Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Jusuf Kalla , Si Pengkhianat Ingin Jadi Pemimpin

Expand Messages
  • selamatkanindonesia
    Kalau saja Jusuf Kalla (JK) adalah seorang pemain sepak bola, dia mungkin bisa saja sekelas Roberto Carlos. Kecil, lincah, pandai melihat dan memanfaatkan
    Message 1 of 2 , Jun 28, 2004
    • 0 Attachment
      Kalau saja Jusuf Kalla (JK) adalah seorang pemain sepak bola,
      dia mungkin bisa saja sekelas Roberto Carlos. Kecil, lincah, pandai
      melihat dan memanfaatkan peluang dan tajam. Bagi Roberto Carlos,
      sifat ini sangat mendukung perannya sebagai pemain gelandang dalam
      permainan sepak bola.
      Tapi bagaimana jika karakter dan sifat ini dimiliki oleh
      seorang calon wakil pemimpin bangsa yang besar seperti Indonesia??
      Jusuf Kalla (JK), bisa dianggap memiliki karakter ini. Tapi tunggu
      dulu, tidak serta merta karakter ini mendukung peran JK bagi
      perbaikan bangsa. Karena kita harus jeli dan kritis dalam melihat
      setiap langkah dan perilaku calon-calon pemimpin kita.
      Kita tahu, JK merupakan seorang pengusaha. Sebagai pengusaha,
      JK senantiasa menggunakan prinsip-prinsip bisnis baik dalam aktifitas
      sosial, politik maupun kebangsaan. "Pengeluaran sekecil-kecilnya tapi
      dapet hasil segede-gedenya, peluang harus disikat, kalo tidak ada
      peluang maka ciptakan peluang". Kalau prinsip ini digunakan dalam
      sebuah permainan/game maka akan menjadi permainan yang asyik. Tapi
      kalo prinsip ini digunakan seseorang untuk ngurus negara, bisa hancur
      negara ini. Karena pasti akan menghilangkan etika, moralitas,
      persahabatan dan kenegarawanan.
      Ternyata prinsip bisnis ini yang dipegang oleh JK dalam
      berpolitiknya, termasuk pencalonannya sebagai wakil presiden. Kita
      masih ingat betul bahwa ketika kampanye parlemen JK sangat menekankan
      perlunya komitmen dan kesetiaan terhadap kebijakan DPP Partai Golkar,
      termasuk dalam hal konvensi Golkar. Artinya siapapun yang terpilih
      maka harus diperjuangkan oleh segenap kader dan simpatisan Golkar.
      Pada waktu itu JK masih menjadi kontestan/peserta konvensi Golkar.
      Karena JK tahu tidak sekuat kandidat lain, akhirnya dia mengundurkan
      diri dari konvensi. Tapi bukannya kemudian memperkuat barisan untuk
      mendukung keputusan konvensi, malah menjadi orang pertama yang
      mengkhianati konvensi Golkar. Hal ini berarti pula mengkhianati
      kebijakan DPP Golkar. Artinya JK telah menjilat ludah yang telah
      dibuangnya, tidak konsisten dan tidak bisa dipercaya.
      Penulis tidak mengajak untuk berempati kepada Golkar, toh itu urusan
      Golkar sendiri. Hanya kita sebagai anak bangsa perlu melihat dan
      kritis dalam melihat perilaku calon pemimpin kita. JK selalu
      mengatakan bahwa ini adalah peluang dia untuk menjadi pemimpin
      nasional, karena telah dilamar SBY. Ya..memang ini peluang, tapi
      peluang ini diambil dengan mengkhianati sekian juta pengurus, kader
      dan konstituen P Golkar. Dan pengkhianatan ini telah mencoreng ide
      konvensi yang dianggap sebagai hal yang demokratis dan terbuka.
      Sangat nyata bahwa JK tidak peduli dengan etika dan moral berpolitik.
      Dalam hal ini, penulis ingin bertanya masih pantaskah seorang yang
      telah menghianati teman-teman seperjuangannya menjadi pemimpin negeri
      ini. Bahasa mudahnya, teman aja dipukul apalagi yang bukan teman…
      Di sisi lain, meski JK selalu mendeklarasikan keberpihakan kepada
      bangsa, jangan-jangan ketika sudah menjadi pemimpin, jiwa dan prinsip
      bisnisnya kambuh lagi. Karena peluang akan semakin besar, pengeluaran
      akan lebih sedikit dan hasil akan berlimpah…Jadi hati-hati dengan
      asset Anda, keluarga, bangsa dan negara ini. Siapa tau akan
      diambilnya juga…
      Amarta
      Koalisi masyarakat peduli politik rakyat
    • akbar
      kawan... ingin rasanya waktu ini kembali berputar. angan-angan membayangkan, sepertinya lebih baik tidak perlu ada reformasi di negara ini. darah yang
      Message 2 of 2 , Jul 5, 2004
      • 0 Attachment
        kawan...

        ingin rasanya waktu ini kembali berputar. angan-angan
        membayangkan, sepertinya lebih baik tidak perlu ada
        reformasi di negara ini. darah yang ditumpahkan para
        mahasiswa dan sebagian anak bangsa ini, ternyata tidak
        ada lagi gunanya. semuanya hanya sia-sia. bahkan hanya
        menjadi cerita dan sejarah yang mengesalkan jika harus
        kembali mengenang.

        aku, memang kesal. kesal...bukan karena tidak bisa
        menghadapi kenyataan. tetapi, kekesalan itu muncul
        akibat masih 'BODOH'nya masyarakat di negara yang
        dinilai telah terbelakang secara pendidikan (versi
        UNDP). kami tak tahu lagi mana yang baik, dan mana
        yang buruk. semuanya sudah tertutup dengan 'belas
        kasih' semu dan bayang-bayang dari pendiri negara ini
        yang ternyata seorang diktator.

        aku masih ingat bagaimana pekik mahasiswa yang hanya
        mengandalkan kepalan tangan untuk meminta perubahan di
        negara ini harus disambut dengan berondongan
        peluru-peluru tajam yang dimuntahkan para serdadu.
        saat itu, aku melihat dan merasakan, betapa takutnya
        kami semua kepada para serdadu yang terlihat bangga
        dengan seragam lorengnya. ganas dan bengis. tetapi aku
        ingat, mereka itu hanyalah pion-pion yang
        diinstruksikan para pimpinannya.

        dan aku juga ingat-- suatu sore di bawah jembatan
        slipi sehari sebelum tragedi semanggi-- bagaimana
        seorang serdadu tak kuasa menarik pelatuk senapan ke
        arah kami. ia terlihat 'iba' saat dirinya harus saling
        berhadapan dengan saudara-saudara dan anak-anak mereka
        sendiri. mereka--para serdadu itu--askhirnya hanya
        bisa diam dan menutup mata hati demi sebuah
        'kesenangan' para jenderal dan penguasa ketika itu.

        ironis memang menjadi orang-orang suruhan. tetapi
        menjadi lebih ironis lagi tat kala melihat sepak
        terjang bangsa ini pasca reformasi. iming-iming
        perubahan yang akan dilakukan para pemimpin terpilih
        pasca reformasi, ternyata hanya menjadi sebuah ilusi.
        kemelut negeri ini pun tak kunjung terselesaikan.

        bahkan, mereka yang mengaku kaum reformis kesiangan
        itu, terlihat begitu menikmati dengan kondisi bangsa
        yang memang sedang limbung. mereka bisa nilep uang
        kami dengan sesuka hati, tanpa harus malu-malu. mereka
        juga tahu kalau polisi, penegak hukum, dan kita semua
        memang bisa di beli dan disumpal oleh
        lembaran-lemarban rupiah. naif dan menggelikan.

        tetapi ketika pintu perubahan itu mulai terbuka
        melalui proses pemilihan presiden secara langsung yang
        di gelar 5 juli, ternyata kita semua tanpa menyadari
        telah menutupnya kembali secara rapoat-rapat. ya, kita
        semua telah menutupnya kembali dan membenamkan
        harapan-harapan kami punya di waktu lampau.

        sekali lagi aku kesal. mengapa orang-orang yang
        memiliki dosa-dosa di masa lampau dan terbukti tidak
        mampu membawa bangsa ini keluar dari masalah, ternyata
        kembali mendapat kepercayaan dari kami semua. kami
        semua!

        sungguh, aku tak bisa membayangkannya. bagaimana
        bodohnya kita semua ini. aku pun merasa tak yakin,
        apabila pemimpin yang terpilih melalui proses paling
        demokratis ini bakal mampu membawa perubahan seperti
        yang kita inginkan.

        memang, para capres itu tak lagi mengenakan seragam
        militer. tetapi, kami sebagai warga sipil bertanya
        apakah mereka mampu mengusut kami punya kasus di
        semanggi 4 tahun silam? ataukah juga mereka akan mampu
        membuka tabir kelam 27 juli yang memang telah
        melibatkan institusi mereka

        selanjutnya juga, meski bukan dari kalangan militer,
        apakah bayang-bayang pendiri bangsa ini mampu
        mengilhami salah seroang calon pemimpin bangsa ini
        membawa kami keluar dari krsisis yang tak kunjung
        usai. ataukah juga, dengan bekal nama besar sang ayah,
        hanya cukup menjadi modal 'berdagang' guna mencari
        keuntungan besar dengan cara membodohi kami!

        aku tidak rela, sungguh...tidak rela!


        akbar

        maaf, ini hanya sekedar ekspresi setelah saya melihat
        hasil penghitungan sementara pilpres hingga senin
        malam pukul 22.00 WIB. sekali lagi, saya tidak ingin
        menyingung perasaan teman-teman semua, tetapi inilah
        kenyataan yang akan kita hadapi lima tahun mendtang!!






        "selamatkanindonesia" <selamatkanindonesia@...>
        wrote:
        >
        >
        > Kalau saja Jusuf Kalla (JK) adalah seorang pemain sepak
        >bola,
        >dia mungkin bisa saja sekelas Roberto Carlos. Kecil,
        >lincah, pandai
        >melihat dan memanfaatkan peluang dan tajam. Bagi Roberto
        >Carlos,
        >sifat ini sangat mendukung perannya sebagai pemain
        >gelandang dalam
        >permainan sepak bola.
        > Tapi bagaimana jika karakter dan sifat ini dimiliki oleh
        >seorang calon wakil pemimpin bangsa yang besar seperti
        >Indonesia??
        >Jusuf Kalla (JK), bisa dianggap memiliki karakter ini.
        >Tapi tunggu
        >dulu, tidak serta merta karakter ini mendukung peran JK
        >bagi
        >perbaikan bangsa. Karena kita harus jeli dan kritis dalam
        >melihat
        >setiap langkah dan perilaku calon-calon pemimpin kita.
        > Kita tahu, JK merupakan seorang pengusaha. Sebagai
        >pengusaha,
        >JK senantiasa menggunakan prinsip-prinsip bisnis baik
        >dalam aktifitas
        >sosial, politik maupun kebangsaan. "Pengeluaran
        >sekecil-kecilnya tapi
        >dapet hasil segede-gedenya, peluang harus disikat, kalo
        >tidak ada
        >peluang maka ciptakan peluang". Kalau prinsip ini
        >digunakan dalam
        >sebuah permainan/game maka akan menjadi permainan yang
        >asyik. Tapi
        >kalo prinsip ini digunakan seseorang untuk ngurus negara,
        >bisa hancur
        >negara ini. Karena pasti akan menghilangkan etika,
        >moralitas,
        >persahabatan dan kenegarawanan.
        > Ternyata prinsip bisnis ini yang dipegang oleh JK dalam
        >berpolitiknya, termasuk pencalonannya sebagai wakil
        >presiden. Kita
        >masih ingat betul bahwa ketika kampanye parlemen JK
        >sangat menekankan
        >perlunya komitmen dan kesetiaan terhadap kebijakan DPP
        >Partai Golkar,
        >termasuk dalam hal konvensi Golkar. Artinya siapapun yang
        >terpilih
        >maka harus diperjuangkan oleh segenap kader dan
        >simpatisan Golkar.
        >Pada waktu itu JK masih menjadi kontestan/peserta
        >konvensi Golkar.
        >Karena JK tahu tidak sekuat kandidat lain, akhirnya dia
        >mengundurkan
        >diri dari konvensi. Tapi bukannya kemudian memperkuat
        >barisan untuk
        >mendukung keputusan konvensi, malah menjadi orang pertama
        >yang
        >mengkhianati konvensi Golkar. Hal ini berarti pula
        >mengkhianati
        >kebijakan DPP Golkar. Artinya JK telah menjilat ludah
        >yang telah
        >dibuangnya, tidak konsisten dan tidak bisa dipercaya.
        >Penulis tidak mengajak untuk berempati kepada Golkar, toh
        >itu urusan
        >Golkar sendiri. Hanya kita sebagai anak bangsa perlu
        >melihat dan
        >kritis dalam melihat perilaku calon pemimpin kita. JK
        >selalu
        >mengatakan bahwa ini adalah peluang dia untuk menjadi
        >pemimpin
        >nasional, karena telah dilamar SBY. Ya..memang ini
        >peluang, tapi
        >peluang ini diambil dengan mengkhianati sekian juta
        >pengurus, kader
        >dan konstituen P Golkar. Dan pengkhianatan ini telah
        >mencoreng ide
        >konvensi yang dianggap sebagai hal yang demokratis dan
        >terbuka.
        >Sangat nyata bahwa JK tidak peduli dengan etika dan moral
        >berpolitik.
        >Dalam hal ini, penulis ingin bertanya masih pantaskah
        >seorang yang
        >telah menghianati teman-teman seperjuangannya menjadi
        >pemimpin negeri
        >ini. Bahasa mudahnya, teman aja dipukul apalagi yang
        >bukan teman?
        >Di sisi lain, meski JK selalu mendeklarasikan
        >keberpihakan kepada
        >bangsa, jangan-jangan ketika sudah menjadi pemimpin, jiwa
        >dan prinsip
        >bisnisnya kambuh lagi. Karena peluang akan semakin besar,
        >pengeluaran
        >akan lebih sedikit dan hasil akan berlimpah?Jadi
        >hati-hati dengan
        >asset Anda, keluarga, bangsa dan negara ini. Siapa tau
        >akan
        >diambilnya juga?
        >Amarta
        >Koalisi masyarakat peduli politik rakyat
        >
        >
        ===========================================================================================
        "Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, langsung dapat akses Internet Gratis..
        Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info hub : TELKOM Jatim 0-800-1-467826 "
        ===========================================================================================
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.