan data yang membohongi publik atau bahkan bisa
      dikatagorikan sebagai data acuan konspirasi penentuan hasil pemilihan
      presiden 2004.

      Data soal Banten ini sebelumnya pada tanggal 24 Juli dimuat di KOMPAS
      dimana berdasarkan data yang dibawa Fuad Sauqi, pemuda Banten memang
      terlihat jelas perbedaan perolehan suara dari data tabulasi nasional
      KPU dan datahasil Rekapituasi perhitungan di tingkat desa.
      W (479), MG(126), AR (115), SBY (149) dan HH (96) tetapi data yang
      mucul di tabulasi nasional W (345) berkurang 134 suara, MG (537)
      bertambah 411 suara, AR (62) berkurang 53 suara, SBY (209) bertambah
      60 suara dan HH (95) berkurang 1suara. Pertanyaannya apakah ini
      merupakan soal kecil karena memberikan contoh hanya di 1 TPS ?
      jawabnnya sungguh tidak kecil karena penginformasian terjadinya
      kecurangan-kecurangan ini telah diungkapkan oleh Tim Amien Rais dan
      Tim Wiranto, pada awalnya Chusnul Mariyah (anggota KPU) mengangapnya
      sebagai sebuah retorika tetapi ketika kedua Tim ini mempunyai data
      yang meyakinkan dengan jumlah kesalahan yang ditemukan sangat besar
      mencapai puluhan ribu TPS dan berita acara termasuk yang dipalsukan
      tanda tangan saksi serta berubahnya angka data perhitungan di TPS ,
      maka Chusnul baru mengganggapnya sebagai suatu yang "SERIUS".

      Contoh diatas jelas merupakan salah satu konspirasi untuk mengatur
      hasil perhitungan suara Pemilihan Presiden 2004 ini dismping yang
      lainnya seperti yang kita coba bongkar berikut ini :
      1. Desain awal kecurangan menurut sumber dari dalam KPU sendiri
      adalah dari desain lipatan kertas suara sehingga terjadi banyak
      kesalahan coblos yang mengakibatkanbanyaknya suara yang dianggap
      TIDAKSAH, dan suara inilah yang akhirnya "didagangkan" atau
      direkayasa. Hal ii terjadi karena suara yang dianggap tidak sah
      tersebut tidak didata dari tingkat TPS untuk setiap pasangan yang
      tercoblos tembus dengan jumlah masing-masing 2 tidak sahnya. Yang
      kedua adalah memanipulasi jumlah yang tidak memilih dan
      dikeluarkannya Surat Edaran 1151/15/VII/2004 tentang pencoblosan
      tembus yang "hanya" ditandatangani oleh Anas Urbaningrum.
      2. Suara-suara ini harus dapat dialihkan dengan tenang kepada
      pasangan calon presiden sesuai "Pesanan" yaitu 2 pasangan yang
      sekarang dianggap masuk putaran 2 sehingga diperlukan pengalihan
      perhatian sekaligus rumusan yang akan membuatasyarakat terkesima
      serta mempercayai hasilnya, tugas ini dilakukan oleh Quick Count,
      Data Tabulasi Nasional dan beberapa aktor Pengamat yang
      sudah "ditugaskan" yaitu Andi Malarangeng dan Wiliam Lidle yang
      selalu muncul di Metro TV. Dalam waktu 36 jam publik sudah terkesima
      dan takjub sekaligus mempercayai Indonesia telah berhasil memilih
      pemimpin untuk lolos ke putaran 2 secara demokratis. Ketika
      perhitungan suara mendekati 90 jutaan seakan-akan semua telah
      berakhir, padahal perhitungan manual belum dilaksanakan dan datanya
      ternyata 20% lebih berbeda dibandngkan hasil di TPS, PPS dan PPK
      sehingga selain sebagai kebohongan publik juga harus dianggap sebagia
      suatu yang konspiratif.
      3. Ketika semua mata melongo kepada TV masing-masing karena data
      dan bualan antek-antek itu maka secara cepat dan sistematis serta
      terarah dilakukanlah permainan yang sebenarnya yaitu merubah jumlah
      suara yang tidak sah akibat tercoblos tembus menjadi suara yang sah
      sesuai dengan "pesanan" capres tertentu. Indikasi tidak cocoknya
      jumlah pemilih hasil pilihan sah, tidak sah dan Golput dengan data
      TNP tidak cocok dengan data lapangan, juga dijualnya kertas suara
      hasil pilpres dapat dicurigai sebagai bukti untuk mengilangkan jejak
      dan terbakarnya rumah salah satu anggota KPUD di Papua yang di
      rumahnya terdapat banyak kertas suara yang belum tercoblos.
      4. Permainan berikutnyaadalah tidak memasukan suara-suara
      pemilihan presiden diluar yang dikehendaki jika angka kemenangannya
      menco;ok,menambah atau mengurangi mulai dari suara sampai TPS supaya
      prosentase kenaikan suara calon presiden tetap seperti yang kita
      lihat (dari mulai sampai akhir prosentasenya tetap, padahal banyak
      alasan). Di sisi lainnya alasan KPU adalah adanya 36 ribu TPS yang
      tidak dapat dibuka datanya dengan angka suara 9 jutaan karena Nomor
      Pin lupa dan suara ini nantinya akan dijadikan sebagai suara yang
      abstain atau tidak sah. Perhitungan di PPS dan PPK tanpa dilakukan
      dengan saksi apalagi beberapa Bupati di daerah diperintahkan untuk
      menganggap hasil perhitungan suara ini sebagai rahasia negara
      sehingga tidak boleh diketahui masyarakat. Padahal disitulah inti
      penipuannya.
      5. Hasil akhirnya adalah data Tabulasi Nasional tidak akan cocok
      dengan hasil data manual, dengan data yang ada di GOLKAR dan data
      dimanapun, apalagi jika lebih dirinci. Oleh karenanya jka KPU jujur
      maka KPU harus emmberikan perbandingan antara data-data hasil TNP
      sampai tingkat TPS dibandingkan dengan data hasil perhitungan manual
      serta lampiran-lampiran berita acara setiap TPS-nya sehingga bersih
      dari rekayasa
      6. Permainan terakhir adalah beberapa anggota KPU berkonspirasi
      untuk mensahkan hasil Pilpres ini. Pola ini terjadi seperti pada
      Pemilu 1999 dan Pemilu Legislatif 2004.

      Jadi hasil Pemilihan Presiden 2004 ini akhirnya hanya Tuhan yang tahu
      dan yang terjadi saat ini adalah hasil rekayasa dan konspirasi dengan
      permainan diatas.


      Semoga bermanfaat, jika sepata mohon disebarkan ke teman-teman.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.