Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fwd: 2013 Bersama Naga Bijaksana ~ Jehovan Moningka Liu

Expand Messages
  • Mulyadi Dharmadi Liu
    *2013 Bersama Naga Bijaksana ~ Jehovan Moningka Liu* Teman-teman, Semua dari kita tentu melewati 2012 dengan hal yang menyenangkan maupun yang kurang
    Message 1 of 1 , Jan 16, 2013
    • 0 Attachment




      2013 Bersama Naga Bijaksana ~ Jehovan Moningka Liu

       

      Teman-teman,

      Semua dari kita tentu melewati 2012 dengan hal yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan.  Namun jika kisah ini dirasa kurang menyenangkan untuk disimak, teman bisa lewatkan saja… 

       

      Masa Kelam Dipenghujung 2012

      Pertengahan 2012, kembali saya mengusulkan kepada ibu untuk mengajak ayah mendapat terapi cuci usus di sebuah klinik endoskopi. Kepada ibu, saya jelaskan metode cuci usus itu ibarat pembersihan rutin dengan menggelontorkan air pada selokan yang banyak endapan lumpurnya. Jika usus papi bersih, pencernaan serta metabolisme lebih berkwalitas, maka papi akan semakin sehat dan bugar.

      Mungkin dengan tujuan  mencari opini kedua, tanpa mengkonfirmasi saya, 4 Oktober ayah dibawa dan  diinapkan di rumah sakit terkenal langganan ayah. Sementara rumah sakit itu tidak memiliki fasilitas cuci usus, dokter menyatakan bahwa cuci usus adalah omong kosong.  Setelah diperiksa,  dokter menyatakan terindikasi tersakit lever sehingga diinfus beberapa botol albumin (protein).  Sekitar beberapa hari bosan bertiduran di kamar VIP serta kenyang oleh albumin, ayah kurang  selera makan  makanan rumah sakit yang menurut ibu tawar/ tidak enak. Sementara macet perjalanan membawa bakso kesukaan, saya meminta ibu supaya ayah jangan dipasangkan slang makanan. Setibanya di rumah sakit,  pada hidungnya sudah terpasang slang melewati kerongkongan menuju lambung. Karena pada kerongkongan terisi selang plastik, saya hanya berani menyuapi ayah kuah kaldu. Saat itu ayah sempat memuji kelezatan kuah makanan terakhirnya: “Enak…”, katanya.

      Tidak lama setelah dipasangkan slang makanan, ayah dipindah ke ICU karena terkena diare. Saat kami tengok, ayah tampak  cemas, kedinginan dan kesakitan karena dipasangi slang kateter. Ayah juga ketakutan karena selama di ruangan profit center rumah sakit itu, beliau tidak boleh ditemani keluarga serta bersebelahan dengan pasien-pasien sekarat yang kebanyakan bergantian  meninggal.

      Pada slang transparan kateter tampak bercak-bercak darah sehingga air seni dalam plastik penampungan berwarna kemerahan. Kepada perawat, saya pesankan agar dokter  ayah di mengizinkan ayah kencing secara normal dengan ditampung kantong plastik yang diberi lubang. Di rumah atau jika berjalan-jalan ayah biasa memakai kantong plastik, lebih praktis dan tidak ada masalah. Jika sudah terisi/ penuh bisa langsung dibuang.  Menjawab pertanyaan saya, suster mengatakan atas perintah ahli gizi, makanan yang diinjeksikan pada slang di hidung hanya larutan susu bubuk. Saya minta suster untuk memberti tahukan dokter gizi rs, bahwa orang dewasa membutuhkan serat, karena susu adalah nutrisi untuk bayi. Seandainya suster, saya bahkan dokter makannya hanya susu, sudah pasti mencret diare.

      November 2011, ayah juga dibawa kontrol ke rs terkenal itu, mungkin karena nutrisinya susu bubuk juga, ayah kemudian dilanjutkan perawatan ICU karena diare yang kemudian dstop obat penghenti BAB. Setelah 3 minggu menderita dengan perut membuncit karena tidak bisa BAB, sementara kemaluan bengkak karena dimasukki slang kateter, rs bermaksud memulangkan ayah kami. Sebelum dipulangkan, saya minta suster rs melakukan irigasi (memasukkan 1 liter air dengan slang karet diameter 6mm lewat anus).  Setelah berteriak mulas yang diteruskan 2x semburan ‘lumpur-belerang Lapindo’ sebanyak 0,8 liter + 2 liter, ayah tampak merasa enteng tuntas. Beliau menyampaikan terima kasih sambil mengacungkan jempol dan menyalami kami.

      Saya memang sering meminta izin ibu supaya untuk membantu kontraksi usus, sesekali boleh melakukan irigasi supaya BAB ayah tuntas. Sebulan sebelumnya, saya  membantu bu Ansye memasukkan air dengan slang irrigator. Namun irigasi pertama di Bogor itu kurang tuntas, karena baru letupan-letupan awal sudah distop mami yang ketakutan.

      Saat jenguk berikutnya, karena kateter belum dicopot, saya meminta suster untuk mencabutnya. Karena dokter jaga enggan menemui saya, suster jaga itu kemudian melepaskan kateter itu. Ayah tampak merasa lega dan aman, sehingga berkali-kali menyalami serta menggengam erat tangan saya. Apalagi saya bilang: “ Bulan depan saya dan Ansye akan kasih hadiah cucu laki-laki, she Lauw, buat akung. Akung ikut jemput di rumah bersalin ya..?”. Walau tidak ingin ditinggalkan, mata ayah tampak berbinar semangat, karena saat melepaskan genggaman erat tangannya, saya katakan hampir terlambat menjemput bu An yang saya drop di rs kandungan.

      Esoknya saya sangat marah karena mengetahui bahwa kateter itu sudah dipasangkan kembali. Karena takut atas informasi yang membodohi, ibu tidak berani mengajak ayah meninggalkan rumah sakit itu. Kasus perumah sakitan ayah, sebenarnya bukan alasan kesehatan semata, namun cenderung persaingan kekuasaan serta keberanian menggelontoran uang. Ada kemiripan bisnis rumah sakit itu dengan bisnis rumah makan yang mempunyai 100 macam masakan dengan 20 sales yang berperan sebagai pelayan. Tamu yang memegang uang terlalu banyak, boleh memesan setiap masakan apapun yang diusulkan pelayan. Jika harga bukan lagi merupakan masalah, tinggal tanda tangani pesanan, tindakan segera diberikan sesuai permintaan`

      Sekitar sebulan ayah menderita ketakutan, kedinginan, nyeri, bosan dan stress, sementara topik sakit lever maupun diare sudah tidak pernah dibicarakan lagi, ayah mendapatkan tindakan baru.  Dari mulut dimasukkan selang melewati kerongkongan, sehingga untuk bernapas kini diatur oleh mesin. Menurut dokter, untuk menahan rasa sakit dan tidak nyaman karena selang itu, ayah diberi suntikan morfin. Menurut dokter jaga, ayah mengalami sesak napas kronis (COPD)  yang menurutnya harus dibuatkan lubang udara pada leher ayah. Ketika saya minta dipinjamkan stetoskop, beberapa menit dokter itu tertawa dengan gelinya. Kemudian dokter itu menunda tawa sejenak, menyuruh perawat untuk meminjamkan stetoskop, serta meninggalkan kami sambil melanjutkan tawa gelinya.

      Selama belasan tahun kami melayani dan menemani ayah, belum pernah sekalipun ayah mengalami sesak napas. Bagaimana mungkin baru sebulan di rumah sakit, tiba-tiba dinyatakan menderita sesak napas yang dinyatakan kronis (menahun).  Sementara kami biasa mengajak ayah tamasya  ataupun keliling taman perumahan, tidak pernah sekalipun mengalami sesak napas. Bahkan tabung oksigen yang sudah 13,5 tahun tersedia di rumah, karena tidak perlu, belum pernah sekalipun kami gunakan.

      Sepulang mengikuti symposium dari Bandung, ibu meminta saya pergi ke ICU rs. Malam itu saya bersama ibu dan semua anak-mantu berkumpul di ruang privat ICU. Di kamar itu, sementara badannya masih hangat, nadi dan tensi baik, napas yang teratur dengan mesin pompa. Namun sementara itu saya lihat diapragma matanya tidak bereaksi (mengecil) terhadap cahaya baterai. Saat tapak kaki saya gosok dengan kuku, tidak ada gerakan reflex pada telapak kakinya. Saya sadar bahwa itu menunjukkan bahwa gerak refleksnya dari syaraf tulang belakangnya sudah tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya. Walau demikian, saya mengajak, bu An, ibu dan adik-adik untuk beriman berdoa memohonkan mujizat.

      Setelah kami pulang, baru tidur sebentar, bu Ansye membangunkan saya karena hp saya berbunyi. Dinihari 11 November saya ke rumah sakit karena jam 03 wib ayah sudah wafat. Pagi itu kami ke rumah duka Bogor. Saat dimandikan, bukan hanya kemaluannya yang bengkak. Mulutnya yang menganga sudah ditutup dengan selotape.  Hampir seluruh kulit tubuh bagian belakang  gosong kehitaman dan sebagian kulit mengelupas.

      32 tahun lalu ketika kuliah  di FTA Unpar, seorang psikiater mengindikasikan saya terlalu banyak menghayal sehingga tidak bisa melihat kenyataan, sehingga saya dirawat paksa di RSJ. Demikan pula 30 tahun lalu ketika saya di FTS Unpar, saya kembali dirawat paksa di RSJ dengan tuduhan mengalami halusinasi. Tuduhan, perlakuan,  konsumsi  obat2an psikotropika selama bertahun-tahun karena mis-diagnosa  itu, masih menyisakan trauma yang kadang menimbulkan rasa tidak percaya diri, takut bertemu orang, serta kegugupan yang kadang terasa hingga saat ini.  Kini saya pahami bahwa orang sehat yang dibawa dan berlama-lama di rumah sakit terkenal bahkan mahal, dianggap,  dirawat dan diperlakukan sebagai orang sakit tidaklah menjadi lebih sehat.  Ia akan ketakutan, menderita sehingga menjadi sakit sungguhan  bahkan bisa meninggal.

      Rumah sakit menyatakan ayah meninggal karena kekurangan oksiegen akibat sesak napas menahun (COPD). Kebalikannya, saya meyakini bahwa ayah menderita hingga meninggal di rumah sakit akibat mal praktek, kesombongan yang ditutup dengan pemberian suntikan morfin yang over-dosis. Ayah meninggal secara menderita dan dalam keadaan fly setelah mendapat suntikan morfin yang over dosis.

      Saya memiliki sejumlah petunjuk kongkrit mengenai kejahatan ini. Namun saya kira tidak guna memperpanjang masalah ini.

      Menanti Kehadiran Fajar Yang Baru

      Rasa marah dan kecewa yang terakumulasi dalam sub-concious-mind selama 2 bulan itu,  menurunkan sistim kekebalan serta pencernaan. 24 November, tampak bintik-bintik cacar air serta gangguan maag terasa secara berbarengan.  Rasa bega dan perih karena  over-produksi asam lambung  menyebabkan saya tidak bisa minum anti virus untuk atasi sakit cacar. Semua obat maag serta suntikan dari dokter di Bogor untuk menetralisir  asam lambung tidak banyak membantu.

      Dalam keadaan sulit itu, saya bersyukur karena akhirnya saya mendapat resep pamungkas yang menghentikan sakit maag. Nso sepupu (juga tetangga kami di Bogor) menyarankan agar setiap pagi dan malam saya minum sekitar 25cc air perasan kunyit (= rimpang/ curcuma) yang diparut.  Ajaib…!  Rasa bega dan perih seketika mereda. Esoknya saya sudah tidak lagi ke rumah sakit untuk suntikan penetral asam lambung. Bahkan  lusanya saya putuskan untuk melepaskan semua obat dari dokter. Setelah seminggu lambung saya sembuh total dan pada minggu ke2 saya  menghentikan minum jus kunyit itu.

      Sementara pemulihan, bu Ansye dan beberapa teman sering mengingatkan saya untuk bersyukur.  Jangan balas kejahatan dengan kejahatan, karena membalas kejahatan bukan hak kita. Jangan sampai raport saya jadi ikut merah karena mengikuti cara-cara jahat itu.

      Oya, teman. Saya, bu An, beberapa karyawan yang tinggal bersama kami sering mengalami kejadian-aneh selama 40 hari pasca wafatnya ayah . Walau mungkin cukup menarik, cerita itu bisa dianggap berbau tahayul. Dari kejadian-kejadian itu membuat saya menduga bahwa selama 40 hari pasca seorang meninggal secara tidak wajar, arwahnya masih dekat dan bisa menyatakan diri kepada orang-orang terdekat yang hidup di alam fana.

      ~ ~ ~

      Bersamaan pulihnya sistim kekebalan tubuh secara alamiah cacar air saya mengering. Sayangnya karena tidak bisa minum anti-virus, cacar air itu meninggalkan sangat banyak bekas tanda kehitaman pada muka dan sekujur tubuh saya. Pak Yuming, teman SMA memprediksi bahwa vlek hitam itu baru akan hilang hingga 5 bulan ke depan. Namun berkat cairan kapsul kosmetik yang diberikan bu Ansye, wajah saya yang sebelumnya sangat macho dengan loreng kehitaman, saya perkirakan akhir Januari ini sudah kembali mulus. (“Tapi nanti papa jangan terlalu ganteng dong…”,  pesan bu An bercanda). Bahkan seorang teman memberi tahu bahwa ada dokter kulit yang bisa memberi suntikan untuk menghilangkan noda cacar. Mungkin nanti saya coba. Asal jangan mal-praktek aj….

      Apoh menggantikan saya menemani bu An yang melahirkan putra kami pada tanggal 3 Desember. Memang sementara sakit cacar,  bu An, Elsha, Dona yang menemani apoh tinggal terpisah dengan saya yang pulang ke toko. Bahkan saya baru berani menggendong putra kami setelah Jovan berusia 2 minggu. Nelongso banget…

      Setelah cacar mengering, saya kembali ke rs Bogor. Dokter menyarankan saya tidak usah meminum anti virus karena saya dianggap sembuh. Namun karena takut menulari Jovan, saya meminum acyclovir (anti-virus) dalam dosis 800mg selama 3 minggu. Namun atas saran dokter yang lain, demi keamanan Jovan, saya minum lagi dengan dosis 4 gram selama 5 hari. Walau penggunaan acyclovir tablet dan cream tidak bisa mengurangi vlek hitam, tapi acyclovir ternyata menyembuhkan alergi lama serta bisa menyebabkan kutil jadi kisut bahkan lepas dengan sendirinya.

      Habis Gelap Terbitlah Terang

      3 Desember 2012, bu An melahirkan seorang putra.

      Anak kami yang ketiga itu kami namakan Jehovan Moningka Liu (Jovan). Menurut penanggalan Tiong Hoa, Jovan lahir pada tahun naga air. Menurut Mr. Raymond Lo (master Feng Shui dari Hongkong, guru dari suhu Djohar Koh), walau teoritis shio naga dan shio babi adalah ciong (tidak cocok), namun karena tanggal dan jam kelahirannya tepat, ia bisa cocok dengan keluarga kami.

      Sebelum kelahiran Jovan, atas undangan dari pak Sugiri Kusteja, saya dan pak Eduard Ladasi mengikuti Simposium Nasional Arsitektur Feng Shui (SNAFS) di gedung pasca sarjana Unpar- Bandung. Dalam acara nostalgia di Bandung, saya teringat ngko Liong Gie, sepupu saya humoris dari FTS Unpar yang senantiasa menemani dikala sepi. Karena tahun kelahiran Jovan adalah juga shio naga (liong), saya putuskan untuk memberi Jovan dengan nama kecil Liong Gie (Lung Yi= Naga Bijaksana) seperti nama oom humoris yang lucu itu.

      Walau mendapat nama Tiong Hoa: Lau Liong Gie (= Liu Lung Yi) dan cukup ganteng (mirip  papa),  seperti juga Elsha, parasnya cenderung lebih Manado dibanding Tiong Hoa. Kami bersyukur putra kami bertumbuh sehat, kuat dan tubuhnya sangat cepat besar. Mungkin itu karena ia berkesempatan memperoleh nutrisi ASI yang banyak melimpah.

      Saya kini sudah sehat dan kembali bersama bu Ansye, Elsha, Dona serta Jovan yang kebanyakan tinggal di kota Bogor menemani apoh. Kami sudah melewati kedukaan serta situasi sulit. Kini setelah kami kembali bersama, lima kali sehari kami bersyukur dengan sembahyang bersama. Allah memberkati dan melindungi keluarga kami; Papa, mama, Elsha, Dona, Jovan, apoh, opah, keluarga Tomohon, saudara, keuangan, toko, orang-orang mendukung, kontribusi kami. Terima kasih.

      Tiap malam hari saat letih bekerja, saya pura-pura mengetuk pintu: “Tok-tok-tok, papa… datang…” supaya Elsha dan Dona yang sedang loncat-loncat atau perang bantal pada busa di atas lantai, sempat untuk sembunyi dibawah selimut. Sementara papanya mencari-cari ke dalam lemari dan di bawah bantal, biasanya Dona tidak tahan untuk tidak cekikikan, sehingga lebih dulu kena gigit papanya.

      Jika papa jadi Shirkan (macan), Elsha jadi Mogli (bocah) ato Abu (anak gajah), Dona jadi Moli (serigala). Jika  papa pura-pura jadi buaya, kancil Dona mengajak cici Elsha: “Ayo kita se-ang…!” dengan menduduki dan memeluk punggung ‘buaya’ sehingga tidak bisa menggigit cicinya. Bahkan kadang mamanya yang semula netral ngelindungi Jovan supaya tidak terinjak, bisa larut terbawa emosi ikutan ngebantu para kancil dengan kitikan yang menye-ang buaya: “He-boooh…”

      Oya,

      Terima kasih untuk simpati, doa serta salam teman2 milis, khususnya keluarga cihu Handaka Tania (suhu perguruan AlamSemesta);  Kel. Tjoa Ju  Ming, Titus& Joanne, Gunawan& Ani, kel Lily M. Hendry, kel. Hendrato D, kel. Ina Pattinama, kel. Ling Ling, kel. Handoko TW, kel. Wendy Sugianto, kel. Sugihartono, kel. Sinar  (FonsVitae ~ FT Unpar);  Diana Sari, Adrie& Vidia Sengkey, Yen Pri& Okdi,  kel. Hanny Lau Oldham (Indosatu ~ Aussie);  Yuli Tjia (ToastMaster); Andi Savero, pDesvan, pBudi Riawan (BlueMountains ~ LP AsiaWorksTrainings); Nonon& Aileen, pak Alim/ Vendy& Syahbana (SalamIndonesia), Audy (Proletar), Ommie RumahKitaBersama, …

      Teman2,

      Menjelang akhir Desember 2012, saya membarui penawaran konsep beberapa solusi kepada Gubernur Joko Widodo, Menhub E. E. Ma ngindaan dan pejabat Menpora. Mudah-mudahan agar dalam waktu dekat permohonan audiensi saya bisa dikabulkan oleh pejabat bersangkutan.

      Teman2,

      Mari kita bersama menikmati tahun 2013 tahun penuh berkat, keadilan  serta kebaikan dengan ucapan syukur dan harapan baru.

       

      Salam sejahtera,

      pMul, buAn,

      Elshadain, Adonain, Jehovan

      Oya, klo molihat foto Jovan, silakan teman klik…

      https://sites.google.com/site/YohanesMulyadiLiu/JehovanMoningkaLiu

       

      ELSHINTAgroup@yahoogroups.comForum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com, Nasional-List@yahoogroups.com, PROLETAR@yahoogroups.comMediaCare@yahoogroups.com,Media-Jakarta@yahoogroups.com,PERS-Indonesia@yahoogroups.comRumahKitaBersama@yahoogroups.com, Indo-Marxist@yahoogroups.com,Reformasi_Birokrasi@yahoogroups.com

       

      JakartaBaru@yahoogroups.com, suaraTransJakarta@yahoogroups.com, JaBoDeTaBek@yahoogroups.comDPR-Indonesia@yahoogroups.comDPR-RI@yahoogroups.comDPR-MPR-watch@yahoogroups.comMedia-Indonesia@yahoogroups.com ,GosipPolitik@yahoogroups.com ,Berita_Korupsi@yahoogroups.comEkonomi-Nasional@yahoogroups.com

       

       

      Referensi@yahoogroups.com, ama-DKI@yahoogroups.com KemahMarComm@yahoogroups.com Lingkungan@yahoogroups.com,  InternetSehat@yahoogroups.comIslam-Kristen@yahoogroups.com BIJAKSANA@yahoogroups.com,Spiritual_Indonesia@yahoogroups.com,  FILSAFAT@yahoogroups.com WDN_Center@yahoogroups.com

       

       

      WDNCenter_RH@yahoogroups.comKataSiBijak@yahoogroups.comSekolah-Kehidupan@yahoogroups.com,  kasih_kekal@yahoogroups.com,  KisahKehidupan@yahoogroups.com,  SahabatKristen@yahoogroups.comDebate-Religious-Spirituality@yahoogroups.com MotivasiIndonesia@yahoogroups.com,  TungDWclub@yahoogroups.com,  Trainer-Indonesia@yahoogroups.com

       

      BumiManusia@yahoogroups.comKomunitas_Tionghoa_Indonesia@yahoogroups.comWordSmartCenter@yahoogroups.com, PenulisLepas@yahoogroups.comBuruh-Migran@yahoogroups.comJaringan-Bisnis@yahoogroups.com,Gelora45@yahoogroups.comJaKer@yahoogroups.comBizNett@yahoogroups.comAsosiasi-SDM-Indonesia@yahoogroups.com

       

      Diskusi-Pembebasan@yahoogroups.comJejaringAntarIman-indonesia@yahoogroups.com,GPIB@yahoogroups.comBOGOR-milis@yahoogroups.comLimaMenitDuaAyat@yahoogroups.com,Partai_Demokrat@yahoogroups.com,Berpikir-Positif@yahoogroups.com

       

      redaksi@...redaksi@...newsroom@...,redaksi@...,redaksi@...kirimanpembaca@...koran@..., john@..., info@...,info@...sekred@...,

       

       

      LEADERSHIP62 <AsiaWorks_LP_62@yahoogroups.com>, LPgabungan@yahoogroups.comAW_awe@yahoogroups.comFonsVitae-alumni@yahoogroups.comKKMKKAJ@yahoogroups.comBatuHidup@yahoogroups.comKomunitas-Tionghoa@...Tionghoa-net@yahoogroups.comSalam_Indonesia@...Persaudaraan <KungFu-TaiChi_AlamSemesta@yahoogroups.com>,

       

       

      Manager-Indonesia@yahoogroups.comTrainersClub@yahoogroups.comFree-English-Course@yahoogroups.comBerita_Katolik@yahoogroups.comINTI-net@yahoogroups.comTionghoa@yahoogroups.comBudaya_Tionghua@yahoogroups.com,Indonesia_Damai@yahoogroups.comPolitik-Indonesia@yahoogroups.comForum_Tionghoa@yahoogroups.com,

       

       

      sparklingINDONESIA@...UNSTOPPABLEpowerwithinIndonesia2006@yahoogroups.comFinansialINDONESIA@...INDONESIA-1@...CourtneySmithTraders@...Dunia-Emas@yahoogroups.comDunia-Pengetahuan@...Forum-Bela_NKRI@...fellowChristians@...IES <ChristianLIFEcommunity@...>

       

       

      UNPAR <myUniversitasParahyangan@...>, myAsiaWorks@...myToastMaster@...JAbrahamSing2005@yahoogroups.comASIAinvesTraders@...milis-Indonesiaku@..., ,Mulyadi.Lau@..., koh@...Basuki Tjahaja Purnama <ahokbtp@...>,

       

       

      Ars’79 Sinar_Tanudjaja@..., Ars’79 LiemBunHong   Fugui_Liem@..., SimSuparmanG IdeKreasi@..., Lau Leoni_Sur@..., ,Redaksi@..., Jia-Xiang Sabria Samocha@..., UKMaranatha SugiriKusteja ibcindon@..., SNAFS-PRANA Herman_Holidei@..., SNAFS Gunadi_W@...,  

       






    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.